alhamdulillah

GET READY TO CHANGE

Archive for the ‘Parasitologi’ Category

Skabies

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Skabies juga disebut penyakit budukan atau gatal agogo, merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var hominis dan tinjanya (skibala) pada kulit manusia.

Morfologi

Sarcoptes scabiei adalah tungau yang termasuk famili Sarcoptidae,

ordo Acari kelas Arachnida. Badannya transparan, berbentuk oval,

pungggungnya cembung, perutnya rata, dan tidak bermata. Ukurannya,yang

betina antara 300-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang

jantan lebih kecil, antara 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk

dewasa tungau ini memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang merupakan pasangan

kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang. Pasangan kaki yang

pertama berakhir sebagai tabung panjang masing-masing dengan sebuah

alat penghisap berbentuk bel dan dengan kuku. Kaki belakang berakhir

menjadi bulu keras yang panjang kecuali pasangan kaki ke-4 pada jantan yang mempunyai alat penghisap. Pada permukaan sebelah dorsal terdapat garis-garis yang berjalan transversal yang mempunyai duri, sisik, dan bulu keras. Bagian mulutnya terdiri atas selisera yang bergigi, pdipalpi berbentuk kerucut yang bersegmen tiga dan palp bibir yang menjadi satu dengan hipostoma.

Siklus hidup

Siklus hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga dewasa berlangsung selama satu bulan. Sarcoptes scabei memiliki empat fase kehidupan yaitu telur, larva nimfa dan dewasa.Berikut ini siklus hidup Sarcoptes scabiei :

1. Betina bertelur pada interval 2-3 hari setelah menembus kulit .

2.Telur berbentuk oval dengan panjang 0,1-0,15 mm

3.Masa inkubasi selama 3-8 hari. Setelah telur menetas, terbentuk larva yang kemudian bermigrasi ke stratum korneum untuk membuat lubang molting pouches. Stadium larva memiliki 3 pasang kaki.,

4. Stadium larva terjadi selama 2-3 hari. Setelah stadium larva berakhir, terbentuklah nimfa yang memiliki 4 pasang kaki..

5. Bentuk ini berubah menjadi nimfa yang lebih besar sebelum berubah menjadi dewasa. Larva dan nimfa banyak ditemukan di molting pouches atau di folikel rambut dan bentuknya seperti tungau dewasa tapi ukurannya lebih kecil. Perkawinan terjadi antara tungau jantan dengan tungau betina dewasa.

6. Tungau betina memperluas molting pouches untuk menyimpan telurnya. Tungau betina mempenetrasi kulit dan menghabiskan waktu sekitar 2 bulan di lubang pada permukaan.

Patogenitas

Daerah predileksi adalah sela-sela jari-jari tangan bagian fleksor pergelangan tangan , dan lenagn depan, siku, ketiak, punggung, daerah inguinal, dan alat kelamin. Lukanya tampak sebagai garis kecil yang agak kemerah-merahan pada kulit. Pembengkakan vesikuler kecil, mungkin timbul karena peletakkan tinja yang memberikan irirtas atau ekskresi yang dibentuk di bawah terowongan yang berwarna putih atau abu-abu tidak jauh dari tungaunya. Perasaan gatal yang ditimbulkan oleh panas dan keringat menyebabkan penderita menggaruk-garuk yang menyebabkan penyebaran infestasi, merangsang luka, dan menimbulkan infeksi bakteri yang sekunder. Akibatnya, lesi yang berbentuk papel, vesikel dan pustel yang multipel timbul kemudian terbentuk kerak kudis yang berwarna coklat keabuan yang berbau anyir.. Mula-mula manifestasi klinik mungkin ringan tetapi setelah beberapa minggu kulit mengalami sensitisasi yang mengakibatkan suatu erupsi yang gatal tersebar luas dan berupa eritem.

Diagnosis penyakit ni diantaranya yaitu ;

1.Pruritus nokturna, atau rasa gatal di malam hari, yang disebabkan aktivitas tungau yang lebih tinggi dalam suhu lembab.

2.Adanya terowongan-terowongan di bawah lapisan kulit (kanalikuli), yang berbentuk lurus atau berkelok-kelok. Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, maka akan timbul gambaran pustul (bisul kecil pen). Kanalikuli ini berada pada daerah lipatan kulit yang tipis, seperti sela-sela jari tangan, daerah sekitar kemaluan (pada anak-anak), siku bagian luar, kulit sekitar payudara, bokong dan perut bagian bawah.

3. Menemukan tungau pada pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis, merupakan diagnosa pasti penyakitini. Daerah itu biasanya menjadi kemerah-merahan. Kerokan yang baik bila dilakukan agak dalam akan membuat kulit sedikit mengeluarkan darah karena di sanalah bermukim betina-betina yang gravid dan banyak telur yang telah dikeluarkan tungau betina. Untuk melarutkan kerak kudis digunakan larutan KOH 10 persen.

Pengobatan

Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salep yang dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan yang

tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh obat anti-skabies, antara lain yaitu; tidak berbau, efketif terhadap semua stadium tungau (telur, larva, maupun tungau dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh serta murah harganya. Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain:

1.Salep 2-4, biasanya dalam bentuk salep atau krim. Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori pakaian, tidak efektif membunuh

stadium telur, dan penggunaannya harus lebih dari 3 hari berturut-turut.

2.Emulsi benzil-benzoas 20-25%, efektif terhadap semua stadium tungau, diberikan setiap malam selama 3 hari bertutut-turut. Kekurangannya, dapat menimbulkan iritasi kulit.

3.Gamexan 1%, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium tungau, mudah digunakan, serta jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil, maupun anak dibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemakaiannya cukup satu kali.

4.Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan, karena selain memiliki efek anti-skabies, juga bersifat anti gatal.

5. Permetrin HCl 5%, efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalu toksik. Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relatif mahal.

6. Kwell, suatu salep terdiri atas Lindane 1% (heksaklorosikloheksan). Setelah mandi dengan air panas dan sabun, salep dapat dipergunakan.

