Toksisitas serotonin yang lebih sering disebut sebagai sindrom serotonin yaitu keadaan toksik yang disebabkan oleh kelebihan serotonin di SSP. Kondisi ini menyebabkan berbagai perubahan mental, otonom dan neuromuskular yang tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari ringan hingga yang membahayakan jiwa. Reaksi ini bukan reaksi idiosincratik.
Sindroma serotonin yang berat hampir selalu disebabkan oleh interaksi dua atau lebih obat serotonergik/antiserotnergik, salah satunya hampir selalu SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) atau Monoamin Oksidase Inhibitor. Amfetamin dan MDMA dilaporkan juga dapat menyebabkan toksisitas serotonin berat karena kemampuannya melepaskan serotonin di sinaps secara besar-besaran. Namun pada dosis tinggi, amfetamin, dan MDMA tidak hanya mampu melepaskan serotonin dalam jumlah besar dan menyebabkan gejala psikotik akut, namun juga menyebabkan kerusakan kimia pada sel yang melepaskan serotonin. Keadaan ini dapat diperberat lagi dengan amfetamin dan monoamin oksidase inhibitor secara bersamaan. Umumnya, dua atau lebih obat serotogenik/antiserotogenik dengan mekanisme yang berbedapada serotonin, dapat menyebabkan gejala berat sindroma serotonin disajikan pada table 18-1
tabel 18-1 GEJALA KLINIS SINDROM SEROTONIN
| Kognitif | Otonom | Neuromuscular |
| Kebingungan
Agitasi Hipomania Hiperaktivitas Gelisah |
Hipertemia
Berkeringat Takikarardia Hipertensi Midriasis Flushing Menggigil |
Klonus (spontan/inducable/okular)
Hiperefleksia Hipertonia Ataksia Tremor |
Patofisiologi sindroma serotonin sampai saat ini masih belumdapat dketahui dengan jelas. Diduga disebabkan oleh stimulasi reseptor 5-HT 1A dan 5-HT2.
Umumnya, kasus sindroma serotonin bersifat self limitting. kondisi pasien akan membaik jika obat yang menjadi penyebabnya dihentikan. kasus yang ringan hingga sedang umumnya membaik dalam waktu 24-72 jam.dalam kkondisi yang berat, pasien membutuhkan perawatan yang intensif karena gejala yang mungkin timbul adalah hipertemia berat, rabdomiolisis, DIC (Disseminated intravascular coagulation) dan atau ARDS(Adult respiratory distress syndrome)
Dalam penangan sindroma serotonin sedang hingga berat, obat yang digunakan adalah anti serotonin. hingga saat ini obat yang paling sering dipakai adalah siproheptadin dengan dosis 4-8 mg dosis per oral dan dapat diulangi setiap 2 jam. Jika tidak respon setelah penggunaan total 16 mg, siproheptadin harus segera dihentikan. jika terdapat respon , dapat dilanjutkan dengan dosis terbagi hingga 32 mg per hari (hingga 8 mg 4 kali sehari). obat lain yang dianjurkan adalah klorpromazin dan propanolol.
dari buku farmakologi ed 5, penerbit kedokteran