blognya farmasis muda

asam manis hidupku..

  • it’s me!

    asam manis hidupku..
    nyummy

Archive for March, 2009

Reaksi konjugasi dan detoksifikasi

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Mekanisme detoksifikasi dalam tubuh terdiri dari dua tahap utama yaitu :

Transformasi tahap I, terjadi proses oksidasi yang hasilnya dilanjutkan
Transformasi tahap II, yaitu proses konjugasi

Fungsi utama dari reaksi tahap satu dan dua adalah mengoksidasi senyawa xenobiotik dan melanjutkan dengan reaksi konjugasi untuk membuat senyawa xenobiotik menjadi bersifat polar dan mudah disekresikan melalui urin. Masalah yang dapat timbul adalah dihasilkannya produk oksidasi yang reaktif dan mempunyai afinitas yang tinggi pada DNA dan protein sehingga menyebabkan kerusakan DNA atau protein sel. Konjugasi pada DNA dan protein sel merupakan awal dari proses keracunan kronis yang diketahui dapat termanifestasi dalam bentuk berbagai penyakit degeneratif.

Tranformasi tahap II ini memberikan beberapa jalur konjugasi yang memperantarai racun yang bersifat minyak mudah larut dalam air, sehingga dapat dibuang melalui urin, empedu, tinja dan keringat. Reaksi konjugasi ini termasuk :

Konjugasi Glukuronidasi (Glucuronidation Conjugation)
Konjugasi Sulfasi (Sulfation Conjugation)
Konjugasi Glutation (N-acetyl cysteine, dimana asam amino cysteine dan methionin adalah bahan awal)
Konjugasi Acetylasi
Konjugasi Metilasi (Methylation Conjugation)
Konjugasi Asam Amino (Konjugasi glycine, taurine, glutamine, ornithin dan arginin)

Selama proses detoksifikasi, apabila proses tranformasi tahap I terlalu cepat, tetapi tahap dua terlambat, maka akan kelebihan bahan perantara yang sangat beracun, menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih luas, sehingga memerlukan perlindungan antioksidan vitamin A-beta carotene, vitamin C, vitamin E, flavonoid, proantocyanin yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Konjugasi Glukuronidasi (Glucuronidation Conjugation)
Konjugasi dengan asam glukuronat ini adalah bentuk transformasi tahap II yang paling umum. Gugusan glukuronat dapat dipindahkan ke beberapa group fungsional termasuk :
Alkohol, asam karbosilat, amine, thiols dan beberapa methylene group yang aktif.
Proses ini memerlukan enzim UDP-glukuronosyltransferase dan cosubstrat Uridine-5”-diphospho-alpha-glukuronic acid (UDPGA) sebagai sumber asam glukuronat.

Konjugasi Sulfasi (Sulfation Conjugation)
Merupakan transformasi tahap II yang menambah gugusan sulfat ke alcohol dan amine, menjadi bentuk sulfate atau sulfonamide, dibantu oleh enzim Sulfotransferase dan cosubstrat 3”-phosphoadenosine-5”-phosphosulphate (PAPS) sebagai sumber group sulfate.

Konjugasi Glutation
N-acetyl cysteine, dimana asam amino cysteine dan methionin adalah bahan awal.
Sangat penting dalam konjugasi tahap II pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Dibawah pengaruh enzim glutathione S-transferase, glutation dapat bereaksi dengan serangkaian substrat termasuk epoxide, aryl dan alkyl halide dan bahan majemuk elektrofilik lainnya .
Glutation S-transferase terdapat pada fraksi sitosol kebanyakan sel dan organ tubuh seperti hati, ginjal, paru, dan usus halus (Commandeur et al., 1995).Glutation (GSH) adalah tripeptida (-L-glutamil-L-sisteinil-glisin) yang memainkan peran utama dalam biotransformasi dan ekskresi xenobiotika dan pertahanan sel terhadap oxidative stress (Josephy, 1997).
Glutation S-transferase (GST) merupakan keluarga enzim yang mengkatalisis reaksi konjugasi glutation dengan sejumlah besar xenobiotika elektrofilik endogen maupun eksogen. GST melindungi sel tubuh terhadap serangan senyawa elektrofil yang sering bersifat sitostatik, mutagenik, dan karsinogenik, dengan jalan mengkatalisis reaksi konjugasi antara gugus tiol (-SH) pada glutation (GSH) dengan pusat elektrofilik senyawa elektrofil. Reaksi ini akan menghasilkan produk konjugat glutation yang selanjutnya akan ditranspor ke ginjal dan dimetabolisme lebih lanjut menjadi asam merkapturat (Josephy, 1997).

Konjugasi Acetylasi
Tranformasi ini tidak menghasilkan racun-racun yang larut air. Alcohol dan amine dapat diacetylasi dengan acetyl CoA, dibawah pengaruh enzim acetyl transferase.

Konjugasi Metilasi (Methylation Conjugation)
Transformasi ini kurang penting dibanding transformasi tahap II lainnya.
Pada umumnya hanya dipakai untuk mentranformasi beberapa jenis thiols, phenol dan amines yang dihasilkan dalam tubuh saja dengan perantara S-Adenosyl methionine (SAM) dan dikatalisasi oleh beberapa jenis enzim methyl transferase.
Contoh :
Metabolisme epineprin oleh SAM dan catechol O-methyl transferase (COMT) .

Konjugasi Asam Amino
Konjugasi glycine, taurine, glutamine, ornithin dan arginin.
Konjugasi asam amino adalah konjugasi glycine dengan asam salisilat menjadi asam salicyluric .

Posted in biokimia | Tagged: , | 5 Comments »

CYP1A1

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Terlibat dalam metabolisme senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH, polocyclic aromatic hydrocarbon). Enzim ini sangat penting dalam metabolisme hidrokarbon aromatik polisiklik dan dalam proses kasinogenesis yang ditimbulkan oleh senyawa ini. Sebagai contoh, jenis sitokrom ini didalam paru mungkin terlibat dalam proses konversi senyawa PAH inaktif (prokarsinogen) yang dihirup pada waktu

merokok menjadi senyawa karsinogen aktif lewat reaksi hidroksilasi. Para perokok mempunyai enzim ini dengan kadar lebih tinggi didalam sebagian sel dan jaringan tubuhnya bila dibandingkan dengan orang yang bukan perokok. Beberapa laporan menyebutkan bahwa aktivitas enzim ini dapat di tingkatkan (diinduksi) dalam plasenta ibu yang merokok; dengan demikian, kebiasaan merokok pada ibu hamil merupakan kondisi yang potensial untuk mengubah jml metabolit PAH (yg sebagian diantaranya merupakan unsur berbahaya) yg mengenai janin di dlm kandungan ibu tsb

Substrat
Teofilin, kafein, parasetamol, antipirin, warfarin,takrin, klozapin, haloperidol, flukosamin

Penghambat
Flukosamin, siprofloksasin, ofloksasin, simetidin, ketokonazl, eritromisin, klaritomisin

Penginduksi
Asap rokok, daging panggang, kembang kol, brokoli, rifampisin, olmeprazol, fenobarbital, fenitoin

Interaksi dlm metabolisme obat berupa induksi atau inhibisi enzim metabolisme, terutama enzim CYP! Induksi berarti peningkatan sintesis enzim metabolisme pada tingkat transkripsi sehingga terjadi peningkatan dosis obat tersebut, berarti terjadi toleransi farmakokinetik.

Posted in biokimia | Tagged: | Leave a Comment »

CYP2C19

Posted by filzahazny on March 18, 2009

CYP2C19
Sitokrom P450, famili 2, subfamili C, Polipeptida 19
Merupakan enzim monooksigenase
Terdapat di retikulum endoplasma hati
Fungsi ;
1.) bertanggung jawab untuk metabolisme agen
terapeutik (omeprazole, diazepam, barbiturat)
2.) sintesis kolesterol, steroid dan lipid
CYP2C19 dipengaruhi gen
3%-5% ras kaukasoid dan 12%-13% orang asia mengalami metabolisme rendah dengan enzim CYP2C19.

