tentang islam

sedang RISAU!?


Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz, khalifah dari Bani Umayah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis sendirian.”Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati – hati.”Bukankah engkau telah menghidaupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.

Umat terus menangis. Tidak ada tanda – tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, baru  ia menyahut seraya berkata, “Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah? Kemudian aku ditanya tentang rakyatku? Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan Allah, kecuali jika Allah berkehendak. Maka bagaimana seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?” Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah Ta’ala. Ia pergi untuk selama – lamanya.

Umar bin Abdul Aziz yang menangis dan terus menangis itu hanyalah satu contoh dari kisah “orang – orang risau”, yaitu orang – orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah,dan khawatir. Kerisauan seorang Umar adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup seseorang, sesungguhnya ia bisa risau. Sejarah selalu mencatat, orang – orang besar sepanjang masa adalah orang – orang yang punya waktu untuk risau. Ia mengerti mengapa harus risau dan apa yang mereka risaukan.

Perasaan risau adalah titik api pertama yang akan melontarkan sikap – sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang lain,dll. Keseluruhan sikap – sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang tahun, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang – orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika, dan kompetisi. Tapi risau itu juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati- hatian.

Simaklah firman Allah Ta’ala yang artinya, “Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahalan naik ketika mereka sedang bermain?Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga – duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang – orang yang merugi”(QS Al-A’raf : 97-99)

Ayat tersebut memaparkan dengan demikian jelas bahwa merasa aman dari azab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sederhana, karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bhkan ia juga tidak bs memastikan apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi esok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia diazab.

Maka rasa risau dlam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber yang memberi rasa aman. Dan sumber rasa aman itu adalah Allah Ta’ala. Karenanya, orang – orang seperti Umar sangat memahami betapa risau baginya adlh sebuah proses produktf seseorang dlm berinteraksi dgn Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis.

Kita, sekumpulan orang yg tak akan mampu menyamai Umar bin Abdu Aziz semestinya mjd orang – orang yang akhirnya mengerti dari mana sebuah kebesara dimulai, bahkan sebuah harapan  ternyata dimulai dari segumpal risau.

Sumber :Ahmad Zairofi, Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

sumber: milis little star

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s