tentang islam

Darah


II. TEORI DASAR
Salah satu fungsi darah di dalam tubuh adalah sebagai alat transportasi. Di dalam tubuh darah berperan dalam transport oksigen, karbon dioksida, zat makanan , metabolit- metabolit yang tidak diperlukan, mengatur suhu tubuh normal, mempertahankan keseimbangan asam basa, mengatur keseimbangan air, mengatasi infeksi, transport hormone untuk metabolisme dan transport metabolit- metabolit antar jaringan. Jumlah darah dalam tubuh sekitar 5 -7 % dari berat badan. Pada wanita angka ini sedikit lebih rendah.
Plasma terdiri dari 91 -92% adalah air dan sisanya merupakabn zat- zat yang larut didalamnya berupa protein, enzim, hormon, vitamin, lipid, asam amino, dsb. Plasma darah ini merupakan system transport yang melayani semua sel melalui medium cairan ekstraselular.
Fungsi utama dari sel-sel darah merah( eritrosit) adalah mengangkut Hb yang seterusnya akan membawa oksigen yang berasak dari paru- paru ke jaringan. Sel darah merah normal berbentuk pelat, cekung ganda dan berdiameter 8 mikron. Konsentrasi pada pria lebih besar daripada wanita.
Sel darah putih( leukosit) merupakan unit yang aktif dari system pertahanan tubuh. Leukosit berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis leukosit, yaitu netrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit. Pada orang dewasa terdapat kira-kira 7000 sel darah putih per millimeter kubik.
Hemoglobin yang terdapat dalam sel sebenarnya merupakan penyangga asam basa yang umumnya adalah protein. Jumlah eritrosit yang mampu mengkonsentrasikan Hb dalam cairan sel mendekati 34 gr per desiliter
Kadar zat- zat yang terlarut di dalam darah selalu dalam batas-batas tertentu dan selalu dalam keadaan dinamik. Perubahan susunan darah dapat memberikan gambaran tentang metabolisme zat- zat yang terdapat dalam darah dan juga gambaran mengenai fungsi jaringan yang berkaitan dengan fungsi metabolisme maupun eksresinya. Darah akan membeku jika dikeluarkan dari tubuh setelah 10 menit. Bila pembekuan darah tidak didinginkan dapat digunakan anti koagulan. Pemakaian antikoagulan dapat mencegah pembekuan darah sehingga dengan pemusingan kita dapat memisahkan sel darh dari plasma darah. Beberapa contoh koagulan seperti Heparin, K/ Na oksalat, campuran ammonium oksalat dan kalium oksalat ( 3:2), Na sitrat, Etilen Diamin Tetra Asetat(EDTA)
Dalam pemeriksaan dengan garam Na ata K perlu diperhatikan hal-hal seperti:
1. Serum atau plasma harus secepatnya dipisahkan
2. pemeriksaan dilakukan secepatnya untuk mencegah pengaruh enzim dan zat-zat lain.
3. sebaiknya protein dan zat-zat lain yang bersifat mereduksi dihilangkan.
Kadar glukosa darah pada manusia setekah mengkonsumsi karbohidrat dapat naik hingga 6,5- 7,2 sedangkan selam puasa kadar glukosa darah akan turun sampai 3,3- 3,9.

III. ALAT DAN BAHAN
- tabung pengencer hemometer
- pipet hemoglobin
- alat Sahli
- pipet leukosit
- pipet eritrosit
- kamar hitung
- mikroskop
- tabung reaksi
- tabung pemusing
- pipet volumetric
- pipet tetes
- penangas air
- alat pemusing
- kolorimetri
- beaker glass
- darah HCl 0,1 N
- antikoagulan
- Lar. Turk
- TCA 10%
- O-toluidin dalam asam asetat
- Standard glukosa
- H2SO4
- air suling
- alcohol: eter
- CHCl3

IV. CARA KERJA DAN HASIL PENGAMATAN
1. Penetapan Kadar Hemoglobin Cara Sahli
Pada cara ini, hemoglobin diubah menjadi hematin asam. Kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar permanent pada alat hemometer.

Metode :
1. Masukkan kira-kira 5 tetes HCl 0,1 N ke dalam tabung pengencer hemometer.
2. Isap darah kapiler atau oksalat dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0.02 ml.
3. Hapus darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
4. Catat waktunya dan segera alirkan darah dari pipet ke dasar tabung pengenceran yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai ada gelembung udara.
5. Angkat pipet itu sedikit, lalu isap HCl yang jernih ke dalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tertinggal di dalam pipet.
6. Campur isi tabung supaya darah dan asam bersenyawa. Warna campuran menjadi coklat tua.
7. Tambahkan air (aquadest) setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standar harus dicapai dalam waktu 5 menit setelah darah dan HCl dicampur dalam alat Sahli-Hallige (3 menit dalam alat Sahli-Erka). Pada usaha mempersamakan warna hendaknya tabung diputar sedemikian rupa sehingga garis bagi tidak terlihat.
8. Baca kadar Hemoglobin dalam gram/100 ml darah.

Pengamatan :
Dari hasil percobaan penentapan kadar Hemoglobin yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa kadar Hb dari darah yang diperiksa adalah 10.4 gram/100 ml darah.

Pembahasan :
Hemoglobin adalah sebuah proteida yang berfungsi mengangkut oksigen dan yang bertanggung jawab adalah pigmen dengan struktur kimia sebagai kromoproteida. Hb mengandung Heme dan globin
penentuan kadar Hb berdasarkan perubahan Hb menjadi hematin asam yang berwarna jingga kecoklatan dengan penambahan 5 tetes HCl 0,1 N. banyaknya hematin asam yang terbentuk diketahui dari intensitas warna jingga kecoklatan, kalau jumlahnya banyak maka warnanya sampai diperoleh warna standard pada alat hemometer, dan sebaliknya alat ini digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin dengan cara persamaan warna yanbg hars dicapai dalam waktu 5 menit sesaat setelah darah dan HCl dicampur dalam alat sahli
Pada percobaan ini darah dicampur dengan HCl terbentuk warna jingga kecoklatan agak tua sehingga diperlukan banyak aquadest untuk mengencerkan warna agar sesuai dengan warna standar alat hemometer. Hal ini menunjukkan banyaknya hematin asam dalam larutan darah tersebut.
Dari percobaan diperoleh kadar Hb sebesar 10,4 gr/100 ml darah, darah yang diambil adalah darah laki-laki
Afinitas Hb untuk O2 dipengaruhi oleh pH, temperature, dan konsentrasi. Hb diperlukan dalam pengngkutan O2 dan CO2 sehingga jika jumlah Hb berkurang maka jumlah O2 dan CO2 yang diangkut juga akan berkurang. Dan darah yang kekurangan O2 akan berwarna kebiru-biruan.

2. Menghitung Sel-sel Darah
A. Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. Jumlah leukosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan factor konversi jumlah leukosit per mikroliter (μL) darah dapat diperhitungkan.
Larutan pengencer ialah Larutan Turk yang mempunyai susunan sebagai berikut : larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 mL, saring sebelum dipakai.

1. Mengisi Pipet Leukosit
a) Isaplah darah (kapiler atau oksalat) sampai garis tanda 0.5 tepat.
b) Hapuslah kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet.
c) Masukkan ujung pipet dalam larutan turk sambil menahan darah pada garis ganda tadi. Pipet dipegang dengan sudut 450 dan larutan turk diisap perlahan-lahan sampai garis tanda 11. hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. Angkatlah pipet dari cairan, tutup ujung pipet dengan ujung jari, lalu lepaskan karet penghisap.
c) Kocoklah pipet selama 15-30 detik. Jika tidak segera akan dihitung, letakkan dengan sikap horizontal.
2. Mengisi Kamar Hitung
a) Letakkan kamar hitung yang bersih dengan kaca penutupnya terpasang mendatar di atas meja.
b) Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus-menerus, jagalah jangan ada cairan yang terbuang dari dalam pipet sewaktu mengocok.
c) Buanglah semua cairan yang ada di dalam batang kapiler pipet (3-4) tetes dan segeralah sentuhkan ujung pipet itu dengan sudut 300 pada permukaan kamar dihitung dengan menyinggung kaca penutup. Biarkan kamar hitung terisi cairan perlahan-lahan dengan daya kapilaritasnya sendiri.
d) Biarkan kamar hitung selama 2-3 menit supaya leukosit-leukosit dapat mengendap. Jika tidak dapat dihitung segera, simpanlah kamar hitung dalam sebuah cawan petri tertutup yang berisi segumpal kapas basah.

3. Menghitung Jumlah Sel
a) Pakailah lensa obyektif kecil, yaitu dengan pembesaran 10X, turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma. Meja mikroskop harus datar sikapnya.
b) Kamar Hitung dengan bidang bergarisnya dilatakkan di bawah obyektif dan fokus mikroskop diarahkan kepada garis-garis bagi. Dengan sendirinya leukosit-leukosit jelas terlihat.
c) Hitung semua leukosit yang terdapat dalam keempat bidang besar pada sudut-sudut seluruh permukaan yang dibagi.
1. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun kebawah dan dimulai lagi dari kiri ke kanan. Cara ini dilakukan pada keempat bidang besar.
2. Sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas harus dihitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kanan atau bawah tidak boleh dihitung.
4. Perhitungan
Pengenceran yang terjadi dengan pipet adalah 20X. jumlah sel yang dihitung dalam keempat bidang dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalan 0.1μL. Angka tersebut dikalikan dengan 10 (untuk tinggi) dan 20(untuk pengenceran) untuk mendapatklan jumlah leukosit dalam I μL darah. Singkat : jumlah sel yang dihitung dikali 50 = jumlah leukosit per μL darah.

Pengamatan :
Jumlah sel yang diperoleh : 143
Jumlah leukosit per μL darah : 50 X 143 = 7.150/μL darah

Pembahasan :
Leukosit dapat dihitung jumlahnya dengan cara diencerkan dalam pipet leukosit dengan menggunakan larutan pengencer Turk yang mempunyai komposisi larutan : larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 mL, saring sebelum dipakai, lalu dimasukkan ke dalam kamar hitung. Penambahan larutan gentian violet bertujuan untuk memberi warna pada inti dari granula leukosit dimana larutan ini memecah eritrosit dan trombosit, tetapi tidak memecah leukosit maupun eritrosit berinti.
Pada pengamatan setelah dihitung diperoleh leukosit darah yang diuji sebsar 7150/μL darah, sedangkan jumlah leukosit yang normal adalah 4000-12000 per μL darah. Berarti jumlah leukosit dalam darah normal.
Jumlah leukosit darah dapat turun naik terhantung dari ada tidaknya infeksi kuman dalam tubuh. Bila jumlah leukosit lebih dari normal disebut leukositosis dan jika kurang dari normal disebut leukopensi.

B. Menghitung Eritrosit
1. Mengisi pipet eritrosit
Tindakan-tindakan sama seperti cara mengisi pipet leukosit, darah diisap sampai garis tanda 0,5 dan larutan pengencer sampai garis tanda 11.
2. Mengisi kamar hitung
Sama seperti diterangkan pada menghitung leukosit.
3. Menghitung jumlah sel
a) Turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma. Meja mikroskop harus dalam sikap rata air.
b) Aturlah fokus terlebih dahulu dengan memakai lensa objektif kecil (10x), kemudian lensda itu diganti dengan lensa objektif besar (40x) sampai garis-garis bagi dalam bidang besar tengah jelas nampak.
c) Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil, umpamanya pada keempat sudut bidang besar ditambah yang di tengah-tengah. Cara menghitung sel sama seperti untuk menghitung leukosit, yaitu mulai dari kiri ke kanan kemudian dari kanan ke kiri, dst. Kepastian untuk meghitung atau tidaknya eritrosit yang menyinggung garis-garis batas sama juga seperti untuk leukosit.
d) Perhitungan. Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 5 x 16 bidang kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm2. Faktor untuk mendapatkan jumlah eritrosit per µl darah menjadi 5 x 10 x 200 = 10000.

.
Pengamatan :
Jumlah sel darah yang diperoleh = 658
Jumlah Eritrosit per μL darah = 10000 X 658 = 6.580.000/μL darah

Pembahasan :
Sel darah merah eritrosit membawa hemoglobin di dalam sirkulasi. Ia merupakan cakram bikonkaf yang dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia, ia kehilangan intinya sebelum memasuki sirkulasi. Pada manusia, ia bertahan hidup di dalam sirkulasi rata-rata 120 hari. Tiap eritrosit manusia berdiameter 7,5 µm dan tebal 2 µm, serta masing-masing mengandung 29 pikogram hemoglobin. Sehingga ada sekitar 3.000 eritrosit dan sekitar 900 gram hemoglobin dalam darah bersirkulasi pada pria dewasa.
Eritrosit dapat dihitung jumlahnya dengan cara pengenceran menggunakan larutan Hayem yang mempunyai komposisi terdiri dari 5 gr Na-sulfat, 1 gr NaCl, 0,5 gr HgCl2 dan aquadest ad 100 ml. Kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung dan dihitung banyaknya eritrosit.
Setelah dihitung ternyata jumlah eritrosit dalam darah yaitu 6.580.000 per µl. Jumlah normal eritrosit pada pria yaitu 5,4 juta /µl dan pada wanita 4,8 juta /µl. jadi, eritrosit yang didapat praktikum melebihi jumlah normal, mungkin karena pengenceran yang dilakukan tidak merata.
Eritrosit dapat juga lisis oleh obat dan infeksi. Kerentanan eritrosit terhadap hemolisis oleh zat ini ditingkatkan oleh defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenasi, yang mengkatalisis tahap awal dalam oksidasi glukosa melalui lintasan heksosamonofosfat. Lintasan ini membentuk NADPH, yang diperlukan untuk memelihara kerapuhan eritrosit yang normal.