Con’d
Pada beberapa obat CYP2C19 menjadi jalur metabolisme primer, tapi lebih sering menjadi jalur metabolisme sekunder. Contoh;
Jalur primer omeprazol adalah CYP2C19 sedangkan jalur sekundernya adalah CYP3A4.
Bila aktivitas CYP2C19 normal tapi CYP3A4 mengalami inhibisi→metabolisme omeprazol tidak terganggu secara signifikan
Bila konsentrasi enzim CYP2C19 menurun, dan CYP3A4 mengalami inhibisi → konsentrasi omeprazol dalam tubuh meningkat karena metabolismenya terganggu

Substrat CYP2C19
Aripiprazole, Carisoprodol, Citalopram*, Clomipramine, Clopidogrel, Clozapine ,Desipramine, Diazepam*, Diphenyhidramine, Doxepin, Escilatopram*, Fluoxetine, Imipramine, Lansoprazole, Mephenytoin, Methadone, Moclobemide*, Nelvinafir, Olanzapine, Omeprazole*,Pantoprazole*, Pentamidine*, Phenobarbital, Phenytoin, Proguanil*, Propranolol, Raberprazole, Sertraline*, Thalidomide*,Voriconazole, R warfarin
(*) CYP2C19 menjadi jalur metabolisme primer
Tentang Diazepam
Diazepam (t1/2=20-100 jam ) termasuk obat dengan kelas terapi antiansietas, antikonvulsan, dan sedatif.
Enzim utama yang digunakan dalam metabolisme diazepam adalah CYP2C19, CYP3A4 dan CYP3A5.
Metabolisme utama diazepam berada di hepar, menghasilkan tiga metabolit aktif ; nordiazepam, oxazepam, dan Temazepam.
Con’d
Jalur metabolisme diazepam :
diazepam CYP2C19 nordiazepam (t1/2=30-200 jam )
nordiazepam CYP3A4 oxazepam (t1/2=5-15 jam )
Temazepam (t1/2= 10-20 jam ) dimetabolisme CYP3A4 dan CYP3A5 lalu dikonjugasi dengan asam glukuronat sebelum dieliminasi dari tubuh.
Diazepam secara cepat terdistribusi dalam tubuh karena bersifat lipid-soluble, volume distribusinya 1,1L/kg, dengan tingkat pengikatan pada albumin dalam plasma sebesar (98-99%).
Diazepam diekskresikan melalui air susu dan dapat menembus barier plasenta

Con’d
Aplikasi penggunaan diazepam
Penggunaan diazepam untuk ibu hamil dan menyusui sebaiknya dihindari karena
1.)berpotensi menginhibisi neuron > pertumbuhan embrio lambat
2.) meningkatkan pH sel >pertumbuhan janin terganggu
3.) Pada trimester pertama masa kehamilan merupakan periode kritis maka bahan teratogen yang bersifat toksik akan mempengaruhi pertumbuhan embrio, bahkan dapat mengakibatkan kematian janin
Penggunaannya tidak lebih dari 3 bulan karena diazepam memilki waktu paruh yang panjang.

Inhibitor CYP2C19
Chloramphenicol, Cimetidine, Clopidogrel, Delavirdine, Efavirenz, Esopmeprazole, Felbamate, Fluconazole, Fluoxetine, Fluvoxamine, Isoniazid, Moclobemide, Modafinil, Omeprazole,Oxcarbazepin, Ticlopidine, Voriconazole
Inducer CYP2C19
Aminoglutethimide, Artemisinin, Barbiturat, Carbamazepin, Phenytoin, Pirimidone, Rifampin, Rifampetin

Inhibisi CYP2C19 tidak sepenuhnya menimbulkan konsekwensi buruk karena :
Substrat toksiknya tidak banyak
Enzim lain sering mengambil alih
peran CYP2C19

Posted in biokimia | Tagged: , | Leave a Comment »

CYP2E1

Posted by filzahazny on March 18, 2009

CYP2E1
Cytochrom P 450 2E1 adalah salah satu anggota famili dari Sitochrom P 450.

Cytochrom P 450 merupakan protein yang bersifat monooksigenesis yang mengkatalis beberapa reaksi yang diperlukan dalam metabolisme obat-obatan dan sintesis kolesterol, steroid, dan lipid yang lain di retikulum endolasma.

Enzim CYP2E1 memetabolisme dalam tubuh diinduksi oleh etanol, aseton dan larutan lain juga substrat dari karbon tetraklorida, etilen, glikol dan nitrosamin yang ditemukan dalam rokok sebagai premutagen yang dapat meningkatkan karsinogenitass

Dalam beberapa substrat, enzim ini mungkin juga diperlukan dalam proses yang berbeda-beda seperti proses gluconeogenesis,sirosis hati, diabetes dan kanker
.
Fungsi
Metabolisme beberapa precarcinogen, obat-obatan dan larutan untuk reaksi metabolisme
Menonaktifkan sejumlah obat dan xenobiotik, juga bioactivate substrat xenobiotic untuk pembentukan hepatotoxic atau karsinogenik

Ligand
Substrat
Anastetik: halothane, isoflurane, enflurane
Paracetamol (analgesic, antipyretic)
Dapsone(antibiotik)
Theophylline (stimulan)
Ethanol (psychoaktive)
Chlorzoxazone ( muscle relaxant)
Toluene (pelarut)- primarily

Inhibitor
diethyldithiocarbamate ( dalam kanker)
Citemidine (H2-receptor antagonist)
Disulfiram (dalam alkohol)
Inducers
Acetone (cairan pembersih)
Ethanol (psychoative)
Isoniazid (dalam tuberculosa)
Contoh kasus
P 450(CYP) dan glutathione S-transferase (GST) diperlukan dalam aktivasi dan etoksifikasi karsinogen.
Interaksi antara lingkungan terbuka dan polymorpisme sitokrom P4502E1 (CYP2E1) dan glutatione S-tranferase M1 (GSTM1) berhubungan dengan kanker payudara telah diperkirakan, namun interaksi keduanya belum difokuskan.
Efek interaksi CYP2E1 dengan GSTM1 memodifikasi resiko pengembangan kanker payudara lepas dari efek rokok dan konsumsi alkohol.
Individu dengan C2/C3 genotype CYP2E1 memiliki resiko(OR=0.24, 95% CI=0.08-0.74) jika dibandingkan dengan C1/C1 genotype
Tidak terlalu berbeda dengan GSTM1 genptype(OR=1.05, 95% CI=0.73-1.50) antara kanker payudara dan kontrolnya.
interaksi antara CYP2E1 dengan GSTM1 telah diperoleh untuk pengembangan kanker payudara di wanita Taiwan yang tidak memiliki kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol, meskipun hasilnya tidak signifikan tetapi hal ini menunujukkan bahwa karsinogen lingkungan juga dapat memicu kanker payudara.

Posted in biokimia | Tagged: , | Leave a Comment »

CYP2C9

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Cyp adalah singkatan dari sitokrom P450
2 adalah bilangan arab yang menyatakan famili
C adalah subfamili
9 adalah gen individual
Terdapat di dalam hati
Substrat : warfarin, fluvastatin, celecoxib, lornoxicam, diclofenac, ibuprofen, naproxen, piroxicam, meloxicam, phenytoin, fluvastatin, sulfonylurea, glibenclamide, glimepiride, glipizide, tolbutamide, angiotensin II receptor antagonists, irbesartan, losartan,
Inducer : fenobarbital, rifampisin
Inhibitor : fenitoin, amiodaron, tolbutamid, glipizid, diklofenak, ibuprofen, fluvoksamin, fluoksetin, simetidin, dan omeprazol, Benzbromarone, Sulfaphenazole, fluconazole, Valproic acid

Posted in biokimia | Tagged: , | Leave a Comment »

CYP2D6

Posted by filzahazny on March 18, 2009

CYP2D6 adalah Sitokrom CYP2D6, anggota dari sitokrom P450, adalah salah satu dari enzim-enzim paling penting dalam metabolisme zat-zat xenobiotik di dalam tubuh.
CYP2D6 juga berhubungan dengan aktivasi dari beberapa obat, jadi obat-obat tersebut dapat turun keefektifannya pada saat pasien dengan aktifitas CYP2D6 yang tidak mencukupi, mengkonsumsinya.
Substrat
Obat yang dimetabolisme oleh CYP2D6 disebut sebagai substrat CYP2D6. Perlu diingat bahwa banyak obat yang dimetabolisme oleh lebih dari satu enzim CYP450, dan CYP2D6 mewakili sebagian kecilnya. Sebagai contoh, banyak antidepressant mengalami metabolisme oleh CYP2D6, tapi enzim CYP450 yang lain juga termasuk. Banyak obat-obat psikoteraputik sebagai substrat ataupun inhibitor dari CYP2D6.

Substrat
Amitriptylin, atomoxetin, carvedilol, klorpeniramin, klorpromazin, clomipramin, codeine, desipramin, dextrometorfan, dihidrocodein, difenilhidramin, dolasetron, doxepin, duloxetin, flecainide, fluoexetin, fluvoxamin, haloperidol, hidrocodone, imipramin, maprotilin, metoclopramide, metoprolol, mexiletine, nortriptyline, palonosetron, paroxetin, perheksilin, prometazin, propafenon, propranolol, protriptilin, risperidon, tamoxifen, tioridazin, timolol, tolterodin, tramadol, trazodon, venlafaxine.
Inhibitor
Obat yang menghambat aktifitas CYP2D6 kemungkinan besar meningkatkan konsentrasi plasma oleh pengobatan tertentu, dan dalam beberapa kasus akan timbul hasil yang merugikan. Beberapa obat, eperti fluoxetin,paroxetin dan kuinidin sangat berpotensi sebagai penghambat dari CYP2D6, pasien yang sedang mengkonsumsi obat-obat ini hampir tidak memiliki aktifitas dari CYP2D6.
Inhibitor
Amiodaron, bupropion, kloroquin, cinacalcet, difenhidramin, fluoxetin, haloperidol, imatinib, paroxetin, propafenon, propoksifen, quinidin, terbinafin, thioridazin.
Inducer
Tidak seperti kebanyakan enzim-enzim CYP450, CYP2D6 tidak begitu terpengaruh oleh enzim inducer.

