25 Komplikasi Vaskuler pada Diabetes: Mekanisme dan Pengaruh Antioksidan Peter Rősen Institut penelititan diabetes, Dusseldorf, Jerman Hans-Jürgen Tristchler Asta Medica AG, Frankfurt Am Main, Jerman Lester Packer Universitas California Tenggara, Fakultas Farmasi, Los Angeles, California July 10, 2009
Posted by filzahazny in farmakognosi.Tags: diabetes, hiperglikemi, jurnal, komplikasi, nitrat oksida
add a comment
I. Pendahuluan
Diabetes dan komplikasiya merupakan ganguan kesehatan mayor di dunia. Berdasarkan perkiraan WHO, jumlah pasien diabeteskhususnya tipe 2 akan meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan millennium berikutnya. Diabetes menurunkan angka harapan hidup dan kualitas hidup, contoh; gangguan ginjal, kebutaandan gangguan kardiovaskuler. Fakta menunjukkan bahwa diabetes memicu deplesi sistem pertahanan seluler dan meningkatkan ROS. Konsep ini digunakan untuk pengembangan terapi menggunakan antioksidan.
II. Stress Oksidativ dan gangguan oksidasi pada diabetes dan komplikasinya
Stress oksidatif berasal dari peningkatan formasi ROS atau penurunan inaktivasi ROS yang mengakibatkan kerusakan jaringan. Keberadaan radikal bebas yang berlebihan juga dapat menyebabkan hal yang sama. Oleh karena itulah antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, asam α-lipoat dan glutation diperlukan untuk mencegah overproduksi radikal bebas dan menetralisirnya.
A. Fakta peningkatan stress pada pasien diabetes
Fakta menunjukkan bahwa stress oksidativ meningkat pada pasien diabetes yang disebabkan oleh keseimbangan antara antioksidan dan prooksidan.
Pemicu oksidativ stress yang meningkat pada pasien diabetes mellitus diantaranya adalah; peningkatan formasi isoprostana, peningkatan pembentukan lipid hidroperoksid, peningkatan LDL teroksidasi dan LDL terglikoksidasi, Formasi MDA, Perubahan enzim antioksidatif, alterasi sisitem redoks ( NADPH,glutation, vitamin antioksidatif dll), peningkatan oksidativ pada DNA, pengurangan level antioksidan.
ROS menyebabkan pemutusan strand DNA dan modifikasi basa termasuk oksidasi residu guanin menjadi 8-Oxo-2’deoxyguanin yang jumlahnya meningkat pada pasien diabetes tipe 1 dan 2 khususnya denagn komplikasi vaskuler.
Sejumlah studi klinis dan penelitian menemukan bahwa kapasitas antioksidan plasma menurun pada diabetes dengan parameter TRAP (Total Radical-Trapping Antioksidan Parameter). Selain itu karena penurunan antiokasidan RRR-α-tokoferol atau glutation sebagai hasil dari peningkatan produksi radikal bebas (Thornally et al). Rosen et al melaporkan bahwa diet rendah lemak pada pasien diabetes menginduksi defisiensi RRR-α-tokoferol, pada senyawa tersebut terdapat pada lemak fase terlarut pada komposisi makanan.
Penurunan konsumsi vitamin C juga terjadi pada pasien diabetes. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa pasien diabetes melitus memiliki 30 % lebih sedikit konsentrasi asam askorbat daripada nondiabetes. Data dari NHANES III menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara oksidativ stress dan variasi distribusi vitamin antioksidatif denagn tingkat penyakit khususnya usia. Oleh sebabitu, diasumsikan bahwa defisit vitamin antioksidatif terdapat pada pasien tertentu khususnya pasien manula, diet penurunan berat badan dan progresi penyakit. Berdasrkan observasi level plasma, kebutuhan akan vitamin antioksidatif mungkin meningkat pada pasien diabetes.
III. Komplikasi Vakuler
Komplikasi mikrovaskuler merupakan komplikasi paling serius yang membedakan kualitas dan harapan hidup pasien diabetes. Tipe komplikasinya meliputi diabetes neuropati, nefropati dan gangguan jantung.ROI (Reactive Oxygen Intermediate) memicu gangguan vaskuler dengan promoter :
1. Alterasi irama vaskuler
2. Permeabilitas vaskuler
3. Infiltrasi monosit makrofag
4. Proliferasi sel otot halus
5. Aktivasi metalloprotease
Oksidativ Stress memiliki efek besar bagi fungsi dan struktur dinding pembuluh darah dan stabilitas keberadaan plak pada pasien diabetes.