7. Preparat sulfur presipitatum 5-10 % efektif untuk stadium larva, nimfa dan dewasa, tetapi tidak efektif untuk membunuh telur. Karena itu, pengobatan minimal selama 3 hari agar larva yang menetas dari telurnya dapat mati oleh obat tersebut.

8. Gama Benzen heksaklorida merupakan obat pilihan karena efektif untuk semua stadium. Obat ini tidak digunakan terhadap anak dibawah 6 tahun karena bersifat neurotoksik

Pemberantasan

Selain mengggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah upaya peningkatan kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

1. Mencuci bersih -bahkan sebagian ahli menganjurkan

dengan cara direbus, handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.

2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.

3. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat

yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan.

Epidemiologi

Penyakit scabies dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan bahkan seluruh kampung.

Posted in Parasitologi | Tagged: , , , | 3 Comments »

Demodisiosis

Posted by filzahazny on June 15, 2008

Demodisiosis adalah infestasi oleh Demodex folliculorum.

Taksonomi Demodex folliculorum

Kingdom:

Animalia

Filum:

Arthropoda

Subfilum:

Chelicerata

Kelas:

Arachnida

Subkelas:

Acari

Superordo:

Acariformes

Ordo:

Prostigmata

Subordo:

Eleutherengona

Superfamili:

Chelyetoidea

Famili:

Demodicidae

Genus:

Demodex

Morfologi

Demodex folliculorum termasuk famili demodicidae. Demodex folliculorum adalah tungau folikel rambut berbentuk panjang menyerupai cacing semi transparan dengan 2 gabungan segmen tubuh berukuran 0,1-0,3 mm dan berkaki empat pasang yang letaknya berdekatan serta mempunyai abdomen dengan garis-garis transversal. 4 pasang kaki terdapat pada segmen tubuh bagian pertama. Tubuhnya tertutup rangka luar dan mempunyai mulut untuk memakan sel kulit, hormon, dan air yang terdapat di folikel rambut. Demodex folliculorum betina lebih pendek dan membulat daripada Demodex folliculorum jantan. Tungau ini juga mampu berjalan di permukaan kulit dengan kecepatan 8-16 cm per jam.

Siklus hidup Demodex folliculorum

Siklus hidup Demodex folliculorum berlangsung selama 18-24 hari dalam tubuh hospes. Baik jantan maupun betina memilki lubang genital untuk melakukan perkawinan. Perkawinan berlangsung di folikel rambut dan kelenjar keringat. Betina bertelur dan meletakan telurnya sebanyak 20-24 di folikel rambut. Larva yang memiliki 6 kaki menetas pada hari ke 3-4. 7 hari Kemudian, larva berkembang menjadi dewasa.

Patologi dan gejala klinis

Parasit ini hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama di sekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen. Kadang-kadang tungau ini ditemukan di bagian tubuh lain seperti kulit kepala. Demodex folliculorum dapat menyebabkan kelainan berupa blefaritis, akne, rosasea dan impetigo kontagiosa yang disertai rasa gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder. Umumnya, rosasea terdiri dari beberapa tahap ( tidak semua orang mengalami semua tahap ini) . Tahap ini adalah

§ Flushing: timbul kemerah-merahan secara periodik pada wajah

§ Inflammatory lesions: papula, pustul

  • Edema
  • Telangiectasias (pelebaran pembuluh darah) mungkin terjadi beberapa waktu
  • Ocular rosacea mungkin terjadi (rasa panas pada mata dan mata berair )
  • Rhinophyma mungkin terjadi pada tinkat lanjut ( hidung bengkak dan kemerahan)

Tungau yang hidup di saluran kelenjar folikel di pinggir mata dapat mengganggu penglihatan penderita.

Gambar 1: Sejumlah papula tersebar di wajah dan leher.

Diagnosis

Diagnosis dengan menemukan Demodex folliculorum dari folikel rambut dan kelenjar keringat .

Pengobatan

Pengobatan demodisiosis pada kulit dapat dilakukan dengan olesan salep linden atau salep yang mengandung sulfur. Pengobatan lainnya adalah asam salisilat, metronidazol, krotamiton, lindane, and sublimed sulphur, oral metronidazole, oral ivermektin dan topical permethrin, and oral or topical retinoids . Papula pada wajah dapat disembuhkan setelah pengobatan dengan metronidazol secara sistemik dan topical selama 3 minggu dan terapi prednisolon dosis rendah secara oral.

Epidemiologi

Infeksi tungau ini adalah kosmopolit terjadi di seluruh di dunia dan dianggap tidak berbahaya.

Posted in Parasitologi | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Cacing parasit pada manusia

Posted by filzahazny on March 9, 2008

Genus

Spesies

Acylostoma

Ancylostoma braziliense

Ancylostoma caninum

Ancylostoma ceylanicum

Ancylostoma duodenale

Angiostrongylus

Angiostrongylus cantonensis

Angiostrongylus costarlcensis

Ascaris

Ascaris lumbricoides

Baylisascaris

Baylisascaris procyonis

Brugia

Brugia malayi

Brugia timori

Drangunculus

Drangunculus medinensis

Enterobius

Enterobius vermicularis

Filaria

Filaria bancrofti

Filaria loa

Filaria malayi

Filaria volvulus

Loa

Loa loa

Mansonella

Mansonella perstans

Mansonella ozzardi

Mansonella streptocerca

Necator

Necator americanus

Onchocerca

Onchocerca volvulus

Oxyuris

Oxyuris vermicularis

Strongyloides

Strongyloides stercoralis

Toxocara

Toxocara canis

Toxocara  cati

Trichinella

Trichinella spiralis

Trichocepalus

Trichocepalus tricium

Trichuris

Trichuris Trichiura

Wuchereria

Wuchereria brancrofti

Genus

Spesies

Davainea

Davainea madagascariensis

Dipylidium

Dipylidium canioum

Diphyllobothrium latum

Echinococcus

Echinococcus granulosus

Echinococcus multilocularis

Hymenolepis

Hymenolepis diminata

Hymenolepis nana

Taenia

Taenia saginata

Taenia solium

Genus

Spesies

Clonorchis

Clonorchis sinensis

 

