blognya farmasis muda

asam manis hidupku..

  • it’s me!

    asam manis hidupku..
    nyummy

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

minggu pertama….

Posted by filzahazny on September 2, 2009

banyak bgt tugas,,
semangaaaaaaaaaaat!!
anhay,biotek,anfiskim, sama proker yang gaaaaaaaaaa jelas bgt n sampe sekarang belum berjalan.

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , | Leave a Comment »

CYP2D6

Posted by filzahazny on March 18, 2009

CYP2D6 adalah Sitokrom CYP2D6, anggota dari sitokrom P450, adalah salah satu dari enzim-enzim paling penting dalam metabolisme zat-zat xenobiotik di dalam tubuh.
CYP2D6 juga berhubungan dengan aktivasi dari beberapa obat, jadi obat-obat tersebut dapat turun keefektifannya pada saat pasien dengan aktifitas CYP2D6 yang tidak mencukupi, mengkonsumsinya.
Substrat
Obat yang dimetabolisme oleh CYP2D6 disebut sebagai substrat CYP2D6. Perlu diingat bahwa banyak obat yang dimetabolisme oleh lebih dari satu enzim CYP450, dan CYP2D6 mewakili sebagian kecilnya. Sebagai contoh, banyak antidepressant mengalami metabolisme oleh CYP2D6, tapi enzim CYP450 yang lain juga termasuk. Banyak obat-obat psikoteraputik sebagai substrat ataupun inhibitor dari CYP2D6.

Substrat
Amitriptylin, atomoxetin, carvedilol, klorpeniramin, klorpromazin, clomipramin, codeine, desipramin, dextrometorfan, dihidrocodein, difenilhidramin, dolasetron, doxepin, duloxetin, flecainide, fluoexetin, fluvoxamin, haloperidol, hidrocodone, imipramin, maprotilin, metoclopramide, metoprolol, mexiletine, nortriptyline, palonosetron, paroxetin, perheksilin, prometazin, propafenon, propranolol, protriptilin, risperidon, tamoxifen, tioridazin, timolol, tolterodin, tramadol, trazodon, venlafaxine.
Inhibitor
Obat yang menghambat aktifitas CYP2D6 kemungkinan besar meningkatkan konsentrasi plasma oleh pengobatan tertentu, dan dalam beberapa kasus akan timbul hasil yang merugikan. Beberapa obat, eperti fluoxetin,paroxetin dan kuinidin sangat berpotensi sebagai penghambat dari CYP2D6, pasien yang sedang mengkonsumsi obat-obat ini hampir tidak memiliki aktifitas dari CYP2D6.
Inhibitor
Amiodaron, bupropion, kloroquin, cinacalcet, difenhidramin, fluoxetin, haloperidol, imatinib, paroxetin, propafenon, propoksifen, quinidin, terbinafin, thioridazin.
Inducer
Tidak seperti kebanyakan enzim-enzim CYP450, CYP2D6 tidak begitu terpengaruh oleh enzim inducer.

Piperidin,glutetimid,carbamazepine, dexametason, rifampisin.

Posted in Uncategorized | Tagged: , | Leave a Comment »

PEMERIKSAAN ATAS UNSUR LOGAM

Posted by filzahazny on September 28, 2008

Seperti telah disebutkan, unsur logam dapat diperiksa dengan uji pemijaran dimana dengan cara ini dapat dipisahkan antara:

* Logam yang hilang dalam pemijaran.

* Logam yang meninggalkan sisa pijar

II.2.1. Logam yang Hilang Dalam Pemijaran (As dan Hg)

* Uji Logam As (Arsen)

Logam As diperiksa dengan cara Gutzeit, yaitu zat + Zn + Asam sulfat encer, dipanasi dengan api kecil. Leher tabung diberi kapas yang dibasahi dengna Pb-Acetat, lalu mulut tabung ditutup dengan kertas saring yang dibasahi dengan AgNO3, yang diamati:

Ø Perubahan warna pada kertas saring menjadi warna kuning, lalu hitam.

Ø Terciumnya bau bawang.

* Uji Logam Hg (Raksa)

Jika setetes garam raksa diletakkan di atas tembaga putih akan terjadi bercak abu-abu yang jika digosok akan berkilatan seperti perak.