A. Pembentukan ROS (Reactive Oxygen Species) dan aktivasi PKC
Banyak studi menunjukkan bahwa formasi ROS merupakan akibat hiperglikemia. Namun, ada banyak jalur dimana produksi ROS tetap berjalan walaupun hipoglikemia yaitu:
1. Inisiasi formasi ROS karena inkubasi sel endothelial dan otot halus yang meningkatkan konsentrasi glukosa.
2. Rangsangan formasi ROS melalui proosess reseptor yang teroksidasi karena dependent-process antara AGE dan lipid peroksidase
3. Formasi ROS karena autooksidasi glukosa.
4. Penurunan antioksidan karena penundaan regenerasi glutation pada level glukosa tinggi.
Bagaimanapun mekanisme tepat dan penyebab ROS terbentuk melalui vaskuler masih belum dapat diketahui dengan pasti. Pada percobaan hiperkolesterol binatang menunjukkan bahwa endothelium salah satu sumber mayor pembentukan ROS. Sejalan dengan disfungsi vaskuler, formasi anion superoksida bertambah karena stimulasi glukosa level tinggi pada berbagai tipe sel endotelial. Pembentukan ROS juga dipengaruhi oleh aktivasi NADH-oksidase yang terdapat di sel endotelial.
NADH oksidase teraktivasi akibat hiperglikemia dan kemungkianan akibat hiperglikemia dan kemungkinan karena inkubasi sel endotelial oleh produk AGE. Aktivasi NADH –Oksidase dipicu oleh percepatan perubahan glukosa menjadi fruktosa melalui jalur sorbitol yang membutuhkan NADPH dan meningkatkan NADH. Sehingga, NADH sebagai kofaktor NADH Oksidase meningkat dan NADPH utuk regenerasi glutation menurun.
eNOS (endothelial nitric oxide synthasediduga menjadi sumber pembentukan ROS. Penurunan availabilitas L-Arginin/ penurunan regenerasi biopterin memicu peninggkatan produksi anion superoksida termasuk Nitrit Oksida (NO).
Hiperglikemia juga memicu formasi ROS dengan menghambat inhibitor NOS, L-NAME.
Peningkatan formasi ROS pada diabetes memiliki beberapa akibat yaitu;
1. Quenching Nitrat Oksida
Fakta menunjukkan bahwa reaksi nitrat oksida pada alur difusi terkontrol dengan anion superoksida menjadi peroksinitrit. Formasi ROS secara simultan mengurangi jumlah nitrat oksida aktif secara biologis dan vasodilatasi dependen endothelium. Vasodilatasi dependen endothelium disebabkan oleh penambahan superoksida dismutase (enzim yang menginaktivasi anion superoksida) dan AGE (quench nitrat oksida) Studi klinis baru-baru ini menunjukkan bahwa antioksidan menghambat vasodilatasi dependen endothelium pada pasien diabetes dengan penyakit arteri koroner, hiperkolesterolemia dan hipertensi. Selain irama vaskuler, Quenching NO juga mempengaruhi antitrombotik endothelium karena NO menghambat ekspresi adhesi molekul dan proliferasi sel otot halus. Sehingga sistem antitrombotik dan antiaterosklerosis berkurang bila bioavalabilitas NO dikurangi oleh oksidatif stress.
2. Aktivasi Faktor transkripsi redoks sensitive oleh AGE dan hiperglikemia
Pembentukan ROS terjadi karma hiperglikemia dan hasil AGE pada mekanisme deplesi perőtahanan antioksidan seluler.
Catharanthus roseus March 17, 2009
Posted by filzahazny in farmakognosi.Tags: catharanthii folium, catharanthus roseus, folium, isolasi, kanker, loknerin, tapak dara, vinblastin, vinkristin, vinorelbin
add a comment
I.I Sejarah
Tanaman ini mempunyai reputasi sebagai obat tradisional penyakit diabetes, tetapi kemudian khasiat ini tidak dapat dibuktikan, bahkan peneliti Kanada (1955-1960) menemukan bahwa ekstrak daunnya menyebabkan leukopenia pada tikus. Pengamatan ini memberi inspirasi kepada peneliti di Eli Lilly and Company untuk menyelidiki tanaman ini secara intensif khususnya khasiat dari isolasinya untuk terapi kanker. Dari usaha ini, ditemukan 6 alkaloid yang sekarang telah diperdagangkan.
Catahranthus adalah contoh tanaman yang diperkenalkan ke dalam dunia kedokteran melalui senyawa murni yang diisolasi dan bukan sediaan galeniknya. Selain dari daun, dari akarnya pun telah berhasil diisolasi 90 jenis alkaloid indol beberapa diantaranya seperti ajmalisin, loknerin, serpentin dan tetrahidroalstonin, yang ditemukan di dalam genus lain tetapi masih dalam suku yang sama. Yang sangat menarik adalah ada segolongan alkaloid dimer yang mempunyai aktivitas antineoplastik diantaranya leurokristin (Vinkristin=LC) dan vinkaleukoblastin (vinblastin). Vinblastin tersusun dari komponen alkaloid indol katarantin dan alkaolid dihidroindol vindolin. Keduanya terdapat bebas diantara tanaman. Karena alkaloid tersebut dibutuhkan untuk pengobatan, akhirnya diproduksi secara komersial. Contoh obat yang memanfaatkan alkaloid Catharanthus roseus yaitu Velban® (Vinkristin sulfat) dan Oncovin® (Vindesin).
