positif thinking July 27, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: masalah, menyakitkan, negatif, positif thinking
add a comment
pernah ngga dihadapkan suatu masalah yang menyebabkan kita berpikir negatif kepada seseorang? saya adalah salah seorang yang pernah mengalaminya. ternyata berpikir negatif itu nggak ada gunanya,lowh. membuat hati lelah, dan dunia terasa sempit..(walaupun sebenarnya udah sempit karena banyak orang).
fakta menunjukkan, bahwa;
* 2juta informasi masuk ke otak kita perdetiknya
* akal kita mampu berfikir 60.000 fikiran setiap harinya, baik yg positif maupun negatif
* Setiap doa yg kita ucapkan bersumber dari fikiran, berarti setiap fikiran merupakan DOA
* setiap DOA pasti dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun yang negatif (Ud’uni astajib lakum)
* Hidup kita yang sekarang kita jalani, ternyata hasil proyeksi dari akal fikiran kita sendiri
jadi, mari kita transformasi “ion-ion” negatif menjadi “ion” positif yang akan merubah kita menjadi lebih baik. cara nya menghindari negatif thinking adalah dengan; menganggap itu nggak ada gunanya and diantara seribu prasangka, pikirkan sjuta kebaikan yang telah ia lakukan kepada anda..
misalnya saja sms nggak dibales atau nggak nepatin janji,
pikirkan kemungkinan yang bikin dia nggak melakukan yang seharusnya dilakukan. saat nggak sms mungkin lagi nggak ada pulsa, hp disilent, jempolnya patah dll.
kedua, supaya kita nggak berpikiran negatif adalah; percaya deh kalo kita jadi orang yang dicurigain atau terdakwa yang di pikirkan negatif itu NGGAK ENAK BANGET..
Sumpah!!!
ASAS PRADUGA TAK BERSALAH
saya pernah di judge negatif sampe bikin saya harus mengelus dada sama seseorang, dan nggak tanggung2 dia langsung sms saya dengan kata yang cukup menyakitkan.( kayaknya harus ngrasa gimana rasanya dijudge sebelum men-judge).
gitu deh kawanzz.. buat yang baca, tolong nie jangan negatif thinking lagi ya apalagi sama Allah, karena Dia nggak pernah zalim sama hamba2 Nya. positif thinking, tapi tetep waspada..
Sikap muslim menghadapi musibah July 21, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: musibah, muslim
add a comment
Rasulullah pernah bersabda bahwa seorang muslim itu memiliki kelebihan, dalam 2 kondisi ia akan memperoleh pahala dari Allah, yaitu saat diberi nikmat ia bersyukur dan saat diberi musibah ia akan bersabar.
Musibah adalah takdir Allah yang sudah dijatah kepada setiap insan yang diciptakan, jadi jangan pernah merasa anda adalah orang yang paling menderita karena suatu saat nanti mungkin si fulan A atau si B akan mengalami hal-hal lain.
Semuanya akan kembali kepada Allah. Baik harta, teman, kerabat bahkan diri anda sendiri adalah milik Allah, itu semua adalah titipan, anda hanya diamanahkan untuk menjaga dan memanfaatkannya bila sang Pemilik berkehendak untuk mengambilnya maka kita tidak punya kuasa untuk menahan atau marah saat pemilik mengambilnya.
Menyadari bahwa musibah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat. Ini terdapat dalam surah Al-Anbiya: 35, Al-Baqarah: 155-157, Surah Al-Hadid: 22-23 dan Surah Al-Mu’minun :76.
Jangan berkeluh kesah. Berkeluh kesah tidakakan mengubah keadaan malah akan membuat musuh bergembira dan dapat melemahkan hati.
Yakinlah, bahwa kepahitan di dunia akan berakhir dengan kemanisan di akhirat jika kita senantiasa ikhlas dan ridho terhadap musibah yang menimpa kit.
Berusaha. Bersabar berarti juga terus berusaha, disinilah amalan kita akn terlihat dan dicatat di sis Allah sebagai pahala ikhtiar kita.
BEGINILAH JALAN DAKWAH MENGAJARKAN KAMI July 21, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: allah, dakwah, perjalanan panjang
add a comment
(M. Lili Nur Aulia)
Untuk saudara-saudara kami di jalan dakwah , tulisan ini adalah catatan kecil dari perjalanan panjang kita. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan ketundukan kepada Allah SWT atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan ini. Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah telah memilih kita berada di jalan ini. Allah SWT telah mengistimewakan kita menerima nikmat berjama’ah dan ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah SWT. Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta maupun ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah SWT Yang Maha Rahman, Yang menuntun langkah kita hingga sampai di sini, di jalan ini, pada detik ini. Allah SWT berfirman : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imran : 103)
Nikmat ini tidak boleh direndahkan, diremehkan apalagi dipermainkan. Kita harus menjaga dan memelihara nikmat yang teramat agung ini. Dan kita wajib merasa khawatir andai nikmat itu hilang.
“ Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). “ (QS Ali Imran : ![]()
Dari Sini Kami Memulai
“ Jalan Dakwah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan dakwah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup di dunia dan di akhirat “.
Mengapa Berada di Jalan Dakwah ?
Kami ingin seperti para pendahulu kami di jalan ini yang telah banyak memperoleh pahala dan keridhaan Allah karena peran-peran dakwahnya. Dan karena itulah, kami memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat kami. Tidak heran, jika para penyeru kebaikan, menjadi alasan turunnya limpahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Tak ada makhluk Allah yang dapat dukungan dan do’a seluruh makhluk-Nya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berdakwah. Sebagaimana sabda Rasululllah SAW, “ Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di dalam lubangnya, bahka ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mnegajarkan kebaikan kepada manusia. “ (HR. Tirmidzi)
Allah SWT menjelaskan tiga kelompok manusia dalam masalah ini. Mereka adalah, kelompok penyeru dakwah yang salih, kelompok salihin tapi tidak menyerukan dakwah dan orang-orang yang mengingkari dakwah. Allah SWT berfirman : “ Dan (ingatlah) ketika suatu kaum di antara mereka berkata: “ Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “ Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa. “ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. “ (QS. Al A’raf 164-165)
Nash Al-Qur’an itu merupakan peringatan bagi kami. Bahwa meninggalkan peran dakwah, tidak pernah diterima apapun alasannya. Bahkan bisa jadi sikap tersebut menundang kemarahan Allah (Musafir fi Qithari ad Da’wah, Dr. Abdil Abdullah Al Laili, 195).
Ada pula hadits Rasulullah SAW yang lainnya, Abu Bakar RA mengatakan, “ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah SWT dengan azab-Nya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Teman-Teman Pilihan
Hendaknya teman yang menemaninya dalam perjalanan itu adalah orang yang bisa membantunya dalam menjalankan prinsip agama, mengingatkannya tatkala lupa, membantu dan mendorongnya ketika ia tersadar. Sesungguhnya orang itu tergantung agama temannya. Dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya….” (Ihya ‘Ulumiddin, 2/202)
Kami dan Amal Jama’i
Realitas yang kami lihat sendiri bahwa manusia cenderung akan menjadi lemah ketika bekerja seorang diri.. Sebaliknya akan menjadi kuat dan berdaya ketika ia besama-sama dengan yang lain. Ada juga realitas lainnya, bahwa siapapun yang berusaha mewujudkan sesuatu, meskipun mereka telah ikhlas dalam melakukannya, tetapi tidak akan banyak memberi pengaruh untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan jika ia melakukannya sendirian. Kesendiriannya itu menyebabkan upaya yang mereka lakukan menjadi lemah dan minim efeknya.
Bekerja untuk Islam mutlak memerlukan sebuah organisasi, perlu adanya pimpinan yang bertanggung jawab, membutuhkan adanya pasukan dan anggota yang taat, harus memiliki peraturan mendasar yang mengikat dan menata hubungan antara pimpinan dan anggota, harus ada yang membatasi tangung jawab dan kewajiban, menjelaskan tujuan dan sarana serta semua yang diperlukan oleh suatu aktifitas dakwah dalam merealisasikan tujuannya. Dalam kebersamaan itulah kami menempuh jalan dakwah ini.
Perjalanan ini Mutlak Memerlukan Pemimpin
Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya dan paling mungkin dimintakan persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin, 2/202)
Kami telah mempercayai para pemimpin itu sebagai pemandu perjalanan kami. Maka, setelah proses syuro berlangsung, apapun keputusannya, itulah yang akan kami pegang untuk dijalankan. Kami yakin, keputusan syuro itu tidak pernah keliru. Dan keputusan itu bersifat Multazam (Mengikat).
Meskipun mungkin saja akibat pelaksanaan satu keputusan syuro memunculkan situasi yang tidak maslahat. Tapi sebuah keputusan yang dilandasi dengan syuro tidak pernah salah. Itulah yang juga disampaikan kepada kami oleh Ustadz Sa’id Hawa rahimahullah, bahwa hasil syuro tidak pernah salah. Karena mekanisme itulah yang dijabarkan oleh Islam untuk menentukan langkah yang dianggap paling benar. Jika pada akhirnya, keputusan itu ternyata tidak memberikan kesudahan seperti yang diharapkan, maka proses syuro kembali yang akan menindaklanjuti kekeliruan itu.
Jalan ini, Miniatur Perjalanan Sesungguhnya
Kebersamaan kami bukan tanpa perselisihan. Boleh jadi ada di antara kami yang mengalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal. Padahal, keharusan kami untuk bersama dan kemungkinan kami berselisih, adalah dua kutub yang saling berlawanan. Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakan, kesesuaian, kedekatan dan keintiman. Sementara perselisihan bisa mengaktifkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian, hingga keterpisahan.
Tiga Karakter Penempuh Perjalanan
Kelompok Zaalimun Li Nafsihi, adalah orang-orang yang lalai dalam memepersiapkan bekal perjalanan. Mereka enggan untuk mengumpulkan apa-apa yang membuatnya sampai tujuan.
Kelompok Muqtashid, adalah mereka mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa sampai ke tujuan perjalanan. Mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimilki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu, yang menyulitkan perjalanannya.
