jump to navigation

demam berdarah dengue dan japanese encephalitis May 20, 2009

Posted by filzahazny in imunologi virologi.
Tags: , , , , , ,
add a comment

DEMAM BERDARAH DENGUE

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Hemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviiviridae dengan genusnya adalah Flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotype yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. selama ini secara klinik mempunyai tingkat manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotype virus Dengue tersebut. Morbiditas penyakit DBD menyebar di Negara-negara tropis dan subtropics. Di setiap Negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Di Indonesia penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang telah menyebar di seluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD dikarenakan adanya korelasi antara strain dan genetic, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi penyebab DBD di setiap daerah berbeda. Hal ini memungkinkan adanya factor geografik, selain factor genetic dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksananya DBD secara konvensional sudah berubah.
Infeksi virus dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak Negara. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit DBD, antara lain faktor host, lingkungan, dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angina, kelembaban, musim); kondisi geografis (kepadatan, mobilitas, perilaku, adapt istiadat, social ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vector penular penyakit juga berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus dengue yang hingga saat ini diketahui ada 4 jenis serotype.

VEKTOR VIRUS DENGUE
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lainnya. Kedua jenis nyamuk ini terdapat dihampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali di tempat-tempat yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Nyamuk Aedes penyebab penyakit DHF dapat dikenali dengan tanda belang hitam dan putih di atas kaki. Terdapat dua jenis nyamuk Aedes yang membawa virus dengue, yaitu :

1) Aedes aegypty
Ciri-ciri : tanda putih perak berbentuk kecapi di kepala.
2) Aedes albopictus
Ciri-ciri : barisan putih perak sepanjang pertengahan kepala dan badan.
Nyamuk Aedes aegypty berterbangan di sekitar rumah dan tinggal di tempat-tempat gelap di dalam rumah. Ia bertelur dan berkembang biak pada tempat-tempat yang menampung genangan air. Berbeda dengan nyamuk Aedes aegypty, nyamuk Aedes albopictus lebih suka tinggal di kebun-kebun atau hutan. Ia biasa terdapat di luar rumah dan menggigit manusia di luar rumah. Nyamuk Aedes albopictus sering terdapat pada lubang-lubang alamiah, seperti pada batang, buluh, dan ketiak daun yang menandung genangan air.

Aedes aegypty
Nyamuk Aedes aegypty mempunyai badan kecil, berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Hidup di dalam dan di sekitar rumah, nyamuk ini bersarang dan bertelur di genangan air jernih, bukan di got atau selokan kotor. Bahkan, nyamuk ini sangat menyukai bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut, dan lainnya. Kebiasaan lainnya adalah suka hinggap di pakaian yang bergantung di kamar dan menggigit atau menghisap darah pada siang hari.

1. Perilaku Aedes aegypty
Dalam hidupnya, nyamuk ini mempunyai perilaku mencari darah, beristirahat, dan berkembang biak. Di saat setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Maka dari itulah nyamuk betina akan menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali, selama pagi sampai sore hari pada waktu-waktu tertentu untuk mendapatkan banyak darah. Nyamuk betina yang biasanya mencapai umur 1 bulan ini dan mempunyai jarak terbang 100 meter sering menggigit lebih dari satu orang.
Nyamuk Aedes aegypty ini bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih untuk keperluan sehari-hari, seperti bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara yang tidak tertutup, dan sumur galian. Selain itu, wadah berisi air bersih atau air hujan seperti tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat penampungan air di kulkas dan barang bekas lainnya juga dapat menjadi tempat berkembangbiaknya.

2. Siklus Hidup Aedes aegypty
Jika dilihaat dari siklus hidupnya, nyamuk ini mempunyai fasa telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Telur ini tidak berpelampung sehinnga satu persatu akan menempel ke dinding penampung air, sedikit di atas pemukaan air. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar seratus butir telur ukuran sekitar 0,7 mm/butir. Di tempat kering(tanpa air), telur dapat bertahan sampai enam bulan. Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar dua hari terendam air. Jentik, berbentuk sifon dengan satu kumpulan rambut, saat istirahatnya akan membentuk sudut dengan permukaan air. Setelah 6-8 hari, jentik nyamuk akan tumbuh menjadi pupa nyamuk. Pupa yang berbentuk terompet panjang dan ramping sebagian kecil tubuhnya berkontak dengan permukaan air. Pupa nyamuk yang masih dapat aktif bergerak di dalam air tanpa makan akan memunculkan nyamuk Aedes aegypty baru setelah 1-2 hari. Nyamuk dewasa dengan panjang 3-4 mm mempunyai bintik hitam dan putih pada badan dan kepala serta ring putih di kakinya.

3. Cara Penularan
Manusia dijangkiti virus kuman dengue melalui gigitan nyamuk. Virus dengue ini hidup dan berkembang biak di dalam air liur nyamuk. Ia memerlukan masa pengeraman selama 8-10 hari untuk berkembang biak di dalam air liur nyamuk. Setelah masa itu, virus menjadi infektif . nyamuk yang telah dijangkiti akan terus membawa virus dengue sepanjang hidupnya. Jika nyamuk Aedes betina menggigit manusia tau hewan, ia akan memasukkan virus dengue yang ada di dalam air liurnya ke dalam sistem aliran darah manusia. Tanda-tanda klinikal akan timbul dalam masa 4-6 hari. Virus dengue ini hanya hidup 5-7 hari saja di dalam tubuh manusia karena tubuh kita dapat membentuk dan mengeluarkan antibody. Jika nyamuk Aedes betina menghisap darah manusia yang terjangkiti virus dengue, ia akan melengkapi kitaran hidup virus tersebut dan menyebarkannya kepada orang lain.
Penularan virus dengue dapat juga terjadi jika nyamuk Aedes betina yang sedang menghisap darah orang yang dijangkiti virus dengue diganggu, kemudian nyamuk itu menggigit orang lain. Ini akan menyebabkan virus yang terdapat di belalai nyamuk tersebut masuk ke peredaran darah orang kedua tanpa memerlukan masa pengeraman. Cara ini disebut ”Penularan Mekanik”.
Selain cara-cara diatas, penularan virus dengue dapat juga terjadi melalui penularan transovari yang merupakan suatu proses penularan agen penyakit dari serangga betina melalui telur, jentik, hingga serangga dewasa berikutnya. Melalui proses penularan ini, nyamuk buakn saja berperan sebagai agen pembawa, tetapi juga sebagai rumah agen penyakit.

VIRUS DENGUE
Virus dengue merupakan virus kedua yang dikenal dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Anggota Flavaviridae ini dapat menyebabkan demam dengue dan demam berdarah dengue. Secara morfologi, virion virus dengue merupakan partikel sferis dengan diameter nukleokapsid 30 nm dan ketebalan selubung 10 nm sehingga diameter virion kira-kira 50 nm. Secara biologis, selubung virion berperan dalam fenomena hemaglutinasi, netralisasi, dan interaksi antara virus dengan sel awal infeksi.
Virus dengue terdiri dari RNA single helix yang bertindak sebagai genom dan mampu langsung bersifat seperti mRNA dan tidak mempunyai poliadenosin pada ujung ketiga primenya. Gen yang mengatur sintesiss protein struktural virus terdapat pada kira-kira seperempat bagian genom keseluruhan dan terletak pada ujung lima primenya. Sedangkan pada ujung lainnya terletak gen yang mengatur sintesis berbagai protein nonstruktural. Hingga saat ini telah dikenal empat tipe virus dengue, yaitu tipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Struktur antigen keempat serotype ini tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetika yang berbeda pada keempat serotype ini tidak hanya menyangkut antarserotype, tetapi juga dalam serotype itu sendiri tergantung dari daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotype dapat mencapai 2,6/11,0% pada tingkat nukleotida dan 1,3/7,7% untuk tingkat protein. Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya. Virus dengue yang genomnya memiliki berat 11 Kb tersusun dari protein struktural dan nonstruktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (F), protein pre membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein nonstruktural yang terdiri dari NS-1 dan NS-5 merupakan bagian yang terbesar (75%). Dalam merangsang pembentukan antibody diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E yang diikuti protein prM dan C, sedangkan pada protein nonstruktural yang paling berperan adalah protein NS-1.

EPIDEMIOLOGI INFEKSI VIRUS DENGUE

Dikenal dua siklus transmisi, yaitu dengue kota (urban dengue) dimana rantai penularannya adalah manusia-nyamuk-manusia dan dengue hutan (jungle dengue) dimana rantai penularannya adalah manusia-nyamuk-monyet-nyamuk-manusia. Nyamuk penting dalam rantai penularan dengue di kota-kota besar adalah Aedes aegypti sedangkan di hutan adalah Aedes niveus.
Virus dengue tersebar sangat luas di benua Asia, Afrika, Amerika, dan juga Australia dengan endemisitas dan kombinasi tipe virus yang belum tentu sama. Asia Tenggara termasuk salah satu wilayah endemik dimana keempat tipe virus dapat ditemukan.

Gambar : Epidemiologi infeksi nyamuk Aedes aegypti

Di komunitas kota, dengue mewabah dan menduduki porsi yang cukup besar dari populasi, biasanya dimulai selama musim penghujan saat vektor nyamuk Aedes aegypti melimpah. Nyamuk ini termasuk nyamuk lokal dengan jarak terbang dekat dan penyebaran virusnya dari rumah ke rumah. Nyamuk ini berkembang biak pada iklim tropis atau subtropis dalam tempat-tempat penampungan air di sekitar tempat tinggal manusia, di lubang-lubang pohon, atau tumbuh-tumbuhan di dekat pemukiman manusia. Nyamuk ini lebih menyukai darah manusia daripada darah hewan. Karena Aedes aegypti juga merupakan vektor dari penyakit demam kuning, kasus wabah dengue di Karibia menjadi tolak ukur agar masyarakat senantiasa waspada terhadap kemungkinan wabah yang lebih besar dan serius lagi.
Aedes aegypti adalah satu-satunya vektor dengue yang diketahui di daerah barat. Nyamuk betina memperoleh virus dengan cara memakannya dari tubuh manusia yang terinfeksi. Nyamuk ini menjadi infektif setelah 8-14 hari (waktu inkubasi intrinsik). Di dalam tubuh, gejala klinis dimulai setelah gigitan nyamuk infektif. Sekali saja nyamuk infektif, maka akan tetap infektif selama sisa hidupnya (1-3 bulan atau lebih)
Virus dengue tidak diturunkan ke generasi selanjutnya. Penyakit ini dipertahankan secara konstan di wilayah tropis dimana nyamuk ada sepanjang tahun. Kasus dengue di wilayah dingin berkurang seiring dengan berkurangnya suhu. Mewabahnya dengue biasanya diamati ketika virus baru saja masuk ke suatu wilayah asing, atau jika mudah, akan menjadi daerah endemik. Jika sepanjang tahun siklus virus dapat dipertahankan, penyakit ini dapat menjadi endemik.
Penelitian terhadap endemik dengue di Nikaragua tahun 1998 menyimpulkan bahwa epidemiologi dengue dapat berbeda tergantung pada daerah geografi dan serotype virusnya. Wabah dengue yang terjadi di Bangladsh yang diidentifikasi dengan PCR ternyata merupakan serotype DEN-3 yang dominan, sedangkan wabah di Salta Argentina tahun 1997 ditemukan bahwa serotype DEN-2 yang menyebabkan transmisinya.
Manifestasi infeksi virus dengue sangat beragam mulai dari tanpa gejala, demam ringan, demam dengue, dan demam berdarah dengue. Dalam kenyataan, jumlah kasus dengan manifestasi gejala klinis ringan dalam bentuk tanpa gejala dan demam ringan ternyata merupakan mayoritas. Diperkirakan kasus dengan manifestasi DBD hanya merupakan 5% dari seluruh kasus infeksi virus dengue. Kelompok yang bermanifestasi ringan tersebut secara klinik sukar didiagnosis karena tetap membawa virus dalam tubuhnya. Kelompok tersebut merupakan sumber penularan yang sukar diawasi sehingga dalam istilah epidemologi DBD sering disebut amplifier.

GEJALA-GEJALA DAN TANDA-TANDA
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
• Deman tinggi
Demam yang terjadi pada virus dengue ini timbul mendadak, tinggi (dapat mencapai 390-400C) dan dapat disertai dengan menggigil, demam ini hanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Pada saat demam berakhir, sering kali dalam bentuk mendadak (lysis), dan disertai dengan keringat banyak. Biasanya penderita terlihat lemas, demam ini biasanya dinamakan demam biphasic.
• Manifestasi pendarahan, dengan bentuk: uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
Pada infeksi virus demam berdarah dengue selalu ditandai dengan adanya pendarahan. Hanya saja tanda pendarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda pendarahan ini muncul setelah dilakukan tes terniquet. Bentuk-bentuk pendarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa pendarahan-pendarahan kecil di kulit (petechiae), pendarahan agak besar di kulit (echimosis), pendarahan gusi, pendarahan hidung, dan kadang-kadang dapat terjadi pendarahan yang massif yang dapat berakhir dengan kematian.
• Hepatomegali (pembesaran hati)
• Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
• Trombositopeni, pada hari ke 3-7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000/mm3.
• Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai hematokrit.
• Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai : anoreksia, lemah, mual, sakit perut, diare, kejang, dan sakit kepala.
• Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

Penyakit DBD sering salah diagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue menyebabkn DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain, seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksis virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Ditemukannya antibodi Ig G ataupun Ig M yang meningkat tinggi titernya mencapai empat kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam spesimen serta peradangan.
Demam berdarah baru terjadi jika infeksi oleh virus dengue terjadi untuk kedua kalinya. Infeksi pertama kali hanya menimbulkan penyakit demam lima hari saja. Dengan atau tanpa obat, penyakit ini sembuh dengan sendirinya dan berlalu begitu saja.
Setelah terinfeksi virus dengue untuk kedua kalinya, virus berada dalam aliran darah pasien sejak digigit nyamuk yang membawa virusnya sampai beberapa hari setelah timbul demam. Jika masa tunas penyakit demam berdarah berkisar antara 8-10 hari atau rata-rata seminggu, ditambah beberapa hari masa sakit, maka sekurang-kurangnya darah pasien mengandung virus selama 12 hari. Virus berada dalam aliran darah selama 4-7 hari, dimulai 1-2 hari sebelum timbul panas.
Selain itu, dalam tubuh yang sudah pernah terinfeksi, virus dengue lebih sensitif terhadap infeksi virus kedua kalinya, dan saat itu juga terjadi reaksi yang lebih dahsyat atau hipersensitivitas. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa ruam. Bentuk reaksi kedua yaitu dengan masuknya virus demam berdarah, dalam tubuh terjadi reaksi hebat sedemikian rupa sehingga pipa pembuluh darah di bagian tubuh mana saja mengalami kebocoran. Darah merembet keluar pipa pembuluhnya, baik pipa berukuran besar maupun kecil. Lalu kebocoran pipa pembuluh darah terjadi pada pembuluh darah kulit. Tanda perdarahan di bawah kulit biasanya berupa bintik seperti bekas gigitan nyamuk atau bisa juga seperti bercak lebam atau bilur-bilur. Selain di kulit, perdarahan bisa juga terjadi di bagian tubuh mana saja. Termasuk organ-organ dalam seperti hati, usus, ginjal, dan paru-paru.
Tanda perdarahan juga nampak jika terjadi mmimisan, gusi berdarah, berak darah atau kencing darah, selain juga mungkin batuk darah. Selain kerusakan pipa pembuluh darah, akibat reaksi yang timbul oleh masuknya virus, sumsum tulang sebagai pabrik pembuat segala macam sel darah ditekan produksinya. Produksi sel darah menurun, termasuk sel darah merah, sel darah putih. Virus dengue juga menurunkan trombosit atau sel pembeku darah. Padahal trombosit penting digunakan untuk menambal dinding pembuluh darah yang pecah, semakin banyak pembuluh darah yang bocor di dalam tubuh sedang produksinya sudah menurun. Itu sebabnya pada kasus DBD selain trombosit, Hb, hematokrit dan leukosit cenderung menurun terus.
Jadi manifestasi penyakit yang ditimbulkan oleh DBD sesudah masa tunas selama 3-15 hari pada orang yang tertular terdiri dari empat bentuk berikut ini:
1. Bentuk abortif, penderita tidak merasakan gejala apapun
2. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi 4-7 hari, nyeri tulang disertai bintik-bintik perdarahan di bawah kulit
3. Dengue hemmorhagic fever (DBD), gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah perdarahan dari hidung, mulut, dubur, dsb
4. Dengue syok syndrome, gejala sama dengan DBD ditambah dengan syok; kegagalan sirkulasi yaitu nadi lemah dan cepat, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ), hipotensi, kulit dingin dan lembab serta pasien tampak gelisah. Sering terjadi kematian.
TINGKAT PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

Berat ringannya penyakit demam berdarah ditentukan oleh beberapa factor. Pertama, factor daya tahan tubuh pasien. Jika daya tahan tubuhnya kuat, penyakit yang dideritanya mungkin hanya ringan atau mungkin juga tidak muncul sama sekali. Akan tetapi, jika daya tahan tubuhnya rendah, penyakit cenderung memberat dan parah.
Mekanisme terjadinya perdarahan dan syok merupakan proses imunologis dalam tubuh pasien. Beberapa data epidemologis menunjukkan pasien perempuan lebuh sering terkena syok disbanding pasien pria, anak-anak, dan remaja yang terserang DBD. Status gizinya di atas rata-rata, jarang pada anak kurang gizi. Mekanisme imunologis pada tubuh anak kekurangan gizi terganggu, sehingga reaksi akibat masuknya virus dengue tidak sehebat pada tubuh orang yang kelebihan gizi.
Sepertiga kasus demam berdarah tidak tergolong berat, pasien masuk ke dalam syok, dan bisaanya dapat merenggut nyawa. Hal ini dipengaruhi juga dengan reaksi hipersensitivitas di dalam tubuh setelah terjadinya serangan virus dengue yang pertama sebelumnya. Jika reaksinya hebat, reaksi yang timbul akibat serangan virus ulangannya akan lebih berat lagi.
Faktor kedua, seberapa cepat pasien mendapat penanggulangan medis.semakin cepat ditolong, semakin baik prognosisnya. Banyak pasien terlanjur parah dan gagal ditolong sebab terlambat mendapat bantuan medis.
Jika kondisi pasien akibat masuknya virus demam berdarah sudah mengancamnya mauk ke dalam syok yang tidak terpulihkan, lebih sukar mengangkatnya untuk kembali ke kondisi tidak syok. Syok akibat kekurangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan pasien demam berdarah meninggal.
Faktor ketiga, jika misalnya perdarahan terjadi pada organ anak ginjal, kelenjar ini memproduksi hormone kortikosteroid yang membantu mekanisme tubuh mengangkat dirinya sendiri dari ancaman syok. Jika kelenjar ini berdarah, sehingga fungsi kerjanya terganggu, produksi hormone penghambat syok berkurang. Akibatnya, pasien lebih rentan masuk dalam keadaan syok, sebab mekanisme pertahanan terhadap syok sudah kacau.
Factor keempat, mungkin terdapat perbedaan tingkat keganasan pada virus denguenya sendiri, selain kemungkinan sudah terjadinya kelainan sifat genetic virus akibat iklim, cemaran bahan kimiawi, serta lingkungan. Akibatnya, jika virus dengue yang masuk ke dalam tubuh lebih ganas, penyakitnya lebih parah dibandingkan tubuh yang dimasuki virus yang kurang ganas.
Berdasarkan tingkat keganasannya, DBD digolongkan menjadi empat tingkatan:
1. Derajat pertama
Demam diikuti dengan gejala tidak spesifik. Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes terniqut yang positif atau mudah memar.
2. Derajat kedua
Gejala yang ada pada tingkat pertama ditambah dengan perdarahan spontan. Perdarahan bisa terjadi dimkulit atau di tempat lain.
3. Derajat ketiga
Kegagalan sirkulasi yang ditandai oleh denyut nadi yang emah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab, dan penderita gelisah.
4. Derajat keempat
Syok berat dengan nadi yang tidak terab adan tekanan darah tidak dapat diperikda. Fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.setelah demam selama 2-7 hari, penurunan suhu bisaanya ditandai dengan tanda-tanda gangguan sirkulasi darah. Penderita berkeringat, gelisah, tangan dan kaki dingin, serta mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi.
PATOGENESIS DEMAM BERDARAH DENGUE
Patofisiologi perdarahan pada demam berdarah dengue belum diketahui pasti karena belum adanya binatang model yang tepat untuk percobaan. Beberapa fakta yang telah diketahui dan dianggap terkait dengan kejadian perdarahan adalah:
1. Virus dengue mampu berkaitan dengan sel trombosit dan dengan bantuan antibody anti dengue, trombosit mengalami agregasi.
2. Fungsi trombosit pada demam berdarah dengue terganggu.
3. Konsumsi komplemen penderita DBD meningkat sebagai akibat pengaktifan system komplemen.
4. Pada mencit, infeksi dengue merangsang sel limfosit T membentuk limfokin. Limfokin berfungsi mampu merangsang pelepasan histamine dari sel pengandungnya.
5. Terjadinya aktivasi sistem kinin yang berperan dalam proses koagulapati.
6. Sel monosit terinfeksi virus dengue mengekspresikan penghambatan plasminogen aktivataor 2-3 kalilebih banyak dari pada sel normal.
7. Adanya sel limfosit T teraktivasi oleh virus dengue dan klon ini mampu melisiskan sel yang terinfeksi oleh virus dengue tipe lain.
8. Antigen virus dengue dan sel monosit terinfeksi virus denguemerangsang limfosit manusia membentuk interferon alfa dan gama. Interferon gama ini in vitro diketahui mampu merangsang masuknya virus ke dalam sel.
9. Virus dengue mampu berkembangbiak dalamdalam sel endotel manusiadan telah diketahui bahwa integritas sel endotel ini penting dalam system hemosiitasis.
10. Gambaran patologi bahan otopsi menunjukkan adanya depresi sumsum tulang termasuk alur megakariosit.
11. Penderita demam berdarah dengue lebih banyak ditemukan pada infeksi sekunder yang terjadioleh virus dengue tipe 2 atau 3. Selain itu juga telah dilaporkan kasus-kasus demam berdarah dengue pada infeksi primer. Data ini menunjukkan bahwa virulensi virus dengue mungkin tidak sama, galur-galur tertentu mungkin lebih virulen daripada yang lainnya.

Berbagai skenario rangkaian kejadian dalam proses pedarahan dan rejatan telah disusun. Salah satu hipotesis yang terkenal adalah hipotesis sequential infection atau antibody dependent enchantment dengue atau immune enchantment of dengue infection. Prinsipnya adalah infeksi virus dalam sel seri monosit berlipat ganda jika dalam tubuh ada enhancing antibodies. Dengan lebih aktifnya replikasi virus , jumlah komplek imun dan sel terinfeksi betambah. Kemudian terjadi eliminasi sel terinfeksi oleh system kekebalan dan pengaktivan system komplemen oleh protease dari sel. Selain itu, tejadi pelepasan tromboplastin dan dan factor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas pembuluh darah. Akibatnya, terjadi fenomena perdarahan dan rejatan. Karena peningkatan replikasi virus di dalam sel monosit, ternyata juga dirangsang oleh factor, terdapat kemungkinan factor tersebut ikut berperan dalam pathogenesis perdarahan dan rejatan.
Modifikasi lain dari hipotesis ini menguraikan kemungkinan bahwa bahwa factor utama adalah keberhasilan infeksi sekunder, baik dengan atau tanpa bantuan enhancing antibody dan keberhasilan efek booster pembentukan antibody bereaksi dengan virus dengue enginfeksi sebelumnya. Dalam hipotesis ini, aktivasi komplemen dimula oleh antibody anti dengue tertentu yang ada sel manosit dan makrofag. Antobodi ini akan mengaktifkan system komplemen. Aktivasi system komplemen menyebabkan rangkaian reaksi sekuder, seperti pelepasan histamine dan anafilaktosin lain, disfungsi dan kerusakan endotel dan juga trombositopenia.
Uraian pada gambar di bawah ini:

KOMPLIKASI DEMAM BERDARAH DENGUE
Penyakit demam berdarah dapat menimbulkan komplikasi pada mata dan otak. Pada mata terjadi kelumpuhan syaraf bola mata sehingga mungkin terjadi kejulingan. Dapat juga terjadi peradangan pada tirai mata atau pada kornea sehingga berakhir dengan gangguan penglihatan. Peradangan pada otak bisa menyisakan kelumpuhan atau gangguan syaraf lainnya. Namun, semua itu jika terjadi sifatnya sementara saja dan dalam beberapa hari akan kembai normal.

DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE
Diagnosis DBD perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan apakah seseorang menderita DBD atau tidak. Diagnosis DBD terdiri dari dua kriteria, yaitu kriteria klinis dan kriteria laboratorium.
A. Kriteria Klinis
Salah satu criteria klinis dalam diagnosis DBD adalah tes tourniquest positif yang dilakukan di laboratorium klinis. Tes tourniquest dapat dilakukan dengan menggunakan tensimeter atau cukup menggunakan sehelai sapu tangan. Pengujian tensimeter dilakukan dengan cara sebagai berikut:
• Bebatan dipertahankan pada tekanan sebesar tekanan tekanan bawah dibagi dua selama lima menit.
• Setelah lima menit, perhatikan daerah kulit lipatan siku di bawah bebatan. Jika terdapat bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk, berjumlah lebih dari dua puluh buah,nmaka pasien positif terinfeksi dengue. Namun ada phak yang berpendapat bahwa pasien tetap terinfeksi dengue walaupun jumlah bintik merah kurang dari dua puluh buah dan tidak perlu di daerah lipatan siku (boleh di lengan bawah bagian mana saja).

Adapun tanpa tensimeter, seseorang dapat melakukan tes terniquet dengan membebat lengan atasnya menggunakan sapu tangan dengan tekanan secukupnya. Setelah lima menit, perhatikan daerah kulit lengan bagian bawah. Selanjutnya sama seperti pada penggunaan tensimeter. Jika hasil tes tourniquet positif, maka besar kemungkinan seseorang mengidap DBD. NAmun hal tersebut perlu dipastikan lagi melalui pemeriksaan laboratorium darah.
Secara umum criteria klinis dalam diagnosis DBD adalah sebagai berikut:
1) Demam 2-7 hari, panas tinggi dan terus-menerus.
2) Perdarahan dalam berbagai bentuk, seperti bintik merah pada kulit (petechia), bercak merah, bilur, mimisan, fese merah, muntah darah, gusi berdarah. Tes tourniquet positif.
3) Pembengkakan hati, sering terasa nyeri di ulu hati. Indikasi ini dapat diraba oleh dokter.
4) Syok, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi (selisih sistol dan diastole) menurun (kurang dari 20 mmHg), tekanan darah menurun, kulit dingin, dan gelisah.
DBD positif jika terdapat 2-3 kriteria klinis yang disertai dengan trombosit yang turun (kurang dari 100.000/m3) dan hematokrit (Ht) yang naik (lebih dari 20%)

B. Kriteria Laboratorium
Ada empat jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk diagnosis DBD, yaitu uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen, dan deteksi DNA/RNA menggunakan teknik Polymerase Chain Reactor (PCR).
1) Uji Serologi
Ada lima macam uji serologi yang biasa dilakukan, yaitu:
a. Penghambatan Pembekuan Darah (HI)
Diantara kelima macam pengujian, Hi paling sering digunakan karena sifatnya yang sensitive, mudah dikerjakan, memerlukan peralatan paling sedikit, dan hasilnya paling dapat dipercaya jika dilaksanakan secara benar sesuai prosedur. Antibodi HI dapat bertahan dalam jangka waktu lam (mencapai 48 tahun, bahkan lebih), sehingga uji ini ideal untuk pembelajaran epidemiologi. Kekurangan pengujian ini adalah spesifitasnya sangat rendah sehinggan tidak dapat diandalkan untuk dapat mengidentifikasi infeksi serotype virus. Namun, beberapa pasien dengan infeksi primer menunjukkan respon HI tunggal secara relative yang umumnya berhubungan denagn virus yang diisolasi.
b. Ikatan Komplemen (CF)
Uji ikatan komplemen (CF) jarang digunakan dalam uji serologis diagnosis dengue. Pengujian ini lebih sulit dilakukan karena membutuhkan tenaga terltih dan professional, sehingga uji ini tidak digunakan pada sebagian besar laboratorium.
Pengujian ini berdasarkan prinsip bahwa komplemen dibutuhkan selama reaksi antigen-antibodi. Antibody CF umumnya terlihat setelah antibody HI. Antibodi CF lebih spesifik pada infeksi primer dan biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat walaupun ada beberapa kasus antibody pada kadar rendah dapat bertahan pada beberapa orang. Spesifitas yang lebih besar pada uji ini saat infeksi primer ditunjukkan oleh respon CF monotype, dimana respon HI sangat heterotipe. Tetapi uji CF tidak spesifik pada infeksi sekunder. Pengujian ini sangat berguna bagi pasien saat ini, tetapi nilainya terbatas untuk pembelajaran seroepidemiologi, dimana reaksi dari antibody yang tertahan adalah penting.
c. Uji Netralisasi
Uji netralisasi adalah pengujian serologi terhadap virus dengue yang paling spesifik dan sensitive. Protocol yang paling sering digunakan dalam laboratorium adalah uji penetralan reduksi plaque cairan serum. Pada umumnya titer penetralan antibody meningkat pada saat yang sama atau sedikit lebih lambat dai pada titer antibidi HI dan ELISA tetapi jauh lebih cepat daripada titer antibody CF dan betahan minimal selama 48 tahun. Oleh karena NT lebih sensitive maka penetralan antibody diwujudkan dengan tidak ditemukan antibody Hi pada beberapa orang yang pernah menderita infeksi dengue.
Secara umum respon penetralan antibody monotype diamati dalam serum pada waktu fase penyembuhan. Pada kasus-kasus yang memberikan respon tunggal, interpretasi dari semua pengujian umumnya dapat dipercaya. NT dapat digunakan untuk pembelajaran seroepidmiologi karena penetralan antibody besifat tahan lama. Pengujian ini tidak digunakan secara rutin oleh sebagian besar laboratorium Karena dibutuhkan biaya yang mahal, waktu yang lama, dan teknik yang sulit.
d. Immunoglobulin M (IgM)
Antibodi dengue IgM berkembang sedikt lebih cepat dari pada antibody IgG pada specimen virus yang didiagnosis. Antibody IgM diproduksi oleh pasien yang menderita infeksi dengue primer dan sekunder yang terjadi secara bersamaan dan mungkin juga oleh orang yang terkena infeksi tersier. Teter antibody IgM pada pada infeksi primer secara signifikan lbih tinggi dari infeksi sekunder.
e. Uji ELISA
Uji ELISA atau MAC-ELISA merupakan uji serologi yang secara luas digunakan selama beberapa tahun terakhir dalam diagnosis dengue. Uji elisa ini sederhana dan hanya membutuhkan sedikit peralatan yang rumit. Uji ELISA dalam diagnosis infeksi dengue pada sampel serum fase akut sedikit lebih senssitif dari pada uji HI.ada kenungkina respon yang didapat dari HI adalah posotof palsu karena setelah dikakukan uji ELISA didapatka hasil yang negative, sehingga dalam hal ini, uji ELISA dapat memperkecil kesalahan diagnosis.
Spesifitas uji ELISA hampir sama dengan uji HI. Selain itu, pada daerah endemic dengue, uji ELISA dapat dilakukan untuk menguji specimen serumdalam jumlah banyak dengan biaya murah, khususnya untuk pasien yang di rawat di rumah sakit karena pada umumnya mereka dating setelah IgM terdeteksi dalam darah mereka. Kekurangannya adalah uji ini tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi serotype virus yang serupa seperti pada HI.
Sebuah uji IgG ELISA telah dikembangkan dan dapat digunakan untuk membedakan infeksi dengue primer dan sekunder. Pengujiannya sederhana dan mudah dilakukan. Namun uji IgG ELISA bersifat sangat tidak spesifik dan menunjukkan reaktivitas silang yang sama luasnya di antara flavirus seperti pada HI, sehingga tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi serotype virus dengue.
Infeksi dengue juga merangsang proses tanggap kebal seluler walaupun sebagian data didapat dari percobaan pada hewan, terutama pada monyet dan mencit. Data yang relevan diringkas sebagai berikut:
• Pada monyet, sel T sitotoksik muncul pada 5-7 harisetelah infeksi. Sel T sitotoksik tersebut berperan dalam mengeleminasi sel yang terinfeksi virus dengue dan karenanya berfungsi pula menghentikan siklus replikasi virus dalam sel.
• Proses penghancuran sel terinfeksi virus dengue pada manusia, dengan atau tanpa bantuan antibody, dibantu oleh sel leukosit mononukleus yang ada di dalam sirkulasi
• Reaksi serupa hipersensitivitas tipe lambat dengan sel-sel radang ditemukan pada jaringan veriveskuler. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat ini dibuktikan terjadi juga pada mencit yang terinfeksi virus dengue.
• Terjadi limfositolisis pada tempat yang dipengaruhi oleh sel T pada kelenjar limfe non-limpa penderita menunjukkan teraktivasinya kekebalan seluler dengan kemungkian terbentuknya factor toksis bagi sel. Pada mencit, factor sitotoksis ini memang mampu melisiskan sel limfosit.
• Meningkatkan jumlah sel yang mengalami transformasi menjadi sek blast dalam sirkulasi juga menunjukkan teraktivasinya kekebalan seluler.
2. Isolasi virus
Ada 4 sistem isolasi yang sering digunakan pada virus dengue, yaitu inokulasi intacerebral pada bayi mencit yang berumur 1-3 hari, kultur sel mamalia, inokulasi nyamuk, dan kultur sel nyamuk.
a. Bayi mencit
Pada awalnya keempat serotype virus dengue diisolasi dari serum manusia dan diinokulasi menggunakan bayi mencit. Namun saat ini metode ini tidak lagi direkomendasikan karena memiliki sensitifitas yang yang rendah (banyak tipe virus lain yang tidak dapat diisolasi dengan bayi mencit), memakan banyak waktu, lambat, dan mahal. Satu kelebihan dari penggunaan bayi mencit adalah bahwa arbovirus lain yang menyebabkan penyakit seperti dengue dapat diisolasi dengan system ini.
b. Kultur sel mamalia
Metode ini tidak dilanjutkan lagi karena memiliki banyak kekurangan seperti pada penggunaan bayi mencit, walaupun ada beberapa laboratorium yang masih menggunakan metode ini. Kultur sel mamalia membutuhkan waktu yang lama, mahal, dan tidak sensitif. Virus yang diisolasi secara berkala memerlukan banyak persyaratan sebelum efek sitopatik yang konsisten dapat diobservasi dalam kultur yang terinfeksi.
c. Inokulasi nyamuk
Virus diisolasi dari darah dengan cara inokulasi pada nyamuk, atau inokulasi pada kultur jaringan nyamuk, atau pada kultur jaringan vertebrata, lalu diidentifikasi dengan antibodi monoklonal serotipe spesifik. Inokulasi nyamuk adalah metode yang paling sensitive untuk mengisolasi virus dengue dan berhasil memberikan keterangan tentang Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Selain itu, hanya dengan metode ini dapat ditemukan strain virus dengue yang lain.
Spesies nyamuk yang digunakan untuk isolasi virus yaitu Aedes aegepty, A. albopictus, Toxorhinchitis amboinensis, dan T. Spleidens. Virus dengue bereplikasi di sebagian besar jaringan nyamuk, termasuk otak. Variasi pada metode ini mencakup inokulasi intraserebral dari larva dan nyamuk dewasa Toxorhynchitis. Walau demikian, modifikasi ini tidak meningkatkan sensitifitas atau kelebihan-kelebihan lain diatas inokulasi intraotak.
Teknik inokulasi nyamuk memiliki kelemahan yaitu harus diamati secara intensif, memerlukan nyamuk dalam jumlah besar untuk diinokulasikan, dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi di laboratorium. Khusus resiko yang terakhir dapat dieliminasi dengan emggunakan nyamuk Aedes jantan atau spesies Toxorhynchitis yang tidak meggigit untuk diinokulasi.
d. Kultur sel nyamuk
Kultur sel nyamuk (Mosquito Cell Culture) adalah metode baru dalam mengisolasi virus dengue. Ada tiga jenis sel yang memiliki sensitifitas dan sering digunakan, salah satunya adalah C6/36 yang merupakan klon dari Aedes albopictus. Keuntungan metode ini adalah cepat, sensitive, ekonomis, dan dapat memproses banyak specimen serum dengan mudah. Namun kultur sel nyamuk kurang sensitive dibandingkan inokulasi nyamuk.

Keberhasilan isolasi virus sangat bergantung pada saat pengambilan darah, jumlah darah, proses pengiriman darah ke laboratorium dan teknik pengujian di laboratorium. Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu kira-kira 1 minggu atau lebih dan secara teknik sukar, cara ini kurang dianjurkan untuk pemeriksaan rutin.