Echinostoma

Echinostoma ilocanum

Echinostoma lidoense

Echinostoma malayanum

Echinostoma recurvatum

Echinostoma revolutum

Fasciola

Fasciola hepatica

Fasciolopsis

Fasciolopsis buski

Haplorchis

Haplorchis yokogawai

Heterophyes

Heterophyes heterophyes

Metagonimus

Metagonimus yokogawai

Opistorchis

Opistorchis fellineus

Opistorchis viverrini

Paragonimus

Paragonimus ringeri

Paragonimus westermanii

Schistosoma

Schistosoma haematobium

Schistosoma japonicum

Schistosoma mansoni

Posted in Parasitologi | 1 Comment »

Pengobatan Taeniasis

Posted by filzahazny on February 29, 2008

Obat-obat untuk memberantas cacing pita dapat digolongkan menjadi dua, yaitu taeniafuge dan taeniacide.  Taeniafuge ialah golongan obat yang menyebabkan relaksasi otot cacing sehingga cacing menjadi lemas. Contohnya: kuinakrin hidro-klorid (atabrin), bitionol dan aspidium oleoresin. Pemakaian obat ini mutlak memerlukan purgativa untuk mengeluarkan cacingnya.  Sedangkan taeniacide adalah golongan obat yang dapat membunuh cacing. Contohnya: niklosamid (yomesan), mebendazol dan diklorofen. Pemakaian obat ini tidak mutlak memerlukan purgativa. Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk mengeluarkan semua cacing beserta scolex-nya dan juga mencegah terjadinya sistiserkosis, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium.

Obat-obat yang kini lazim dipakai adalah niklosamid dan mebendazol. Sedangkan kuinakrin hidroklorid dan aspidium oleoresin walaupun cukup efektif, tetapi karena bersifat toksik maka sekarang jarang dipakai. Selain itu, ada beberapa obat tradisional yang cukup ampuh buat membasmi cacing pita, yaitu biji labu merah dan getah buah manggis muda. Niklosamid hingga saat ini masih dianggap obat paling baik untuk taeniasis dari segi efektivitasnya. Obat tersedia dalam bentuk tablet 500 miligram. Dosis dan cara pemberian: 2 gram dibagi dua dosis dengan interval pemberian 1 jam. Obat harus dikunyah sebelum diminum. Dua jam setelah pemberian obat, penderita diberi minum purgativa magnesium- sulfat 30 gram untuk mencegah terjadinya sistiserkosis. Keuntungan dari obat ini ialah tidak memerlukan persiapan diet ataupun puasa, dan efek sampingnya juga ringan. Namun menurut pengalaman penulis, efektivitas obat ini akan lebih baik apabila penderita dipuasakan sebelum meminumnya. Angka kesembuhan tercatat 95% lebih. Kerugiannya: obat ini tidak beredar resmi di pasaran sehingga sulit didapatkan. Di samping itu harganya pun mahal. Agaknya mebendazol merupakah salah satu taeniacide yang mempunyai masa depan cerah dan kini masih dalam penyelidikan. Mebendazol adalah anthelmintik berspektrum lebar. Dosisnya 300 miligram dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Dua hari setelah pengobatan, penderita diberi minum purgativa magnesiumsulfat 30 gram, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium untuk mencegah terjadinyasistiserkosis. Menurut beberapa hasil penelitian, angka ke- sembuhan tercatat 50 — 100%. Dilaporkan pula bahwa efek samping obat ini sangat ringan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, beberapa peneliti menganjurkan dosis lebih tinggi (sampai 1200 miligram per hari selama lima hari). Pengalaman penulis dalam praktek pengobatan taeniasis dengan mebendazol cukup memuaskan. Namun beberapa peneliti masih menyangsikan keampuhan mebendazol, bahkan ada yang melaporkan gagal sama sekali. Dengan demikian, efektivitas mebendazol pada taeniasis masih perlu diselidiki lebih lanjut

 

Penderita taeniasis diobati secara massal dengan prazikuantel dosis tunggal 100 mg/kg berat badan (BB). Satu hari sebelum pemberian obat cacing penderita dianjurkan untuk memakan makanan yang lunak tanpa minyak dan serat. Pada malam harinya setelah makan malam penderita harus menjalani puasa. Pemberian obat diberikan keesokan harinya dalam keadaan perut pasien masih kosong. Dua jam setelah pemberian obat, penderita diberi garam Inggris (MgSO4) yang telah dilarutkan dalam sirup. Dosisnya 30 gram untuk dewasa dan 15 gram atau 7,5 gram untuk anak-anak. Selama itu penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah buang air besar penderita diberi makan bubur.

Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang berisi formalin 5-10% untuk menemukan telur taenia. Tinja dari buang air besar pertama dan tinja selama 24 jam ditampung dalam baskom plastik. Kemudian tinja disiram dengan air panas supaya cacing menjadi rileks. Setelah itu tinja diayak dan disaring untuk mendapatkan proglotid dan skoleks Taenia sp. Pengobatan dinyatakan berhasil bila skoleks Taenia sp dapat ditemukan utuh bersama proglotid.

Posted in Parasitologi | 1 Comment »

Zat Aktif Obat Cacing Cestoda Nontradisional

Posted by filzahazny on February 27, 2008


1. Nama generik : Albendazol

Nama dagang / Nama paten :

Ø Albendazol KF ( Kimia Farma ) : Infeksi tunggal atau campuran parasit Taenia saginata, Taenia solium

Ø Helben ( Mecosin Indonesia ) : Taenia saginata, Taenia solium

Ø Zentel ( Smith Kline Beecham ) : Hymenolepis nana, Taenia saginata.

Mekanisme : menghambat transport glukosa pada cacing, menghambat sintesis protein dan energi sehingga menghambat sintesa ATP yang membuat cacing tidak dapat menjadi parasit pada manusia.