I.2 Budidaya
I.2.1 Budidaya
Karena permintaan yang cukup banyak, tapak dara dibudidayakan di berbagai negara meliputi Madagaskar, Australia, Afrika selatan, Amerika selatan, India barat, Eropa, India, dan Amerika serikat bagian selatan.
Perbanyakan tanaman melalui biji. Tapak dara biasanya diperbanyak dengan bijinya yang lembut. Cara memperbanyak tanaman ini meliputi :
a. Sediakan biji-biji yang tua, lalu semaikan pada suatu tempat persemaian. Masukkan biji ke dalam tanah, lalu tutup dengan lapisan tanah setipis tebal bijinya. Persemaian disiram setiap hari.
b. Bila biji-biji mulai tumbuh, dan tingginya sudah mencapai sekitar 15 – 20 cm, segera pindahkan ke tempat yang diinginkan. Jika ingin ditanam dalam pot, tentu perlu disiapkan pot dan media tanamnya. Pot bisa dari tanah liat, semen, atau kaleng bekas. Media tanamnya berupa campuran tanah subur, kompos, dan pupuk kandang (2 : 1 : 1). Bibit langsung ditanam, dan setelah itu diletakkan di tempat teduh.
c. Seminggu kemudian, ditempatkan di tempat terbuka. Jika ingin ditanam di kebun pekarangan, perlu dibuat lubang tanah berukuran
15 x 151 x 15 cm, dengan jarak di antara lubang 50 cm. Tiap lubang diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 1,5 kg. Masukkan bibit ke dalam lubang, lalu timbun dengan tanah, dan siram.
Perawatan tapak dara tidak menuntut perawatan khusus. Tanaman cukup disiram dan diberi pupuk,. Pada awal pertumbuhan, gunakan pupuk yang kandungan nitrogennya tinggi, atau pupuk daun yang disemprotkan pada permukaan bawah daun di pagi hari. Kemudian, untuk merangsang pembungaan saat tanaman bebunga, gunakan pupuk yang memiliki kandungan fosfor tinggi.
Tapak dara juga dapat diperbanyak secara vegetativ dengan cara greenwood atau pemotongan akar semi matur dalam kontainer tertutup dalam suhu rendah.
I.3 Penggunaan
I.3.1 Efek terapeutik
Alkaloid yang diekstraksi dari aerial tanaman tapak dara diperdagangkan dalam bentuk garamnya untuk diipergunakan secara intravena. Vindesin dan vinorelbin merupakan derivat semisintesis vinblastin yang diperdagangkan dalam bentuk larutan injeksi sulfat dan bitartrat. Harga vinkristin telah dilaporkan bahwa mencapai lebih dari US$ 200.000/kg pada tahun 1993 dengan konsumsi pasar sekitar 250-300 kg atau setara dengan US$ 50-80 juta.
Vinblastin dan vinkristin, alkaloid pada Catharanthus roseus, biasa digunakan untuk terapi antikanker pada kasus leukemia limfotik dan penyakit Hodgkin. Vinkristin juga digunakan untuk pengobatan kanker bronkus, nefroblastoma leukemia limfotik pada anak-anak dan limfoma pada orang dewasa. Vinkristin mempunyai efek kurang toksik daripada vinblastin dan memiliki aplikasi terapeutik yang lebih luas. Aplikasi dalam kemoterapi, vinkristin (sulfat) dapat diberikan sesuai dosis normal (orang dewasa) yaitu 1-1,4 mg /m2 luas permukaan tubuh seminggu sekali atau sebulan sekali.
Vinblastin dimanfaatkan untuk terapi karsinoma testis, sarkoma kaposi, koriokarsinoma, dan beberapa kasus histisitosis (khususnya sindrom Lettersiwe). Dosis normal vinblastin pada orang dewasa adalah 4-6 mg/m2 luas permukaan tubuh setiap minggu.
.Vindesin adalah derivat semisintetik dari vinblastin yang mempunyai indikasi untuk pengobatan leukemia limfatik akut (khususnya pada anak-anak), limfoma refraktori dan melanoma. Vindesin memiliki sifat neurotoksik lebih kecil daripada vinkristin dan vinblastin. Penggunaan dosis tunggal normal vindesin adalah 3 mg/m2 luas permukaan tubuh setiap 7-10 hari setiap bulan.
