uneg-uneg

Setipis membran


Setipis membran, itulah perbedaan benci dan cinta. Yup cinta, cinta yang sering orang pada umumnya artikan. Back to our focus, kenapa perbedaannya cuma setipis itu ya? Terinspirasi dari nasihat guru SMA saya, yang intinya begini kira-kira, “benci itu jangan berlebihan, cinta juga jangan berlebihan”. Hmm ternyata gak cuma makan, belajar atau aktivitas fisik lainnya yang gak boleh berlebihan.

Makan berlebihan bisa diabetes,

belajar berlebihan bisa stress,

berdiri kelamaan bisa varises.

Aktivitas hati juga gak boleh berlebihan. By the way, kenapa beliau bisa berkata begitu? Beliau cerita sendiri, kalo ternyata orang yang menjadi suaminya (yang dicintainya saat ini) adalah orang yang sangat dibencinya dulu (krik krik krik-bunyi jangkrik). Belajar dari pengalaman beliau, akhirnya beliau menasihati anak2 (di kelas saya). Sebenernya sih ga usah takut kalo orang yang kita sebelin atau kita benci jadi suami/ istri, bukan itu yang ingin dijadikan focus pembicaraan, masalah itu biarlah waktu yang menjawab. Next, sebenernya apa sih yang terjadi pada orang yang lagi benci atau cintaaaaaaa bgt sama seseorang? Kenapa bisa berubah? Berikut analisanya ;

Pernah benci sama orang? yang mendingan ditelan bumi aja deh daripada ketemu orang itu, atau kalo fase kehidupan bisa di undo satu2 rela deh dan memilih u/ gak pernah kenal. Saat orang membenci seseorang, maka apapun sesuatu “baik” yang dilakukan oleh sang objek yang dibenci akan selalu dicap jelek oleh kita (misalnya; yang benci kita, red). Hmm, pernah ketemu sama orang yang…. Apapun yang dilakukan pasti salah dihadapan kita, bahkan ngliatnya aja bikin sebel (aduh alai nih). Secara gak sadar, kita akan selalu focus dan perhatian sama apa yang dilakukan sang objek (yang kita sebelin). Nah ibarat kelarutan, maka suatu saat ada titik jenuh, dimana kejelekan2 yang dilakukan mungkin gak akan berpengaruh sama kesebelan/bencinya kita sama objek yang bersangkutan. Hingga suatu saat perhatian yang selama ini kita lakukan menjadi boomerang. Boomerang yang merubah kita menjadi simpati. Nah kalo udah simpati, lanjutin sendiri deh ceritanya. Hehehe

Begitu pula dengan rasa cinta bisa berubah jadi rasa benci. Cinta itu mungkin hadir dari rasa simpati itu tadi, bahwa dia seperti orang yang kita inginkan (Jyaah). Nah berinti dari rasa perhatian itu yang pada akhirnya jadi boomerang, bahwa ternyata orang yang kita cintai itu tidak pantas untuk dicintai atau tidak se-ideal yang diinginkan. Ujung-ujungnya sakit hati.

Nah jadi dah pada ngerti kan??? Kenapa benci bisa jadi cinta, cinta bisa jadi benci. Karena sadar gak sadar, ketika perasaan itu muncul berlebihan, suatu saat justru akan menjadi boomerang buat kita. Terima “apa adanya” orang itu, jangan “ada apanya.” Sebelum jadi korban, mendingan dihindari daripada ”daripada” ya ta’?

Dah malam nih, mau belajar KiMed,,awalaupun belajar anastetik semoga efek barbital tidak mempengaruhi rasa kantuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s