2. Nama generik : Diklorofen / Paramomisin Sulfat

Indikasi : Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Taenia saginata, Taenia solium

Nama dagang / Nama paten :

Ø Antiphen (May & Baker, South Africa)

Ø Balsafissan

Ø Fissa-Brust-werzensalbe

Ø Germolene

Ø Mycota

Ø Onychofissan

Ø Ovis (Warner, Germany)

Ø Savogerm

Ø Plath-Lyse (Genevrier, France)

Ø Wespuril (Spitzner, Germany)

Mekanisme : Cara kerjanya belum diketahui dengan jelas. Segera setelah obat diberikan maka skoleks terlepas dari mukosa usus, mati dan dicerna oleh usus sehingga segmen yang matang akan susah juga sangat sedikit ditemukan dalam feses.

3. Nama generik : Levamisole

Merupakan isomer dari tetramisol yang memiliki efek antemintik, sedangkan tetramisol merupakan derivate sintetik dari imidazotiazol

Nama dagang / Nama paten :

Ø Kam Cek San (Bintang Toedjoe) : Taenia saginata, Taenia solium.

Ø Ketrax ( Astra Zeneca ) : Taenia saginata, Taenia solium.

Mekanisme : meningkatkan frekuensi aksi potensial, menghambat transmisi neuromuskular cacing, sehingga cacing berkotraksi mengalami paralisis tonik kemudian mati.

4. Nama generik : Mebendazole / N-(5-benzoil-2-benzimidazolil karbamat)

Deskripsi : Mebendazole merupakan obat yang berupa bubuk berwarna putih kekuningan, tidak larut dalam air, tidak bersifat higroskopis sehingga stabil dalam keadaan terbuka, dan memiliki rasa yang enak.

Nama dagang / nama paten :

Ø Antelmox (Saka Farma) : Taenia saginata, Taenia solium

Ø Gavox ( Guardian Phartama): Taenia saginata, Taenia solium

Ø Totamin (Ponci Indonesia): Taenia saginata, Taenia solium

Ø Totamin (Ponci Indonesia): Infeksi tunggal maupun campuran oleh Taenia saginata, Taenia solium

Ø Trivexan (Mecosin Indonesia): Infeksi tunggal maupun campuran oleh Taenia saginata dan Taenia solium

Ø Vercid (Dankos): Taenia saginata dan Taenia solium

Ø Vermona (Mecosin Indonesia): Taenia saginata dan Taenia solium

Ø Vermoran (Pharos Indonesia): Taenia saginata dan Taenia solium

Ø Vermox (Janssen): Taenia saginata dan Taenia solium

Mekanisme : menyebabkan kerusakan struktur subselular dan dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing. Obat ini menghambat pengambilan glukosa sehingga terjadi pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing. Selain itu cacing menimbulkan sterilitas pada telur cacing sehingga telur ini gagal menjadi larva. Akan tetapi larva yang sudah matang tidak terpengaruhi oleh mebendazole.

5. Nama generik: Niklosamid/ N (2-kloro-4’-nitro-fenil)-5-klorosalisilamid

Indikasi: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis diminuta, Hymenolepis nana, Taenia saginata, Taenia solium

Nama dagang / Nama Paten :

Ø Cestocida (Spanyol)

Ø Sulqui (Argentina)

Ø Tredemine (France)

Ø Vermitid

Ø Yomesan (Inggris)

Deskripsi: Niklosamid berupa bubuk yang berwarna putih kekuningan, tidak berbau dan tidak larut dalam air.

Mekanisme: Pada konsentrasi rendah, obat ini dapat merangsang pengambilan oksigen oleh Hymenolepis diminuta, sedangkan pada kadar yang lebih tinggi dapat menghambat respirasi dan pengambilan glukosa. Selain itu, obat ini dapat pula menghambat fosforilasi anaerobik ADP yang merupakan proses pembentukan energi pada cacing. Cacing yang dipengaruhi akan dirusak sehingga sebagian skoleks dan segmen dicerna dan tidak dapat ditemukan dalam feses.

6. Nama generik : Prazikuantel

Deskripsi: Prazikuantel derivat pirazinnoisokuinolin merupakan obat yang berbentuk kristal tidak berwarna dan rasanya pahit.

Indikasi: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Taenia saginata, Taenia Solium

Nama dagang / Nama paten:

Ø Biltricide

Ø Ceneride

Ø Cesol

Ø Cystiade

Mekanisme :

* Pada kadar efektif terendah obat menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing akibat hilangnya Ca intrasel sehingga timbul paralisis spastik yang mungkin mengakibatkan terlepasnya cacing dari tempat normal pada hospes.

* Pada dosis tinggi, obat ini mengakibatkan vakuolisasi dan vesikulisasi tegumen cacing, sehingga isi cacing keluar. Mekanisme pertahanan tubuh hospes dipacu dan terjadi kehancuran cacing.

7. Nama generik : Quinacrine Hydrochloride

Merupakan obat pengganti untuk terapi infeksi cacing pita. Karena toksisitasnya, maka ia tidak lagi dipakai kecuali jika Niklosamid / obat pengganti (Prazikuantel, Mebendazole, Diklorofen) tidak tersedia.

Indikasi: Tenia saginata dan Taenia solium

Nama dagang / Nama paten :

Ø Atabrin

Ø Erion

Ø Acriquine

Ø Palacrin

Ø Metoquin

Ø Italchin

  1. Nama generik : Diethilcarbamazine

Indikasi : Wuchereria brancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Mansonella ozzardi, Onchorcerca volvulus

Nama Dagang / nama paten :

· Banocide (Wellcome, UK)

· Hetraxan (Laderie, UK)

· Hetrazan (Australia, Jeman, Netherland, Swiss, Amerika Serikat)

· Notezine (Prancis)

Mekanisme : Diethilcarbamazine menyebabkan hilangnya mikrofilaria dari peredaran darah dengan cepat dan mematikan cacing dewasa.

Diethilcarbamazine terhadap mikrofilaria yaitu :

· Pertama, dengan cara menurunkan aktivitas otot, akibatnya parasit seakan-akan mengalami paralisis dan mudah terusir dari tempatnya yang normal dari tubuh hospes.