Vinorelbin efektif menyerang sel kanker paru-paru dan payudara. Percobaan secara klinis menunjukkan hasil yang menjanjikan. Alkaloid semisintetik ini menghasilkan tingkat remisi yang tinggi pada pasien limfatik akut dan leukemia granulotik akut. Alkaloid ini juga lebih efektif untuk pengobatan kanker payudara daripada vinkristin dan vinblastin. Dosis vinorelbin untuk pengobatan tersebut adalah 25-30 mg/m2 luas permukaan tubuh pada monoterapi.
Preparat ajmalisin, salah satu alkaloid pada tapak dara, dapat digunakan untuk terapi psikologis dan masalah kepribadian, masalah sensorik, gangguan serebrovaskuler, dan trauma kranial.
I.3.2 Pengobatan tradisional
Daunnya dimanfaatkan untuk pengobatan oliguria, hematuria, diabetes mellitus, gangguan menstruasi dan leukemia. Campuran akar dan daun Catharanthus roseus untuk pengobatan hipertensi dan vasodilatasi serebral. Ekstrak daunnya juga dapat digunakan sebagai antiseptik, menghentikan pendarahan dan pembersih mulut. Akarnya merupakan sumber ajmalisin yang berkhasiat untuk meningkatkan aliran darah ke otak dan bagian tubuh lainnya.
I.3.3 Penggunaan secara ethnofarmakologis
Catharanthus roseus dilaporkan sebagai astringen, diaphoretik, ekbolik, emmenagogue, halusinogen, sakit kepala, tonik, febrifuge (dekokta akar), penyembuhan desentri; digunakan sebagai purgativ pada konstipasi kronik, dispepsia dan indisgesti (daun); digunakan untuk rematik, dan menorrhagia, pengobatan diabetes; digunakan sebagai dismenorrhea; pengaturan tekanan darah dan menstruasi; vermifuge (akar) dan antidiare (daun).
BAB II
II.1 Klasifikasi
Klasifikasi bunga tapak dara ini adalah:
Kingdom: Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Familia : Apocynaceae
Genus : Catharanthus
Spesies : Catharanthus roseus (L.) G. Don
II.2 Tata nama
Nama tanaman : Catharanthus roseus (L.) G Don Sinonim : Vinca rosea L., Lochnera rosea (L) Reichenb. Ex Endl
Nama umum
Nama Indonesia: kembang tembaga, bunga tembaga, tapok doro, kembang bogor,bunga sedodu, kembang suri cina
Nama asing : red periwinkle, pink periwinkle, rosy-flowered Indian periwinkle, bόng dùa, hoa hài dãng, truòng, xuân hoa, phjãc pót dông, Catharanthus roseus juga dikenal diberbagai negara dengan nama yang beragam, berikut ini tabel nama asing Catharanthus roseus.
Tabel nama asing Catharanthus roseus
No Nama Negara No Nama Negara
1 Ainskati India 19 Nichinich-so Jepang
2 Atay-biya Filipina 20 Ninfa Meksiko
3 Billaganneru India 21 Nityakalyani India
4 Boa-noite Brazil 22 Old maid West Indies
5 Brown man’s fancy West Indies 23 Patti-poo Srilanka
6 Caca poule Dominika 24 Periwinkle Guyana, Jamaika, Filipina, USA, West Indies, Guyana prancis
7 Chatilla Guatemala 25 Phaeng phoi farang Thailand
8 Chavelita Peru 26 Pink flower West Indies
9 Chichirica Filipina 27 Ram goat rose West Indies
10 Congorca Brazil 28 Rattanjot India
11 Consumption Bush West Indies 29 Sada Bahar Pakistan
12 Dùa can Vietnam 30 Sadaphul India
13 Kantotan Filipina 31 Sailor’s flower West Indies
14 Liluvha Venda 32 Saponaire Rodrigues Island
15 Madagascar periwinkle Madagaskar 33 Tiare-tupapaku- kimo Cook Island
16 Maua Kenya 34 Tsisirika Filipina
17 Mini-mal Srilanka 35 Ushamanjairi India
18 Nayantara Bangladesh 36 White tulip West Indies
BAB III
III.1 Morfologi tanaman
Tapak dara merupakan tanaman herba/semak yang tegak, hidup lama, tinggi 0,2-0,8 m dan mengandung getah. Batangnya mengandung getah berwarna putih susu, berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas, bercabang, dan berambut sangat lebat. Daun bersusun berhadapan, bertangkai pendek, memanjang bulat telur dengan pangkal serupa baji dan ujung tumpul panjang 2 – 6 cm, lebar 1 – 3 cm, dan tangkai daunnya sangat pendek. Bunganya muncul dari ketiak daun. Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga berbentuk terompet, dan ujungnya melebar. Tepi bunga datar, terdiri dari taju bunga berbentuk bulat telur, dan ujungnya runcing menutup ke kiri. berbunga sepanjang tahun, berbentuk tubular, panjang 1,5-4 cm, lebar 5 cm memiliki 5 mahkota kecil. Bunga berwarna violet, merah rosa, putih (var. albus), putih dengan bintik merah (var. ocellatus), ungu, kuning pucat. Buahnya berbentuk silindris, ujung lancip, berbulu, panjang sekitar dengan panjang folikel 1-4 cm hijau dan berbiji banyak tanpa rambut gombak. Bijinya mempunyai panjang 1-2mm berbentuk persegi panjang, hitam, kotiledon datar, endosperm kecil. Panjang akar dapat mencapai 70 cm.