Kelompok Saabiqun Bil Khairaat, yakni orang-orang yang obsesinya adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Mereka membawa perbekalan dan barang dagangan lebih dari cukup karena mereka tahu hal itu akan memberi keuntungan besar baginya. Selain itu mereka juga tahu bahwa di tengah perjalanan ini, sangat mungkin mereka mengalami situasi sulit yang membutuhkan perbekalan tambahan. (Thariqul Hijratain, 236).
Begitu pentingnya, bekal ketaqwaan yang erat kaitannya dengan modal ruhiyah kami di jalan ini, maka setiap kali ketaqwaan kami melemah, pada saat itu intensitas dakwah kami menurun. Dan ketika tingkat ketaqwaan kami berkurang dari seharusnya, ketika itulah kami mengalami situasi futur (kelemahan) untuk meneruskan perjalanan ini. Seperti itulah pelajaran yang kami temukan dalam diri kami, dan juga saudara-saudara kami di jalan ini.
Ketika Kami Membangun Kebersamaan
“ Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.”
Menjadi Batu Bata dalam Bangunan ini
Kebersamaan kami di jalan ini adalah karena kehendak kami untuk ambil bagian dalam bangunan besar ini. Maka, sebagaimana proses membangun sebuah bangunan pada umumnya, tukang batu pasti akan memilah-milah batu bata mana yang akan ia tempatkan pada bangunannya. Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.
Batu Bata yang Unik dan Khas Jalan ini
Para sahabat dan salafus sholeh menerima dan mengejar kekhususan itu agar memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Di jalan dakwah ini, kami memiliki saluran yang amat banyak untuk mewujudkan kekhususan yang kami miliki dengan berkontribusi di jalan ini. Kami memetik hikmah dari perjalanan mereka, dan kami berharap semoga jalan dakwah ini bisa memproses kami hingga kami memiliki amal-amal unggulan yang menjadi keistimewaan kami di sisi Allah melalui jalan ini.
Untuk Menolong, Bukan Ditolong
Sesungguhnya di jalan inilah kami semakin mendalami makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain. Kehidupan seseorang menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan kehidupan akan menjadi miskin makna dan rendah nilainya ketika hanya banyak bermanfaat bagi lingkup pribadi. Filosofi inilah yang menyebabkan kami menikmati kesibukan berpikir dan melakukan banyak aktifitas dakwah di antara kesibukan lain yang menyertai kami. Di sini, kami lebih merasakan pengaruh firman Allah “ Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia (Allah) menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian.” (Muhammad 9)
Kebersamaan Kami Terikat Lima Hal
Pertama, Rabithatu al ‘aqidah (Ikatan Aqidah). Tali ikatan aqidah islamiyah yang menyatukan kami dengan jalan ini. Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara-saudara kami di sini.
Kedua, Rabithatu al fikrah (ikatan pemikiran). Sejak awal, kebersamaan kami di jalan ini memang dibangun oleh kesamaan cita-cita dan pemikiran. Kami disatukan oleh kesamaan ide, gagasan, keinginan dan cita-cita hidup yang kami yakini merupakan sarana yang bisa menyampaikan kami kepada keridhaan Allah SWT.
Ketiga, Rabithatu al ukhuwwah (ikatan persaudaraan). Tak ada yang melebihi warna jiwa kami setelah keimanan kepada Allah, kecuali suasana persaudaraan karena Allah SWT di jalan ini. Kami di jalan ini, terikat dengan ruh persaudaraan yang tulus. Ruh persaudaraan yang tersemai melalui kebersamaan kami berjalan dan memenuhi banyak tugas-tugas dakwah yang kami jalani. Kami berharap, persaudaraan kami di jalan ini adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah, tentang golongan orang-orang yang dinaungi Allah di hari kiamat. Di mana salah satu golongan itu adalah : Orang yang saling bercinta karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah SWT.
Keempat, Rabithatu at tanzhim (ikatan organisasi). Perencanaan dan keteraturan langkah-langkah kami di jalan ini, sudah tentu menandakan kami harus pula memiliki sebuah organisasi yang mengatur kami. Dalam organisasi dakwah ini, berlakulah ketentuan sebagaimana orang yang bekerja di dalam sebuah perusahaan, dan harus terikat dengan ragam peraturan yang diberlakukan. Seperti itulah kebersamaan kami di jalan ini.
Kelima, Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji). Dijalan ini, kami masing-masing telah mengikrarkan janji. Janji yang paling minimal adalah janji yang tercetus dalam hati kami, dalam diri kami sendiri, kepada Allah SWT. Atau bahkan, juga janji kepada saudara-saudara perjalanan untuk tetap setia dan mendukung perjuangan. Kami terikat dengan dua jenis janji itu.
Yang Melemahkan Ikatan dalam Amal Jama’i
Mengetahui sebab-sebab orang yang meninggalkan amal jama’i bukan perkara mudah. Terlebih bila yang bersangkutan tidak berterus terang tentang latar belakang sikapnya. Perlu pendekatan yang bertahap, sungguh-sungguh, hingga akhirnya bisa ditemukan penyebabnya dan dicarikan jalan keluarnya.
Dalam hal ini, tentu saja musharahah (keterusterangan) serta kejujuran menjadi penting bagi kami dan saudara-saudara kami. Sesungguhnya kepercayaan antara kami akan semakin terbentuk kuat dengan adanya keterusterangan ini. Dari keterusterangan, semua persoalan bisa dicari pangkal masalahnya.
Tsiqah, sebagai Maharnya
Jika kesatuan barisan umat ini dibangun dengan mempersatukan keyakinan, mempersatukan hati, mempersatukan niat, mempersatukan tujuan, dan mempersatukan manhaj (jalan hidup), yang semuanya mengacu pada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kebangkitan dan kemenangan umat Islam akan semakin dekat kita raih.
Promosi Penempatan di Jalan Dakwah
Pertama, kami harus bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri. Mengapa kami di sini? Untuk siapa amal yang kami lakukan? Dan apa yang kami kehendaki dengan amal ini? “ Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka orang itu berada di jalan Allah.”
Kedua, kami harus menunaikan tugas yang telah dibebankan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ketidakpuasan terhadap posisi tertentu membuat malas menunaikan tugas dan kewajiban.
Ketiga, kami harus membiasakan untuk menunjukkan keahlian dan memperkenalkannya dengan baik kepada pemimpin dan saudara-saudara di jalan ini. Tidak memendam pendapat yang menurut kami bermanfaat, meskipun pendapat pimpinan berbeda.
Keempat, terus terang kepada sesama saudara dan pimpinan tentang permasalahan yang ada kaitannya dengan dakwah dan mengusik. Garis lurus itu biasanya lebih dekat dengan kedua titik. Maka ketika kami mengeluarkan uneg-uneg, garis itu menjadi lurus dan membuat kami tenang. Di samping itu, permasalahan menjadi jelas bagi semuanya. Namun jika masalah itu dipendam, tentu kegundahan kian membesar dan bercabang sehingga syetan pun beraksi untuk membesarkannya lagi dengan godaan dan bisikannya. Kami jadi terbakar dari dalam. Lalu hal itu akan mengganggu keimanan dan kejiwaan kami.
Kelima, selalu berharap kepada Allah melalui doa dalam sholat, sujud dan waktu-waktu mulia agar dikaruniakan amal salih yang mendekatkan kita kepada-Nya. Juga agar Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan, kebenaran, dan merubah kami menjadi lebih baik. Agar kami diselamatkan dari fitnah kedudukan dan kepemimpinan di mana kami tidak mampu menunaikannya.
Perjalanan Beraroma Semerbak
“ Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jamaahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh al-haq, maka ia akan tercerai berai oleh kebatilan. “
Indahnya Kebersamaan di Jalan Dakwah
Boleh saja orang menganggap keterikatan kami di jalan ini, membawa kerugian materiil untuk kami. Itu karena mereka melihat, banyak energi yang kami kontribusikan untuk kepentingan perjuangan kami di jalan ini. Silahkan saja, jika ada orang yang memandang kami sebagai orang yang tak beruntung karena meluangkan banyak rentang waktu untuk kepentingan orang lain, sementara diri kami sendiri tampak belum mapan. Tapi sebenarmya, melalui jalan ini, kami justru mendapatkan suatu hal yang lain.
Kewajiban Memang Lebih Banyak dari Waktu
Kami mengerti, tanpa terget-target seperti ini dan tanpa evaluasi yang dilakukan bersama saudara-saudara kami di jalan ini, kami akan terbunuh oleh waktu luang yang kami miliki. Kami juga mengerti bahwa tanpa hambatan kegiatan dakwah yang kami dapatkan di jalan ini, waktu-waktu hidup kami menjadi lebih mungkin terisi dan disibukkan oleh urusan-urusan yang bathil. Karena itulah jalan dakwah telah menolong kami.
Agenda di jalan dakwah begitu banyak mengisi hari-hari kami. Sampai-sampai, tidak sedikit para penempuh jalan ini, yang merasakan kurangnya jumlah hari dalam satu pekan, disebabkan banyaknya kegiatan yang akan mereka lakukan. Di jalan dakwahlah kami lebih mengerti dan menghayati ungkapan Imam Hasan Al Banna rahimahulullah, “al waajibaat aktsaru minal awqaat”. Bahwa kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.
Memetik Buah Manfaat dari Kelebihan Saudara
Maka, di jalan inilah kami lebih tajam membaca variasi kelebihan-kelebihan itu. Di jalan ini kami merasakan pantulan cermin dari keistimewaan itu, dan mencoba menghayati sabda Rasulullah SAW tentang pintu-pintu surga.
Atmosfir Kesalihan dari Saudara Shalih
Pertemuan kami dengan mereka, ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu hebat. Kami bisa merasakan suplay energi ruhiyah yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Kami merasakan adanya suasana batin yang baru, yang mendorong dan memotivasi kami untuk lebih banyak melakukan amal-amal shalih. Perasaan itu, bahkan muncul tanpa mereka harus memberikan nasihat dan tausiyahnya untuk kami. Karena kami sudah biasa merasakan pengaruh aura keshalihan itu, sejak kami melihat, mendengar suara mereka. Sebagaimana Yunus bin Ubaid mengakui kenikmatan besar ketika melihat Al Hasan Al Bashri rahimahulullah. Ia mengatakan “Seseorang bila melihat kepada Al Hasan Al Bashri, akan menerima manfaat dari dirinya, meski orang itu tidak melihat Al Hasan Al Bashri beramal dan tidak melihat ia mengeluarkan ucapan apapun.” (Risalah Al Mustarsyidin, Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, Hal.60).
