tentang islam

Perceraian dan Hubungannya terhadap Kerukunan Intern Umat Beragama


 

Indonesia berada diperingkat tertinggi memiliki angka perceraian paling banyak dalam setiap tahunnya, dibandingkan negara Islam di dunia lainnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Nazaruddin Umar. Setiap tahun ada 2 juta perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah menjadi dua kali lipat, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai, dan umumnya mereka yang baru berumah tangga.

 

Mengenai kasus cerai talak dan gugat cerai, berdasarkan penelitian Dirjen Bimas Islam itu tercatat di Jakarta sebanyak 5.193 kasus terdiri 1.463 talak cerai dan 3.106 cerai gugat sedangkan di Surabaya, 48.374 kasus diantaranya terdiri dari 17.728 cerai talak dan 27.805 cerai gugat. Kota besar lainnya seperti Bandung terjadi 30.900 kasus perceraian, 13.415 di antaranya cerai talak dan 15.139 cerai gugat. Medan 3.244 kasus, 811 cerai talak dan 1.967 cerai gugat. Makassar 4.723 kasus, 1.093 cerai talak dan 3.081 cerai gugat. Semarang terdapat 39.083 kasus, terdiri dari 12.694 cerai talak dan 23.653 cerai gugat.

 

Islam tegas menyatakan dalam Al-Quran bahwa perceraian itu adalah suatu perbuatan yang halal, tetapi paling dibenci Allah Sesuai dengan hadis Nabi “Pekerjaan Halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah). Kebolehan cerai dalam Islam, bila kedua belah pihak tidak ada kesesuaiannya lagi, sehingga talak sebagai jalan keluar dari kemelut dalam rumah tangga. Oleh karena itulah dalam Islam ada talak satu atau dua, hal ini dimaksudkan agar keduanya saling mengoreksi diri (memperbaiki) hubungan rumah tangga, sebab talak seperti ini masih diberikan kesempatan bagi kedua untuk ruju’ kembali dan memperbaiki keharmonisan dalam rumah tangga.

 

 Walaupun perceraian perbuatan yang dibenci Allah, kasus ini terus terjadi di masyarakat. Peningkatan  kasus cerai di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Berdasarkan studi Bimas Islam pada tahun 2007, penyebab meningkatnya kasus cerai antara lain: tak ada keharmonisan (54.138 kasus),. tak bertanggung jawab (46.723), ekonomi (24.2551), gangguan pihak keluarga (9.071), perbedaan karakter (4.916), cemburu (4.708), kawin paksa, penganiayaan (916), poligami (876), cacat biologis (581), kawin bawah umur (284), perbedaan politik (157), dan dihukum/penjara (153). Tidak hanya itu, penyebab peningkatan kasus cerai juga disebabkan oleh tindak kekerasan. Di Brebes, berdasarkan data kasus perceraian pada 2006, jumlah kasus cerai mencapai 2.400 kasus yang 80 persennya akibat kekerasan dalam rumah tangga terhadap kaum perempuan.Berdasarkan data di atas, ketidakharmonisan dalam keluarga menempati posisi teratas dan  kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi salah satu penyebab perceraian. Sungguh memprihatinkan  mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama islam.

 

Ketidakharmonisan dan tindak kekerasan sangat bertentangan dengan konsep damai dalam ajaran Islam yang meliputi 2 dimensi yaitu dimensi tauhidiah dan dimensi insaniah. Dimensi tauhidiah (ketuhanan), yaitu konteks bahwa Allah adalah inspirasi dan sumber perdamaian. Kedua, dimensi insaniah (kemanusiaan), artinya manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan suci dan memiliki nilai asasi yang perlu dijaga dan dijunjung tinggi untuk bisa hidup damai, tenang, rukun dan toleran. Dimensi insaniah ini memiliki tiga landasan utama. Pertama, damai dalam diri sendiri. Kedua, damai dalam keluarga yang mengarahkan terjadinya hubungan yang harmonis di lingkungan keluarga sehingga tercipta ketenangan dan cinta kasih. Ketiga, damai dalam lingkungan masyarakat, sehingga terjadi hubungan sosial yang harmonis, bebas dari berbagai macam diskriminasi.. Konsep damai dalam Islam dimensi insaniyyah selaras dengan Tri Kerukunan Umat Beragama yang meliputi kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Tri kerukunan umat beragama dicanangkan oleh pemerintah untuk menghindari konflik dan menjaga kerukunan antar umat beragama mengingat  kemajemukan bangsa Indonesia dalam hal pemahaman dan agama. Berdasarkan buku Pedoman dasar Kehidupan Beragama tahun 1985-1986 Bab IV halaman 49 Pelaksanaan pembinaan kerukunan hidup beragama dimaksudkan agar umat beragama mampu menjadi subjek pembangunan yang bertanggung jawab, khususnya pembinaan kerukunan hidup beragama. Umat beragama indinesia mempunyai kondisi yang positif untuk terus dikembangkan, yaitu ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha esa yang meliputi kepercayaan kepada kehidupan di hari kemudian, memandang sesuatu selalu melihat dua aspek, yaitu aspek dunia dan akhirat dan senantiasa memegang teguh pendirian yang berkaitan dengan aqidah agama