· Kedua, menyebabkan perubahan pada permukaan membran mikrofilaria sehingga lebih mudah dihancurkan oleh daya pertahanan tubuh hospes.

Posted in Parasitologi | 3 Comments »

Plasmodium Vivax

Posted by filzahazny on February 23, 2008

Plasmodium Vivax termasuk ke dalam anggota filum Sporozoa yang tidak memiliki alat gerak dan bersifat parasit, tubuh terbentuk bulat atau bulat panjang. Perkembangbiakan/siklus hidupnya dapat dibagi atas tiga stadium:

a.                   Schizogonia : terbentuk secara membelah dan terjadi setelah menginfeksi      inang

b.                  Sporogoni : pembentukan spora di luar inang dan merupakan stadium efektif.

c.                   Gamogoni : tahap pembentukan sel-sel gamet terjadi di dalam tubuh inang         perantara atau nyamuk.

 

Siklus hidup Plasmodiun Vivax

 

1.                  Nyamuk Anopheles betina menggigit, menghisap darah manusia kemudian mengeluarkan air liur yang mengandung sporozoit.

2.                  Bersama aliran darah sporozoit menuju hati, selama ± 3 hari.

3.                  Sporozoit membelah menjadi 8 – 32 merozoit, keluar dari hati kemudian menginfeksi sel hati lain dan membentuk merozoit baru. Akibatnya sel hati banyak yang rusak.

4.                  Gejala demam terjadi ketika merozoit melisiskan sel darah merah dalam jumlah banyak.

5.                  Gejala demam terjadi ketika merozoit melisiskan sel darah merah dalam jumlah banyak.

6.                  Jika darah si penderita digigit nyamuk Anopheles dan menghisap darah penderita tadi maka makrogametosit dan mikrogametosit akan ikut terhisap dan masuk ke dalam usus nyamuk. Di dalam usus nyamuk makrogametosit danmikrogametosit berkembang menjadi makrogamet (ovum) dan mikrogamet (sperma). Prosesnya dinamakan gametogonia atau gametogenesis. Fertilisasi terjadi di dalam usus sehingga terbentuklah zigot (ookinet).

7.                  Zigot (ookinet) selanjutnya akan menembus dinding usus dan untuk sementara akan menetap, terbungkus oleh otot dinding perut nyamuk (ookista)

8.                  Di dalam ookista, zigot akan membelah berulang kali sehingga terbentuk sel-sel yang lengkap dinamakan sporozoit.

9.                  Jika ookista telah matang maka akan pecah sehingga sporozoit tersebar ke seluruh tubuh nyamuk, diantaranya adalah ke dalam kelenjar ludah.

10.            Apabila nyamuk menghisap darah manusia bersamaan dengan itu nyamuk akan melepaskan sporozoit ke dalam darah.

 

Plasmodium pada manusia : aseksual

                                              Fase gametofit dan vegetatif

Plasmodium pada nyamuk : seksual

                                              Fase sporofit dan generatif

       Jenis Plasmodium lainnya :

  • Plasmodium malariae, penyebab penyakit malaria Quartana dengan gejala demam (masa sporulasi) selang waktu 72 jam.
  • Plasmodium falcifarum, penyebab penyakit malaria tropika dengan gejala demam yang tidak teratur.
  • Plasmadium ovale, disebut malaria ovale tertiana, akan tetapi gejala demamnya lebih ringan daripada malaria tertiana yang disebabkan Plasmodium vivax.                                                                                                                      

 

Posted in Parasitologi | 1 Comment »