Sesuai dengan urutan tegangan logam, jika garam raksa (II) atau garam raksa (I) kontak dengan tembaga logam, akan terjadi raksa logam dan tembaga (I) atau tembaga (II). Raksa logam tembaga yang masih ada akan membentuk campuran (amalgam) yang jika digosok akan berkilatan.

Reaksi:

Hg2+ + Cu à Hg + Cu2+

Hg2+ + 2 Cu à Hg + 2 Cu+

Hg22+ + Cu à 2 Hg + 2 Cu+

Hg22+ + Cu à 2 Hg + Cu2+

II.2.2. Logam yang Meninggalkan Sisa Pijar

* Uji Logam Sn (Timah)

Uji dilakukan dengan menambahkan kalomel (Hg2Cl2) padat ke dalam zat yang telah terlebih dahulu dilarutkan dalam HCl 4 N. Uji ini akan positif terhadap Sn2+ yang akan membentuk endapan putih keabu-abuan bila dipanaskan, sedangkan uji terhadap Sn4+ akan negatif. Hal ini disebabkan karena Sn2+ dari larutan zat akan mereduksi kalomel menjadi logam Hg, menurut reaksi:

Sn2+ + Hg2Cl2 à 2 Hg + SnCl22+

endapan putih abu-abu

* Uji Logam Cr (Kromium)

Uji dilakukan dengan memijarkan zat dengan menggunakan crussibel tong atau cawan crusibel, di dalam tanur dengan suhu 800oC sampai pijar. Maka dengan adanya Na2CO3 atau dengan adanya unsur C sebagai katalis, maka akan teroksidasi menjadi kromium(III) oksida, Cr2O3, yang berupa masa berwarna hijau yang tak terleburkan. Uji ini dapat dilakukan pada semua senyawa-senyawa kromium. Percobaan lain untuk menguji adanya Cr seperti yang dilakukan pada analisa kation dan anion, tidak dapat dilakukakan pada percobaan ini karena uji-uji tersebut akan menimbulkan endapan berwarna kuning. Contoh reaksi tersebut adalah:

Ø Cr dioksidasi menjadi CrO42- ditambah BaCl2 menghasilkan BaCrO4 berupa endapan berwarna kuning.

Ø Cr dioksidasi seperti di atas, ditambahkan Pb-Acetat menghasilkan PbCrO4 yang juga berupa endapan berwarna kuning.

* Uji Logam Pb (Timbal)

Dilakukan dengan cara melarutkan zat dalam asam asetat lalu ditambah larutan kalium iodide (KI) maka akan terbentuk kristal berbentuk lempeng/keping-keping berwarna kuning yang dapat diperiksa di bawah mikroskop. Reaksi:

Pb2+ + 2 I- à PbI2

kristal lempeng

* Uji Magnesium (Mg)

Jika larutan garam magnesium yang dibuat dengan larutan asam nitrat encer direaksikan dengan larutan ammonium klorida dan larutan ammonium berlebih, larutan akan tetap jernih. Jika larutan amoniakal direaksikan dengan larutan dinatrium hydrogen fosfat akan terjadi endapan kristal putih.

Mula-mula magnesium klorida tidak akan mengendap karena amonium klorida bekerja sebagai dapar. Konsentrasi ion hidroksida berdasarkan kerja aksi massa akan didesak kembali, dengan bertambahnya konsentrasi ion ammonium. Larutan yang mengandung garam ammonium akan membentuk kompleks yang larut karena konsentrasi akan ion Mg2+ berkurang.

[Mg(H2O)6]2+ + NH4+ à [Mg(H2O)6(NH3)]2- + H2O + H+

Dengan penurunan konsentrasi ion hidroksida atau konsentrasi ion magnesiumnya, maka hasil kali kelarutan magnesium hidroksida tidak dilampaui. Dengan penambahan monohidrogen fosfat, akan mengendap garam ganda magnesium ammonium.

Mg2+ + NH4+ + OH- +HPO42- + 5 H2O à Mg(NH4)PO4.6H2O

putih

* Uji Lithium (Li)

Ø Zat yang dibasahi asam nitrat akan memberikan warna nyala merah karmin yang intensif (misalnya lithium karbonat). Garam lithium akan mewarnai merah karmin nyala Bunsen. Garis spektrum adalah 679,8 nm (merah) dan 610,3 nm (kuning jingga).

