uneg-uneg

Inspirasi anak-anak


Hari itu, hari pertama aku mengajar dalam sebuah kelas di sebuah bimbingan belajar. Aku akan mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus dalam kelas tersebut, yakni kelas 4, 5 dan 6. Suara riuh dan berisik menyambut kedatangan ku saat itu. Mengajar anak-anak bukanlah hal yang mudah ternyata. Belum selesai menerangkan teori, dua anak yang duduk dibelakang sudah ribut. Saling ejek, bekejar-kejaran bahkan saling pukul menjadi aktivitas yang tidak dapat dihindarkan. Seorang anak ada yang menjadi bahan ejekan oleh teman-teman lainnya.  Namun, setelah proses belajar berakhir mereka berteman kembali, seolah tidak ada masalah diantara mereka. Mereka pulang bersama, tertawa bersama.

Realita dunia anak-anak terkadang memang sedikit berbeda dengan orang dewasa. Walaupun tidak dapat disamakan, tapi kita masih dapat belajar dari sana, dunia anak-anak yang ceria dan penuh kepolosan. Ada satu hal yang hilang dari perjalanan kita, ketika kita beranjak semakin tua. Ya, memaafkan. Satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Satu kata aktif yang lebih sulit dilakukan daripada kata dasarnya. Ego yang tinggi, terkadang menutupi itu semua, menutup pintu maaf yang sebenarnya dapat dibuka oleh kunci keikhlasan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ” Suat saat ketika Rasulullah saw sedang duduk – duduk bersama sahabatnya, Rasulullah saw bersabda, “Sebentar lagi, salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.

Hari berikutnya, Rasulullah mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembali terulang.

Mendengar ucapan Rasulullah, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.”

Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”.

Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.”

Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya, itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.”

Menjadi tua ternyata tidak menjamin seseorang menjadi lebih dewasa. Nampaknya, perlu bagi kita menengok ke belakang, belajar dari kepolosan anak-anak dan menggali sesuatu yang hampir hilang, ‘memaafkan’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s