Gambar 2. Morfologi tanaman tapak dara bagian atas
Gambar 3. Tapak dara tampak samping
III.2 Habitat
Tapak dara tumbuh di tempat yang berpasir tapi juga dapat tumbuh di pinggir sungai, vegetasi savanna dan tempat kering, di hutan. Tapak dara merupakan tanaman yang memiliki toleransi tinggi terhadap garam sehingga sebagian besar ditemukan di dekat laut tapi seringkali ditemukan hingga 1500 m di atas permukaan laut. Tapak dara dapat hidup di lingkungan yang tidak terlalu panas.
III.3 Penyebaran
Catharanthus roseus berasal dari Madagaskar dan penyebaran meliputi Amerika tengah, Brazil, Afrika tengah Indonesia, Florida, Thailand , Taiwan dan Eropa.
BAB IV
IV.1 Identifikasi Makroskopik
Helaian daun berwarna hijau, bentuk memanjang atau bundar telur, panjang 2,5-9 cm, lebar 1,5-2,5 cm, ujung daun terdapat bagian meruncing kecil, pangkal daun runcing ada juga yang tumpul atau membundar tepi daun rata, permukaan atas agak mengkilat, pada kedua permukaan terutama permukaan bawah terdapat rambut-rambut halus. Tulang daun menyirip, tulang daun utama menonjol ke bagian permukaan bawah daun. Tangkai daun pendek.
IV.2 Identifikasi Mikroskopik
Pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas dan bawah terdiri dari satu lapis sel bentuk empat persegi panjang, kutikula tipis; pada pengamatan paradermal tampak sel epidermis atas bentuk polygonal dengan dinding antiklinal rata, epidermis bawah dengan dinding antiklinal berkelok. Stomata terdapat pada kedua epidermis, lebih banyak terdapat pada epidermis bawah, tipe anomositik. Terdapat rambut penutup berbentuk kerucut panjang dengan kutikula tebal, bersel 1 sampai 4, ada juga rambut pendek dengan ujung tumpul. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel berbentuk silindrik panjang, jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel bentuk bundar atau lonjong, banyak rongga udara terdapat sel getah dan trakea dengan penebalan bentuk spiral. Pada tulang daun terdapat berkas pembuluh tipe bikolateral, di bagian bawah berkas pembuluh terdapat serabut berdinding tebal dan berlignin; kolenkim terdapat di bagian bawah parenkim tulang daun.
Serbuk berwarna hijau. Fragmen pengenal adalah fragmen epidermis atas bentuk polygonal, fragmen epordermis bawah dengan dinding antiklinal berkelok, stomata tipe anomositik, rambut penutup, sel getah, fragmen pembuluh dengan penebalan bentuk spiral.
IV.3 Identifikasi kimia
Identifikasi kimia serbuk daun tapak dara dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut ini cara identifikasinya.
a. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes H2SO4 pekat; terjadi warna coklat kemerahan.
b. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes HCl pekat; terjadi warna hijau kekuningan
c. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes CH3COOH pekat; terjadi warna hijau kekuningan
d. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes HNO3 P 25 % v/v; terjadi warna coklat
e. Pada 500 mg serbuk daun maserasi dengan 10 ml eter selama 2 jam saring. Uapkan filtrate dengan cawan penguap, pada residu tambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat pekat dan 1 tetes asam sulfat pekat; terjadi warna hijau ungu.