Piperidin,glutetimid,carbamazepine, dexametason, rifampisin.

Posted in Uncategorized | Tagged: , | Leave a Comment »

CYP3A4

Posted by filzahazny on March 18, 2009

CYP3A4 adalah Sitokrom P450 3A4 (disingkat CYP3A4), yang berarti sitokrom P450, famili 3, subfamili A, polipeptida 4
enzim yang paling penting  metabolisme setengah obat yang beredar di pasaran
Ditribusi
30% dalam hati, 70 % dalam usus halus
Jumlah terbesar dalam hati  30% dari total sitokrom P450 di hati
Selain itu terdapat juga di jaringan dan organ lain
CYP3A4 dalam usus berperan penting dalam metabolisme obat tertentu.
Substrat CYP3A4 Substrat = obat yang dimetabolisme Banyak substrat CYP3A4 bersifat toksik, dan beberapa pasien dapat mengembangkan toksik tersebut ketika CYP3A4 inhibitors diambil secara bersamaan.
Contoh:
Colchicine
Clonazepam
Dihydroergotamine
Diltiazem
Imatinib
Indinavir
Irinotecan
Isradipine
Itraconazole
Ixabepilone
Ketoconazole
Inhibitor CYP3A4
Inhibitor = obat yang menghambat aktivitas
Obat yang menghambat aktivitas CYP3A4 akan hampir selalu meningkatkan konsentrasi plasma dari substrat CYP3A4  terjadi penumpukan plasma akibat kerja enzim dihambat oleh inhibitor.

Contoh Inhibitor
Amiodarone
Amprenavir
Aprepitant
Atazanavir
Chloramphenicol
Clarithromycin
Conivaptan
Cyclosporine
Darunavir
Dasatinib
Delavirdine
Diltiazem
Erythromycin
Fluconazole
Fluoxetine
Fluvoxamine
Fosamprenavir
Imatinib
CYP3A4 Inducers
Bersifat meningkatkan aktivitas CYP3A4
Enzim CYP3A4 rentan terhadap enzim inducers  ditandai menurunnya konsentrasi plasma substrat  mengurangi efisiensi substrat  berkurangnya respon pasien
Contoh Inducers
Aminoglutethimide
Bexarotene
Bosentan
Carbamazepine
Dexamethasone
Efavirenz
Fosphenytoin
Griseofulvin
Modafinil
Nafcillin

Posted in biokimia | Tagged: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

asam amino, protein dan Susu

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Asam Amino dan Protein
Protein merupakan molekul besar (berat molekulnya dapat sampai beberapa juta). Terdapat dalam seluruh sel tubuh. Protein tersusun atas kira-kira 20 macam asam amino yang berikatan satu sama lain dengan ikatan peptida yang dibentuk antara gugus karboksil asam amino dengan gugus amino dari asam amino berikutnya.
Protein pada umumnya diklasifikasikan atas daya larut dan komposisi kimianya. Berdasarkan komposisi kimianya, protein dibagi atas:
1. Simple Protein:
Merupakan protein yang hanya mengandung 1-alfa-asam amino atau derivatnya. Beberapa contoh Simple Protein antara lain: albumin, globulin, glutein, protamin, albuminoid, dan histon.
2. Conjugated Protein:
Merupakan protein yang bergabung dengan zat yang bukan protein. Zat yang bukan protein ini disebut gugus prostetik. Beberapa contoh Conjugated Protein antara lain: nukleoprotein, glikoprotein, fosfoprotein, lipoprotein, dan metalloprotein.
Sifat-sifat struktural protein dianggap berada dalam 4 buah susunan yaitu :
a. Struktur primer : rangkaian asam amino dan lokasi setiap ikatan disulfida dikode dalam gen
b. Struktur sekunder : pelipatan rantai polipeptida menjadimultiplikasi motif terikat hidrogen seperti struktur α-heliks dan β-pleated sheet. Kombinasi motif-motif ini dapat membentuk motif supersekunder.
c. Struktur tersier : hubungan anta-domain struktural sekunder dan antar-residu yang letaknya terpisah jauh dalam pengertian struktur primer.
d. Struktur kwartener : hanya terdapat dalam protein oligomerik ( protein dengan dua atau tiga rantai polipeptida), menjelaskan titik-titik kontak dan hubungan lainnya antara polipeptida atau subunit inti.
Asam amino dan protein secara umum mempunyai sifat-sifat fisik yang sama. Sebagai contoh, asam amino maupun protein mempunyai gugus asam dan basa. Kelarutan protein dalam air juga berbeda, tergantung dari banyaknya ion positif dan ion negatif yang terdapat dalam protein. Protein bila dihidrolisis akan terurai menjadi beberapa jenis asam amino. Aktivitas biologis protein tergantung dari bentuk tiga dimensi asam-asam amino penyusunnya.
Destruksi atas bentuk tiga dimensi suatu protein disebut denaturasi. Bentuk tiga dimensi tergantung atas ikatan hidrogen, ikatan interionik (jembatan garam) dan ikatan disulfida. Suatu agent/zat-zat tertentu yang dapat berinteferensi dengan ikatan-ikatan tersebut dapat mendenaturasi suatu protein. Perubahan-perubahan yang terjadi pada protein akibat denaturasi antara lain adalah berkurangnya daya larut protein, hilangnya aktivitas protein (khususnya untuk enzim dan hormon), berubah atau hilangnya sifat antigen.
Asam amino dapat digolongkan menjadi 7 golongan atas dasar struktur rantai samping R.
Rumus umum asam amino:
COOH
|
H2N — C — H
|
R
Asam amino (asam L-α amino dalam protein) dapat digolongkan menjadi 7 golongan atas dasar struktur rantai samping R. Golongan tersebut adalah:
1. Asam amino dengan rantai samping alifatik, misalnya glisin, alanin, valin, leusin, dan isoleusin.
2. Asam amino dengan rantai samping yang mengandung gugus hidroksil, misalnya serin, treonin, dan tirosin.
3. Asam amino dengan rantai samping yang mengandung sulifur, misalnya sistein dan metionin.
4. Asam amino dengan rantai samping yang mengandung gugus asam atau amida, misalnya asam aspartat, asparagin, asam glutamat, dan glutamin.
5. Asam amino dengan rantai samping yang mengandung gugus basa, misalnya arginin, lisin, dan histidin.
6. Asam amino dengan rantai samping yang mengandung cincin aromatik, misalnya fenil alanin, tirosin, dan triptofan.
7. Asam amino lain, misalnya prolin dan 4-hidroksiprolin.
Asam amino terdapat dalam molekul protein. Akan tetapi, ada juga asam amino yang tidak terdapat dalam molekul protein, misalnya beta alanin, taurin, gamma amino butirat, ornitin, dan sitrulin. Asam amino yang terdapat dalam keadan bebas ini mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme.
Asam amino memiliki beberapa sifat yang khas. Sifat-sifat tersebut di antaranya adalah:
1. Kristal putih yang larut dalam asam dan alkali kuat
2. Beberapa di antaranya mampunyai rasa manis, misalnya glisin, alanin, serin, dan prolin; rasa tawar, misalnya triptofan dan leusin; dan rasa pahit, misalnya arginin
3. Mempunyai atom C asimetris (kecuali glisin) sehingga mempunyai keaktifan optik
4. Bersifat amfoter
5. Pada pH isoelektrik, tidak bergerak dalam medan listrik
Asam amino yang diperlukan oleh tubuh dibagi atas 2 kelompok:
1. Asam amino esensial, yaitu asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga mutlak didapat dari makanan. Contohnya adalah triptofan, fenil alanin, lisin, treonin, valin, metionin, leusin, dan isoleusin.
2. Asam amino non-esensial, yaitu asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh. Asam amino ini juga terdapat dalam makanan sebagai sumber nitrogen.