3. Deteksi Antigen
Metode pilihan identifikasi virus melalui deteksi antigen adalah Immunoglobulin Fluorescent Antibody (IFA), pengujian ini mudah dilaksanakan (dengan kultur sel terinfeksi atau jaringan otak nyamuk), sederhana, dapat dipercaya, dan metode yang paling cepat.
Kesuksesan mengisolasi virus dengue dari serum manusia tergantung dari beberapa factor, yaitu:
• Pelaksanaan dan penyimpanan specimen. Aktivitas virus dapat terhambat karena panas, pH, dan bahan-bahan kimia tertentu.
• Tingkat viremia, dapat bervariasi tergantung pada waktu setelah onset, titer antibody, dan strain virus yang menginveksi. Viremia biasanya mencapai puncak pada saat atau sesaat sebelum onset waktu sakit dan dapat dideteksi rata-rata 4-5 hari.
• Terlihatnya antibody IgM pada virus yang diisolasi.

4. Polymerase Chain Reactor (PCR)
PCR merupakan metode baru untuk mendiagnosis Dengue, PCR akan mendeteksi dan memberikan gambaran genomic (RNA/DNA) sekuen virus dari jaringan otopsi, sediaan serum, atau cairan serebro spinalis (CSS). PCR menghasilkan diagnosis serotype spesifik yang cepat, sensitive, dan sederhana.

Pemeriksaan darah laboratorium bermanfaat untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi virus Dengue, sudah seberapa parah infeksi yang berlangsung, dan tindakan medis apa yang perlu dilakukan. Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk memonitor kesembuhan pasien.
Secara umum pemeriksaan laboratorium mencangkup penmeriksaan trombosit, hematokrit, dan adanya immunoglobulin jenis IgM. Berikut gambaran darah yang terinfeksi dengue:
• Trombositopeni (penurunan jumlah trombosit)
Jumlah trombosit krang dari 100.000/ml
• Hematokrit meningkat
Kenaikan Ht mencapai lebih dari 20%
• Leukopenian (leukosit menurun)
Leukosit kurang dari 5000 sel / mm3
• Limfosis
Peningkatan jumlah limfosit atipikal mengidentifikasikan dalam waktu 24 jam pasien akan bebas demam serta memasuki fase kritis.
• Waktu pendarahan memanjang
• Sediaan apus leukosit abnormal
• IgM dan IgG (setelah sebelumnya pernah terkena infeksi virus dengue)

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE
1. Menghindari gigitan nyamuk
Usaha pencegahan paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari. Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk hingga sore hari karena nyamuk Aedes aegypti aktif pada siang hari. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan menghindari berada di lokasi-lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama pada daerah-daerah yang ada penderita DBD. Bila memang sangat perlu ntuk berada di tempat tersebut kenakanlah pakaian yang lebih tertutup seperti celana panjang dan kemeja lengan panjang yang bewarna terang, karena nyamuk senang pada warna gelap. Cara lain yaitu dengan menggunakan cairan atau krim anti nyamuk yang banyak dijual di toko-toko pada bagian yang tidak tertutup pakaian. Selain itu tidur dengan kelambu juga dapat menghindarkan kita dari gigitan nyamuk.

2. Pembasmian Vektor virus dengue
Pembasmian vektor virus Dengue maksudnya adalah pembasmian nyamuk dewasa maupun larva Aedes aegypti. Pembasmian nyamuk adalah salah satu cara yang paling sering digunakan pada daerah dimana terdapat kasus DBD. Metode yang paling lazim digunakan adalah penyemprotan atau pengasapan (fogging)
Pengasapan dengan insektisida untuk membasmi nyamuk aedes aegypti dapat dilakukan dengan menggunakan mesin fog ( mesin pembuat kabut asap) yang padat dipasang pada pesawat terbang, kapal, atau kendaraan bermotor lainnya. Selain itu terdapat juga thermal fog yang dapat dijinjing yang umum digunakan di indonesia

3. Vaksinasi
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin bagi virus Dengue. Hal ini karena sifat virus pada umumnya, virus dengue sangat mudah bermutasi. Hambatan lain bagi penemuan vaksin virus adalah tidak mudah untuk mengidentifikasi faktor dari sel yang spesifik untuk virus tertentu.
Percobaan pembuatan vaksin dengue pernah dilakukan oleh beberapa negara. Ilmuan jepang dan amerika pertama kali pengisolasi virus untuk pengembangan vaksin, namun belum berhasil.Kemajuan yang cukup menjanjikan dalam pengembangan vaksin virus dengue dicapai oleh negara thailand. Mahidol university, bangkok, yang telah melemahkan virus dengue DEN-2. Vaksin ini diberi nama PDK-33 dan telah diujicobakan pada manusia namun belum memberikan efektifitas secara sempurna. Indonesia melakukan penelitian untuk menemukan vaksin dengue. Penelitian ini dikerjakan oelh Tim peneliti pusat Riset penyakit Tropis universitas Airlangga Surabaya. Tim peneliti telah menemukan serum baru untuk imunisasi demam berdarah. Vaksin ini telah diujicobakan secara praklinik dan memberikan hasil yang positif dengan terbentuknya antibodi terhadap virus dengue. Vaksin ini berasal dari E-protein, bagian virus yang merangsang peningkatan antibodi virus Dengue DEN-1 hingga DEN-4. Sekarang vaksin ini sedang diteliti lebih lanjut untuk mengetahui efek negatif dan efektivitasnya pada manusia.

4. Manajemen lingkungan
Selain dari faktor nyamuk, ulah manusia dapat ikut menambah subur populasi nyamuk Aedes aegypti, kebanyakan kota-kota besar di Indonesia seperti halnya kota-kota di Negara berkembang lainnya, telah berkembang pesat dengan segala implikasinya, seperti tumbuhnya daerah kumuh karena urbanisasi, terbatasnya pasokan air bersih, manajemen pengelolaan kota yang tidak sempurna, serta manajemen lingkungan yang tidak profesional. Semuanya meninmbulkan pertambahan tempat-tempat yang dapat dipakai bersarang dan berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.
Hal ini didukung pula oleh tumbuhnya gedung-gedung bertingkat yang menjulang dan tertutup rapat, akibatnya nyamuk Aedes aegypti semakin berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan manusia di perkotaan yang memiliki banyak persoalan. Kurangnya informasi yang benar tentang penanggulangan demam berdarah kepada masyarakat dan disertai kehidupan sosial masyarakat kota yang semakin individualis menyebabkan semakin sulitnya komunitas yang ada untuk dapat saling bekerja sama membasmi nyamuk Aedes aegypti.
Disadari oleh para ahli bahwa pemusnahan mahluk hidup seperti Aedes aegyptimemerlukan pengetahuan tentang ilmu ekologi, populasi, serta dinamika populasinya. Pemusnahan suatu spesies mahluk hidup hanya dapat dilakukan melalui pemusnahan habitatnya, bukan pemusnahan per satuan jenis spesies tersebut. Dengan demikian, masih akan dibutuhkan waktu yang lama bagi manusia untuk hidup berdampingan dengan nyamuk Aedes aegypti.
Untuk itu diperlukan manipulasi lingkungan yang terstruktur dan berkesinambungan yang tidak merusak habitat manusia itu sendiri untuk membasmi nyamuk ini. Kondisi lingkungan yang tertata rapi, halaman yang bersih, kamar mandi yang ganya dilengkapi pancuran (Shower) jelas akan dapat membantu meminimalisir perkembangan spesies ini.

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
Sampai saat ini pengobatan demam berdarah dilakukan melalui pemberian obat dan pemberian vaksin. Namun, sampai saat ini belum ada vaksin yang benar-benar mampu untuk mencegah seseorang terkena dema, berdarah.Cara yang paling mudah dan efektif untuk menghindari penyakit ini adalah mencegahnya. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Menghindari gigitan nyamuk di siang hari karena nyamuk demam berdarah adalah nyamuk yang aktif di siang hari. Cara untuk menghindari gigitan nyamuk salah satunya adalah dengan menggunakan lotion anti nyamuk, hal ini sangat efektif untuk anak-anak dan balita mengingat banyak korban demam berdarah adalah anak-anak.
2. Menjaga kerbersihan lingkungan dengan 3M yaitu menguras bak mandi seminggu sekali sekaligus menaburkan bubuk abate pada air, mengubur barang-barang bekas yang mampu menampung air, menutup tempat-tempat penampungan air. Selain itu juga jangan menggantung baju bekas pakai karena akan digunakan nyamuk untuk bersarang.
3. Memelihara ikan-ikan pemakan jentik nyamuk di kolam-kolam.

Namun apabila upaya pencegahan telah dilakukan tetapi masih terkena demam berdarah, maka cara satu-satunya adalah dengan pengobatan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang dapat dilakukan jika ada yang terkena demam berdarah.
a. Minum banyak air.
Pada saat gejala demam berdarah tampak, langkah yang pertama yang paling baik dilakukan adalah dengan memberikan banyak cairan atau minum seperti air putih, teh, susu, sari buah, dan oraloit. Hal ini bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh melalui ekskresi urin dan mencegah dehidrasi.
b. Kompres air dingin dan pemberian obat antipiretik
Untuk mengatasi demam perlu dilakukan pengompresan dengan air dingin dan pemperian obat antipiretik dan analgesic. Obat antipiretik berfungsi untuk menurunkan demam. Obat yang dianjurkan dan mudah didapat adalah acetaminofen atau parasetamol. Penggunaan aspirin sangat tidak dianjurkan walaupun sama-sama memiliki efek antipiretik karena adanya efek antiinflamasi yang sangat kuat. Efek antiinflamasi parasetamol sangat lemah dan hampir tidak ada. Obat-obat yang memiliki efek antiinflamasi harus dihindari karena dapat menghambat biosintesis tromboksan A2 yang pada akhirnya dapat menghambat biosintesis trombosit. Ini akan semakin meningkatkan resiko pendarahan pada penderita DBD, padahal sebisa mungkin pendarahan harus dihindari.
Adapun dosis parasetamol yang diberikan yaitu 3 x sehari selama demam. Dosis untuk satu kali pemakaian yaitu:
<1 tahun : 60 mg/ dosis
1-3 tahun : 60-120 mg/dosis
3-5 tahun :120-170 mg/dosis
6-12 tahun :170-300 mg/dosis
Dewasa :500 mg/ dosis
c. Cairan infus
Penambahan cairan secara intravena mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Infus diberikan jika penderita terus-menerus muntah sehingga tidak ada nutrisi yang masuk ke tubuh maka pemberian nutrisi memalui cairan intravena diperlukan . Cairan yang diberikan adalah campuran NaCl 0,9%, glukosa 10% (1:3). Jumlah tetesan adalah 20 ml/ kgBB/ jam. Bila syok mulai teratasi jumlah cairan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam.
d. Transfusi darah
Transfusi darah diperlukan jika penderita semakin buruk akibat terjadi pendarahan sehingga jumlah platelet menurun drastis. Pendarahan terutama terjadi pada organ-organ dalam. Kehilangan darah ini perlu diganti melalui transfusi darah karena tubuh terlalu lemah untuk memproduksi sel-sel darah merah baru dalam jumlah besar.
e. Jambu biji
Penelitian oleh Universitas Airlangga dan badan POM menunjukan bahwa ekstrak jambu bijidapat meningkatkan kadar trombosit darah. Kandungan senyawa tannin dan flavonoid yang ada pada ekstrak daun jambu biji diketahui dapat menghambat aktivitas pertumbuhan virus Dengue. Dalam pelaksanaannya, ekstrak daun jambu biji ini digunakan ssebagai suplemen dan penggunaanya harus mendapat ijin dari dokter yang merawat agar tidak terjadi krontraindikasi dengan pengobatan yang dilakukan oleh dokter.
f. Inhibitor enzim virus
Enzim polymerase virus berperan dalam sintesa materi genetik virus. Saat ini sedang dikembangkan inhibitor untuk enzim ini untuk pengobatan infeksi virus Dengue.
g. Terapi siRNA
Terapi dilakukan untuk menyisipkan potongan kecil RNA yang komplementer dengan mRNA virus ke dalam sel untuk mengganggu proses translasi. Diharapkan sintesis protein virus akan terganggu apabila ditemukan antisense RNA yang komplementer dengan mRNA virus. Akan tetapi asam nukleat sangat stabil dan sangat sulit diinjeksikan ke dalam tubuh tanpa terdenaturasi.
Penemuan terbaru menunjukan, siRNA adalah benang ganda yang relatif stabil dibandingkan antisense RNA sehingga lebih mudah dimasukan ke plasmid. Karena relatif stabil maka efeknya diharapkan tidak hanya pada gen dari virus tersebut tetapi juga keturunannya. Kelebihan terapi ini adalah tidak menimbulkan respon imun.

Nyamuk Aedes Aegypti Virus DBD

PENGOBATAN

Setelah didiagnosis dan telah ditetapkan bahwa penderita terinfeksi virus Dengue (demam berdarah) maka penderita harus segera dilakukan pengobatan, dengan cara :
1. Untuk mengatasi demam dapat diberikan parasetamol, selama demam mencapai 39oC paling banyak 6 dosis dalam 24 jam.
2. Untuk mengganti cairan yang hilang, untuk pertolongan pertama dapat diberi oralit atau diberi jus buah-buahan.
3. Apabila kadar hemotokrit turun sampai 40% maka harus di infus NaCl atau ringer, sesuai kebutuhan dan dapat ditambah plasma, larutan garam fisiologis, dan glukosa.
4. Antibiotik dapat diberikan apabila terjadi infeksi sekunder.
5. Oksigen dapat diberikan pada saat penderita syok atau pingsan.
6. Transfusi darah diberikan apabila penderita mengalami pendarahan yang signifikan.
Yang perlu diperhatikan pada saat pemberian cairan pengganti atau infuse, harus diawasi selama 24 jam sampai dengan 48 jam, dan dihentikan setelah penderita terrehidrasi, dengan ditandai jumlah urine cukup, denyut nadi yang kuat dan tekanan darah membaik.
Apabila pemberian cairan intravena diteruskan setelah ada tanda-tanda tersebut akan terjadi overhidrasi yaitu dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah cairan dalam pembuluh darah, edema paru-paru dan gagal jantung.
PENCEGAHAN
Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk Demam Berdarah (Aedes aegypti) dengan cara melakukan PSN (Pembersihan Sarang Nyamuk). Upaya ini merupakan cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat, dengan cara sebagai berikut:
1. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi/WC, drum, dan lain-lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali
2. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tempayan, drum, dan lain-lain agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu
3. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain agar dibakar bersama sampah lainnya.
4. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen.
5. Lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap disitu.
6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.

Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali. Cara Memberantas Nyamuk Aedes aegypti :

Ada banyak cara untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti, antara lain dengan cara:
1. Penyemprotan dengan menggunakan zat kimia
2. Pengasapan dengan insektisida
3. Memutus daur hidup nyamuk dengan menggunakan ovitrap dan memberi ikan cupang di tempat penampungan air.
Untuk memberantas jentik-jentik nyamuk dapat menggunakan serbuk ABATE, dengan komposisi takaran sebagai berikut: Untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram serbuk ABATE
Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut:
- Ambil 1 sendok makan ABATE dan tuangkan pada selembar kertas
- Lalu bagilah ABATE menjadi 2, 3, atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan
Setelah dibubuhkan ABATE maka:
a. Selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik Aedes aegypti
b. Selama 3 bulan bila tempat penampungan air tersebut akan dibersihkan/diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut
c. Air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum.
DENGUE ENCHEPHALITIS

Kebanayakan flavivirus penyebab gejala demam atau demam berdarah kadang-kadang menyebabkan gejala neurologis karena pada dasarnya semua flavivirus bersifat neurotropik, khususnya pada binatang pengerat.
Spektrum patogenesis flavivirus neurotropik dapat dibagi atas:
i. Enchephalitis fatal yang biasanya didahului oleh viremia dan replikasi virus ekstraneural yang hebat.
ii. Enchephalitis subklinis yang biasanya didahului viremia ringan dan infeksi otak lambat disertai kerusakan otak ringan.
iii. Infeksi asimptomatik yang ditandai oleh hampir tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural serta tidak adanya neuroinvasi.
iv. Infeksi persisten.
Infeksi flavivirus pada manusia biasanya bersifat subklinis. Infeksi oleh virus West Nile dan Kyasanur Forrest pada daerah hiperendemik, biasanya menyebabkan penyakit ringan dan terutama menyerang anak, sedangkan kelompok dewasa banyak yang kebal. Pada daerah yang tidak endemik, bentuk epidemi pada semua kelompok umur dapat terjadi. Dalam hal ini, beratnya penyakit berkolerasi dengan umur penderita. Pada usia muda, manifestasinya mirip demam dengue, sedangkan pada usia lebih tua dapat terjadi meningoenchephalitis. Sementara Enchephalitis akibat virus Japanese Enchephalitis bersifat bimodus atau prevalensi penyakit mempunyai dua puncak, yaitu pada anak-anak dan orang tua.
Selain oleh faktor umur, manifestasi sindroma klinis mungkin juga dipengaruhi faktor lain. Pada binatang percobaan, Enchephalitis oleh virus Japanese Enchephalitis dipermudah oleh adanya infeksi oleh virus herpes simplex, cacing Trichinella spiralis, larva migrans ataupun dari berbagai logam berat seperti arsen, timbal, dan kadmium. Sedangkan pada manusia, asosiasi yang jelas diperlihatkan oleh diabetes mellitus, hipertensi, alkoholisme, dan penyakit bronkopulmoner kronik.

PROGNOSIS
Penyakit Enchephalitis disebarkan oleh gigitan nyamuk. Segera setelah masuk melalui gigitan vektor, virus berkembang biak pada tempat inokulasi dan sebagian lagi masuk ke sirkulasi menimbulkan viremia pertama. Viremia pertama ini sangat ringan dan sebentar. Setelah virus berkembang biak, sebagian virus dilepaskan dan masuk ke sirkulasi menyebabkan viremia ke dua yang bersamaan dengan kejadian tersebarnya infeksi di jaringan ekstraneural.
Tempat virus terutama berkembang biak di jaringan ekstraneural tidak diketahui dengan pasti. Dari berbagai penelitian pada binatang percobaan diketahui bahwa antigen virus dapat ditemukan pada jaringan otot, tulang, retikuloendotel, dan banyak jaringan lain. Pada manusia telah dilaporkan adanya miositis pada kasus enchephalitis oleh virus West Nile dan Japanese Enchephalitis. Juga ditemukan tiroiditis pada kasus infeksi oleh Sint Louis Enchephalitis dan pankreatitis oleh virus West Nile.
Pada manusia, kronologi timbulnya kekebalan humoral dan seluler tidak diketahui secara pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar antibodi netralisasi berkorelasi dengan beratnya gejala. Antibodi dalam kasus Enchephalitis ternyata lebih tinggi daripada antibodi pada kasus subklinis. Antibodi juga dapat dideteksi pada cairan cerebospinal. Dalam hal infeksi dalam kasus Japanese Enchephalitis, beberapa data kekebalan dapat diringkas bebagai berikut:
i. Infeksi subklinis tidak ditandai oleh timbulnya antibodi dalam cairan cerebrospinal
ii. Infeksi Japanese Enchephalitis yang fatal ditandai oleh tidak adanya atau lambatnya pembentukan antibodi baik dalam serum ataupun dalam cairan cerebospinal
iii. Antibodi lebih nyata terjadi pada kasus dengan gejala Enchephalitis nyata tetapi tidak fatal
Dengan gejala yang timbul tergantung pada patologi yang terjadi pada susunan saraf pusat, ini sangat berkaitan erat dengan derjat replikasi virus dan proses imunopatologi. Data lapangan pada infeksi virus Japanese Enchephalitis menunjukkan bahwa antibodi timbul lebih lambat pada kasus fatal dibandingkan pada kasus tidak fatal.
Faktor yang mempengaruhi prognosis JE :
1. Umur
Pada anak-anak akan diperoleh gejala sisa yang lebih sering dan lebih banyak ragamnya daripada orang dewasa
2. Gejala klinik
Gejala sisa yang timbul sangat erat kaitannya dengan berat-ringannya manifestasi klinis yang muncul pada stadium akut. Demam tinggi yang berlangsung lama, kejang yang hebat dan sering, depresi pernapasan yang timbul dini akan mengakibatkan prognosis buruk. Gejala sisa dapat berupa gangguan mental, emosi yang labil, koreoatetosis, parkinson, tremor, gangguan bicara, paresis, posisi deserebrasi, skizoprenia, paralisis, dan retardasi mental.
3. Hasil pemeriksaan cairan serebro spinal
Jika terdapat kadar protein yang cukup tinggi pada CSS, prognosisnya kurang baik.
JAPANESE ENCHEPHALITIS

Japanese Enchephalitis (JE) adalah penyakit yang disebabkan oleh flavivirus dan disebarkan oleh nyamuk. Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat otak (otak, spinalis, dan meninges) yang disebabkan oleh Japanese Enchephalitis virus (JEV) yang ditularkan dari binatang melalui gigitan nyamuk. Di Jepang, JEV pertama kali diisolasi dari jaringan otak kasus JE yang meninggal pada tahun 1935. Kemudian tahun 1938 JEV dapat diisolasi dari nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang bertindak sebagai vektor utama dalam penularan JE.

Japanese Encephalitis Virus nyamuk Culex tritaeniorhynchus

Penyakit ini menyebar dari Jepang ke Korea, Cina, Filipina, dan terus ke negara Asia lainnya sampai Indonesia. JE baru dapat diisolasi di Indonesia tahun 1971 dari nyamuk Culex, kemudian dari nyamuk anopheles, sedangkan diagnosis JE baru dapat ditegakkan pada tahun 1981 berdasarkan kriteria WHO dan pemeriksaan IAHA (Immune Adherence Hemaglutination). Diagnosis ditegakkan berdasakan atas gejaa klinis, pemeriksaan laboratorium dari spesimen serum dan cairan cerebrospinal pada stadium akut dan konvalessens dengan pemakaian ELISA dari 49 kasus yang dicurigai menderita Enchephalitis, ternyata 40,82% yang positif menderita JE.
Nyamuk Culex bersifat zoofilik, yaitu lebih menyukai binatang sebagai mangsanya sehingga JEV pada umumnya menyerang binatang, hanya secara kebetulan dapat menyerang manusia terutama apabila dalam keadaan densitas culex yang sangat padat. Tidak semua manusia yang digigit culex infektif menunjukkan gejala klinis Enchephalitis. Dari hasil penelitian di Jepang menunjukkan gejala klinis Enchephalitis dari tiap 500-1000 anak yang menderita infeksi JEV yang asimptomatk. Data lain mendapatkan hanya 1 dari 300 orang terkena infeksi JEV berkembang menjadi Enchephalitis dan dari kasus tersbut20-40% meninggal. Jadi, cara penularannya adalah dari nyamuk pada manusia yang rentan. Hewan adalah reservoir penting bagi penyakit zoonosis sedangkan manusia hanya dapat terinfeksi secara insidental dan bukan merupakan vektor yang penting. Reservoir utama penyakit Enchephalitis adalah babi dan vektornya adalah nyamuk culex. Binatang lainnya diantaranya sapi, kuda, kerbau, kambing, tikus, burung, kera, ayam, dan kucing. Virus in jarang menyebabkan penyakit pada binatang kecuali jika langsung disuntikkan pada susunan saraf pusat, bahkan cara ini dapat menimbulkan kematian pada vertebrata seperti kera, kuda, babi, dan tikus. Arthopoda yang bertindak sebagai vektor adalah nyamuk culex, anopheles, dan aedes. Vektor yang sangat efisien menularkan penyakit adalah Culex tritaeniorhynchus, Culex gelidus, dan Culex fuschopheles. Vektor yang efisien adalah Culex pipiens pallens. Virus ini dapat berkenbangbiak dalam jaringan Arthropoda tanpa menimbulkan penyakit dan menderita seumur hidup setelah menghisap darah vertebrata yang menderita viremia.

Siklus hidup Japanese Encephalitis virus

EPIDEMIOLOGI
Japanese Enchephalitis pertama kali diketahui di Jepang secara klinis pada tahun 1871, kemudian tahun 1924 terjadi epidemik yang hebat sehingga angka kematian mencapai 65% dari 6125 kasus. Epidemic yang hebat terjadi pada tahun 1935 dan 1948. Setelah itu, dari tahun 1968 tidak lagi pernah timbul epidemik meskipun kasus sporadik masih tetap ada sepanjang tahun. Dari Jepang penyakit ini menyebar ke Korea yang ditemukan pada tahun 1926. Pada tahun 1949 terjadi epidemik tercatat 5616 kasus dengan angka kematian 48,56%. Dari tahun 1949 sampai tahun 1958 terjadi epidemik yang lebih hebat dari sebelumnya, tercatat 6897 kasus dengan angka kematian 31,56%. Setelah 10 tahun menurun dan berfluktuasi namun tahun 1982 kembali menunjukkan peningkatan kasus yang tajam. Insiden JE sangat meningkat pada tahun 1966 dengan dilaporkan kasus sebanyak 40000 orang. Negara-negara yang pernah terjadi epidemiologi JE adalah Jepang, Korea, Cina, India, Thailand, Taiwan, Indonesia, Srilanka, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Distribusi geografis Japanese Encephalitis

ETIOLOGI
Dahulu flaviviridae digolongkan sebagai genus dalam family Togaviridae, yaitu Flavivirus. Ternyata kemudian sejak tahun 1984 dapat diidentifikasi bahwa beberapa sifat flavivirus berbeda dengan Togavirus dalam hal ukuran, morfogenesis, dan struktur genom. Oleh karena itu, flavivirus dikelompokkan sendiri sebagai famili sendiri, yaitu flaviviridae. JE disebabkan oleh JEV, termasuk dalam Arbovirus grup B, genus Flavivirus, famili flaviviridae yang mempunyai sifat sferis, diameternya 40-60 nm, inti virion terdiri atas asam ribonukleat (RNA) rantai tunggal yang bergabung dengan protein menjadi nukleoprotein. Terdapat kapsid sebagai pelindung inti virion. Kapsid terdiri dari polipetida yang tersusun simetri isokahedral, yaitu bentuk tata ruang yang dibatasi oleh 20 segi sama sisi, mempunyai aksis rotasi berganda. Di luar kapsid terdapat selubung. Virus relatif stabil terhadap demam, entan terhadap pengaruh desinfekan, deterjen, pelarut lemak dan enzim proteolitik. Infektivitasnya paling stabil pada pH 7-9, namun dapat diinaktifkan oleh radiasi gelombang elektromagnetik, eter, dan natrium deoksikolat. JEV berkembang biak dalam sel hidup yaitu nukleus dan sitoplasma. Setelah adanya infeksi alamiah pada babi dan kuda, biasanya menimbulkan viremia tetapi tidak menimbulkan gejala klinis, kemudian diikuti oleh pembentukan neutralizing dan complement fixing antibodi, tetapi hanya sedikit kuda yang mati karena Enchephalitis.
JE termasuk penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kelompok arbovirus yang bersifat arthropod borne dan berasal dari genus Flavoviridae. Di Indonesia, JEV diisolasi tahun 1997 dari nyamuk Culex dan nyamuk Anopheles. Pada tahun 1972, JEV pernah diisolasi dari babi di Kapuk. Di Asia, kasus JE banyak ditemukan di India, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Di rumah sakit Sanglah, Bali, dalam kurun waktu 1990-1992, ditemukan 57,7% dari semua spesimen darah dan CSS penderita encephalitis adalah golongan JE.

PATOGENESIS
Segera setelah Culex menggigit mangsa yang rentan virus menuju sistem getah bening sekitar tempat gigitan nyamuk (kelenjar regional) dan berkembang biak kemudian masuk ke peredaran darah menimbulkan viremia pertama. Viremia ini sangat ringan dan sebentar. Lewat aliran darah virus menyebar ke berbagai organ tubuh seperti susunan saraf pusat dan organ ekstraneural, di dalam organ ekstraneural inilah virus berkembang biak, tetapi organ-organ yang pasti belum diketahui. Virus lalu dilepaskan dan masuk ke peredaran darah menyebabkan viremia ke dua yang bersamaan dengan infeksi di jaringan dan menimbulkan gejala penyakit sistemik.
Cara yang pasti tentang kemampuan virus menembus daerah sawar darah otak tidak diketahui, namun diduga setelah terjadinya viremia, virus mampu berkembang biak pada sel endotel sehingga dapat menembus sawar darah otak. Setelah mencapai jaringan susunan saraf pusat, virus berkembang biak dalam sel dengan cepat. Sebagai akibat infeksi oleh virus maka permeabilitas sel neuron, glia, dan endotel meningkat yang menyebabkan cairan di luar sel mudah masuk ke dalam sel sehingga timbullah edema sitotoksik. Adanya edema dan kerusakan susunan saraf pusat ini memberikan manifestasi berupa Enchephalitis.
Di sisi lain JEV sebagai virus yang tergolong sebagai virus neurotropik mungkin dapat menimbulkan kerusakan jaringan saraf dengan jalan seperti apa yang terjadi pada virus neurotropik lainnya, yaitu setelah masuknya virus ke tubuh manusia, yaitu terutama setelah viremia ke dua, tubuh manusia mulai membentuk antibodi antivirus. Antibodi ini bereaksi dengan antigen membentuk kompleks antigen antibodi yang beredar dalam darah dan masuk ke susunan saraf pusat. Di susunan saraf pusat menimbulkan proses inflamasi dengan akibat timbulnya edema dan selanjutnya terjadi anoksia, yang pada akhirnya terjadi kematian sel susunan saraf pusat yang lebih luas.

Spektrum patogenesis JEV berupa:
• Enchephalitis fatal yang biasanya didahului oleh viremia dan berkembang biak pada ekstraneural yang hebat
• Enchephalitis subklinis yang biasanya didahului viremia ringan, infeksi otak yang lambat dan kerusakan otak yang ringan
• Infeksi asimptomatik yang ditandai oleh tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural serta tidak adanya neuroinvasi
• Infeksi persisten

MANIFESTASI KLINIK
Gejala klinis JE bervariasi bergantung dari berat ringannya kelainan susunan saraf pusat, umur, dan lain-lain. Spekrum penyakit dapat berupa hanya demam, nyeri kepala, meningitis aseptic, dan meningoensefaliis. Masa inkubasi 4-14 hari.
 Stadium prodromal
Terjadinya penyakit ini agak cepat. Stadium prodromal berlangsung 2-4 hari dimulai dari keluhan sampai timbulnya gejala terserangnya susunan saraf pusat. Gejala yang sangan dominan adalah demam, nyeri kepala, dan menggigil. Gejala lain berupa malaise, anoreksia, keluhan dari traktus respiratorius seperti batuk, piek, dan keluhan dari gastrointestinal seperti mual, muntah, dan nyeri di bagan epigastrium. Nyeri kepala dirasakan di dahi atau di seluruh kepala, biasanya nyeri yang hebat da tidak bias dihilangkan dengan pemberian analgesik. Demam selalu ada dan tidak bisa diturunkan dengan pemberian obat antipiretik
 Stadium akut
Gejala tekanan intrakranial meninggi berupa nyeri kepala, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran dariapatis sampai koma. Infeksi meninges berupa kuduk kaku, biasanya 1-3 hari setelah sakit. Demam tetap tinggi, kontinu dan lamanya demam dari permulaan mulai penyakit berlangsung 7-8 hari. Otot kaku dan ada juga kelemahan otot. Kelemahan otot yang menyeluruh timbul pada minggu ke-2 dan minggu ke-3. Kelemahan otot yang luas dan hebat memerlukan istirahat yang lama sampai kebanyakan gejala yang lain reda. Muka seperti topeng, tanpa ekspresi muka, ataksia, tremor kasar, gerakan-gerakan tidak sadar, kelainan saraf sentral, paresis, reflex deep tendon meningkat atau menurun, dan refleks patologis babinsky positif. Berat badan menurun disertai dehidrasi. Pada kasus ringan permulaan penyakit perlahan-lahan, demam tidak tinggi, nyeri kepala ringan. Demam akan hilang pada hari ke-6 atau hari ke-7 dan kelainan neurologik sembuh pada akhir minggu ke dua setelah mulainya penyakit. Pada kasus yang berat gejala penyakit sangat akut, kejang menyerupai epilepsi, hiperpireksia, kelainan neurologik yang progresif, penyulit kardiorespirasi dan koma diakhiri kematian pada hari ke-7 dan ke-10, atau pasien hidup dan membaik dalam jangk waktu yang lama, kadang-kadang terkena penyulit infeksi bakteri dan meninggalkan gejala sisa yang permanen.
 Stadium Konvalessens
Stadium ini dimulai pada saat menghilangnya inflamasi yaitu pada suhu mulai kembali normal. Gejala neurologik bisa menetap dan cenderung membaik. Apabila penyakit JE berat dan berlangsung lama maka penyembuhan berlangsung lambat, tidak jarang sisa gangguan neurologik berlangsung lama. Pasien menjadi kurus dan kurang gizi. Gejala sisa yang sering dijumpai adalah gangguan mental berupa emosi yang tidak stabil, paralisis upper, dan lower motor neuon afasia dan psikosis organik jarang dijumpai

DIAGNOSIS
Seperti pada diagnosis penyakit lain, diagnosis penyakit Japanese Encephalitis (JE) ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
1. Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi oleh JE virus (JEV) :
- Penderita (khususnya anak-anak) tinggal di daerah yang memungkinkan siklus JEV berlangsung dengan baik, seperti daerah dengan kepadatan nyamuk Culex yang tinggi, peternakan babi, kerbau, dan sapi
- Penderita tinggal di daerah endemis JE
- Pada penderita muncul gejala-gejala sebagai berikut : demam tinggi, nyeri kepala hebat, disertai kejang

2. Gejala klinis yang mendukung diagnosis JE :
- Keluhan dini berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, kesadaran menurun, dan gerakan abnormal (tremor hingga kejang).
- Gejala yang timbul 3-5 hari kemudian berupa kekakuan otot, koma, pernapasan yang abnormal, dehidrasi, dan penurunan berat badan.
- Gejala lain yang menyertai : refleks tendon meningkat, paresis, suara pelan dan parau.

3. Berdasarkan kriteria WHO (1979) yang dikutip dari Lubis, seleksi kasus JE meliputi :
- Demam lebih dari 380C
- Gejala rangsang korteks
- Gejala kesadaran
- Gangguan saraf otak
- Gejala piramidal dan ekstra piramidal
- Cairan otak jernih, protein positif, glukosa < 100 mg/dl

4. Pemeriksaan Laboratorium
Spesimen yang diperiksa terutama adalah darah, cairan serebrospinal (CSS), dan jaringan otak. Dari hasil pemeriksaan darah akan didapat hasil berupa laju endap darah meningkat dan leukositosis ringan, rata-rata 13.000/ml, polimorfnuklear lebih banyak dari mononuklear. Pada pemeriksaan cairan serebrospinal, CSS tampak lebih jernih sampai opalesens, tergantung dari jumlah leukosit, pleositosis bervariasi antara 20-5.000/ml. Pada beberapa hari pertama tampak neutrofil dan limfosit, tetapi setelah itu, limfosit akan lebih dominan, kadar glukosa normal atau meningkat, sedangkan kadar protein 50-100 mg/dl.

5. Isolasi Virus
Isolasi JEV jarang didapat dari darah dan cairan serebrospinal, tetapi lebih sering diambil dari jaringan otak. Dari darah, JEV dapat diisolasi selama stadium akut, sedangkan dari CSS virus dapat diisolasi pada permulaan encephalitis. Pada kasus penderita JE yang meninggal pada minggu pertama setelah terinfeksi JEV, saat otopsi didapatkan jaringan otak yang masih segar karena JEV belum menyebar sampai ke jaringan otak melainkan masih beredar dalam darah. Spesimen jaringan otak diinokulasikan intraserebral pada mencit yang baru lahir dan kemudian harus diidentifikasikan dengan uji serologis dengan anti serum yang telah diketahui. Isolasi JEV untuk kepentingan diagnosis kurang praktis dan biasanya dikerjakan untuk kepentingan penelitian.

6. Pemeriksaan Serologis
- Immune Adherence Hemaglutination (IAHA)
Spesimen serum akut dan konvalesens dapat dikerjakan untuk uji IAHA. Uji IAHA dikatakan positif jika terdapat peningkatan titer antibodi 4 kali atau lebih.
- Uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI) merupakan uji spesimen serum akut dan konvalesens. Uji HI dikatakan positif jika titer antibodi serum akut 1/20 atau lebih sedangkan pada spesimen konvalesens meningkat 4 kali atau lebih.