DRACUNCULIASIS 2

Posted by filzahazny on February 16, 2008

Abstract :
Dracunculiasis, also known as guinea worm disease, is caused by the large female of nematode Dracunculus medinensis, which emerges painfully and slowly from the skin, usually on the lower limbs. It is exclusively caught from drinking water, usually from ponds.
Keywords : Dracunculiasis, Dracunculus medinensis
Pendahuluan
Dracunculiasis atau Dracontiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing Dracunculus medinensis, nematoda jaringan yang sangat panjang. Nama ilmiah yang pertama sekali diberikan pada cacing ini adalah Gordius medinensis Linnaeus, pada tahun 1758. Nama umumnya adalah Dracunculus yang berarti ‘ular kecil’. Disebut pula ‘Serpent worm’ atau ‘Dragon worm’ oleh karena bentuknya seperti ‘ular naga’. Sebagian lagi menyebutnya ‘Medina worm’ atau ‘Guinea worm’ oleh karena daerah tempat penyebarannya. Pada Helmintologi cacing ini masuk dalam Famili Dracunculidae dan subordo Camallanina.1 Walau masih ada sebagian menganggapnya termasuk filaria.2,4
Dracunculiasis sudah dikenal sejak jaman dahulu oleh karena gejala klinisnya yang sangat khas. Penyakit ini tersebar mulai dari daerah tropis Afrika sampai Timur Tengah, India dan Srilanka. Juga secara sporadis terjadi di Burma, Malaysia dan Indonesia. Berdasarkan perkiraan Stoll (1947) lebih dari 48 juta manusia di dunia telah terinfeksi penyakit ini.1,2
Selain manusia, cacing ini juga dapat hidup pada anjing, carnivora dan beberapa mamalia lainnya.2
Morfologi
Cacing ini berbentuk silindris dan memanjang seperti benang. Permukaan tubuh berwarna putih susu dengan kutikula yang halus. Ujung anterior berbentuk bulat tumpul sedangkan ujung posterior melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya dikelilingi paling sedikit 10 papila.
Cacing betina dewasa, termasuk nematoda terpanjang, memiliki ukuran panjang mencapai 120 cm dan lebar hanya 1-2 mm. Bersifat viviparous dan memiliki dua pasang organ genital. Dalam proses pematangannya, banyak organ yang menjadi atropi dan akhirnya tubuh dipenuhi oleh uterus yang membesar dan tebal. Vulva terletak dekat kepala dan tidak kelihatan oleh karena desakan uterus. Uterus diperkirakan berisi 1-3 juta larva stadium pertama.4,5
Cacing jantan biasanya ditemukan pada binatang yang diobservasi, walau pernah ditemukan pada seorang penderita di India.3,5 Hal ini terjadi karena cacing jantan segera mati setelah kopulasi. Cacing ini memiliki panjang 12-40 mm dan lebar 0,4 mm, jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan betinanya. Pada ujung posteriornya ©2004 Digitized by USU digital library 1
terdapat 10 papila yang tersusun bilateral pada sisi ventral dan dua buah spikula dengan ukuran yang hampir sama.3 Cacing ini diperkirakan dapat hidup pada hospes terminalnya kurang dari 6 bulan.1,3,4,5
Larva stadium pertama, memiliki kepala bulat, badan mendatar/flat, ekor panjang dan langsing dengan ukuran kurang lebih 1/3 panjang badan. Kutikula berstriae, tidak memiliki selaput dan memiliki ukuran panjang 0,5-0,75 mm serta lebar 0,02 mm. Larva juga memiliki lekukan-lekukan melintang sepanjang permukaan tubuhnya. Saluran pencernaannya terdiri dari oesophagus yang berbentuk bulat dan anus yang belum sempurna. Di dalam air, larva berenang dengan cara bergulung membentuk huruf ‘a’ kemudian lurus kembali. Dalam perkembangannya, larva stadium pertama memerlukan Cyclops spp., sebagai hospes perantaranya. Larva akan mati jika tidak dimakan oleh Cyclops.
Di dalam Cyclops, larva tidak mengalami pertambahan ukuran, tetapi mengalami metamorfosis sebanyak dua kali, sebelum menjadi larva stadium ketiga. Ekor terabsorbsi, striae kutikula hilang dan digantikan oleh selaput pembungkus yang lembut. Perkembangan ini memerlukan waktu 4-6 minggu. Larva stadium ketiga berbentuk silindris, memiliki otot oesophagus yang sederhana dan ekor yang memendek . Larva ini dapat bertahan dalam Cyclops sampai 4 bulan lamanya, dan merupakan bentuk infektif bagi hospes terminalnya.3,5,8
Siklus Hidup
Siklus hidup Dracunculus medinensis akan berlanjut bila manusia atau hospes terminal lain termakan Cyclops yang mengandung larva stadium tiga. Larva akan keluar dari Cyclops dengan bantuan cairan lambung penderita. Selanjutnya larva akan menembus mukosa usus penderita dan bermigrasi melalui dinding saluran pencernaan menuju jaringan ikat longgar, biasanya jaringan retroperitoneal. Disanalah larva stadium tiga tersebut berkembang menjadi cacing dewasa, jantan dan betina. Waktu yang diperlukan untuk proses tersebut sekitar 8-12 bulan. Kopulasi cacing jantan dan betina juga terjadi di jaringan ikat longgar, bukan di saluran cerna.
Cacing betina yang telah dibuahi/gravid juga mengalami proses pematangan di jaringan retro-peritoneal. Hampir keseluruhan tubuh cacing betina gravid ini dipenuhi oleh uterus yang berkembang dan berisi dengan larva stadium pertama. Selanjutnya cacing tersebut akan bermigrasi ke jaringan subcutan dan permukaan kulit, terutama bagian tubuh yang banyak kontak dengan air.
Saat ujung kepala cacing betina gravid mencapai kulit, terbentuklah lesi berupa papula. Hal ini terjadi karena dikeluarkannya sejumlah toksin yang merusak jaringan disekitar cacing itu berada. Dalam waktu 24 jam, lesi dapat berubah menjadi vesikula tetapi terkadang dapat pula membesar sampai beberapa hari sebelum menjadi vesikula. Dan dalam waktu 2 minggu, vesikula tersebut akan pecah dan membentuk ulkus. Uterus cacing akan keluar melalui bagian terdepan dari dinding vesikula yang pecah dan kemudian mengeluarkan larva stadium pertama. Proses pengeluaran larva ini berlangsung sampai beberapa kali hingga semua larva habis dan uterus benar-benar kosong. Diperkirakan proses ini terjadi selama 3 minggu. Seekor cacing betina gravid dapat mengeluarkan larva stadium pertama sampai 3 juta ekor. Larva tersebut dapat bertahan hidup 1-2 minggu, dan akan mati bila tidak dimakan oleh Cyclops.
©2004 Digitized by USU digital library 2
Larva yang dimakan oleh Cyclops masuk ke dalam saluran pencernaan dan mengalami dua kali perubahan sampai menjadi bentuk infektif. Proses perubahan ini memerlukan waktu sekitar 14 hari, pada suhu 26oC dan larva tidak akan menjadi infektif jika tidak mengalami metamorfosis. Dalam kondisi normal Cyclops dapat bertahan hidup sampai 3 bulan dan mampu memakan 15-20 larva. Bila Cyclops tidak dimakan oleh hospes terminal, dengan sendirinya Cyclops dan larva di dalamnya akan mati. Siklus ini berlangsung terus seperti diatas.3,5,6,7,8
Sementara itu, cacing betina gravid yang gagal mencapai permukaan kulit, akan mati dan mengalami proses pengapsulan di jaringan ikat. Begitu pula cacing jantan dewasa yang mati akan mengalami proses yang sama.
Patologi dan Simptomatik
Umumnya tidak ada proses patologik yang berarti saat invasi larva di mukosa usus penderita, migrasi larva ke dalam jaringan organ dalam, serta perkembangannya menjadi cacing dewasa.3
Gejala-gejala mulai muncul segera setelah cacing betina gravid mulai bermigrasi ke kulit. Reaksi alergi yang luas dapat terjadi karena toksin, mirip histamin, yang dilepaskan oleh cacing ke dalam tubuh penderita. Proses ini timbul beberapa jam sebelum perkembangan lesi pada kulit. Gejala-gejala yang muncul antara lain : demam, eritema, urtikaria, nausea, muntah, diare, dispnoe, bahkan pingsan . Penderita biasanya mengalami gejala-gejala tersebut sampai beberapa bulan.8
Toksin tersebut juga berperan pada pembentukan papula kemerahan, suatu lesi yang menonjol pada kulit, dan kemudian berkembang menjadi vesikula. Timbulnya erupsi pada kulit ini biasanya terjadi malam hari.