f. Timbang 500 mg serbuk daun tambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air, panaskan di atas penangas air selam 2 menit, dinginkan dan saring. Filtrat dikocok dengan 3 ml ammonia P dan 10 ml campuran 3 bagian eter P dan 1 bagian kloroform P. Ambil fase organik, tambahkan natrium sulfat anhidrat P, saring. Uapkan filtrate di atas penangas air, residu larutan dengan methanol secukupnya hingga diperoleh 5 ml larutan. Pada titik pertama dari lempeng KLT tutulkan 20 l larutan di atas, pada titik kedua tutulkan 10l larutan pembanding striknina nitrat dalam metanol P.elusi dengan campuran : kloroform P-dietilamin P (90+10) dengan jarak rambat 15 cm, amati dengan sinar biasa dan sinar ultraviolet 366 nm. Semprot lempeng dengan Dragendorff LP, amati dengan sinar biasa dan sinar ultraviolet 366 nm. Pada kromatogram tampak bercak dengan warna dan hRx sebagai berikut:
No hRx Dengan sinar biasa Dengan sinar UV 366 nm
Tanpa reaksi Dengan pereaksi Tanpa reaksi Dengan pereaksi
1 4-8 kuning jingga kuning -
2 8-10 kuning jingga merah jingga -
3 10-15 kuning jingga Biru ungu -
4 19-24 - jingga kuning -
5 24-28 - jingga kuning -
6 29-33 - - ungu ungu
7 55-59 Kuning muda jingga - -
8 64-69 - jingga kuning -
9 85-89 kuning - biru -
10 96-102 kuning jingga ungu -
11 102-106 kuning jingga kuning -
Catatan : harga h Rx dihitung terhadap bercak jingga dari kromatogram pembanding striknina nitrat. Harga bercak berwarna jingga lebih kurang 87
BAB V
V.1 Kandungan kimia
Tapak dara mempunyai sekitar 100 senyawa dengan struktur indol atau dihidroindol yang merupakan turunan senyawa asam amino triptofan. Konstituen utama adalah vindolin yang mencapai 0,5 %; senyawa mayor adalah serpentin, katarantine, ajmalisin (raubasin), akuammin, loknerin, dan tetrahidroalastonin. Ajmalisin dan serpentin terdapat pada akar bahkan katarantin dan vindolin terakumulasi pada bagian aerial. Bagian aerial mengandung 0,2-1% alkaloid.
Minyaknya mengandung sitronellil asetat, senyawa alifatis b10 110-12º, kadinene, substansi solid m.p. 220º, aldehid, substansi menyerupai jarum, m.p. 195-210º, 2-heptanol, dan sejumlah konstituen berwarna. Banyak senyawa ditemukan dari Catharanthus roseus. Berikut ini tabel senyawa pada Catharanthus roseus.
. Tabel kandungan senyawa pada Catharanthus roseus
No Senyawa No Senyawa No Senyawa
1 Ajmalisin 27 Akuammisin 53 Rodivin
2 Akuammin 28 Aldehid 54 Sekologanin
3 Alstonin 29 Amokalin 55 Serpentin
4 Karosidin 30 Katarosin 56 Sisirikin
5 Karosin 31 Katarantin 57 Tabasonin
6 Katarisin 32 Katarin 58 Tetrahidroalstonin
7 Katarosin 33 Katovalin 59 Tetrahidroserpentin
8 Kavinsidin 34 Kavinsin 60 Triptamin
9 Deasetilvinkaleu-
koblastin 35 Deasetilvindolin 61 Asam ursolik
10 N-deformil-
vinkristin 36 14,15-dehidrositsirikin 62 Vinapamin
11 19-hidroksitabersonin 37 Isoleurodin 63 Vinaspin
12 Isositrisirikin 38 Leurokristin 64 Vinblasin
13 Leurosinon 39 Leurosivin 65 Vinkamisin
14 Loknerisin 40 Loknerin 66 Vinkamin
15 Loknerinin 41 Loknerivin 67 Vinkarodine
16 Loknerallol 42 Lokrenol 68 Vinkasitin
17 Lokrovidin 43 Lokrovin 69 Vinsein
18 Loganin 44 Maandrosin 70 Vinkolidin
19 Mitraphillin 45 Neoleukristin 71 16-epi-19S-vindolidin
20 Neoleurosidin 46 Perikallin 72 Vindorosin
21 Permividin 47 Perivin 73 Vinosidin
22 Perosin 48 Pleurosin 74 Vinsedesin
23 Reserpin 49 Roseosid 75 Vinsesin
24 Rosisin 50 Rovidin 76 Virosin
25 Δ-yohimbin 51 Phenolik resins 77 Asam rinoleat
26 Sterol 52 Tanin 78 Flavonoid
Gambar 8. Struktur alkaloid
V.1I Cara Isolasi
Catharanthus roseus adalah contoh tanaman obat yang baru diperkenalkan beberapa tahun terakhir dan biasa digunakan untuk isolasi substansi murni daripada preparat galenik. Ekstraksi sampel Catharantus roseus dengan 90 aquaeous metanol menghasilkan ekstrak kotor yang mengandung 70 % campuran vinblastin, leurosin, dan leurokristin yang lebih cepat dimurnikan dengan kristalisasi garam sulfat dalam etanol dan akhirnya konstituen-konstituen dipisahkan secara kromatografi.