Susu
Susu merupakan makanan alami yang paling lengkap kandungan nutrisinya. Susu memiliki struktur yang sangat kompleks (terdiri lebih dari 100.000 molekul yang berbeda). Komposisi yang diperkirakan dalam susu adalah:
a. 87.3% air (sekitar 85,5%-88,7%)
b. 3,9% lemak susu (sekitar 2,4%-5,5%)
c. 8,8% padatan bukan lemak (sekitar 7,9%-10,0%), yaitu:
• protein 3,25% (¾ kasein)
• laktosa 4,6%
• mineral 0,65 % yaitu: Ca, sitrat, P, Mg, K, Na, Zn, Cl, Fe, Cu, sulfat, bikarbonat, dan banyak lainnya.
• asam 0,18% misalnya asam sitrat, format, asetat, laktat, oksalat.
• enzim-enzim, misalnya peroksidase, katalase, fosfatase, lipase.
• gas-gas, misalnya oksigen, nitrogen.
• vitamin-vitamin, misalnya vitamin A, C, D, tiamin, riboflavin dan lainnya.
Hal ini membuat penggunaan susu cocok untuk semua jenis umur dan susu dapat memproduksi makanan penting, seperti mentega dan keju. Susu mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan lain-lain. Kekurangan dari susu adalah kandungannya yang rendah terhadap zat besi, tembaga, vitamin C dan vitamin D.
Perbedaan antara susu manusia dengan susu sapi adalah pada kandungan protein dan abu yang lebih tinggi pada susu sapi dan kandungan karbohidrat yang lebih tinggi pada susu manusia. Berikut ini adalah komposisi dari susu sapi:
• 88% air
• 3,3% protein
• 3,3% lemak
• 4,7% karbohidrat
• 0,7% abu
Modifikasi dari susu sapi untuk nutrisi bayi disempurnakan dengan pengenceran dengan air untuk menurunkan kadar abu dan proteinnya, serta untuk meningkatkan laktosa atau karbohidrat lain sejumlah kira-kira susu manusia. Penampilan susu yang putih dapat disebabkan oleh lemak yang teremulsi atau karena adanya garam kalsium dari kasein. Warna kuning yang terbentuk disebabkan oleh pigmen karotenoid, contohnya karoten. Susu segar memiliki pH antara 6,6 sampai 6,8. Susu yang tidak steril capat menjadi asam dan menunjukkan adanya fermentasi oleh mikroorganisme.
Distribusi dari konstituen inorganik sangat mirip antara susu manusia dan susu sapi. Hal yang penting untuk diperhatiakn adalah kandungan yang tinggi dari kalsium, fosfor, kalium, magnesium dan klor. Susu mungkin merupakan sumber kalsium dan fosfor yang ideal dalam nutrisi. Kedua elemen ini penting untuk semua sel dan diperlukan dalam jumlah yang besar untuk pembentukan tulang dan gigi. Aktivitas sekresi dan kelenjar mammae mencapai perbedaan yang besar pada konsentrasi konstituen inorganik dalam darah dan susu. Rasio molar susu dibandingkan dengan konsentrasi darah menunjukkan bahwa kandungan natrium dan flor dari susu jelas lebih rendah dari plasma, dimana kandungan kalsium, kalium, magnesium, dan fosfat sangat tinggi.
Susu murni mentah mengandung beberapa enzim diantaranya katalase, dehidrogenase dan peroksidase. Bila susu dipasteurisasi, maka enzim-enzim tersebut akan rusak. Untuk enzim dehidrogenase, dapat digunakan tes Schardinger yang berdasarkan reduksi biru metilen oleh dehidrogenase membentuk leukobirumetilen yang tidak berwarna. Hidrogen untuk reaksi ini diperoleh dari formalin.

III. Alat dan Bahan

Alat : Tabung reaksi dan rak Penangas air
Indikator universal Beaker glass
Kertas saring Kaca arloji
Pembakar spiritus Batang pengaduk
Pipet tetes Gelas ukur
Corong Kaki tiga dan kasa

Bahan : Larutan albumin 2 % Serbuk albumin
Larutan putih telur Larutan kasein 2%
Larutan fenol 2% Larutan (NH4)2SO4
Susu murni Pereaksi Millon
Pereaksi Hopkins-Cole Pereaksi Ninhidrin 0,1%
Pereaksi Guaiac H2SO4 pekat
Larutan NaOH 10% Larutan CuSO4
Urea HNO3 pekat
NaOH atau NH4OH pekat Etanol 95%
HgCl2 2% Pb-asetat 2%
FeCl3 2% Larutan H2O2 3%
Larutan eter Larutan eter-etanol
Indikator pp dan mm Biru metilen 0,02%
Formaldehid 0,4% Aquadest

IV. Cara Kerja
Percobaan asam amino dan protein

Tes Millon
Reaksi ini disebabkan oleh derivat-derivat monofenol seperti tirosin. Pereaksi yang digunakan adalah larutan ion merkuri/merkuro dalam asam nitrat/nitrit. Warna merah yang terbentuk mungkin disebabkan oleh garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi.
Metode :
Tambahkan 3 tetes pereaksi Millon ke dalam tabung reaksi yang telah berisi 2 ml albumin, kasein, fenol 2% dan putih telur. Panaskan campuran dengan hati-hati. Warna merah menyatakan hasil positif, jika reagen yang digunakan terlalu banyak maka warna akan hilang dengan pemanasan.

Tes Hopkins-Cole
Pereaksi yang digunakan mengandung asam diglioksilat. Triptofan berkondensasi dengan aldehida, dan dengan asam pekat membentuk kompleks berwarna dari jenis asam 2,3,4,5-tetrahidro-karbolin-4-karboksilat.
Metode :
Campurlah 2 ml larutan albumin 2%, kasein, dan putih telur dengan larutan Hopkins-Cole. Tambahkan dengan hati-hati melalui dinding tabung asam sulfat pekat. Amati warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan.

Tes Ninhidrin
Semua asam amino alfa bereaksi dengan ninhidrin membentuk aldehida dengan satu atom C lebih rendah dan melepaskan NH3 dan CO2. Disamping itu, terbentuk kompleks berwarna biru yang disebabkan oleh 2 molekul ninhidrin yang bereaksi dengan NH3 setelah asam amino tersebut dioksidasi. Garam-garam ammonium, amina, peptida, dan protein juga bereaksi tetapi tanpa melepaskan CO2 dan NH3.
Metode :
Dalam tabung reaksi yang berisi larutan 2 mL (NH4)2SO4, 2 mL albumin 2%, 2 mLl kasein 2%, dan 2 mL putih telur ditambah 0,5 ml larutan Ninhidrin 0,1%. Letakkan pada pemanas air mendidih selama 10 menit.

Tes Biuret
Merupakan test umum yang baik untuk protein. Warna yang terbentuk kemungkinan berasal dari kompleks antara ion Cu++ dengan gugus –CO dan –NH ikatan peptida dalam suatu alkalis.
Metode :
1. Campurlah 2 ml larutan albumin 2% dengan 2 ml NaOH 10% dan tambahkan setetes larutan CuSO4. Campurlah dengan baik, jika belum terbentuk warna tambahkan lagi setetes atau 2 tetes CuSO4. ulangi test ini dengan larutan kasein dan putih telur.
2. Isilah tabung reaksi dengan sedikit urea, panaskan di atas api kecil sehingga zat tersebut mencair dan terbentuk gelembung-gelembung gas (hati-hati jangan sampai mengarang) perhatikan bau gas yang terbentuk. Larutkan isi tabung tersebut dengan air dan lakukan test Biuret seperti di atas.

Tes Xanthoprotein
Reaksi ini berdasarkan nitrasi inti benzen yang terdapat dalam molekul protein. Senyawa nitro yang terbentuk berwarna kuning dan dalam lingkungan alkalis ia terionisasi dengan bebas dan warnanya menjadi lebih tua atau menjadi jingga.
Metode :
Campurlah 2 ml larutan albumin 2% dengan 1 ml HNO3 pekat. Perhatikan terbentuknya endapan berwarna putih. Panaskan hati-hati, endapan akan larut kembali dan larutan tersebut akan berubah menjadi kuning. Dinginkan di bawah kran dan dengan hati-hati (tetes demi tetes) tambahkan dengan larutan alkali pekat (NaOH atau NH4OH). Ulangi percobaan larutan kasein, larutan fenol 2%, dan larutan putih telur.

Pengaruh Logam Berat
Metode :
Ke dalam 2 ml larutan albumin 2% da larutan putih telur ditambahkan 3 tetes larutan HgCl2 2%. Ulangi percobaan dengan menggunakan 2 ml Pb-asetat 2% dan 2 ml FeCl3 2%.

Koagulasi Protein dengan Pemanasan
Metode :
Isilah 2 tabung reaksi dengan 50 mg serbuk albumin. Tambahkan 5 ml air pada salah satu tabung. Letakkan kedua tabung pada pemanas air mendidih dengan sering-sering mengocoknya selama 15 menit, angkat keduanya, dinginkan dan tambahkan dengan 5 ml air pada tabung yang berisi albumin kering. Kocok keduanya lalu saring, pada filtrat lakukan test Biuret.
Koagulasi Protein dengan Pemanasan
Metode :
1. isilah 2 tabung reaksi dengan 50 mg serbuk albumin.
2. tambahkan 5 ml air pada salh satu tabung.
3. letakkan kedua tabung pada pemanas air mendidih dengan sering-sering mengocoknya selama 15 menit, angkat keduanya, dinginkan dan tambahkan dengan 5 ml air pada tabung yang berisi albumin kering.
4. kocok keduanya lalu saring, pada filtrat lakukan test Biuret.

Reaksi Susu
Pereaksi pH susu dengan fnolftalein, metil merah dan indikator universal.

Test Protein
Lakukan test Millon dan Biuret terhadap sejumlah kecil susu.

Pembentukan Film (selaput)
Metode :
1. Panaskan 10 ml susu murni hingga mendidih di dalam gelas kimia yang terbuka.
2. Ambil selaput yang terbentuk di atas permukaan susu, lakukan pemeriksaan dengan Millon dan Biuret.
3. Dinginkan dan ulangi pemanasan.