Teknik konvensional lainnya seperti immunofluorecent antibody (IFA) dan complement fixation (CF) juga memakai kriteria penilaian seperti di atas. Uji-uji serologis tersebut dapat digunakan untuk membuat diagnosis penyakit JE di daerah endemik, tetapi prosedur pelaksanaan metode-metode tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena infeksi dengue atau Flavivirus lainnya dapat menimbulkan respon serologis reaksi silang terhadap antigen JEV.
Untuk menegakkan diagnosis JE di daerah endemis infeksi dengue, Innis melakukan uji serologis terhadap serum dan CSS dengan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Spesimen serum dan CSS baik yang akut maupun kronik diperiksa kadar IgM anti dengue, IgG anti dengue, IgM anti JE, dan IgG anti JE. Hasil dikatakan positif jika lebih besar dari 40 unit. Hasil dari 4 uji serologis tersebut kemudian dibandingkan. Hasil rata-rata IgM anti dengue dibandingkan dengan IgM anti JE, jika hasilnya lebih besar atau sama dengan satu, berarti positif terserang infeksi dengue, sedangkan jika hasilnya lebih kecil atau sama dengan satu, berarti positif terhadap infeksi JE.
Cairan Serebrospinal yang terinfeksi JEV

7. Diagnosis Banding
Manifestasi klinik JE dapat pula ditemukan pada penyakit lain, terutama yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat, yaitu malaria serebral, meningitis bakteri, meningitis aseptic, kejang, demam, encephalitis oleh Flavivirus lain, rabies, sindrom Reye, dan ensefalopati toksik.

PENGOBATAN
1. Pengobatan Simtompmatik
a. Menghentikan kejang
Pada saat terjadi kejang, secepatnya diatasi dengan pemberian diazepam intravena, dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan dosis maksimal :
- Anak yang berumur kurang dari 5 tahun diberikan 5 mg
- Anak 5-10 tahun diberikan 7,5 mg
- Anak berusia lebih dari 10 tahun diberikan 10 mg
Kecepatan pemberian :1 mg/menit. Bila kejang tetap berlanjut, dosis di atas dapat diulangi sekali lagi setelah 15 menit. Bila tidak tersedia diazepam intravena atau kesulitan untuk menginjeksikan diazepam secara intravena, dapat diberikan diazepam per rektal berupa rektiol dalam kemasan 5 mg dan 10 mg dengan ketentuan dosis sama seperti diazepam intravena.

Bila kejang sudah berhenti, pengobatan dilanjutkan dengan pemberian fenobarbital per oral 5 mg/kgBB/kali dibagi dalam 2 dosis. Bila sebelumnya pasien menunjukkan kejang lama atau status konvulsi, setelah berhasil menghentikan kejang, secepatnya diberikan bolus fenobarbital intramuskular. Sebagai dosis awal : 50 mg untuk anak berumur 1 bulan- 1 tahun dan 75 mg untuk anak yang berumur lebih dari 1 tahun, disusul dengan pemberian fenobarbital oral 4 jam kemudian. Sebagai dosis rumatan 8 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari, selanjutnya diberikan 4-5 mg/kgBB/hari.

b. Menurunkan demam
Di samping menghentikan kejang, demam harus segera diturunkan karena adanya demam dapat mempersulit penghentian kejang. Untuk menurunkan demam dapat dilakukan :
- Pemberian obat antipiretik, seperti parasetamol dan aspirin portif, yaitu dengan istirahat dan kompres. Aktivitas otot akan meningkatkan metabolisme. Metabolisme yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Dengan demikian, tinggi rendahnya suhu tubuh sangat dipengaruhi oleh aktivitas otot. Istirahat akan mengurangi aktivitas otot dan metabolisme tubuh sehingga suhu tubuh pun akan berkurang. Kompres hangat bertujuan untuk membantu pengeluaran panas terutama melalui paru dan kulit. Pengeluaran panas melalui kulit dapat dilakukan melalui cara konduksi, konveksi, dan penguapan air melalui kelenjar keringat. Kompres dengan alkohol kurang dianjurkan karena anak-anak dapat menghisap uap alkohol sehingga dikhawatirkan dapat memicu depresi susunan saraf pusat. Berikut contoh sediaan antipiretik:

2. Mencegah dan mengobati tekanan intrakranial yang meningkat
a. Mengurangi edema otak
Pemberian deksametason intravena dengan dosis tinggi 1 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis diberikan beberapa hari dan diturunkan secara perlahan bila tekanan intrakranial mulai menurun. Di samping itu, deksametason dapat memperbaiki integritas membran sel. Obat lain yang dapat menurunkan tekanan intrakranial adalah manitol hipertonik 20 % dengan dosis 0,25-1 g/kgBB melalui infus intravena selama 10-30 menit, dapat diulangi tiap 4-6 jam. Obat ini dapat menyebabkan darah menjadi lebih hipertonik dibandingkan cairan ekstravaskular (yang menyebabkan edema) sehingga cairan ekstravaskular tersebut tertarik ke dalam pembuluh darah otak. Untuk meningkatkan aliran darah pada pembuluh darah balik, anak ditidurkan setengah duduk dalam posisi netral dengan kepala lebih tinggi 20-300 sehingga terjadi penurunan tekanan intrakranial.

b. Mempertahankan fungsi metabolisme otak
Mempertahankan fungsi metabolisme otak dengan cara pemberian cairan yang mengandung glukosa 10% sehingga kadar gula darah menjadi normal (100-150 mg/dl). Hindari peningkatan metabolisme otak sehingga tidak terjadi hipertermia dan kejang.

3. Pengobatan penunjang
a. Perawatan jalan napas
Perawatan jalan napas terutama pada saat serangan kejang, anak diletakkan pada posisi miring ke arah kanan dengan posisi kepala lebih rendah 200 dari badan untuk menghindari terjadinya aspirasi lendir atau muntah. Bebaskan jalan napas, pakaian dilonggarkan (bila perlu dilepaskan). Hisap lendir atau bersihkan mulut dari lendir. Hindari gigitan lidah dengan cara menaruh spatel lidah atau sapu tangan di antara gigi. Perawatan pernapasan dapat dilakukan dengan memperhatikan pernapasan supaya tetap teratur. Bila terdapat kegagalan pernapasan, minimal kita dapat melakukan pernapasan buatan dan jika memungkinkan dapat dilakukan intubasi endotrakeal dan pernapasan dibantu dengan ventilator mekanik. Selama melakukan perawatan jalan napas, pemberian oksigen mutlak dibutuhkan.

b. Perawatan sistem kardiovaskular
Perawatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya kegagalan kardiovaskular. Secara rutin dan seksama diperiksa frekuensi nadi, pengisian nadi, tekanan darah, dan keadaan kulit terutama pada ekstremitas atas dan bawah (tangan dan kaki). Bila terdapat tanda-tanda syok perlu segera diatasi.

c. Pemberian cairan intravena
Hal ini bertujuan untuk mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Pemberian jumlah cairan harus ketat mengingat adanya peningkatan tekanan intrakranial. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya hipokalsemia dan gangguan elektrolit lainnya.

d. Pemberian antibiotik
Antibiotik tetap diberikan untuk menghindari kemungkinan terjadinya meningitis bakterialis. Dalam kondisi kesadaran yang menurun, lebih-lebih dalam keadaan koma, ampisilin tetap diberikan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri. Hingga saat ini anti virus JE belum ditemukan.

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
Pencegahan dan pemberantasan Japanese Encephalitis ditujukan terhadap manusia, vektor nyamuk Culex beserta larvanya, dan reservoir (baik babi, unggas, maupun beberapa mamalia lainnya).
1. Pemberian imunisasi
Terdapat 2 jenis vaksin JE :
a. Vaksin yang terdiri dari virus yang telah dilemahkan. Vaksin ini dibuat antara lain dari biakan sel ginjal hamster. Berdasarkan hasil uji coba klinis pada manusia, vaksin tersebut terbukti cukup efektif dan aman. Pemberian vaksin pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pertama kali diberikan 2 dosis vaksin yang diinaktifkan.
- Setahun kemudian barulah diberikan vaksin (virus hidup yang dilemahkan).
- Dua tahun kemudian (dihitung dari waktu pertama kali memberikan imunisasi) diberikan vaksinasi ulangan.
- Selanjutnya, setiap 3 tahun diberikan vaksin hidup yang dilemahkan.
Vaksin JE telah secara rutin diberikan di Jepang dan China.

Vaksin Japanese Encephalitis

b. Vaksin yang terdiri dari virus mati (inactivated mouse brain vaccine). Suspensi vaksin dibuat dari jaringan otak tikus yang diinokulasikan dengan JEV galur Nikamaya. Vaksin ini telah dipergunakan di Jepang, Thailand, Taiwan, dan India. Imunisasi dasar, dosis, dan cara pemberiannya dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pada anak yang berumur kurang dari 3 tahun:
Imunisasi pertama diberikan 0,5 ml per subkutan. Imunisasi kedua diberikan dosis dan cara yang sama dengan imunisasi pertama dengan interval 1-2 minggu dari imunisasi pertama. Imunisasi ketiga, dosis dan cara pemberiannya sama dengan imunisasi pertama dengan interval 1 tahun dari imunisasi pertama.
- Pada anak yang berumur lebih dari 3 tahun :
Cara dan interval pemberian vaksin sama dengan pada anak yang berumur kurang dari 3 tahun, hanya dosisnya yang berbeda, yaitu :
• 1 ml untuk masing-masing imunisasi
• Imunisasi ulangan diberikan dengan dosis 1 ml per subkutan
• Imunisasi booster diberikan tiap 3-4 tahun.

2. Menghindarkan manusia dari gigitan nyamuk Culex
Nyamuk Culex menggigit manusia mulai menjelang malam hari sampai keesokan paginya. Oleh karena itu, dianjurkan untuk tidur menggunakan kelambu, repellent baik dalam bentuk cairan ataupun krim yang dioleskan pada bagian tubuh manusia yang terbuka, atau memakai obat pembasmi nyamuk.

3. Membasmi vektor nyamuk Culex beserta larvanya
a. Nyamuk Culex
- Membasmi nyamuk dengan cara konvensional, yaitu melakukan penyemprotan dengan insektisida. Insektisida yang mempunyai efek residu, seperti DDT, malation, dan fenitrotion perlu dipertimbangkan cara, dosis, dan interval penyemprotannya supaya tidak mencemari lingkungan.
- Penyemprotan ruangan (space spraying) meliputi pelaksanaan fogging dan ULV (Ultra Low Volume). Insektisida yang digunakan pada umumnya merupakan golongan organofosfat dan dipilih yang benar-benar suseptible terhadap populasi nyamuk Culex menurut penelitian. Pelaksanaan fogging dan ULV dilakukan pada saat aktivitas vektor nyamuk memuncak, yaitu pada malam hari.
b. Larva
Irigasi pertanian untuk penanaman padi atau tanaman lainnya dapat meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Culex sehingga kepadatan populasi nyamuk akan bertambah. Oleh karena itu, diperlukan suatu mekanisme pengaturan pengaliran/irigasi air sehingga larva yang terbentuk akan mati. Penggunaan larvasida, seperti fenitrotion 1% dengan dosis 30 kg/ha dan fention 0,01-0,04 kg/ha terbukti efektif membunuh larva nyamuk Culex.

4. Pemutusan siklus hidup JEV
Babi merupakan reservoir yang baik dalam siklus hidup JEV sehingga babi memegang peranan yang penting dalam epidemiologi JE. Untuk memutuskan daur hidup JEV, peternakan babi sebaiknya dibangun jauh dari pemukiman penduduk. Di beberapa negara, seperti Jepang dan Cina, babi divaksinasi. Langkah tersebut terbukti sangat efetif dalam menekan kasus JE, hanya saja dari segi logistik dan ekonomi, program imunisasi hewan ternak dalam skala besar tersebut sangat tidak praktis.

Demam berdarah dengue March 17, 2009

Posted by filzahazny in imunologi virologi.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Hemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviiviridae dengan genusnya adalah Flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotype yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. selama ini secara klinik mempunyai tingkat manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotype virus Dengue tersebut. Morbiditas penyakit DBD menyebar di Negara-negara tropis dan subtropics. Di setiap Negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Di Indonesia penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang telah menyebar di seluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD dikarenakan adanya korelasi antara strain dan genetic, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi penyebab DBD di setiap daerah berbeda. Hal ini memungkinkan adanya factor geografik, selain factor genetic dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksananya DBD secara konvensional sudah berubah.
Infeksi virus dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak Negara. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit DBD, antara lain faktor host, lingkungan, dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angina, kelembaban, musim); kondisi geografis (kepadatan, mobilitas, perilaku, adapt istiadat, social ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vector penular penyakit juga berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus dengue yang hingga saat ini diketahui ada 4 jenis serotype.

VEKTOR VIRUS DENGUE
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lainnya. Kedua jenis nyamuk ini terdapat dihampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali di tempat-tempat yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Nyamuk Aedes penyebab penyakit DHF dapat dikenali dengan tanda belang hitam dan putih di atas kaki. Terdapat dua jenis nyamuk Aedes yang membawa virus dengue, yaitu :

1) Aedes aegypty
Ciri-ciri : tanda putih perak berbentuk kecapi di kepala.
2) Aedes albopictus
Ciri-ciri : barisan putih perak sepanjang pertengahan kepala dan badan.
Nyamuk Aedes aegypty berterbangan di sekitar rumah dan tinggal di tempat-tempat gelap di dalam rumah. Ia bertelur dan berkembang biak pada tempat-tempat yang menampung genangan air. Berbeda dengan nyamuk Aedes aegypty, nyamuk Aedes albopictus lebih suka tinggal di kebun-kebun atau hutan. Ia biasa terdapat di luar rumah dan menggigit manusia di luar rumah. Nyamuk Aedes albopictus sering terdapat pada lubang-lubang alamiah, seperti pada batang, buluh, dan ketiak daun yang menandung genangan air.

Aedes aegypty
Nyamuk Aedes aegypty mempunyai badan kecil, berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Hidup di dalam dan di sekitar rumah, nyamuk ini bersarang dan bertelur di genangan air jernih, bukan di got atau selokan kotor. Bahkan, nyamuk ini sangat menyukai bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut, dan lainnya. Kebiasaan lainnya adalah suka hinggap di pakaian yang bergantung di kamar dan menggigit atau menghisap darah pada siang hari.

1. Perilaku Aedes aegypty
Dalam hidupnya, nyamuk ini mempunyai perilaku mencari darah, beristirahat, dan berkembang biak. Di saat setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Maka dari itulah nyamuk betina akan menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali, selama pagi sampai sore hari pada waktu-waktu tertentu untuk mendapatkan banyak darah. Nyamuk betina yang biasanya mencapai umur 1 bulan ini dan mempunyai jarak terbang 100 meter sering menggigit lebih dari satu orang.
Nyamuk Aedes aegypty ini bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih untuk keperluan sehari-hari, seperti bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara yang tidak tertutup, dan sumur galian. Selain itu, wadah berisi air bersih atau air hujan seperti tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat penampungan air di kulkas dan barang bekas lainnya juga dapat menjadi tempat berkembangbiaknya.

2. Siklus Hidup Aedes aegypty
Jika dilihaat dari siklus hidupnya, nyamuk ini mempunyai fasa telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Telur ini tidak berpelampung sehinnga satu persatu akan menempel ke dinding penampung air, sedikit di atas pemukaan air. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar seratus butir telur ukuran sekitar 0,7 mm/butir. Di tempat kering(tanpa air), telur dapat bertahan sampai enam bulan. Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar dua hari terendam air. Jentik, berbentuk sifon dengan satu kumpulan rambut, saat istirahatnya akan membentuk sudut dengan permukaan air. Setelah 6-8 hari, jentik nyamuk akan tumbuh menjadi pupa nyamuk. Pupa yang berbentuk terompet panjang dan ramping sebagian kecil tubuhnya berkontak dengan permukaan air. Pupa nyamuk yang masih dapat aktif bergerak di dalam air tanpa makan akan memunculkan nyamuk Aedes aegypty baru setelah 1-2 hari. Nyamuk dewasa dengan panjang 3-4 mm mempunyai bintik hitam dan putih pada badan dan kepala serta ring putih di kakinya.

3. Cara Penularan
Manusia dijangkiti virus kuman dengue melalui gigitan nyamuk. Virus dengue ini hidup dan berkembang biak di dalam air liur nyamuk. Ia memerlukan masa pengeraman selama 8-10 hari untuk berkembang biak di dalam air liur nyamuk. Setelah masa itu, virus menjadi infektif . nyamuk yang telah dijangkiti akan terus membawa virus dengue sepanjang hidupnya. Jika nyamuk Aedes betina menggigit manusia tau hewan, ia akan memasukkan virus dengue yang ada di dalam air liurnya ke dalam sistem aliran darah manusia. Tanda-tanda klinikal akan timbul dalam masa 4-6 hari. Virus dengue ini hanya hidup 5-7 hari saja di dalam tubuh manusia karena tubuh kita dapat membentuk dan mengeluarkan antibody. Jika nyamuk Aedes betina menghisap darah manusia yang terjangkiti virus dengue, ia akan melengkapi kitaran hidup virus tersebut dan menyebarkannya kepada orang lain.
Penularan virus dengue dapat juga terjadi jika nyamuk Aedes betina yang sedang menghisap darah orang yang dijangkiti virus dengue diganggu, kemudian nyamuk itu menggigit orang lain. Ini akan menyebabkan virus yang terdapat di belalai nyamuk tersebut masuk ke peredaran darah orang kedua tanpa memerlukan masa pengeraman. Cara ini disebut ”Penularan Mekanik”.
Selain cara-cara diatas, penularan virus dengue dapat juga terjadi melalui penularan transovari yang merupakan suatu proses penularan agen penyakit dari serangga betina melalui telur, jentik, hingga serangga dewasa berikutnya. Melalui proses penularan ini, nyamuk buakn saja berperan sebagai agen pembawa, tetapi juga sebagai rumah agen penyakit.

VIRUS DENGUE
Virus dengue merupakan virus kedua yang dikenal dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Anggota Flavaviridae ini dapat menyebabkan demam dengue dan demam berdarah dengue. Secara morfologi, virion virus dengue merupakan partikel sferis dengan diameter nukleokapsid 30 nm dan ketebalan selubung 10 nm sehingga diameter virion kira-kira 50 nm. Secara biologis, selubung virion berperan dalam fenomena hemaglutinasi, netralisasi, dan interaksi antara virus dengan sel awal infeksi.
Virus dengue terdiri dari RNA single helix yang bertindak sebagai genom dan mampu langsung bersifat seperti mRNA dan tidak mempunyai poliadenosin pada ujung ketiga primenya. Gen yang mengatur sintesiss protein struktural virus terdapat pada kira-kira seperempat bagian genom keseluruhan dan terletak pada ujung lima primenya. Sedangkan pada ujung lainnya terletak gen yang mengatur sintesis berbagai protein nonstruktural. Hingga saat ini telah dikenal empat tipe virus dengue, yaitu tipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Struktur antigen keempat serotype ini tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetika yang berbeda pada keempat serotype ini tidak hanya menyangkut antarserotype, tetapi juga dalam serotype itu sendiri tergantung dari daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotype dapat mencapai 2,6/11,0% pada tingkat nukleotida dan 1,3/7,7% untuk tingkat protein. Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya. Virus dengue yang genomnya memiliki berat 11 Kb tersusun dari protein struktural dan nonstruktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (F), protein pre membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein nonstruktural yang terdiri dari NS-1 dan NS-5 merupakan bagian yang terbesar (75%). Dalam merangsang pembentukan antibody diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E yang diikuti protein prM dan C, sedangkan pada protein nonstruktural yang paling berperan adalah protein NS-1.

EPIDEMIOLOGI INFEKSI VIRUS DENGUE

Dikenal dua siklus transmisi, yaitu dengue kota (urban dengue) dimana rantai penularannya adalah manusia-nyamuk-manusia dan dengue hutan (jungle dengue) dimana rantai penularannya adalah manusia-nyamuk-monyet-nyamuk-manusia. Nyamuk penting dalam rantai penularan dengue di kota-kota besar adalah Aedes aegypti sedangkan di hutan adalah Aedes niveus.
Virus dengue tersebar sangat luas di benua Asia, Afrika, Amerika, dan juga Australia dengan endemisitas dan kombinasi tipe virus yang belum tentu sama. Asia Tenggara termasuk salah satu wilayah endemik dimana keempat tipe virus dapat ditemukan.

Gambar : Epidemiologi infeksi nyamuk Aedes aegypti

Di komunitas kota, dengue mewabah dan menduduki porsi yang cukup besar dari populasi, biasanya dimulai selama musim penghujan saat vektor nyamuk Aedes aegypti melimpah. Nyamuk ini termasuk nyamuk lokal dengan jarak terbang dekat dan penyebaran virusnya dari rumah ke rumah. Nyamuk ini berkembang biak pada iklim tropis atau subtropis dalam tempat-tempat penampungan air di sekitar tempat tinggal manusia, di lubang-lubang pohon, atau tumbuh-tumbuhan di dekat pemukiman manusia. Nyamuk ini lebih menyukai darah manusia daripada darah hewan. Karena Aedes aegypti juga merupakan vektor dari penyakit demam kuning, kasus wabah dengue di Karibia menjadi tolak ukur agar masyarakat senantiasa waspada terhadap kemungkinan wabah yang lebih besar dan serius lagi.
Aedes aegypti adalah satu-satunya vektor dengue yang diketahui di daerah barat. Nyamuk betina memperoleh virus dengan cara memakannya dari tubuh manusia yang terinfeksi. Nyamuk ini menjadi infektif setelah 8-14 hari (waktu inkubasi intrinsik). Di dalam tubuh, gejala klinis dimulai setelah gigitan nyamuk infektif. Sekali saja nyamuk infektif, maka akan tetap infektif selama sisa hidupnya (1-3 bulan atau lebih)
Virus dengue tidak diturunkan ke generasi selanjutnya. Penyakit ini dipertahankan secara konstan di wilayah tropis dimana nyamuk ada sepanjang tahun. Kasus dengue di wilayah dingin berkurang seiring dengan berkurangnya suhu. Mewabahnya dengue biasanya diamati ketika virus baru saja masuk ke suatu wilayah asing, atau jika mudah, akan menjadi daerah endemik. Jika sepanjang tahun siklus virus dapat dipertahankan, penyakit ini dapat menjadi endemik.
Penelitian terhadap endemik dengue di Nikaragua tahun 1998 menyimpulkan bahwa epidemiologi dengue dapat berbeda tergantung pada daerah geografi dan serotype virusnya. Wabah dengue yang terjadi di Bangladsh yang diidentifikasi dengan PCR ternyata merupakan serotype DEN-3 yang dominan, sedangkan wabah di Salta Argentina tahun 1997 ditemukan bahwa serotype DEN-2 yang menyebabkan transmisinya.
Manifestasi infeksi virus dengue sangat beragam mulai dari tanpa gejala, demam ringan, demam dengue, dan demam berdarah dengue. Dalam kenyataan, jumlah kasus dengan manifestasi gejala klinis ringan dalam bentuk tanpa gejala dan demam ringan ternyata merupakan mayoritas. Diperkirakan kasus dengan manifestasi DBD hanya merupakan 5% dari seluruh kasus infeksi virus dengue. Kelompok yang bermanifestasi ringan tersebut secara klinik sukar didiagnosis karena tetap membawa virus dalam tubuhnya. Kelompok tersebut merupakan sumber penularan yang sukar diawasi sehingga dalam istilah epidemologi DBD sering disebut amplifier.

GEJALA-GEJALA DAN TANDA-TANDA
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
• Deman tinggi
Demam yang terjadi pada virus dengue ini timbul mendadak, tinggi (dapat mencapai 390-400C) dan dapat disertai dengan menggigil, demam ini hanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Pada saat demam berakhir, sering kali dalam bentuk mendadak (lysis), dan disertai dengan keringat banyak. Biasanya penderita terlihat lemas, demam ini biasanya dinamakan demam biphasic.
• Manifestasi pendarahan, dengan bentuk: uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
Pada infeksi virus demam berdarah dengue selalu ditandai dengan adanya pendarahan. Hanya saja tanda pendarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda pendarahan ini muncul setelah dilakukan tes terniquet. Bentuk-bentuk pendarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa pendarahan-pendarahan kecil di kulit (petechiae), pendarahan agak besar di kulit (echimosis), pendarahan gusi, pendarahan hidung, dan kadang-kadang dapat terjadi pendarahan yang massif yang dapat berakhir dengan kematian.
• Hepatomegali (pembesaran hati)
• Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
• Trombositopeni, pada hari ke 3-7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000/mm3.
• Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai hematokrit.
• Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai : anoreksia, lemah, mual, sakit perut, diare, kejang, dan sakit kepala.
• Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

Penyakit DBD sering salah diagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue menyebabkn DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain, seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksis virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Ditemukannya antibodi Ig G ataupun Ig M yang meningkat tinggi titernya mencapai empat kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam spesimen serta peradangan.
Demam berdarah baru terjadi jika infeksi oleh virus dengue terjadi untuk kedua kalinya. Infeksi pertama kali hanya menimbulkan penyakit demam lima hari saja. Dengan atau tanpa obat, penyakit ini sembuh dengan sendirinya dan berlalu begitu saja.
Setelah terinfeksi virus dengue untuk kedua kalinya, virus berada dalam aliran darah pasien sejak digigit nyamuk yang membawa virusnya sampai beberapa hari setelah timbul demam. Jika masa tunas penyakit demam berdarah berkisar antara 8-10 hari atau rata-rata seminggu, ditambah beberapa hari masa sakit, maka sekurang-kurangnya darah pasien mengandung virus selama 12 hari. Virus berada dalam aliran darah selama 4-7 hari, dimulai 1-2 hari sebelum timbul panas.
Selain itu, dalam tubuh yang sudah pernah terinfeksi, virus dengue lebih sensitif terhadap infeksi virus kedua kalinya, dan saat itu juga terjadi reaksi yang lebih dahsyat atau hipersensitivitas. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa ruam. Bentuk reaksi kedua yaitu dengan masuknya virus demam berdarah, dalam tubuh terjadi reaksi hebat sedemikian rupa sehingga pipa pembuluh darah di bagian tubuh mana saja mengalami kebocoran. Darah merembet keluar pipa pembuluhnya, baik pipa berukuran besar maupun kecil. Lalu kebocoran pipa pembuluh darah terjadi pada pembuluh darah kulit. Tanda perdarahan di bawah kulit biasanya berupa bintik seperti bekas gigitan nyamuk atau bisa juga seperti bercak lebam atau bilur-bilur. Selain di kulit, perdarahan bisa juga terjadi di bagian tubuh mana saja. Termasuk organ-organ dalam seperti hati, usus, ginjal, dan paru-paru.
Tanda perdarahan juga nampak jika terjadi mmimisan, gusi berdarah, berak darah atau kencing darah, selain juga mungkin batuk darah. Selain kerusakan pipa pembuluh darah, akibat reaksi yang timbul oleh masuknya virus, sumsum tulang sebagai pabrik pembuat segala macam sel darah ditekan produksinya. Produksi sel darah menurun, termasuk sel darah merah, sel darah putih. Virus dengue juga menurunkan trombosit atau sel pembeku darah. Padahal trombosit penting digunakan untuk menambal dinding pembuluh darah yang pecah, semakin banyak pembuluh darah yang bocor di dalam tubuh sedang produksinya sudah menurun. Itu sebabnya pada kasus DBD selain trombosit, Hb, hematokrit dan leukosit cenderung menurun terus.
Jadi manifestasi penyakit yang ditimbulkan oleh DBD sesudah masa tunas selama 3-15 hari pada orang yang tertular terdiri dari empat bentuk berikut ini:
1. Bentuk abortif, penderita tidak merasakan gejala apapun
2. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi 4-7 hari, nyeri tulang disertai bintik-bintik perdarahan di bawah kulit
3. Dengue hemmorhagic fever (DBD), gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah perdarahan dari hidung, mulut, dubur, dsb
4. Dengue syok syndrome, gejala sama dengan DBD ditambah dengan syok; kegagalan sirkulasi yaitu nadi lemah dan cepat, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ), hipotensi, kulit dingin dan lembab serta pasien tampak gelisah. Sering terjadi kematian.

TINGKAT PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

Berat ringannya penyakit demam berdarah ditentukan oleh beberapa factor. Pertama, factor daya tahan tubuh pasien. Jika daya tahan tubuhnya kuat, penyakit yang dideritanya mungkin hanya ringan atau mungkin juga tidak muncul sama sekali. Akan tetapi, jika daya tahan tubuhnya rendah, penyakit cenderung memberat dan parah.
Mekanisme terjadinya perdarahan dan syok merupakan proses imunologis dalam tubuh pasien. Beberapa data epidemologis menunjukkan pasien perempuan lebuh sering terkena syok disbanding pasien pria, anak-anak, dan remaja yang terserang DBD. Status gizinya di atas rata-rata, jarang pada anak kurang gizi. Mekanisme imunologis pada tubuh anak kekurangan gizi terganggu, sehingga reaksi akibat masuknya virus dengue tidak sehebat pada tubuh orang yang kelebihan gizi.
Sepertiga kasus demam berdarah tidak tergolong berat, pasien masuk ke dalam syok, dan bisaanya dapat merenggut nyawa. Hal ini dipengaruhi juga dengan reaksi hipersensitivitas di dalam tubuh setelah terjadinya serangan virus dengue yang pertama sebelumnya. Jika reaksinya hebat, reaksi yang timbul akibat serangan virus ulangannya akan lebih berat lagi.
Faktor kedua, seberapa cepat pasien mendapat penanggulangan medis.semakin cepat ditolong, semakin baik prognosisnya. Banyak pasien terlanjur parah dan gagal ditolong sebab terlambat mendapat bantuan medis.
Jika kondisi pasien akibat masuknya virus demam berdarah sudah mengancamnya mauk ke dalam syok yang tidak terpulihkan, lebih sukar mengangkatnya untuk kembali ke kondisi tidak syok. Syok akibat kekurangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan pasien demam berdarah meninggal.
Faktor ketiga, jika misalnya perdarahan terjadi pada organ anak ginjal, kelenjar ini memproduksi hormone kortikosteroid yang membantu mekanisme tubuh mengangkat dirinya sendiri dari ancaman syok. Jika kelenjar ini berdarah, sehingga fungsi kerjanya terganggu, produksi hormone penghambat syok berkurang. Akibatnya, pasien lebih rentan masuk dalam keadaan syok, sebab mekanisme pertahanan terhadap syok sudah kacau.
Factor keempat, mungkin terdapat perbedaan tingkat keganasan pada virus denguenya sendiri, selain kemungkinan sudah terjadinya kelainan sifat genetic virus akibat iklim, cemaran bahan kimiawi, serta lingkungan. Akibatnya, jika virus dengue yang masuk ke dalam tubuh lebih ganas, penyakitnya lebih parah dibandingkan tubuh yang dimasuki virus yang kurang ganas.
Berdasarkan tingkat keganasannya, DBD digolongkan menjadi empat tingkatan:
1. Derajat pertama
Demam diikuti dengan gejala tidak spesifik. Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes terniqut yang positif atau mudah memar.
2. Derajat kedua
Gejala yang ada pada tingkat pertama ditambah dengan perdarahan spontan. Perdarahan bisa terjadi dimkulit atau di tempat lain.

3. Derajat ketiga
Kegagalan sirkulasi yang ditandai oleh denyut nadi yang emah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab, dan penderita gelisah.
4. Derajat keempat
Syok berat dengan nadi yang tidak terab adan tekanan darah tidak dapat diperikda. Fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.setelah demam selama 2-7 hari, penurunan suhu bisaanya ditandai dengan tanda-tanda gangguan sirkulasi darah. Penderita berkeringat, gelisah, tangan dan kaki dingin, serta mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi.

PATOGENESIS DEMAM BERDARAH DENGUE

Patofisiologi perdarahan pada demam berdarah dengue belum diketahui pasti karena belum adanya binatang model yang tepat untuk percobaan. Beberapa fakta yang telah diketahui dan dianggap terkait dengan kejadian perdarahan adalah:
1. Virus dengue mampu berkaitan dengan sel trombosit dan dengan bantuan antibody anti dengue, trombosit mengalami agregasi.
2. Fungsi trombosit pada demam berdarah dengue terganggu.
3. Konsumsi komplemen penderita DBD meningkat sebagai akibat pengaktifan system komplemen.
4. Pada mencit, infeksi dengue merangsang sel limfosit T membentuk limfokin. Limfokin berfungsi mampu merangsang pelepasan histamine dari sel pengandungnya.
5. Terjadinya aktivasi sistem kinin yang berperan dalam proses koagulapati.
6. Sel monosit terinfeksi virus dengue mengekspresikan penghambatan plasminogen aktivataor 2-3 kalilebih banyak dari pada sel normal.
7. Adanya sel limfosit T teraktivasi oleh virus dengue dan klon ini mampu melisiskan sel yang terinfeksi oleh virus dengue tipe lain.
8. Antigen virus dengue dan sel monosit terinfeksi virus denguemerangsang limfosit manusia membentuk interferon alfa dan gama. Interferon gama ini in vitro diketahui mampu merangsang masuknya virus ke dalam sel.
9. Virus dengue mampu berkembangbiak dalamdalam sel endotel manusiadan telah diketahui bahwa integritas sel endotel ini penting dalam system hemosiitasis.
10. Gambaran patologi bahan otopsi menunjukkan adanya depresi sumsum tulang termasuk alur megakariosit.
11. Penderita demam berdarah dengue lebih banyak ditemukan pada infeksi sekunder yang terjadioleh virus dengue tipe 2 atau 3. Selain itu juga telah dilaporkan kasus-kasus demam berdarah dengue pada infeksi primer. Data ini menunjukkan bahwa virulensi virus dengue mungkin tidak sama, galur-galur tertentu mungkin lebih virulen daripada yang lainnya.

Berbagai skenario rangkaian kejadian dalam proses pedarahan dan rejatan telah disusun. Salah satu hipotesis yang terkenal adalah hipotesis sequential infection atau antibody dependent enchantment dengue atau immune enchantment of dengue infection. Prinsipnya adalah infeksi virus dalam sel seri monosit berlipat ganda jika dalam tubuh ada enhancing antibodies. Dengan lebih aktifnya replikasi virus , jumlah komplek imun dan sel terinfeksi betambah. Kemudian terjadi eliminasi sel terinfeksi oleh system kekebalan dan pengaktivan system komplemen oleh protease dari sel. Selain itu, tejadi pelepasan tromboplastin dan dan factor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas pembuluh darah. Akibatnya, terjadi fenomena perdarahan dan rejatan. Karena peningkatan replikasi virus di dalam sel monosit, ternyata juga dirangsang oleh factor, terdapat kemungkinan factor tersebut ikut berperan dalam pathogenesis perdarahan dan rejatan.
Modifikasi lain dari hipotesis ini menguraikan kemungkinan bahwa bahwa factor utama adalah keberhasilan infeksi sekunder, baik dengan atau tanpa bantuan enhancing antibody dan keberhasilan efek booster pembentukan antibody bereaksi dengan virus dengue enginfeksi sebelumnya. Dalam hipotesis ini, aktivasi komplemen dimula oleh antibody anti dengue tertentu yang ada sel manosit dan makrofag. Antobodi ini akan mengaktifkan system komplemen. Aktivasi system komplemen menyebabkan rangkaian reaksi sekuder, seperti pelepasan histamine dan anafilaktosin lain, disfungsi dan kerusakan endotel dan juga trombositopenia.
Uraian pada gambar di bawah ini:

KOMPLIKASI DEMAM BERDARAH DENGUE
Penyakit demam berdarah dapat menimbulkan komplikasi pada mata dan otak. Pada mata terjadi kelumpuhan syaraf bola mata sehingga mungkin terjadi kejulingan. Dapat juga terjadi peradangan pada tirai mata atau pada kornea sehingga berakhir dengan gangguan penglihatan. Peradangan pada otak bisa menyisakan kelumpuhan atau gangguan syaraf lainnya. Namun, semua itu jika terjadi sifatnya sementara saja dan dalam beberapa hari akan kembai normal.

DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE
Diagnosis DBD perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan apakah seseorang menderita DBD atau tidak. Diagnosis DBD terdiri dari dua kriteria, yaitu kriteria klinis dan kriteria laboratorium.
A. Kriteria Klinis
Salah satu criteria klinis dalam diagnosis DBD adalah tes tourniquest positif yang dilakukan di laboratorium klinis. Tes tourniquest dapat dilakukan dengan menggunakan tensimeter atau cukup menggunakan sehelai sapu tangan. Pengujian tensimeter dilakukan dengan cara sebagai berikut:
• Bebatan dipertahankan pada tekanan sebesar tekanan tekanan bawah dibagi dua selama lima menit.
• Setelah lima menit, perhatikan daerah kulit lipatan siku di bawah bebatan. Jika terdapat bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk, berjumlah lebih dari dua puluh buah,nmaka pasien positif terinfeksi dengue. Namun ada phak yang berpendapat bahwa pasien tetap terinfeksi dengue walaupun jumlah bintik merah kurang dari dua puluh buah dan tidak perlu di daerah lipatan siku (boleh di lengan bawah bagian mana saja).