Amal Shalih yang Tersembunyi
Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan.
Kedua, ketika dalam perkumpulan itu pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan.
Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-id, 60).
Pemimpin yang adil, orang yang hatinya terkait dengan mesjid ketika ia sedang berada di luar masjid sampai ia kembali ke masjid, dua orang yang saling mencinta karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, orang yang berdzikir kepada Allah dalam kondisi seorang diri hingga kedua air matanya menangis, orang-orang yang dipanggil oleh seseorang wanita kaya dan cantik tapi orang tersebut mengatakan: “ Sesungguhnya aku takut kepada Allah rabbul ‘Alamiin”, dan orang yang bersedekah tapi ia menyembunyikan amalnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (HR Bukhari Muslim).
Amal Shalih Harus Tetap Ditampilkan
Pertama, amal-amal shalih yang diperintahkan Allah swt tidak boleh terhalang karena kekhawatiran riya. Allah swt tetap memerintahkan amal salih itu tetap dilakukan, dengan tetap berupaya ikhlas saat melakukannya.
Kedua, prinsip yang dipegang para salafushalih, adalah penilaian atas yang lahir, tidak menghukumi yang tidak terlihat. Seperti perkataan Umar bin Khattab ra, “Barang siapa yang kami lihat ia melakukan kebaikan, maka ia akan kami sukai. Dan barang siapa yang kami lihat ia melakukan keburukan, kami benci. Meskipun ia mengatakan bahwa dibalik yang lahir itu adalah kebaikan.”
Ketiga, keraguan menampilkan dan melakukan amal-amal shalih karena riya, akan menambah tekanan bagi orang-orang yang melakukan amal shalih.
Keempat, tuduhan dan anggapan bahwa kebaikan adalah riya, adalah perilaku orang-orang munafiq.
Membina Orang Lain Sama dengan Diri Sendiri
Tapi di sisi lain, ternyata interaksi kami dalam jalan dakwah dan upaya kami mengkader serta membina para objek dakwah, mengharuskan kami untuk terus bercermin dan berhati-hati. Kami tidak boleh ceroboh dan mudah melemah. Karena kami tahu dan semakin menyadari bahwa keberhasilan dakwah selalu merupakan turunan dari adanya qudwah dalam kaderisasi dakwah yang kami jalankan. Pelajaran ini bukan hanya kami pelajari dari teori “An naas ‘alaa diini muluukihim” (manusia itu tergantung agama rajanya), tapi kami rasakan langsung dalam aktifitas dakwah dan pembinaan. Maka dari sinilah kami memperoleh pelajaran besar dari keberadaan kami di jalan dakwah. Mendakwahkan orang lain, pada dasarnya adalah mendakwahkan diri sendiri. Menasehati orang lain adalah pada dasarnya menasehati diri sendiri. Membina orang lain di jalan ini, sama dengan membina diri sendiri.
Berpikir Negatif Melemahkan dan Menghancurkan Semangat
Kami berusaha membicarakan yang baik-baik tentang saudara-saudara kami. Dan berupaya meminimalisir pembicaraan tentang aspek negatif tentang saudara-saudara kami. Sebagaimana ribuan halaman dan ratusan jilid kitab para ulama yang menceritakan kehidupan para sahabat Rasulullah saw serta salafushalih, yang sangat sedikit menceritakan sisi negatif kehidupan mereka, kecuali dalam konteks memberi ibrah dan pelajaran berharga. Para salafushalih, sangat jarang membicarakan kekurangan sahabat dan orang-orang yang mereka kenal. Tentu bukan karena mereka adalah orang-orang suci yang tidak mempunyai catatan negatif, tapi seperti itulah salah satu wujud persaudaraan para salafushalih. Dan karena sikap mereka itulah, yang memompa keyakinan kami serta mendorong semangat dakwah kami.
Ketika Melewati Jalan Mendaki
Begitulah, jalan dakwah ini mengajarkan bahwa sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan.
Mengkaji yang Tersirat dari yang Tersurat
Tapi, pelajaran dakwah ini mengajarkan kami, bahwa langkah pertama yang kami lakukan saat kami mendapatkan situasi yang tidak kondusif dalam kebersamaan ini adalah, memeriksa diri kami terlebih dahulu. Kami tidak mensakralkan kelompok tertentu, atau individu tertentu, tapi kami juga tidak terbiasa meratakan kesalahan atas seluruh kelompok anggota tertentu. Tidak semua individu dalam satu kelompok harus bertanggung jawab atas kekeliruan beberapa individu dalam kelompok tersebut, meskipun kelompok yang keliru itu adalah termasuk jajaran pimpinan di dalamnya. Kami tidak berdiri di atas prinsip “pemimpin selalu benar”. Maka, disaat kami atau ada saudara-saudara kami merasakan kekecewaan bahkan kebencian karena perilaku saudara-saudaranya yang lain di jalan ini, hendaknya tidak menggeneralisir kekeliruan itu pada seluruh individu dalam perjalanan ini. Tidak semua mereka melakukan kesalahan, karena mungkin sekali itu adalah kesalahan individu yang bisa dihitung oleh jari tangan. Dan itu jugalah yang terjadi di zaman sahabat radiyallahu anhu. Kesalahan individu mereka juga tidak melepaskan kehormatan dan kemuliaan generasi sahabat secara keseluruhan yang penuh dengan kebaikan bahkan menjadi simbol keutamaan generasi yang terbaik.
Begitulah, jalan dakwah ini menhajarkan kami sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan. Dan jika keburukan yang kami duga itu benar, maka kami harus menempuh mekanisme penyampaian nasihat dengan baik dan benar. Dengan memilih kalimat yang baik, memilih waktu dan tempat yang tepat, menampakkan rasa cinta dan keikhlasan yang tulus, dan semacamnya.
Antara Objektivitas dan Sakralisme
Menghadapi kemungkaran yang terjadi dalam sebuah organisasi dakwah harus dilakukan secara bertahap, terprogram dan diteliti permasalahannya. Bukan dengan mengembangkan wacana untuk meninggalkan organisasi dakwah yang sebenarnya kami yakin bahwa organisasi itu merupakan jalan kebenaran. Jalan kebenaran tidak boleh kami tinggalkan dengan alasan adanya personil yang tidak sejalan dengan misi kebenaran itu. Karena kami menyimpulkan bahwa lari dari kewajiban meluruskan dan memperbaiki, dengan meninggalkan jamaah dakwah, itu sama sekali tidak memberi maslahat untuk mengusir kerusakan yang ada. Situasinya mirip dengan seseorang dokter yang lari meninggalkan tugas mulianya mengobati pasien yang sedang sakit.
Kesalahan adalah Resiko sebuah Aktivitas
Kesalahan substansial justru terjadi ketika seorang dai mundur dari aktivitas dakwah dan berdiam diri dengan alasan memelihara diri agar tidak menyeleweng dari ajaran Allah. Padahal sebenarnya kemunduran dan diamnya adalah kesalahan dan penyelewengan dari ajaran Allah SWT. Tentu saja kekeliruan itu tetap kami sikapi secara benar. Dalam arti, kekeliruan seorang saudara harus diluruskan dengan adab dan cara-cara yang baik. Dengan tujuan baik, metode yang baik, obkjektivitas dan dengan kelapangan dada di antara kami (penasehat maupun yang dinasehati).
Mundur dari Dakwah, Mungkinkah???
Jika olahragawan bisa mengalami masa pensiun karena usianya yang renta dan kekuatan fisiknya yang melemah. Jika seorang pegawai akhirnya menemui saat pensiun karena usianya telah melewati batas ketentuan umum kepegawaian. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi para juru dakwah, tidak mengenal kamus pensiun dan berhenti dari panggung dakwahnya. Kami dan saudara kami di jalan ini tidak mengetahui ada kondisi yang mengharuskan kami mundur dari gelanggang dakwah karena faktor usia, kemampuan fisik yang menurun, pikiran yang sulit difungsikan secara maksimal, atau bahkan karena kondisi eksternal yang memaksa kami untuk mundur. Singkatnya, kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.
Nasihat adalah Tiang Penyangga
Nasihat, kritik, teguran, aspirasi, benar-benar kami perlukan di jalan ini. Siapapun kami. Kami tidak membayangkan andai perjalanan ini berlalu tanpa ada teguran, nasihat, kritik, yang sampai kepada kami. Sesungguhnya mendegarkan nasihat, teguran, maupun kritik itu adalah pahit. Tapi keberadaannya seperti seseorang memakan obat yang tidak enak. Sedangkan manfaatnya adalah pelurusan dan keinsyafan. Sesungguhnya hak yang wajib ditunaikan dari persaudaraan adalah bersungguh-sungguh menyampaikan nasihat dan saling melarang yang tidak baik untuk memelihara kebenaran di antara dua saudara.
Demikianlah, keterpeliharaan persaudaraan kami justru ditopang oleh nasihat. Jika kami mengabaikan nasihat, persaudaraan kami justru akan mudah hancur. Kami di jalan ini, harus berusaha lapang menerima kritikan, masukan, nasihat, dari sesama saudara. Dan kami di jalan ini, juga harus mampu menyampaikan nasihat, kritikan, masukan dengan adab-adabnya untuk saudara-saudara kami.
Kesejukan yang Meringankan Langkah
Keletihan itu, akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah swt.
Saling berdo’a di antara sepi
Jalan dakwah membawa kami tiba di sebuah komunitas do’a. Perkumpulan orang-orang beriman yang saling mendo’akan. Di mana kami mendo’akan saudara-saudara kami. Kemudian saudara-saudara kami pun mendo’akan kami. Inilah persekutuan do’a yang luar biasa, karena kami semua memerlukan do’a dari siapapun, terlebih orang-orang beriman dan shalihin. Kami yakin dengan firman Allah swt. “ Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya (QS Asy Syu’ara : 26).