Membedakan Suhu Mentah dan Susu yang Telah Dipasteurisasi
Susu murni mentah mengandung beberapa enzim, diantaranya yaitu katalase, dehidrogenase,dan peroksidase. Bila susu dipasteurisasi, enzim-enzim tersebut menjadi rusak.
Metode :
1. Test Guaiac (untuk katalase)
Campurlah 2 ml susu mentah dengan 8 ml air. Bagilah larutan menjadi 2 bagian, masukkan masing-masing bagian ke dalam tabung reaksi yang diberi tanda a dan b. Panaskan tabung a hingga mendidih kemudian dinginkan. Kedalam dua tabung tadi ditambahkan 10 tetes larutan guaiac dalam alkohol dan beberapa tetes H2O2 3%, campur baik-baik dan panaskan dalam penangas air 37C.

2. Test Schardinger (untuk dehidrogenase)
Test ini berdasarkan reduksi biru metilen oleh dehidrogenase membentuk leukobirumetilen yang tidak berwarna. Hidrogen untuk reduksi ini diperoleh dari formaldehid.
Metode : isilah sebuah tabung reaksi dengan 5 ml susu mentah dan tabung lain dengan 5 ml susu yang telah dipasteurisasikan. Tambahkan pada masing-masing tabung 1 ml larutan biru-metilen 0,02% dan 1 ml larutan formaldehid 0,4%. Campur, dengan baik dan panaskan pada penangas air pada suhu 60-65C (jaga suhu jangan sampai melebihi 67C).

Pembuatan Kasein
Panaskan 25 ml susu dalam penangas air pada suhu 40C. Tambahkan tetes demi tetes 1 ml asam asetat glacial sambil diaduk sehingga semua kasein mengendap. Saring endapannya dengan kain dan hilangkan airnya. Suspensikan endapan dalam 25 ml etanol 95%, dekantasi dan buang supernatant, ulangi dengan 25 ml larutan eter-etanol 1:1. gunakan pula 25 ml larutan eter-etanol untuk memindahkan kasein ke dalam corong Buchner, cuci dengan 25 ml eter, keringkan endapan tersebut di atas kaca arloji.
1. periksalah daya larut kasein dalam NaCl 10%; NaOH 0,1 N; HCl 0,2 N; Na2CO3 0,5%; Ca(OH)2 jenuh.
2. lakukan test-test Biuret, Millon, Xanthoprotein, dan Hopkins Cole untuk protein.

V. Pengamatan dan Pembahasan
Percobaan asam amino dan protein

Test Millon
Larutan Uji Sebelum dipanaskan Setelah dipanaskan Hasil Uji
Albumin Ada yang menggumpal Larutan dengan endapan putih dan merah +
Kasein Ada endapan Menggumpal, koagulan putih dan merah +
Fenol 2% jernih Jernih -
Putih Telur Ada yang menggumpal Menggumpal, koagulan merah dan putih +

Jawaban Pertanyaan:
1. Jika garam merkuri ditambahkan ke dalam protein akan terbentuk warna merah dan putih.
2. Larutan protein terkoagulasi karena protein mengalami destruksi bentuk dimensi dan perubahan konformasi dari rantai polipeptida yang ikatannya akan pecah tanpa mengakibatkan pemecahan ikatan kovalen dari ikatan peptidanya. Denaturasi protein menyebabkan daya larut protein tersebut menjadi lebih mudah terkoagulasi

Pembahasan
Baik Albumin, kasein, maupun putih telur memberikan hasil (+) terhadap test Millon. Hal ini dikarenakan pada Albumin, Kasein, dan putih telur mengandung derivat monofenol.
Reaksi ini didasari bahwa bila suatu protein ditambahkan garam merkuri, maka akan terjadi koagulasi. Protein dapat terkoagulasi karena protein mengalami destruksi bentuk tiga dimensi dari rantai polipeptida yang ikatannya akan pecah tanpa mengakibatkan pemecahan ikatan kovalen dari ikatan peptidanya. Dasar inilah yang menjelaskan mengapa fenol yang dalam hal ini merupakan golongan non protein, tidak mengalami koagulasi sehingga memberikan hasil yang negatif.

Test Hopkins-Cole
Larutan uji + larutan Hopskins-Cole + H2SO4 Hasil uji
Albumin 2 % Tidak berubah Larutan ungu bening dengan cincin di bagian bawah +
Kasein Ada endapan putih Bagian atas putih, bagian bawah ungu +
Putih telur 2 lapisan Bagian atas putih-kekuningan, bagian bawah ungu +

Jawaban Pertanyaan
1. Yang tidak memberikan hasil uji positif : Tidak ada, karena semua mengandung triptofan.

Pembahasan
Pereaksi Hopkins-Cole terdiri dari asam glioksilat (CHO.COOH) dalam H2SO4 (p). Triptofan diduga berkondensasi dengan aldehida ini,dan dengan asam pekat membentuk kompleks berwarna dari jenis asam 2,3,4,5-tetrahidro-β-karbolin-4-karboksilat.
Test ini berhasil bila terdapat oksidator kuat seperti nitrat dan klorat. Asam sulfat yang digunakan harus sangat murni yang berarti tidak mengandung bahan-bahan yang bertindak sebagai oksidator.
Hasil positif (membentuk cincin ungu) diberikan oleh ketiga larutan uji, yaitu albumin, kasein, dan putih telur. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dalam ketiga zat terdapat asam amino triptofan. Warna ungu diberikan oleh gugus indol yang terdapat dalam triptofan.

Reaksi dari test Hopkins-Cole yaitu:

Test Ninhidrin
Tabung Hasil Pengamatan
(NH4)2SO4 Bening (jernih)
Albumin 2 % Ungu pekat
Kasein 0,2 % Ungu
Putih Telur Merah keunguan

Jawaban Pertanyaan
1. Terbentuk warna : ungu atau biru
2. Gugus yang memberikan uji positif : aldehida dengan satu atom C lebih rendah

Pembahasan
Reaksi ini merupakan reaksi deaminasi serin dekarboksilasi dan menghasilkan gas CO2, gas NH3, hidrindatin, dan suatu aldehid yang mempunyai jumlah atom C kurang satu dari asam amino semula. Gas NH3 yang dibebaskan dan hidrindantin akan bereaksi kembali dengan ninhidrin dan menghasilkan suatu senyawa kompleks diketohidrindilena-diketohidrinamina yang berwarna ungu atau biru. Semua alfa amino, peptida, dan protein akan memberi warna ungu atau biru dengan ninhidrida. Disamping asam alfa amino, senyawa amina yang lain juga akan bereaksi dengan ninhidrin dan menghasilkan senyawa yang berwarna biru. Perbedaannya reaksi yang terakhir ini tidak menghasilkan gas CO2.
Hasil pengamatan oleh kelompok kami menunjukkan bahwa albumin, kasein, dan putih telur memberi hasil positif, yang berarti ketiga zat tersebut mengandung asam amino α. Sedangkan (NH4)2SO4 memberi hasil negatif.

Test Biuret
Larutan uji + NaOH + CuSO4 Hasil Uji
Albumin 2% Bening Kompleks ungu yang larut +
Kasein Bening Kompleks ungu yang larut +
Putih telur Membentuk 2 lapisan Kompleks ungu yang larut +

Perlakuan Hasil
Urea serbuk putih
Panaskan mencair, terbentuk gelembung gas dan bau amoniak
+ Aqua larutan jernih
+ 2 ml NaOH larutan jernih
+ 1 tetes CuSO4 ungu

Jawaban Pertanyaan
1. Terbentuk warna : ungu
2. Kelebihan CuSO4 harus dihindari karena :
• Cu merupakan logam berat. Jika penggunaannya terlalu banyak maka albumin akan terdenaturasi membentuk koagulan.
• Pada suasana alkalis akan terbentuk Cu(OH)2 dari reaksi :
Cu2+ + 2OH-  Cu(OH)2 (ungu)
Cu2+ berwarna biru intensif, jika berlebihan akan mengakibatkan warna ungu terkalahkan sehingga hasilnya negatif
3. Reaksi pembentukan Biuret dari urea

CO(NH2)2 + NaOH + CuSO4 kompleks Cu

Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan, albumin, kasein, dan putih telur memberikan warna ungu (hasil positif). Warna ungu yang terbentuk adalah senyawa biuret. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa albumin, kasein, dan putih telur memiliki paling sedikit dua ikatan peptida.
Urea bukan merupakan protein, namun karena urea mengandung gugus –NH2 (amin) yang mempunyai kesamaan dengan gugus protein sehingga membentuk warna ungu sebagai hasil reaksi antara Cu2+ dengan –NH. Oleh karena itu urea memberikan hasil positif pada uji biuret. Pada pemanasan urea terbentuk gelembung gas dan mengeluarkan bau amoniak yang sangat menyengat.

Test Xanthoprotein

a.
Tabung Hasil pengamatan
Penambahan HNO3 Dipanaskan Pendinginan, penambahan NaOH Keterangan

Larutan atas Larutan bawah
Albumin 2% Gumpalan putih pada bagian atas, larutan bagian bawah berwarna kuning muda Kuning keputihan Kuning jingga Kuning keputihan
Kasein 2% Ada endapan kuning, larutan kuning Kuning muda keruh Kuning jernih Kuning
Fenol Larutan merah coklat Hijau muda, ada gumpalan kuning Kuning Hijau muda
Putih telur Gumpalan kuning putih Kuning tua keruh Kuning jingga Kuning

b. Bau gas: bau amoniak
Test Biuret: kompleks warna biru

Jawaban Pertanyaan
1. Pada test ini yang terjadi adalah terbentuknya senyawa nitro yang berwarna kuning, dan dalam lingkungan alkalis akan terionisasi dengan bebas dan warnanya berubah menjadi jingga.