100 kg bahan kering diekstraksi dengan 1400 l.90 aquaeous metanol, ekstrak dikonsentrasikan hingga 140-50 l, diasamkan dengan H2SO4 hingga pH 2, disaring, diekstraksi dengan C6H6, dibasakan dengan NH4OH hingga pH 8,5-9,0 dan diekstraksi dengan untuk menghasilkan sekitar 700 gr produk. Kemudian dipisahkan dengan ≤10%H2SO4 dalam etanol hingga pH 4,0-5,0, larutan ditaburi dengan vinblastin sulfat dan menambahkan 20-100 gr garam sulfat yang jika dilakukan kromatografi menghasilkan 13-63 gr I sulfat, 5-17 gr leurosin dan 0,3-1,5 g leurokristine sulfat.
Produksi senyawa aktif tapak dara dapat dilakukan secara invitro. Kultur suspensi sel dapat dilakukan pada medium. Gramborg B5 atau medium LS yang mengandung 2 mg/l asam naftalen asetat, 0,2 mg/l kinetin, dan 30 g/l sukrosa dengan suhu 250 C dan pengocokan konstan. Kultur suspensi sel tapak dara menghasilkan berbagai macam alkaolid monoterpen. Alkaloid pada akar dan kultur tunas sama dengan bagian aerial tanaman.
Ajmalisin, serpentin dan dan katantin merupakan senyawa mayor. Serpentin yang dihasilkan melalui kutur sel sebanyak 2 %, lebih banyak daripada seluruh bagian tanaman yang hanya 0,3 %.
Alkaloid vinblastin dan vinkristin biasanya tidak terdeteksipada kultur sel sehingga fokus produksi beralih pada katarantin dan vindolin yang dipergunakan sebagai prekursor pada sintesis tersebut. Walaupun demikian, percobaan produksi vindolin terlihat tidak stabil pada kultur sel. Rendaknya akumulasi vindolin dalam kutur sel berhubungan dengan rendahnya ekspresi enzim yang mengkatalisis pada akhir tahap biosintesia vindolin diinduksi.
Kultur tunas dari tanaman bibit memproduksi vindolin dan katarantin pada level tinggi. Medium Murashige dan Skoog tersuplementasi denagn 7 mg/l benziladenin dan 1 mg/l asam α-naftalen asetat menstimulasi kuat pembentukan tunas sedangakan medium yang tersuplementasi dengan 2,4 asam diklorofenoksiasetat menekan pembentukan tunas.
Metode lainnya untuk memprodukasi vindolin yaitu dengan kultur akar berambut pilihan. Ini dapat dilakuakn dengan cara menginfeksi bibit dengan Agrobacterium rhizogenes. Beberapa klon tidak hanya menunjukkan adanya produksi ajmalisin, serpentin dan katarantin tapi juga vindolin yang jumlahnya 3 kali lipat daripada kultur suspensi sel.
Senyawa 3’,4’-anhidrovinblastin adalah zat antara utama pada kopling antara katarantin dan vindolin membentuk vinblastin (vinkaleukoblastin = VLB). Senyawa ini berhasil diisolasi dari tanaman segar maupun dari kultur suspensi sel dan pembentukannya dari monomer dipercepat oleh isozim peroksidase yang diisolasi dari kultur suspensi sel Catharanthus roseus dan juga dari peroksidase lobak. Karena jumlahnya sangat sedikit (di dalam simplisia hanya 0,0002%), dibutuhkan sangat banyak bahan untuk diisolasi (untuk memperoleh 1 gram alkaloid murni vinkristin dibutuhkan 500 kg bahan kering) Selain itu, dilaporkan bahwa dari bunganya juga berhasil diisolasi alkaloid indol.
V.3 Penggunaan secara tradisional
Aplikasi secara tradisional harus tetap dalam pengawasan dokter dan tidak direkomendasikan bagi wanita hamil.
V.3.1 Antidiabetes
Buat infus dari daun Catharantus roseus (5 gram), dengan menambahkan 110 ml, rebus hingga tersisa 100 ml. Minum sekali sehari selama 14 hari.
V.3.2 Antihipertensi
Sekitar 5 g Catharantus roseus, 7 g curcuma rhizome direbus dengan 110 ml air. Rebus hingga air yang tersisa 100 ml. Minum 100 ml sekali sehari selama 14 hari.
Penggunaan secara tradisional lainnya yang dimanfaatkan secara oral Berikut ini tabel pengunaan Catharantus roseus secara tradisional di berbagai Negara.
Tabel pengunaan Catharantus roseus secara tradisional
No Penggunaan Khasiat Negara pengguna
1 Ekstrak dari air panas dan daun kering a. Mengobati menorrhagia, hodgkin’s disease, amenorrhea, diabetes dan cholagogue
b. Memberi efek euphoria Australia, Cook Island, Dominika, , Prancis, Guyana prancis, India, Mozambique, Afrika selatan, Thailand, USA,
2 Ekstrak dari air panas dan akar Mengobati febrifuge Filipina,
3 Dekokta dari akar kering a. Mengobati demam, malaria, sakit perut, emmenagogue, dysmenorrhea dengan aliran kecil.
b. Mengakibatkan aborsi Brazil, India, Kenya,
4 Ekstrak bagian aerial tanaman dengan air Melancarkan menstruasi Cina, Vietnam utara,
5 Dekokta daun kering Mengobati diabetes, hipertensi, antigalactagogue, dan kanker Eropa
6 Ekstrak dari seluruh tanaman dan air panas Mengobati sakit jantung, leishmaniasis, sakit lever, kanker dan diabetes Meksiko, Peru
7 Seduhan daun dan bunga yang berwarna putih Mengobati Diabetes Inggris
V.4 Berdasarkan penelitian
V.4.1 Aktivitas antibakteri
Ekstrak dari benzene dan bunga kering pada konsentrasi 5 % pada biakan agar aktif terhadap Proteus, Pseudomonas, Shigella, dan spesies Staphylococcus dan inaktif terhadap spesies Salmonella dan Shigella paradysentriae.
Ekstrak dari benzene dan daun pada konsentrasi 5 % pada biakan agar aktif terhadap Proteus, Pseudomonas, Salmonell, Shigella, dan spesies Staphylococcus.
Ekstrak dari etanol 70% dan daun kering pada biakan agar aktif terhadap Bacillus megaterium, Staphylococcus albus, dan inaktif terhadap spesies Bacillus cereus,dan Staphylococcus aureus.
Ekstrak dari etanol 95% dan akar segar pada biakan agar aktif terhadap Corynebacterium diphteriae, Diplococcus pneumoniae, dan Staphylococcus aureus serta beraktivitas lemah Salmonella paratiphy.
V.4.2 Aktivitas antimutagen
Ekstrak daun dan air panas aktif terhadap sel darah merah. Terdapat sejumlah reduksi mikronukleat polikromatik sel darah merah yang disebabkan oleh bermacam-macam mutagen.
V.4.3 Aktivitas antimitosis
Ekstrak dari etanol 70 % dan daun secara intraperiton diberikan kepada tikus betina memberi efek terhadap CA-Ehrlich ascites. Dosis diberikan selama 4 hari setiap 2, 4, 6 dan 24 jam. Vinkristin, vindesin dan vinblastin merupakan anti mitosis. Keduanya mengikat tubulin dan mencegah formasi mikrotubulus selain itu keduanya juga memblok mitosis saat metafase.
V.4.4 Aktivitas hipoglikemik
Ekstrak dari etanol dan daun secara intragastrik pada tikus dengan dosis 100 mg/kg mampu menurunkan konsentrasi serum glukosa sebesar 22,26 %. Aktivitas yang sama juga ditunjukkan pada pemberian ekstrak dari air panas dan 20 gm daun kering dengan dosis 200 ml/ hewan..
V.4.5 Aktivitas hipotensi
Total alkaloid dari akar yang diberikan sebanyak 0,10 gm/kg pada kelinci secara intravena memberikan aktivitas hipotensi. Total alkaloid dari akar yang diberikan sebanyak 5 mg/kg pada anjing secara intravena memberikan aktivitas hipotensi dengan penurunan tekanan darah sebesar 50-60 % selama dua jam.
V.4.6 Toksisitas
Walaupun berkhasiat dalam pengobatan, tapak dara memberikan efek samping. Alkaloid tapak dara mengakibatkan depresi tulang belakang terutama pada pembentukan leukosit dan trombosit. Pasien yang memanfaatkan alkaloid ini menunjukkan efek samping seperti kerontokan rambut, nausea, distensi abdominal dan konstipasi. Efek paling sering yaitu perineuritis. Alkaloid mengiritasi trombosit dan diberi secara intravena dapat menyebabkan tromboplebitis. Alkaloid juga dapat mengganggu system saraf pada ayam . pemberian secara intratekal dapat menimbulkan efek neurotoksik.
Vinblastin vinkristin, vinorelbin dan ajmalisin memiliki efek samping yang berbeda-beda. Vinblastin dan vinkristin menimbulkan efek periferal neurotoksik seperti mialgia, parestesia, kehilangan refleks tendon, depresi dan sakit kepala serta kesulitan bernapas. Efek lainnya meliputi alopesia, distres gastrointestinal (konstipasi) ulkus, amenorrhea, dan azoospermia. Karena Vinblastin memiliki efek leukopenik yang tinggi, maka harus berhati-hati memberikan dosis. Vinorelbin bersifat hematotoksik dan
ajmalisin merupakan α-adrenergik bloker spamolitik, yang pada dosis tinggi dapat mengurangi efek adrenalin dan mengatur aktivitas pusat vasomotor terutama pada batang otak. Aktivitas ini secara temporal dapat meningkatkan aliran darah ke otak.