Kerukunan intern umat beragama menyangkut kerukunan umat seagama sedangkan kerukunan antarumat beragama menyangkut kerukunan antar umat yang berbeda agama. Terkait dengan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah, Islam telah menerangkannya dalam Al-Qur’an : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan  lebih baik akibatnya.”(QS An Nisa’ : 59)

 

Berbicara tentang ketidakharmonisan dan kekerasan dalam keluarga, tidak akan terlepas dari konsep damai dimensi insaniyyah dalam Islam dan kerukunan intern umat beragama. Dalam konsep kerukunan intern umat beragama, komunikasi dan sikap saling menghargai merupakan komponen dasar dalam mewujudkan keharmonisan dan kerukunan terutama dalam keluarga, unit terkecil dalam masyarakat. Berdasarkan data dari klinik pasangan suami istri dr. Boyke dan rekan menunjukkan 56 persen perceraian disebabkan karena komunikasi yang buruk. Perceraian di Indonesia mencapai 200 ribu setiap tahunnya, tertinggi di Asia Pasifik Ini menunjukkan bahwa konsep kerukunan intern umat beragama belum diterapkan dengan baik di Indonesia, apalagi mengingat banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Berdasarkan uraian di atas, penyebab cerai seperti tindak kekerasan dan kurangnya komunikasi dapat mengganggu kerukunan intern umat beragama. 

 

Tidak hanya itu, dampak dari perceraian juga mengakibatkan renggangnya ukhuwah dan kerukunan intern umat beragama. Seperti yang kita ketahui dalam kasus perceraian selebritis, kasus perceraian akan menimbulkan konflik bagi pasangan suami istri yang berpisah baik dalam hal materi, hak kepengurusan anak, maupun trauma psikis bagi kedua pihak. Konflik tersebut memang berada dalam ruang lingkup kecil. Namun, melihat besarnya kasus perceraian yang mencapai 200.000 pasangan tiap tahunnya, bukan tidak mungkin kasus yang berada dalam ruang lingkup kecil ini akan berdampak pada kerukunan intern umat beragama dalam tingkat nasional.

 

Penerapan kerukunan intern umat beragama merupakan solusi untuk mengurangi jumlah kasus perceraian suami istri.  Melalui penerapan ini, pasangan suami istri akan lebih mengutamakan komunikasi dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga daripada saling meninggikan ego. Dalam Islam sendiri, penerapan kerukunan intern umat beragama dijelaskan dalam Al-Qur’an ; Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.  (QS. Ali Imran : 103). Ayat tersebut mengindikasikan bahwa Islam memberi perhatian besar terhadap persatuan umat termasuk dalam lingkup terkecil, keluarga.

 

Penerapan kerukunan intern umat beragama dalam lingkup keluarga dimulai dari hal yang kecil seperti meningkatkan kesadaran dari pihak suami dan istri akan hak dan kewajibannya. Pemahaman tidaklah cukup, penerapan dan niat dari pihak suami dan istri  dalam berumah tangga sangatlah penting. Pemahaman tidak akan berguna jika tidak diterapkan dan berumah tangga tak akan membawa berkah dan kebahagiaan jika tanpa didasari niat karena Allah. 

One thought on “Perceraian dan Hubungannya terhadap Kerukunan Intern Umat Beragama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s