Adapun tanpa tensimeter, seseorang dapat melakukan tes terniquet dengan membebat lengan atasnya menggunakan sapu tangan dengan tekanan secukupnya. Setelah lima menit, perhatikan daerah kulit lengan bagian bawah. Selanjutnya sama seperti pada penggunaan tensimeter. Jika hasil tes tourniquet positif, maka besar kemungkinan seseorang mengidap DBD. NAmun hal tersebut perlu dipastikan lagi melalui pemeriksaan laboratorium darah.
Secara umum criteria klinis dalam diagnosis DBD adalah sebagai berikut:
1) Demam 2-7 hari, panas tinggi dan terus-menerus.
2) Perdarahan dalam berbagai bentuk, seperti bintik merah pada kulit (petechia), bercak merah, bilur, mimisan, fese merah, muntah darah, gusi berdarah. Tes tourniquet positif.
3) Pembengkakan hati, sering terasa nyeri di ulu hati. Indikasi ini dapat diraba oleh dokter.
4) Syok, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi (selisih sistol dan diastole) menurun (kurang dari 20 mmHg), tekanan darah menurun, kulit dingin, dan gelisah.
DBD positif jika terdapat 2-3 kriteria klinis yang disertai dengan trombosit yang turun (kurang dari 100.000/m3) dan hematokrit (Ht) yang naik (lebih dari 20%)

B. Kriteria Laboratorium
Ada empat jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk diagnosis DBD, yaitu uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen, dan deteksi DNA/RNA menggunakan teknik Polymerase Chain Reactor (PCR).
1) Uji Serologi
Ada lima macam uji serologi yang biasa dilakukan, yaitu:
a. Penghambatan Pembekuan Darah (HI)
Diantara kelima macam pengujian, Hi paling sering digunakan karena sifatnya yang sensitive, mudah dikerjakan, memerlukan peralatan paling sedikit, dan hasilnya paling dapat dipercaya jika dilaksanakan secara benar sesuai prosedur. Antibodi HI dapat bertahan dalam jangka waktu lam (mencapai 48 tahun, bahkan lebih), sehingga uji ini ideal untuk pembelajaran epidemiologi. Kekurangan pengujian ini adalah spesifitasnya sangat rendah sehinggan tidak dapat diandalkan untuk dapat mengidentifikasi infeksi serotype virus. Namun, beberapa pasien dengan infeksi primer menunjukkan respon HI tunggal secara relative yang umumnya berhubungan denagn virus yang diisolasi.
b. Ikatan Komplemen (CF)
Uji ikatan komplemen (CF) jarang digunakan dalam uji serologis diagnosis dengue. Pengujian ini lebih sulit dilakukan karena membutuhkan tenaga terltih dan professional, sehingga uji ini tidak digunakan pada sebagian besar laboratorium.
Pengujian ini berdasarkan prinsip bahwa komplemen dibutuhkan selama reaksi antigen-antibodi. Antibody CF umumnya terlihat setelah antibody HI. Antibodi CF lebih spesifik pada infeksi primer dan biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat walaupun ada beberapa kasus antibody pada kadar rendah dapat bertahan pada beberapa orang. Spesifitas yang lebih besar pada uji ini saat infeksi primer ditunjukkan oleh respon CF monotype, dimana respon HI sangat heterotipe. Tetapi uji CF tidak spesifik pada infeksi sekunder. Pengujian ini sangat berguna bagi pasien saat ini, tetapi nilainya terbatas untuk pembelajaran seroepidemiologi, dimana reaksi dari antibody yang tertahan adalah penting.
c. Uji Netralisasi
Uji netralisasi adalah pengujian serologi terhadap virus dengue yang paling spesifik dan sensitive. Protocol yang paling sering digunakan dalam laboratorium adalah uji penetralan reduksi plaque cairan serum. Pada umumnya titer penetralan antibody meningkat pada saat yang sama atau sedikit lebih lambat dai pada titer antibidi HI dan ELISA tetapi jauh lebih cepat daripada titer antibody CF dan betahan minimal selama 48 tahun. Oleh karena NT lebih sensitive maka penetralan antibody diwujudkan dengan tidak ditemukan antibody Hi pada beberapa orang yang pernah menderita infeksi dengue.
Secara umum respon penetralan antibody monotype diamati dalam serum pada waktu fase penyembuhan. Pada kasus-kasus yang memberikan respon tunggal, interpretasi dari semua pengujian umumnya dapat dipercaya. NT dapat digunakan untuk pembelajaran seroepidmiologi karena penetralan antibody besifat tahan lama. Pengujian ini tidak digunakan secara rutin oleh sebagian besar laboratorium Karena dibutuhkan biaya yang mahal, waktu yang lama, dan teknik yang sulit.
d. Immunoglobulin M (IgM)
Antibodi dengue IgM berkembang sedikt lebih cepat dari pada antibody IgG pada specimen virus yang didiagnosis. Antibody IgM diproduksi oleh pasien yang menderita infeksi dengue primer dan sekunder yang terjadi secara bersamaan dan mungkin juga oleh orang yang terkena infeksi tersier. Teter antibody IgM pada pada infeksi primer secara signifikan lbih tinggi dari infeksi sekunder.
e. Uji ELISA
Uji ELISA atau MAC-ELISA merupakan uji serologi yang secara luas digunakan selama beberapa tahun terakhir dalam diagnosis dengue. Uji elisa ini sederhana dan hanya membutuhkan sedikit peralatan yang rumit. Uji ELISA dalam diagnosis infeksi dengue pada sampel serum fase akut sedikit lebih senssitif dari pada uji HI.ada kenungkina respon yang didapat dari HI adalah posotof palsu karena setelah dikakukan uji ELISA didapatka hasil yang negative, sehingga dalam hal ini, uji ELISA dapat memperkecil kesalahan diagnosis.
Spesifitas uji ELISA hampir sama dengan uji HI. Selain itu, pada daerah endemic dengue, uji ELISA dapat dilakukan untuk menguji specimen serumdalam jumlah banyak dengan biaya murah, khususnya untuk pasien yang di rawat di rumah sakit karena pada umumnya mereka dating setelah IgM terdeteksi dalam darah mereka. Kekurangannya adalah uji ini tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi serotype virus yang serupa seperti pada HI.
Sebuah uji IgG ELISA telah dikembangkan dan dapat digunakan untuk membedakan infeksi dengue primer dan sekunder. Pengujiannya sederhana dan mudah dilakukan. Namun uji IgG ELISA bersifat sangat tidak spesifik dan menunjukkan reaktivitas silang yang sama luasnya di antara flavirus seperti pada HI, sehingga tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi serotype virus dengue.
Infeksi dengue juga merangsang proses tanggap kebal seluler walaupun sebagian data didapat dari percobaan pada hewan, terutama pada monyet dan mencit. Data yang relevan diringkas sebagai berikut:
• Pada monyet, sel T sitotoksik muncul pada 5-7 harisetelah infeksi. Sel T sitotoksik tersebut berperan dalam mengeleminasi sel yang terinfeksi virus dengue dan karenanya berfungsi pula menghentikan siklus replikasi virus dalam sel.
• Proses penghancuran sel terinfeksi virus dengue pada manusia, dengan atau tanpa bantuan antibody, dibantu oleh sel leukosit mononukleus yang ada di dalam sirkulasi
• Reaksi serupa hipersensitivitas tipe lambat dengan sel-sel radang ditemukan pada jaringan veriveskuler. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat ini dibuktikan terjadi juga pada mencit yang terinfeksi virus dengue.
• Terjadi limfositolisis pada tempat yang dipengaruhi oleh sel T pada kelenjar limfe non-limpa penderita menunjukkan teraktivasinya kekebalan seluler dengan kemungkian terbentuknya factor toksis bagi sel. Pada mencit, factor sitotoksis ini memang mampu melisiskan sel limfosit.
• Meningkatkan jumlah sel yang mengalami transformasi menjadi sek blast dalam sirkulasi juga menunjukkan teraktivasinya kekebalan seluler.
2. Isolasi virus
Ada 4 sistem isolasi yang sering digunakan pada virus dengue, yaitu inokulasi intacerebral pada bayi mencit yang berumur 1-3 hari, kultur sel mamalia, inokulasi nyamuk, dan kultur sel nyamuk.
a. Bayi mencit
Pada awalnya keempat serotype virus dengue diisolasi dari serum manusia dan diinokulasi menggunakan bayi mencit. Namun saat ini metode ini tidak lagi direkomendasikan karena memiliki sensitifitas yang yang rendah (banyak tipe virus lain yang tidak dapat diisolasi dengan bayi mencit), memakan banyak waktu, lambat, dan mahal. Satu kelebihan dari penggunaan bayi mencit adalah bahwa arbovirus lain yang menyebabkan penyakit seperti dengue dapat diisolasi dengan system ini.
b. Kultur sel mamalia
Metode ini tidak dilanjutkan lagi karena memiliki banyak kekurangan seperti pada penggunaan bayi mencit, walaupun ada beberapa laboratorium yang masih menggunakan metode ini. Kultur sel mamalia membutuhkan waktu yang lama, mahal, dan tidak sensitif. Virus yang diisolasi secara berkala memerlukan banyak persyaratan sebelum efek sitopatik yang konsisten dapat diobservasi dalam kultur yang terinfeksi.
c. Inokulasi nyamuk
Virus diisolasi dari darah dengan cara inokulasi pada nyamuk, atau inokulasi pada kultur jaringan nyamuk, atau pada kultur jaringan vertebrata, lalu diidentifikasi dengan antibodi monoklonal serotipe spesifik. Inokulasi nyamuk adalah metode yang paling sensitive untuk mengisolasi virus dengue dan berhasil memberikan keterangan tentang Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Selain itu, hanya dengan metode ini dapat ditemukan strain virus dengue yang lain.
Spesies nyamuk yang digunakan untuk isolasi virus yaitu Aedes aegepty, A. albopictus, Toxorhinchitis amboinensis, dan T. Spleidens. Virus dengue bereplikasi di sebagian besar jaringan nyamuk, termasuk otak. Variasi pada metode ini mencakup inokulasi intraserebral dari larva dan nyamuk dewasa Toxorhynchitis. Walau demikian, modifikasi ini tidak meningkatkan sensitifitas atau kelebihan-kelebihan lain diatas inokulasi intraotak.
Teknik inokulasi nyamuk memiliki kelemahan yaitu harus diamati secara intensif, memerlukan nyamuk dalam jumlah besar untuk diinokulasikan, dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi di laboratorium. Khusus resiko yang terakhir dapat dieliminasi dengan emggunakan nyamuk Aedes jantan atau spesies Toxorhynchitis yang tidak meggigit untuk diinokulasi.
d. Kultur sel nyamuk
Kultur sel nyamuk (Mosquito Cell Culture) adalah metode baru dalam mengisolasi virus dengue. Ada tiga jenis sel yang memiliki sensitifitas dan sering digunakan, salah satunya adalah C6/36 yang merupakan klon dari Aedes albopictus. Keuntungan metode ini adalah cepat, sensitive, ekonomis, dan dapat memproses banyak specimen serum dengan mudah. Namun kultur sel nyamuk kurang sensitive dibandingkan inokulasi nyamuk.

Keberhasilan isolasi virus sangat bergantung pada saat pengambilan darah, jumlah darah, proses pengiriman darah ke laboratorium dan teknik pengujian di laboratorium. Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu kira-kira 1 minggu atau lebih dan secara teknik sukar, cara ini kurang dianjurkan untuk pemeriksaan rutin.

3. Deteksi Antigen
Metode pilihan identifikasi virus melalui deteksi antigen adalah Immunoglobulin Fluorescent Antibody (IFA), pengujian ini mudah dilaksanakan (dengan kultur sel terinfeksi atau jaringan otak nyamuk), sederhana, dapat dipercaya, dan metode yang paling cepat.
Kesuksesan mengisolasi virus dengue dari serum manusia tergantung dari beberapa factor, yaitu:
• Pelaksanaan dan penyimpanan specimen. Aktivitas virus dapat terhambat karena panas, pH, dan bahan-bahan kimia tertentu.
• Tingkat viremia, dapat bervariasi tergantung pada waktu setelah onset, titer antibody, dan strain virus yang menginveksi. Viremia biasanya mencapai puncak pada saat atau sesaat sebelum onset waktu sakit dan dapat dideteksi rata-rata 4-5 hari.
• Terlihatnya antibody IgM pada virus yang diisolasi.

4. Polymerase Chain Reactor (PCR)
PCR merupakan metode baru untuk mendiagnosis Dengue, PCR akan mendeteksi dan memberikan gambaran genomic (RNA/DNA) sekuen virus dari jaringan otopsi, sediaan serum, atau cairan serebro spinalis (CSS). PCR menghasilkan diagnosis serotype spesifik yang cepat, sensitive, dan sederhana.

Pemeriksaan darah laboratorium bermanfaat untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi virus Dengue, sudah seberapa parah infeksi yang berlangsung, dan tindakan medis apa yang perlu dilakukan. Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk memonitor kesembuhan pasien.
Secara umum pemeriksaan laboratorium mencangkup penmeriksaan trombosit, hematokrit, dan adanya immunoglobulin jenis IgM. Berikut gambaran darah yang terinfeksi dengue:
• Trombositopeni (penurunan jumlah trombosit)
Jumlah trombosit krang dari 100.000/ml
• Hematokrit meningkat
Kenaikan Ht mencapai lebih dari 20%
• Leukopenian (leukosit menurun)
Leukosit kurang dari 5000 sel / mm3
• Limfosis
Peningkatan jumlah limfosit atipikal mengidentifikasikan dalam waktu 24 jam pasien akan bebas demam serta memasuki fase kritis.
• Waktu pendarahan memanjang
• Sediaan apus leukosit abnormal
• IgM dan IgG (setelah sebelumnya pernah terkena infeksi virus dengue)

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE
1. Menghindari gigitan nyamuk
Usaha pencegahan paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari. Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk hingga sore hari karena nyamuk Aedes aegypti aktif pada siang hari. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan menghindari berada di lokasi-lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama pada daerah-daerah yang ada penderita DBD. Bila memang sangat perlu ntuk berada di tempat tersebut kenakanlah pakaian yang lebih tertutup seperti celana panjang dan kemeja lengan panjang yang bewarna terang, karena nyamuk senang pada warna gelap. Cara lain yaitu dengan menggunakan cairan atau krim anti nyamuk yang banyak dijual di toko-toko pada bagian yang tidak tertutup pakaian. Selain itu tidur dengan kelambu juga dapat menghindarkan kita dari gigitan nyamuk.

2. Pembasmian Vektor virus dengue
Pembasmian vektor virus Dengue maksudnya adalah pembasmian nyamuk dewasa maupun larva Aedes aegypti. Pembasmian nyamuk adalah salah satu cara yang paling sering digunakan pada daerah dimana terdapat kasus DBD. Metode yang paling lazim digunakan adalah penyemprotan atau pengasapan (fogging)
Pengasapan dengan insektisida untuk membasmi nyamuk aedes aegypti dapat dilakukan dengan menggunakan mesin fog ( mesin pembuat kabut asap) yang padat dipasang pada pesawat terbang, kapal, atau kendaraan bermotor lainnya. Selain itu terdapat juga thermal fog yang dapat dijinjing yang umum digunakan di indonesia

3. Vaksinasi
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin bagi virus Dengue. Hal ini karena sifat virus pada umumnya, virus dengue sangat mudah bermutasi. Hambatan lain bagi penemuan vaksin virus adalah tidak mudah untuk mengidentifikasi faktor dari sel yang spesifik untuk virus tertentu.
Percobaan pembuatan vaksin dengue pernah dilakukan oleh beberapa negara. Ilmuan jepang dan amerika pertama kali pengisolasi virus untuk pengembangan vaksin, namun belum berhasil.Kemajuan yang cukup menjanjikan dalam pengembangan vaksin virus dengue dicapai oleh negara thailand. Mahidol university, bangkok, yang telah melemahkan virus dengue DEN-2. Vaksin ini diberi nama PDK-33 dan telah diujicobakan pada manusia namun belum memberikan efektifitas secara sempurna. Indonesia melakukan penelitian untuk menemukan vaksin dengue. Penelitian ini dikerjakan oelh Tim peneliti pusat Riset penyakit Tropis universitas Airlangga Surabaya. Tim peneliti telah menemukan serum baru untuk imunisasi demam berdarah. Vaksin ini telah diujicobakan secara praklinik dan memberikan hasil yang positif dengan terbentuknya antibodi terhadap virus dengue. Vaksin ini berasal dari E-protein, bagian virus yang merangsang peningkatan antibodi virus Dengue DEN-1 hingga DEN-4. Sekarang vaksin ini sedang diteliti lebih lanjut untuk mengetahui efek negatif dan efektivitasnya pada manusia.

4. Manajemen lingkungan
Selain dari faktor nyamuk, ulah manusia dapat ikut menambah subur populasi nyamuk Aedes aegypti, kebanyakan kota-kota besar di Indonesia seperti halnya kota-kota di Negara berkembang lainnya, telah berkembang pesat dengan segala implikasinya, seperti tumbuhnya daerah kumuh karena urbanisasi, terbatasnya pasokan air bersih, manajemen pengelolaan kota yang tidak sempurna, serta manajemen lingkungan yang tidak profesional. Semuanya meninmbulkan pertambahan tempat-tempat yang dapat dipakai bersarang dan berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.
Hal ini didukung pula oleh tumbuhnya gedung-gedung bertingkat yang menjulang dan tertutup rapat, akibatnya nyamuk Aedes aegypti semakin berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan manusia di perkotaan yang memiliki banyak persoalan. Kurangnya informasi yang benar tentang penanggulangan demam berdarah kepada masyarakat dan disertai kehidupan sosial masyarakat kota yang semakin individualis menyebabkan semakin sulitnya komunitas yang ada untuk dapat saling bekerja sama membasmi nyamuk Aedes aegypti.
Disadari oleh para ahli bahwa pemusnahan mahluk hidup seperti Aedes aegyptimemerlukan pengetahuan tentang ilmu ekologi, populasi, serta dinamika populasinya. Pemusnahan suatu spesies mahluk hidup hanya dapat dilakukan melalui pemusnahan habitatnya, bukan pemusnahan per satuan jenis spesies tersebut. Dengan demikian, masih akan dibutuhkan waktu yang lama bagi manusia untuk hidup berdampingan dengan nyamuk Aedes aegypti.
Untuk itu diperlukan manipulasi lingkungan yang terstruktur dan berkesinambungan yang tidak merusak habitat manusia itu sendiri untuk membasmi nyamuk ini. Kondisi lingkungan yang tertata rapi, halaman yang bersih, kamar mandi yang ganya dilengkapi pancuran (Shower) jelas akan dapat membantu meminimalisir perkembangan spesies ini.

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
Sampai saat ini pengobatan demam berdarah dilakukan melalui pemberian obat dan pemberian vaksin. Namun, sampai saat ini belum ada vaksin yang benar-benar mampu untuk mencegah seseorang terkena dema, berdarah.Cara yang paling mudah dan efektif untuk menghindari penyakit ini adalah mencegahnya. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Menghindari gigitan nyamuk di siang hari karena nyamuk demam berdarah adalah nyamuk yang aktif di siang hari. Cara untuk menghindari gigitan nyamuk salah satunya adalah dengan menggunakan lotion anti nyamuk, hal ini sangat efektif untuk anak-anak dan balita mengingat banyak korban demam berdarah adalah anak-anak.
2. Menjaga kerbersihan lingkungan dengan 3M yaitu menguras bak mandi seminggu sekali sekaligus menaburkan bubuk abate pada air, mengubur barang-barang bekas yang mampu menampung air, menutup tempat-tempat penampungan air. Selain itu juga jangan menggantung baju bekas pakai karena akan digunakan nyamuk untuk bersarang.
3. Memelihara ikan-ikan pemakan jentik nyamuk di kolam-kolam.

Namun apabila upaya pencegahan telah dilakukan tetapi masih terkena demam berdarah, maka cara satu-satunya adalah dengan pengobatan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang dapat dilakukan jika ada yang terkena demam berdarah.
a. Minum banyak air.
Pada saat gejala demam berdarah tampak, langkah yang pertama yang paling baik dilakukan adalah dengan memberikan banyak cairan atau minum seperti air putih, teh, susu, sari buah, dan oraloit. Hal ini bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh melalui ekskresi urin dan mencegah dehidrasi.
b. Kompres air dingin dan pemberian obat antipiretik
Untuk mengatasi demam perlu dilakukan pengompresan dengan air dingin dan pemperian obat antipiretik dan analgesic. Obat antipiretik berfungsi untuk menurunkan demam. Obat yang dianjurkan dan mudah didapat adalah acetaminofen atau parasetamol. Penggunaan aspirin sangat tidak dianjurkan walaupun sama-sama memiliki efek antipiretik karena adanya efek antiinflamasi yang sangat kuat. Efek antiinflamasi parasetamol sangat lemah dan hampir tidak ada. Obat-obat yang memiliki efek antiinflamasi harus dihindari karena dapat menghambat biosintesis tromboksan A2 yang pada akhirnya dapat menghambat biosintesis trombosit. Ini akan semakin meningkatkan resiko pendarahan pada penderita DBD, padahal sebisa mungkin pendarahan harus dihindari.
Adapun dosis parasetamol yang diberikan yaitu 3 x sehari selama demam. Dosis untuk satu kali pemakaian yaitu:
<1 tahun : 60 mg/ dosis
1-3 tahun : 60-120 mg/dosis
3-5 tahun :120-170 mg/dosis
6-12 tahun :170-300 mg/dosis
Dewasa :500 mg/ dosis
c. Cairan infus
Penambahan cairan secara intravena mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Infus diberikan jika penderita terus-menerus muntah sehingga tidak ada nutrisi yang masuk ke tubuh maka pemberian nutrisi memalui cairan intravena diperlukan . Cairan yang diberikan adalah campuran NaCl 0,9%, glukosa 10% (1:3). Jumlah tetesan adalah 20 ml/ kgBB/ jam. Bila syok mulai teratasi jumlah cairan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam.
d. Transfusi darah
Transfusi darah diperlukan jika penderita semakin buruk akibat terjadi pendarahan sehingga jumlah platelet menurun drastis. Pendarahan terutama terjadi pada organ-organ dalam. Kehilangan darah ini perlu diganti melalui transfusi darah karena tubuh terlalu lemah untuk memproduksi sel-sel darah merah baru dalam jumlah besar.
e. Jambu biji
Penelitian oleh Universitas Airlangga dan badan POM menunjukan bahwa ekstrak jambu bijidapat meningkatkan kadar trombosit darah. Kandungan senyawa tannin dan flavonoid yang ada pada ekstrak daun jambu biji diketahui dapat menghambat aktivitas pertumbuhan virus Dengue. Dalam pelaksanaannya, ekstrak daun jambu biji ini digunakan ssebagai suplemen dan penggunaanya harus mendapat ijin dari dokter yang merawat agar tidak terjadi krontraindikasi dengan pengobatan yang dilakukan oleh dokter.
f. Inhibitor enzim virus
Enzim polymerase virus berperan dalam sintesa materi genetik virus. Saat ini sedang dikembangkan inhibitor untuk enzim ini untuk pengobatan infeksi virus Dengue.
g. Terapi siRNA
Terapi dilakukan untuk menyisipkan potongan kecil RNA yang komplementer dengan mRNA virus ke dalam sel untuk mengganggu proses translasi. Diharapkan sintesis protein virus akan terganggu apabila ditemukan antisense RNA yang komplementer dengan mRNA virus. Akan tetapi asam nukleat sangat stabil dan sangat sulit diinjeksikan ke dalam tubuh tanpa terdenaturasi.
Penemuan terbaru menunjukan, siRNA adalah benang ganda yang relatif stabil dibandingkan antisense RNA sehingga lebih mudah dimasukan ke plasmid. Karena relatif stabil maka efeknya diharapkan tidak hanya pada gen dari virus tersebut tetapi juga keturunannya. Kelebihan terapi ini adalah tidak menimbulkan respon imun.

Nyamuk Aedes Aegypti Virus DBD

PENGOBATAN

Setelah didiagnosis dan telah ditetapkan bahwa penderita terinfeksi virus Dengue (demam berdarah) maka penderita harus segera dilakukan pengobatan, dengan cara :
1. Untuk mengatasi demam dapat diberikan parasetamol, selama demam mencapai 39oC paling banyak 6 dosis dalam 24 jam.
2. Untuk mengganti cairan yang hilang, untuk pertolongan pertama dapat diberi oralit atau diberi jus buah-buahan.
3. Apabila kadar hemotokrit turun sampai 40% maka harus di infus NaCl atau ringer, sesuai kebutuhan dan dapat ditambah plasma, larutan garam fisiologis, dan glukosa.
4. Antibiotik dapat diberikan apabila terjadi infeksi sekunder.
5. Oksigen dapat diberikan pada saat penderita syok atau pingsan.
6. Transfusi darah diberikan apabila penderita mengalami pendarahan yang signifikan.
Yang perlu diperhatikan pada saat pemberian cairan pengganti atau infuse, harus diawasi selama 24 jam sampai dengan 48 jam, dan dihentikan setelah penderita terrehidrasi, dengan ditandai jumlah urine cukup, denyut nadi yang kuat dan tekanan darah membaik.
Apabila pemberian cairan intravena diteruskan setelah ada tanda-tanda tersebut akan terjadi overhidrasi yaitu dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah cairan dalam pembuluh darah, edema paru-paru dan gagal jantung.
PENCEGAHAN
Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk Demam Berdarah (Aedes aegypti) dengan cara melakukan PSN (Pembersihan Sarang Nyamuk). Upaya ini merupakan cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat, dengan cara sebagai berikut:
1. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi/WC, drum, dan lain-lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali
2. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tempayan, drum, dan lain-lain agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu
3. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain agar dibakar bersama sampah lainnya.
4. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen.
5. Lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap disitu.
6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.

Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali. Cara Memberantas Nyamuk Aedes aegypti :

Ada banyak cara untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti, antara lain dengan cara:
1. Penyemprotan dengan menggunakan zat kimia
2. Pengasapan dengan insektisida
3. Memutus daur hidup nyamuk dengan menggunakan ovitrap dan memberi ikan cupang di tempat penampungan air.
Untuk memberantas jentik-jentik nyamuk dapat menggunakan serbuk ABATE, dengan komposisi takaran sebagai berikut: Untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram serbuk ABATE
Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut:
- Ambil 1 sendok makan ABATE dan tuangkan pada selembar kertas
- Lalu bagilah ABATE menjadi 2, 3, atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan
Setelah dibubuhkan ABATE maka:
a. Selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik Aedes aegypti
b. Selama 3 bulan bila tempat penampungan air tersebut akan dibersihkan/diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut
c. Air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum.

DENGUE ENCHEPHALITIS

Kebanayakan flavivirus penyebab gejala demam atau demam berdarah kadang-kadang menyebabkan gejala neurologis karena pada dasarnya semua flavivirus bersifat neurotropik, khususnya pada binatang pengerat.
Spektrum patogenesis flavivirus neurotropik dapat dibagi atas:
i. Enchephalitis fatal yang biasanya didahului oleh viremia dan replikasi virus ekstraneural yang hebat.
ii. Enchephalitis subklinis yang biasanya didahului viremia ringan dan infeksi otak lambat disertai kerusakan otak ringan.
iii. Infeksi asimptomatik yang ditandai oleh hampir tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural serta tidak adanya neuroinvasi.
iv. Infeksi persisten.
Infeksi flavivirus pada manusia biasanya bersifat subklinis. Infeksi oleh virus West Nile dan Kyasanur Forrest pada daerah hiperendemik, biasanya menyebabkan penyakit ringan dan terutama menyerang anak, sedangkan kelompok dewasa banyak yang kebal. Pada daerah yang tidak endemik, bentuk epidemi pada semua kelompok umur dapat terjadi. Dalam hal ini, beratnya penyakit berkolerasi dengan umur penderita. Pada usia muda, manifestasinya mirip demam dengue, sedangkan pada usia lebih tua dapat terjadi meningoenchephalitis. Sementara Enchephalitis akibat virus Japanese Enchephalitis bersifat bimodus atau prevalensi penyakit mempunyai dua puncak, yaitu pada anak-anak dan orang tua.
Selain oleh faktor umur, manifestasi sindroma klinis mungkin juga dipengaruhi faktor lain. Pada binatang percobaan, Enchephalitis oleh virus Japanese Enchephalitis dipermudah oleh adanya infeksi oleh virus herpes simplex, cacing Trichinella spiralis, larva migrans ataupun dari berbagai logam berat seperti arsen, timbal, dan kadmium. Sedangkan pada manusia, asosiasi yang jelas diperlihatkan oleh diabetes mellitus, hipertensi, alkoholisme, dan penyakit bronkopulmoner kronik.

PROGNOSIS
Penyakit Enchephalitis disebarkan oleh gigitan nyamuk. Segera setelah masuk melalui gigitan vektor, virus berkembang biak pada tempat inokulasi dan sebagian lagi masuk ke sirkulasi menimbulkan viremia pertama. Viremia pertama ini sangat ringan dan sebentar. Setelah virus berkembang biak, sebagian virus dilepaskan dan masuk ke sirkulasi menyebabkan viremia ke dua yang bersamaan dengan kejadian tersebarnya infeksi di jaringan ekstraneural.
Tempat virus terutama berkembang biak di jaringan ekstraneural tidak diketahui dengan pasti. Dari berbagai penelitian pada binatang percobaan diketahui bahwa antigen virus dapat ditemukan pada jaringan otot, tulang, retikuloendotel, dan banyak jaringan lain. Pada manusia telah dilaporkan adanya miositis pada kasus enchephalitis oleh virus West Nile dan Japanese Enchephalitis. Juga ditemukan tiroiditis pada kasus infeksi oleh Sint Louis Enchephalitis dan pankreatitis oleh virus West Nile.
Pada manusia, kronologi timbulnya kekebalan humoral dan seluler tidak diketahui secara pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar antibodi netralisasi berkorelasi dengan beratnya gejala. Antibodi dalam kasus Enchephalitis ternyata lebih tinggi daripada antibodi pada kasus subklinis. Antibodi juga dapat dideteksi pada cairan cerebospinal. Dalam hal infeksi dalam kasus Japanese Enchephalitis, beberapa data kekebalan dapat diringkas bebagai berikut:
i. Infeksi subklinis tidak ditandai oleh timbulnya antibodi dalam cairan cerebrospinal
ii. Infeksi Japanese Enchephalitis yang fatal ditandai oleh tidak adanya atau lambatnya pembentukan antibodi baik dalam serum ataupun dalam cairan cerebospinal
iii. Antibodi lebih nyata terjadi pada kasus dengan gejala Enchephalitis nyata tetapi tidak fatal
Dengan gejala yang timbul tergantung pada patologi yang terjadi pada susunan saraf pusat, ini sangat berkaitan erat dengan derjat replikasi virus dan proses imunopatologi. Data lapangan pada infeksi virus Japanese Enchephalitis menunjukkan bahwa antibodi timbul lebih lambat pada kasus fatal dibandingkan pada kasus tidak fatal.
Faktor yang mempengaruhi prognosis JE :
1. Umur
Pada anak-anak akan diperoleh gejala sisa yang lebih sering dan lebih banyak ragamnya daripada orang dewasa
2. Gejala klinik
Gejala sisa yang timbul sangat erat kaitannya dengan berat-ringannya manifestasi klinis yang muncul pada stadium akut. Demam tinggi yang berlangsung lama, kejang yang hebat dan sering, depresi pernapasan yang timbul dini akan mengakibatkan prognosis buruk. Gejala sisa dapat berupa gangguan mental, emosi yang labil, koreoatetosis, parkinson, tremor, gangguan bicara, paresis, posisi deserebrasi, skizoprenia, paralisis, dan retardasi mental.
3. Hasil pemeriksaan cairan serebro spinal
Jika terdapat kadar protein yang cukup tinggi pada CSS, prognosisnya kurang baik.

JAPANESE ENCHEPHALITIS

Japanese Enchephalitis (JE) adalah penyakit yang disebabkan oleh flavivirus dan disebarkan oleh nyamuk. Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat otak (otak, spinalis, dan meninges) yang disebabkan oleh Japanese Enchephalitis virus (JEV) yang ditularkan dari binatang melalui gigitan nyamuk. Di Jepang, JEV pertama kali diisolasi dari jaringan otak kasus JE yang meninggal pada tahun 1935. Kemudian tahun 1938 JEV dapat diisolasi dari nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang bertindak sebagai vektor utama dalam penularan JE.

Japanese Encephalitis Virus nyamuk Culex tritaeniorhynchus

Penyakit ini menyebar dari Jepang ke Korea, Cina, Filipina, dan terus ke negara Asia lainnya sampai Indonesia. JE baru dapat diisolasi di Indonesia tahun 1971 dari nyamuk Culex, kemudian dari nyamuk anopheles, sedangkan diagnosis JE baru dapat ditegakkan pada tahun 1981 berdasarkan kriteria WHO dan pemeriksaan IAHA (Immune Adherence Hemaglutination). Diagnosis ditegakkan berdasakan atas gejaa klinis, pemeriksaan laboratorium dari spesimen serum dan cairan cerebrospinal pada stadium akut dan konvalessens dengan pemakaian ELISA dari 49 kasus yang dicurigai menderita Enchephalitis, ternyata 40,82% yang positif menderita JE.
Nyamuk Culex bersifat zoofilik, yaitu lebih menyukai binatang sebagai mangsanya sehingga JEV pada umumnya menyerang binatang, hanya secara kebetulan dapat menyerang manusia terutama apabila dalam keadaan densitas culex yang sangat padat. Tidak semua manusia yang digigit culex infektif menunjukkan gejala klinis Enchephalitis. Dari hasil penelitian di Jepang menunjukkan gejala klinis Enchephalitis dari tiap 500-1000 anak yang menderita infeksi JEV yang asimptomatk. Data lain mendapatkan hanya 1 dari 300 orang terkena infeksi JEV berkembang menjadi Enchephalitis dan dari kasus tersbut20-40% meninggal. Jadi, cara penularannya adalah dari nyamuk pada manusia yang rentan. Hewan adalah reservoir penting bagi penyakit zoonosis sedangkan manusia hanya dapat terinfeksi secara insidental dan bukan merupakan vektor yang penting. Reservoir utama penyakit Enchephalitis adalah babi dan vektornya adalah nyamuk culex. Binatang lainnya diantaranya sapi, kuda, kerbau, kambing, tikus, burung, kera, ayam, dan kucing. Virus in jarang menyebabkan penyakit pada binatang kecuali jika langsung disuntikkan pada susunan saraf pusat, bahkan cara ini dapat menimbulkan kematian pada vertebrata seperti kera, kuda, babi, dan tikus. Arthopoda yang bertindak sebagai vektor adalah nyamuk culex, anopheles, dan aedes. Vektor yang sangat efisien menularkan penyakit adalah Culex tritaeniorhynchus, Culex gelidus, dan Culex fuschopheles. Vektor yang efisien adalah Culex pipiens pallens. Virus ini dapat berkenbangbiak dalam jaringan Arthropoda tanpa menimbulkan penyakit dan menderita seumur hidup setelah menghisap darah vertebrata yang menderita viremia.