Keberkesanan Membaca Sirah Orang-orang Shalih
Keterpengaruhan ini sesungguhnya sulit dirasakan oleh mereka yang tidak berada di jalan dakwah. Di antara kami, ada yang sungguh-sungguh tenggelam dalam alur perjuangan mereka sehingga memotivasi kami secara kuat untuk terus berjalan dan melanjutkan perjuangan mereka di atas jalan dakwah. Kami merasakan bahwa apa yang kami alami, adalah bagian dari mata rantai perjuangan yang juga mereka perjuangkan. Jengkal demi jengkal langkah kami, seperti bagian dari perjalanan panjang para pejuang itu hingga menjadikan kami kuat dan bertahan untuk melanjutkan perjalanan.
Kesulitan yang Menambah Kekuatan
Imam Hasan Al banna menjelaskan tentang karakteristik pejuang dakwah adalah orang-orang yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar rahangnya dan menunaikan waktunya dalam senda gurau permainan yang sia-sia. Jika itu yang terjadi, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang atau orang-orang yang tercatat sebagai barisan mujahidin. Aku bisa menggambarkan karakter seorang mujahid adalah orang yang telah menyiapkan perbekalan dan persiapannya, yang selalu memikirkan terhadap dakwah yang ada di setiap sudut jiwanya, dan memenuhi relung hatinya. Ia selalu dalam kondisi berfikir, sangat perhatian untuk berdiri di atas kaki yang siap sedia. Jika diseru ia menjawab atau jika dipanggil ia memenuhi panggilan. Langkahnya, ruhnya, bicaranya, kesungguhannya, permainannya selalu berada dalam lingkup medan dakwah yang ia persiapkan dirinya untuk itu.
Bangga dengan Amal Shalih
Kami memperhatikan sabda Rasulullah saw yang memuji kehadiran orang-orang aneh. “Pada awalnya Islam datang sebagai sesuatu yang aneh dan akan kembali menjadi sesuatu yang aneh . Maka beruntunglah orang-orang yang aneh (al ghuraba). “ Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang aneh itu, wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia berada di dalam kerusakan.” (HR. Muslim).
Menjadi hiduplah nasihat Ustadz Mushtafa Mahsyur dalam jiwa kami. “Jika anda ragu bekerja karena gentar menghadapi kritikan, pasti anda tidak akan bisa bekerja selama-lamanya. Tetapi kerjakanlah apa yang anda yakini kebenarannya, jelas kegunaannya, diridhai oleh Rabbmu dan terpuji di kalangan para ulama yang ikhlas, meskipun anda dibenci dan dimaki sepanjang hidupmu oleh para pendengki, tetapi di antara mereka pasti ada yang senang kepada anda setelah anda meninggal dunia (Mushtafa As Siba’i, Hakadzaa allamatni al hayaah).
Potensi Besar yang Tersingkap di Jalan Ini
Berapa banyak di antara kami, yang sebelumnya merupakan pribadi yang tak menghargai diri dan tidak mengenal potensi dirinya, tapi kemudian di jalan ini kami menemukan perkembangan potensi diri yang lain, yang sangat kami syukuri. Kedekatan kepada Allah di jalan ini telah membuka saluran-saluran amal dan kontribusi kebaikan yang begitu banyak, lalu membuka kesempatan kami melakukan kebaikan apapun sesuai potensi yang ada. Kami tidak membayangkan, apa jadinya kami bila tidak berada di jalan ini.
Bergerak Karena Diri Sendiri Bukan Orang Lain
Tidak, Kami adalah da’i yang telah memilih jalan dakwah ini sebagai pijakan kaki kami. Sosok figur mungkin saja mempesona kami untuk lebih giat melakukan banyak kontribusi di jalan ini. Tapi bukan itu yang dominan dalam hati kami. Sosok figur juga bisa melakukan kesalahan, dan kesalahan itu juga tidak membuat kami tertahan atau meninggalkan jalan ini. Karena kami telah memilih untuk melangkah di atas kaki kami sendiri, di atas pemahaman dan keyakinan lubuk hati kami sendiri. Ya, sekali lagi, karena kami sendiri yang telah memilih jalan ini.
Peristirahatan, Bernama Terminal Canda
Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran pada kami tentang kebutuhan jiwa untuk beristirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Pertemuan kami dengan sesama saudara di jalan ini, hampir selalu diwarnai dengan senyum dan tertawa. Meskipun begitu, pembahasan yang memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat, tidak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa kami. Kami merasakan, canda-canda yang berkembang di antara kami bisa memberi energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran. Bahkan bisa juga berfungsi untuk menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan. Senyum dan tertawa, memberikan kesejukan tersendiri dalam ruang kebersamaan kami di jalan ini.
Kami ingin senyum dan tawa dalam kebersamaan ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar ra tentang sahabat Rasulullah saw. Ketika ia ditanya, “Apakah para sahabat Rasulullah itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.”
Perjalanan ini Tidak Boleh Terhenti
Setelah kesulitan melakukan amar ma’ruf dan nahyul mungkar. Setelah menumpahkan segenap upaya, kesabaran dan lipatan kesabaran. Kami harus tetap bertahan dan meneruskan perjalanan ini. Kami tidak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir dari jalan ini. Kami tidak boleh tertipu dengan kekuatan kebatilan, karena kebenaran akan tetap eksis. Jalan ini menunjukkan fakta kepada kami, bahwa perjalanan bersama kebatilan hanya bergulir satu masa. Sementara perjalanan bersama kebenaran itu akan berlangsung hingga akhir masa.
“Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS Ibrahim :25)
Menangislah!!! July 21, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: airmata, indah, menangis
add a comment
Masih inget nggak? Buku controversial masaru emoto yang berjudul the true power of water yang pada akhirnya dibantah oleh buku lainnya yang berjudul the untrue power of water. Menurut saya (judul) buku itu ada benarnya. Kalau masaru mengatakan bahwa air memilki indra yang dapat merespon sesuatu disekitarnya, maka disini saya akan membahas tentang air mata yang memiliki kekuatan.
Air mata yang secara fisiologis dapat membersihkan mata juga dapat membersihkan hati. Bersyukurlah mempunyai airmata karena berarti kita diberi kesempatan untuk menangis.
Menangis menjadi luapan emosi dan keinginan yang tak pernah dapat tertulis oleh pena, tak mampu terucap oleh kata dan tak terlukis oleh warna sekalipun. Ia hanya dapat dirasa, oleh individu yang bersangkutan karena memilki makna yang dalam, lebih dari sekedar kata-kata.
Menangis dengan indah
Menangis menjadi momen terindah saat hanya Dia dan kita yang tahu. Menangis ditengah heningnya malam. Menangisi segala kelalaian dan kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menangis untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menangis lah sebelum ditangisi, jangan sampai kita belum pernah menangisi kesalahan dan kelalaian seumur hidup kita. Bahkan umar bin khattab yang terkenal sebagai singa padang pasir sebagi seorang yang alim, sering menangis dihadapan RabbNya hingga dipipinya terlihat bekas aliran air matanya. Semoga tetesan airmata itu menjadi pemberat di yaumul akhir.
Forbidden crying
Adakah tangisan terlarang? Jawabannya ada. Yakni tangisan meratapi takdir. Menyesali keadaan diri dan memenuhi rongga otak dengan kata-kata ‘why’. ‘why’ tidak pernah menyelesaikan masalah walau terkadang perlu untuk menganalisa masalah, namun bila momennya tidak tepat dapat menjerumuskan individu ke lembah kesedihan yang dalam.
Jadi, menangislah dengan indah agar kesedihan dan harapan menjadi akhir cerita yang indah pula.
BUKA MATA, MEREKA ADA!!! July 10, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: amina wadud, feminis, islam, menjawab, problem solver
add a comment
Mengutip sebuah artikel, mungkin tindakan Amina Wadud merupakan tindakan yang sangat sensasional dimasa nya (2005). Ia menjadi imam solat jum’at di salah satu masjid di Newyork dengan 100 jemaah, beberapa diantaranya adalah lelaki.
Lebih ekstrimnya lagi, Sheila Jeffreys, menulis : kaum perempuan telah diberi tahu pengusung ide kebebasan, bahwa karena sekarang kaum erempuan telah setara dengan kaum lelaki maka tidak ada salahnya kaum perempuan ikut menikmati pornografi.
Itulah realita feminis,, sebuah contoh ekstrim dibalik ide sekuler feminisme.
Atas nama perjuangan terhadap hak-hak wanita, kaum feminis berusaha menyetarakan gender. Loh kok Gender? Coz persoalan Gender inilah yang menurut mereka anggap menjadi biang keladi ketidakadilan terhadap perempuan.
Dalam perspektif mereka, peran-peran manusia di masyarakat di pandang timpang. Ada beberapa hal yang dianggap nggak menguntungkan perempuan, misalnya; subordinasi perempuan oleh laki-laki, marginalisasi perempuan dengan menganggap perempuan tidak produktif dan bernilai rendah, penindasan, kekerasan dan penyiksaan terhadap perempuan.
MEREKA ADA KARENA…….
Secara histories,, kedudukan perempuan sebelum islam sangatlah rendah. Mereka nggak menganggap manusia sebagai manusia sempurna. Kaum yahudi misalnya, menganggap perempuan sebagai pangkal kejahatan dan dosa. Perempuan menyebabkan laknat abadi karena telah menggoda adam untuk memakan buah keabadian. Perempuan juga dipandang lebih rendah dalam hal fisik, moral, intelektual dan spiritual.
Bahkan, pada 581 M berlangsung kongres besar bangsa eropa yang berusaha menemukan jawaban “Siapa perempuan itu?” pada kongres tersebut sempat dipertanyakan perempuan itu manusia atau hewan. Akhirnya ditemukan jawaban bahwa perempuan adalah makhluk untuk menghamba lelaki.
Hingga tibalah masa renaissance yang penuh dengan semangat pemberontakan berhasil menggeser teologi gereja yang selama ini menempatkan wanita dengan posisi rendah. Walaupun pada akhirnya muncul ideology tentang HAM, kaum perempuan pada masa itu tetap berada di kelas dua.
Ternyata ideology feminis yang kapitalis itu sendiri ternyata nggak bisa menjadi solusi permasalahan perempuan di tempat asalnya. Kasus pelecehan seksual, single parent dan aborsi, dilema wanita karier dan free sex masih menunjukkan frekuensi yang tinggi.
Inikah sebuah kemajuan peradaban?
Masih relevankah feminisme?
ISLAM–) PROBLEM SOLVING
Islam punya pandangan yang khas tentang muslimah, yaitu; wanita sebagaimana halnya lelaki. Masing-masing nggak berbeda bahkan nggak punya keistimewaan.
Rasulullah bersabda.” Sesungguhnya kaum wanita setara dengan kaum wanita” (Hr. Abu Dawud & An Nasai)
Sementara itu, aktivitas yang dilakukan oleh lelaki dalam posisinya sebagai lelaki ataupun sebaliknya pada perempuan, sesungguhnya telah dibedakan berdasarkan tabiat mereka. Misalnya, lelaki memiliki kewajiban mencari nafkah dan wanita mengurus rumah tangga. Itu sudah fitrah, tapi Islam tidak melarang bila wanita bekerja di sektor public karena itu merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Kekhususan peran bukan berarti pembedaan gender tapi semata-mata pembagian tugas yang dipandang sama-sama penting dan bersifat saling melengkapi demi terselenggaranya kehidupan yang seimbang.
“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. At Taubah: 71)
Islam juga tidak menjadikan peran kehidupan sebagai penentu kualitas hidup manusia. Tolok ukur kemuliaan seseorang berdasarkan ketakwaannya buka sedikit banyak peran atau aktivitas yang dilakukan. Allah swt berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi kamu adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu.”
Itulah sedikit catatan kecil mengenai feminisme..walaupun masih banyak lagi sisi pemikiran feminisme yang bisa terjawab melalui Islam.
Darah July 10, 2009
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: darah, eritrosit, leukosit, menghitung, pipet
1 comment so far
II. TEORI DASAR
Salah satu fungsi darah di dalam tubuh adalah sebagai alat transportasi. Di dalam tubuh darah berperan dalam transport oksigen, karbon dioksida, zat makanan , metabolit- metabolit yang tidak diperlukan, mengatur suhu tubuh normal, mempertahankan keseimbangan asam basa, mengatur keseimbangan air, mengatasi infeksi, transport hormone untuk metabolisme dan transport metabolit- metabolit antar jaringan. Jumlah darah dalam tubuh sekitar 5 -7 % dari berat badan. Pada wanita angka ini sedikit lebih rendah.
Plasma terdiri dari 91 -92% adalah air dan sisanya merupakabn zat- zat yang larut didalamnya berupa protein, enzim, hormon, vitamin, lipid, asam amino, dsb. Plasma darah ini merupakan system transport yang melayani semua sel melalui medium cairan ekstraselular.
Fungsi utama dari sel-sel darah merah( eritrosit) adalah mengangkut Hb yang seterusnya akan membawa oksigen yang berasak dari paru- paru ke jaringan. Sel darah merah normal berbentuk pelat, cekung ganda dan berdiameter 8 mikron. Konsentrasi pada pria lebih besar daripada wanita.
Sel darah putih( leukosit) merupakan unit yang aktif dari system pertahanan tubuh. Leukosit berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis leukosit, yaitu netrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit. Pada orang dewasa terdapat kira-kira 7000 sel darah putih per millimeter kubik.
Hemoglobin yang terdapat dalam sel sebenarnya merupakan penyangga asam basa yang umumnya adalah protein. Jumlah eritrosit yang mampu mengkonsentrasikan Hb dalam cairan sel mendekati 34 gr per desiliter
Kadar zat- zat yang terlarut di dalam darah selalu dalam batas-batas tertentu dan selalu dalam keadaan dinamik. Perubahan susunan darah dapat memberikan gambaran tentang metabolisme zat- zat yang terdapat dalam darah dan juga gambaran mengenai fungsi jaringan yang berkaitan dengan fungsi metabolisme maupun eksresinya. Darah akan membeku jika dikeluarkan dari tubuh setelah 10 menit. Bila pembekuan darah tidak didinginkan dapat digunakan anti koagulan. Pemakaian antikoagulan dapat mencegah pembekuan darah sehingga dengan pemusingan kita dapat memisahkan sel darh dari plasma darah. Beberapa contoh koagulan seperti Heparin, K/ Na oksalat, campuran ammonium oksalat dan kalium oksalat ( 3:2), Na sitrat, Etilen Diamin Tetra Asetat(EDTA)
Dalam pemeriksaan dengan garam Na ata K perlu diperhatikan hal-hal seperti:
1. Serum atau plasma harus secepatnya dipisahkan
2. pemeriksaan dilakukan secepatnya untuk mencegah pengaruh enzim dan zat-zat lain.
3. sebaiknya protein dan zat-zat lain yang bersifat mereduksi dihilangkan.
Kadar glukosa darah pada manusia setekah mengkonsumsi karbohidrat dapat naik hingga 6,5- 7,2 sedangkan selam puasa kadar glukosa darah akan turun sampai 3,3- 3,9.
III. ALAT DAN BAHAN
- tabung pengencer hemometer
- pipet hemoglobin
- alat Sahli
- pipet leukosit
- pipet eritrosit
- kamar hitung
- mikroskop
- tabung reaksi
- tabung pemusing
- pipet volumetric
- pipet tetes
- penangas air
- alat pemusing
- kolorimetri
- beaker glass
- darah HCl 0,1 N
- antikoagulan
- Lar. Turk
- TCA 10%
- O-toluidin dalam asam asetat
- Standard glukosa
- H2SO4
- air suling
- alcohol: eter
- CHCl3
IV. CARA KERJA DAN HASIL PENGAMATAN
1. Penetapan Kadar Hemoglobin Cara Sahli
Pada cara ini, hemoglobin diubah menjadi hematin asam. Kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar permanent pada alat hemometer.
Metode :
1. Masukkan kira-kira 5 tetes HCl 0,1 N ke dalam tabung pengencer hemometer.
2. Isap darah kapiler atau oksalat dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0.02 ml.
3. Hapus darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
4. Catat waktunya dan segera alirkan darah dari pipet ke dasar tabung pengenceran yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai ada gelembung udara.
5. Angkat pipet itu sedikit, lalu isap HCl yang jernih ke dalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tertinggal di dalam pipet.
6. Campur isi tabung supaya darah dan asam bersenyawa. Warna campuran menjadi coklat tua.
7. Tambahkan air (aquadest) setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standar harus dicapai dalam waktu 5 menit setelah darah dan HCl dicampur dalam alat Sahli-Hallige (3 menit dalam alat Sahli-Erka). Pada usaha mempersamakan warna hendaknya tabung diputar sedemikian rupa sehingga garis bagi tidak terlihat.
8. Baca kadar Hemoglobin dalam gram/100 ml darah.
Pengamatan :
Dari hasil percobaan penentapan kadar Hemoglobin yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa kadar Hb dari darah yang diperiksa adalah 10.4 gram/100 ml darah.
Pembahasan :
Hemoglobin adalah sebuah proteida yang berfungsi mengangkut oksigen dan yang bertanggung jawab adalah pigmen dengan struktur kimia sebagai kromoproteida. Hb mengandung Heme dan globin
penentuan kadar Hb berdasarkan perubahan Hb menjadi hematin asam yang berwarna jingga kecoklatan dengan penambahan 5 tetes HCl 0,1 N. banyaknya hematin asam yang terbentuk diketahui dari intensitas warna jingga kecoklatan, kalau jumlahnya banyak maka warnanya sampai diperoleh warna standard pada alat hemometer, dan sebaliknya alat ini digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin dengan cara persamaan warna yanbg hars dicapai dalam waktu 5 menit sesaat setelah darah dan HCl dicampur dalam alat sahli
Pada percobaan ini darah dicampur dengan HCl terbentuk warna jingga kecoklatan agak tua sehingga diperlukan banyak aquadest untuk mengencerkan warna agar sesuai dengan warna standar alat hemometer. Hal ini menunjukkan banyaknya hematin asam dalam larutan darah tersebut.
Dari percobaan diperoleh kadar Hb sebesar 10,4 gr/100 ml darah, darah yang diambil adalah darah laki-laki
Afinitas Hb untuk O2 dipengaruhi oleh pH, temperature, dan konsentrasi. Hb diperlukan dalam pengngkutan O2 dan CO2 sehingga jika jumlah Hb berkurang maka jumlah O2 dan CO2 yang diangkut juga akan berkurang. Dan darah yang kekurangan O2 akan berwarna kebiru-biruan.
2. Menghitung Sel-sel Darah
A. Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. Jumlah leukosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan factor konversi jumlah leukosit per mikroliter (μL) darah dapat diperhitungkan.
Larutan pengencer ialah Larutan Turk yang mempunyai susunan sebagai berikut : larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 mL, saring sebelum dipakai.
1. Mengisi Pipet Leukosit
a) Isaplah darah (kapiler atau oksalat) sampai garis tanda 0.5 tepat.
b) Hapuslah kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet.
c) Masukkan ujung pipet dalam larutan turk sambil menahan darah pada garis ganda tadi. Pipet dipegang dengan sudut 450 dan larutan turk diisap perlahan-lahan sampai garis tanda 11. hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. Angkatlah pipet dari cairan, tutup ujung pipet dengan ujung jari, lalu lepaskan karet penghisap.
c) Kocoklah pipet selama 15-30 detik. Jika tidak segera akan dihitung, letakkan dengan sikap horizontal.
2. Mengisi Kamar Hitung
a) Letakkan kamar hitung yang bersih dengan kaca penutupnya terpasang mendatar di atas meja.
b) Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus-menerus, jagalah jangan ada cairan yang terbuang dari dalam pipet sewaktu mengocok.
c) Buanglah semua cairan yang ada di dalam batang kapiler pipet (3-4) tetes dan segeralah sentuhkan ujung pipet itu dengan sudut 300 pada permukaan kamar dihitung dengan menyinggung kaca penutup. Biarkan kamar hitung terisi cairan perlahan-lahan dengan daya kapilaritasnya sendiri.
d) Biarkan kamar hitung selama 2-3 menit supaya leukosit-leukosit dapat mengendap. Jika tidak dapat dihitung segera, simpanlah kamar hitung dalam sebuah cawan petri tertutup yang berisi segumpal kapas basah.
3. Menghitung Jumlah Sel
a) Pakailah lensa obyektif kecil, yaitu dengan pembesaran 10X, turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma. Meja mikroskop harus datar sikapnya.
b) Kamar Hitung dengan bidang bergarisnya dilatakkan di bawah obyektif dan fokus mikroskop diarahkan kepada garis-garis bagi. Dengan sendirinya leukosit-leukosit jelas terlihat.
c) Hitung semua leukosit yang terdapat dalam keempat bidang besar pada sudut-sudut seluruh permukaan yang dibagi.
1. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun kebawah dan dimulai lagi dari kiri ke kanan. Cara ini dilakukan pada keempat bidang besar.
2. Sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas harus dihitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kanan atau bawah tidak boleh dihitung.
4. Perhitungan
Pengenceran yang terjadi dengan pipet adalah 20X. jumlah sel yang dihitung dalam keempat bidang dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalan 0.1μL. Angka tersebut dikalikan dengan 10 (untuk tinggi) dan 20(untuk pengenceran) untuk mendapatklan jumlah leukosit dalam I μL darah. Singkat : jumlah sel yang dihitung dikali 50 = jumlah leukosit per μL darah.
Pengamatan :
Jumlah sel yang diperoleh : 143
Jumlah leukosit per μL darah : 50 X 143 = 7.150/μL darah
Pembahasan :
Leukosit dapat dihitung jumlahnya dengan cara diencerkan dalam pipet leukosit dengan menggunakan larutan pengencer Turk yang mempunyai komposisi larutan : larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 mL, saring sebelum dipakai, lalu dimasukkan ke dalam kamar hitung. Penambahan larutan gentian violet bertujuan untuk memberi warna pada inti dari granula leukosit dimana larutan ini memecah eritrosit dan trombosit, tetapi tidak memecah leukosit maupun eritrosit berinti.
Pada pengamatan setelah dihitung diperoleh leukosit darah yang diuji sebsar 7150/μL darah, sedangkan jumlah leukosit yang normal adalah 4000-12000 per μL darah. Berarti jumlah leukosit dalam darah normal.
Jumlah leukosit darah dapat turun naik terhantung dari ada tidaknya infeksi kuman dalam tubuh. Bila jumlah leukosit lebih dari normal disebut leukositosis dan jika kurang dari normal disebut leukopensi.
B. Menghitung Eritrosit
1. Mengisi pipet eritrosit
Tindakan-tindakan sama seperti cara mengisi pipet leukosit, darah diisap sampai garis tanda 0,5 dan larutan pengencer sampai garis tanda 11.
2. Mengisi kamar hitung
Sama seperti diterangkan pada menghitung leukosit.
3. Menghitung jumlah sel
a) Turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma. Meja mikroskop harus dalam sikap rata air.
b) Aturlah fokus terlebih dahulu dengan memakai lensa objektif kecil (10x), kemudian lensda itu diganti dengan lensa objektif besar (40x) sampai garis-garis bagi dalam bidang besar tengah jelas nampak.
c) Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil, umpamanya pada keempat sudut bidang besar ditambah yang di tengah-tengah. Cara menghitung sel sama seperti untuk menghitung leukosit, yaitu mulai dari kiri ke kanan kemudian dari kanan ke kiri, dst. Kepastian untuk meghitung atau tidaknya eritrosit yang menyinggung garis-garis batas sama juga seperti untuk leukosit.
d) Perhitungan. Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 5 x 16 bidang kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm2. Faktor untuk mendapatkan jumlah eritrosit per µl darah menjadi 5 x 10 x 200 = 10000.
.
Pengamatan :
Jumlah sel darah yang diperoleh = 658
Jumlah Eritrosit per μL darah = 10000 X 658 = 6.580.000/μL darah
Pembahasan :
Sel darah merah eritrosit membawa hemoglobin di dalam sirkulasi. Ia merupakan cakram bikonkaf yang dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia, ia kehilangan intinya sebelum memasuki sirkulasi. Pada manusia, ia bertahan hidup di dalam sirkulasi rata-rata 120 hari. Tiap eritrosit manusia berdiameter 7,5 µm dan tebal 2 µm, serta masing-masing mengandung 29 pikogram hemoglobin. Sehingga ada sekitar 3.000 eritrosit dan sekitar 900 gram hemoglobin dalam darah bersirkulasi pada pria dewasa.
Eritrosit dapat dihitung jumlahnya dengan cara pengenceran menggunakan larutan Hayem yang mempunyai komposisi terdiri dari 5 gr Na-sulfat, 1 gr NaCl, 0,5 gr HgCl2 dan aquadest ad 100 ml. Kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung dan dihitung banyaknya eritrosit.
Setelah dihitung ternyata jumlah eritrosit dalam darah yaitu 6.580.000 per µl. Jumlah normal eritrosit pada pria yaitu 5,4 juta /µl dan pada wanita 4,8 juta /µl. jadi, eritrosit yang didapat praktikum melebihi jumlah normal, mungkin karena pengenceran yang dilakukan tidak merata.
Eritrosit dapat juga lisis oleh obat dan infeksi. Kerentanan eritrosit terhadap hemolisis oleh zat ini ditingkatkan oleh defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenasi, yang mengkatalisis tahap awal dalam oksidasi glukosa melalui lintasan heksosamonofosfat. Lintasan ini membentuk NADPH, yang diperlukan untuk memelihara kerapuhan eritrosit yang normal.
Dalam perhitungan eritrosit yang perlu diperhatikan adalah :
1. Faktor pengenceran
Jika jumlah sel banyak maka pengenceran ditingkatkan dan jika jumlah sel sedikit maka pengenceran tidak berlebih, hal ini bertujuan agar perhitungan dapat dilakukan dengan tepat. Pada penderita anemia hemolitik atau autoimun, hendaknya menggunakan larutan pengencer Na sitrat 0,109 M tanpa formalin karena larutan formalin akan memfiksasi eritrosit yang teraglutinasi.
2. Melakukan koreksi terhadap hitung leuosit, karena eritrosit berinti tidak hancur oleh larutan Turk karenanya terhitung sebagai leukosit.
3. Analisis Kuantitatif Darah
A. Penetapan Kadar Gula Darah (O-Toluidin)
Sediakan 4 tabung pemusing. Masukkan ke dalam tabung :
1. Tabung 1 : 0,2 ml darah/serum
2. Tabung 2 : 0,2 ml darah/serum
3. Tabung 3 : 0,3 ml larutan standar
4. Tabung 4 : 0,2 ml air suling
Tambahkan pada masing-masing tabung 2,0 TCA. Pusingkan tabung 1 dan 2 selama 5 menit. Ambil dari masing-masing tabung (1 dan 2 cairan bebas protein, 3 campuran standar, 4 blanko) 1,0 ml larutan dan campur di dalam tabung kolorimetri dengan 4,0 ml larutan o-toluidin. Panaskan tabung-tabung tersebut pada penangas air mendidih selama 8 menit. Dinginkan segera di bawah keran. Setelah kira-kira 20 menit, lakukan pembacaan dengan kolorimetri fotoelektrik pada panjang gelombang 625 nm.
Perhitungan:
Kadar glukosa = Ru x 0,1 x 100
Rs 0,1
Pengamatan :
Tabung I : 0,110
Tabung II : 0,116
Tabung III (Standar) : 0,056
Kadar Glukosa = Uji x 0,1 x 100
Standar 0,1
Kadar Glukosa I = 0,110 x 0,1 x 100 = 196,43 %
0,056 0,1
Kadar Glukosa II = 0,116 x 0,1 x 100 = 207,14 %
0,056 0,1
Pembahasan :
Asam Trikloroasetat mengendapkan protein sehingga filtrat hanya mengandung glukosa. Glukosa berkonjugasi dengan o-toluidin dalam asetat panas membentuk senyawa berwarna biru-hijau. Dengan cara ini dapat ditetapkan kadar glukosa yang lebih tepat dari suatu larutan. Galaktosa juga akan memberi reaksi yang sama dan dapat mengganggu pemeriksaan. Satu hal yang penting ialah bahwa reaksi harus dilakukan dengan alat-alat yang kering dan bersih.
Penetapan kadar gula dalam darah merupakan salah satu pemeriksaan yang sering dilakukan terhadap darah, plasma, atau serum. Cara penetapannya dapat secara makroataupun mikro. Pada percobaan kali ini kadar glukosa ditetapkan dengan kolorimetri fotoelektrik berdasarkan sifat mereduksi glukosa.
Prinsip penetapan kadar gula darah ini berdasarkan pengendapan protein darah dengan asam trikloroasetat yang ada pada saat dipusingkan terluhat baguan yang mengendap (protein darah) dan cairan yang ada di atas mengandung gula yang akan diperiksa dengan menambahkan o-toluidin dalam asam asetat glasial, lalu dipanaskan. Saat dipanaskan, gula akan berkonjugasi dengan o-toluidin dalam asetat panas dengan memberikan waran biru hijau. Kemudian kadar gulanya ditetapkan dengan kolorimetri fotoelektrik pada panjang gelombang 625 nm.
Dari percobaan didapat kadar glukosa adalah 83,74 dan 95,48, sedangkan kadar normal adalah 80 – 100. Hal ini berarti kadar gula praktikan normal.
VI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1. Kadar hemoglobin dalam darah yaitu 10,4 gr /100 ml darah.
2. Jumlah leukosit yaitu 7.150/µl darah.
3. Jumlah eritrosit yaitu 6,58 juta/µl darah.
4. Kadar gula darah : pada tabung I sebesar 196,43 mg % dan pada tabung II sebesar 207,14 mg %.
VII. DAFTAR PUSTAKA
__________1999. Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia, Jurusan Farmasi, FMIPA UI, Depok.
Murray, Robert K., dkk. 1995. Biokimia Harper edisi 25. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyton, Arthur C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Syaifuddin B. Ac. 1992. Anatomi Fisiologi untuk siswa perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Bulan Rajab July 15, 2008
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: bulan rajab, hadis-hadis palsu, keutamaan bulan rajab
add a comment
. “Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya
(Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.
Hadits ini “Maudhu`” (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.
2. “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”
Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dike-luarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapaun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.
3. “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.
4. “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebu-lan penuh dan seterusnya”.
Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.
Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.
Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya :
“Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya :
“Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.
5. “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang hari-nya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”
Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).
6. “Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.
Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.
7. “Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dst.
Dikatakan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.
Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”
Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diri-wayatkan : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manu-sia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bu-lan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a-do`a dikabulkan, kesusa-han kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.
Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”
Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).
Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa disiang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”
Di dalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.
Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya.”
Di dalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.
Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”
Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya :
“Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada ashol sama sekali.
Dan demikian juga, “dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.
Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketho`atan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya.”
Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allah Ta`ala memerintahkanNabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).
Bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan Rajab antara lain :
Sholat Ar-Raghaaib.
Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan disetiap awal jum`at di bulan Rajab.
Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad ke empat Hijriyah. Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :
1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.”
2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya.
3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.
5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47.
6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.
7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.
8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.
9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.
10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.
11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.
Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka.
Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “sholat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.
Sholat Ummu Daawud dipertengahan bulan Rajab.
Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.
Berkata Al Imam Al hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi-rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.”
Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam : “Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.
Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”.
Terjemahan dari Kitab : Al Fawaaid Al Majmu`ah di Al Ahadiits Al Maudhu`ah
Karya : Syaikul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)
Diterjemahkan oleh Abu Al Mundzir As Salafiy.
Ibadah bulan rajab July 15, 2008
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: ibadah bulan rajab, islam, sya'ban, syariat
add a comment
Keterangan yang muktamad tentang bulan Rajab adalah bahwa bulan itu termasuk bulan-bulan yang dihormati, atau dalam Al-Qur’an disebut sebagai Asyhurul Hurum, yaitu, Muharram Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.
Dalam bulan-bulan tersebut, Allah SWT melarang peperangan dan ini merupakan tradisi yang sudah ada jauh sebelum turunya syariat Islam. Allah Swt berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36)
Dari para ulama kalangan mazhab Asy-Syafi’i, Imam An-Nawawi berkomentar tentang puasa sunnah khusus di bulan Rajab, “Tidak ada keterangan yang tsabit tentang puasa sunnah Rajab, baik berbentuk larangan atau pun kesunnahan.
Namun pada dasarnya melakukan puasa hukumnya sunnah (di luar Ramadhan). Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan bahwa Rasulullah SAW menyunnahkan berpuasa di bulan-bulan haram, sedang bulan Rajab termasuk salah satunya.”
Adapun tentang keutamaan bulan Rajab, kebanyakan ulama mengatakan bahwa dasarnya sangat lemah, bahkan boleh dikatakan tidak ada keterangan yang kuat yang mendasarinya dari sabda Rasulullah SAW.
Sayangnya, entah bagaimana prosesnya, justru sebahagian kaum muslimin berpendapat bahwa bulan Rajab memiliki berbagai keutamaan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu agar mereka dapat meraih fadhilah atau keutamaan tersebut.
Di antara contoh-contoh amalan-amalan yang sering dipercaya umat Islam untuk dilakukan pada bulan Rajab adalah:
1. Mengadakan shalat khusus pada malam pertama bulan Rojab.
2. Mengadakan shalat khusus pada malam Jum’at minggu pertama bulan.
3. Shalat khusus pada malam Nisfu Rajab (pertengahan atau tanggal 15 Rajab).
4. Shalat khusus pada malam 27 Rajab (malam Isra’ dan Mi’raj).
5. Puasa khusus pada tanggal 1 Rajab.
6. Puasa khusus hari Kamis minggu pertama bulan Rajab.
7. Puasa khusus pada hari Nisfu Rajab.
8. Puasa khusus pada tanggal 27 Rajab.
9. Puasa pada awal, pertengahan dan akhir bulan Rajab.
10. Berpuasa khusus sekurang-kurang-nya sehari pada bulan Rajab.
11. Mengeluarkan zakat khusus pada bulan Rajab.
12. Umrah khusus di bulan Rajab.
13. Memperbanyakkan Istighfar khusus pada bulan Rajab.
Akan tetapi, semua pendapat tersebut tidak dapat dipegang, karena kalau kita jujur terhadap sumber-sumber asli agama ini, nyaris tidak satu pun amalan-amalan di atas yang berdasarkan kepada hadis-hadis yang shahih.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra. dijelaskan bahwa Rasulullah SAW apabila memasuki bulan Rajab beliau senantiasa berdo’a:
“Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Romadhan” (Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada kami barokah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan) (HR Ahmad dan Bazzar).
Sayangnya hadis ini menurut Ibnu Hajar tidak kuat. Sedangkan hadis-hadis yang lainnya yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan bulan Rajab, tak ada satu pun hadis yang dapat dijadikan hujjah. Misalnya hadits yang bunyinya:
“Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban adalah bulanku (Rasulullah SAW ) dan Ramadhan adalah bulan ummatku”
Hadits ini oleh para muhaddits disebutkan sebagai hadits palsu dan munkar. Dr. Yusuf Al-Qaradawi menyebutkan bahwa para muhadditsin telah mengatakan kemungkaran dan kepalsuan hadits ini dalam fatwa kontemporer beliau.
Dalam kitab Iqthidha Shiratil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada satu keterangan pun dari Nabi SAW berkaitan dengan keutamaan bulan Rajab, bahkan keumuman hadis yang berkaitan dengan hal tersebut merupakan hadis-hadis palsu.” (Iqthidha Shirathil Mustaqim, 2/624)
Ibnu Hajar Al-Asqalani secara khusus telah menulis masalah kedha’ifan dan kemaudhu’an hadits-hadits tentang amalan-amalan di bulan Rajab. Beliau menamakannya: Taudhihul Ajab bi maa Warada fi Fadhli Rajab.“ Di dalamnya beliau menulis, “Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab, tidak juga berkaitan dengan shaumnya, atau pun berkaitan dengan shalat malam yang dikhususkan pada bulan tersebut. Yang merupakan hadis shahih yang dapat dijadikan hujjah.”
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada satu keterangan pun yang dapat dijadikan hujjah yang menunjukkan tentang keutamaan bulan Rajab. Baik itu berkaitan tentang keutamaan shaum di bulan tersebut, shalat pada malam-malam tertentu atau ibadah-ibadah yang lainnya yang khusus di lakukan pada bulan Rajab.
Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc.
Sejak Sekarang Sebelum Ramadhan July 15, 2008
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: dunia, ramadahan, salam ui, tausiyah ramadahan, waktu
add a comment
Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Romadhan”
Ya Allah, Anugerahkanlah kepada kami barokah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan (HR. Ahmad dan Thabrani)
Bumi terus berputar dan mengantarkan kita kembali kepada “waktu-waktu” yang dulu pernah kita lalui. Waktu dimana mungkin kita belum bisa mengoptimalkan segala potensi sehingga ada sesal yang tertinggal. Sekarang saatnya menyadarkan diri bahwa bulan suci itu akan segera datang, penantian yang panjang akan bulan Ramadhan menuntut persiapan matang dari indivudi-individu yang akan melewatinya. Koreksi semua perjalanan Ramadhan tahun lalu, apa ada hutang puasa yang belum terbayar, atau ada catatan buruk yang membuat kita tidak maksimal dalam beribadah. Kesempatan mempersiapkan lebih awal semoga menjadikan kita lebih baik dalam melewati Ramadhan tahun ini.
Berdoa untuk bisa mencapai bulan Ramadhan adalah sebuah bukti bahwa bulan ini memang sangat spesial bagi kita semua. Meskipun hadis di atas dilemahkan oleh sebagian ulama ahli hadis, tetapi tidak ada salahnya merangkai doa-doa kita dengan sebuah doa yang penuh pengharapan. Sekadar mengingatkan diri akan hadirnya bulan suci maka lantunan doa yang terucap sudah pasti mengharapkan sebuah pertemuan dengan bulan tersebut. Bahkan Al Ma’ali bin Fadhl berkata, “Mereka (para sahabat) berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, dan enam bulan setelah itu mereka berdoa agar amalnya diterima disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “. Mengingatkan diri kita akan datangnya Ramadhan lebih awal berarti kita dengan sadar memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk meminta yang lebih banyak kepada Allah. Sejak dari sekarang bulan Ramadhan sebelum Rajab kita masih punya kesempatan untuk terus berdoa dan mempersiapkan Ramadhan.
Seseorang yang mencintai sesuatu pasti selalu ingin menceritakan kebaikan dan keutamaan-keutamaan kekasihnya. Begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam. Beliau sangat mengistimewakan bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam selalu mengingatkan sahabat akan keutamaan Ramadhan dengan segala amalan utama di dalamnya sejak Rajab hingga Sya’ban. Bahkan sampai pekan ter akhir Syaban beliau naik mimbar dan meyampaikan kabar gembira, seraya menyebut-nyebut faedah dan anugerah bulan yang dirindukan itu. Dengan mengingat keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diharapkan kita bisa lebih termotivasi untuk mempersiapkannya. Jika dirasa masih kurang maka buat jadwal khusus untuk menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang fiqh puasa agar pengetahuan dan pemahaman kita bertambah.
Persiapkan Fisik dan Jiwa dari Sekarang
Untuk melatih diri mempersiapkan kesiapan fisik pada bulan Ramadhan, kita bisa memanfaatkan berbagai sarana. Seperti shaum sunnah senin-kamis dan shaum ayyamul bidh (puasa tiga hari setiap pertengahan bulan Hijriyah). Sehingga nanti ketika sudah memasuki bulan Ramadhan kita sudah terbiasa dan lebih siap untuk melakukan semua ibadah. Sarana lain yang bisa dimanfaatkan adalah sholat malam. Menghidupkan malam dengan sholat membuat kita lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Anas bin Malik ra. Berkata, “Ketika kaum Muslimin memasuki Syaban, mereka sibuk membaca Al Qur’an dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa”. Latihan membaca Al Qur’an sebaiknya kita mulai dari sekarang, atau jangan-jangan kita belum terbiasa membaca Al Qur’an? Jika belum terlalu lancar maka mulailah dengan belajar tajwid terlebih dahulu. Latihan-latihan kecil membaca Al Qur’an dengan rutin setiap hari kita mulai dari sekarang. Sehingga nanti ketika Ramadhan telah datang kita akan terbiasa membaca Al Qur’an, atau bahkan bisa khatam.
Terakhir yang terpenting adalah kita berlatih untuk menyisikan harta kita untuk disalurkan pada bulan Ramadhan. Begitu banyak peluang untuk beramal di bulan Ramadhan yang bisa kita manfaatkan, antara lain memberi makan fakir miskin atau mengadakan buka puasa bersama kaum dhuafa dan sebagainya.