Pembahasan
Pereaksi Xanthoprotein terdiri dari HNO3 pekat panas. Reaksi ini digunakan untuk asam amino tirosin, triptofan dan fenilalanin. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna kuning. Reaksi ini berdasarkan nitro inti benzene yang terdapat dalam molekul protein. Senyawa nitro yang terbentuk berwarna kuning dan dalam lingkungan alkalis akan terionisasi dengan bebas dan warnanya menjadi lebih tua atau menjadi jingga
Berdasarkan hasil percobaan, albumin, kasein, putih telur, dan fenol memberikan hasil positif (terbentuk warna kuning menjadi jingga). Hal ini menunjukkan bahwa keempat larutan uji tersebut memiliki inti benzene. Reaksi ini berdasarkan nitrasi inti benzene yang terdapat dalam molekul protein. Untuk fenol, reaksi ini positif karena pada fenol terdapat inti benzen.

Pengaruh Logam Berat
Tabung Hasil Pengamatan
HgCl2 2 % Pb Asetat 2 % FeCl3 2%
Albumin 2 % Endapan putih di bawah Endapan putih di bawah Tidak ada endapan (orange merata)
Putih Telur Endapan putih di atas Endapan putih di atas Endapan orange di atas

Jawaban Pertanyaan
1. Hasil yang terbentuk : albumin akan membentuk gumpalan dengan adanya logam berat.
2. Putih telur digunakan sebagai antidotum terhadap keracunan logam berat karena putih telur mengandung albumin, sehingga apabila tubuh keracunan logam berat maka ion logam berat tersebut akan bereaksi dengan albumin membentuk koagulan sehingga logam berat tersebut tidak akan mengganggu atau merusak aktivitas enzim lain di dalam tubuh.

Pembahasan
Garam-garam dari logam berat seperti Hg2+, Ag+ dan Pb2+ dapat berikatan dengan gugus –SH dari protein. Disamping itu dapat membentuk ikatan yang sangat kuat dengan gugus –COO- dari asam aspartat dan asam glutamat yang terdapat dalam molekul protein pecah sehingga proteinnya sendiri akan mengendap. Dengan terjadinya pengendapan atau disebut juga koagulasi, protein mengalami perubahan konformasi serta posisinya sehingga aktivitasnya berkurang atau kemampuannya untuk menunjang aktivitas organ tubuh tertentu akan hilang. Berdasarkan hasil percobaan, pada albumin dan putih telur dengan logam Hg dan Pb akan terjadi koagulasi, tapi dengan logam Fe tidak terjadi koagulasi.

Koagulasi Protein dengan Pemanasan
Larutan uji Pengamatan Hasil Uji
I Terbentuk endapan berwarna ungu +
II Terbentuk endapan berwarna ungu +

Jawaban Pertanyaan
1. Pada koagulasi protein dengan pemanasan diperlukan air.

Pembahasan
Koagulasi adalah proses penggumpalan, sedangkan denaturasi adalah inaktivasi protein.
Pemberian energi berupa panas akan memutuskan ikatan hidrogen dan akan menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. Penambahan air pada koagulasi protein dengan pemanasan diperlukan air karena jika tidak ada air maka koagulasi protein tidak akan terjadi. Protein yang tanpa air dengan pemanasan akan terjadi denaturasi tetapi tidak terjadi koagulasi. Denaturasi tidak selalu disertai dengan koagulasi.
Serbuk albumin yang ditambah air sebelum pemanasan sudah mengalami koagulasi, namun pada serbuk albumin yang tidak ditambahkan air, koagulasi tidak terjadi walaupun sudah dipanaskan. Baru setelah ditambah air, koagulasi dapat terjadi. Dari serbuk albumin yang ditambahkan air, setelah ditambahkan pereaksi biuret terbentuk warna ungu yang lebih muda dibandingkan dengan albumin yang dipanaskan tanpa air.

Percobaan Susu

Reaksi Susu

Larutan Uji Perlakuan Warna blangko indikator Pengamatan warna pH
Susu + fenolftalein Jernih Putih (tidak berubah) 7
Susu + metil merah Merah Orange 7
Susu + indikator universal Putih putih 7

Pembahasan
Pada pemeriksaan pH dengan menggunakan fenolftalein, setelah diberi pereaksi fenolftalein 3 tetes, warna susu tidak berubah (putih). Apabila dilihat dari trayek pH fenolftalein yang berkisar antara pH 8,3-10, dengan perubahan warna dari tidak berwarna sampai ungu, maka dapat disimpulkam bahwa pH susu berada di antara < 8,3.
Pada pemeriksaan pH dengan menggunakan metil merah, diperoleh warna susu yang berubah menjadi jingga. Jika dilihat dari rentang pH metil merah yang berkisar antara 4,2-6,3 dengan warna merah sampai kuning, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pH susu lebih dari 6,3.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan indikator universal, didapat hasil bahwa pH susu adalah 7.

Test Protein pada Susu
Larutan Uji Pengamatan Hasil Uji
Susu + test Millon Endapan orange kemerahan +
Susu + test Biuret Larutan ungu +

Pembahasan
Susu mengandung protein. Hal ini terlihat dari hasil test Biuret yang menunjukkan hasil positif berupa terbentuknya larutan berwarna ungu. Test Biuret digunakan untuk reaksi umum protein, sedangkan untuk test Millon menunjukkan hasil positif berupa terbentuknya gumpalan berwarna merah. Test Millon digunakan untuk menunjukkan asam amino, bahwa asam amino yang memberikan hasil positif adalah tirosin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asam amino yang terdapat dalam susu adalah tirosin.

Pembentukan Film (selaput)
Perlakuan Hasil Pengamatan
Pemanasan Terbentuk selaput
Test Millon Orange
Test Biuret Larutan ungu
Didinginkan, kemudian dipanaskan kembali Terbentuk selaput

Jawaban Pertanyaan
1. Yang membentuk selaput : protein
2. Pada pemanasan selanjutnya masih terbentuk selaput.

Pembahasan
Pada pemanasan susu murni hingga mendidih, akan dapat kita lihat pada bagian atas permukaan larutan susu adanya selaput (seperti film tipis). Selaput kemudian dites dengan peraksi Millon dan ternyata diperoleh hasil yang positif dengan adanya endapan berwarna merah. Hal ini menunjukkan bahwa pada selaput yang terbentuk mengandung asam amino tirosin. Sedangkan, pada pengetesan dengan Biuret, hasil yang diperoleh juga positif yaitu dengan adanya warna larutan ungu, yang berarti bahwa selaput mengandung protein. Setelah dididihkan ulang, ternyata selaput kembali terbentuk pada permukaan cairan susu.
Selaput terbentuk dari protein susu (kasein) yang menggumpal akibat adanya pemanasan. Pemanasan mengakibatkan denaturasi protein sehingga mengakibatkan koagulasi protein, yang ditandai dengan munculnya selaput tipis pada permukaan atas susu yang dididihkan.
Pada pemanasan kembali, tidak terbentuk selaput. Hal ini disebabkan karena masih ada lagi protein yang tertinggal setelah pemanasan.

Membedakan Susu Mentah dan Susu yang Telah Dipasteurisasi
1. Test Guaiac
Larutan Uji Pengamatan Kesimpulan
Susu mentah Terbentuk warna jingga +
Susu dipasteurisasi Warna tetap putih -

Jawaban Pertanyaan
Yang terlihat dalam test Guaiac ini adalah tabung yang berisi susu yang telah dipasteurisasi memberikan hasil negatif (warna larutan putih), sedangkan tabung yang berisi susu mentah memberikan hasil positif (warna larutan menjadi jingga). Hal ini berarti enzim katalse terdapat dalam susu mentah dan tidak terdapat dalam susu yang telah dipasteurisasi.

Pembahasan
Test Guaiac akan memberikan hasil positif pada enzim katalase. Enzim katalase terdapat pada susu yang belum dipasteurisasi. Reaksi yang dikatalisis oleh enzim katalase adalah :
H2O2 katalase H2O + O2
Gas O2 yang terbentuk akan mengubah larutan guaiac dalam alkohol menjadi berwarna jingga. Pada hasil percobaan, tabung yang berisi susu mentah memberikan hasil positif terhadap test guaiac karena enzim katalase terdapat dalam susu mentah. Sedangkan tabung yang berisi susu yang telah dipasteurisasi tetap berwarna putih karena dalam susu yang telah dipasteurisasi, tidak terdapat lagi enzim katalase karena enzim itu telah rusak saat pemanasan (pasteurisasi).
Enzim katalase berperan penting dalam tubuh untuk mengubah senyawa H2O2 yang berbahaya, yang dapat mengubah Fe2+ menjadi Fe3+ yang dapat menyebabkan tidak terbentuknya ATP melalui respirasi.