Siklus hidup Japanese Encephalitis virus

EPIDEMIOLOGI
Japanese Enchephalitis pertama kali diketahui di Jepang secara klinis pada tahun 1871, kemudian tahun 1924 terjadi epidemik yang hebat sehingga angka kematian mencapai 65% dari 6125 kasus. Epidemic yang hebat terjadi pada tahun 1935 dan 1948. Setelah itu, dari tahun 1968 tidak lagi pernah timbul epidemik meskipun kasus sporadik masih tetap ada sepanjang tahun. Dari Jepang penyakit ini menyebar ke Korea yang ditemukan pada tahun 1926. Pada tahun 1949 terjadi epidemik tercatat 5616 kasus dengan angka kematian 48,56%. Dari tahun 1949 sampai tahun 1958 terjadi epidemik yang lebih hebat dari sebelumnya, tercatat 6897 kasus dengan angka kematian 31,56%. Setelah 10 tahun menurun dan berfluktuasi namun tahun 1982 kembali menunjukkan peningkatan kasus yang tajam. Insiden JE sangat meningkat pada tahun 1966 dengan dilaporkan kasus sebanyak 40000 orang. Negara-negara yang pernah terjadi epidemiologi JE adalah Jepang, Korea, Cina, India, Thailand, Taiwan, Indonesia, Srilanka, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Distribusi geografis Japanese Encephalitis

ETIOLOGI
Dahulu flaviviridae digolongkan sebagai genus dalam family Togaviridae, yaitu Flavivirus. Ternyata kemudian sejak tahun 1984 dapat diidentifikasi bahwa beberapa sifat flavivirus berbeda dengan Togavirus dalam hal ukuran, morfogenesis, dan struktur genom. Oleh karena itu, flavivirus dikelompokkan sendiri sebagai famili sendiri, yaitu flaviviridae. JE disebabkan oleh JEV, termasuk dalam Arbovirus grup B, genus Flavivirus, famili flaviviridae yang mempunyai sifat sferis, diameternya 40-60 nm, inti virion terdiri atas asam ribonukleat (RNA) rantai tunggal yang bergabung dengan protein menjadi nukleoprotein. Terdapat kapsid sebagai pelindung inti virion. Kapsid terdiri dari polipetida yang tersusun simetri isokahedral, yaitu bentuk tata ruang yang dibatasi oleh 20 segi sama sisi, mempunyai aksis rotasi berganda. Di luar kapsid terdapat selubung. Virus relatif stabil terhadap demam, entan terhadap pengaruh desinfekan, deterjen, pelarut lemak dan enzim proteolitik. Infektivitasnya paling stabil pada pH 7-9, namun dapat diinaktifkan oleh radiasi gelombang elektromagnetik, eter, dan natrium deoksikolat. JEV berkembang biak dalam sel hidup yaitu nukleus dan sitoplasma. Setelah adanya infeksi alamiah pada babi dan kuda, biasanya menimbulkan viremia tetapi tidak menimbulkan gejala klinis, kemudian diikuti oleh pembentukan neutralizing dan complement fixing antibodi, tetapi hanya sedikit kuda yang mati karena Enchephalitis.
JE termasuk penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kelompok arbovirus yang bersifat arthropod borne dan berasal dari genus Flavoviridae. Di Indonesia, JEV diisolasi tahun 1997 dari nyamuk Culex dan nyamuk Anopheles. Pada tahun 1972, JEV pernah diisolasi dari babi di Kapuk. Di Asia, kasus JE banyak ditemukan di India, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Di rumah sakit Sanglah, Bali, dalam kurun waktu 1990-1992, ditemukan 57,7% dari semua spesimen darah dan CSS penderita encephalitis adalah golongan JE.

PATOGENESIS
Segera setelah Culex menggigit mangsa yang rentan virus menuju sistem getah bening sekitar tempat gigitan nyamuk (kelenjar regional) dan berkembang biak kemudian masuk ke peredaran darah menimbulkan viremia pertama. Viremia ini sangat ringan dan sebentar. Lewat aliran darah virus menyebar ke berbagai organ tubuh seperti susunan saraf pusat dan organ ekstraneural, di dalam organ ekstraneural inilah virus berkembang biak, tetapi organ-organ yang pasti belum diketahui. Virus lalu dilepaskan dan masuk ke peredaran darah menyebabkan viremia ke dua yang bersamaan dengan infeksi di jaringan dan menimbulkan gejala penyakit sistemik.
Cara yang pasti tentang kemampuan virus menembus daerah sawar darah otak tidak diketahui, namun diduga setelah terjadinya viremia, virus mampu berkembang biak pada sel endotel sehingga dapat menembus sawar darah otak. Setelah mencapai jaringan susunan saraf pusat, virus berkembang biak dalam sel dengan cepat. Sebagai akibat infeksi oleh virus maka permeabilitas sel neuron, glia, dan endotel meningkat yang menyebabkan cairan di luar sel mudah masuk ke dalam sel sehingga timbullah edema sitotoksik. Adanya edema dan kerusakan susunan saraf pusat ini memberikan manifestasi berupa Enchephalitis.
Di sisi lain JEV sebagai virus yang tergolong sebagai virus neurotropik mungkin dapat menimbulkan kerusakan jaringan saraf dengan jalan seperti apa yang terjadi pada virus neurotropik lainnya, yaitu setelah masuknya virus ke tubuh manusia, yaitu terutama setelah viremia ke dua, tubuh manusia mulai membentuk antibodi antivirus. Antibodi ini bereaksi dengan antigen membentuk kompleks antigen antibodi yang beredar dalam darah dan masuk ke susunan saraf pusat. Di susunan saraf pusat menimbulkan proses inflamasi dengan akibat timbulnya edema dan selanjutnya terjadi anoksia, yang pada akhirnya terjadi kematian sel susunan saraf pusat yang lebih luas.

Spektrum patogenesis JEV berupa:
• Enchephalitis fatal yang biasanya didahului oleh viremia dan berkembang biak pada ekstraneural yang hebat
• Enchephalitis subklinis yang biasanya didahului viremia ringan, infeksi otak yang lambat dan kerusakan otak yang ringan
• Infeksi asimptomatik yang ditandai oleh tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural serta tidak adanya neuroinvasi
• Infeksi persisten

MANIFESTASI KLINIK
Gejala klinis JE bervariasi bergantung dari berat ringannya kelainan susunan saraf pusat, umur, dan lain-lain. Spekrum penyakit dapat berupa hanya demam, nyeri kepala, meningitis aseptic, dan meningoensefaliis. Masa inkubasi 4-14 hari.
 Stadium prodromal
Terjadinya penyakit ini agak cepat. Stadium prodromal berlangsung 2-4 hari dimulai dari keluhan sampai timbulnya gejala terserangnya susunan saraf pusat. Gejala yang sangan dominan adalah demam, nyeri kepala, dan menggigil. Gejala lain berupa malaise, anoreksia, keluhan dari traktus respiratorius seperti batuk, piek, dan keluhan dari gastrointestinal seperti mual, muntah, dan nyeri di bagan epigastrium. Nyeri kepala dirasakan di dahi atau di seluruh kepala, biasanya nyeri yang hebat da tidak bias dihilangkan dengan pemberian analgesik. Demam selalu ada dan tidak bisa diturunkan dengan pemberian obat antipiretik
 Stadium akut
Gejala tekanan intrakranial meninggi berupa nyeri kepala, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran dariapatis sampai koma. Infeksi meninges berupa kuduk kaku, biasanya 1-3 hari setelah sakit. Demam tetap tinggi, kontinu dan lamanya demam dari permulaan mulai penyakit berlangsung 7-8 hari. Otot kaku dan ada juga kelemahan otot. Kelemahan otot yang menyeluruh timbul pada minggu ke-2 dan minggu ke-3. Kelemahan otot yang luas dan hebat memerlukan istirahat yang lama sampai kebanyakan gejala yang lain reda. Muka seperti topeng, tanpa ekspresi muka, ataksia, tremor kasar, gerakan-gerakan tidak sadar, kelainan saraf sentral, paresis, reflex deep tendon meningkat atau menurun, dan refleks patologis babinsky positif. Berat badan menurun disertai dehidrasi. Pada kasus ringan permulaan penyakit perlahan-lahan, demam tidak tinggi, nyeri kepala ringan. Demam akan hilang pada hari ke-6 atau hari ke-7 dan kelainan neurologik sembuh pada akhir minggu ke dua setelah mulainya penyakit. Pada kasus yang berat gejala penyakit sangat akut, kejang menyerupai epilepsi, hiperpireksia, kelainan neurologik yang progresif, penyulit kardiorespirasi dan koma diakhiri kematian pada hari ke-7 dan ke-10, atau pasien hidup dan membaik dalam jangk waktu yang lama, kadang-kadang terkena penyulit infeksi bakteri dan meninggalkan gejala sisa yang permanen.
 Stadium Konvalessens
Stadium ini dimulai pada saat menghilangnya inflamasi yaitu pada suhu mulai kembali normal. Gejala neurologik bisa menetap dan cenderung membaik. Apabila penyakit JE berat dan berlangsung lama maka penyembuhan berlangsung lambat, tidak jarang sisa gangguan neurologik berlangsung lama. Pasien menjadi kurus dan kurang gizi. Gejala sisa yang sering dijumpai adalah gangguan mental berupa emosi yang tidak stabil, paralisis upper, dan lower motor neuon afasia dan psikosis organik jarang dijumpai

DIAGNOSIS
Seperti pada diagnosis penyakit lain, diagnosis penyakit Japanese Encephalitis (JE) ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
1. Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi oleh JE virus (JEV) :
- Penderita (khususnya anak-anak) tinggal di daerah yang memungkinkan siklus JEV berlangsung dengan baik, seperti daerah dengan kepadatan nyamuk Culex yang tinggi, peternakan babi, kerbau, dan sapi
- Penderita tinggal di daerah endemis JE
- Pada penderita muncul gejala-gejala sebagai berikut : demam tinggi, nyeri kepala hebat, disertai kejang

2. Gejala klinis yang mendukung diagnosis JE :
- Keluhan dini berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, kesadaran menurun, dan gerakan abnormal (tremor hingga kejang).
- Gejala yang timbul 3-5 hari kemudian berupa kekakuan otot, koma, pernapasan yang abnormal, dehidrasi, dan penurunan berat badan.
- Gejala lain yang menyertai : refleks tendon meningkat, paresis, suara pelan dan parau.

3. Berdasarkan kriteria WHO (1979) yang dikutip dari Lubis, seleksi kasus JE meliputi :
- Demam lebih dari 380C
- Gejala rangsang korteks
- Gejala kesadaran
- Gangguan saraf otak
- Gejala piramidal dan ekstra piramidal
- Cairan otak jernih, protein positif, glukosa < 100 mg/dl

4. Pemeriksaan Laboratorium
Spesimen yang diperiksa terutama adalah darah, cairan serebrospinal (CSS), dan jaringan otak. Dari hasil pemeriksaan darah akan didapat hasil berupa laju endap darah meningkat dan leukositosis ringan, rata-rata 13.000/ml, polimorfnuklear lebih banyak dari mononuklear. Pada pemeriksaan cairan serebrospinal, CSS tampak lebih jernih sampai opalesens, tergantung dari jumlah leukosit, pleositosis bervariasi antara 20-5.000/ml. Pada beberapa hari pertama tampak neutrofil dan limfosit, tetapi setelah itu, limfosit akan lebih dominan, kadar glukosa normal atau meningkat, sedangkan kadar protein 50-100 mg/dl.

5. Isolasi Virus
Isolasi JEV jarang didapat dari darah dan cairan serebrospinal, tetapi lebih sering diambil dari jaringan otak. Dari darah, JEV dapat diisolasi selama stadium akut, sedangkan dari CSS virus dapat diisolasi pada permulaan encephalitis. Pada kasus penderita JE yang meninggal pada minggu pertama setelah terinfeksi JEV, saat otopsi didapatkan jaringan otak yang masih segar karena JEV belum menyebar sampai ke jaringan otak melainkan masih beredar dalam darah. Spesimen jaringan otak diinokulasikan intraserebral pada mencit yang baru lahir dan kemudian harus diidentifikasikan dengan uji serologis dengan anti serum yang telah diketahui. Isolasi JEV untuk kepentingan diagnosis kurang praktis dan biasanya dikerjakan untuk kepentingan penelitian.

6. Pemeriksaan Serologis
- Immune Adherence Hemaglutination (IAHA)
Spesimen serum akut dan konvalesens dapat dikerjakan untuk uji IAHA. Uji IAHA dikatakan positif jika terdapat peningkatan titer antibodi 4 kali atau lebih.
- Uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI) merupakan uji spesimen serum akut dan konvalesens. Uji HI dikatakan positif jika titer antibodi serum akut 1/20 atau lebih sedangkan pada spesimen konvalesens meningkat 4 kali atau lebih.

Teknik konvensional lainnya seperti immunofluorecent antibody (IFA) dan complement fixation (CF) juga memakai kriteria penilaian seperti di atas. Uji-uji serologis tersebut dapat digunakan untuk membuat diagnosis penyakit JE di daerah endemik, tetapi prosedur pelaksanaan metode-metode tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena infeksi dengue atau Flavivirus lainnya dapat menimbulkan respon serologis reaksi silang terhadap antigen JEV.
Untuk menegakkan diagnosis JE di daerah endemis infeksi dengue, Innis melakukan uji serologis terhadap serum dan CSS dengan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Spesimen serum dan CSS baik yang akut maupun kronik diperiksa kadar IgM anti dengue, IgG anti dengue, IgM anti JE, dan IgG anti JE. Hasil dikatakan positif jika lebih besar dari 40 unit. Hasil dari 4 uji serologis tersebut kemudian dibandingkan. Hasil rata-rata IgM anti dengue dibandingkan dengan IgM anti JE, jika hasilnya lebih besar atau sama dengan satu, berarti positif terserang infeksi dengue, sedangkan jika hasilnya lebih kecil atau sama dengan satu, berarti positif terhadap infeksi JE.
Cairan Serebrospinal yang terinfeksi JEV

7. Diagnosis Banding
Manifestasi klinik JE dapat pula ditemukan pada penyakit lain, terutama yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat, yaitu malaria serebral, meningitis bakteri, meningitis aseptic, kejang, demam, encephalitis oleh Flavivirus lain, rabies, sindrom Reye, dan ensefalopati toksik.

PENGOBATAN
1. Pengobatan Simtompmatik
a. Menghentikan kejang
Pada saat terjadi kejang, secepatnya diatasi dengan pemberian diazepam intravena, dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan dosis maksimal :
- Anak yang berumur kurang dari 5 tahun diberikan 5 mg
- Anak 5-10 tahun diberikan 7,5 mg
- Anak berusia lebih dari 10 tahun diberikan 10 mg
Kecepatan pemberian :1 mg/menit. Bila kejang tetap berlanjut, dosis di atas dapat diulangi sekali lagi setelah 15 menit. Bila tidak tersedia diazepam intravena atau kesulitan untuk menginjeksikan diazepam secara intravena, dapat diberikan diazepam per rektal berupa rektiol dalam kemasan 5 mg dan 10 mg dengan ketentuan dosis sama seperti diazepam intravena.

Bila kejang sudah berhenti, pengobatan dilanjutkan dengan pemberian fenobarbital per oral 5 mg/kgBB/kali dibagi dalam 2 dosis. Bila sebelumnya pasien menunjukkan kejang lama atau status konvulsi, setelah berhasil menghentikan kejang, secepatnya diberikan bolus fenobarbital intramuskular. Sebagai dosis awal : 50 mg untuk anak berumur 1 bulan- 1 tahun dan 75 mg untuk anak yang berumur lebih dari 1 tahun, disusul dengan pemberian fenobarbital oral 4 jam kemudian. Sebagai dosis rumatan 8 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari, selanjutnya diberikan 4-5 mg/kgBB/hari.

b. Menurunkan demam
Di samping menghentikan kejang, demam harus segera diturunkan karena adanya demam dapat mempersulit penghentian kejang. Untuk menurunkan demam dapat dilakukan :
- Pemberian obat antipiretik, seperti parasetamol dan aspirin
- Suportif, yaitu dengan istirahat dan kompres. Aktivitas otot akan meningkatkan metabolisme. Metabolisme yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Dengan demikian, tinggi rendahnya suhu tubuh sangat dipengaruhi oleh aktivitas otot. Istirahat akan mengurangi aktivitas otot dan metabolisme tubuh sehingga suhu tubuh pun akan berkurang. Kompres hangat bertujuan untuk membantu pengeluaran panas terutama melalui paru dan kulit. Pengeluaran panas melalui kulit dapat dilakukan melalui cara konduksi, konveksi, dan penguapan air melalui kelenjar keringat. Kompres dengan alkohol kurang dianjurkan karena anak-anak dapat menghisap uap alkohol sehingga dikhawatirkan dapat memicu depresi susunan saraf pusat. Berikut contoh sediaan antipiretik:

2. Mencegah dan mengobati tekanan intrakranial yang meningkat
a. Mengurangi edema otak
Pemberian deksametason intravena dengan dosis tinggi 1 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis diberikan beberapa hari dan diturunkan secara perlahan bila tekanan intrakranial mulai menurun. Di samping itu, deksametason dapat memperbaiki integritas membran sel. Obat lain yang dapat menurunkan tekanan intrakranial adalah manitol hipertonik 20 % dengan dosis 0,25-1 g/kgBB melalui infus intravena selama 10-30 menit, dapat diulangi tiap 4-6 jam. Obat ini dapat menyebabkan darah menjadi lebih hipertonik dibandingkan cairan ekstravaskular (yang menyebabkan edema) sehingga cairan ekstravaskular tersebut tertarik ke dalam pembuluh darah otak. Untuk meningkatkan aliran darah pada pembuluh darah balik, anak ditidurkan setengah duduk dalam posisi netral dengan kepala lebih tinggi 20-300 sehingga terjadi penurunan tekanan intrakranial.

b. Mempertahankan fungsi metabolisme otak
Mempertahankan fungsi metabolisme otak dengan cara pemberian cairan yang mengandung glukosa 10% sehingga kadar gula darah menjadi normal (100-150 mg/dl). Hindari peningkatan metabolisme otak sehingga tidak terjadi hipertermia dan kejang.

3. Pengobatan penunjang
a. Perawatan jalan napas
Perawatan jalan napas terutama pada saat serangan kejang, anak diletakkan pada posisi miring ke arah kanan dengan posisi kepala lebih rendah 200 dari badan untuk menghindari terjadinya aspirasi lendir atau muntah. Bebaskan jalan napas, pakaian dilonggarkan (bila perlu dilepaskan). Hisap lendir atau bersihkan mulut dari lendir. Hindari gigitan lidah dengan cara menaruh spatel lidah atau sapu tangan di antara gigi. Perawatan pernapasan dapat dilakukan dengan memperhatikan pernapasan supaya tetap teratur. Bila terdapat kegagalan pernapasan, minimal kita dapat melakukan pernapasan buatan dan jika memungkinkan dapat dilakukan intubasi endotrakeal dan pernapasan dibantu dengan ventilator mekanik. Selama melakukan perawatan jalan napas, pemberian oksigen mutlak dibutuhkan.

b. Perawatan sistem kardiovaskular
Perawatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya kegagalan kardiovaskular. Secara rutin dan seksama diperiksa frekuensi nadi, pengisian nadi, tekanan darah, dan keadaan kulit terutama pada ekstremitas atas dan bawah (tangan dan kaki). Bila terdapat tanda-tanda syok perlu segera diatasi.

c. Pemberian cairan intravena
Hal ini bertujuan untuk mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Pemberian jumlah cairan harus ketat mengingat adanya peningkatan tekanan intrakranial. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya hipokalsemia dan gangguan elektrolit lainnya.

d. Pemberian antibiotik
Antibiotik tetap diberikan untuk menghindari kemungkinan terjadinya meningitis bakterialis. Dalam kondisi kesadaran yang menurun, lebih-lebih dalam keadaan koma, ampisilin tetap diberikan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri. Hingga saat ini anti virus JE belum ditemukan.

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
Pencegahan dan pemberantasan Japanese Encephalitis ditujukan terhadap manusia, vektor nyamuk Culex beserta larvanya, dan reservoir (baik babi, unggas, maupun beberapa mamalia lainnya).
1. Pemberian imunisasi
Terdapat 2 jenis vaksin JE :
a. Vaksin yang terdiri dari virus yang telah dilemahkan. Vaksin ini dibuat antara lain dari biakan sel ginjal hamster. Berdasarkan hasil uji coba klinis pada manusia, vaksin tersebut terbukti cukup efektif dan aman. Pemberian vaksin pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pertama kali diberikan 2 dosis vaksin yang diinaktifkan.
- Setahun kemudian barulah diberikan vaksin (virus hidup yang dilemahkan).
- Dua tahun kemudian (dihitung dari waktu pertama kali memberikan imunisasi) diberikan vaksinasi ulangan.
- Selanjutnya, setiap 3 tahun diberikan vaksin hidup yang dilemahkan.
Vaksin JE telah secara rutin diberikan di Jepang dan China.

Vaksin Japanese Encephalitis

b. Vaksin yang terdiri dari virus mati (inactivated mouse brain vaccine). Suspensi vaksin dibuat dari jaringan otak tikus yang diinokulasikan dengan JEV galur Nikamaya. Vaksin ini telah dipergunakan di Jepang, Thailand, Taiwan, dan India. Imunisasi dasar, dosis, dan cara pemberiannya dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pada anak yang berumur kurang dari 3 tahun:
Imunisasi pertama diberikan 0,5 ml per subkutan. Imunisasi kedua diberikan dosis dan cara yang sama dengan imunisasi pertama dengan interval 1-2 minggu dari imunisasi pertama. Imunisasi ketiga, dosis dan cara pemberiannya sama dengan imunisasi pertama dengan interval 1 tahun dari imunisasi pertama.
- Pada anak yang berumur lebih dari 3 tahun :
Cara dan interval pemberian vaksin sama dengan pada anak yang berumur kurang dari 3 tahun, hanya dosisnya yang berbeda, yaitu :
• 1 ml untuk masing-masing imunisasi
• Imunisasi ulangan diberikan dengan dosis 1 ml per subkutan
• Imunisasi booster diberikan tiap 3-4 tahun.

2. Menghindarkan manusia dari gigitan nyamuk Culex
Nyamuk Culex menggigit manusia mulai menjelang malam hari sampai keesokan paginya. Oleh karena itu, dianjurkan untuk tidur menggunakan kelambu, repellent baik dalam bentuk cairan ataupun krim yang dioleskan pada bagian tubuh manusia yang terbuka, atau memakai obat pembasmi nyamuk.

3. Membasmi vektor nyamuk Culex beserta larvanya
a. Nyamuk Culex
- Membasmi nyamuk dengan cara konvensional, yaitu melakukan penyemprotan dengan insektisida. Insektisida yang mempunyai efek residu, seperti DDT, malation, dan fenitrotion perlu dipertimbangkan cara, dosis, dan interval penyemprotannya supaya tidak mencemari lingkungan.
- Penyemprotan ruangan (space spraying) meliputi pelaksanaan fogging dan ULV (Ultra Low Volume). Insektisida yang digunakan pada umumnya merupakan golongan organofosfat dan dipilih yang benar-benar suseptible terhadap populasi nyamuk Culex menurut penelitian. Pelaksanaan fogging dan ULV dilakukan pada saat aktivitas vektor nyamuk memuncak, yaitu pada malam hari.
b. Larva
Irigasi pertanian untuk penanaman padi atau tanaman lainnya dapat meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Culex sehingga kepadatan populasi nyamuk akan bertambah. Oleh karena itu, diperlukan suatu mekanisme pengaturan pengaliran/irigasi air sehingga larva yang terbentuk akan mati. Penggunaan larvasida, seperti fenitrotion 1% dengan dosis 30 kg/ha dan fention 0,01-0,04 kg/ha terbukti efektif membunuh larva nyamuk Culex.

4. Pemutusan siklus hidup JEV
Babi merupakan reservoir yang baik dalam siklus hidup JEV sehingga babi memegang peranan yang penting dalam epidemiologi JE. Untuk memutuskan daur hidup JEV, peternakan babi sebaiknya dibangun jauh dari pemukiman penduduk. Di beberapa negara, seperti Jepang dan Cina, babi divaksinasi. Langkah tersebut terbukti sangat efetif dalam menekan kasus JE, hanya saja dari segi logistik dan ekonomi, program imunisasi hewan ternak dalam skala besar tersebut sangat tidak praktis.

Hipersensitivitas November 1, 2008

Posted by filzahazny in imunologi virologi.
1 comment so far

I.1 Pendahuluan

Reaksi Hipersensitivitas yaitu reaksi imun patologik, terjadi akibat respons imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi tersebut oleh Coombs dan Gell dibagi menjadi 4, yaitu :

  1. Reaksi Tipe I
  2. Reaksi Tipe II
  3. Reaksi Tipe III
  4. Reaksi Tipe IV

Ada juga reaksi tipe V yang berhubungan dengan tirotoksikosis. Akan tetapi tipe V tidak dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

Manisfestasi dan meklanisme reaksi hipersensitivitas

Tipe

Manisfestasi

Mekanisme

I

Reaksi hipersensitivitas cepat

Biasanya Ig E

II

Antibodi terhadap sel

Ig G dan Ig M

III

Kompleks antibodi-antigen

Ig G (terbanyak) atau Ig M

IV

Reaksi hipersensitivitas lambat

Sel T yang disensitisasi


BAB II

ISI

II.1 Reaksi Hipersensitivitas Tipe I

Reaksi hipersensitivitas tipe I atau anafilaksis atau alergi yang timbul segera sesudah badan terpajan dengan alergen. Semula diduga bahwa tipe I ini berfungsi untuk melindungi badan terhadap parasit tertentu terutama cacing. Istilah alergi pertama kali diperkenalkan oleh Von Pirquet pada tahun 1906, yang diartikan sebagai reaksi pejamu yang berubah. Pada reaksi ini allergen yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respon imun dengan dibentuknya Ig E.

Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut :

1. Fase Sensitasi

Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil.

2. Fase Aktivasi

Waktu selama terjadi pajanan ulang dengan antigen yang spesifik, mastosit melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.

3. Fase Efektor

Waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan- bahan yang dilepas mastosit dengan aktivasi farmakologik.

IgE yang sudah dibentuk, biasanya dalam jumlah sedikit, segera diikat oleh mastosit/basofil. IgE yang sudah ada permukaan mastosit akan menetap untuk beberapa minggu. Sensitasi dapat juga terjadi secara pasif apabila serum (darah) orang yang alergik dimasukkan ke dalam kulit atau sirkulasi orang normal.

Reaksi yang tejadi dapat berupa wheal and flare yaitu eritem (kemerahan oleh karena dilatasi vaskular) dan edem (pembengkakan yang disebabkan oleh masuknya serum ke dalam jaringan). Puncak reaksi terjadi selama 10-15 menit. Dalam fase aktivasi terjaadi perubahan dalam membrane sel seabagai akibat metilasi fosfolipid yang diikuti oleh influks Ca2+. Dalam fase ini energi dilepaskan akibat glikolisis dan beberapa enzim diaktifkan dan menggerakkan granul-granul ke permukaan sel. Kadar cAMP dan cGMP dalam sel berpengaruh terhadap degranulasi. Peningkatan cAMP akan mengahambat sedang peningkatan cGMP membantu degranulasi. Pelepasan granul itu adalah fisiologik dan tidak menimbulkan lisis atau matinya sel. Sesudah degranulasi, sel memulai fungsinya lagi.

Penyakit-penyakit yang ditimbulkan segera sesudah tubuh terpajan dengan allergen biasanya adalah asma bronchial, rintis, urtikaria (kaligata), dan dermatitis atopi.

Reaksi antara IgE pada permukaan sel mastosit dan antigen menimbulkan influks Ca2+ yang menimbulkan degranulasi sel dan aktivasi fosfolipase A2. Degranulasi sel mastosit dapat pula terjadi atas pengaruh anakfilaktosin, C3a dan C5a. Disamping histamine, mediator lain seperti prostaglandin (PG) dan leukotrin (SRA-A) yang dihasilkan dari metabolisme asam arakidonat atas pengaruh fosfolipase A2. Oleh karena itu mediator-mediator itu disebut newly generated.

II.2 Reaksi Hipersensitivitas Tipe II

Reaksi hipersensitivitas tipe II atau Sitotoksis terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi ini dimulai dengan antibodi yang bereaksi baik dengan komponen antigenik sel, elemen jaringan atau antigen atau hapten yang sudah ada atau tergabung dengan elemen jaringan tersebut. Kemudian kerusakan diakibatkan adanya aktivasi komplemen atau sel mononuklear. Mungkin terjadi sekresi atau stimulasi dari suatu alat misalnya thyroid. Contoh reaksi tipe II ini adalah distruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi, penyakit anemia hemolitik, reaksi obat dan kerusakan jaringan pada penyakit autoimun. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :

1. Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence atau immune adherence

2. Reaksi sitotoksis ekstraseluler oleh sel K (Killer cell) yang mempunyai reseptor untuk Fc

3. Lisis sel karena bekerjanya seluruh sistem komplemen

II.2.1 Reaksi Transfusi

Menurut system ABO, sel darah manusia dibagi menjadi 4 golongan yaitu A, B, AB dan O. Selanjutnya diketahui bahwa golongan A mengandung antibodi (anti B berupa Ig M) yang mengaglutinasikan eritrosit golongan B, darah golongan B mengandung antibodi (anti A berupa Ig M) yang mengaglutinasikan eritrosit golongan A, golongan darh AB tidak mengandung antibodi terhadap antigen tersebut dan golongan darh O mengandung antibodi (Ig M dan Ig G) yang dapat mengaglutinasikan eritrosit golongan A dan B. Antibodi tersebut disebut isohemaglutinin.

Aglutinin tersebut timbul secara alamiah tanpa sensitasi atau imunisasi. Bentuk yang paling sederhana dari reaksi sitotoksik terlihat pada ketidakcocokan transfusi darah golongan ABO. Ada 3 jenis reaksi transfusi yaitu reaksi hemolitik yang paling berat, reaksi panas, dan reaksi alergi seperti urtikaria, syok, dan asma. Kerusakan ginjal dapat pula terjadi akibat membrane sel yang menimbun dan efek toksik dan kompleks haem yang lepas.

II.2.2 Reaksi Antigen Rhesus

Ada sejenis reaksi transfusi yaitu reaksi inkompabilitas Rh yang terlihat pada bayi baru lahir dari orang tuanya denga Rh yang inkompatibel (ayah Rh+ dan ibu Rh-). Jika anak yang dikandung oleh ibu Rh- menpunyai darah Rh+ maka anak akan melepas sebagian eritrositnya ke dalam sirkulasi ibu waktu partus. Hanya ibu yang sudah disensitasi yang akan membentuk anti Rh (IgG) dan hal ini akan membahayakan anak yang dikandung kemudian. Hal ini karena IgG dapat melewati plasenta. IgG yang diikat antigen Rh pada permukaan eritrosit fetus biasanya belum menimbulkan aglutinasi atau lisis. Tetapi sel yang ditutupi Ig tersebut mudah dirusak akibat interaksi dengan reseptor Fc pada fagosit. Akhirnya terjadi kerusakan sel darah merah fetus dan bayi lahir kuning, Transfusi untuk mengganti darah sering diperlukan dalam usaha menyelamatkan bayi.

II.2.3 Anemia Hemolitik autoimun

Akibat suatu infeksi dan sebab yang belum diketahui, beberapa orang membentuk Ig terhadap sel darah merah sendiri. Melalui fagositosis via reseptor untuk Fc dan C3b, terjadi anemia yang progresif. Antibodi yang dibentuk berupa aglutinin panas atau dingin, tergantung dari suhu yang dibutuhkan untuk aglutinasi.

II.2.4 Reaksi Obat

Obat dapat bertindak sebagai hapten dan diikat pada permukaan eritrosit yang menimbulkan pembentukan Ig dan kerusakan sitotoksik. Sedormid dapat mengikat trombosit dan Ig yang dibentuk terhadapnya akan menghancurkan trombosit dan menimbulkan purpura. Chloramfenicol dapat mengikat sel darah putih, phenacetin dan chloropromazin mengikat sel darah merah.

II.2.5 Sindrom Goodpasture

Pada sindrom ini dalam serum ditemukan antibodi yang bereaksi dengan membran basal glomerulus dan paru. Antibodi tersebut mengendap di ginjal dan paru yang menunjukkan endapan linier yang terlihat pada imunoflouresen.

Ciri sindrom ini glomerulonefritis proliferatif yang difus dan peredaran paru. Perjalanannya sering fatal. Dalam penanggulangannya telah dicoba dengan pemberian steroid, imunosupresan, plasmaferisis, nefektomi yang disusul dengan transplantasi. Jadi, sindrom ini merupakan penyakit auroimun yang membentuk antibodi terhadap membrane basal. Sindrom ini sering ditemukan setelah mengalami infeksi streptococ.

II.2.6 Myasthenia gravis

Penyakit dengan kelemahan otot yang disebabkan gangguan transmisi neuromuskuler, sebagian disebabkan oleh autoantibodi terhadap reseptor astilkoli.

II.2.7 Pempigus

Penyakit autoimun yang disertai antibodi tehadap desmosom diantara keratinosit yang menimbulkan pelepasan epidermis dan gelembung-gelembung.

II.3 Reaksi Hipersensitivitas Tipe III

Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun adalah reaksi yang terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau sirkulasi/ dinding pembuluh darah dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang bisa digunakan sejenis IgM atau IgG sedangkan komplemen yang diaktifkan kemudian melepas faktor kemotatik makrofag. Faktor kemotatik yang ini akan menyebabkan pemasukan leukosit-leukosit PMN yang mulai memfagositosis kompleks-kompleks imun. Reaksi ini juga mengakibatkan pelepasan zat-zat ekstraselular yang berasal dari granula-granula polimorf, yakni berupa enzim proteolitik, dan enzim-enzim pembentukan kinin.

Antigen pada reaksi tipe III ini dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten (malaria), bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis alergik ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). Infeksi dapat disertai dengan antigen dalam jumlah berlebihan, tetapi tanpa adanya respons antibodi yang efektif.

Penyebab reaksi hipersensitivitas tipe III yang sering terjadi, terdiri dari :

1. Infeksi persisten

Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat kompleks mengendap adalah organ yang diinfektif dan ginjal.

2. Autoimunitas

Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat kompleks mengendap adalah ginjal, sendi, dan pembuluh darah.

3. Ekstrinsik

Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen lingkungan. Dimana tempat kompleks yang mengendap adalah paru.

Reaksi hipersensitivitas tipe III sebagai bentuk penggabungan bentuk antigen dan antibodi dalam tubuh akan mengakibatkan reaksi peradangan akut. Jika komplemen diikat, anafilaktoksin akan dilepaskan sebagai hasil pemecahan C3 dan C5 dan ini akan menyebabkan pelepasan histamin serta perubahan permeabilitas pembuluh darah. Faktor-faktor kemotaktik juga dihasilkan, ini akan menyebabkan pemasukan leukosit-leukosit PMN yang mulai menfagositosis kompleks-kompleks imun. Deretan reaksi diatas juga mengakibatkan pelepasan zat-zat ekstraselular yang berasal dari granula-granula polimorf yakni berupa enzim-enzim proteolitik (termasuk kolagenase dan protein-protein netral), enzim-enzim pembentukan kinin protein-protein polikationik yang meningkatkan permeabilitas pembuluh darah melalui mekanisme mastolitik atau histamin bebas. Hal ini akan merusak jaringan setempat dan memperkuat reaksi peradangan yang ditimbulkan.

Kerusakan lebih lanjut dapat disebabkan oleh reaksi lisis dimana C567 yang telah diaktifkan menyerang sel-sel disekitarnya dan mengikat C89. Dalam keadaan tertentu, trombosit akan menggumpal dengan dua konsekuensi, yaitu menjadi sumber yang menyediakan zat-zat amina vasoaktif dan juga membentuk mikrotrombi yang dapat mengakibatkan iskemia setempat.

Kompleks antigen- antibodi dapat mengaktifkan beberapa sistem imun sebagai berikut :

1. Aktivasi komplemen

a. Melepaskan anafilaktoksin (C3a,C5a) yang merangsang mastosit untuk melepas histamine

b. Melepas faktor kemotaktik (C3a,C5a,C5-6-7) mengerahkan polimorf yang melepas enzim proteolitik dan enzim polikationik

2. Menimbulkan agregasi trombosit

a. Menimbulkan mikrotrombi

b. Melepas amin vasoaktif

3. Mengaktifkan makrofag

Melepas IL-1 dan produk lainnya

Pada reaksi hipersensitivitas tipe III terdaapt dua bentuk reaksi, yaitu :

1. Reaksi Arthus

Maurice Arthus menemukan bahwa penyuntikan larutan antigen secara intradermal pada kelinci yang telah dibuat hiperimun dengan antibodi konsentrasi tinggi akan menghasilkan reaksi eritema dan edema, yang mencapai puncak setelah 3-8 jam dan kemudian menghilang. Lesi bercirikan adanya peningkatan infiltrasi leukosit-leukosit PMN. Hal ini disebut fenomena Arthus yang merupakan bentuk reaksi kompleks imun. Reaksi Arthus di dinding bronkus atau alveoli diduga dapat menimbulkan reaksi asma lambat yang terjadi 7-8 jam setelah inhalasi antigen.

Reaksi Arthus ini biasanya memerlukan antibodi dan antigen dalam jumlah besar. Antigen yang disuntikkan akan memebentuk kompleks yang tidak larut dalam sirkulasi atau mengendap pada dinding pembuluh darah. Bila agregat besar, komplemen mulai diaktifkan. C3a dan C5a yang terbentuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah menjadi edema. Komponen lain yang bereperan adalah fakor kemotaktik. Neutrofil dan trombosit mulai menimbun di tempat reaksi dan menimbulkan stasisi dan obstruksi total aliran darah. Neutrofil yang diaktifkan memakan kompleks imun dan bersama dengan trombosit yang digumpalkan melepas berbagai bahan seperti protease, kolagenase, dan bahan vasoaktif.