Lesi berupa papula, vesikula dan ulkus terjadi pada bagian tubuh yang sering kontak dengan air. Biasanya pada kaki, tangan, badan, pantat, sendi panggul, bahu, sendi rahang atau mungkin juga di kepala dan terkadang terjadi pada skrotum. Hampir 85% kasus terjadi pada bagian bawah ekstremitas yaitu bagian dorsal dan ventral kaki, yang merupakan bagian tubuh yang paling mudah kontak dengan genangan air. Di India, lesi banyak ditemukan di bagian punggung penderita , umumnya terjadi pada para pemikul air.
Saat ujung anterior cacing betina gravid berusaha mencapai permukaan kulit, timbullah sensasi rasa gatal dan rasa terbakar. Sensasi ini mendorong penderita memasukan bagian tubuh tersebut ke dalam air. Papula yang telah berkembang menjadi vesikula, segera pecah dan akan terlihat ulkus kecil pada permukaan kulit. Ulkus ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya bila tidak terjadi infeksi sekunder.
Pada bagian tengah ulkus akan terlihat kepala atau bagian uterus cacing yang muncul menonjol keluar. Dengan rangsangan air, bagian tersebut akan mengeluarkan cairan, awalnya jernih kemudian berwarna kesusuan. Cairan itu bersifat steril dan berisi toksin, eosinofil, neutrofil, monosit dan larva stadium pertama. Selain cairan , uteruspun keluar akibat gerakan kontraksi cacing, sebagai respon dari rangsangan air tersebut. Gejala sistemik akan berkurang setelah vesikula pecah. Hal ini disebabkan karena berkurangnya cairan vesikula tersebut dalam tubuh penderita.
©2004 Digitized by USU digital library 3
Cacing betina gravid biasanya dapat keluar dengan sendirinya setelah 3-6 minggu kemudian. Waktu tersebut dapat dipersingkat dengan cara menarik keluar cacing dengan bantuan tongkat. Namun apabila cacing terputus, larva dan toksin dapat tersebar di sepanjang saluran cacing. Hal ini dapat memperberat proses inflamasi dan menyebabkan infeksi sekunder. Kondisi ini dapat berlanjut menjadi sepsis atau tetanus.
Kebanyakan infeksi cacing yang terjadi, merupakan infeksi tunggal. Tetapi pada daerah endemis, reinfeksi berulangkali merupakan hal yang biasa. Bahkan pernah dilaporkan seorang penderita terinfeksi lebih dari 50 ekor cacing.
Kalsifikasi/pengapsulan yang terjadi pada cacing yang mati baik cacing jantan, maupun cacing betina yang gagal menembus kulit, dapat menimbulkan gejala antara lain : arthritis, synovitis, ankylosis dan kontraktur, tergantung lokasi jaringan ikat dimana proses kalsifikasi terjadi.
Diagnosa dan Terapi
Manifestasi lesi pada infeksi ini, mirip dengan infeksi kulit seperti karbunkel, selulitis yang dalam, gumma, onchocercarian, dan beberapa penyakit lain. Diagnosa klinis dapat dibuat bila terdapat ‘garis linier’ berliku-liku pada permukaan kulit dan ditemukannya papula atau vesikula pada salah satu ujung garis tersebut serta munculnya gejala prodromal /sistemik. Tanda dan gejala tersebut biasanya terdapat pada infeksi cacing ini.
Komplikasi kronik seperti arthritis, synovitis, ankylosis dan kontraktur ditambah riwayat pernah memasuki daerah endemis, juga dapat dipakai untuk membuat diagnosa klinis penyakit ini.
Diagnosa pasti biasanya dibuat berdasarkan :9
1. Ditemukannya cacing dewasa, baik dengan penyinaran cahaya maupun saat ujung anterior cacing betina gravid sampai pada permukaan kulit.
2. Ditemukannya larva pada cairan vesikula yang diperiksa secara mikroskopik.
3. Ditemukannya kalsifikasi pada jaringan subcutan pada pemeriksaan radiologis.
4. Tes intradermal dengan cara menyuntikkan antigen cacing.
5. Eosinofilia pada pemeriksaan darah rutin.
Pilihan pertama dalam pengobatan Dracunculiasis adalah Niridazole (Ambilhar). Obat ini sangat efektif dan diberikan secara oral dengan dosis 25 mg/bb/hari selama 15 hari. Pada anak-anak diberikan dalam dosis bagi. Dosis maksimal adalah 1,5 gram/hari. Obat ini memiliki efek samping seperti rasa mual, muntah, diare, kram, pusing, rash pada kulit, insomnia, paraestesia dan gangguan gambaran listrik jantung. Pada penderita defisiensi G-6-PD dapat menimbulkan anemia hemolitika.
Obat alternatif lain adalah :
• Metronidazole, diberikan dengan dosis 3×250 mg pada dewasa dan 25 mg/bb dalam dosis bagi 3 pada anak-anak, selama 10 hari.
• Thiabendazole 50 mg/bb/hari selama 2 hari. Obat ini memiliki efek samping yang lebih minimal daripada Metronidazole.
©2004 Digitized by USU digital library 4
Obat-obat diatas umumnya lebih bersifat menekan peradangan daripada aksi spesifik terhadap cacing dewasanya.
Tindakan operasi mengeluarkan cacing, merupakan tindakan yang paling tepat untuk memperkecil terjadinya infeksi sekunder dan mempercepat proses penyembuhan yang sempurna.
Prognosa penyakit ini umumnya baik, kecuali bila terjadi infeksi sekunder. Kematian pada Dracunculiasis biasanya disebabkan oleh infeksi sekunder.
Pemberantasan dan pencegahan
Penularan penyakit ini tergantung pada faktor :
1. sumber air minum yang terkontaminasi Cyclops
2. kontak langsung / penggunaan sumber air yang terkontaminasi
3. penularan dari penderita ke sumber air
Di beberapa daerah di dunia, jenis sumber air tertentu sangat memungkinan untuk terjadinya penularan, misalnya pada sumur bertingkat (step wells) di India, tangki air (covered cisterns) di Iran dan kolam-kolam di Ghana.
Pernah dilaporkan, bahwa dengan menaikkan beberapa derajat suhu air , dapat mengurangi jumlah Cyclops pada sumber air tersebut. Pemberian zat kimia seperti Kalium Karbonat, diperkirakan sama efektifnya dengan menaikkan suhu air. Begitu pula dengan pemberian perkhlorida setiap 14 hari pada sumber air minum juga dapat mengontrol Cyclops.
Pemberantasan secara biologis terkadang juga dilakukan yaitu dengan memelihara ikan Barbus puckelli, predator Cyclops, yang sangat rakus memangsa Cyclops.
Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari kontak pada sumber air yang terkontaminasi atau dengan tidak menggunakan air yang mengandung Cyclops.
Tindakan pemberantasan yang dilakukan secara baik dan serentak sangatbesar pengaruhnya terhadap eradikasi Cyclops. Hopkins (1983) yakin bahwa penyakit ini dapat dielliminasi dalam kurun waktu 1-2 tahun dengan penyediaan air minum yang bersih dan aman.
Penutup
Walaupun di Indonesia insiden penyakit ini bersifat sporadis, namun bahayanya tetap saja ada, mengingat Cyclops juga terdapat di Indonesia. Pada era globalisasi saat ini, sangat memungkinkan bagi seorang penderita dari daerah endemik masuk ke wilayah Indonesia dan kontak dengan sumber air, terutama di daerah wisata berbasiskan air. Juga masih adanya daerah di Indonesia yang belum memiliki sumber air minum yang benar-benar bebas dari Cyclops.
©2004 Digitized by USU digital library 5Kepustakaan :
1. Miyazaki I, An Illustrated Book of Helminthic Zoonoses, Tokyo, 1991 : 438-442
2. Markell E, Voge M, John D, Medical Parasitology, Sixth Edition, Philadelphia, 1985 :267-270
3. Faust EC, Russel, Clinical Parasitology, Seveth Edition, Philadelphia, 1964 : 492-499
4. Sandy C, Muller R, Zagaria N, Dracunculiasis (Guinea Worm Disease) and the Eradication Initiative. Available from URL : CMR online
5. Chatterjee K.D, Protozoology and Helminthology, Tenth Edition, Calcutta, 1975 : 202-205
6. Lynne S, David A, Diagnostik Parasitologi Kedokteran, EGC, 1996 : 171-173
7. Stitts’ , Diagnosis, Prevention and Treatment of Tropical Diseases, Seventh Edition, Philadelphia, 1945 : 1379-1393
8. Manson, Wilcocks, Manson’s Tropical Diseases, Seventeenth Edition, London, 1972 : 237-246, 1058-1061
9. Harold B, Franklin A, Basic Clinical Parasitology, Fifth Edition, USA,1983 :160-162
10. James M, Steckelberg, Walter R Wilson, Current Diagnostic and Treatment in Infectious Diseases, Nematodes , International Edition, 2001 : 861-862
11. Ghosh Shuvo, Dracunculiasis. Available from URL : eMedicine.com
12. Dracunculus medinensis. Available from URL : http : //ucdnema.ucdavis.edu/imagemap/ent156html/nemas/dracunculusmedinensis ©2004 Digitized by USU digital library 6