2. Test Schardinger

Larutan Uji Pengamatan Kesimpulan
Susu mentah Warna biru menjadi putih +
Susu dipasteurisasi Tetap warna biru -

Jawaban Pertanyaan
a. Yang terlihat : pada susu yang masih murni (mentah) masih terdapat aktivitas dari enzim dehidrogenase, sehingga pada saat pemanasan dapat mereduksi metilen biru (warna biru berubah menjadi putih). Sedangkan pada susu yang telah dipasteurisasi, susu tersebut kehilangan aktivitas enzim dehidrogenase yang mengakibatkan susu tersebut tidak dapat mereduksi metilen biru (warna biru tidak berubah).

b. Di bagian atas campuran terlihat warna biru karena biru metilen yang sudah direduksi oleh enzim dehidrogenase menjadi leukobirumetilen mengalami oksidasi kembali oleh udara sehingga menjadi biru metilen kembali (warna larutan susu akan menjadi biru kembali).

Pembahasan
Test ini berdasarkan reduksi biru metilen oleh enzim dehidrogenase pembentuk leukobirumetilen (MbH2) yang tidak berwarna. Hidrogen yang diperoleh dari formaldehid digunakan untuk mereduksi. Atom H yang terjadi oleh enzimnya segera diikat pada oksigen atau atom H diikat oleh akseptor birumetilen (Mb), maka terjadilah air atau leukobirumetilen yang tidak berwarna. Hanya susu murni (yang tidak dipanaskan) akan memberikan hasil positif terhadap reaksi tersebut (karena enzim dehidrogensenya rusak). Oleh karena itu, reaksi ini dapat digunakan untuk menemukan kesegaran susu murni. Pada susu yang telah dipasteurisasi, enzim dehidrogenase telah rusak sehingga tidak dapat mereduksi birumetilen dan warna larutan tetap biru.

Pembuatan Kasein
1. Daya Larut Kasein
Larutan Daya Larut
NaCl 10 % Tidak larut
NaOH 0,1 N Larut
HCl 0,2 N Praktis tidak larut
Na2CO3 0,5 % Larut
Ca(OH)2 Larut

Pembahasan
Pada larutan NaOH 0,1 N dan Na2CO3 0,5 % kasein larut dengan pengocokan serta pengadukan yang sangat kuat. Pada larutan Ca(OH)2 kasein agak sukar larut, ditandai dengan keruhnya larutan yang terbentuk. Sedangkan pada NaCl 10 % dan HCl 0,2 N kasein tidak larut, ditandai dengan tetap menggumpal pada larutan.

2. Uji Protein
Uji Hasil Pengamatan
Test Millon Endapan kemerahan
Test Biuret Larutan ungu
Test Xantoprotein Kuning jingga
Test Hopkins-Cole Terbentuk cincin ungu

Pembahasan
Pada tes Millon, hasil yang diberikan adalah positif dengan adanya warna merah. Hal ini menunjukkan bahwa kasein mengandung asam amino dengan gugus monofenol (asam amino tirosin). Pada tes Biuret, hasil yang diberikan juga positif dengan adanya warna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa kasein adalah suatu protein. Dengan tes Xanthoprotein, hasilnya positif yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna kuning. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kasein merupakan protein yang memiliki asam amino yang mengandung gugus aromatik atau inti benzen (misalnya asam amino fenilalanin, tiptofan dan tirosin). Pada tes Hopkins-Cole, hasil yang diperoleh juga positif dengan terentuknya cincin ungu. Hal ini menunjukkan bahwa kasein mengandung asam amino triptofan.

VI. Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa asam amino dan protein dapat diidentifikasi dengan cara :
a. Test Millon untuk protein yang mengandung tirosin
b. Test Hopkins-Cole untuk protein yang mengandung triptofan
c. Test Biuret yang merupakan tes umum untuk protein
d. Test Ninhidrin untuk protein yang memiliki gugus asam alpha-amino
e. Test Xanthoprotein untuk asam amino yang mempunyai inti benzene
Perbedaan susu mentah dan susu yang telah dipasteurisasi dapat ditunjukkan dengan pemanasan, karena dengan pemanasan dapat merusak enzim yang terdapat pada susu. Test untuk membedakannya adalah :
a. Test Guaiac untuk enzim katalase
b. Test Schardinger untuk enzim dehidrogenase
Koagulasi dapat terjadi karena susu mengalami denaturasi. Faktor-faktor yang dapt menyebabkan denaturasi adalah :
a. Pengaruh logam berat
b. Dengan pemanasan
c. Dengan penambahan asam

Posted in biokimia | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Elixir

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Sirup adalah Sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%

Sirup dibagi menjadi 2 :
1. Non Medicated Syrup/Flavored vehicle Sirup
Contoh:Cherry Syrup, Cocoa Syrup, orange syrup.
Medicated syrup/ sirup obat
Contoh:Sirup Piperazina Sitrat, Sirup Isoniazid.

Komponen Sirup

1. Gula atau pengganti gula
2. Pengawet antimikroba
3. Pembau
4. Pewarna
5. Juga banyak sirup-sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan, mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.
Pembuatan Sirup

Melarutkan bahan – bahan dengan bantuan pemanasan.
Melarutkan bahan – bahan dengan pengadukan tanpa pemanasan.
Penambahan sukrosa pada cairan obat yang dibuat atau pada cairan yang diberi rasa.
Perkolasi dan Maserasi

1.Larutan yang dibuat dengan pemanasan
Sirup yang dibuat dengan cara ini apabila:
a. dibutuhkan pembuatan sirup secepat mungkin.
b. komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas.
Pada cara ini umumnya gula ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan terbentuk.
Contoh : Sirup akasia, Sirup cokelat
2. Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas
Menghindari panas yang meransang inverse sukrosa
Proses ini memakan waktu lebih lama
mempunyai kestabilan yang maksimal.
Bila bahan padat akan ditambahkan ke sirup, yang paling baik adalah melarutkannya dalam sejumlah air murni dan kemudian larutan tersebut digabungkan ke dalam sirup.
Contoh: Sirup ferro Sulfat.
3. Penambahan sukrosa ke dalam cairan obat/cairan pemberi rasa

Adakalanya cairan obat seperti tinktur atau ekstrak cair digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup.
Banyak tinktur dan ekstrak seperti itu mengandung bahan – bahan yang larut dalam alcohol dan dibuat dengan pembawa beralkohol atau hidroalkohol.
Jika komponen yang larut dalam alcohol dibutuhkan sebagai bahan obat dalam suatu sirup, beberapa cara kimia umum dapat dilakukan agar bahan – bahan tersebut larut di dalam air. Akan tetapi apabila komponen yang larut dalam alcohol tidak dibutuhkan, komponen – komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan mencampur tinktur atau ekstrak tersebut dengan air, campuran dibiarkan sampai zat – zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dan menyaringnya dari campuran. Filtratnya adalah cairan obat yang kepadanya kemudian ditambahkan sukrosa dalam sediaan sirup. Pada kondisi lain, apabila tinktur dan ekstrak kental dapat bercampur dengan sediaan berair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atu sirup pemberi rasa sebagai obat.
Contoh sirup yang dibuat dengan cara ini adalah : Sirup Senna.

Cara Pembuatan Sirup Simplek
Pembuatan sirup simplesia
Cara maserasi, contoh: Althaeae sirup.
Cara perkolasi, contoh: sirup Aurantii Corticis.

Maserasi
Perkolasi
Contoh Resep

R/ Acetaminophen 2.4
As. Benzoat 0.1
Propylenglicol 15 ml
Alkohol 15 ml
Syr. Simpleks 20 ml
Air ad 200

Pengerjaan Resep 1
Cara pembuatan :
Tara botol 200 ml.
Ambil bahan – bahan syrup yang diperlukan.
Tara Syr.Simpleks 20 ml di dalam botol/wadah syrup.
Ambil 2.4 gram Acetaminophen lalu larutkan dengan alcohol, ketika sudah benar – benar larut tambahkan pemanis ( Propylen Glikol ) ke dalamnya dan tambahkan sedikit air.
Setelah larut tambahkan pengawet (As.Benzoat yang telah dilarutkan dalam air mendidih sambil diaduk) kemudian campur larutan hingga merata & larut sempurna.
Terakhir, tambahkan air hingga tercapai volume yang diinginkan.
Masukkan semua campuran ke dalam botol yang berisi Syr.Simpleks dan kocok.
Beri label & etiket pada botol.
Note:kelarutan acetaminophen dalam alkohol 1:7, dalam air 1:70

Contoh Resep
R/ Chlorpheniramin Maleat 0.04
Glycerin 2.5 ml
Sirup 8.3 ml
Lart.Sorbitol 28.2 ml
Na-Benzoat 0.1
Alkohol 6
Aq ad 100
Syrup antihistamin untuk pencegahan & pengobatan reaksi – reaksi alergi.

Pengerjaan Resep 2
Cara pembuatan :
Kalibrasi botol 100 ml.
Ambil bahan – bahan syrup yang diperlukan.
Ambil syrup 8.3 ml dalam botol / wadah syrup.
Timbang 40 mg Chlorpheniramin Maleat, gerus dan larutkan dengan air secukupnya hingga benar – benar larut.
Masukkan Gliserin 2.5ml ke dalam campuran, aduk merata.
Tambahkan pemanis ( Lart.Sorbitol ) ke dalam campuran dan aduk lagi hingga merata.
Masukkan pengawet Na-Benzoat ke dalam campuran syrup, aduk merata sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit.
Tambahkan air hingga tercapai volume syrup yang diingnkan (100ml).
Masukkan semua campuran kedalam botol yang telah berisi syrup sebelumnya, beri etiket dan label.