Dalam perhitungan eritrosit yang perlu diperhatikan adalah :
1. Faktor pengenceran
Jika jumlah sel banyak maka pengenceran ditingkatkan dan jika jumlah sel sedikit maka pengenceran tidak berlebih, hal ini bertujuan agar perhitungan dapat dilakukan dengan tepat. Pada penderita anemia hemolitik atau autoimun, hendaknya menggunakan larutan pengencer Na sitrat 0,109 M tanpa formalin karena larutan formalin akan memfiksasi eritrosit yang teraglutinasi.
2. Melakukan koreksi terhadap hitung leuosit, karena eritrosit berinti tidak hancur oleh larutan Turk karenanya terhitung sebagai leukosit.

3. Analisis Kuantitatif Darah

A. Penetapan Kadar Gula Darah (O-Toluidin)
Sediakan 4 tabung pemusing. Masukkan ke dalam tabung :
1. Tabung 1 : 0,2 ml darah/serum
2. Tabung 2 : 0,2 ml darah/serum
3. Tabung 3 : 0,3 ml larutan standar
4. Tabung 4 : 0,2 ml air suling

Tambahkan pada masing-masing tabung 2,0 TCA. Pusingkan tabung 1 dan 2 selama 5 menit. Ambil dari masing-masing tabung (1 dan 2 cairan bebas protein, 3 campuran standar, 4 blanko) 1,0 ml larutan dan campur di dalam tabung kolorimetri dengan 4,0 ml larutan o-toluidin. Panaskan tabung-tabung tersebut pada penangas air mendidih selama 8 menit. Dinginkan segera di bawah keran. Setelah kira-kira 20 menit, lakukan pembacaan dengan kolorimetri fotoelektrik pada panjang gelombang 625 nm.
Perhitungan:
Kadar glukosa = Ru x 0,1 x 100
Rs 0,1

Pengamatan :
Tabung I : 0,110
Tabung II : 0,116
Tabung III (Standar) : 0,056

Kadar Glukosa = Uji x 0,1 x 100
Standar 0,1
Kadar Glukosa I = 0,110 x 0,1 x 100 = 196,43 %
0,056 0,1
Kadar Glukosa II = 0,116 x 0,1 x 100 = 207,14 %
0,056 0,1

Pembahasan :
Asam Trikloroasetat mengendapkan protein sehingga filtrat hanya mengandung glukosa. Glukosa berkonjugasi dengan o-toluidin dalam asetat panas membentuk senyawa berwarna biru-hijau. Dengan cara ini dapat ditetapkan kadar glukosa yang lebih tepat dari suatu larutan. Galaktosa juga akan memberi reaksi yang sama dan dapat mengganggu pemeriksaan. Satu hal yang penting ialah bahwa reaksi harus dilakukan dengan alat-alat yang kering dan bersih.
Penetapan kadar gula dalam darah merupakan salah satu pemeriksaan yang sering dilakukan terhadap darah, plasma, atau serum. Cara penetapannya dapat secara makroataupun mikro. Pada percobaan kali ini kadar glukosa ditetapkan dengan kolorimetri fotoelektrik berdasarkan sifat mereduksi glukosa.
Prinsip penetapan kadar gula darah ini berdasarkan pengendapan protein darah dengan asam trikloroasetat yang ada pada saat dipusingkan terluhat baguan yang mengendap (protein darah) dan cairan yang ada di atas mengandung gula yang akan diperiksa dengan menambahkan o-toluidin dalam asam asetat glasial, lalu dipanaskan. Saat dipanaskan, gula akan berkonjugasi dengan o-toluidin dalam asetat panas dengan memberikan waran biru hijau. Kemudian kadar gulanya ditetapkan dengan kolorimetri fotoelektrik pada panjang gelombang 625 nm.
Dari percobaan didapat kadar glukosa adalah 83,74 dan 95,48, sedangkan kadar normal adalah 80 – 100. Hal ini berarti kadar gula praktikan normal.

VI. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1. Kadar hemoglobin dalam darah yaitu 10,4 gr /100 ml darah.
2. Jumlah leukosit yaitu 7.150/µl darah.
3. Jumlah eritrosit yaitu 6,58 juta/µl darah.
4. Kadar gula darah : pada tabung I sebesar 196,43 mg % dan pada tabung II sebesar 207,14 mg %.

VII. DAFTAR PUSTAKA

__________1999. Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia, Jurusan Farmasi, FMIPA UI, Depok.
Murray, Robert K., dkk. 1995. Biokimia Harper edisi 25. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyton, Arthur C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Syaifuddin B. Ac. 1992. Anatomi Fisiologi untuk siswa perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

About these ads

2 thoughts on “Darah

  1. Assalamu’alaikum mba..
    salam kenal ya..
    wah, anak farmasi juga to :)
    izin copast ya..
    blognya sangat manfaat utk para akademisi nih..hehe
    mampir ke blog saya ya mba..
    mudah2an silaturahimnya bisa ttp jln.. :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s