Posted in Parasitologi | 1 Comment »

Dracunculiasis

Posted by filzahazny on February 16, 2008

[Dracunculus medinensis]

Causal Agent Life Cycle Geographic Distribution Clinical Features Laboratory Diagnosis Treatment

Causal Agent:

Dracunculiasis (guinea worm disease) is caused by the nematode (roundworm) Dracunculus medinensis.

 

Life Cycle:

 

Life cycle of Dracunculus medinensis

 

Humans become infected by drinking unfiltered water containing copepods (small crustaceans) which are infected with larvae of D. medinensis . Following ingestion, the copepods die and release the larvae, which penetrate the host stomach and intestinal wall and enter the abdominal cavity and retroperitoneal space . After maturation into adults and copulation, the male worms die and the females (length: 70 to 120 cm) migrate in the subcutaneous tissues towards the skin surface . Approximately one year after infection, the female worm induces a blister on the skin, generally on the distal lower extremity, which ruptures. When this lesion comes into contact with water, a contact that the patient seeks to relieve the local discomfort, the female worm emerges and releases larvae . The larvae are ingested by a copepod and after two weeks (and two molts) have developed into infective larvae . Ingestion of the copepods closes the cycle .

 

Geographic Distribution:

An ongoing eradication campaign has dramatically reduced the incidence of dracunculiasis, which is now restricted to rural, isolated areas in a narrow belt of African countries.

 

 

Parasites and Health [Last Modified: 09/05/2007 21:16:21]

Dracunculiasis

[Dracunculus medinensis]

Causal Agent Life Cycle Geographic Distribution Clinical Features Laboratory Diagnosis Treatment

 

 

Clinical Features:

The clinical manifestations are localized but incapacitating. The worm emerges as a whitish filament (duration of emergence: 1 to 3 weeks) in the center of a painful ulcer, accompanied by inflammation and frequently by secondary bacterial infection.

Dracunculiasis 1 Dracunculiasis 2

A B

 

The female guinea worm induces a painful blister (A); after rupture of the blister, the worm emerges as a whitish filament (B) in the center of a painful ulcer which is often secondarily infected. Images contributed by Global 2000/The Carter Center, Atlanta, Georgia.

 

Laboratory Diagnosis:

The clinical presentation of dracunculiasis is so typical, and well known to the local population, that it does not need laboratory confirmation. In addition, the disease occurs in areas where such confirmation is unlikely to be available. Examination of the fluid discharged by the worm can show rhabditiform larvae. No serologic test is available.

 

Treatment:

Local cleansing of the lesion and local application of antibiotics, if indicated because of bacterial superinfection. Mechanical, progressive extraction of the worm over a period of several days. No curative antihelminthic treatment is available.

Posted in Parasitologi | Leave a Comment »