ELIKSIR
Adalah cairan jernih, rasanya manis, larutan hidroalkohol digunakan untuk pemakaian oral, umumnya mengandung flavuoring agent untuk meningkatkan rasa enak
Eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol.
Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan.
 Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar.
 Kadar alkohol berkisar antara 10-12%.
 Umumnya konsentrasinya 5-10%.
 Namun, ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja, dan yang tertinggi dapat mencapai 44%.
Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula, namun terkadang digunakan sorbitol, glycerinum, dan saccharinum.

ELIKSIR DAN SIRUP

Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung gula lebih sedikit maka kurang efektif dibanding dengan sirup di dalam menutupi rasa obat yang kurang menyenangkan.
Eliksir mudah dibuat larutan, maka lebih disukai dibanding sirup.

PEMBAGIAN ELIKSIR
Medicated Elixirs
yang mengandung bahan berkhasiat obat
Medicated Elixirs
yang digunakan sebagai bahan tambahan

MEDICATED ELIXIRS
Pemilihan cairan pembawa bagi zat aktif obat dalam sediaan eliksir harus mempertimbangkan kelarutan dan kestabilannya dalam air dan alkohol.

NON MEDICATED ELIXIRS
 Ditambahkan pada sediaan dengan tujuan:
 Meningkatkan rasa/menghilangkan rasa.
 Sebagai bahan pengencer eliksir yang mengandung bahan aktif obat.

 Bila Non Medicated Elixirs akan digunakan sebagai bahan pengencer Medicated Elixirs, kandungan akhir alkohol dalam sediaan perlu diperhitungkan

 Karakteristik rasa dan warna yang terdapat dalam Non Medicated Elixirs jangan bertentangan dengan Medicated Elixirs secara umum dan dengan seluruh komponen yang terdapat dalam formula.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR
+ Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul.
+ Rasanya enaaaaaaak!
+ Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi.

- Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak.
- Mengandung bahan mudah menguap, sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api.

CARA PEMBUATAN ELIKSIR
1. Mencampur zat padat dengan pelarut atau campuran pelarut (kosolven) sambil diaduk hingga larut.
2. Bahan yang larut dalam air dilarutkan terpisah dengan zat yang larut dalam pelarut alkohol. Larutan air ditambahkan kedalam larutan alkohol, agar penurunan kekuatan alkohol dalam larutan secara gradien mencegah terjadinya pemisahan atau endapan.
3. Gliserin, sirup, sorbitol, dan propilenglikol dalam eliksir memberikan peranan pada kestabilan zat terlarut dan dapat meningkatkan viskositas.

CONTOH RESEP
 Phenobarbital Elixir
R/ Phenobarbitali 4
Ol. Citri 0.25 ml Propilen glycoli 100 ml Aethanolinum 200 ml
Sorbitoli Solutioni USP 600 ml
Corr. Coloris q. s.
Aq. Dest. ad 1 ltr
S 1 d d h. s. C 1

Pro Nina (15 thn)

 Cara pembuatan:
1. Kalibrasi botol
2. Timbang: - Phenobarbital 4 g
- Corr. Coloris q. s.
1. Larutkan Phenobarbital 4 g ke dalam etanol , masukkan ke dalam botol.
2. Larutkan Propilen Glikol ke dalam etanol, lalu masukkan larutan Sorbitol, terakhir tambahkan etanol, masukkan ke dalam botol.
3. Larutkan Corr. Coloris ke dalam air,masukkan ke dalam botol.
4. Teteskan Oleum Citri sebanyak 0,25 ml.
5. Campurkan dan tutup botol.

Posted in lain-lain | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

Sirup

Posted by filzahazny on March 18, 2009

Sirup adalah Sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%

Sirup dibagi menjadi 2 :
1. Non Medicated Syrup/Flavored vehicle Sirup
Contoh:Cherry Syrup, Cocoa Syrup, orange syrup.
Medicated syrup/ sirup obat
Contoh:Sirup Piperazina Sitrat, Sirup Isoniazid.

Komponen Sirup

1. Gula atau pengganti gula
2. Pengawet antimikroba
3. Pembau
4. Pewarna
5. Juga banyak sirup-sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan, mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.
Pembuatan Sirup

Melarutkan bahan – bahan dengan bantuan pemanasan.
Melarutkan bahan – bahan dengan pengadukan tanpa pemanasan.
Penambahan sukrosa pada cairan obat yang dibuat atau pada cairan yang diberi rasa.
Perkolasi dan Maserasi

1.Larutan yang dibuat dengan pemanasan
Sirup yang dibuat dengan cara ini apabila:
a. dibutuhkan pembuatan sirup secepat mungkin.
b. komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas.
Pada cara ini umumnya gula ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan terbentuk.
Contoh : Sirup akasia, Sirup cokelat
2. Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas
Menghindari panas yang meransang inverse sukrosa
Proses ini memakan waktu lebih lama
mempunyai kestabilan yang maksimal.
Bila bahan padat akan ditambahkan ke sirup, yang paling baik adalah melarutkannya dalam sejumlah air murni dan kemudian larutan tersebut digabungkan ke dalam sirup.
Contoh: Sirup ferro Sulfat.
3. Penambahan sukrosa ke dalam cairan obat/cairan pemberi rasa

Adakalanya cairan obat seperti tinktur atau ekstrak cair digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup.
Banyak tinktur dan ekstrak seperti itu mengandung bahan – bahan yang larut dalam alcohol dan dibuat dengan pembawa beralkohol atau hidroalkohol.
Jika komponen yang larut dalam alcohol dibutuhkan sebagai bahan obat dalam suatu sirup, beberapa cara kimia umum dapat dilakukan agar bahan – bahan tersebut larut di dalam air. Akan tetapi apabila komponen yang larut dalam alcohol tidak dibutuhkan, komponen – komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan mencampur tinktur atau ekstrak tersebut dengan air, campuran dibiarkan sampai zat – zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dan menyaringnya dari campuran. Filtratnya adalah cairan obat yang kepadanya kemudian ditambahkan sukrosa dalam sediaan sirup. Pada kondisi lain, apabila tinktur dan ekstrak kental dapat bercampur dengan sediaan berair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atu sirup pemberi rasa sebagai obat.
Contoh sirup yang dibuat dengan cara ini adalah : Sirup Senna.

Cara Pembuatan Sirup Simplek
Pembuatan sirup simplesia
Cara maserasi, contoh: Althaeae sirup.
Cara perkolasi, contoh: sirup Aurantii Corticis.

Maserasi
Perkolasi
Contoh Resep

R/ Acetaminophen 2.4
As. Benzoat 0.1
Propylenglicol 15 ml
Alkohol 15 ml
Syr. Simpleks 20 ml
Air ad 200

Pengerjaan Resep 1
Cara pembuatan :
Tara botol 200 ml.
Ambil bahan – bahan syrup yang diperlukan.
Tara Syr.Simpleks 20 ml di dalam botol/wadah syrup.
Ambil 2.4 gram Acetaminophen lalu larutkan dengan alcohol, ketika sudah benar – benar larut tambahkan pemanis ( Propylen Glikol ) ke dalamnya dan tambahkan sedikit air.
Setelah larut tambahkan pengawet (As.Benzoat yang telah dilarutkan dalam air mendidih sambil diaduk) kemudian campur larutan hingga merata & larut sempurna.
Terakhir, tambahkan air hingga tercapai volume yang diinginkan.
Masukkan semua campuran ke dalam botol yang berisi Syr.Simpleks dan kocok.
Beri label & etiket pada botol.
Note:kelarutan acetaminophen dalam alkohol 1:7, dalam air 1:70

Contoh Resep
R/ Chlorpheniramin Maleat 0.04
Glycerin 2.5 ml
Sirup 8.3 ml
Lart.Sorbitol 28.2 ml
Na-Benzoat 0.1
Alkohol 6
Aq ad 100
Syrup antihistamin untuk pencegahan & pengobatan reaksi – reaksi alergi.

Pengerjaan Resep 2
Cara pembuatan :
Kalibrasi botol 100 ml.
Ambil bahan – bahan syrup yang diperlukan.
Ambil syrup 8.3 ml dalam botol / wadah syrup.
Timbang 40 mg Chlorpheniramin Maleat, gerus dan larutkan dengan air secukupnya hingga benar – benar larut.
Masukkan Gliserin 2.5ml ke dalam campuran, aduk merata.
Tambahkan pemanis ( Lart.Sorbitol ) ke dalam campuran dan aduk lagi hingga merata.
Masukkan pengawet Na-Benzoat ke dalam campuran syrup, aduk merata sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit.
Tambahkan air hingga tercapai volume syrup yang diingnkan (100ml).
Masukkan semua campuran kedalam botol yang telah berisi syrup sebelumnya, beri etiket dan label.

Posted in lain-lain | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »