herbal

Herbal untuk asam urat


ETIOLOGI  DAN PENGOBATAN PENYAKIT ASAM URAT

Penyakit asam urat biasa disebut juga gout atau penyakit pirai merupakan penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam tubuh penderita. Berikut merupakan deskripsi penyakit asam urat.

II. 1 Etiologi Penyakit Asam Urat

Asam urat merupakan hasil degradasi dari senyawa purin yang secara fisiologis tidak memiliki fungsi tertentu. Pada hewan tingkat rendah, adanya enzim urikase dapat memecah asam urat menjadi lebih mudah terlarut sehingga tidak terakumulasi. Penyakit asam urat atau disebut penyakit gout atau pirai adalah suatu keadaan dimana terjadi gejala seperti hiperurisemia, serangan artritis yang berulang yang berkaitan dengan ditemukannya kristal urat monosodium pada cairan sinovial dan penimbunan kristal urat monosodium pada jaringan, juga penyakit ginjal dan batu ginjal. Penyakit pirai hanya terjadi pada manusia dikarenakan adanya penimbunan asam urat yang tidak dapat dipecah. Pada kondisi normal, jumlah yang terakumulasi pada pria 1200 mg dan pada wanita 600 mg. Peningkatan ukuran dari penimbunan asam urat terjadi pada penderita penyakit pirai ini. Adanya kelebihan ini dapat disebabkan oleh adanya produksi yang berlebihan atau adanya ekskresi yang kurang dari tubuh seseorang. Produksi yang berlebihan.

Asam urat dihasilkan dari penguraian senyawa purin yang dapat berasal dari makanan, konversi asam nukleat menjadi nukleotida purin, dan sintesis de novo (sintesis senyawa dari sisa metabolisme) senyawa purin. Metabolisme senyawa purin diatur oleh beberapa enzim. Ketidaknormalan pada enzim tersebut menyebabkan terjadinya kelebihan dalam produksi asam urat. Dua enzim yang sangat berperan dalam produksi asam urat ialah fosforibosil pirofosfat (PRPP) sintetase dan hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT).

Peningkatan aktivitas PRPP sintetase akan menyebabkan peningkatan PRPP. PRPP adalah kunci penentu sintesa purin dan kemudian pembentukkan asam urat. Adanya defisinsi HGPRT akan mempengaruhi konversi guanin menjadi asam guanilat dan hipoxantin menjadi asam inosinat. Konversi kedua senyawa ini memerlukan PRPP sebagai kosubstrat dan reaksi pembentukkan kembali asam nukleat. Kekurangan HGPRT menyebabkan peningkatan reaksi guanin dan hipoxantin menjadi asam urat dan peningkatan interaksi PRPP dengan glutamin pada tahap pertama sintesa purin.

Defisiensi permanen HGPRT sejak masa kanak-kanak akan menyebabkan sindrom Lesch-Nyhan yang ditunjukkan dengan spastis koreoatetosis, retardasi mental, dan produksi asam urat yang berlebihan. Defisiensi parsial dari enzim tersebut mungkin ditandai dengan hiperurisemia atau normal pada individu yang sehat.

Gambar 1.1. Metabolisme purin

Kelebihan pembentukkan asam urat juga mungkin disebabkan karena peningkatan pemecahan asam nukleat jaringan dengan adanya penyimpangan dalam mieloproliferasi dan limfoproliferasi.

Asam urat tidak akan terakumulasi selama prmbentukkannya seimbang dengan ekskresinya. Dua per tiga asam urat yang diproduksi setiap harinya diekskresikan melalui urin, sisanya dieliminasi melalui saluran pencernaan setelah didegradasi oleh bakteri usus. Peningkatan ekskresi asam urat di atas rata-rata mengarah pada hiperurisemia dan peningkatan timbunan asam urat. Asam urat dalam plasma hampir seluruhnya difiltrasi pada glomerolus dan 90% direabsorbsi pada tubulus proksimal. Situs sekresi tubulus asam urat yang pasti tidak dapat ditetapkan namun terjadi pada tubulus distal hingga situs sekretori.

Faktor yang memperngaruhi klirens atau peningkatan pembentukkan asam urat diantaranya obat-obatan serta keadaan patofisiologis tertentu.

No. Faktor Deskripsi
1. Kondisi patofisiologis
2. Obat-obatan

Tabel 1.1 Faktor mempengaruhi konsentrasi asam urat tubuh

Orang yang normal membentuk 600-800 mg asam urat per harinya dan diekskresikan kurang dari 600 mg dalam urin. Orang-orang yang mengekskresikan lebih dari 600 mg asam urat setelah menjalani diet bebas purin selama 3-5 hari dapat dikategorikan sebagai overproduser. Orang yang mengalami hiperurisemia yang mengekskresikan kurang dari 600 mg asam urat setelah diet bebas purin selama 24 jam dikategorikan underexcretors. Pada diet sedang, ekskresi lebih dari 1000 mg dalam 24 jam menunjukkan adanya overproduksi, kurang dari jumlah ini dikategorikan normal.

II. 2 Manifestasi Klinis

Diagnosis penyakit pirai dapat ditetapkan melalui gejala yang timbul. Mainfestasi klinis yang pertama ialah artritis akut. Gejalanya adalah terjadinya peningkatan secara tajam rasa nyeri yang hebat, pembengkakan dan inflamasi yang biasa terjadi pada sendi ibu jari kaki kemudian meluas hingga pergelangan kaki, tumit, lutut, pergelangan tangan, jari tangan dan bahu. Penimbunan kristal urat pada cairan sinovial menyebabkan inflamasi yang kemudian menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan proses kemotaksis dari leukosit. Proses fagosit kristal urat menyebabkan lisis sel dan pelepasan enzim proteolitik yang kemudian menimbulkan reaksi inflamasi.

Manifestasi lainnya ialah pembentukan batu urat pada ginjal. Hal ini diakibatkan karena kelebihan ekskresi asam urat, urin yang bersifat asam, dan urin yang terlampau jenuh sehingga terbentuknya kristal asam urat dengan kalsium oksalat ataupun kristal kalsium oksalat murni. Kristal asam urat biasanya kecil, bulat, dan radiolusen. Kristal urat yang mengandung kalsium biasanya radiopak.

Penyakit pirai juga menyebabkan nefropati. Dua tipe nefropati yaitu nefropati asam urat akut dan kronis. Pada nefropati akut, terjadi gagal ginjal karena penyumbatan aliran urin pada tubulus pengumpul atau uteter. Nefropati akut disebabkan karena penimbunan asam urat dalam jangka waktu yang panjang pada parenkim ginjal. Kondisi patofisiologis paling awal ialah proteinuria, kemudian dilanjutkan dengan hipertensi dan nefrosklerosis. Nefropati kronis biasa terjadi akibat terjadinya penyakit hipertensi, diabetes melitus, dan aterosklerosis.

Timbunan asam urat atau disebut tofi merupakan tahap lanjut dari hiperurisemia, penimbunan ini umum terjadi pada dasar ibu jari kaki, heliks dari telinga, olecranon bursae, tendon asiles, lutut, pergelangan tangan, dan telapak tangan. Kemungkinan juga ditemukan pada bahu, pinggul, dan spinal. Tofi dapat membahayakan bagi jaringan disekitarnya dan menyebabkan kerusakan sendi dan nyeri.

II. 3 Pengobatan

Pengobatan asam urat dapat dilakukan secara non farmakologis maupun farmakologis. Pengobatan non farmakologis yang biasa dilakukan adalah dengan diet makanan yang mengandung purin tinggi, alkohol serta menghindari obesitas.

Pengobatan farmakologis yang dilakukan biasanya dengan AINS untuk mengurangi gejala nyeri terutama pada artritis. Obat AINS yang digunakan biasanya indometasin selain itu dapat digunakan naproxen, fenoprofen, ibuprofen, dan piroksikam. Untuk pasien yang kontraindikasi dengan obat AINS dapat diberikan Colchicine. Pemberian secara oral menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, oleh sebab itu penggunaannya lebih baik secara intravena. Apabila kedua jenis obat tersebut tidak memberikan respon yang baik, terapi dilanjutkan menggunakan kortikosteroid seperti prednison, triamsinolon, serta dapat digunakan adenokortikotropik hormon.

Obat-obatan urikosurik seperti probenesid dan sulfinpirazon dapat meningkatkan klirens asam urat dengan menghambat reabsorbsi asam urat di tubulus. Terapi ini harus menggunakan dosis yang bertahap untuk menghindari adanya pembentukkan batu urat. Dapat pula disertai dengan pengaturan pengeluaran urin dan penggunaan zat pengalkalis seperti natrium bikarbonat untuk mencegah pembentukkan batu urat. Perlu diwaspadai adanya efek samping iritasi saluran pencernaan, kemerahan, dan reaksi hipersensitivitas.

Golongan obat lainnya ialah obat yang menghambat aktivitas xantin oksidase. Obat yang termasuk golongan ini adalah alupurinol dan metabolitnya oksipurinol, menghambat enzim untuk mengkonversi hipoxantin menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat. Alupurinol juga menurunkan konsentrasi PRPP. Metabolit alupurinol bekerja lambat sehingga pemberiannya sekali dalam sehari. Merupakan obat pilihan bagi orang yang memiliki sejarah adanya batu urat atau adanya gangguan fungsi renal, kelainan mieloproliferatif dan limfoproliferatif. Efek samping yang perlu diwaspadai adalah kemerahan pada kulit, leukopenia, toksis saluran cerna, dan peningkatan serangan artritis. Gejala hipersensitivitasnya menyebabkan demam, eusinofilia, dermatitis, vaskulitis,  dan disfungsi hati serta ginjal.

Secara tradisional penyakit ini juga diobati dengan tanaman-tanaman obat seperti herba dari Sambiloto (Adrographis panniculata) tanaman ini rasanya pahit, namun tanaman ini dikenal sebagai antiradang, penghilang nyeri atau analgetik, dan juga penawar racun. Sidaguri (Sida rhombifolia) merupakan tananman yang memiliki rasa manis, sedikit panas dan sejuk. Dalam pengobatan, sidaguri digunakan sebagai antiradang, peluruh kencing dan penghilang rasa sakit. Bagian tanaman yang digunakan adalah akarnya. Daun salam (Eugenia polyanta) rasanya kelat dan bersifat astringent. Senyawa-senyawa seperti minyak atsiri, tannin dan flavonoid banyak terdapat dalam daunnya. Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai diuretik yang berkhasiat sebagai penghancur batu saluran kencing. Rasanya manis sedikit pahit, garam kalium dalam tanaman ini memang berkhasiat melarutkan batu ginjal, karenanya banyak digunakan sebagai obat penghancur batu. Kandungan sinsetinnya bersifat sebagai antibakteri, dan tanaman ini juga mengandung senyawa orthosiphonin glikosida. Sifat diuretik tanaman ini berguna untuk membantu tubuh membuang kelebihan asam urat lewat urin. Meniran (Phyllanthus niruri) dikenal dapat membersihkan hati, sebagai antiradang, pereda demam, peluruh kencing, peluruh dahak, peluruh haid, menjernihkan penglihatan, serta menambah nafsu makan. Serta anting-anting (Acalypha indica) berkhasiat sebagai antiradang, antibiotik, peluruh kencing, pencahar dan penghenti perdarahan. Umumnya orang menggunakan bagian akarnya untuk menangani penyakit asam urat.

BAB III

PENGOBATAN HERBAL

Pengobatan penyakit pirai selain dengan pengobatan dengan obat-obat sintetik, juga dapat dilakukan dengan pengobatan herbal. Orang Indonesia telah mengenal beberapa herba yang dapat dijadikan obat untuk penyakit pirai di antaranya akar sidaguri, biji mahoni, mahkota dewa, sambiloto, kumis kucing, daun salam, mengkudu, meniran, adas, dan anting-anting. Sifat farmakologis yang diharapkan dari herba tersebut ialah sebagai diuretik untuk membantu pembuangan asam urat berlebih dalam tubuh dan antiinflamasi untuk mengurangi pembengkakan akibat penimbunan kristal urat dalam bagian tubuh tertentu.

III. 1 Adas

Gambar 3.1 Foeniculum vulgare

Deskripsi Tanaman

Herba hijau yang tumbuh hingga mencapai tinggi 2,5 meter dengan batang yang berongga. Panjang daunnya mencapai 40 cm. Bunga dihasilkan pada ujungnya memiliki panjang 3-12 mm dan lebar 2-4 mm. Merikarp berwarna hijau kekuningan hingga kuning kecoklatan. Biasanya bagian merikarp saling berhubungan satu sama lain. Buahnya merupakan biji kering.

Penyebaran/Distribusi

Mediterania, Eropa, Asia, sebagian Afrika dan Amerika Selatan. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1800 m dari permukaan laut.

Nama daerah

Das pedas (Aceh), Adeh (Minangkabau), Adas pedas (Melayu), Hades (Sunda), Adas (Jawa), Popaqas (Manado), Adasa (Makassar).

Deskripsi simplisia

Bagian yang digunakan buahnya. Bau dan rasanya aromatik dan pedas.

Kandungan kimia

Kandungan alami: 2-6% minyak atsiri, 50-70% trans-anetol, fentol, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilkavikol, asetaldehid, asam anisat, anisaldehid, estragol, minyak lemak, Fenchone (12-33%) Estragole (2-5%) dan beberapa hidrokarbon terpenoid, termasuk α-pinen, α-felandren, dan limonen.

Sifat Kimiawi dan Efek Farmakologis

Rasanya pedas manis, berbau hangat, dan berbau aromatik. Mempunyai efek menghilangkan dingin, mengurangi nyeri dan bersifat anti radang. Sebagai ekspektoran serta karminatif.

Isolasi

Bunga kering F. vulgare (350 g) diekstraksi dengan 95% etanol (5 L) untuk menghasilkan residu kering(68 g). 50 g residu disuspensi dengan air (250 mL) dan dipartisi dengan petroleum eter (7,4 g), kloroform (2 g), etil asetat (4 g) and n-butanol (4 g).

Ekstrak etil asetat dikromatografi dengan 40 g Silika Gel H di Vacuum Liquid Chromatography Column (VLC) (13 x 4 cm). Elusi dengan menggunakan kloroform dan tingkatkan polaritas dengan 5% etil asetat, lakukan elusi bertahap sampai 100% etil asetat (40×100 mL) dan kemudian polaritas ditingkatkan kembali dengan 5% metanol bertahap  hingga 75% etil asetat-25% metanol (15 x 100 mL).

Fraksi 16 dan 17 (99 mg) digabungkan dan dimurnikan di kolom Sephadex LH-20 (40 x 2 cm) menggunakan metanol sebagai eluen untuk memberikan senyawa 1 (43 mg).

Fraksi 28-30 (110 mg) dan Fraksi 35 dan 36 (100 mg) diperlakukan secara terpisah seperti yang dijelaskan dari 1 untuk menghasilkan masing-masing 2 (18 mg) dan 4 (12 mg).

  1. Fraksi 39 dan 40 (523 mg) yang disaring pada kolom Sephadex LH-20 (40 x 2 cm) menggunakan metanol sebagai eluen dan kemudian dikromatografi di 25 g Si gel kolom (25 x 1,5 cm) di elusi dengan 4:1 kloroform / metanol untuk memberikan 5 (25 mg).
  2. Fraksi 41-48 (590 mg) disaring di Sephadex LH-20 kolom (40 x 2 cm) dan kemudian dimurnikan dengan menggunakan pelarut TLC preparative (sebuah sistem untuk menghasilkan 6 (8 mg).
  3. Pecahan 52-55 (90 mg), dimurnikan pada kolom sephadex (40 x 2 cm) untuk menghasilkan senyawa 7 (36 mg).
  4. Daun (600 g) dan buah (400 g) F. vulgare, serta bunga (250 g) dan buah (700 g)
    Daun F. vulgare menghasilkan 8 mg senyawa 3 yang ada hanya dalam daun, 9 mg senyawa 5, dan 15 mg senyawa 7. Buah F. vulgare hanya menghasilkan 6 mg senyawa 7.
  5. Kaempferol-3-O-α-L-(2 “, 3″-E-di-p-coumaroyl)-rhamnoside (1). Bubuk amorf kuning (43 mg). Hidrolisis senyawa yang terisolasi Beberapa mg glikosida yang direflux dengan 10% HCl dalam 50% methanol selama 3 jam. Fraksi aglikon dan gula diidentifikasi dengan kromatografi dibandingkan dengan sampel otentik.

Gambar 3.2. Struktur kimia senyawa dalam Adas

Kegunaan

Secara tradisional digunakan untuk rematik arthritis (yang disebabkan oleh asam urat/gout), pegal linu, sakit pinggang, batuk, gangguan saluran pencernaan, dan masuk angin. Cara pemakaian dengan merebus atau menyeduh 3-10 g adas dengan air panas dan diminum selagi hangat.

Farmakologi in vitro, in vivo

Minyak esensial dan anethole, diuji di aorta tikus dengan atau tanpa endotelium, ditampilkan sebanding vasorelaxant independen NO-aktivitas pada konsentrasi antiplatelet yang telah terbukti untuk bebas dari efek sitotoksik in vitro. In vivo, anetol F. vulgare minyak esensial dan secara lisan diberikan dalam pengobatan subakut tikus (30 mg kg (-1) hari (-1) selama 5 hari) menunjukkan aktivitas antitrombotik signifikan mencegah kelumpuhan disebabkan oleh kolagen-epinefrin injeksi intravena (70% dan 83% perlindungan, masing-masing). Pada dosis antithrombotic mereka bebas dari efek samping prohemorrhagic berbeda dengan referensi asam salisilat digunakan sebagai obat. Selanjutnya, kedua F. vulgare minyak esensial dan anetol (100 mg kg (-1) oral) memberikan perlindungan terhadap etanol yang signifikan akibat lesi lambung pada tikus. Sebagai kesimpulan, hasil ini menunjukkan untuk F. vulgare minyak esensial, dan komponen utamanya anetol, sebuah kegiatan yang aman tampaknya antitrombotik karena mereka aktivitas antiplatelet spektrum luas, gumpalan efek destabilisasi dan vasorelaksasi. (2)

Efek samping

Reaksi alergi asupan berikut Adas sangat jarang diamati. Sensitivitas silang antara pasien dengan alergi seledri tampaknya mungkin. Infusa adas tidak boleh diberikan selama kehamilan dan anak-anak.

III. 2 Anting-anting

Gambar 3.3. Anting-anting

Familia : Euphorbiaceae

Deskripsi Tanaman

Herba Semusim, tegak, dan berambut. Batang tinggi 30 – 50 cm, bercabang dengan garis memanjang kasar. Tumbuh di pinggir jalan, lapangan rumput, lereng gunung. Letak daun berseling bentuk bulat lonjong sampai lanset, bagian ujung dan pangkal daun lancip, tepi bergerigi, panjang 2,5 – 8 cm, lebar 1,5 – 3,5 cm. Bunga berkelamin tunggal dan berumah satu, keluar dari ketiak daun, bunganya kecil-kecil dalam rangkaian berupa malai. Buahnya kecil. Akar dari tanaman ini sangat disukai anjing dan kucing.

Penyebaran

Cukup merata di seluruh dataran rendah, terutama daerah dengan sanitasi baik dan cukup udara. Perbanyakan  tanaman dengan menggunakan biji. Tanaman ini sangat mudah dipelihara dan seperti tanaman lain juga membutuhkan air dengan penyiraman merata, perlu dijaga kelembaban  tanah dan pemupukan terutama pupuk dasar. Tanaman ini menghendaki tempat yang cukup sinar matahari dan sedikit agak terlindung.

Nama Daerah

kucing-kucingan, cakar kucing, lelatang, rumput bolong-bolong,  rumput kokosongan (Indonesia), tie xian (China)

Kandungan Kimia dan Isolasi

Alkaloid, acalphyne, dan asam gallat.

  1. Alkaloid

Sifat kimia alkaloid yang paling penting adalah kebasaannya. Metode pemurnian dan penyarian umumnya mengandalkan sifat ini, dan pendekatan khusus harus dikembangkan untuk beberapa yang tidak bersifat basa. Umumnya isolasi tanaman yang mengandung alkaloid dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Penarikan menggunakan pelarut-pelarut organik berdasarkan azas Keller. Yaitu alkaloida disekat pada pH tertentu dengan pelarut organik.

Prinsip pengerjaan dengan azas Keller yaitu alkaloida yang terdapat dalam suatu filtrat sebagai bentuk garam, dibebaskan dari ikatan garam tersebut menjadi alkaloida yang bebas. Untuk itu ditambahkan basa lain yang lebih kuat daripada basa alkaloida tadi. Alkaloida yang bebas tadi diekstraksi dengan menggunakan pelarut –pelarut organik misalnya Kloroform. Tidak dilakukan ekstraksi dengan air karena dengan air yang masuk kedalam air adalah garam alkaoida dan zat-zat pengotor yang larut dalam air, misalnya glikosida-glikosida, zat warna, zat penyamak dan sebagainya.

Yang masuk kedalam kloroform disamping alkaloida juga lemak lemak, harsa dan minyak atsiri. Maka setelah alkaloida diekstraksi dengan kloroform harus dimurnikan lagi dengan pereaksi tertentu dan diekstraksi lagi dengan kloroform. Diuapkan, lalu didapatkan sisa alkaloid baik dalam bentuk hablur maupun amorf. Ini tidak berarti bahwa alkaloida yang diperoleh dalam bentuk murni, alkaloida yang telah diekstaksi akan ditentukan lagi dengan reaksi selanjutnya. Penentuan untuk tiap alkaloida berbeda untuk tiap jenisnya. Misalnya pada gambar di bawah ini adalah ekstraksi dan isolasi alkaloid dari jamur tiram putih. Ini hanyalah contoh yang sesuai teori sebelumnya, namun demikian penulis belum mendapatkan isolasi alkaloid dari tanaman anting-anting.

Gambar 3.4 Skema Ekstraksi

  1. Pemurnian alkaloida dapat dilakukan dengan cara modern yaitu dengan pertukaran ion.
  2. Menyekat melalui kolom kromatografi dengan kromatografi partisi.

Cara kedua dan ketiga merupakan cara yang paling umum dan cocok untuk memisahkan campuran alkaloid. Tata kerja untuk mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid yang terdapat dalam bahan tumbuhan yang jumlahnya dalam skala milligram. Dengan menggunakan gabungan kromatografi kolom memakai alumina dan kromatografi kertas.

  1. Acalphyne

Untuk isolasi acalphyne, penulis belum mendapatkan sumber yang relevan dan di sini tidak penulis cantumkan.

  1. Asam Gallat

Isolasi asam gallat dilakukan seperti prosedur pada isolasi asam fenolat dengan ekstraksi bersambung. Hal ini dikarenakan pada asam fenolat kadang terkandung juga asam gallat. Dari studi literarur penulis juga belum memperoleh isolasi dari asam gallat, untuk itu penulis cantumkan isolasi asam fenolat yang secara prinsip tidak jauh berbeda,

Gambar 3.5. Skema Isolasi Asam Galat

Kegunaan

Untuk menurunkan asam urat, rematik sendi, disentri, diare, dan muntah darah. Bagian tanaman yang digunakan yaitu seluruh tanaman baik segar maupun kering beserta akarnya. Cara penggunaannya 10-15 gram herba kering atau 30-60 gram herba segar direbus, kemudian minum airnya.

Untuk pemakaian luar herba segar dilumatkan, tempel atau direbus, airnya untuk cuci. Dipakai untuk bisul, koreng, luka berdarah, eczema, dermatitis, gigitan ular. Adapun cara pemakaiannya sebagai berikut.

Dermatitis, eczema, koreng:  herba segar secukupnya direbus, airnya untuk cuci di tempat yang sakit. Perdarahan, luka luar: herba segar ditambah gula pasir secukupnya, dilumatkan dan  ditempel ke tempat yang sakit. Disentri amoeba: 30 – 60 gram tanaman kering (seluruh batang) direbus, sehari dibagi 2 kali minum, selama 5 – 10 hari. Diare, disentri basiler, muntah darah, mimisan, buang air besar disertai darah (melena), batuk : herba kering 30 – 60 gram direbus, minum. Disentri basilerAcalypha australis 30 – 60 gram, Portulaca oleracea (Gelang) dan gula masing-masing 30 gram rebus, minum setelah dingin.

Kontra Indikasi : belum diketahui

Efek Samping : belum diketahui

III. 3 Alang-alang

Gambar Alang-alang

Deskripsi Tanaman

Alang Alang (Imperata cylindrica (L.)Beauv.)
Sinonim : Lagurus cylindricus L. , Imperata arundinacea Cirillo.
Familia :  Poaceae

Perawakan: herba, rumput, merayap, tinggi 30-180 cm. Batang: rimpang, merayap di bawah tanah, batang tegak membentuk satu perbungaan, padat, pada bukunya berambut jarang. Daun: tunggal, pangkal saling menutup, helaian; berbentuk pita, ujung runcing tajam, tegak, kasar, berambut jarang, ukuran 12-80 cm. x 35-18 cm. Bunga: susunan majemuk bulir majemuk, agak menguncup, panjang 6-28 cm, setiap cabang memiliki 2 bulir, cabang 2,5-5 cm, tangkai bunga 1-3 mm, gluma 1; ujung bersilia, 3-6 urat, Lemma 1 (sekam); bulat telur melebar, silia pendek 1,5-2,5 mm. Lemma 2 (sekam); memanjang, runcing 0,5-2,5 mm. Palea (sekam); 0,75-2 mm. Benang sari: kepala sari 2,5-3,5 mm, putih kekuningan atau ungu. Putik: kepala putik berbentuk bulu ayam. Buah: tipe padi. Biji: berbentuk jorong, panjang 1 mm lebih. Waktu berbunga : Januari – Desember.

Penyebaran/Distribusi

Perbanyakan dengan rimpang atau akar tinggal. Tanaman ini sangat mudah tumbuh dan terdapat dimana-mana disekitar kita. Merupakan tumbuhan liar dan menjurus sebagai gulma. Tumbuh liar di pinggir jalan, di ladang dan di hutan. Tumbuhan ini termasuk terna menahun, tinggi dapat mencapai 180 cm. Batang padat, buku berambut jarang. Daun berbentuk pita, berwarna hijau, permukaan daun kasar. Perbungaan berupa bulir, warna putih, bunga yang terletak di bagian atas adalah bunga sempurna dan yang terletak di bawah adalah bunga mandul. Bunga mudah diterbangkan oleh angin.

Di Jawa tumbuh pada ketinggian sampai dengan 2700 m dpl, pada daerah-daerah terbuka atau setengah tertutup; rawa-rawa; pada tanah dengan aerasi yang baik; pada daerah-daerah yang habis dibuka; di tepi sungai; ekstensif pada hutan sekunder; daerah bekas terbakar; sebagai gulma di perladangan; taman dan perkebunan. Tumbuhan ini dapat mempengaruhi tanaman kultivasi lain, karena kebutuhan natrium yang relatif tinggi. Perbanyakan: berkembang biak dengan sendirinya. Setiap saat rimpang dipanen dari tumbuhan yang telah matang. Rimpang yang baik berwarna pucat, berasa manis dan sejuk. Alang-alang dapat menuyebabkan penurunan pH tanah. Besarnya penurunan pH dan hambatan terhadap proses nitrifikasi menunjukkan adanya korelasi positif dengan pertumbuhan alang-alang.

Nama Daerah

Naleueng lakoe (Aceh); Jih (Gayo); Rih, Ri (Batak); Oo (Nias); Alalang, Hilalang, Ilalang (Minang kabau); Lioh (Lampung); Halalang, Tingen, Padang, Tingan, Puang, Buhang, Belalang, Bolalang (Dayak); Eurih (Sunda); Alang-alang kambengan (Jawa); Kebut, Lalang (Madura); Ambengan, Lalang (BaIi); Kii, Rii (FIores); Padengo, Padanga (Gorontalo); Deya (Bugis); Erer, Muis, Wen (Seram); Weli, Welia, Wed (Ambon).

Nama Asing

Cogon grass, satintail (En). Paillotte (Fr). Malaysia: lalang, alang-alang. Papua New Guinea: kunai (Pidgin), kurukuru (Barakau, Central Province). Philippines: kogon (Tagalog), gogon (Bikol), bulum (Ifugao). Burma (Myanmar): kyet-mei. Cambodia: sbö’:w. Laos: hnha:z kh’a:. Thailand: ya-kha, laa laeng, koe hee (Karen, Mae Hong Son). Vietnam: c [or] tranh.

Nama Simplisia

Gambar Simplisia Alang-Alang

Imperatae Rhizoma; rimpang alang-alang.

Bagian yang digunakan untuk pengobatan hanya rimpangnya.

Kandungan kimia

Akar: metabolit yang telah ditemukan pada akar alang-alang terdiri dari arundoin, fernenol, isoarborinol, silindrin, simiarenol, kampesterol, stigmasterol, ß-sitosterol, skopoletin, skopolin, p-hidroksibenzaladehida, katekol, asam klorogenat, asam isoklorogenat, asam p-kumarat, asam neoklorogenat, asam asetat, asam oksalat, asam d-malat, asam sitrat, potassium (0,75% dari berat kering), sejumlah besar kalsium dan 5-hidroksitriptamin. Dari hasil penelitian lain terhadap akar dan daun ditemukan 5 macam turunan flavonoid yaitu turunan 3′,4′,7-trihidroksi flavon, 2′,3′-dihidroksi kalkon dan 6-hidroksi flavanol. Suatu turunan flavonoid yang kemungkinan termasuk golongan flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon atau isoflavon terdapat pada fraksi ekstrak yang larut dalam etilasetat akar alang-alang. Pada fraksi ekstrak yang larut dalam air akar alang-alang ditemukan golongan senyawa flavon tanpa gugus OH bebas, flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon, atau isoflavon.

Isolasi, struktur kimia

Berdasarkan studi literatur, akar tumbuhan ini memiliki banyak aktivitas biologis. Senyawa fenolik seperti flavonoid, oligostilbenoid, asam fenolat dan sebagainya banyak menunjukkan aktivitas sebagai antioksidan. Isolasi senyawa flavonoid dalam akar4 ini dilakukan menggunakan metode maserasi dengan metanol pada suhu kamar, kemudian dipartisi berturut-turut dengan n-heksana dan etil asetat. Selanjutnya dilakukan pemisahan ekstrak etil asetat menggunakan metode kromatografi kolom gravitasi sampai diperoleh senyawa satu noda. Senyawa murni hasil isolasi berupa serbuk berwarna kuning. Penentuan struktur molekul senyawa hasil isolasi dilakukan berdasarkan spektroskopi 1H-NMR dan 13C-NMR. Hasil analisis spektrum menunjukkan senyawa hasil isolasi termasuk golongan flavonoid yang memiliki nama 7,3’,5’-trimetoksiflavonol. Uji aktivitas antioksidan dilakukan pada ekstrak etil asetat menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Dari hasil perhitungan diketahui bahwa ekstrak etil asetat akar alang-alang menunjukan aktivitas sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 212,21 ppm.

Kegunaan

Tradisional

Rimpang dapat digunakan sebagai pelembut kulit; peluruh air seni, pembersih darah, penambah nafsu makan, penghenti perdarahan. di samping itu dapat digunakan pula dalam upaya pengobatan penyakit kelamin (kencing nanah, kencing darah, raja singa), penyakit ginjal, luka, demam, tekanan darah tinggi dan penyakit syaraf. Semua bagian tumbuhan digunakan sebagai pakan hewan,bahan kertas,dan untuk pengobatan kurap.

Obat Diare

250 gram akar alang-alang dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air selama seperempat jam. Diminum segera setelah buang air besar. Sekali minum 1 gelas.

Hepatitis dan Mimisan

200 gram akar alang-alang dicuci bersih lalu di rebus dengan 6 gelas air sampai airnya tinggal sekitar 2 gelas. Setelah dingin,disaring dan diminum. Ramuan ini untuk diminum 3x sehari. Cara ini juga bisa untuk mengobati gangguan pada prostat.

Akan tetapi kalau untuk gangguan prostat, dosis akar alang-alangnya lebih banyak,yakni 500 gram.

Obat Kencing Batu

100 gram akar alang-alang, setengah genggam daun meniran, setengah genggam daun kumis kucing dan 10 helai daun kecubung direbus jadi satu dengan 5 gelas air sampai airnya tersisa setengah. Setelah dingin,disaring dan diminum 3x sehari masing-masing 1 gelas, sampai batu keluar.

Melancarkan Air Seni

250 gram akar alang-alang,sedikit gula batu direbus dengan 3 gelas air selama 10 menit. Setelah dingin,disaring dan diminum 3x sehari masing-masing 1 gelas.

Hipertensi Akibat Sakit Ginjal

200 gram akar alang-alang,sedikit tangkue (manisan yang dibuat dari labu putih) direbus dengan 2 gelas air hingga airnya tinggal setengah. Setelah dingin,disaring. Ramuan ini untuk diminum 2x sehari.

Selain yang tersebut diatas, alang-alang juga berkhasiat untuk menambah kekuatan pada kaki. Resep ini cocok untuk yang hobi mendaki gunung. Caranya,cabut pohon alang-alang yang masih segar,lalu ikatkan pada kedua kaki. Insya Allah rasa capek dan pegal linu di kaki akan sirna.

Di Kabupaten Pekalongan ada minuman khas yang berkhasiat untuk menghilangkan rasa capek dan pegal linu. Masyarakat Kota maupun Kabupaten Pekalongan yang mayoritas sehari-harinya bekerja di perbatikan memang banyak mengeluarkan tenaga. Sehingga untuk menunjang stamina aktifitas sehari-hari mereka banyak yang memanfaatkan khasiat dari “Wedang Alang-Alang”.

Warung-warung wedang alang-alangpun banyak bertebaran di Pekalongan, khususnya di Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Warung wedang alang-alang menyajikan minuman yang bahannya terdiri dari akar alang-alang, jahe, kamijoro (sereh) dan pemanis dari gula aren maupun gula kelapa.

Sehingga saking populernya minuman penghangat tubuh ini seakan menjadi ikon Kabupaten Pekalongan.

Efek Biologi dan Farmakologi

Infusa rimpang alang-alang berefek sebagai diuretika, atas dasar peningkatan konsentrasi elektrolit (Na,K,Cl) urin tikus putih jantan. Pemberian infusa akar alang-alang dengan dosis 40, 50, 60, 70 g/kgBB berefek antipiretik pada marmot. Infusa bunga alang-alang pada konsentrasi 10% dengan dosis 12 ml/ kgBB berefek antipiretik yang relatif sama dengan suspensi parasetamol 10% pada merpati.

Uji Klinik: Dekokta akar alang-alang dengan dosis 250-300 g, 2 kali pagi dan sore dapat menyembuhkan 27 kasus dari 30 penderita nefritis akut. Pada nefritis kronis, herba alang-alang dapat mengurangi edema dan menurunkan tekanan darah. Dekokta herba 250 g dalam bentuk tunggal maupun dikombinasikan dengan rimpang dan daun Nelumbo nucifera dan daun Agrimonia pilosa dapat mengobati epistaksis (mimisan), hemoptisis (batuk darah), hematuri (kencing darah), menorrhagia, dan perdarahan gastrointestinal bagian atas. Di samping itu dilaporkan juga bahwa dekokta akar alang-alang dapat efektif untuk pengobatan hepatitis viral akut pada 28 kasus; biasanya digunakan bersama-sama dengan Plantago asiatica, Glechoma longituba dan tunas Artemisia capillaris.

Toksisitas

Pada pemakaian sesuai aturan, praktis tidak toksik.

Efek yang tidak diinginkan

Pusing, mual, peningkatan rasa ingin buang air besar, kadang-kadang terjadi pada penggunaan klinik.

Teknologi Farmasi

Selulosa daun alang-alang mempunyai daya serap terhadap air yang relatif cukup baik dalam pembuatan tablet secara cetak langsung.

III. 4    Daun Dewa (Gynura pseudochina (Lour))

a. Deskripsi Tanaman

Sinonim         :Gynura divaricata DC, Gynura ovalis DC, Senecio divaringata L

Cina: Samsit atau tansit (Coan tin sit)

Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Sub Kelas : Sympetalae

Bangsa : Asterales/Campanulatae

Suku : Asteraceae/Compositae

Marga : Gynura

Jenis : Gynura pseudochina (L) DC

Deskripsi tanaman

Tanaman daun dewa digolongkan sebagai herba, daun berhadapan kadang ada yang tersebar, daun tunggal tanpa daun penumpu. Bunga dalam bongkol kecil, bunga berwarna orange kecoklatan. Mahkota bunga berdaun lepas berbentuk lidah. Bakal buah tenggelam dengan satu bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu, kebanyakan dengan dua kepala putik. Biji tumbuh menyatu dengan kulit buah

Ekologi dan Penyebaran

Daun dewa mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada ketinggian sekitar 200-800 m di atas permukaan laut. Tanaman daun dewa sangat ideal dibudidayakan di daerah dengan curah hujan kurang lebih 1500-2500 mm/tahun dengan suhu udara 25-32o C. Kelembaban yang dibutuhkan tanaman ini berkisar 70-90% dengan penyinaran agak tinggi. Tanah yang ideal sebagai tempat budidaya daun dewa adalah tanah yang gembur, subur, cukup bahan organik dan unsur hara lainnya, drainase dan aerasi cukup baik, serta pengairan yang baik

b. Kandungan Kimia

Isolasi

Simplisia berupa serbuk kering dengan derajat kehalusan tertentu tersebut diekstraksi secara sinambung dan bertingkat menggunakan pelarut eter minyak bumi dan etanol 95%. Skrining fitokimia dilakukan terhadap serbuk, ekstrak eter minyak bumi dan ekstrak etanol 95%. Ekstrak etanol 95% pekat, dilarutkan dalam air panas kemudian disaring. Jenis senyawa golongan flavonoid dalam ekstrak etanol selanjutnya dipisahkan ke dalam fraksi-fraksi dengan cara ekstraksi pengocokan cair-cair menggunakan pelarut eter, etil asetat dan n-butanol. Selanjutnya setiap fraksi dianalisis dan pemisahan secara kromatografi kertas preparatif. Sistem pengembang yang digunakan adalah BAW [n-butanol –asam asetat-air (4:1:5)], asam asetat 2%. Penampak bercak yang digunakan adalah larutan aluminium klorida 1%, uap amonia dan lampu sinar ultraviolet. Sedangkan identifikasi isolat dilakukan dengan cara spektroskopi ultraviolet menggunakan pereaksi spesifik untuk golongan flavonoid seperti natrium hidroksida, natrium asetat, aluminium (III) klorida, asam klorida dan asam borat.
Dari fraksi etil asetat dapat dipisahkan tiga bercak biru dan kuning setelah disemprot dengan larutan aluminium (III) klorida 1%, dan sistem pengembang asam asetat 1%. Dari fraksi n-butanol dapat dipisahkan tiga pita, yang kemudian diisolasi. Isolat murni dihidrolisis asal sebelum dikarakterisasi lebih lanjut

Kandungan Kimia

Hasil skrining fitokimia, dalam serbuk dan ekstrak etanol 95% dapat diketahui adanya golongan flavonoid, tanin galat, steroid dan triterpenoid, sedangkan pada ekstrak eter minyak bumi hanya diketahui adanya steroid dan triterpenoid

Dari ekstrak etil asetat dapat dipisahkan beberapa senyawa yang diduga:
3’,4’-dihidroksi flavon;  4’-hidroksi flavonol yang tersubstitusi pada hidroksil posisi 4’3’,4’- dihidroksi flavonol yang tersubstitusi pada hidroksil posisi 3. Dari ekstrak n-butanol diduga ada 3,7-dihidroksi flavon atau 7-hidroksi flavonol

c. Kegunaan

Tradisional

-                 1. Luka terpukul, tidak datang haid. Tanaman segar 15-30 gram direbus atau ditumbuk, di ambil airnya, minum.

-                 2.  Pendarahan pada wanita, pembengkalan payudara, batuk dan muntah darah. Seluruh tanaman (1 batang) direbus, minum.

-                 3.  Kejang pada anak. Satu batang diambil airnya, minum.

-                 4.  Luka terpukul, masuk angin. Umbi segar, 6-9 gram ditambah air, kemudian dipanaskan.

-                 5.  Digigit ular, digigit binatang berbisa lain. Umbi dilumatkan kemudian ditampalkan ke tempat bekas gigitan.

-                 6.  Kutil.  5 helai daun dewa dihaluskan dan dilumurkan pada tempat berkutil, kemudian dibalut. Dibuka keesokan harinya.

-                 7.  Tumor. Daun dewa 3-4 lembar di buat ulam.

-                 8.  Menghilangkan bekuan darah di pembuluh darah sehingga mencegah dan mengubati stroke dan serangan jantung. Umbi daun dewa segar dalam 10gram ditumbuk halus, tambahkan air setengah gelas, ditapis, diperah, minum, setiap petang. Atau daun 2-4 lembar untuk ulaman (tiga kali sehari).

-                 9.  Batu kandung kemih. 15 gr daun dewa ditumbuk halus, tambahkan air segelas, saring, peras, minum tiga kali sehari.

Farmakologi

-                 1). Infusa 20% daun dewa (Gynura segetum (Lour.) Merr.) memiliki efek analgesik setara dengan metampiron (Putri, 2007).

-                 2). Ekstrak etanol daun dewa (Gynura pseudochina (L) DC) dosis 175,5 mg/kgBB mempunyai aktivitas sebagai antitrombosis (Eva dkk., 2005).

-                 3). Ekstrak etanol daun dewa (Gynura pseudochina (L) DC) dosis 150 mg/kgBB dapat memperbaiki kadar kolesterol tikus hiperkolesterolemia (Abdullah, 2005).

-                 4). Ekstrak etanol daun dewa (Gynura procumbens (Lour) Merr) hasil soxhletasi dosis 53,33 mg/kgBB mempunyai aktivitas menurunkan kadar asam urat ayam jantan leghorn hiperurisemia (Silaban, 2005).

Farmakologi In Vitro

Berdasarkan skripsi yang berjudul Efek ekstrak etanol daun dewa (gynura pseudochina (l) dc) terhadap penurunan kadar asam urat mencit putih jantan yang diinduksi dengan Potassium oxonate dosis 250 mg/kgBB. (reagen untuk inhibitor urikase dengan memberikan efek hiperurisemia) didapatkan bahwa daun Dewa mengandung flavonoid yang bersifat antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga pembentukan asam urat terhambat (Sulaksana, 2004).

Potassium oxonate merupakan garam potassium atau kalium dan asam oxonat. Potassium oxonate mempunyai berat molekul 195,17 dengan rumus molekul C4H2KN3O4. Kelarutan potassium oxonate dalam air adalah 5 mg/ml. Potassium oxonate bersifat teratogen, karsinogen dan mutagen.

Gambar.  Struktur Potassium Oxonate

Potassium oxonate merupakan reagen untuk inhibitor urikase dengan memberikan efek hiperurisemia. Mekanisme potassium oxonate dalam pembentukan allantoin dapat dilihat pada Gambar 5.

urikase

Gambar. Mekanisme Potassium Oxonate Dalam Penghambatan Pembentukan Allantoin (Mazzali et al., 2001)

a. Posologi

Dosis

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fitria Aninda Titis, 2008 yang berjudul Efek ekstrak etanol daun dewa (gynura pseudochina (l) dc) terhadap penurunan kadar asam urat mencit putih jantan galur balb-c hiperurisemia, didapatkan hasil bahwa sediaan ekstrak etanol daun dewa dosis 0,83 g/kgBB, 1,67 g/kgBB dan 3,33 g/kgBB mempu menurunkan kadar asam urat mencit putih jantan yang diinduksi potassium oxonate. Ekstrak etanol daun dewa dosis 3,33 g/kgBB setara dengan potensi allopurinol dosis 10 mg/kgBB dalam menurunkan kadar asam urat.

Kontra indikasi

Kontra indikasi belum diketahui

Efek samping

Efek samping belum diketahui

III.5  TEMPUYUNG (Sonchus arvensis)

Deskripsi tanaman

Gambar 3.12

Nama Indonesia: tempuyung

Deskripsi simplisia
Tempuyung termasuk tumbuhan Obat Asli Indonesia dari familia Asteraceae (Aster-asteran). Ia merupakan tumbuhan herba menahun, tegak, mengandung getah, dan mempunyai akar tunggang yang kuat.

Penyebaran/distribusi Tumbuhan ini hidup liar di Jawa, di daerah yang banyak hujan pada ketinggian 50 – 1.650 m dpl. Tumbuh di tempat terbuka atau sedikit terlindung di tempat yang bertebing, di pematang, di pinggir saluran air

Kandungan kimia yang terdapat di dalam daun tempuyung adalah ion-ion mineral antara lain, silika, kalium, magnesium, natrium, dan senyawa organik macam flavonoid (kaempferol, luteolin-7-O-glukosida dan apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skepoletin), taraksasterol, inositol, serta asam fenolat (sinamat, kumarat dan vanilat). Dilaporkan, kandungan flavonoid total di dalam daun tempuyung 0,1044 %. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui akar tempuyung mengandung senyawa flavonid total kira-kira 0,5 % dan flavonoid yang terbesar adalah apigenin-7-O-glukosida. Menurut Paul Cos, flavonoid apigenin-7-O-glukosida adalah salah satu golongan flavonoid yang mempunyai potensi cukup baik untuk menghambat kerja enzim ksantin oksidase dan superoksidase.

struktur kimia

inositol                                                             Kumarin

kaempferol

Gambar 3.13 Struktur kimia senyawa dalam Tempuyung

Ekstraksi dan isolasi

Kegunaan

Tradisional: Daun tempuyung di Indonesia digunakan sebagai obat untuk “menghancurkan” batu ginjal (Dr. Sardjito). Kelarutan batu ginjal oleh tempuyung diduga melalui efek diuretiknya. Selain itu, tempuyung juga digunakan sebagai obat memar akibat benturan dengan cara menempelkannya pada bagian yang bengkak, menghilangkan rasa lesu, dan rasa pegal-pegal (Rusdeyti, 1985). Di Cina daun tempuyung digunakan sebagai obat dan insektisida.

Farmakologi in vitro, in vivo :

.Uji pra klinis efek diuretikum tempuyung, pada percobaan in vivo, infus tempuyung menunjukkan efek menghambat batu kandung kemih buatan pada tikus, infus tempuyung juga menunjukkan efek melarutkan kalsium oksalat, kolesterol, dan asam urat batu ginjal secara in vitro. Diduga mekanisme pelarutan batu ginjal disebabkan oleh pembentukan komplek antara flavonoid dengan kalsium yang menyusun batu ginjal.

Pemanfaatan tumpuyung untuk pengobatan kelebihan asam urat asam dan batu ginjal memerlukan daun tempuyung (6,25 gr), akar tempuyung (6,25 gr), jahe merah (25,00 gr), cengkeh (0,25 gr), kulit manis (0,25 gr), pengawet Na.Benzoat (0,50 gr), dan gula merah secukupnya. Cara pembuatannya, daun dan akar tempuyung segar dibersihkan dari tanah atau kotoran. Kedua bahan tsb. direbus dengan air 500 ml bersama bahan-bahan lainnya, biarkan mendidih sampai volume menjadi 250 ml. Setelah dingin baru ditambahkan pengawet Na.Benzoat, lalu disaring dengan saringan teh atau kain kassa kedalam botol. Apabila disimpan dalam lemari pendingin, obat alami ini bisa tahan selama 6 bulan.

Bagi penderita kelebihan asam urat dan batu ginjal, obat ini diminum 2x sehari, pagi dan malam hari, masing-masing 20 ml. Sedangkan untuk pencegahan cukup 1x sehari. Dianjurkan untuk meminum air yang banyak. Untuk penderita, penyembuhannya memerlukan waktu lebih kurang 1 bulan dan bagi penderita yang telah lama, memerlukan waktu agak lama.

Kontra indikasi:  Penderita kegagalan fungsi ginjal yang parah (akut) dilarang meminum ramuan ini.

BAB IV

POSOLOGI

IV. 1 Posologi

  • 10 lembar daun salam direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
  • 10 gram sambiloto kering + 20 gram kunyit + 15 lembar daun salam, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari
  • 30 gram daun kumis kucing kering atau 60 gram yang segar + 60 gram akar alang-alang + 15 gram ceplukan kering atau 30 gram yang segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum.
  • 30 gram temu lawak + 30 gram jahe merah + 2 buah mengkudu + 2 batang sereh, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum.
  • 30 gram akar sidaguri kering + 30 gram anting-anting beserta akarnya, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum setelah dingin.

Catatan: Untuk perebusan, gunakan periuk tanah, panci enamel atau panci pyrex.
Lakukan diet rendah purin.

IV. 2 Contoh Eksisting Produk

  1. 1.

    Masataru kapsul

(Ijin POM TR : 033 323 681)

  • Komposisi :

-          Mori Folium

-          Plantaginis Folium

-          Orthosiphonis Folium

  • Manfaat : Menyembuhkan asam urat. Berkhasiat untuk masalah kelebihan sisa-sisa asam metabolisme (Asam Urat), mengurangi rasa ngilu, peluruh keringat dan pembersih darah.
  • Isi : 50 kapsul, @ 500 mg
  1. 2.

    Rematik & Asam Urat kapsul

  • Komposisi:

-          Phaleria macrocarpa

-          Tridax procumbens

-          Pluchea indica

  • Aturan Pakai:

-          3×3 kapsul untuk penyembuhan

-          3×1 kapsul untuk menjaga kesehatan.

  • Manfaat: Menghilangkan rasa nyeri rematik pada tulang dan pinggang, menurunkan kadar asam urat, penghilang rasa sakit, antiradang, dan antibiotik,  dan sebagai peluruh kencing, dan lain-lain
  • Isi: 60 kapsul
  1. 3.

    Samuraid

  • Komposisi:

-          Nigella sativa

-          Andrographis paniculata

-          Piper nigrum

-          Sida rhombifolia L

  • Manfaat: Membantu pengobatan asam urat, rematik (arthritis), dan encok asam urat (Arthritis Gout)
  1. 4. Obahama
  • Komposisi:

-          Habbatussauda (Nigella Sativa) 300 mg

-          Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa) 100 mg

-          Sidagori (Sida Rhombifolia) 50 mg

-          Sambiloto (Andrographis Paniculata) 50 mg

  • Manfaat: Sangat efektif membantu mengobati dan menyembuhkan penyakit rheumatik, asam urat, radang/nyeri persendian, tulang dan nyeri otot, menurunkan kolesterol, darah tinggi, stroke dan kadar gula darah/diabetes, melancarkan peredaran darah, meningkatkan immunitas dan stamina tubuh, membantu mengobati flu, pilek, batuk dan radang tenggorokan, mengobati capek, lesu, letih, lemah dan masuk angin.
  • Aturan Pakai :

-          Pengobatan : 3 x 1 – 2 Kapsul perhari

-          Selanjutnya : 2 x 1 Kapsul perhari

5. Jamu Daun Dewa

(POM TR 033 618111) Produksi : Citra Alam Indonesia

  • Komposisi :

-                 Ginurae Folium (Daun Dewa) 20%

-                 Andrographidis Herba                                    15%

-                 Curcumae Rhizoma                             15%

-                 Piumbaginis Folium                            10%

-                 Retrofracti Fructus                              10%

-                 Dan bahan-bahan lainnya

-                 Hingga                                                            100%

  • Kegunaan

-                 Asam Urat,Pegel Linu,Encok/Rheumatik,Gatal-gatal,

-                 Sesak napas/Asma

-                 Kencing Manis,Tekanan Darah Tinggi,Stroke,Masuk Angin

-                 Kaki Tangan Kesemutan,Flu Tulang,Sakit Gigi,Kolesterol Tinggi

-                 Menghentikan Pendarahan

-                 Mencairkan Bekuan Darah

-                 Menghilangkan Panas

-                 Membersihkan Racun

-                 Membersihkan Darah Kotor

-                 Melancarkan Sirkulasi Darah

Tidak Mengandung Alkohol,dapat diminum oleh Pria maupun Wanita. Tua maupun muda (kecuali wanita hamil)

BAB V

KESIMPULAN

Asam urat merupakan senyawa hasil metabolisme senyawa purin yang tidak diperlukan tubuh dan apabila kadarnya berlebihan dalam tubuh akan menimbulkan penyakit pirai. Penyakit ini memiliki banyak manifestasi klinik yang merugikan bagi penderitanya dan memberikan rasa nyeri bahkan hingga kerusakan pada organ tubuh tertentu.

Untuk itu diperlukan pengobatan yang dapat menyembuhkan atau meringankan gejala yang ditimbulkan oleh timbunan asam urat tersebut. Obat yang digunakan biasanya berupa analgesik dan kortikosteroid. Namun, obat-obatan tersebut banyak menimbulkan efek samping yang merugikan.

Kemudian banyak usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk mengembangkan pengobatan yang lebih aman yaitu melalui pengobatan yang alami yang dikenal dengan herbal. Dari beberapa tradisi yang dikenal pengobatan asam urat dapat dilakukan dengan mengkonsumsi bagian tanaman tertentu dari sambiloto, kumis kucing, anting-anting, sidaguri, daun salam, dan beberapa tanaman lainnya. Setelah dilakukan penelitian, terdapat hasil yang cukup memuaskan dari hasil isolasi senyawa dalam tanaman-tanaman tersebut, kemudian dikembangkanlah sediaan herbal yang dapat dikonsumsi dengan lebih efektif lagi dan dengan tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan obat-obatan sintetik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1970. Galenika I-II. HMF ARS-PRAEPARANDI. Bandung

DiPiro, Joseph T, dkk. 2005. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach (Sixth Edition). New York: McGraw Hill

Sri Harsodjo Wijono S. 2003. Isolasi dan identifikasi Flavonoid pada Daun Katu (Sauropus androgynus (L.) Merr), MAKARA, SAINS, VOL. 7, NO. 2, AGUSTUS

http://www.zum.de/stueber/lindman/554.jpg

www.tanaman-obat.com

http://tanamanherbal.wordpress.com/2007/12/09/anting-anting/#comments

http://www.hsc.wvu.edu/sop/compchem/mdpi/molecules/papers/70200245.pdf (An Acylated Kaempferol Glycoside from Flowers of Foeniculum vulgare and F. Dulce. Fathy M. Soliman, Afaf H. Shehata, Amal E. Khaleel dan Shahera M. Ezzat)

http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=24

http://mediasehat.com/konten3no78

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17709257 (Protective effect of Foeniculum vulgare essential oil and anethole in an experimental model of thrombosis. Tognolini M, Ballabeni V, Bertoni S, Bruni R, Impicciatore M, dan Barocelli E.)

http://www.obatherbal.web.id/

http://www.tanaman-obat.com/artikel-obat-tradisional/252-obat-tradisional-asam-urat

Robinson, Trevor. 2000. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: Penerbit ITB

Wells, Barbara G., dkk. 2006. Pharmacotherapy Handbook (6th Edition). McGraw Hill

http://www.akademik.unsri.ac.id/Ekstraksi, Fraksinasi, Karakterisasi, dan Uji Hayati in vitro senyawa bioaktif Daun Dewa.Dondin Sajuthi.

http://etd.eprints.ums.ac.id/Efek Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura Pseudochina (L) Dc) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur Balb-c Hiperurisemia.Fitria,Aninda Titis.

http://digilib.biologi.lipi.go.id/Isolasi dan identifikasi suatu senyawa isoflavon dari daun daun dewa (Gynura procumbens Backer).Tri Windono.

http://digilib.gunadarma.ac.id/Studi ekstraksi komponen bioaktif daun dewa (gynura procumbenslour merr) sebagai penangkap radikal bebas (kajian berdasarkan cara pengeringan dan senyawa pelarut.Ika haerawati

http://bahan-alam.fa.itb.ac.id/Pemeriksaan Senyawa Kimia Golongan Flavonoid dari Daun Dewa (Gynura procumbens (Lour.) Merr.- Compositae).Murti Raehani et al

http://anjungherba.com.Daun Dewa

http://kliniksehati.indonetwork.co.id/

http://ikhwan-herba.com//Kapsul asam urat

http://www.etalasemuslim.com

http://www.madinastore.com

About these ads

3 thoughts on “Herbal untuk asam urat

  1. mav…sumber informasi bahwa habbatussauda bisa menurunkan kadar asam uratnya dapat dari mana y? sumbernya bisa dipertanggung jawabkan tidak?(karena saya lagi cari referensi untuk penelitian)
    satu lagi…penggunaan pottassium oxonate untuk menyebabkan gout pada mencit itu disuntikkan berapa kali, berapa lama dan efeknya juga berapa lama y??kira2 sumber rujukannya bisa didapat dimana y???
    tolong bantuannya y
    makasih

    • saya lupa sumbernya darimana, waktu itu ada tugas fito terapi..
      untuk penggunaan potassium oxonate, bisa cari penelitian sejenis di jurnal2 yang menjelaskan penelitian sejenis atau datang saja ke perpustakaan farmasi UI, insya allah ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s