Sungguh, kita tidak akan menemukan kenikmatan dalam beribadah kecuali kita menyiapkan jiwa yang lapang untuk menerimanya dan mengetahui urgensi dari ibadah yang kita lakukan sehingga akan memunculkan kerinduan dan keinginan untuk melakukannya lagi. Sesungguhnya persiapan yang kita lakukan bukan hanya untuk Ramadhan saja karena kita memang harus selalu bersiap, membekali diri dengan amal shalih sebab kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Persiapan yang kita lakukan pada dasarnya harus terus dilakukan. Jangan sampai Ramadhan hanya sekedar lewat tanpa ada peningkatan ibadah.
Seperti seorang Atlit yang akan melakukan pertandingan besar maka dia akan berlatih keras untuk menjadi pemenang. Begitu juga kita dalam mempersiapkan Ramadhan, jika kita ingin jadi pemenang maka berlatih keras-lah. Berlatih puasa, berlatih membaca Al Qur’an, berlatih sholat malam, dan berlatih untuk terus berdoa. Terkadang kita hampir saja tidak memiliki kesiapan untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang selalu menantinya dengan penuh rindu. Mari kita mulai sejak sekarang….
“Allahumma Sallimnii ila Romadhona, Wa Salliim Romadhona, Wa Sallimhu Minnii Mutaqobbala”
Ya Allah, Selamatkanlah aku ke bulan Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan bagiku dan terimalah ramadhan itu dariku (HR. Tahabrani dan Dailamil).
Mahasiswa Departemen Geografi Angkatan 2004
Ketua Bidang 1 Dekade 1 SALAM UI
Memurnikan Akidah dalam Implementasi Kehidupan July 15, 2008
Posted by filzahazny in tentang islam.Tags: akidah, islam, ruhiyah
add a comment
“Kita tidak dapat mengklaim bahwa kita sudah memenuhi kalimat “tiada Ilah selain Allah” – artinya kita sudah berakidah benar, terhindar dari kemusyrikan dalam beribadah, dan semua pengadilan kita sudah menerapkan syariat Allah – bila kita masih saja terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, peradaban, moral, sosial dan pemikiran. Kemudian kita diam berpangku tangan dan tidak berusaha mengubah keadaan. Kalimat “tiada Tuhan selain Allah” menyuruh kita melepaskan semua belenggu itu. Berbagai arahan Allah dan Rasul-Nya dalam masalah ini cukup jelas dan harus ditaati umat Islam, baik secara individu maupun kelompok…” (Muhammad Quthb)
Seringkali ketika membicarakan kemurnian dan urgensi makna akidah, kita hanya akan menariknya pada satu kutub: penyucian jiwa dan porsinya lebih besar pada aspek ruhiyah dan ibadah mahdhah. Penulis pun awalnya diminta untuk mengisi tema ini dengan suasana “ngeruhiy banget.”
Tidak sepenuhnya salah memang, namun untuk memurnikan (ta’shil) berarti kita harus mengembalikan sesuatu pada asalnya, membuka kembali apa yang menutupinya, dan membersihkan dari segala sesuatu yang menodainya. Nah, bila akidah hanya dipahami semata-mata sebagai aspek penyucian jiwa pribadi yang tidak terimplementasi dalam aspek kehidupan lain, maka yang terjadi bukan pemurnian, melainkan degradasi dan penyempitan makna.
Bayangkan, bagaimana pandangan Anda terhadap seorang muslim yang sangat ketat perhatiannya terhadap shalat di awal waktu sementara di aspek lain tugas-tugas kerjanya diselesaikan melebihi batas waktu? Bagaimana pandangan Anda terhadap seorang muslim yang sangat ketat perhatiannya terhadap dzikir dan doa sementara malas dalam bekerja? Bagaimana pula dengan seorang muslim yang bertahun-tahun membaca kitab akhlak sementara hubungan sosialnya sangat kaku dan cenderung keras? Apakah itu makna kemurnian akidah?
Atau dalam level kolektif, bagaimana pandangan Anda terhadap negara kita yang menjadi salah satu penyumbang jamaah ibadah haji terbesar, sementara di satu sisi juga menjadi negara terkorup? Bagaimana pula pandangan Anda terhadap dunia Islam secara umum yang memiliki doktrin “al-islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya), namun masih tertinggal? Bahkan di beberapa belahan dunia diinjak-injak dan dipermainkan tanpa punya kekuatan untuk sekedar mengangat muka di hadapan negara lain. Apakah sekedar itu makna akidah?
Oleh karena itu Muhammad Quthb dalam pernyataannya di atas hendak membuka kembali tabir makna akidah yang telah disempitkan dalam bilik-bilik ruhani yang sebenarnya kosong dan gersang dalam implementasi (jafaaf ruuhi). Sebagaimana seorang Jamaluddin al-Afghani pernah menyindir kita saat melancong ke negara yang nonmuslimnya mayoritas, “Saya melihat Islam di sini walaupun tidak melihat banyak orang Islam. Sementara di negara mayoritas muslim, saya lihat banyak orang Islam tapi tidak melihat Islam.”
Artinya, selama ini akidah kita miskin implementasi dan diterapkan secara parsial. Padahal, ia seharusnya bukan hanya mencakup masalah ruhiyah, tapi juga manhajiyah, fikriyah bahkan implementasi jasadiyah. Akidah kita, yang secara ringkas terangkum dalam dua kalimat syahadat, belum mampu menjadi asasul inqilab (dasar-dasar perubahan) yang signifikan dalam kehidupan dari level individu hingga umat. Padahal, inilah urgensi terbesar dari kekuatan akidah. Itu pula yang dahulu mengubah tatanan sosial masyarakat Islam secara revolusioner dan progresif tanpa melupakan masalah kekhusyukan ruhani.
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 112)
Bukankah sirah Rasul sudah sering kita dengar? Shalatnya yang khusyuk dan panjang, tidak bertolak belakang dengan penunaian amanat dunianya. Ia adalah orang yang sangat menghargai waktu dan menepati janji. Bekerja ihsan, seakan-akan melihat Allah dan dalam pengawasan-Nya. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Memperhatikan ilmu dan pengembangan ekonomi umat. Doa dan dzikirnya tidak mengurangi kerja-kerja taktisnya. Kelembutan tidak mengurangi heroismenya di medan laga, puluhan perang telah dilalui dalam usianya yang di atas 40 tahun.
Dr. Yusuf Qardhawi menulis dalam buku al-Iman wal Hayat, “Pengaruh iman bagi pembaharuan jiwa sesungguhnya tidak diragukan lagi. Berbagai kejadian cukup menjadi saksi. Ahli-ahli sejarah kagum melihat perubahan besar yang dialami bangsa Arab sesudah mereka disinari cahaya iman. Dari suku-suku berpecah belah menjadi umat yang bersatu. Dari lemah menjadi kuat. Dari penggembala binatang ternak, menjadi bangsa-bangsa dan pembentuk kebudayaan baru. Perubahan yang luar biasa ini terjadi dalam masa singkat. Bukan berpuluh tahun dan bukan berpuluh abad, melainkan dalam masa yang tidak lebih dari 23 tahun. Perubahan ini adalah karena pengaruh iman, yang ditanamkan oleh Nabi Besar Muhammad Saw dalam jiwa sahabat dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpindah dari masa jahiliyah ke zaman Islam. Dari memuja berhala kepada menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Dari suku-suku bangsa yang terpencil menjadi umat yang menulis sejarah baru dengan tinta keemasan.”
Jadi seharusnya, iman itu berdampak bukan hanya ketenangan jiwa, tapi terasa dan terlihat dalam kehidupan sosial, bahkan yang sifatnya kerja-kerja duniawi. Di antaranya, Yusuf Qardhawi menulis bahwa akidah, iman, dan tauhid itu bisa memperbesar prestasi kerja, di antara indikatornya meningkatkan produksi, mengerjakan sesuatu dengan ihsan, menghargai waktu, produktifitas tinggi tanpa alasan terhambat ibadah, dan mampu memakmurkan bumi dengan kerja-kerja kita.
Muhammad Quthb juga menulis bahwa sebenarnya akidah, kalimat “la ilaha illaLlah,” mengandung tuntutan-tuntutan yang sebenarnya telah ditunjukkan dalam sirah. Tuntutan itu mulai dari yang mahdhah sampai ghairu mahdhah. Dari tuntutan keimanan, penyembahan, legislasi, moral, pemikiran, peradaban, bahkan sampai ekpresi seni.
Lalu mengapa kita sering terjebak pada penyempitan makna akidah? Muhammad Quthb memaparkan beberapa faktor utamanya dalam buku Laa Ilaha IllaLlah: sebagai Aqidah Syariah dan Sistem Kehidupan. Pertama, pandangan yang hanya menganggap bahwa iman terbatas hanya pada pembenaran hati yang dikukuhkan lisan, sementara amal sering diabaikan dalam cakupan iman. Kedua, perilaku sufisme yang fatalistik, menafikkan bahwa Islam merupakan agama amal dan perjuangan dalam kehidupan nyata, agama jihad dan pengorbanan untuk menegakkan sistem Rabbani dalam dunia nyata. Ketiga, invasi pemikiran yang dilakukan pihak eksternal yang khawatir bila Islam akan kembali bangkit jika akidah umatnya terimplementasi sempurna.
Oleh karenanya, Muhammad Quthb menegaskan bahwa kebangkitan Islam dituntut untuk menghidupkan kembali vitalitas dan efektifitas kalimat “tiada Tuhan selain Allah” seperti dulu, di samping juga membersihkan noda-noda yang mengotori kalimat syahadat ini selama berabad-abad lalu… Dulu kalimat ini berdampak nyata dalam kehidupan umat Islam dan menjadi pelita yang menerangi seluruh umat manusia, sehingga mereka keluar dari kegelapannya, bahkan orang-orang yang belum masuk ke dalam Islam banyak mengambil manfaat darinya… Kalimat syahadat ini terpelihara dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Saw. karena memang Allah yang bertanggung jawab memeliharanya. Tugas kita adalah membukakan pintu hati kita terhadap kalimat itu dan memenuhi segala tuntutannya. WaLlahu a’lam.
Zulfadhli N., Ketua Nuansa Persaudaraan Islami (Nurani) FKM UI