Ø Zat yang dilarutkan dalam asam klorida dengan penambahan natrium hidroksida dan larutan dinatrium hydrogen fosfat dengan pemanasan akan memberikan endapan putih. Lithium diduga mempunyai sifat kimia seperti magnesium. Oleh karena itu lithium juga akan memberika senyawa fosfat yang sukar larut:

3 LiCl +NaHPO4 +NaOH à Li3PO4 + 3 NaCl + H2O

* Uji Kalium (K)

Ø Dengan reaksi nyala maka berwarna ungu (dengan kaca kobalt).

Ø Ditambah asam asetat dan Na3Co(NO2)6 akan menghasilkan endapan kunig.

Ø Setelah dipijarkan, sisa dilarutkan dalam air (1-2 tetes H2O) ditambah asam pikrat membentuk kristal endapan putih. Di bawah mikroskop terlihat seperti lidi (Na à jarum).

Ø Dengan reaksi tripel nitrat akan menghasilkan endapan berwarna biru kehitaman.

* Uji Barium (Ba)

Ø Ditambah asam sulfat menjadi BaSO4 yang tidak larut dimana-mana; dengan reaksi nyala akan berwarna hijau – biru.

Ø Zat dipijar dan ditambah CH3COOH encer dan meditren sehingga berwarna jingga, di bawah mikroskop berbentuk seperti jarum-jarum/ rambut.

* Uji Bismuth (Bi)

Ø Zat ditambah dengan asam asetat/ HCl membentuk amalgam.

Ø Pijarkan, amati warna: jika dari warna kuning/jingga menjadi putih, maka zat tersebut adalah Zn. Tetapi jika warna kuning/jingga tidak berubah maka zat tersebut adalah Bi.

Ø Larutan zat dalam suasana asam ditambah larutan iodium (hitam) makan berwarna merah dan membentuk senyawa BiClO.

Ø Dengan garam tioasetamid berupa endapan hitam, tidak larut dalam HCl.

* Uji Tembaga (Cu)

Sisa pijar dilarutkan dalam asam asetat menjadi berwarna biru muda. Jika ditetesi NH4OH setengah tetes maka akan berwarna biru tua.

* Uji Kadmium (Cd)

Jika ditambahkan H2S akan terbentuk endapan yang berwarna kuning.

* Uji Kalsium (Ca)

Ø Dengan reaksi nyala berwarna merah bata.

Ø Zat padat ditambahkan asam asetat dan meditren akan berwarna jingga.

Ø Zat terlarut ditambahkan asam oksalat (H2C2O4) menghasilkan Ca-oksalat. Bila dilihat di bawah mikroskop maka akan berupa kristal putih amplop.

* Uji Besi (Fe)

Ø Mudah teroksidasi menjadi Fe3+.

Ø Diberi Fe2+ à larutan zat + K4Fe(CN)4 akan menghasilkan endapan berwarna biru.

Ø Diberi Fe+3 à larutan zat + Ammonium Tiosianat (NH4CNS), maka akan menghasilkan Fe(CNS)3 yang berwarna merah tua.

* Uji Mangan (Mn)

Ø Larutan zat ditambah Na-fosfat (Na3PO4) akan menghasilkan endapan merah jambu.

Ø Zat pijar (sisa) ditambah asam asetat dan K-oksalat akan menghasilkan endapan roset (batang-batang).

Ø Sisa pijar ditambah asam asetat, KOH dan benzene asetat akan berwarna biru.

Ø Dengan NaOH + H2O2 akan menghasilkan endapan coklat.

* Uji Natrium (Na)

Ø Dengan reaksi nyala akan berwarna kuning.

Ø Larutan zat ditambahkan perekasi Zn Uranium Asetat, di bawah mikroskop akan terlihat kristal/diamond.

Ø Ditambah asam pikrat akan menghasilkan Na (jarum); dengan K2H2Sb2O2 akan menghasilkan endapan putih.

* Uji Nikel (Ni)

Pijarkan, larutan zat dalam suasan basa ditambahkan dimetilglioksin. Lalu letakkan kertas saring di atas botol NH3 pekat maka kertas saring akan berwarna merah.

* Uji Antimon (Sb3+ dan Sb5+)

Ø Sb3+ direaksikan dengan H2S akan menghasilkan endapan jingga merah.

Ø Sb5+ direaksikan dengan H2S akan berwarna merah jingga.

Ø Sb3+ dilarutkan dalam keadaan asam, dioksidasi dengan ditambahkan NaNO3 dan 1 tetes rodamina mengahsilkan warna biru.

* Uji Stronsium (Sr)

Ø Dengan reaksi nyala berwarna merah anggur.

Ø Larutan zat ditambah kalium kromat(K2CrO4) menghasilkan endapan kuning.

Ø Ditambah H2SO4 akan mengendap.

* Uji Seng (Zn)

Ø Dipijar, ketika panas berwarna kuning, ketika dingin berwarna putih, ditambahkan ammonium sulfida (NH4)2S menghasilkan endapan putih ZnS.

Ø Setelah dipijar, sisa + HCl/CH3COOH + K2Hg(CNS)4 menghasilkan kristal berbentuk salib (Zn[Hg(SCN)4]).

* Uji Aluminium (Al)

Ø Basakan dengan amonium berlebih menghasilkan endapan putih.

Ø Ditambahkan NaOH akan larut kembali menghasilkan garam aluminat.

Ø Sisa pijaran ditambahkan HCl/CH3COOH dan NaCo nitrat kemudian dibakar maka akan menghasilkan abu berwarna hijau.


Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Penyelidikan Unsur-unsur

Posted by filzahazny on September 28, 2008

* Unsur N

Prinsip: CN- pada filtrat Lassaigne dengan FeSO4 dalam keadaan basa bereaksi menjadi Na-ferrosianida dan Na2SO4.

FeSO4 dalam kedaan alkali dengan O2 dan udara dipanaskan teroksidasi menjadi garam ferri. Setelah diasamkan dengan H2SO4 untuk melarutkan garam Fe3+ bereaksi dengan Na-ferrosianida membentuk ferri-ferrosianida yang mengendap dan berwarna biru berlin. Reaksinya sebagai berikut:

2NaCN + FeSO4 à Fe(CN)2 + Na2SO4

Fe(CN)2 + 4 NaCN à Na2Fe(CN)6

6 NaCN + FeSO4 à Na3Fe(CN)6 + Na2SO4

Pelaksanaan:

2 -3 ml filtrat Lassaigne dimasukkan dalam tabung yang telah berisi 100 – 200 mg kristal FeSO4 yang belum dilelehkan. Panaskan perlahan-lahan sambil dikocok kemudian tambahkan asam sulfat encer secukupnya sampai warna biru à besi larut dan reaksi jadi asam. Terbentuk endapan yang berwarna biru berlin yang memungkinkan adanya N.

Catatan:

- Jika terbentuk warna tidak segera atau meragukan biarkan beberapa menit, saring dengan kertas saring, cuci, periksa unsur kertas saring. Karena dalam senyawa organik unsur N relatif kecil, terkadang hanya terlihat warna hjau saja.

- Kalau ragu-ragu, percobaan diulangi dengan penambahan basa atau naftalina.

- Kalau ada S2+ (Na2S) dengan FeSO4 membentuk FeS yang mengendap dan berwarna hitam. Untuk menghilangkannya didihkan campuran. Setelah warna hilang, asamkan dengan asam sulfat atau diberi FeSO4 perlahan kemudian disaring.

- Kalau ada CNS+ (jika memakai logam Na terlalu sedikit) akan terbentuk warna merah dari Fe(CNS)3.

* Unsur S

Dengan Pb – asetat

2 ml filtrat Lassaigne diasamkan dengan asam asetat, tambahkan beberapa tetes larutan Pb-asetat à terbentuk endapan PbS berwarna hitam.

Dengan Na – Nitroprussida

2 ml filtrat Lassaigne ditambah 2 – 3 tetes pereksi Na-nitroprussida yang dibuat baru à terbentuk warna merah ungu.

* Halogenida

Prinsip: Halogenida + AgNO3 à Ag-halogenida

Karena CN- dan S2- juga memberi endapan dengan Ag+, makan harus dihilangkan dulu dengan pemanasan setelah diasamkan.

Pelaksanaan:

2 ml filtrat Lassaigne diasamkan dengan HNO3/H2SO4 sampai reaksi asam, Diuapkan di penangas air dengan cawan pengkap à HCN, H2S. Hilangkan lagi dengan HNO3, tambah larutan AgNO3 à terbentuk endapan Ag-halogenida.

Catatan:

1. Untuk membedakan lebih lanjut Cl-, Br-, I- dapat dipisahkan Ag-halogenida + (NH4)2CO3 à Ag(NH3)2Cl (aq) + AgI (s) + AgBr (s)

2. AgI (s) + AgBr (s) + Zn + H2SO4 à HI + HBr ; yang dengan penambahan:

a. FeCl3/oksidator lain + larutan kanji à biru jika iodium/yodida

b. FeCl3/oksidator lain dan CHCl3/CCl4 à warna ungu jika ada yodida.

Pada penambahan oksidator berlebih akan terbentuk brom dalam CHCl3/CCl4 yang berwarna coklat jika ada brom.

3. Untuk merubah senyawa halogen organik menjadi halogenida, dapat juga dengan :

a. Memijar zat dengan CaO (cara Faraday) halogen Lassaigne sebagai Ca-halogenida.

b. Cara-cara Castellana Middleton Hogl

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

PEMERIKSAAN ATAS UNSUR-UNSUR NON LOGAM

Posted by filzahazny on September 28, 2008

Prinsip analisa: mengubah ikatan kovalen menjadi ion-ion.

Senyawa organik mengandung unsur C (karbon). Oleh karena itu untuk mengetahui suatu zat merupakan senyawa organik atau bukan perlu ditunjukkan adanya unsur C tersebut. Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pengarangan/vercaling/pirolisa

Langkah:

Zat dipanaskan dalam cawan porselen dengan syarat api tidak langsung di bawah zat supaya perubahan lebih jelas. Amati gejala pengarangan, yaitu terjadi perubahan warna menjadi cokelat kemudian hitam. Pada pemanasan lebih lanjut, warna hitam akan menghilang. Untuk mempercepat penghilangan warna hitam, dapat ditambahkan HNO3 beberapa tetes. Sebelum terjadi pengarangan mungkin dapat dilihat nyala.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1) Tidak semua senyawa organik memberikan nyala.

2) Ada senyawa anorganik yang maemberikan nyala pada pemanasan monofosfit dan hipofosfit.

3) Apabila hasil negatif, bukan berarti tidak ada senyawa organik. Ada beberapa senyawa organik yang tidak memberikan pengarangan. Senyawa tersebut antara lain:

a. senyawa yang pada pemanasan akan menyublim/menguap, misalnya: senyawa organik yang cair, kamfer, naftalin, fenol, naftol, fenacetin.

b. Senyawa yang terurai tanpa pengarangan, misalnya:

- Acetat : asam asetat/aseton

- Formiat, oksalat : CO dan CO2

- Cyanida : cyan + logam oksida/karbonat (kalau ada logam)

- Senyawa nitro/ nitrat : cyan

4) Pengamatan mungkin keliru dengan adanya warna hitam dari oksida logam. Misal: CuO, Fe2O3, dsb. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kepastian adanya unsur C, pada pemanasan lebih lanjut warna hitam harus hilang.

2. Percobaan Penfield

Prinsip: senyawa yang mengandung C apabila dipanaskan dengan PbCrO4 akan menjadi PbCO3 yang pada pemanasan lebih lanjut akan menjadi PbO + CO2. CO2 yang keluar dapat ditunjukan dengan adanya Ba(OH)2 yang akan menghasilkan endapan Ba(CO3)2 berwarna putih.

Pelaksanaan:

1) Untuk zat yang tidak mudah menguap

Dilakukan dalam tabung sempit Æ = 0,75 cm; panjang= 10 cm.

PbCrO4 dilumerkan dahulu kemudian dihaluskan. Dalam tabung dimasukkan 0,5 gram PbCrO4 dan 25 mg zat. Tabung diletakkan mendatar dan campuran zat dipanaskan dengan Ba(OH)2.

2) Untuk zat yan mudh menguap

Dilakukan dalam tabung sempit Æ =1,5 cm; panjang=10 cm. PbCrO4 dipijarkan dulu dalam tabung kemudian zat ditambahkan ke dalam pijaran tersebut dan segera tutup dengan gabus (longgar).

Pada pendinginan akan terlihat zat yang tidak terbakar akan menyublim pada dinding tabung. Dengan pemanasan setempat, diusahakan supaya ada bagian dinding yang bersih (untuk meletakkan air barit). Tabung diletakkan mendatar, teteskan air barit dan selanjutnya dilakukan cara 1.

3. Pemijaran dengan CuO

Pelaksanaan: CuO yang halus dipijarkan kemudian didinginkan dalam tabung CuO tersebut dicampur dengan zat yang akan diperiksa (harus kering) dan dipijar lagi. CO2 yang keluar akan dialirkan ke dalam larutn air barit, menyebabkann terjadinya kekeruhan.

II.1.1. Penentuan Unsur N, S, P, dan Halogenida

Untuk penentuan unsur-ubsur N, S, P, dan halogenida dikenal beberapa cara, antara lain:

1. Percobaan Beilstein

2. Percobaan Kjeldahl

3. Percobaan Faraday

4. Percobaan Lassaigne

5. Percobaan Castellana

6. Percobaan Wurzschmin

1. Percobaan Beilstein

Merupakan percobaan pendahuluan terhadap halogen.

Dasar: berdasarkan sifat beberapa senyawa yang dengan pemijaran dengan oksida tembaga membentuk senyawa tembaga yang menguap dan berwarna hijau.

Pelaksanaan:

* Pembuatan mutiara oksida

a) Kawat Cu yang bersih dicelupkan ke dalam HNO3, lalu pijar pada nyala oksidasi dari pembakar bunsen. Lakukan berkali-kali.

b) Kawat Cu dipijar, lalu dicelupkan ke dalam oksida termbaga, setelah dipijar:

i. Kawat Cu yang mengandung oksida tembaga dicelupkan pada gas lalu panaskan lagi. Kalau positif akan berwarna hijau.

ii. Untuk zat yang mudah menguap: zat digulung dalam kertas saring. Kalau cair dengn diresapkan pada kertas saring (misal: etil bromida). Masukkan ke dalam lubang udara sambil kawat CuO kita pegang pada nyala.

Kecuali halogenida, senyawa yang juga memberi warna hijau:

1. senyawa nitrogen. Misal: ureum, NH4CNS, (NH4)2SO4, NH4 formiat, beberapa turunan pioridin dan turunan chinolin. Diduga terbentuk cyan tembaga yang mudah menguap.

2. asam borat

* Persoalan NaCl (Beilstein negatif)

Hal ini dimungkinkan karena tertutup oleh nyala Na (kuning)

2. Percobaan Kjedahl

Prinsip: senyawa N, dengan H2SO4 diubah menjadi (NH4)2SO4 yang dengan basa membebaskan NH3 yang dapat ditunjukkan dengan pereaksi nessler. Senyawa P diubah menjadi PO43- yang dapat ditunjukan dengan amin molybdat dan HNO3, dimana terbentuk amin fostomolybdat yang berbentuk kristal spesifik bila diamati di bawah mikroskop.

Pelaksanaan:

Dalam tabung reksi dimasukkan 100 mg zat,, tambahkan 10 tetes asam sulfat lalu panaskan sampai larutan jenuh. Seetlah dingin, encerkan dengan satu ml H2O. tambahkan larutan NaOH encer sampai reaksi basa (alkalis). Dinginkan dan periksa dengan satu tetes pereaksi nessler.

Untuk P: setelah destruksi (pengenceran dengan air) tanbahkan HNO3 dan ammonium molybdat. Panaskan, lebih baik tanmbahkan NH4NO3 padat sedikit supaya lebih peka dan terjadi endapan kuning (lihat di mikroskop).

Catatan:

- percobaan ini sangat peka, karena itu sebaiknya dilakukan percobaan blanko tanpa zat untuk mengetahui apakah reagensia tidak mengandung NH3.

- beberapa zat (misal: senyawa diazo, turunan nitro) dengan percobaan ini sukar membebaskan NH3, hal ini dapat diatasi dengan penambahan sukrosa.

3. Percobaan Faraday ( N dan Halogen)

Prinsip: memijar zat dengan CaO dimana senyawa yang mengandung N: NH3, halogen: Ca halogenida.

Pelaksanaan:

100 mg zat dalam tabung reaksi dicampur dengan serbuk CaO. Mula-mula dipanaskan perlahan dengan api kecil, lama-lama suhu dinaikkan sampai pijar kemudian didinginkan. Asbes dipasang dekat ujung tabung dan di atasnya dipasang lakmus merah yang basah. Jika ada N, maka ada NH3 àlakmus jadi biru. Halogen akan terdapat sebagai Ca halogenida dalam tabung sisa pijar. Tarik dengan air dan periksa seperti biasa sebagai ion-ion.

Catatan:

- tidak semua senyawa organik yang mengandung N, memberikan NH3 dengan cara ini, misalnmya senyawa nitro diazo. Jadi bila hasil dengan cara ini negatif coba lagi debnagn cara Lassaigne yang lebih umum.

- untuk senyawa yang mudah menguap dipakai tabung lebar. CaO dipijar terlebih dahulu dalam tabung itu lalu ketika panas zat dimasukkan (50 mg atau = 1 tetes).

4. Percobaan Lassaigne

Prinsip: dengan memijar logam Na, maka senyawa organik yang mengandung C, H, O, N, S, P, dan halogen berubah menjadi:

Ø N :NaCN, CN

Ø S : Na2S, S

Ø P : Na3P, PH3

Ø Halogen : Na halogenida

Juga terbentuk NaOH.

Pelaksanaan:

Dalam tabung reaksi dimasukkan sepotong logam Na dan sedikit zat. Mula-mula dipanaskan perlahan pada api kecil, Na mulai meleleh dan tercampur baik dengan zat (tabung dimiringkan agar Na yang meleleh dapat bercampur baik dengan zat). Perlahan-lahan api dibesarkan sampai akhirnya dipijar sampai merah selama ± 10-15 menit.

Tabung didinginkan dan ditambahkan 1 ml air, aduk, didihkan sebentar dan akhirnya disaring dengan kertas saring. Filtrat harus jernih, bila tidak jernih berarti destruksi tidak sempurna dan harus diulang lagi.

Filtrat ini disebut filtrat Lassaigne dan dipakai umtuk penentuan selanjutnya.

Catatan:

- dengan pemijaran yang cukup lama kelebihan logam Na diubah menjadi Na2O sehingga tidak berbahaya kalau kena air.

- bila disamping C, N, ada S, kemungkinann terbentuk CNS yang akan menggangu penentuan N. untuk menghindarkannya, dipakai logam Na berlebih.

5. Percobaan Castellana (Untuk S dan P)

Percobaan ini memakai prosedur yang sama dengan percobaan Lassaigne, bedanya percobaan ini yang dipakai untuk mendestruksi bukan logam Na, tetapi campuran antara Mg dan Na2CO3 dengan perbandingan 1:2. Keuntungan cara ini adalah selain prosesnya lebih cepat, reaksi juga tidak seberbahaya cara Lassaigne karena tidak menggunakan logam Na yang meledak jika bercampur dengan air. Uji ini dapat dipakai untuk memeriksa unsur S dan N dengan cara yang sama seperti cara Lassaigne.

6. Percobaan Wurzschmitt (untuk P)

Dalam sebagian senyawa terapeutik dan farmasetik, fosfor merupakan turunan asam fosfat dan dapatr diidentifikasi sebagai fosfat setelah dihidrolisis. Jika tidak demikian halnya, senyawa fosfor organik didestruksi oksidatif dengan cara memanaskannya dengan asam nitrat atau dengan natrium peroksida dalam bom Wurzschmitt (cawan nikel yang tertutup dan disekrup). Disini juga akan terjadi senyawa fosfat yanga dapat diidentifikasi dengan penambahan ammonium molybdat.

Reaksi:

C, P pada senyawa organik + Na2O2 à Na3 PO4

C, P pada senyawa organik + HNO3 à H3PO4

Percobaan Wurzschmitt juga dapat digunakan baik untuk identifikasi maupun penentuan kadar unsur lain seperti belerang yang nantinya akan berubah menjadi sulfat

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Sekilas Pengetahuan Tentang Cokelat

Posted by filzahazny on February 16, 2008

Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Dengan bentuk, corak, dan rasa yang unik, cokelat sering digunakan sebagai ungkapan terima kasih, simpati, atau perhatian. Bahkan sebagai pernyataan cinta di hari khusus. Ternyata, dulunya cokelat bukanlah makanan (kecil), tetapi minuman dengan rasa khas.

Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko sekitar 1000 tahun SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman.

Minuman bergengs

Cokelat cair.

Kakao atau kokoa sangat penting dalam kebudayaan Meso-Amerika masa itu, yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec. Mereka memanfaatkan biji kokoa (cocoa bean) sebagai mata uang di semua wilayah itu. Suku Maya dari Guatemala utara mengambil istilah cacao dari bangsa Olmec. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain.

Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani).

Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan, sebagai mata uang, dan sebagai hadiah. Orang Aztec mengolah biji kokoa dan mencampurnya dengan air dan tepung jagung untuk membuat minuman pahit yang mereka namakan chocolatl. Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.

Orang pribumi Meso-Amerika mengonsumsi cokelat dalam bentuk cair. Biji cokelat sedikit difermentasikan, lalu dikeringkan, dipanggang, dan digiling dengan sebuah batu khusus. Hasilnya, bubuk cokelat yang jika ditambahi berbagai bumbu, seperti lada merah, menjadi minuman yang sangat digemari kala itu.

Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter). Tetapi, terkadang juga ditambahkan busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat.

Bentuk cair ke padat

Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol. Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elite Eropa, kemudian lewat proses yang demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada akhir abad itu menjadi minuman yang dinikmati oleh kelas pedagang. Kira-kira 100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu terkenalnya cokelat di London, sampai didirikan “rumah cokelat” untuk menyimpan persediaan cokelat, dimulai di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657.

Semua cokelat Eropa dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ada cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.

Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate).

Tidak menggemukkan

Rasa cokelat masih sulit didefinisikan. Dalam bukunya Emperors of Chocolate, Joel Glenn Brenner menggambarkan riset terkini tentang rasanya. Tampaknya, rasa cokelat tercipta dari campuran 1.200 macam zat, tanpa satu rasa yang jelas-jelas dominan. Sebagian dari zat itu rasanya sangat tidak enak kalau berdiri sendiri. Karenanya, sampai kini belum ada rasa cokelat tiruan.

Di antara zat-zat penghasil rasa cokelat terdapat lemak. Titik leleh lemak kokoa ini hanya sedikit di bawah suhu normal tubuh manusia. Kalau Anda makan sepotong cokelat, lemak itu lumer di dalam mulut. Lumernya lemak kokoa menimbulkan rasa lembut mirip beludru di mulut yang khas. Lemak kokoa tidak langsung diserap tubuh karena bukan dari jenis yang dapat menggemukkan tubuh.

Meskipun tak tergantikan, pemalsuan rasa sering terjadi. Kokoa adalah bahan yang relatif mahal, apalagi dibandingkan dengan gula atau minyak nabati. Maka, tak heran kalau dapur konvensional terpaksa memilih kedua bahan ini untuk menggantikan kokoa. Karenanya, tak banyak cokelat di pasar “cokelat”.

Lemak kokoa sering digantikan minyak lebih murah, seperti lesitin dari kedelai atau minyak palem. Selain soal harga, dengan kedua bahan ini pelapisan cokelat menjadi lebih mudah. Perbandingan kokoa padat (komponen nonlemak pada biji yang digiling) juga cenderung rendah. Dalam cokelat batangan, misalnya, sekitar 20% gula-gula itu diisi cokelat.

Cokelat premium, di sisi lain, biasanya mengandung sekitar 50 – 70% cokelat padat. Karena mengandung lebih sedikit gula dan mungkin juga sedikit minyak nabati, cokelat pekat ini mengandung lebih sedikit kalori dari produk cokelat pada umumnya. Pantaslah bila para pencinta cokelat sering “protes” gara-gara cokelat disalahkan untuk masalah yang sebenarnya disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan.


Posted in kesehatan | Leave a Comment »