2. Reaksi serum sickness

Istilah ini berasal dari pirquet dan Schick yang menemukannya sebagai konsekuensi imunisasi pasif pada pengobatan infeksi seperti difteri dan tetanus dengan antiserum asal kuda. Penyuntikan serum asing dalam jumlah besar digunakan untuk bermacam-macam tujuan pengobatan. Hal ini biasanya akan menimbulkan keadaan yang dikenal sebagai penyakit serum kira-kira 8 hari setelah penyuntikan. Pada keadaan ini dapat dijumpai kenaikan suhu, pembengkakan kelenjar-kelenjar limpa, ruam urtika yang tersebar luas, sendi-sendi yang bengkak dan sakit yang dihubungkan dengan konsentrasi komplemen serum rendah, dan mungkin juga ditemui albuminaria sementara.

Pada berbagai infeksi, atas dasar yang belum jelas, dibentuk Ig yang kemudian memberikan reaksi silang dengan beberapa bahan jaringan normal. Hal ini kemudian yang menimbulkan reaksi disertai dengan komplek imun. Contoh dari reaksi ini adalah :

1. Demam reuma

Infeksi streptococ golongan A dapat menimbulkan inflamasi dan kerusakan jantung, sendi, dan ginjal. Berbagai antigen dalam membran streptococ bereaksi silang dengan antigen dari otot jantung, tulang rawan, dan membran glomerulus. Diduga antibodi terhadap streptococ mengikat antigen jaringan normal tersebut dan mengakibatkan inflamasi.

2. Artritis rheumatoid

Kompleks yang dibentuk dari ikatan antara faktor rheumatoid (anti IgG yang berupa IgM) dengan Fc dari IgG akan menimbulkan inflamasi di sendi dan kerusakan yang khas.

3. Infeksi lain

Pada beberapa penyakit infeksi lain seperti malaria dan lepra, antigen mengikat Ig dan membentuk kompleks imun yang ditimbun di beberapa tempat.

4. Farmer’s lung

Pada orang yang rentan, pajanan terhadap jerami yang mengandung banyak spora actinomycete termofilik dapat menimbulkan gangguan pernafasan pneumonitis yang terjadi 6-8 jam setelah pajanan. Pada tubuh orang tersebut, diproduksi banyak IgG yang spesifik terhadap actynomycete termofilik dan membentuk kompleks antigen-antibodi yang mengendap di paru-paru.

II.4 Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV

Reaksi tipe IV disebut juga reaksi hipersensitivitas lambat, cell mediatif immunity (CMI), Delayed Type Hypersensitivity (DTH) atau reaksi tuberculin yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpajan dengan antigen. Reaksi terjadi karena sel T yang sudah disensitasi tersebut, sel T dengan reseptor spesifik pada permukaannya akan dirangsang oleh antigen yang sesuai dan mengeluarkan zat disebut limfokin. Limfosit yang terangsang mengalami transformasi menjadi besar seperti limfoblas yang mampu merusak sel target yang mempunyai reseptor di permukaannya sehingga dapat terjadi kerusakan jaringan.

Antigen yang dapat mencetuskan reaksi tersebut dapat berupa jaringan asing (seperti reaksi allograft), mikroorganisme intra seluler (virus, mikrobakteri, dll). Protein atau bahan kimia yang dapat menembus kulit dan bergabung dengan protein yang berfungsi sebagai carrier. Selain itu, bagian dari sel limfosit T dapat dirangsang oleh antigen yang terdapat di permukaan sel di dalam tubuh yang telah berubah karena adanya infeksi oleh kuman atau virus, sehingga sel limfosit ini menjadi ganas terhadap sel yang mengandung antigen itu (sel target). Kerusakan sel atau jaringan yang disebabkan oleh mekanisme ini ditemukan pada beberapa penyakit infeksi kuman (tuberculosis, lepra), infeksi oleh virus (variola, morbilli, herpes), infeksi jamur (candidiasis, histoplasmosis) dan infeksi oleh protozoa (leishmaniasis, schitosomiasis). Antigen ini mungkin berhubungan atau telah diolah oleh sel makrofag dan bereaksi dengan reseptor di permukaan sel limfosit yang pernah berkontak dengan antigen yang sama dan beredar sebagai sel memori. Setelah berkontak dengan antigen, sel itu berubah menjadi blast cell dan mengalami mitosis sambil mengeluarkan zat-zat sebagai berikut:

a. Macrophage inhibition factor (MIF)

Zat ini dapat mengalami migrasi sel makrofag in vitro serta mengubah morfologi dan sifat sel itu menjadi sangat aktif. Zat ayng menyebabkan perubahan ini adalah Macrophage Activation Factor (MAF), sehingga sel makrofag tersebut menjadi lebih efektif untuk mematikan kuman yang telah difagositosis olehnya. Hal yang serupa terjadi pada sel tumor dimana sel makrofag dirangsang oleh zat yang dinamakan Spesific Macrophage Arming Factor (SMAF).

b. Monocyte chemotactic factor

Sel monosit akan bergerak ke arah dimana terdapat konsentrasi tinggi dari zat itu.

c. Skin reactive factor

Meninggikan permeabilitas pembuluh darah yang menyebabkan eksudasi sel leukosit.

d. Faktor lain

Terdapat pula faktor yang merangsang mitosis pada sel limfosit netral yang bersifat sitotoksik terhadap beberapa sel.

Untuk tipe IV diperlukan masa sensitasi selama 1 – 2 minggu, yaitu untuk meningkatkan jumlah klon sel T yang spesifik untuk antigen tertentu. Antigen tersebut harus dipresentasikan terlebih dahulu oleh APC. Kontak yang berulang akan menimbulkan rentetan reaksi yang menimbulkan kelainan khas dari CMI.

II.4.1 Gambaran Histologi

Hipersensitivitas Tipe IV tidak dapat dipindahkan ke orang lain dengan menyuntikkan serum yang mengandung antibodi. Yang diperlukan untuk pemindahan pasif adalah sel limfosit.

Suntikan intradermal suatu antigen kepada binatang atau orang yang sudah disensitasi tidak menimbulkan reaksi sebelum 18 – 24 jam. Sekitar 18 – 24 jam, mulai terlihat eritem dan indurasi (paling jelas terlihat 24 – 48 jam). Indurasi ini dapat dibedakan dari edem (yang berisikan cairan) dan tidak menunjukkan pitting pada tekanan. Bila reaksi tersebut berat dapat terjadi nekrosis.

Biopsi menunjukkan adanya infiltrasi sel terutama sel mononuklier – makrofag dengan beberapa limfosit. Kemudian terlihat gambaran yang lebih kompleks, sel B mulai nampak dan terbentuk glanuloma (akumulasi makrofag). Indurasi yang keras disebabkan oleh penimbunan fibrin.

II.4.2 Mekanisme CMI

Mula-mula antigen dipresentasikan oleh APC tertentu kepada sel T4. IL-1 yang dilepas sel APC akan mengaktifkan sel T. Sel T kemudian

II.4.3 Konsekuensi dari CMI

Seperti yang telah diketahui, banyak fungsi CMI dilakukan oleh makrofag yang diaktifkan. Pada keadaan yang paling menguntungkan CMI

II.4.4 Mekanisme-mekanisme Efektor

a. Faktor penghambat migrasi makrofag (Macrophage Migration Inhibition Factor = MIF)

Migrasi aktif makrofaga-makrofaga dari suatu pembuluh kapiler dihambat bila MIF terdapat cairan biakan jaringan. Sangat mungkin pada tingkat ini antigen atau ada atau tidak, tetapi antigen spesifik terhadap MIF juga ditemukan meningkatkan kemungkinan spekulasi yang diijinkan, ini merupakan reseptor sel-T spesifik yang dilepaskan akibat rangsangan antigen dan kemudian dapat bekerja sama pada induksi sel- B. Agaknya situasi yang serupa timbul jika sel-sel- T bereaksi dengan sel tumor pada sel-sel-T yang telah peka dan melepaskan suatu faktor (faktor pada pembentukan makrofaga spesifik = specific macrophage arming factor = SMAF) yang dapat menyokong makrofaga dengan daya seleksi pembunuh tumor, masih belum diketahui. Selain itu, limfokin tertentu, faktor pengaktif makrofaga (macrophage activating factor = MAF) menghasilkan perubahan morfologi yang jelas pada makrofaga-makrofaga dan mengakibatkan metabolisme yang sangat aktif (angry), lebih giat mematikan dan mencernakan bakteri.

b. Faktor Kemotaktik Monosit (Monocyte Chemotactic Factor = MCF)

Monosit-monosit akan bergerak melewati selaput-selaput Millipore ke arah faktor dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

c. Faktor penyebab reaksi kulit (Skin Reactive Factor)

Ini akan memulai eksudasi sel-sel jika disuntikkan dan dapat juga meningkatkan permeabilitas kapiler.

d. Lain-lain aktivitas biologic (Other biological activities)

Faktor-faktor juga akan terlihat akan merangsang mitosis pada limfosit-limfosit bebas (berhubungan dengan kerja sama sel-T) dan bersifat sitotoksik, atau sedikitnya menimbulkan hambatan atau biakan sel tertentu. Keadaan sebelumnya menunjukkan adanya penggumpalan trombosit dan adanya interferon (suatu perangsangan produksi interferon oleh makrofaga).

II.4.5 Sel-sel T-Sitotoksik

Suatu cangkokan dari suatu anggota species yang sama dengan genetic berbeda (cangkokan alogenik) dapat menimbulkan satu populasi sel-sel-T pembunuh yang bersifat sitotoksik untuk sel-sel target yang mengandung antigen-antigen donor yang sangat tidak sesuai secara histologik. Tahap pertama dalam interaksi ini yang dapat diikuti invitro adalah persenyawaan antara efektor dengan sel target melalui kemampuan mengenal antigen-antigen cangkokan oleh reseptor-reseptor permukaan, tahap ini lepas dari pengaruh C++ dan peka terhadap sitokalasin B. Dalam beberapa menit, suatu perubahan timbul pada sel target yang mengarah pada sitolisa yang menetap, tahap ini dipengaruhi C++ dan tidak peka terhadap sitokalasin B. Jadi dengan cara menggabungkan mereka tanpa C++ kemudian membiarkan proses sitolisa terjadi dengan menambahkan C++ dan sitokalasin (yang menghambat pergerakan sel dan mencegah ikatan dengan sel-sel target selanjutnya), secara teori setiap sel target hanya dapat menghancurkan satu sel target. Sedemikian besar jumlah sel yang ikut pada spesifisitas histokompabilitas utama memberikan kesan dan secara tidak langsung menyatakan bahwa ada satu hubungan khusus antara sel-T dengan antigen-antigen tertentu. Dalam hubungan ini harus diingat bahwa penyerangan yang efektif hanya terjadi bila sel-sel T telah peka terhadap antigen-antigen histokompabilitas utama atau suatu determinan (penentu) misalnya virus yang dikenal dalam hubungan dengan antigen-antigen ini.

II.4.6 Hubungan dengan Produksi Antibodi

Dulu seringkali sensisitivitas lambat dianggap sebagai suatu tahap penting dalam proses pembentukan antibodi. Sekarang kita ketahui bahwa hal tersebut tidaklah betul-betul demikian. Polisakarida pneumokokus pada tikus merangsang pembentukan antibodi tetapi bukan CMI. Penyuntikan antigen-antigen tertentu dalam bentuk larutan diikuti antigen dalam adjuvan Freund secara efektif akan sedikit lebih lebih menekan kekebalan selular bila dibandingkan dengan penekanan terhadap kekebalan humoralm (penyimpangan kekebalan).

Terakhir, orang-orang yang tidak punya sel-T tetap dapat membentuk antibodi meskipun kadang-kadang kurang efektif. Jelas ada hubungannya, tetapi walaupun demikian, dalam kerjasama antara sel-B dan sel-T, dan jika ada sebagian sel-T lain dapat member reaksi CMI dan penolong-T terangsang oleh antigen yang diberikan maka dengan demikian tidak akan diperlukan lagi produksi antibodi melalui sel-T dalam hubungannya dengan reaksi CMI tadi. Jadi penemuan mengenai hipersensitivitas perantara sel pada penderita-penderita alergi atopik mungkin menggambarkan fakta bahwa antibodi IgE terhadap serbuk sari tumbuh-tumbuhan dan lain-lain alergen hanya akan terbentuk jika jumlah sel-T yang sesuai dan peka mencukupi untuk kerja sama. Peningkatan produksi antibodi terhadap antigen-antigen protein yang tercampur dengan adjuvan Freund lengkap sebagian disebabkan oleh efek antigen yang terkumpul, tetapi juga sebagai akibat dari rangsangan sel-T yang kuat yang akan menaikkan baik kerjasama sel-T dan perkembangan hipersensitivitas tipe lambat.

II.4.7 Jenis-jenis Reaksi Hipersensitivitas tipe IV

Ada 4 jenis reaksi hipersensitivitas tipe IV, yaitu:

1. Hipersensitivitas Jones Mole (Reaksi JM)

Reaksi JM ditandai oleh adanya infiltrasi basofil di bawah epidermis. Hal tersebut biasanya ditimbulkan oleh antigen yang larut dan disebabkan oleh limfosit yang peka terhadap siklofosfamid.

Reaksi JM atau Cutaneous Basophil Hypersensitivity (CBH) merupakan bentuk CMI yang tidak biasa dan telah ditemukan pada manusia sesudah suntikan antigen intradermal yang berulang-ulang. Reaksi biasanya terjadi sesudah 24 jam tetapi hanya berupa eritem tanpa indurasi yang merupakan ciri dari CMI. Eritem itu terdiri atas infiltrasi sel basofil. Mekanisme sebenarnya masih belum diketahui.

Kelinci yang digigit tungau menunjukkan reaksi CBH yang berat di tempat tungau menempel. Basofil kemudian melepas mediator yang farmakologik aktif dari granulanya yang dapat mematikan dan melepaskan tungau tersebut.

Basofil telah ditemukan pula pada dermatitis kontak yang disebabkan allergen seperti poison ivy penolakan ginjal dan beberapa bentuk konjungtivitis. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa basofil mempunyai peranan dalam penyakit hipersensitivitas.

2. Hipersensitivitas Kontak dan dermatitis kontak

Dermatitis kontak dikenal dalam klinik sebagai dermatitis yang timbul pada titik tempat kontak dengan alergen. Reaksi maksimal terjadi setelah 48 jam dan merupakan reaksi epidermal. Sel Langerhans sebagai Antigen Presenting Cell (APC) memegang peranan pada reaksi ini.

Innokulasi (penyuntikkan) melalui kulit, cenderung untuk merangsang perkembangan reaksi sel-T dan reaksi-reaksi tipe lambat yang sering kali disebabkan oleh benda-benda asing yang dapat mengadakan ikatan dengan unsur-unsur tubuh untuk membentuk antigen-antigen baru. Oleh karena itu, hipersensitivitas kontak dapat terjadi pada orang-orang yang menjadi peka karena pekerjaan yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia seperti prikil klorida dan kromat.

Kontak dengan antigen mengakibatkan ekspansi klon sel-T yang mampu mengenal antigen tersebut dan kontak ulang menimbulkan respon seperti yang terjadi pada CMI. Kelainan lain yang terjadi ialah pelepasan sel epitel (spongiosis) menimbulkan infiltrasi sel efektor. Hal ini menimbulkan dikeluarkannya cairan dan terbentuknya gelembung.

3. Reaksi Tuberkulin

Reaksi tuberculin adalah reaksi dermal yang berbeda dengan reaksi dermatitis kontak dan terjadi 20 jam setelah terpajan dengan antigen. Reaksi terdiri atas infiltrasi sel mononuklier (50% limfosit dan sisanya monosit). Setelah 48 jam timbul infiltrasi limfosit dalam jumlah besar di sekitar pembuluh darah yang merusak hubungan serat-serat kolagen kulit. Dalam beberapa hal antigen dimusnahkan dengan cepat sehinga menimbulkan kerusakan. Dilain hal terjadi hal-hal seperti yang terlihat sebagai konsekuensi CMI.

Kelainan kulit yang khas pada penyakit cacar, campak, dan herpes ditimbulkan oleh karena CMI terhadap virus ditambah dengan kerusakan sel yang diinfektif virus oleh sel-Tc.

4. Reaksi Granuloma

Menyusul respon akut terjadi influks monosit, neutrofil dan limfosit ke jaringan. Bila keadaan menjadi terkontrol, neutrofil tidak dikerahkan lagi berdegenerasi. Selanjutnya dikerahkan sel mononuklier. Pada stadium ini, dikerahkan monosit, makrofak, limfosit dan sel plasma yang memberikan gambaran patologik dari inflamasi kronik.

Dalam inflamasi kronik ini, monosit dan makrofak mempunyai 3 peranan penting sebagai berikut:

1. Menelan dan mencerna mikroba, debris seluler dan neutrofil yang berdegenerasi.

2. Modulasi respon imun dan fungsi sel-T melalui presentasi antigen dan sekresi sitokin.

3. Memperbaiki kerusakan jaringan dan fungsi sel inflamasi melalui sekresi sitokin.

Gambaran morfologis dari respon tersebut dapat berupa pembentukan granuloma (agregat fagosit mononuklier yang dikelilingi limfosit dan sel plasma). Fagosit terdiri atas monosit yang baru dikerahkan serta sedikit dari makrofag yang sudah ada dalam jaringan.

Reaksi granulomata merupakan reaksi tipe IV yang paling penting karena menimbulkan banyak efek patologis. Hal tersebut terjadi karena adanya antigen yang persisten di dalam makrofag yang biasanya berupa mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan atau kompleks imun yang menetap, misalnya pada alveolitis alergik.

Reaksi granuloma terjadi sebagai usaha badan untuk membatasi antigen yang persisten dalam tubuh, sedangkan reaksi tuberkolin merupakan respon imun seluler yang terbatas. Kedua reaksi tersebut dapat terjadi akibat sensitasi oleh antigen mikroorganisme yang sama, misalnya M. Tuberculosis dan M. Leprae. Granuloma juga terjadi pada hipersensitivitas terhadap zarkonium, sarkoidosis dan rangsangan bahan non-antigenik seperti bedak (talkum). Dalam hal-hal tersebut makrofag tidak dapat memusnahkan benda anorganik.

Granuloma non-immunologic dapat dibedakan dari yang immunologic, karena yang pertama tidak mengandung limfosit. Dalam reaksi granuloma ditemukan sel epiteloid yang diduga berasal dari sel-sel makrofag dan sel datia Langhans (jangan dikaburkan dengan sel Langerhans yang telah dibicarakan).

Granuloma immunologic ditandai dengan inti yang terdiri atas sel epiteloid dan makrofag. Disamping itu dapat ditemukan fibrosis atau timbunan serat kolagen yang terjadi akibat proliferasi fibroblast dan peningkatan sintesis kolagen.


Klasifikasi virus October 31, 2008

Posted by filzahazny in imunologi virologi.
Tags:
4 comments

2.1 Klasifikasi Virus Berdasarkan Morfologi

Definisi Virus

Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan mengendalikan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofage atau fage digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel). Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influensa dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV).

Virus HIV Virus Influenza

Adapun sifat – sifat khusus virus menurut Lwoff, Home dan Tournier (1966) adalah :

1. Bahan genetic virus terdiri dari asam ribonukleat (RNA) atau asam deoksiribonukleat (DNA), akan tetapi bukan gabungan dari kedua jenis asam nukleat tersebut.

2. Struktur virus secara relative sangat sederhana, yaitu dari pembungkus yang mengelilingi atau melindungi asam nukleat.

3. Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup, yaitu dalam nucleus, sitoplasma atau di dalam keduanya dan tidak mengadakan kegiatan metabolisme jika berada di luar sel hidup.

4. Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner. Partikel virus baru dibentuk dengan suatu proses biosintesis majemuk yang dimulai dengan pemecahan suatu partikel virus infektif menjadi lapisan protein pelindung dan komponen asam nukleat infektif.

5. Asam nukleat partikel virus yang menginfeksi sel mengambil alih kekuasaan dan pengawasan system enzim hospesnya, sehingga selaras dengan proses sintesis asam nukleat dan protein virus.

6. Virus yang menginfeksi sel mempergunakan ribosom sel hospes untuk keperluan metabolismenya.

7. Komponen – komponen virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung di dalam sel hospes tidak lama setelah dibebaskan.

8. Selama proses pembebasan, beberapa partikel virus mendapat selubung luar yang mengandung lipid, protein, dan bahan – bahan lain yang sebagian berasal dari sel hospes.

9. Partikel virus lengkap disebut Virion dan terdiri dari inti asam nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenic yang disebut kapsid dengan atau tanpa selubung di luar kapsid.

Sistem Taksonomi Virus Universal

Struktur Taksonomi secara umum adalah sebagai berikut:

Order (-virales)

Family (-viridae)

Subfamily (-virinae)

Genus (-virus)

Species (-virus)

Di dalam setiap famili, subdivisi disebut genera yang biasanya berdasarkan pada perbedaan serologi dan fisikokimia. Kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan genera bervariasi dari famili ke famili. Nama genus mempunyai akhiran –virus. Pada 4 famili (Poxviridae, Herpesviridae, Parvoviridae, Paramyxoviridae), kelompok besar yang disebut sub famili didefinisikan dengan mempertimbangkan kompleksitas hubungan di antara anggota virus. Jenis – jenis virus digunakan untuk mengelompokkan famili virus yang memiliki karakter yang umum. Hanya 1 jenis saat ini yang telah didefinisikan, yaitu Famili Mononegavirales, meliputi famili Filoviridae, Paramyxoviridae, dan Rhabdoviridae,

Sejak tahun 1995, The International Committee on Taxonomy of Viruses telah mengumpulkan lebih dari 4000 virus binatang dan tumbuhan menjadi 71 famili, 11 subfamili, dan 164 genera, tetapi masih ada ratusan virus yang masih belum ditemukan, 24 famili virus diantaranya dapat menginfeksi manusia dan binatang.

Dasar Klasifikasi

1. Morfologi virion, meliputi ukuran, struktur, dan anatomi,

2. Bagian – bagian fisikokimia virion, meliputi banyaknya molekul, berat jenis, stabilitas pH,stabilisasi suhu dan tingkat pengaruhnya terhadap agen fisik dan kimiawi, khusunya eter dan detergen.

3. Bagian – bagian gen virus

4. Bagian – bagian protein virus

5. Replikasi virus

6. Bagian – bagian antigen

7. Bagian – bagian biologi

Morfologi (Ukuran, struktur, dan anatomi virus)

Virus merupakan organisme subselular yang karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Karena itu pula, virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri.

Perbedaan virus dengan sel hidup

Sel hidup: 1. memiliki 2 tipe asam nukleat sekaligus,

2. dapat mereproduksi semua bagian selnya,

3. memiliki system metabolisme

Virus  : 1. hanya memiliki 1 tipe asam nukleat,

2. tidak dapat mereproduksi semua bagian selnya, virus hanya mereproduksi materi genetik dan selubung proteinnya,

3. tidak memiliki system metabolisme , oleh karena itu virus tidak dapat tumbuh dan bereproduksi tanpa adanya sel inang.

Partikel virus mengandung DNA atau RNA yang dapat berbentuk untai tunggal atau ganda. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal. Bahan genetik tersebut diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid. Kapsid bisa berbentuk bulat (sferik) atau heliks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus.

DNA virus

Replikasi genom DNA virus berlangsung di dalam inti sel tersebut. Jika sel mempunyai bagian yang peka rangsangan yang sesuai pada permukaannya, virus ini masuk sel melalui peleburan dengan selaput sel atau yang lebih dikenal endositosis. Kebanyakan DNA virus seluruhnya bergantung pada DNA dan RNA sel tuan rumah yang sintese permesinan, dan RNA yang memproses permesinan dalam sel tersebut.

RNA virus

RNA virus unik sebab RNA-lah pembawa informasi keturunan mereka. Replikasi RNA umumnya berlangsung di dalam sitoplasma itu.

Struktur

Diagram of how a virus capsid can be constructed using  multiple copies of just two protein molecules

Virus memiliki keanekaragaman ukuran dan bentuk. Virus berukuran sekitar 100 kali lebih kecil dibanding bakteri. Beberapa virus telah dipelajari mempunyai suatu garis tengah antara 10 dan 300 nanometres. Beberapa filoviruses mempunyai total panjang mencapai 1400 nm, walaupun garis tengah mereka hanya sekitar 80 nm. Beberapa virus tidak dapat dilihat dengan suatu mikroskop cahaya dan hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.

Kapsid dibentuk dari subunit protein yang disebut capsomers. Virus dapat mempunyai suatu lipid ” amplop” yang diperoleh dari selaput sel tuan rumah. Kapsid dibuat dari protein yang disandikan oleh genome. Bagaimanapun, kode virus kompleks untuk protein virus yang dibawa oleh genom membantu dalam konstruksi kapsid mereka. Protein dalam nukleus dikenal sebagai nukleoprotein, dan yang digunakan dalam pembentukan kapsid disebut nukleocapsid.

Secara umum, ada empat bentuk partikel virus utama:

Helical

the viral RNA is coiled inside the helix formed by repeating protein sub-units

Contoh struktur heliks pada virus mosaik tembakau: RNA virus bergulung berbentuk garis sekerup / spiral selenoid yang disebabkan pengulangan sub-unit protein. Kapsid terdiri atas satu jenis capsomer berbadan tegap di sekitar suatu poros pusat untuk membentuk suatu struktur seperti bentuk sekerup yang mungkin punya suatu rongga pusat.

Icosahedral

Electron micrograph of icosahedral viruses (adenovirus)

Kebanyakan virus binatang adalah icosahedral atau near-spherical dengan icosahedral simetri. Suatu bidang dua puluh reguler adalah jumlah maksimum suatu kelopak tertutup dari sub-unit tersebut. Jumlah minimum capsomers yang diperlukan adalah duabelas, masing-masing terdiri atas lima sub-unit serupa. Banyak virus, seperti rotavirus, mempunyai lebih dari duabelas capsomers dan nampak berbentuk bola tetapi mereka mempertahankan simetri ini. Capsomers di apices dikelilingi oleh lima capsomers lain dan disebut pentons. Capsomers pada atas muka yang bersegi tiga adalah mengepung dengan enam capsomers yang lain dan yang disebut hexons.Contohnya adalah adenovirus.

Enveloped

Electron micrograph of negatively-stained herpes zoster virus—note the envelope around the virus particle

Beberapa jenis amplop virus, terdapat di dalam suatu selaput sel, yaitu selaput eksternal yang melingkupi suatu sel tuan rumah yang terkena infeksi/tersebar, atau selaput internal seperti selaput nuklir atau reticulum endoplasmic, begitu mendapatkan lipid, maka virus akan membentuk bilayer yang dikenal dengan sebutan amplop. Selaput ini adalah protein yang membawa kode genetic dari genom tuan rumah ke genom virus.

Complex

The structure of a typical bacteriophage

Struktur khas dari suatu bacteriophage Virus ini memiliki suatu kapsid yang tidak berbentuk seperti bentuk sekerup, walaupun semata-mata serupa dengan icosahedral, dan memiliki struktur ekstra seperti jas berekor protein atau suatu dinding sebelah luar yang kompleks. Beberapa bacteriophages mempunyai suatu struktur kompleks terdiri dari suatu icosahedral di depan dan diikuti suatu ekor seperti bentuk sekerup yang memiliki suatu pelat dasar bersudut enam dengan serat ekor protein yang menonjol.

Klasifikasi Virus Berdasarkan Fisikokimia

Asam Nukleat

Simetri kapsid dan amplop

Sensitivitas terhadap eter

Famili Virus

Diameter partikel (nm)

Contoh Virus

DNA

Icosahedral,tidak

Beramplop

Resisten

Parvovirus

18 – 26

Adeno-associated virus

Papovavirus

45 – 55

Papilloma virus

Adenovirus

70 – 90

Adenovirus

DNA Icosahedral, beramplop Sensitif Herpesvirus 100 – 150

Virus Herpes simplek, Varicella-zoster,

cytomegalovirus,

DNA Kompleks Bervariasi Poxvirus 230 – 300 Smallpox (variola), vaccinia virus, molluseum contagiosum virus
RNA Icosahedral, tidak beramplop Resisten Picornavirus 20 – 30 Enterovirus, rhinovirus
Reovirus 60 – 80 Reovirus, Orbivirus
RNA Icosahedral, beramplop

Sensitif

Togavirus 40 – 70 Virus Rubella
RNA Heliks, tidak beramplop Sensitif

Bunyavirus

90 – 100

California Arbovirus, Bunyamwera Arbovirus

Coronavirus

100

Coronavirus

Orthomyxvirus

80 – 120

Virus Influenza A dan B

Paramyxovirus

100 – 200

Parainfluenza

Retrovirus

100 – 200

Animal tumor virus

Rhadbovirus

70 – 170

Virus Rabies

RNA Heliks, beramplop Sensitif Arenavirus 50 – 300 Lyphocytic choriomeningitis virus

2.2 Klasifikasi Virus berdasarkan jenis asam nukleat (DNA atau RNA)

1. Virus RNA

a. Famili : Picornaviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal, replikasi RNA melalui pembentukan RNA komplementer yang bertindak sebagai cetakan sintesis RNA genom.

· Virion : tak berselubung, bentuk ikosahedral, tersusun atas empat jenis protein utama. Diameter virion 28-30 nm.

· Replikasi dan morfogenesis virus terjadi di sitoplasma.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : virus polio

b. Famili : Calicivirdae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal.

· Virion : tak berselubung, bentuk ikosahedral, tersusun atas tiga jenis protein utama. Diameter virion 35-45 nm.

· Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : virus Sapporo

c. Famili : Togaviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal, replikasi RNA melalui pembentukan RNA komplementer, yang bertindak sebagai cetakan RNA genom.

· Virion : berselubung, nukleokapsid ikosahedral, tersusun atas 3-4 jenis protein utama. Protein selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 60-70 nm.

· Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran sel.

· Spektrum hospes luas.

Contoh : virus Chikungunya, virus rubella

d. Famili : Flaviviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal, replikasi RNA melalui RNA komplementer yang kemudian bertindak sebagai cetakan bagi sintesis RNA genom.

· Virion : berselubung, simetri nukleokapsid belum jelas, tersusun atas empat jenis protein utama. Protein selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 40-50 nm.

· Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui proses budding di membran sel.

· Spektrum hospes luas.

Contoh : virus demam kuning

e. Famili : Bunyaviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, terdiri dari tiga segmen. Pada proses replikasinya, RNA virion disalin menjadi mRNA dengan bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan produk translasi mRNA selanjutnya disintesis RNA komplementer. Tiap segmen RNA komplementer kemudian menjadi cetakan bagi RNA genom.

· Virion : berselubung, nukleokapsid bentuk helik, tersusun atas empat protein utama. Protein selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 90-120 nm.

· Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui proses budding di membran Golgi.

Contoh : virus ensefalitis California

f. Famili : Arenaviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, terdiri dari dua segmen. Prinsip replikasi RNAnya sama dengan Bunyaviridae.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas tiga protein utama. Bentuk virion pleomorfik. Diameter virion 50-300 nm (rata-rata 110-130 nm).

· Replikasi di sitoplasma morfogenesisnya melalui proses budding di membran plasma.

· Spektrum hospes luas.

Contoh : virus lymphotic

g. Famili : Coronaviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, terdiri dari satu segmen. Replikasi RNA genom melalui pembentukan rantai RNA negatif yang kemudian bertindak sebagai cetakan bagi RNA genom. Sintesis RNA negatif disertai sintesis enam jenis mRNA.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas tiga protein utama. Bentuk pleomorfik. Diameter virion 80-160 nm.

· Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui proses budding di membran intrasitoplasma.

Contoh : coronavirus manusia 229-E dan OC43

h. Famili : Rhabdoviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, satu segmen. Prinsip replikasi RNAnya sama dengan Bunyaviridae.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 4-5 protein. Virion berbentuk seperti peluru dengan selubung beraktivitas hemaglutinasi. Diameter dan panjang virion 70-85 nm dan 130-180 nm.

· Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya di membran plasma atau intrasitoplasma, tergantung spesies virus.

Contoh : virus stomatitis vesicularis

i. Famili : Filoviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, segmen tunggal.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas tujuh protein utama. Berbentuk pleomorfik. Diameter virion 80 nm dan panjang mencapai 14.000 nm.

· Replikasi di sitoplasma.

Contoh : virus Ebola

j. Famili : Paramyxoviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, polaritas negatif. Replikasi RNA dimulai dengan sintesis mRNA dengan bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan produk protein mRNA dibuat RNA cetakan RNA genom.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 6-10 protein utama. Berbentuk pleomorfik. Selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi dan menginduksifusi sel. Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui proses budding di membran plasma. Diameter virion 150-300 nm.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : parainfluenza 1-4, viris parotitis

k. Famili : Orthomyxoviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, segmen berganda (7 untuk influenza C dan 8 untuk influenza A dan B), polaritas negatif. Replikasi RNA dimulai dengan sintesis mRNA dengan bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan protein produk mRNA, RNa komplementer dibuat dan dijadikan cetakan pembuatan RNA genom. Sifat segmentasi genom virus memudahkan terjadinya virus mutan.

· Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 7-9 protein utama. Bentuk pleomorfik. Selubung beraktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 90-120 nm. Pada filamentosa panjangnya mencapai beberapa mikrometer.

· Replikasi RNA di inti dan sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran plasma.

Contoh : virus Influenza A,B, dan C

l. Famili : Reoviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai ganda, segmen ganda (10 untuk reovirus dan obvirus, 11 untuk rotavirus, 12 untuk Colorado tick fever virus. Setiap mRNA berasal dari satu segmen genom. Sebagian mRNA dipakai untuk sintesis protein dan sebagian lagi dipakai sebagai cetakan untuk pembuatan rantai RNA pasangannya.

· Virion : tak berselubung, kapsidnya dua lapis dan bersimetri ikosahedral. Diameter virion 60-80 nm.

· Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma.

Contoh : Reovirus 1-3

m. Famili : Retroviridae

Sifat penting :

· RNA : rantai tunggal, terdiri dari dua molekul polaritas negatif yang identik. Replikasi dimulai dengan pemisahan kedua molekul RNA dan pembuatan rantai DNA dengan cetakan RNA tersebutdengan bantuan reverse transcriptase virion. Setelah molekul RNA-DNA terpisah, dibuat rantai DNA komplementer terhadap pasangan DNA yang sudah ada. DNA serat ganda kemudian mengalami sirkularisasi dan berintegrasi dengan kromosom hospes. Selanjutnya RNA genom dibuat dengan cetakan DNa yang sudah terintegrasi pada kromosom hospes.

· Virion : berselubung, simetri kapsid ikosahedral. Virion tersusun atas 7 jenis protein utama. Diametr virion 80-130 nm. Morfogenesis virus melalui proses budding di membran plasma.

Contoh : HIV 1 dan 2

2. Virus DNA

a. Famili : Adenoviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA dan translasinya menjadi protein komplek.

· Virion : tak berselubung, simetri kapsid ikosahedral. Diameter virion 70-90 nm. Virion tersusun atas paling tidak 10 protein.

· Replikasi dan morfogenesis di inti sel.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : Adenivirus 1-49

b. Famili : Herpesviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA komplek.

· Virion : berselubung, simetri kapsid ikosahedral. Diameter virion 15-200 nm.

· Replikasi di intisel. Morfogenesis melalui proses budding di membran inti. Di dalam sitoplasma virion dibawa dalam vesikel-vesikelke membran plasma. Di membran plasma, membran vesikel fusi dengan membran plasma.

Contoh : virus herpes simplex 1-2, virus B

c. Famili : Hepadnaviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai ganda (bagian terbesar) dan rantai tunggal (bagian kecil, di ujung molekul DNA), segmen tunggal. Pada replikasi genom, bagian rantai tunggalnya harus dibuat rantai ganda. Transkripsi DNA menghasilkan mRNA untuk sintesis protein dan RNA lain sebagai cetakan bagi pembuatan DNA oleh reverse transcriptase.

· Virion : berselubung (HBsAg), diameter 42 nm. Tersusun atas selubung (HBsAg) dan nukleokapsid. Dalam nukleokapsid terdapat core (HBcAg) dan protein penting lain (HBeAg).

· Replikasi di hepatosit terjadi di inti sel sedangkan HBsAg dibuat di sitoplasma.

Contoh : virus hepatitis B

d. Famili : Papovaviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai ganda, segmen tunggal sirkuler. Replikasi DNA komplek dan selama replikasi bentuknya tetap sirkuler. Siklus replikasi DNA dapat melibatkan DNA genom yang episomal maupun yang berintegrasi dengan kromosom sel.

· Virion : tak berselubung, diameter 45 nm (polyomavirus) dan 55 nm (papillomavirus), tersusun atas 5-7 jenis protein utama.

· Replikasi dan morfogenesis di inti sel.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : papilloma virus manusia

e. Famili : Parvoviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai tunggal, segmen tunggal. Genus Parvovirus lebih banyak mengandung rantai DNA polaritas negatif sedang dua genus lagi DNA polaritas negatif dan positifnya seimbang. Replikasi DNA komplek.

· Virion : tak berselubung, nukleokapsid bersimetri ikosahedral dan berdiameter 18-26 nm, tersusun atas tiga protein utama.

· Replikasi dan morfogenesis di inti sel dan memerlukan bantuan sel hospes.

· Spektrum hospes sempit.

Contoh : parvovirus B-19

f. Famili : Poxviridae

Sifat penting :

· DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA komplek.

· Virion : berselubung, berbentuk seperti batu bata dan merupakan virus dengan dimensi terbesar. Tersusun atas lebih dari seratus jenis protein. Selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi.

· Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma yaitu dalam viroplasma (semacam pabrik virus). Hasil morfogenesis dapat berupa virion berselubung maupun tidak.

Contoh : virus cacar sapi

2.3 Komponen kimia virus menurut kandungan protein

Setiap makhluk hidup pada dasarnya tersusun oleh komponen-komponen kimiawi yang akan membantu kelangsungan hidupnya. Virus memliki komponen kimia berups protein, karbohidrat, dan lipid. Komponen kimis yang akan kita bahas hanya komponen protein saja. Protein dalam virus terdapat dalam bentuk asam nukleat, kapsid, enzim, dan protein lainnya.

  • Asam Nukleat

Virus hanya mengandung DNA atau RNA saja. Hal ini menjadi ciri khas virus dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Virus hanya memiliki satu asam nukleat, jadi berdasarkan hal ini, virus dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis asam nukleat yang mungkin dimiliki, yaitu:

v DNA berutasan tunggal

v RNA berutasan tunggal

v DNA berutasan ganda

v RNA berutasan ganda

Pada virus tumbuhan baru dapat ditemukan RNA berutasan tunggal dan ganda serta DNA berutasan tunggal saja. Sedangkan pada hewan, keempat jenis asam nukleat telah ditemukan.Berdasarkan jenis asam nukleat yang terkandung dalam virus, kita dapat menggolongkan virus menjadi 3 yaitu virus RNA, virus DNA, dan virus yang tidak diklasifikasi.

Beberapa famili virus yang tergolong virus RNA:

    • Piconarviridae
    • Caliciviridae
    • Togaviridae (penyakit cikungunya, rubella)
    • Flaviviridae (virus demam kuning)
    • Bunyaviridae (virus demam berdarah korea)
    • Arenaviridae (virus lassa)
    • Coronaviridae (coronavirus)
    • Rhabdoviridae (virus rabies, virus mokola)
    • Filoviridae (virus ebola, virus marburg)
    • Paramixoviridae (virus paroritis, virus morbili)
    • Orthomixoviridae (virus influenza)
    • Reoviridae (virus kemorovo, rotavirus manusia)
    • Retroviridae

Beberapa famili virus yang tergolong virus DNA:

o Adenoviridae (adenovirus 1-49)

o Herpesviridae (virus herpes simpleks, virus epstein-barr)

o Hepadnaviridae (virus hepatitis B)

o Papovaviridae ( papilloma virus manusia, virus JK, virus BK)

o Parvoviridae (parvovirus B19)

o Poxviridae (virus variola, virus vaccinia, virus cacar monyet)

Virus yang tidak diklasifikasikan:

o Virus penyebab encefalopati spongiformis

o Virus hepatitis delta

o Verus hepatitis C

o Virus Norwalk penyebab diare

o Atrovirus

Pengertian tentang asam nukleat virus mempunyai arti penting untuk memahami proses perkembangbiakan virus, sifat biologik, dan sebagainya. Misalnya:

v Ukuran asam nukleat dihubungkan dengan jumlah informasi genetik yang dibawanya

v Segmentasi asam nukleat pada virus influenza dihubungkan dengan terjadinya genetika yang menimbulkan terjadinya antigenik, derajat homolog basa-basa asam nukleat dihubungkan dengan taksonomi virus.

  • Kapsid
  • Protein lain
    • Pada adenovirus dan papovirus terdapat protein haemaglutinin yang dapat menggumpalkan sel darah merah berbagai spesies binatang.

  • Enzim

Banyak virus telah diketahui mengandung enzim-enzim yang berfungsi dalam replikasi komponen-komponen asam nukleatnya. Beberapa virion dapat mengandung suatu enzim khusus yang mengandung RNA virus model untuk mensintesis utasan RNA kedua yang dapat mengarahkan sel-sel inang untuk membuat virus. Virus tumor RNA mengandung suatu enzim yang mengsintesis utasan DNA dengan menggunakan genom RNA virus sebagai acuan.

Beberapa virus yang mengandung enzim, dapat dikategorikan ke dalam tiga golongan:

ü Neuromisida yang menghidrolisis galaktosa N asetil neuraminat. Enzim ini terdapat pada orthomixovirus yaitu pada salah satu tonjolan glikoproteinnya. Enzim ini berfungsi membantu penetrasi ke dalam sel.

ü Beberapa jenis virion mengandung RNA polimerase. Jika genom virus merupakan genom yang langsung dapat bertindak sebagai mRNA, maka ekspresi genom dapat berlansung.hal demikian dapat ditemukan pada picornavirus dan arbovirus. Tatapi jika genom virus berupa DNA atau RNA dengan polaritas negatif, maka sebelum genom tersebut diekspresikan dalam bentuk protein, terlebih dahulu harus ditranskripsikan menjadi RNA dengan polaritas positif. Dalam hal yang disebut terakhir, terdapat dua jenis enzim polimerase. Pertama, virus menggunakan polymerase yang terdapat di dalam sel hospes, seperti pada herpesvirus, adenovirus, dan papovavirus. Kedua, virion mengandung polymerase sendiri seperti pada poxvirus, myxovirus, rhabdovirus, dan retrovirus menpunyai enzim transkripsi terbalik yang berfungsi membentuk DNA dari cetakan RNA.

Beberapa virion juga mengandung enzim yang bekerja pada asam nukleat. Adenovirus, poxvirus,, dan retrovirus misalnya mengandung enzim nuklease.

2.4 Penyakit imun

Cacar air (chicken pox)

Varicela merupakan penyakit infeksi akut primer yang disebabkan oleh virus varicela zoster yang menyerang kulit dan mukosa, yang disertai gejala konstitusi seperti demam, nyeri, kelainan kulit polimorfi berupa vesikel papul pustul multipel tersebar diseluruh tubuh terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Varisela dikenal dengan nama lain sebagai cacar air atau chiken pox.

Penyebaran

Penyakit ini tersebar kosmopolitan terutama menyerang anak-anak, namun dapat juga menyerang orang dewasa dengan gejala yang lebih berat. Penularan secara aerogen. Masa penularan sekitar 7 hari dari timbulnya gejala pada kulit. Masa inkubasi sekitar 12-21 hari.

Gejala klinis

Gejala klinis berupa demam, nyeri badan dan kepala kemudian diikuti timbulnya erupsi obat berupa papul eritematosa yang kemudian berubah menjadi vesikel, bentuk vesikel ini khas seperti tetesan embun (tear drop) selanjutnya vesikel berubah menjadi pustul dan krusta. Sementara proses ini berlangsung pada kulit bagian lain timbul vesikel baru sehingga menimbulkan gambaran polimorfi.

Penyebaran secara sentrifugal dari badan kemudian ke anggota tubuh dan wajah, selaput lendir pada mata dan mulut juga pada kemaluan. Penyakit ini biasanya disertai rasa gatal, sehingga penderita cenderung menggaruk atau mencongkel krusta yang sering berakibat menyebabkan skar pada bekasnya.

Varisela biasanya menyebabkan timbulnya antibodi yang berlangsung seumur hidup sehingga biasanya hanya terjadi sekali terjadi seumur hidup, namun pada orang dengan daya tahan/ imunitas yang buruk, varisela dapat terulang lagi.

Perbedaan varisela dengan herpes zoster adalah sebagai berikut: Varisela merupakan infeksi primer akibat virus varisela zoster sedangkan Herpes zoster merupakan penyakit yang terjadi oleh karena reaktivasi dari virus Varicella zoster yang mengenai kulit dan mukosa dengan lesi berupa erupsi vesikular yang pada umumnya bersifat dermatomal dan unilateral.

Ciri khas dari herpes zoster ini adalah lesi yang berlokasi dan terdistribusi hampir selalu unilateral, tidak melewati garis tengah tubuh dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh ganglion sensorik. Sehingga penyakit ini muncul pada penderita yang sebelumnya pernah terinfeksi Varicela meskipun sudah berlangsung puluhan tahun.

Manifestasi klinis

Manifestasi klinis HZ berupa vesikel/bintik-bintik berair berkelompok diatas kulit. Lesi awalnya berupa makula dan papula eritem/ kulit kemerahan yang kemudian menjadi vesikel dalam 12 – 24 jam dan dapat berkembang menjadi pustul dalam 3 hari. Lesi akan mengering dan menjadi krusta dalam 7 – 10 hari. Krusta biasanya bertahan selama 2 – 3 minggu.

Berdasarkan lokasi, munculnya lesi herpes zoster paling sering adalah di daerah torakal (dada dan punggung), diikuti optalmik (dahi dan mata), lumbal (pinggang), servikal (leher dan tengkuk), fasial (dahi dan kepala), sakrum (pantat dan kaki).

Herpes zoster muncul diseluruh dunia secara sporadik tanpa dipengaruhi faktor musim. Reaktivasi virus yang berdiam di ganglion saraf terjadi secara sporadik, dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain penekanan/ penurunan sistim imun tubuh, radiasi pada spinal, tumor pada ganglion, trauma lokal, manipulasi surgikal pada spinal serta sinusitis frontalis sebagai faktor presipitasi pada HZ optalmikus. Namun yang paling penting adalah respon imun selular terhadap virus Varicella zoster yang seiring dengan meningkatnya usia.

Pengobatan

Pengobatan kedua penyakit ini pada prinsipnya sama yaitu dengan diberikan obat antivirus dosis adekuat, vitamin, obat antiradang dan antinyeri serta obat-obat topikal untuk mempercepat penyembuhan luka yang seyogyanya diberikan dalam pengawasan dokter. Selain itu harus mendapat asupan gizi yang baik terutama protein agar dapat memperbaiki sel-sel kulit dan saraf yang rusak.

Sering berkembang mitos yang salah di masyarakat bahwa penderita harus pantang makan daging agar lukanya cepat sembuh, yang benar justru sebaliknya harus makan dengan asupan gizi yang bagus. Sedapat mungkin luka tidak diusik baik dengan menggaruk maupun mencongkel krusta karena dapat menimbulkan skar atrofi maupun hipertrofi pada beberapa bulan kemudian.

Virus influenza

KLASIFIKASI VIRUS INFLUENZA

Ordo (Orthomyxovirales)

Familia (Orthomyxoviridae)

Subfamilia (Orthomyxovirinae)

Genus (Orthomyxovirus)

Virus influenza digolongkan dalam kelompok virus RNA (Ribose Nucleic Acid) dan dibagi atas tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Virus dengan tipe A dan B bisa menyebabkan epidemik, khususnya saat musim salju di negara dengan empat musim. Sedangkan virus influenza tipe C hanya menyebabkan masalah pernafasan yang ringan, dan diduga bukan penyebab dari epidemik.

Gejala klinis

Gejalanya timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba. Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4°Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala.

Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan.

Penyebaran dan penularan

Virus ini tersebar di antara sesama manusia lewat butir-butir percikan saat penderitanya batuk atau bersin. Di tempat orang berkerumun atau tertutup orang lebih mudah ketularan.

Masa inkubasi dari penyakit ini sekitar satu hingga empat hari (rata-rata dua hari). Pada orang dewasa, sudah mulai terinfeksi sejak satu hari sebelum timbulnya gejala influenza hingga lima hari setelah mulainya penyakit ini. Sedangkan anak-anak dapat menyebarkan virus ini sampai lebih dari sepuluh hari.

Pengobatan

Umumnya penyakit yang diakibatkan oleh virus bisa sembuh sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah infeksi bakteri/kuman lainnya yang biasanya menyertai infeksi virus (komplikasi). Pengobatan influenza adalah dengan membiarkan tubuh penderita membentuk antibodinya sendiri. Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Istirahat sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Obat flu biasanya terdiri dari komponen untuk menurunkan panas (parasetamol, ibuprofen), mengurangi pilek atau hidung berair (efedrin, pseudo-efedrin, atau fenilpropanolamin [maksimal 15 mg/tablet], dan komponen obat batuk (dekstrometorfan atau noskapin). Namun, bila gejalanya hanya demam saja, tidak perlu mengonsumsi semua komponen.

Pemberian obat itu akan meredakan gejala sekaligus mengurangi penderitaan pasien flu. Vitamin dan pengencer dahak tidak mutlak diperlukan dan perlu dinilai secara individual. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofen, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Kepada anak-anak tidak boleh diberikan aspirin karena resiko terjadinya sindroma Reye. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap.

Bila hanya pilek, pilih obat bebas yang mengandung komponen pilek saja; bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masih diperbolehkan. Pemilihan obat kombinasi tergantung kecocokan individual.

Jika segera diberikan pada infeksi influenza A yang belum mengalami komplikasi, obat rimantadin atau amantadin bisa membantu mengurangi lama dan beratnya demam serta gejala pernafasan. Ribavirin (dalam bentuk obat hirup atau tablet) mampu memperpendek lamanya demam dan mempengaruhi kemampuan virus untuk berkembangbiak, tetapi pemakaiannya masih bersifat eksperimental.

Virus hiv aids

AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS disebabkan oleh masuknya virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) ke dalam tubuh manusia. HIV dengan cepat akan melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS biasanya akan meninggal karena suatu penyakit (disebut penyakit sekunder) yang biasanya akan dapat dibasmi oleh tubuh seandainya sistem kekebalan itu masih baik.

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Gejala klinis

1. Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.

2. Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.

3. Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.

4. System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.

5. System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.

6. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah ‘pelvic inflammatory disease (PID)’ dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).

Dalam keadaan sehat, sistem kekebalan tubuh dapat membasmi kebanyakan virus, bakteri dan patogen yang menyerang tubuh.

Ketika virus AIDS menginfeksi tubuh, sel-sel T pembantu dirusak sehingga menyebabkan lemahnya sistem kekebalan.

Pada saat sistem kekebalan rusak, tubuh menjadi semakin mudah terkena penyakit dan tubuh menjadi tak berdaya melawannya. Penyakit inilah yang biasanya menjadi penyebab kematian pada penderita AIDS.

Penyebaran dan penularan

AIDS adalah salah satu penyakit yang menular. Namun penularannya tak semudah seperti virus influenza atau virus-virus lainnya. Virus HIV dapat hidup di seluruh cairan tubuh manusia, akan tetapi yang mempunyai kemampuan untuk menularkan kepada orang lain hanya HIV yang berada dalam: darah, cairan vagina dan sperma.

Cara penularan HIV/AIDS yang diketahui adalah melalui:

· Transfusi darah dari pengidap HIV

· Berhubungan seks dengan pengidap HIV

· Sebagian kecil (25-30%) ibu hamil pengidap HIV kepada janinnya.

· Alat suntik atau jarum suntik/alat tatoo/tindik yang dipakai bersama dengan penderita HIV/AIDS; serta

· Air susu ibu pengidap AIDS kepada anak

2.5 Penyakit Organ Tertentu

1) Virus Respiratory Syncytial

Virus Respiratory Syncytial (RSV) adalah virus yang menyebabkan terjadinya infeksi pada paru dan saluran pernapasan. Virus ini sering sekali menyerang anak-anak, seorang anak yang berusia 2 tahun biasanya sudah pernah terinfeksi oleh virus ini. Virus ini juga dapat menginfeksi orang dewasa.

Serangan RSV yang parah menyebabkan perlunya perawatan di rumah sakit, terutama untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan, anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu seperti mengidap penyakit jantung atau paru-paru, dan anak-anak yang terlahir prematur. Infeksi RSV juga dapat menyebabkan penyakit serius pada orang dewasa yang berusia lanjut dan mengidap penyakit pada jantung dan paru-paru.

§ Gambaran Klinik

Tanda-tanda dan gejala infeksi RSV biasanya kelihatan pada empat hingga enam hari setelah terjadi paparan terhadap infeksi virus. Pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia lebih dari 3 tahun, RSV biasanya menyebabkan terjadinya tanda-tanda seperti selesma ringan dan gejala yang mirip dengan gejala yang ada pada infeksi saluran pernapasan atas. Tanda-tanda ini adalah:

  1. Hidung mampet atau berlendir
  2. Batuk kering
  3. Demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
  4. Sakit leher
  5. Sakit kepala ringan
  6. Rasa tidak nyaman dan gelisah (malaise)

Pada anak-anak berusia kurang dari 3 tahun, RSV dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada saluran pernapasan bagian bawah seperti radang paru atau bronkhiolitis (peradangan pada saluran udara yang kecil-kecil pada paru-paru). Gejala dan tanda-tandanya adalah:

  1. Demam dengan suhu tinggi
  2. Batuk yang parah
  3. Tersengal-sengal
  4. Napasnya cepat atau sulit untuk bernapas, yang mungkin akan menyebabkan anak lebih memilih untuk duduk daripada berbaring.
  5. Warna kebiruan pada kulit yang disebabkan oleh kekurangan oksigen

Akibat paling parah akibat infeksi RSV akan diderita oleh bayi dan balita. Pada bayi dan balita tanda-tandanya akan terlihat jelas saat menarik otot dada dan kulit disekitar tulang iga yang menandakan bahwa terjadi kesulitan bernapas dan napas yang pendek, dangkal dan cepat, mungkin juga tidak menunjukkan adanya infeksi saluran napas, tetapi biasanya ditandai dengan tidak nafsu makan, lemas dan rewel.

Kebanyakan anak-anak dan orang dewasa akan membaik dalam 8 – 15 hari. Tetapi pada bayi yang usianya masih sangat muda, bayi yang terlahir prematur, dan bayi atau orang dewasa yang memiliki masalah pada jantung dan paru-paru, virus ini akan menyebabkan infeksi yang lebih berat dan seringkali mengancam keselamatan jiwa sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

§ Penyebab

Virus RSV masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung atau mulut. Virus ini menyebar dengan sangat mudah melalui sekresi pada saluran napas yang sudah terinfeksi, seperti melalui air liur yang tersebar pada saat batuk atau bersin yang akan dihirup, atau ditularkan pada orang lain melalui kontak langsung, seperti berjabatan tangan. Virus dapat hidup selama berjam-jam pada benda-benda, seperti permukaan meja dan boneka. Apabila menyentuh mulut, hidung atau mata setelah menyentuh benda yang telah terkontaminasi, kemungkinan besar tertular virus sangat besar. Orang yang telah terinfeksi akan menularkan virus dalam waktu beberapa hari pertama setelah pertama kali terinfeksi virus, akan tetapi juga dapat tersebar selama beberapa minggu setelah infeksi dimulai.

§ Pemeriksaan dan Diagnosis

Pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan pemeriksaan fisik dan pertimbangan waktu saat infeksi terjadi, yaitu dengan mendengarkan suara di paru-paru dengan stetoskop untuk memeriksa adanya suara yang abnormal yang dapat membantu untuk menentukan adanya kesulitan untuk bernapas. Sebuah tes di kulit yang tidak menyakitkan akan dilakukan untuk mengecek apakah tingkat oksigen yang terdapat dalam aliran darah lebih rendah dari yang seharusnya. Selain itu, mungkin juga akan dilakukan tes darah untuk memeriksa hitungan sel darah putih atau untuk melihat adanya virus, bakteri atau organisme lainnya.

Pemeriksaan rongga dada dengan sinar X mungkin akan dilakukan untuk memeriksa adanya radang paru (pneumonia). Sebagai tambahan, juga akan dilakukan pengambilan cairan di saluran pernapasan melalui hidung untuk melihat adanya virus dengan pemeriksaan di laboratorium.

§ Pengobatan

Penggunaan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri tidak berguna untuk mengobati RSV karena RSV disebabkan oleh infeksi virus. Meskipun demikian, tetap dapat diberikan antibiotik bila terjadi komplikasi bakteri, seperti infeksi di telinga bagian tengah atau radang paru karena bakteri. Bila tidak ada komplikasi, dapat menggunakan obat-obatan yang dapat dibeli secara bebas, seperti asetaminofen (Tylenol, dll) atau ibuprofen (Advil,Motrin, dll) yang dapat mengurangi demam tapi tidak akan dapat mengobati infeksi atau membuat infeksi tersebut sembuh lebih cepat.

Pada kasus infeksi berat, penderita mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar dapat diberikan cairan melalui vena (infus) dan oksigen. Bayi dan anak-anak yang dirawat di rumah sakit mungkin perlu menggunakan ventilasi mekanik (sebuah alat bantu pernapasan) agar dapat memudahkan untuk bernapas.

Pada kasus infeksi yang parah, bronkodilator untuk nebulasi (obat diberikan dalam bentuk uap yang dapat dihirup), seperti albuterol (Proventil, Ventolin) dapat digunakan untuk melegakan napas. Pengobatan ini dilakukan untuk membuka saluran pernapasan di paru-paru. Kadang-kadang, ribavirin (Rebetol) dalam bentuk nebulasi, sebagai obat antivirus juga dapat diberikan. Selain itu, juga dapat suntikan epinephrine atau bentuk lain dari epinephrine yang dapat diinhalasi untuk mengurangi gejala yang timbul dari infeksi RSV.

§ Pencegahan

Tidak ada vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi RSV. Tetapi, apabila bertindak secara rasional dan berhati-hati, infeksi virus ini dapat dicegah penyebarannya, yaitu dengan:

1. Mencuci tangan

2. Menjaga kebersihan

3. Jangan merokok

4. Hindari paparan terhadap infeksi RSV dengan membatasi kontak dengan orang-orang yang sedang mengalami demam dan selesma

5. Jangan menggunakan gelas yang sudah digunakan oleh orang lain atau gunakan gelas sekali pakai apabila sedang sakit

2) Virus Kawasaki

Virus Kawasaki adalah virus yang menyebabkan Sindroma Kawasaki. Virus ini pertama kalinya muncul di Jepang dan menimpa seorang anak dan berkomplikasi dengan pembuluh darah jantung. Sindroma Kawasaki (Sindroma Kelenjar Getah Bening Mukokutaneus, Poliarteritis Infantil) adalah suatu penyakit non-spesifik, tanpa agen infeksius tertentu, yang menyerang selaput lendir, kelenjar getah bening, lapisan pembuluh darah dan jantung.

§ Gambaran Klinik

Gejalanya berupa:

Ø Demam yang turun-naik, tetapi biasanya diatas 39°C, sifatnya menetap (lebih dari 5 hari) dan tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal

Ø Rewel dan tampak mengantuk

Ø Kadang timbul nyeri kram perut

Ø Ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok

Ø Ruam pada selaput lendir (misalnya lapisan mulut dan vagina)

Ø Tenggorokan tampak merah

Ø Bibir merah, kering, dan pecah-pecah

Ø Lidah tampak merah (strawberry-red tongue)

Ø Kedua mata menjadi merah, tanpa disertai keluarnya kotoran

Ø Telapak tangan dan telapak kaki tampak merah, tangan dan kaki membengkak

Ø Kulit pada jari tangan dan jari kaki mengelupas (pada hari ke 10-20)

Ø Pembengkakan kelenjar getah bening leher

Ø Nyeri persendian (atralgia) dan pembengkakan, seringkali simetris (pada sisi tubuh kiri dan kanan).

§ Penyebab

Penyebabnya tidak diketahui. Sindroma Kawasaki pertama kali ditemukan di Jepang pada akhir tahun 1960. Penyakit ini menyerang anak berumur 2 bulan sampai 5 tahun dan 2 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

§ Pemeriksaan dan Diagnosis

Diagnosis dilakukan apabila terjadi demam selama lebih dari 5 hari dan ditemukan 4 dari 5 gambaran berikut:

¨ Ruam kulit

¨ Alat gerak (lengan dan tungkai ) merah dan membengkak

¨ Mata merah

¨ Perubahan pada bibir dan mulut

¨ Pembengkakan kelenjar getah bening

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

- EKG dan ekokardiografi, bisa menunjukkan tanda-tanda dari miokarditis, perikarditis, artritis, meningitis aseptik atau vaskulitis koroner

- Hitung darah lengkap (menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih dan anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah); pemeriksaan darah berikutnya menunjukkan peningkatan jumlah trombosit

- Rontgen dada

- Analisa air kemih (bisa menunjukkan adanya nanah atau protein dalam air kemih).

§ Pengobatan

Pengobatan dini secara berarti dapat mengurangi resiko terjadinya kerusakan pada arteri koroner dan mempercepat pemulihan demam, ruam, dan rasa tidak nyaman. Selama 1-4 hari diberikan immunoglobulin dosis tinggi melalui infus dan aspirin dosis tinggi melalui mulut. Setelah demam turun, biasanya aspirin dalam dosis yang lebih rendah diberikan selama beberapa bulan untuk mengurangi resiko kerusakan arteri koroner dan pembentukan bekuan darah.

Dilakukan beberapa kali pemeriksaan EKG untuk mendeteksi adanya komplikasi jantung. Aneurisma yang besar diobati dengan aspirin dan obat anti pembekuan (misalnya warfarin). Aneurisma yang kecil cukup diatasi dengan aspirin. Jika anak menderita influenza atau cacar air, untuk mengurangi resiko terjadinya sindroma Reye, sebaiknya untuk sementara waktu diberikan dipiridamol, bukan aspirin.

3) Pneumonia Virus

Pneumonia Virus adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus.

§ Gambaran Klinik

Gejalanya berupa:

- batuk

- sakit kepala

- kekakuan dan nyeri otot

- sesak nafas

- demam

- menggigil

- berkeringat

- lelah

- kulit yang lembab

- mual dan muntah

- kekakuan sendi

§ Penyebab

Pneumonia merupakan suatu penyakit umum yang serius, yang setiap tahunnya menyerang 1 dari 100 penduduk. Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:

ï Virus sinsisial pernafasan

ï Hantavirus

ï Virus influenza

ï Virus parainfluenza

ï Adenovirus

ï Rhinovirus

ï Virus herpes simpleks

ï Sitomegalovirus


Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:

- virus sinsisial pernafasan

- adenovirus

- virus parainfluenza

- virus influenza.

- Virus campak juga dapat menyebabkan pneumonia, terutama pada anak yang mengalami kekurangan gizi.

Pada orang dewasa yang sehat, penyebabnya adalah 2 jenis virus influenza, yaitu virus influenza tipe A dan tipe B. Pneumonia pada orang dewasa juga bisa disebabkan oleh virus cacar air. Pada usia lanjut, pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus parainfluenza, influenza atau virus sinsisial pernafasan. Sitomegalovirus atau virus herpes simpleks bisa menyebabkan pneumonia yang berat pada penderita gangguan sistem kekebalan.

§ Pemeriksaan dan Diagnosis

Diagnosis dilakukan jika tidak ditemukan bakteri di dalam biakan dahak, karena sulit untuk mengisolasi virus dalam suatu biakan. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:

Fiksasi komplemen

Rontgen dada

Biopsi paru terbuka (hanya dilakukan pada penyakit yang sangat serius, jika diagnosis tidak dapat dilakukan dengan pemeriksaan lainnya).

§ Pengobatan

Tujuan pengobatan adalah memberikan terapi suportif karena infeksi virus tidak akan memberikan respon terhadap antibiotik. Terapi suportif terdiri dari:

- udara yang lembab

- tambahan asupan cairan

- tambahan oksigen

Untuk mencegah dehidrasi, mungkin penderita anak-anak dan lanjut usia perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Kadang diberikan obat antivirus (misalnya ribavirin atau amantadin, untuk virus influenza tipe A), terutama pada bayi dan anak-anak. Untuk pneumonia karena virus herpes dan cacar air bisa diberikan acyclovir. Beberapa penderita akan mengalami pemulihan dalam waktu 2 minggu, tanpa meninggalkan gejala sisa. Akibat yang fatal mungkin akan ditemukan pada:

- penderita lanjut usia

- penderita gangguan sistem kekebalan

- bayi yang menderita kelainan jantung bawaan

§ Pencegahan

Lanjut usia, pekerja kesehatan, dan penderita penyakit menahun (misalnya emfisema, penyakit jantung dan penyakit ginjal) dianjurkan untuk menjalani vaksinasi influenza sekali setiap tahun.

4) Sitomegalovirus

Infeksi Sitomegalovirus adalah suatu penyakit virus yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian pada bayi baru lahir.

§ Gambaran Klinik

Kebanyakan bayi yang menderita Sitomegalovirus kongentitalis tidak menunjukkan gejala. Hanya 10% yang menunjukkan gejala-gejala berikut:

- berat badan lahir rendah

- mikrosefalus (kepala kecil)

- kejang

- ruam kulit (bintik-bintik kecil berwarna keunguan)

- jaundice (sakit kuning)

- ubun-ubun menonjol

- pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali)

- peradangan retina

- kalsifikasi intrakranial (pengendapan mineral di dalam otak).

30% dari bayi tersebut meninggal. Lebih dari 90% bayi yang selamat dan 10% dari bayi yang tidak menunjukkan gejala, dikemudian hari akan mengalami kelainan saraf dan otak (diantaranya tuli, keterbelakangan mental dan gangguan penglihatan). Bayi yang terinfeksi setelah lahir bisa menderita pneumonia, pembesaran dan peradangan hati serta pembesaran limpa.

§ Penyebab

Sitomegalovirus kongenitalis terjadi jika virus dari ibu yang terinfeksi menular kepada janin yang dikandungnya melalui plasenta (ari-ari). Infeksi pada ibu mungkin tidak menimbulkan gejala sehingga ibu tidak menyadari bahwa sedang menderita infeksi Sitomegalo Virus.

Sesudah lahir, bayi bisa tertular oleh infeksi virus melalui ASI atau transfusi darah. Bayi cukup umur yang ibunya terinfeksi virus ini tidak menimbulkan gejala dan bayi yang diberi ASI terlindung oleh antibodi yang terkandung dalam ASI. Bayi prematur yang tidak mendapatkan ASI dan menjalani transfusi darah yang terkontaminasi akan menderita infeksi yang berat karena tidak memiliki antibodi.

§ Pemeriksaan dan Diagnosa

Diagnosis dilakukan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik serta riwayat infeksi virus pada ibu ketika hamil. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan terhadap contoh air kemih atau darah.

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

- Analisa air kemih untuk mencari badan inklusi virus

- Titer antibodi terhadap virus pada ibu dan bayi

- Rontgen kepala (menunjukkan adanya kalsifikasi intrakranial)

- Kadar bilirubin (untuk menilai beratnya jaundice dan kerusakan hati)

- Funduskopi (bisa menunjukkan adanya korioretinitis)

- Hitung darah lengkap (bisa menunjukkan adanya anemia)

- Rontgen dada (untuk menunjukkan pneumonia)

§ Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi virus ini pada bayi. Anti-virus gancyclovir tidak diberikan karena memiliki efek samping yang berbahaya bagi bayi. Pengobatan ditujukan kepada terapi fisik dan pemilihan sekolah khusus untuk anak-anak yang menderita keterbelakangan psikomotorik.

5) Rhinovirus

Pilek atau common cold adalah penyakit pada saluran napas atas yang disebabkan oleh infeksi virus yang disebut rhinovirus. Rhinovirus merupakan organisme mikroskopis yang menyerang sel-sel mukus pada hidung, merusak fungsi normal serta dapat memperbanyak diri di tempat-tempat yang telah diserang. Virus tersebut dapat bermutasi dan hingga saat ini ada sekitar 250 jenis rhinovirus, yang berarti ada 250 virus penyebab pilek. Sejauh ini, hanya sistem kekebalan tubuh yang dapat mengatasi infeksi setiap strain virus tersebut. Jika sekali orang terinfeksi oleh salah satu strain virus, sistem kekebalan tubuhnya akan membentuk antibodi terhadap strain virus tersebut.

§ Gambaran Klinik

Gejala awal pilek yang sering dialami penderita biasanya menggigil, tenggorokan kering, dan bersin-bersin. Selanjutnya badan meriang (meskipun tanpa disertai panas) dan hidung tersumbat pada satu sisi maupun kedua lubangnya disertai keluarnya cairan encer dan bening. Hal ini membuat penderita merasa kurang nyaman sehingga harus bernapas melalui mulut.

§ Penyebab

Pilek kemungkinan besar terjadi akibat adanya respons dari sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus yaitu dengan terjadinya pembengkakan dan inflamasi (peradangan) membran hidung, serta peningkatan produksi mukus. Mukus ini menangkap material yang kita hirup seperti debu, serbuk, bakteri dan virus. Pada saat mukus mengandung virus dan masuk ke dalam sel tubuh, maka seseorang akan mengalami keluhan-keluhan pilek.

Pilek bukanlah suatu kondisi yang serius, kecuali terjadi pada anak-anak atau orang tua (dapat timbul komplikasi), dan biasanya berlangsung 2-7 hari tergantung pada strain virus dan kondisi fisik penderita. Virus tidak dapat berpindah tempat sendiri, kecuali ada kontak dengan penderita, masuk ke sel-sel mukus hidung, yang dapat menular secara langsung yaitu melalui kontak dengan tangan penderita, atau melalui droplet (percikan liur) penderita yang keluar saat seorang penderita batuk atau bersin.

Pada awalnya, rhinovirus menyerang tenggorokan, menyebabkan sel-sel mukus memperbanyak diri dan dindingnya menebal yang dirasakan seperti gatal di tenggorokan. Ini merangsang terjadinya batuk yang dapat mengakibatkan virus tersebut keluar beterbangan di udara sekitar 70 mil per jam. Batuk merupakan reaksi refleksi penderita terhadap rasa gatal di tenggorokan yang menyebabkan kontraksi otot depan perut dan selanjutnya mendorong diafragma dan menekan paru-paru serta mendorong udara yang mengandung virus keluar dari tenggorokan.

Selain refleksi batuk, virus juga dapat ditularkan melalui bersin dari seorang penderita. Rata-rata jika penderita bersin sehari 100 kali dalam satu ruangan, maka udara di ruangan tersebut akan mengandung sekitar 4.000.000 droplet virus yang siap menyerang penderita baru. Virus itu akan menempel pada permukaan benda di sekitarnya, dan bila seseorang menyentuh permukaan benda itu selanjutnya menggosok hidung atau mata, maka orang tersebut kemungkinan akan mengalami gejala pilek.

Kelompok yang secara pasti lebih mudah tertular adalah orang-orang yang mempunyai kelainan pada hidung atau tenggorokan seperti pembesaran amandel, kelelahan atau stres emosional, alergi di hidung atau tenggorokan serta wanita pada pertengahan siklus menstruasi.

Kedinginan tidak menyebabkan pilek atau meningkatkan risiko untuk tertular. Pilek ternyata tidak memiliki korelasi dengan kondisi dingin yang biasa disebabkan oleh hujan. Kemungkinan pada saat musim hujan banyak dari kita yang tinggal di dalam ruangan, di mana bila ada satu penderita pilek di ruang tersebut tentunya tidak mungkin bebas dari serangan virus yang beterbangan saat penderita batuk atau bersin. Selain faktor cuaca yang ternyata tidak menjadi pencetus pilek ternyata juga tidak berhubungan dengan kebiasaan makan seseorang.

§ Pengobatan

Penderita sebaiknya berbaring sehingga rongga hidung lapang dan “ingus” mengalir ke perut hingga melegakan jalan napas mereka atau berbaring ke satu sisi agar rongga hidung sebelah atas menjadi lapang. Pada kondisi ini, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan, selain menunggu sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi yang dapat melawan virus tersebut. Hal ini dapat terjadi dalam 3-5 hari, dan selanjutnya, seumur hidupnya orang tersebut tidak akan pernah menderita pilek yang disebabkan oleh strain virus tersebut.

Demam tinggi disertai pembengkakan kelenjar, nyeri wajah di atas sinus dan batuk berdahak, mengisyaratkan adanya komplikasi atau penyakit yang lebih serius, dan membutuhkan penanganan dokter.

Pengobatan untuk kasus tanpa komplikasi hanyalah istirahat cukup, minum air yang banyak, serta berkumur dengan air garam hangat. Minum air hangat yang banyak membantu lendir lebih mudah dikeluarkan. Banyak obat yang sudah dicoba untuk mencegah atau mengobati pilek, tapi selama ini belum ada yang terbukti efektif. Vitamin C dengan dosis besar pun belum terbukti efektif untuk bisa mencegah penularan terhadap virus ini, malah dapat mengakibatkan efek samping lain seperti diare yang berbahaya bagi anak-anak dan orang tua. Antibiotika tidak dapat membunuh virus dan hanya diberikan bila timbul komplikasi seperti sinusitis atau infeksi telinga yang dapat berkembang sebagai infeksi sekunder.

Bila perlu, minum obat lebih baik diberikan sesuai dengan keluhan. Parasetamol diberikan untuk mengurangi keluhan demam atau sakit kepala, nasal dekongestan untuk melegakan hidung sesaat, dan antihistamin dapat mengurangi “ingus” pada penderita dengan riwayat alergi. Namun perlu diingat sekali lagi bahwa obat-obat tersebut tidak akan dapat mencegah, mengobati ataupun mengurangi lamanya serangan pilek. Bahkan sebagian besar obat mengakibatkan efek samping yang juga harus diperhitungkan.

§ Pencegahan

Langkah terpenting dalam pencegahan terhadap serangan virus ini adalah menjaga kebersihan dengan baik serta tidak menggosok hidung maupun mata dengan tangan kotor. Kebiasaan mencuci tangan merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah tertularnya serangan virus ini. Penderita pilek sebaiknya menyiapkan tisu untuk menutup mulut apabila batuk atau bersin, lalu membuangnya di tempat semestinya. Bila perlu, sebaiknya jangan terlalu lama berhubungan atau terlalu dekat dengan seorang penderita pilek. Sebab, rhinovirus dapat bertahan di luar saluran napas sampai tiga jam.

6) Hantavirus

Infeksi Hantavirus adalah suatu penyakit virus yang ditularkan dari hewan pengerat kepada manusia dan menyebabkan infeksi paru-paru dan ginjal yang berat.

§ Gambaran Klinik

Infeksi paru-paru dimulai dengan demam dan nyeri otot. Juga terjadi nyeri perut, diare atau muntah-muntah. Setelah 4-5 hari, timbul batuk dan sesak nafas yang bisa memburuk dalam beberapa jam. Hilangnya cairan ke dalam paru-paru bisa menyebabkan penurunan tekanan darah yang drastis (syok). Kematian biasanya terjadi setelah syok. Infeksi paru-paru ini berakibat fatal, tetapi mereka yang bertahan hidup bisa sembuh sempurna.

Infeksi ginjal bisa ringan maupun berat. Infeksi ringan dimulai secara tiba-tiba dengan demam tinggi, sakit kepala, sakit punggung dan nyeri perut. Pada hari ke-3 atau ke-4, muncul bercak kecil seperti memar di bagian putih mata dan di langit-langit mulut bersamaan dengan munculnya kemerahan di perut. Fungsi ginjal memburuk sehingga bahan-bahan beracun terkumpul dalam darah menyebabkan mual, kehilangan nafsu makan, dan kelemahan. Kemerahan akan menghilang dalam 3 hari. Pengeluaran air kemih berangsur-angsur kembali normal dan penderita akan sembuh dalam beberapa minggu.

Infeksi ginjal yang berat permulaannya hampir sama, tetapi demam yang paling tinggi terjadi pada hari ke-3 atau ke-4. Gejala awal yang khas adalah kulit wajah yang kemerahan seperti terbakar sinar matahari. Bila kulit ditekan, akan timbul tanda merah yang menetap. Bintik-bintik perdarahan (peteki) muncul pada hari ke3-ke5, awalnya di langit-langit mulut, lalu di seluruh kulit yang bisa ditekan. Timbul perdarahan dibawah bagian putih mata.
Pada hari ke5, tekanan darah bisa menurun tajam dan bisa terjadi syok. Pada hari ke8, tekanan darah kembali normal, tetapi pengeluaran air kemih berkurang. Pengeluaran air kemih kembali meningkat pada hari ke11.
Pada saat ini, perdarahan, terutama di otak, bisa menyebabkan kematian. Infeksi hantavirus berakibat fatal pada 5% penderita. Beberapa yang bertahan hidup, menderita kerusakan ginjal yang menetap.

§ Penyebab

Hantavirus merupakan bunyavirus yang mempunyai hubungan jauh dengan kelompok Kalifornia dari virus ensefalitis. Hantavirus bisa ditemukan di seluruh dunia, dalam air kemih, tinja, dan air liur dari beberapa binatang pengerat, termasuk mencit dan tikus ladang dan tikus laboratorium. Manusia mendapatkan infeksi ini bila berhubungan dengan hewan pengerat atau kotorannya, atau bila menghisap partikel virus dalam udara. Namun, belum ditemukan bukti mengenai penularan dari manusia ke manusia.

§ Pemeriksaan dan Diagnosa

Diagnosis dini sulit ditegakkan mengingat gejalanya banyak tumpang tindih dengan penyakit lain akibat virus. Tetapi infeksi virus Hanta perlu dipikirkan bila ada demam, mialgia berat (nyeri otot) dan terpapar oleh tikus. Diagnosis pasti berdasarkan hasil pemeriksaan darah ELISA (IgM, IgG), imunohistokimia mendeteksi antigen di jaringan, isolasi virus dan atau pemeriksaan lain.

Dalam menegakkan diagnosis infeksi Hanta sering terjadi kesalahan karena gejalanya sering dianggap seperti influenza, tanda-tanda umum infeksi pada saluran napas tidak selalu terjadi, dan nyeri perut yang timbul ditafsirkan sebagai appendicitis (radang usus buntu), sementara para dokter sendiri belum banyak mengenal penyakit infeksi virus Hanta.

§ Pengobatan

Pemberian obat anti-virus ribavirin akan efektif jika diberikan secara dini. Untuk infeksi paru-paru, pemberian oksigen dan pengawasan tekanan darah sangat membantu proses penyembuhan. Untuk infeksi ginjal, perlu dilakukan dialisa.

7) Virus Hepatitis

Virus hepatitis adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi pada organ hati. Samapai saat ini telah dikenal 5 virus hepatitis, yaitu Virus Hepatitis A (HAV), Virus Hepatitis B (HBV), Virus Hepatitis C (HCV), Virus Hepatitis D (HDV), Virus Hepatitis E (HEV).

Hepatitis akut merupakan infeksi sistemik yang terutama mengenai hati dan bersifat akut. Setelah paparan pada virus, terjadi masa inkubasi. Gejala awal adalah demam yang bervariasi tergantung dari virus penyebab, malaise, anoreksia, nausea, dan nyeri pada sendi, otot serta kepala. Urin berwarna terdapat 1-5 hari sebelum terjadi fase ikterus. Dengan timbulnya ikterus, gejala awal biasanya menurun, tetapi pada beberapa pasien terjadi penurunan berat badan. Gejala lainnya adalah adanya rasa gatal, hati membesar dan terdapat nyeri tekan, limpa membesar disertai adenopati pada kelenjar leher.

Kelainan biokimiawi yang ditemui adalah peninggian serum bilirubin dan enzim alanineeminotransferase dan aspartateaminotransferase. Diagnosis hepatitis anikterik sukar dilakukan karena didasarkan atas gambaran klinis dan peninggian enzim amino transferase, meskipun adakalanya kadar bilirubin meninggi.

Pengukuran waktu protrombin sangat penting pada hepatitis akut pleh virus, karena perpanjangan waktu ini dapat menunjukkan adanya kerusakan hati yang ekstensif serta mengisyaratkan prognosis yang buruk.

Lesi morfologik terdiri dari infiltrasi panlobular dengan sel mononuklear, nekrosis sel hati, hyperplasia sel Kupfer dan berbagai derajat kolestasis. Terdapat juga regenerasi sela hati yang terlihat dengan adanya berbagai gambaran mitosis, sel multinuklear dan pembentukkan rosette. Infiltrasi mononuklear terdiri terutama dari sel limfosit kecil, meskipun sel plasma dan eosinofil kadang terlihat. kerusakan sel hati terdiri dari degenerasi dan nekrosis sel hati, menggembungnya sel, menghilangnya sel dang degenerasi asidofilik dari hepatosit. Lesi hepatologik yang berat yang disebut bridging hepatic necrosis atau subacute/confluent necrosis kadang ditemukan pada beberapa pasien, hati masih membesar, begitu pula masih ditemui kelainan biokimiawi.

Penyembuhan secara klinik dan biokimiawi diharapkan dalam 1-2 bulan pada kasus HAV dan HEV serta 3-4 bulan pada HBV dan HCV.

Hepatitis fulminan adalah suatu keadaan dengan gejala dan tanda ensefalopati hepatic pada pasien hepatitis akut, keadaan sering berlanjut menjadi koma.Gejala awal berupa gangguan tidur, mimpi buruk, dan perubahan kepribadiaan. Perkembangan ke arah ensefalopati terlihat dari adanya gangguan kesadaran yang mula-mula ringan sampai akhirnya koma.

Secara histologis ditemukan nekrosis massif dan hilangnya sel hati pada lobules disertai kolaps ekstensif dan kondensasi jaringan retikulin. Kelainan yang ditemui adalah:

- mengecilnya ukuran hati secara mendadak

- demam tinggi

- gangguan kesadaran

- kenaikkan serum bilirubin yang tajam

- pemanjangan waktu protrombin

- kenaikkan aminotransferase secara tajam yang kemudian diikuti penurunan

Sebagian pasien dengan hepatitis akut, akan berkembang menjadi kronik. Ada 3 hepatitis kronik, yaitu hepatitis kronik aktif, persisten, dan lobular yang perbedaannya dilakukan dengan biopsi hati.

Hepatitis kronik aktif ditemukan nekrosis hati yang berlangsung terus menerus, peradangan aktif dan fibrosis yang mungkin menuju atau disertai gagal hati, sirosis, dan kematian. Pemeriksaan biokimiawi menunjukkan kenaikkan dan fluktuasi aminotransferase, sedangkan bilirubin sedikit meninggi pada kasus yang berat.Waktu protrombin sering memanjang pada fase akhir. Umumnya ditemukan antibodi nonspesifik yang beredar dalam darah seperti antibodi terhadap mitokondria, otot polos, dan lain-lain.

Sirosis adalah istilah patologik yang ada hubungannya dengan spektrum manifestasi klinik yang khas. Gambaran patoogik yang utama adalah kerusakan kronik parenkim hati dan terdiri dari fibrosis ekstensif yang berkaitan dengan pembentukkan nodul regeneratif. Hilangnya fungsi hati dapat menyebabkan keadaan ikterik, edema, koagulopati, berbagai kelainan metabolik, fibrosis dan gangguan sistem vaskuler yang menyebabkan hipertensi portal dan gejala sisanya yaitu varises gastroesofagus dan splenimegali. Asites dan ensefalopati hepatik merupakan akibat dari insufisiensi hepatoseluler dan hipertensi portal.

Karsinoma hepatoseluler adlah kanker primer pada sel hati. Sering tidak terdeteksi secara dini pada pasien yang menderita sirosis. Adanya pembesaran hati disertai nyeri tekan yang ringan pada perut merupakan keluhan utama. Pemeriksaan laboratorik biasanya menunjukkan adanya anemia dan peningkatan kadar fosfatase alkali. Diagnosis dilakukan dengan ultrasonografi atau CT scan yang memperlihatkan lesi dengan kepadatan berbeda dari jaringan hati normal dan pemeriksaan biopsi hati.

1. Virus Hepatitis A (HAV)

HAV dapat menimbulkan penyakit hepatitis akut dan jarang sekali hepatitis fulminan. Masa inkubasi pendek sekitar 15-40 hari. Virus masuk ke dalam tubuh terutama melalui oral karena virus banyak ditemukan dalam tinja. Cara penularan melalui fekal-oral. Deteksi infeksi HAV pada pasien dilakukan dengan:

Menemukan virus dalam tinja dengan mikroskop electron

Menemukan IgM anti HAV dalam darah

Saat ini sedang dikembangkan pembuatan vaksin terhadap HAV, salah satu diantaranya telah disetujui untuk digunakan.

2. Virus Hepatitis B (HBV)

HBV dapat menimbulkan penyakit hepatitis akut/kronik, fulminan, sirosis, dan kanker hati. Masa inkubasi lama antara 50-180 hari. Virus masuk melalui darah. HBV dapat ditemukan dalam darah, saliva, urine, cairan semen, monosit, leuksosit, sumsum tulang dan pankreas, dan jumlah terbanyak terdapat dalam darah.

Kelompok orang yang beresiko tinggi terinfeksi adalah tenaga medis dan dokter gigi, pasien dengan hemodialisis, pemakai obat intravena, homseksual, pengelana internasional, pekerja pad institusi untuk yang mentalnya terbelakang, dan bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi HBV.

Deteksi HBV dilakukan dengan:

ï Menemukan virus dalam darah dengan mikroskop electron

ï Menemukan pertanda serologi

ï Menemukan HBV DNA dengan hibridsasi atau PCR

ï Menemukan pertanda infeksi HBV pada jaringan biopsi hati

Untuk pencegahan telah beredar berbagai macam vaksin, baik yang mengandung HBsAg atau yang dibuat dengan teknik DNA rekombinan. Ada yang hanya berisi HBsAg dan ada juga yang mengandung protein.

3. Virus Hepatitis C (HCV)

Merupakan penyebab utama hepatitis non A non B (NANB) pasca transfuse. Masa inkubasi umumnya berkisar antara 6-12 minggu.

Infeksi kaut umumnya lebih ringan daripada hepatitis B dan sevagian besar tidak terjadi ikterik.Gambaran khas adalah peningkatan SGPT yang berfluktuasi (polifasik), meskipun pada sebagian kecil peningkatan SGPT bersifat resisten atau monofasik.

Infeksi yang persisten merupakan cirri khas infeksi HCV; diduga 50% kasus infeksi HCV pasca transfuse menjadi hepatitis kronik yang ditandai dengan adanya peningkatan SGPT yang berfluktuasi atau menetap lebih dari 1 tahun setelah serangan akut. Infeksi kronik umumnya bersifat progresif, karena pada pemeriksaan biopsi hati ditemukan gambara histologis berupa hepatitis kronik aktif maupun sirosis.

Infeksi HCV dapat juga menimbulkan karsinoma sel hati. Mekanisme karsinoma oleh HCV belum diketahui pasti tetapi diduga berkaitan infeksi HCV persisten yang menyebabkan kerusakan hati kronis dan nekrosis yang diikuti regenerasi sel hati secara terus menerus. Meningkatnya jumlah sel hati memperbesar terjadinya mutasi yang dapat menyebabkan sel mengalami transformasi menuju ke arah keganasan.

4. Virus Hepatitis D (HDV)

Hepatitis karena delta virus umumnya bentuk akut, kronik aktif dan sirosis. Kadang-kadang dapat menyebabkan bentuk fulminan. Infeksi HDV kronik lebih banyak menimbulkan sirosis daripada HBV. Secara epidemiologik, infeksi HDV banyak ditemukan di daerah Timur jauh dan Laut Tengah.

Deteksi infeksi HDV dilakukan dengan:

v Menemukan penanda serologik

v Adanya RNA HDV pada serum

5. Virus Hepatitis E (HEV)

Masa inkubasi antara 2 sampai 9 minggu. Merupakan penyakit yang self limiting seperti infeksi HAV. Belum ditemukan bentuk penyakit hati kronis atau viremia persisten. Menimbulkan banyak kematian pada wanita hamil. Terbanyak ditemukan pada usia 15-40 tahun. Diduga ada kasus subklinis pada usia yang lebih muda.

Wabah terjadi pada negara berkembang terutama India. Kasus sporadic terdapat pada daerah endemik. Penularan melalui air minum dan lingkungan yang terkontaminasi tinja. Puncak epidemic terjadi kira-kira 6 minggu setelah paparan primer. Kematian tinggipada wanita hamil yang terinfeksi.


VIROLOGI October 31, 2008

Posted by filzahazny in imunologi virologi.
Tags: ,
1 comment so far

1. A. Sifat-sifat Virus

Virus adalah agen infeksius terkecil (dengan diameter antara 20 nm sampai dengan kira-kira 300nm) yang hanya mempunyai 1 jenis asam nukleat (RNA atau DNA saja) sebagai genom mereka. Asam nukleat terbungkus mantel protein yang dikelilingi oleh membran dari lipid. Unit infeksius secara keseluruhan disebut virion. Dalam lingkungan ekstraseluler virus akan bersifat inert (pasif). Virus hanya akan mengalami replikasi di dalam sel hidup dengan menjadi parasit pada tingkat gen. Asam nukleat virus mengandung informasi penting untuk bisa menghasilkan keturunannya yaitu dengan cara memprogram sel inang yang diinfeksinya agar mensintesis makromolekul virus-spesifik.

Setiap siklus replikasi menghasilkan asam nukleat dan mantel protein virus dalam jumlah yang banvak. Mantel protein virus bergabung bersama-sama membentuk kapsid yang berfungsi membungkus dan menjaga stabilitas asam nukleat virus terhadap lingkungan ekstraseluler. Selain itu juga berfungsi untuk mempermudah penempelan serta penetrasi virus terhadap sel baru yang dapat dimasukinya. Infeksi virus terhadap sel inang yang dimasukinya dapat berefek ringan atau bahkan tidak berefek sama sekali namun mungkin juga bisa membuat sel inang rusak atau bahkan mati.

Adapun sifat-sifat khusus virus menurut Lwoff, Home dan Tournier (1966) adalah:

  1. Bahan genetik virus terdiri dari asam ribonukleat (RNA) atau asam deoksiribonukleat (DNA), akan tetapi tidak terdiri dari kedua jenis asam nukleat sekaligus.
  2. Struktur virus secara relatif sangat sederhana, yaitu terdiri dari pembungkus yang mengelilingi atau melindungi asam nukleat.
  3. Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup, yaitu di dalam nukleus, sitoplasma atau di dalam keduanya dan tidak mengadakan kegiatan metabolisme jika berada di luar sel hidup.
  4. Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner. Partikel virus baru dibentuk dengan suatu proses biosintesis majemuk yang dimulai dengan pemecahan suatu partikel virus infektif menjadi lapisan protein pelindunng dan komponen asam nukleat infektif.
  5. Asam nukleat partikel virus yang menginfeksi sel mengambil alih kekuasaan dan pengawasan sistem enzim hospesnya, sehingga selaras dengan proses sintesis asam nukleat dan protein virus.
  6. Virus yang menginfeksi sel mempergunakan ribosom sel hospes untuk keperluan metabolismenya.
  7. Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung di dalam sel hospes tidak lama sebelum dibebaskan.
  8. Selama berlangsungnya proses pembebasan,beberapa partikel virus mendapat selubung luar yang mengandung lipid protein dan bahan-bahan lain yang sebagian berasal dari sel hospes.
  9. Partikel virus lengkap disebut virion dan terdiri dari inti asam nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik yang disebut kapsid dengan atau tanpa selubung di luar kapsid.

1.B. Prinsip-Prinsip Struktur Virus

Jenis-jenis Bentuk Tangkup Partikel Virus

Arsitektur virus dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan pada susunan sub unit morfologi:

1. Bentuk tangkup kubus, contoh: adenovirus

2. Bentuk tangkup heliks, contoh: orthomyxovirus

1. Tangkup Berbentuk Kubus

Semua bentuk tangkup kubus yang terlihat pada virus binatang adalah berpola icosahedral yaitu susunan sub unit yang paling efisien di dalam mantel tertutup. Icosahedron mempunyai 20 muka (masing-masing sebuah segitiga ekuilateral), 12 puncak, dan bentuk aksis rotasionalnya 5 lipatan, 3 lipatan, dan 2 lipatan. Unit puncak mempunyai 5 perbatasan (pentatavalen), dan yang lain mempunyai 6 (heksavalen).

Ada 60 subunit identik yang nyata pada permukaan dari icosahedron. Untuk membangun suatu ukuran partikel yang adekuat dalam menyelubungi genom virus, mantel virus disusun multiple dari 60 struktur unit. Pemakaian sejumlah besar sub unit protein yang identik secara kimiawi, sambil menjaga aturan bentuk tangkup icosahedral, dikerjakan oleh subtriangulasi masing-masing permukaan icosahedron.

Kebanyakan virus yang mempunyai tangkup icosahedral, tidak berbentuk icosahedral; tampilan fisik partikelnya lebih berbentuk spheris.

Asam nukleat virus memadat di dalam partikel isometric, virus mengkode inti protein atau di dalam kasus papovavirus, histone seluler terlibat di dalam kondensasi asam nukleat ke dalam bentuk yang pantas untuk pembungkusan. Terdapat pemaksaan ukuran molekul asam nukleat yang bisa dibungkus ke dalam kapsid icosahedral tertentu. Kapsid icosahedral terbentuk tidak tergantung dari asam nukleat. Kebanyakan preparasi virus isometric akan berisi beberapa partikel kosong yang tidak berisi asam nukleat virus. Baik kelompok virus DNA maupun RNA menunjukkan contoh tangkup berbentuk kubus.

2. Tangkup Berbentuk Heliks

Pada kasus tangkup berbentuk heliks, protein subunit terikat terhadap asam nukleat virus secara periodik, dan membelitnya ke dalam heliks. Kompleks protein asam nukleat virus filamentosa (nukleokapsid) kemudian terlilit ke dalam bungkus (amplop) yang mengandung lemak. Dengan demikian, tidak seperti nada kasus struktur icosahedral, pada virus dengan tangkup berbentuk heliks terdapat interaksi periodic, regular antara protein kapsid dan asam nukleat. Partikel heliks kosong tidak mungkin terbentuk.

Pengukuran Partikel Virus

Sifat klasik dari virus adalah berukuran kecil dan mampu melewati suatu filter yang tidak bisa dilewati oleh bakteri. Namun, karena ada beberapa bakteri yang mungkin mempunyai ukuran lebih kecil dari virus yang terbesar, maka kemampuan untuk dapat melewati sebuah filter menjadi tidak menggambarkan ciri khas dari virus.

Berikut ini adalah metode yang digunakan untuk menentukan ukuran virus beserta komponennya.

A. Melihat langsung dengan menggunakan mikroskop elektron

Untuk melihat virus dengan cara ini maka diperlukan preparat yang terbuat dari ekstrak jaringan atau irisan ultra tipis dari sel yang terinfeksi. Mikroskop elektron ini merupakan cara atau metode yang paling luas digunakan untuk memperkirakan ukuran partikel.

B. Filtrasi melalui membran penyerapan bertingkat

Apabila preparat virus berhasil melalui membran yang sudah diketahui ukuran pori-porinya, maka dapat diperkirakan ukuran dari virus tersebut yaitu dengan cara menentukan membran mana yang bisa dilewati oleh unit infektif dan mana yang menahannya. Namun demikian, masuknya virus ke dalam pori­pori membran tersebut juga dipengaruhi oleh bentuk struktur fisik dari virus itu sendiri, maka cara ini hanya bisa memperoleh perkiraan ukuran virus yang paling mendekati.

C. Sedimentasi dengan menggunakan ultrasentrifuge

Apabila partikel-partikel itu larut dalam cairan maka mereka akan mengendap sesuai proporsi ukuran mereka. Jika dengan ultrasentrifuge dengan kekuatan lebih dari 100.000 kali gravitasi mungkin bisa digunakan untuk menggiring partikel agar mengendap di dasar tabung. Hubungan antara ukuran dan bentuk partikel serta rata-rata pengendapannya bisa menentukan ukuran nartikel. Sekali lagi, struktur fisik virus akan mempengaruhi perkiraan ukuran yang diperoleh.

D. Pengukuran dengan perbandingan

Dengan membandingkan dengan ukuran bakteriofag, molekul protein, dan sebagainya.

2. Komposisi Kimia Virus

Untuk dapat menganalisis komponen kimia virus, diperlukan virus murni. Untuk pemurnian dipakai bahan-bahan yang mengandung virus dalam jumlah besar dari jaringan atau biakan sel terinfeksi atau bahan ekstraselular seperti plasma, dan carian alantois, medium biakan sel ataujaringan.

Adapun komposisi kimia virus adalah sebagai berikut:

1. Asam Nukleat

Virus-virus hewan dan tumbuhan mengandung DNA dan RNA, tetapi virion yang sama tidak dapat mengandung kedua-duanya. Hal ini berbeda dengan semua bentuk kehidupan selular tanpa terkecuali mengandung kedua tipe asam nukelat dalam setiap sel. Ada empat jenis asam nukleat yang mungkin, yaitu:

DNA berutasan tunggal

RNA berutasan tunggal

DNA berutasan ganda

RNA berutasan ganda

Keempat tipe itu telah dijumpai pada virus hewan. Pada virus tumbuhan, telah dijumpai RNA berutasan tunggal dan ganda serta DNA berutasan tunggal. Disamping itu, struktur asam nukleat di dalam virion dapat lurus atau bundar. Sebagai contoh, virus simian membentuk vakuola (SV 40). Yang dijumpai pada sel-sel ginjal kera mempunyai DNA bundar berutasan ganda sedangkan virus herpes mempunyai DNA lurus berutasan ganda. Pengertian tentang asam nukleat virus mempunyai arti penting untuk memahami roses perkembang biakan virus, sifat biologik, dan sebagainya.

Misalnya:

Ukuran asam nukleat dihubungkan dengan jumlah informasi genetik yang dibawanya.

Segmentasi asam nukleat pada virus influenza dihubungkan dengan terjadinya rekombinasi genetika yang menimbulkan terjadinya antigenic shift, derajat homolog basa-basa asam nukleat dihubungkan dengan taksonomi virus.

2. Protein

Protein ialah komponen kimiawi utama terbesar dari struktur virus dan merupakan komponen tunggal dari kapsid, bagian terbesar dari selubung, dan dapat merupakan bagian protein inti (core protein) pada beberapa virus ikosahedral. Protein diatas disebut juga sebagai protein struktural karena mempunyai fungsi membentuk rangka virion.

Banyak virus kini telah diketahui mengandung enzim-enzim yang berfungsi dalam replikasi komponen-komponen asam nukleatnya. Beberapa virion dapat mengandung suatu enzim khusus yang menggunakan RNA virus sebagai model untuk mesintesis utasan RNA kedua yang dapat mengarahkan sel-sel inang untuk membuat virus. Virus tumor RNA mengandung suatu enzim yang mensintesis utasa DNA dengan menggunakan genom RNA virus sebagai acauan.

Beberapa virus yang mengandung enzim, dapat dikatagorikan ke dalam tiga golongan:

1. Neuramisida yang menghidrolisis galaktosa N asetil neuraminat. Enzim ini terdapat pada orthomyxovirus yaitu pada salah satu tonjolan glikoproteinnya. Enzim ini berfungsi membantu penetrasi ke dalam sel.

2. Beberapa jenis virion mengandung RNA polomerasi. Jika genom birus merupakan genom yang langsung dapat bertindak sebagai mRNA, maka ekspresi gendom dapat terjadi secara langsung. Hal demikian ditemukan pada picornavirus dan argovirus. Tetapi jika genom virus berupa DNA atau RNA dengan polaritas negatif, maka sebelum genom tersebut diexpresikan dalam bentuk protein, terlebih dahulu harus di traskipsikan menjadi RNA dengan polaritas positif. Dalam hal yang disebut terakhir, terdapat dua jenis sumber enzim polimerase. Pertama virus menggunakan polimerase yang terdapat di dalam sel hospes, seperti pada herpes virus, adenovirus, papofavirus. Kedua, virion mengandung polimerase sendiri seperti pada poxvirus, myxsovirus, rhabdovirus. Retrovirus mempunyai enzim traskripsi terbalik yang berfungsi membentuk DNA dari cetakan RNA.

3. Beberapa virion juga mengandung enzim yang bekerja pada asam nukleat. Adenovirus, poxvirusm dan retrovirus misalnya mengandung enzim nukleus.

3. Lipid

Berbagai ragam senyawa lipid (lemak) telah ditemukan pada virus. Senyawa-senyawa ini meliputi fosfolipid, flikolipid, lemak-lemak alamiah, asam lemak, aldehid lemak, dan kolesterol. Virus yang berselebung mengandung lipid netral, fosfolipid, dan glikolipid pada selubungnya. Komposisi campuran ini tergantung pada jenis sel yang diinfeksikan, median dimana sel tumbuh dan jenis virus yang menginfeksi.

4. Karbohidrat

Semua virus mengandung karbohidrat karena asam nukleatnya itu sendiri mengandung ribose dan deoksiribose. Beberapa virus hewan bersampul seperti virus influensa dan mikro virus yang lain, pada umumnya terdapat duri-duri yang terbuat dari glikoprotein. Unsur karbohidratnya terdiri dari monosakarida yang dihubungkan dengan rantai polipeptida oleh ikatan glikosida.

3. Pembiakan Virus

Virus adalah parasit obligat intrasel, karenanya virus tidak dapat berkembang biak di dalam medium mati. Ada tiga cara mengembangbiakan virus, yaitu: cara perbenihan jaringan (in vitro) dan telur bertunas (in ovo).

  1. Cara perbenihan jaringan (in vitro)

In vitro pada sel yang ditumbuhkan dalam bentuk potongan organ (biakan organ), potongan kecil jaringan (biakan jaringan), sel-sel yang telah dilepaskan dari pengikatnya (biakan sel). Biakan organ dan biakan jaringan hanya dapat bertahan dalam beberapa hari sampai beberapa minggu saja. Sedangkan biakan sel dapat bertahan beberapa hari sampai beberapa waktu yang tak terbatas, tergantung pada jenis biakan. Biakan sel terbagi atas:

Biakan sel primer

Sel diambil dalam keadaan segar dari binatang. Sel demikian mampu secara terbatas membelah dan selanjutnya mati, misalnya biakan primer berasal dari ginjal monyet, embrio ayam, dll.

Proses pembuatan biakan sel dimulai dengan pelepasan sel-sel dari alat-alat tubuh dengan mengocok sepotong jaringan dengan larutan tripsin. Sel-sel yang didapatkan dalam suspensi ini kemudian dibiakan dalam larutan pembenihan tertentu. Sel-sel akan tumbuh melekat pada dinding tabung sampai mebentuk selapis jaringan yang siap digunakan untuk pembiakan virus. Sel-sel ini dapat dipindahbiakan dengan membuat suspensi baru dan disebarkan dalam tabung-tabung lain sehingga didapat biakan sekunder.

Tergantung pada asal sel, di dalam biakan jaringan akan didapatkan sel-sel jenis tertentu. Misalnya biakan sel-sel jaringan yang berasal dari ginjal monyet akan menghasilkan sel-sel jenis epitel. Biakan yang berasal dari embrio ayam akan menghasilkan sel jenis fibroblas. Jenis sel tertentu diperlukan untuk pembiakan virus-virus tertentu.

Virus yang dibiakan di dalam sel biakan jaringan dapat menimbulkan ESP (Efek Sitopatogenik), seperti perubahan bentuk sel menjadi lebih bulat, perubahan pada inti sel, kemungkinan pembentukkan jisim atau sel sinsitia dan juga sel-sel akan melepas dari dinding tabung.infeksi selanjutnya akan menyerang sel-sel disekitarnya dan bila pada tepat itu sudah ada banyak sel yang terlepas, maka akan tampak sebagai tempat yang berlubang dan tempat ini disebut plaque. Tiap virion infektif dalam biakan sel dapat membentuk plaque dan ini dapat dipakai untuk titrasi virus, sama halnya dengan pembentukkan koloni oleh kuman pada permukaan perbenihan padat.

Biakan sel haploid

Yaitu kumpulan satu jenis sel yang mampu membelah kira-kira 100 kali sebelum mati.

Biakan sel letusan (continous cell lines culture)

Yaitu sel yang mampu membelah tak terbatas. Kromosomnya sudah bersifat poliploid atau aneuploid. Dapat berasal dari sel tumor ganas ataupun sel diploid yang telah mengalami transformasi. Diantaranya adalah sel Hela, Hep-2, KB yang berasal dari manusia, BHK-21 yang berasal dari binatang hamster, sel LLC-MK dari ginjal monyet, J-III dari leukemia manusia dan sebagainya.

Cara pembiakan in vitro dapat bermanfaat untuk:

Isolasi primer virus dari bahan klinis. Untuk itu, dipilih sel yang mempunyai kepekaan tinggi, mudah dan cepat menimbulkan ESP

Pembuatan vaksin. Untuk itu, dipilih sel yang mampu menghasilkan virus dalam jumlah besar

Penyelidikan biokimiawi, biasanya dipilih biakan sel terusan dalam bentuk suspensi

  1. Cara telur bertunas (in ovo)

Telur juga merupakan perbenihan virus yang sudah steril dan embrio telur yang tumbuh di dalamnya tidak mebentuk zat anti yang dapat mengganggu pertumbuhan virus. Karena telur merupakan sumber sel hidup yang relatif murah untuk isolasi virus, maka cara in ovo ini sering digunakan dalam laboratorium.

Cara pertama: dengan mempergunakan lapisan luar (lapisan ektoderm) selaput korioalantois telur berembrio 10 hari. Cara penanaman ini berguna untuk isolasi virus yang menyebabkan kelainan pada kulit yang dulu digolongkan sebagai virus dermatotrofik seperti virus variola, virus vaccinia, dan virus herpes. Tiap virion yang infektif akan meyerang sel-sel di sekitarnya dan menibulkan reaksi inflamasi yang dapat dilihat sebagai bercak putih yang disebut pock. Pock ini berlainan ukurannya dan bersifat bergantung pada virus yang menyebabkannya. Cara penanaman pada selaput korioalantois juga berguna untuk titrasi virus dan titrasi antibodi terhadap virus dengan teknik menghitung jumlah pock.

Cara kedua: dengan menyuntikkan bahan ke dalam ruang anion terlur berembrio yang berumur 10-15 hari. Cara ini terutama untuk isolasi virus influenza dan virus parotitis karena virus ini tumbuh di dalam sel epitel paru-paru embrio yang sedang berkembang. Adanya perkembangan virus dikenal dengan adanya reaksi hemaglutinasi.

Cara ketiga: dengan menyuntikkan bahan pada kantung kuning telur berembrio 9-12 hari. Teknik penanaman ini menggunakan penyuntikan langsung melalui lubang kecil di kulit telur ke dalam kantung kuning telur. Dipakai untuk isolasi mikroorganisme golongan Bedsonia dan Rickettsia. Untuk maksud pembiakan in vivo suspensi virus diinfeksikan pada binatang percobaan yang cocok. Mencit yang baru lahir misalnya digunakan untuk virus-virus golongan arbovirus, coxsackie virus. Hamster banyak digunakan untuk golongan herpes virus tertentu. Adanya pertubuhan virus dikenal oleh timbulnya gejala-gejala yang khas atau adanya perubahan patologis lain.

Adapun perkembangbiakan virus dapat dikenal melalui:

  1. Timbulnya efek sitopatogenik

Efek sitopatogenik adalah perubahan morfologis yang terjadi akibat infeksi oleh virus sitopatogenik. Pada sediaan yang tak berwarna, tampak sel menjadi lebih refraktil. Perubahan morfologis dari sel dapat berupa piknosis, karioreksis, plasmolisis, pembentukkan sel raksasa, pembentukkan sel busa dan sebagainya. Tenggang waktu untuk timbulnya efek sitopatogenik dan jenis perubahan yang terjadi berbeda-beda untuk berbagai jenis virus. Karena itu ESP mempunyai arti penting dalam diagnosis, misalnya virus morbilli, parainfluenza cenderung menimbulkan sel raksasa, sedangkan adenovirus menimbulkan kelompok sel-sel besar yang bulat. Untuk melihat perubahan lebih terinci diperlukan pewarnaan.

  1. Hambatan metabolisme

Dalam metabolismenya, sel membentuk asam. Jika sel diinfeksi oleh virus, maka pada berbagai tingkatan akan terjadi hambatan metabolisme, termasuk pembentukan asam. Dengan memakai indikator tertentu, perubahan ini dapat dikenal. Tes hambatan ini perlu dikembangkan antara lain untuk adenovirus, arbovirus, echovirus, coxsackievirus, herpes simplex dan beberapa myxovirus.

  1. Fenomena hemadsorpsi

Selain efek dari sitopatogenik dan hambatan metabolisme, adanya infeksi virus dapat juga diketahui dari timbulnya fenomena hemadsorpsi. Misalnya pada parainfluenza virus dan influenza virus; pembentukan antigen reaksi ikat komplemen pada poliovirus, varicella zoter, adenovirus coxsackie, dan echovirus; pembentukan antigen hemaglutinasi pada coxsackie virus; pertunjukkan antigen dengan reaksi imunofluoresensi atau perubahan morfologik hospes akibat infeksi virus onkogenik yang biasanya diikuti oleh adanya loss of contact inhibition dan berkumpulnya sel-sel menjadi sel yang tak teratur.

4. Perhitungan virus

Dalam perhitungan virus terdapat metode titrasi virus. Titrasi virus dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah partikel virus yang ada tanpa memandang kemampuan menginfeksi dari virus tersebut dan cara yang lain adalah menghitung jumlah virus yang infektif.

  1. Metode Fisika

Pada suspensi virus murni yang berkonsentrasi tinggi, jumlah partikel virus dapat dihitung mikroskop elektron. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan partikel latex yang berukuran sama dengan virus dan telah diketahui konsentrasinya ke dalam suspensi virus dan kemudian dicampur sehingga homogen. Dengan menghitung perbandingan antara latex dan virus yang tampak di bawah mikroskop electron, dapat ditentukan titer virus.

Virus yang infektif maupun tidak, dapat menimbulkan aglutinasi sel darah merah, maka sifat ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah virus yang ada. Satu seri larutan dengan konsentrasi virus tertentu, masing-masing ditetesi dengan sel darah merah. Jika konsentrasi virus mencukupi, maka akan terjadi pengendapan virus-cell complex di dasar tabung. Dengan metode pengence