biokimia

Sistem pencernaan


2.1 Sistem Pencernaan

Fungsi utama sistem pencernaan adalah untuk memindahkan zat gizi atau nutrien (setelah memodifikasinya), air, dan elektrolit dari makanan yang kita makan kedalam lingkungan internal tubuh.

Terdapat empat proses pencernaan dasar yaitu:

Motilitas

Motilitas mengacu pada kontraksi otot yang mencampur dan mendorong isi saluran pencernaan. Seperti otot polos vasikuler, otot polos dinding saluran cerna terus menerus berkontraksi dengan kekuatan yang rendah hal ini berguna untuk menjaga tekanan pada saluran cerna serta mencegah saluran cerna mengalami peregangan berlebihan.

Sekresi

Sejumlah getah pencernaan dikeluarkan sepanjang rute pencernaan oleh kelenjar-kelenjar, setiap sekresi pencernaan terdiri atas air, elektrolit, dan konstituen organik spesifik seperti enzim, garam empedu, atau mukus.

Pencernaan (modifikasi)

Pencernaan mengacu pada proses penguraian makanan dari yang strukturnya kompleks menjadi satuan-satuan yang lebih kecil yang dapat diserap oleh enzin-enzim yang diproduksi dalam sistem pencernaan.

Penyerapan

Penyerapan (absorbsi) adalah proses dimana satuan /monomer yang sederhana diangkut masuk kedalam lingkungan internal tubuh. Ada berbagai macam mekanisme dalam menyerap nutrien seperti transport aktif, difusi terfasilitasi, difusi pasif dan sebagainya, tergantung dari jenis nutriennya dan tempat penyerapannya.

2.2 Pencernaan dalam Mulut dan Lambung

Saliva Memulai Pencernaan Karbohidrat, tetapi Lebih Berperan Penting dalam Higiene Mulut dan Mempermudah Bicara.

Saliva (air liur), sekresi yang berkaitan dengan mulut yang diproduksi oleh tiga kelenjar saliva utama yaitu parotis, submandibula, sublingual yang terletak di rongga mulut yang dikeluarkan melalui duktus didalam mulut.

Saliva terdiri atas 99,5% air serta 0,5% protein dan elektrolit. Protein saliva yang terpenting adalah amilase, mukus, dan lisozim.

Fungsi dari saliva dapat disimpulkan sebagai berikut:

· Air liur memulai proses pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase liur, suatu enzim yang memecah polisakarida menjadi disakarida.

· Air liur mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel-partikel makanan, sehingga mereka saling menyatu serta menghasilkan pelumasan karena adanya mukus yang kental dan licin

· Air liur memiliki efek antibakteri melalui efek ganda, pertama oleh lisozim suatu enzim yang melisiskan atau menghancurkan bakteri tertentu kedua dengan membilas bahan makanan yang mungkin digunakan oleh bakteri.

· Air liur berfungsi sebagai pelarut untuk molekul-molekul yang merangsang papil pengecap, sehingga kita dapat merasakan rasa makanan.

· Air liur membantu kita dalam berbicara dengan membasahi lidah dan bibir.

· Air liur berperan penting dalam higiene mulut dengan membantu kebersihan mulut dan gigi. Karena air liur terus menerus membilas sisa makanan yang tersisa di mulut.

· Air liur memiliki senyawa penyangga bikarbonat yang menetralkan asam di makanan dan asam yang dihasilkan oleh flora normal yang ada di mulut, untuk mencegah karies gigi.

Walaupun memiliki banyak fungsi namun enzim amilase saliva tidaklah esensial karena walau tidak adanya enzim tersebut enzim amilase pankreas dapat menyelesaikan pencernaannya, serta waktu kontak antara substrat dengan enzim amilase saliva tidaklah optimum dikarenakan cepatnya waktu mengunyah dan menelan makanan.

Lambung Menyimpan Makanan dan Memulai Pencernaan Protein

Lambung adalah ruang berbentuk kantung yang berbentuk huruf j yang terletak antara esofagus dan korpus (badan). Motilitas lambung bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

Pengisian lambung jika kosong lambung memiliki volume 50 ml tetapi organ ini dapat mengembang sampai dengan 1000 ml ketika makan. Ada dua faktor yang menjaga motilitas lambung yaitu plastisitas yang mengacu pada kemampuan otot polos dalam mempertahankan ketegangannya yang konstan dalam rentang waktu yang lebar. Selanjutnya adalah relaksasi reseptif yakni proses relaksasi otot polos untuk meningkatkan kemampuan lambung dalam mengakomodasi volume makanan.

Sekresi asam hidroklorida

Sel-sel parietal secara aktif mengeluarkan HCl kedalam lumen lambung yang kemudian mengalirkannya kedalam lumen lambung. pH isi lumen menurun hingga pH 2 akibat sekresi HCl. Ion H+ dan ion Cl- dipompakan melalui pompa yang berbeda ion hidrogen dipompakan secara aktif melawan gradien yang sangat besar yakni konsentrasinya dalam lumen sampai 3-4juta kali konsentrasi yang terdapat dalam plasma. Sehingga sel-sel parietal membutuhkan banyak energi, oleh karena itu sel-sel parietal dilengkapi dengan banyak mitokondria. Ion klorida dipompakan secara aktif namun hanya melawan 1,5 konsentrasinya.

Fungsi dari HCl adalah

· Mengaktifkan prekusor enzim pepsinogen menjadi enzim aktif pepsin, untuk membantu membuat lingkungan asam yang optimal untuk pepsin.

· Membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat sehingga partikel makanan yang besar dapat dicerna dengan mudah.

· Bersama lisozim dalam air liur bertanggungjawab terhadap mematikan sebagian besar mikroorganisme yang masuk bersama makanan.

Sekresi pepsinogen

Konstituen utama pencernaan dalam getah lambung adalah pepsinogen, pepsinogen akan terrai oleh HCl menjadi enzim bentuk aktif yaitu pepsin. Terbentuknya pepsin akan merangsang pembentukan pepsin lain hal ini disebut proses otokatalitik. Pepsin memulai pencernaan protein dengan memecah ikatan peptida menjadi rantai pendek asam amino. Pepsin dapat mencerna sendiri sel tempat ia dihasilkan oleh karena itu pepsin disimpan dalam tubuh dalam bentuk inaktifnya sampai ia diaktifkan oleh HCl.

Sekresi mukus

Permukaan mukosa lambung dilindungi oleh selapis mukus yang berfungsi sebagai sawar protektif. Karena sifat lubrikasinya mukus melindungi lambung secara mekanis. Mukus melindungi dinding lambung dari self-digestion karena pepsin dihambat. Karena bersifat alkalis mukus melindungi lambung dari cidera asam dengan menetralkan HCl.

Sekresi gastrin

Sel endokrin khusus, sel G yang terletak di daerah kelenjar pilorus lambung mengsekresikan gastrin ke dalam darah apabila mendapatkan rangsangan yang sesuai setelah dingkut dalam darah kembali ke mukosa oksintik gastrin akan merangsang sel parietal dalam peningkatan sekresi getah lambung.

Kontrol sekresi getah lambung melibatkan tiga fase

· Faktor-faktor yang muncul sebelum makanan sampai ke lambung.
mengacu pada peningkatan sekresi HCl dan pepsinogen yang terjadi secara simultan.

· Faktor-faktor yang muncul ketika makanan berada di dalam lambung.
mengacu pada adanya protein yang merupakan substrat enzim pepsin dan adanya zat-zat yang membantu peregangan otot polos lambung seperti kafein

· Faktor-faktor di duodenum ketika makanan meninggalkan lambung.
enzim-enzim dalam usus apabila telah aktif akan menginhibisi kerja enzim yang berada dalam lambung.

2.3 Pencernaan Dalam Intestinum

Isi lambung, atau kimus (chyme),dimasukkan secara terputus-putus melalui katup pylorus ke dalam duodenum selama proses pencernaan. Kandungan sekret pancreas dan biliaris yang alkalis menetralkan kimus yang asam, dan mengubah nilai pH bahan ini menjadi alkalis; pergeseran pH tersebut diperlukan bagi kerja enzim yang terdapat di dalam getah pancreas dan usus, tetapi menghambat kerja enzim lebih lanjut.

2.3.1 Getah Empedu

Di samping beragam fungsi pada metabolisme intermediet, hatidengan memproduksi getah empedu memegang peranan penting pada proses pencernaan. Kandung empedu menyimpan getah empedu yang diproduksi dalam hati di antara waktu-waktu makan. Selama pencernaan, kandung empedu akan berkontraksi dan mengalirkan getah empedu secara cepat ke dalam duodenum melalui duktus koledokus. Getah pancreas bercampur dengan getah empedu karena keduanya mengalir ke dalam duktus koledokus sesaat sebelum memasuki duodenum.

Kandung Empedu

2.3.1.1 Komposisi Getah Empedu

Komposisi getah empedu hati berbeda dari getah empedu kandung empedu. Seperti terlihat dalam table di bawah ini, getah empedu bersifat lebih pekat.

Getah Empedu Hati

(saat disekresikan)

Getah Empedu kandung Empedu

Persentase Getah Empedu Total

Persentase Zat Padat Total

Persentase Getah Empedu Total

Air

97,00

85,92

Zat padat

2,52

14,08

Asam Empedu

1,93

36,9

9,14

Musin dan pigmen

0,53

21,3

2,98

Kolesterol

0,06

2,4

0,26

Asam lemak teresterifikasi dan tidak teresterifikasi

0,14

5,6

0,32

Garam anorganik

0,84

33,3

0,65

Berat Jenis

1,01

1,04

pH

7,1-7,3

6,9-7,7

2.3.1.2 Sifat Getah Empedu

  1. Emulsifikasi

Garam empedu mempunyai kemampuan cukup besar untuk menurunkan tegangan permukaan. Kemampuan ini membuat getah empedu mampu mengemulsikan lemak di dalam usus dan melarutkan asam lemak di dalam usus dan melarutkan asam lemak serta sabun yang tak larut air. Keberadaan getah empedu di dalam usus merupakan faktor pelengkap (adjunct) penting dalam menyelesaikan proses pencernaan serta absorpsi lemak, di samping absorpsi vitamin A, D, E serta K yang bersifat larut lemak. Jika pencernaan lemak terganggu, bahan makanan lain menjadi kurang terserap karena lemak bertugas membungkus partikel makanan dan menghalangi kerja enzim pada partikel tersebut. Pada keadaan ini, kerja bakteri usus akan menimbulkan putrefaksi serta produksi gas yang cukup tinggi.

  1. Netralisasi Asam

Disamping fungsinya pada proses emulsifikasi, getah empedu, dengan pH sedikit di atas 7, menetralkan kimus asam dari lambung dan menyiapkan untuk proses pencernaan di dalam usus.

  1. Ekskresi

Getah empedu merupakan vehikulum penting bagi ekskresi asam empedu dan kolesterol, tetapi juga berfungsi mengeluarkan sejumlah besar obat, toksin, pigmen empedu, dan berbagai substansi anorganik, seperti tembaga, seng, dan air raksa.

2.3.2 Pankreas

Organ yang beratnya sekitar 70 sampai 90 g ini terdapat pada perut bagian atas di belakang lambung. Organ ini terbagi menjadi 3 bagian, bagian kepala pankreas yang ter-letak pada bagian cekung duodenum, badan pankreas dan ekor pankreas. Ductus pancreaticus yang merupakan jalan keluar kelenjar pankreas, berjalan sepanjang pan­kreas dan bermuara, seperti disebutkan terdahulu, bersama dengan ductus choledo­chus ke dalam duodenum.

Pada preparat histologis, pankreas terbagi menjadi 2 jaringan dasar :

  • Acini

Jaringan yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan, berupa lobulus dibagian akhir kelenjar pankreas. Produksi enzim dan proenzim yang tak aktif akan terjadi dalam sel acinus ini. Hingga pada saat sekresi, zat yang disimpan dalam bagian yang disebut granul zimogen, bersama dengan elektrolit dan air, akan disekresi.

  • Pulau-pulau Langerhans

Adalah jaringan yang di dalamnya tersebar sekelompok sel berbentuk pulau, dan menghasilkan hormon ke dalam darah.

diabetes-pancreas

Hormon dari pankreas telah dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:

1. Sekretin

Merupakan hormon yang dikeluarkan oleh pankreas ke dalam darah sebagai akibat dari masuknya kandungan asam (kimus asam) dari lambung ke dalam duodenum. Sekretin ini merangsang pankreas untuk mengeluarkan HCO3-ke dalam usus halus untuk menetralkan HC1 lambung. Dengan demikian pH meningkat dari 1,5-2,5 menjadi kira-kira pH 7.

2. Pankreozimin

Pankreozimin akan menyebabkan sekresi getah pankreas yang kaya akan en­zim dengan cara menstimulasi keluarnya granul zimogen dari sel acinus.

3. Koleisistokinin

Koleisistokinin akan merangsang kontraksi dan pengosongan kantung empedu.

4. Enterokrinin

Enterokrinin akan merangsang pengaliran getah pankreas ke usus halus.

2.3.2.1 Pencernaan Protein oleh Enzim Pankreas

A. Tahap I oleh Endopeptidase

Dengan masuknya kandungan asam dari perut ke dalam usus halus, pH yang rendah ini menyebabkan pengeluaran hormon sekretin ke dalam darah. Sekretin merangsang pankreas untuk mengeluarkan HCO3- ke dalam duodenum untuk menetralkan HC1 lambung. Dengan demikian pH meningkat dari 1,5-2,5 menjadi kira-kira pH 7. Masuknya asam amino dalam usus dua belas jari merangsang pengeluaran enzim proteolitik dan peptidase, yang mempunyai pH optimum 7-8. Tiga di antaranya, tripsin. kimotripsin. dan karboksipeptidase, dihasilkan oleh sel-sel eksokrin acini pankreas sebagai bentuk zimogennya yang tidak aktif yaitu, tripsinogen. kimotripsinogen, dan prokarboksipeptidase. Sintesis enzim-enzim ini sebagai bentuk yang tidak aktif dimaksudkan untuk melindungi sel-sel eksokrin terhadap kerusakan akibat serangan enzim proteolitik.

Setelah tripsinogen memasuki usus halus molekul ini diubah menjadi bentuk aktifnya, tripsin oleh enterokinase. enzim proteolitik khusus yang dikeluarkan oleh sel-sel usus. Bila beberapa molekul tripsin bebas telah terbentuk, maka tripsin bebas tersebut dapat mengkatalisis pengubahan tripsinogen menjadi tripsin. Pembentukan tripsin bebas adalah akibat terlepasnya heksapeptida dari ujung amino rantai tripsinogen. Jadi tripsin menghidrolisis ikatan-ikatan peptida dengan gugus karbonil pada residu lisin dan arginin.

Kimotripsinogen mempunyai suatu rantai polipeptida dengan sejumlah ikatan-ikatan disulfida antara rantai. Bila kimotripsinogen mencapai usus halus, moiekul ini akan diubah menjadi kimotripsin oleh tripsin, yang memecah satu rantai panjang polipeptida kimotripsinogen pada dua titik dengan cara memotong dipeptida. Meskipun demikian, ketiga bagian yang terbentuk dari rantai kimotripsinogen.asal tetap terikat bersama oleh jembatan disulfida Kimotripsin menghidrolisis ikatan-ikatan peptida yang mengandung residu-residu fenilalanin. tirosin dan triptofan. Dengan demikian tripsin dan kimotripsin menghidrolisis polipeptida-polipeptida yang dihasilkan dari produk pepsin di dalam lambung, menjadi peptida-peptida yang lebih kecil. Tahap pencernaan protein ini terjadi dengan sangat efisien sebab pepsin, tripsin dan kimotripsin menghidrolisis rantai polipeptida pada asam-amino khusus.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Tripsinogen

Tripsin

Mukosa intestinal

Proelastase

Elastase

Kimotripsinogen

Kimotripsin

Enterokinase

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Keterangan:

· Tripsin untuk ikatan peptida pada asam amino basa

· Kimotripsin untuk ikatan peptida pada asam amino aromatis

· Elastase untuk ikatan peptida pada asam amino glisin, alanin, dan serin (asam amino rantai pendek)

B. Tahap II oleh Eksopeptidase

Degradasi peptida rantai pendek di dalam usus halus akan diselesaikan oleh peptidase lainnya. Yang pertama adalah karboksipeptidase. suatu enzim yang mengandung unsur seng, yang dibuat oleh pankreas sebagai zimogen yang tidak aktif, yaitu prokarboksipeptidase. Karboksipeptidase melepaskan residu gugus ujung karboksil secara berturut-turut dari peptida.Lalu Usus halus mengeluarkan suatu aminopeptidase. yang dapat menghidrolisis residu amino bagian ujung secara berurutan dari peptida-peptida pendek

Dengan kerja bertahap enzim-enzim proteolitik dan peptidase tersebut, protein-protein yang termakan akhirnya dihidrolisis untuk menghasilkan suatu campuran asam-asam amino bebas, yang kemudian diangkut melalui sel-sel epitel yang melapisi usus halus kemudian masuk ke dalam pembuluh darah di dalam vili dan diangkut menuju hati.

Protein, Proteosa dan Pepton

Polipeptida

Tahap I

Asam amino

Tahap II

sehingga:

Enzim-Enzim lain dalam pankreas:

1. Amilase

Berfungsi untuk menghidrolisis pati dan glikogen menjadi maltosa, maltotriosa, oligosakarida bercabang dan oligosakarida tak bercabang.

2. Lipase

Enzim ini diaktifkan oleh kombinasi dari garam empedu, kolipase, fosfolipid dan pH 8. Lipase bekerja memecah lemak menjadi asam lemak, 2-monoasil gliserol, dan gliserol. Lipase pankreas bekerja spesifik dalam menghidrolisis hubungan ester primer, yaitu pada posisi 1 dan 3 triasilgliserol.

3. Kolesterol Esterase

Kolesterol esterase diaktifkan oleh garam empedu yaitu dipecah oleh enzim hidrolese spesifik.

4. Ribonuklease

Berfungsi untuk mencerna asam nukleat menjadi nukleotida

2.3.3 Getah Usus Menyempurnakan Proses Pencernaan

Getah usus yang disekresikan kelenjar Brunner dan LieberkÜhn mengandung sejumlah enzim pencernaan, termasuk enzim-enzim berikut:

1. Aminopeptidase

Merupakan eksopeptidase yang menyerang ikatan peptide di dekat terminal amino asam amino polipeptida serta oligopeptida; dan dipeptidase dengan beragam spesifisitas, yang sebagian diantaranya mungkin berada dalam epitel usus. Enzim yang disebutkan terakhir tersebut menyempurnakan pencernaan dipeptida menjadi asam amino bebas.

2. Disakaridase dan Oligosakaridase spesifik;

α-glukosidase (maltase), yang membuang residu glukosa tunggal dari oligosakarida dan disakarida berikatan α(1® 4), bermula dari ujung bukan pereduksi ; kompleks sukrase isomaltase, yang ditemukan sebagai proenzim pada satu rantai polipeptida, tetapi sebagai enzim aktif pada polipeptida-polipeptida terpisah dan menghidrolisis sukrosa serta ikatan 1® 6 dalam dekstrin α–limit; b-glikosidase (lactase), untuk mengeluarkan galaktosa dari laktosa, tetapi juga menyerang selobiosa serta b–glikosida lain dan di samping itu memiliki tapak katalitik sekunder yang memecah glikosilseramida; dan trehalase untuk menghidrolisis trehalosa. Banyak enzim hidrolase ini tetap melekat ke brush border enterosit, sementara domain katalitik berada dalam keadaan bebas di dalam lumen untuk bereaksi dengan substrat.

3. Fosfatase; yang mengeluarkan gugus fosfat dari senyawa organic fosfat tertentu seperti heksosa fosfat, gliserofosfat, dan nukleotida yang berasal dari diet serta hasil pencernaan asam nukleotida oleh nuclease.

4. Polinukleotidase; yang memecah asam nukleat menjadi nukleotida

5. Nukleosidase (nukleosida fosforilase); yang mengatalisis proses fosforolisis nukleosida untuk menghasilkan basa nitrogen bebas plus pentosa fosfat

6. Fosfolipase; yang menyerang fosfolipid untuk menghasilkan gliserol, asam lemak, asam fosfat, serta basa misalnya kolin.

2.4 Produk Utama Pencernaan

Hasil akhir dari kerja enzim pencernaan adalah mereduksi bahan makanan di dalam diet menjadi bentuk yang dapat diserap serta diasimilasikan. Produk akhir proses pencernaan ini adalah monosakarida (terutama glukosa) untuk karbohidrat; asam amino untuk protein; asam lemak, gliserol serta monogliserol umtuk triasilgliserol; dan nukleobasa, nukleosida, serta pentosa untuk asam nukleat.

Polisakarida dinding sel tanaman dan lignin bersumber diet yang tidak dapat dicerna oleh enzim mamalia merupakan serat diet (dietary fibre) dan menyusun massa residu dari pencernaan. Serat melangsungkan suatu fungsi penting dalam menambah massa ke dalam diet.

2.5 Absorpsi dari Saluran Cerna Menghasilkan Masuknya Nutrien ke dalam Vena Porta Hati atau Limfatik

Di dalam lambung hanya sedikit terjadi absorpsi, kecuali asam lemak rantai pendek serta sedang dan etanol.

Usus halus merupakan organ absorpsi utama. Sekitar 90% bahan makanan yang diingesti diserap sewaktu berjalan melintasi usus halus, demikian pula air. Setelah residu bahan makanan melintas ke dalam usus besar, jumlah air yang diserap menjadi lebih banyak sehingga isi ususyang sebelumnya berbentuk cair di dalam usus halusberangsur-angsur menjadi lebih padat di dalam kolon.

Transport bahan yang diserap oleh usus terjadi melalui dua lintasan: system portal hepatic, yang berjalan langsung menuju hati dan mengangkut nutrient larut-air, serta pembuluh limfe, yang menuju darah melalui duktus torasikus dan mengangkut nutrient yang larut dalam lemak.

2.6 Pencernaan dan Absorbsi Karbohidrat

2.6.1 Pencernaan Karbohidrat

Berbagai produk pencernaan karbohidrat diserap dari jejenum ke dalam darah sistem vena porta dalam bentuk monosakarida, terutama sebagai heksosa dan pentosa.Oligosakarida yang bersal dari pati dan pada hidrolisis menghasilkan 3-10 unit monosakarida dan disakarida dihidrolisis dengan enzim yang bersesuaian dari permukaan mukosa usus halus, yang mungkin mencangkup amilase pankreas yang di absopsi ke atas mukosa. Di dalam lumen usus hanya terdapat sedikit aktivitas disakaridase bebas. Sebagian besar aktivitas tersebut berhubungan dengan “tombol-tombol” kecil pada brush border.

1.Mulut

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut. Bola makanan yang diperoleh setelah makanan dikunyah bercampurn dengan ludah yang mengandung enzim amilase (sebelumnya dikenal sebagai ptialin). Amilase menghidrolisis pati atau amilum menjadi bentuk karbohidrat lebih sederhana, yaitu dekstrin. Bila berada di mulut cukup lama, sebagian diubah menjadi disakarida maltosa. Enzim amilase ludah bekerja paling baik pada pH ludah yang bersifat netral. Bolus yang ditelan masuk ke dalam lambung.

2. Usus Halus

Pencernaan karbohidrat dilakukan oleh enzim-enzim disakarida yang dikeluarkan oleH sel-sel mukosa usus halus berupa maltase, sukrase, dan laktase. Hidrolisis disakarida oleh enzim-enzim ini terjadi di dalam mikrovili dan monosakarida yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

Maltase

Maltosa 2 mol glukosa

Sukrase

Sakarosa 1 mol glukosa + 1 mol fruktosa

Laktase

Laktosa 1 mol glukosa + 1 mol galaktosa

Struktur terbuka

O H O O O

C—H H—C—OH C—H C—H COH

H—C—OH C==O H—C—OH HO—C—H H—C—OH

HO—C—H HO—C—H HO—C—H H—C—OH H—C—OH

H—C—OH H—C—OH HO—C—H H—C—OH H—C—OH

H—C—OH H—C—OH H—C—OH H—C—OH H—C—OH

H—C—OH H—C—OH H—C—OH H—C—OH H—C—OH

H H H H H

D-Glukosa D-Fruktosa D-Galaktosa D-Manosa D-Ribosa

Struktur Cincin



Monosakarida glukosa, fruktosa, dan galaktosa kemudian diabsorpsi melalui sel epitel usus halus dan diangkut oleh sistem sirkulasi darah melalui vena porta. Bila konsentrasi monosakarida di dalam usus halus atau pada mukosa sel cukup tinggi, absorpsi dilakukan secara pasif atau fasilitatif. Tapi, bila konsentrasi turun, absorpsi dilakukan secara aktif melawan gradien konsentrasi dengan menggunakan energi dari ATP dan ion natrium.

3. Usus Besar

Dalam waktu 1-4 jam setelah selesai makan, pati nonkarbohidrat atau serat makanan dan sebagian kecil pati yang tidak dicernakan masuk ke dalam usus besar. Sisa-sisa pencernaan ini merupakan substrat potensial untuk difermentasi oleh mikroorganisma di dalam usus besar. Substrat potensial lain yang difermentasi adalah fruktosa, sorbitol, dan monomer lain yang susah dicernakan, laktosa pada mereka yang kekurangan laktase, serta rafinosa, stakiosa, verbaskosa, dan fruktan.

Produk utama fermentasi karbohidrat di dalam usus besar adalah karbondioksida, hidrogen, metan dan asam-asam lemak rantai pendek yang mudah menguap, seperti asam asetat, asam propionat dan asam butirat.

2.6.2 Mekanisme Absorbsi Karbohidrat

Ada dua mekanisme yang bertanggung jawab atas absopsi karbohidrat, yaitu transpor aktif dan transpor terfasilitasi

1.Transpot aktif

Transpor aktif berarti melawan garis gradien konsentrasi.konfigurasi yang diperlukan bagi trnspor aktif OH pada atom karbon 2 harus mempunyai konfigurasi sama pada glukosa dan gugus metil harus ada atau metiltersubtitusi harus ada pada atom karbon 5. Absorpsi nkarbohidrat disebabkan karena pompa natrium. Gambaranya adalah bahwa glukosa beserta ion Na dilepas kedalam sitosol sehingga memungkinkan trasporter tersebut membawa lebih banyak lagi “kargo”. Ion Na dilepas kedalam. Ion Na diangkut menuruni gradien konsentrasinya . energi bebas yang diperlukan bagi transpor aktif ini diperoleh dari hidrolisis ATP yang terhubung dengan sebuah pompa natrium yang melepas Na dari sel bertukar denagn ion K. Transpor aktif . transpor aktif glukosa dihambat dengan ouabain dan florhizin, suatu inhibitor yang telah kita ketahui kerjanya terhadap proses reabsorpsi glukosa di dalam tubulus ginjal. Disamping itu juga terdapat transporter glukosa yang tidak bergantung pada pompa natrium, GLUT 2 yang memfasilitasi trnspor gula keluar sel.

2. Transpor terfasilitasi menggunakan pembawa untuk memudahkan pemindahan suatu zat seperti monosakarida melintasi membran “turun” dari konsentasi tinggi ke konsentasi yang rendah. Proses ini bersifat pasi dan tidak memerlukan energi karena pergerakan terjadi secara alamiah menutun gradien konsentasi.konsentasi glukosa didalam darah lebih tinggi dari pada di dalam jaringan. Pasokan gula segar selalu masuk ke dalam darah dari makanan dan spanan eergi cadangan, secar bersamaan, sel-sel metabolis glukosa hampir sama secepat pemasukan ke dalam sel dalam darah.

2.6.3 Pengaruh Faal Karbohidrat Makanan Yang Tidak Dicernakan Di Usus

1. Berat Feses

Makanan yang rendah serat menghasilkan feses yang keras dan kering yang susah dikeluarkan dan membutuhkan peningkatan tekanan saluran cerna yang luar biasa untuk mengeluarkannya. Makanan tinggi serat cenderung meningkatkan berat feses.

2. Metabolisme Kolesterol

Data epidemologik menunjukkan bahwa konsumsi serat makanan mempunyai hubungan negatif dengan insiden penyakit jantung koroner dan batu ginjal, terutama dengan kolesterol darah. Polisakarida nonpati larut air (pektin, gum, dan sebagainya) paling berpengaruh sedangkan polisakarida nonpati yang tidak larut air hanya mempunyai pengaruh kecil terhadap kadar kolesterol. Penurunan ini terutama terlihat pada fraksi LDL (low Density Lipoprotein) yang disertai dengan penurunan kandungan kolesterol dalam hati dan lain jaringan.

Pengaruh ini dikaitkan dengan metabolisme asam empedu. Asam empedu dan steorid netral disintesis dalam hati dari kolesterol, disekresi ke dalam empedu dan biasanya kembali ke hati melalui reabsorpsi dalam usus halus (siklus entero hepatik).

3. Waktu Transit

Waktu transit makanan setelah ditelan adalah waktu yang dipelrukan makanan untyuk melalui mulut sampai ke anus. Waktu transit dalam kolon biasanya kurang lebih sepuluh kali lebih lama daripada waktu transit dari mulut ke awal kolon dan merupakan tahap utama yang mempengaruhi seluruh waktu transit makanan. Waktu transit dari mulut ke bagian awal usus besar dipengaruhi oleh pengosongan lambung dan transit dalam usus halus.

4. Perubahan Susunan Mikroorganisme

Hubungan antara kolon dengan kekurangan serat makanan diduga karena terjadinya perubahan pada susunan mikroorganisme dalam saluran cerna. Mikroorganisme yang terbentuk menguntungkan pembentukan karsinogen yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker. Mikroorganisme ini juga diduga mencegah atau membatasi pemecahan karsinogen yang terjadi secara normal bila serat makanan lebih tinggi.

2.7 Pencernaan dan Absorbsi Lipid

2.7.1. Pencernaan lipid

a. Mulut

Proses pencernaan manusia berawal di dalam rongga mulut. Dalam mulut terdapat kelenjar air liur yang mensekresikan liur. Liur mengandung bheberapa enzim yang digunakan dalam proses pencernaan,salah satunya yaitu enzim lipase. Enzim lipase lingual disekresikan oleh permukaan dorsal lidah (kelenjar ebner). Akan tetapi, sejumlah penyelidikan menunjukkan bahwa enzim tersebut tidak mempunyai arti bermakna pada amnesia jika dibandingkan dengan tikus atau mencit yang lipase lingualnya merupakan satu-satunya enzim lipase prodeudenal.

b. Lambung

Proses pencernaan lipid pertama kali dilakukan di lambung. Lambung mensekresikan getah lambung yaitu cairan jernih bewarna kuning pucat yang mengandung HCL 0,2-0,5% dengan pH sekitar 1,0. Getah lambung terdiri atas 97-99% air. Sisanya berupa musin (lendir) serta garam anorganik dan enzim pencernaan yaitu, pepsin renin serta lipase. Enzim lipase inilah yang akan mencerna makanan yang mengandung lemak.

Panas lambung merupakan faktor penting untuk mencairkan massa lemak yang berasal dari makanan den proses emulsifikasinya terjadidenagn bantuan kontraksi peristaltik. Lambung menyekresikan lipase lambung (lipase gastrik) yang pada manusia merupakan lipase prodeudenal utama. Lipase lingualdan gastrik memulai pencernaan lemak dengan menghidrolisis triasilgliserol yang mengandung asam lemak rantai pendek. Sedanga, dan pada umumnya asam lemak tak jenuh rantai panjang untuk membentuk terutama asam lemak bebas dan 1,2-diasilgliserol dengan ikatan sn-3 ester sebagai tempat hidrolisis utamanya. Enzim ini hancur pada pH rendah, tetapi bekerja aktif setelah makan karena kerja pendaparan yang dimiliki protein makanan di dalam lambung. Nilai optimum pH yang dimiliki cukup luas yaitu sekitar 3,0-6,0.

Lipase prodeudenal berperan penting selama periode neonatal, yaitu pada seaat aktivitas lipase pankreas masih rendah sementara lemak susu harus dicerna. Akibat waktu retensi selama 2-4 jam di dalam lambung, sekitar 30% triasilgliserol makanan dapat diserap pada selang waktu tersebut, sebaian besar pada satu jam pertama. Lemak susu mengandung asam lemak rantai sedang dan pendek yang cenderung mengalami esterifikasi pada posisi sn-3. Oleh sebab itu, lemak susu merupakan substrat yang baik bagi enzim lipase gastrik. Asam lemak hidrofilik rantai pendek dan sedang yang dilepas akan diserap melalui dinding lambung dan masuk ke vena porta, sementara asam lemak rantai panjang larut di dalam droplet lemak dan terus melintas ke deudenum.

c. Usus

Asam lemak rantai panjang yang tidak diserap oleh dinding lambung akan melintas menuju ke deudenum bersama dengan kimus (isi lambung) yang lainnya. Setelah masuk ke deudenum, isi lambung akan diemulsikan dengan garam empedu dan getah pankreas yang disekresikan masing-masing dari empedu dan dari pankreas. Di dalm usus inilah ynag nantinya akan menguraikan asam lemak yang belum dapat diabsorbsi sehingga nantinya sapat diabsorbai di lumen usus.

Lipase pankreas mula-mula akan menyerang hubungan (link) esrer primer triasilgliserol. Lipase pankreas bekerja pada antarmuka (interface) air minyak droplet lipid yang teremulsi halus dan terbentuk akibat gerak agitasi mekanik di dalam ususadanya produk hasil kerja lipase lingual dan gastrik, yaitu garam empedu, kolipase (protein di dalam getah pankreas), fosfolipid, dan fosfolipase A2 (juga terdapat dalam getah pankreas).

Kemunculan asam-asam lemak bebas akibat kerja lipase lingual dan gastrik memfasilitasi hidrolisis oleh lipase pankreas, khususnya hidrolisis triasilgliserol susu. Fosfolipase A2 dan kolipase disekresikan dalam bentuk–pro dan membutuhkan pengaktifan ikatan peptida spesifik oleh hidrolisis triptik. Pengaktifan prolipase terjadi dengan pengeluaran pentapeptida dari ujung terminal amino. Pentaamino inilah yang bekerja sebagai sinyal atas rasa kenyang untuk lipid dan diberi nama enterostatin.

Karena sulitnya ikatan ester sekunder di dalm triasilgliserol dihidrolisis oleh lipase pankreas, -pencernaan triasilgliserol berlangsung dengan pengeluaran bagian terminal asam lemak untuk mrnghasilkan 2-monoasilgliserol. Mengingat bagian asam lemak ini berangkai melalui suatu ikatan ester sekunder, agar terjadi hidrolisis sempurna, pengeluarannya memerlukan reaksi isomerasi menjadi ikatan ester primer. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang berjalan cukup lambat, akibatnya 2-monoasilgliserol menjadi produk akhir utama dari pencernaan triasilgliserol dan hanya seperemat jumlah triasilgliserol yang dikonsumsi dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.


2.7.2. Proses absorbsi lipid

Transport bahan yang diserap oleh usus terjadi melalui dua lintasan:

a. sistem portal hepatik yang berjalan langsung menuju hati dan mengangkut nutrien larut air

b. pembuluh limfe, yang menuju darah melalui duktus torasikus dan mengangkut nutrien yang larut dalam lemak.

2.7.3. Produk Pencernaan lemak diserap dari misel garam empedu

Senyawa 2-monoasilgliserol, asam lemak, dan sejumlah kecil senyawa 1-monoasilgliserol meninggalkan fase minyak pada emulsi lipid dan berdifusi ke dalm misel yang bercampur serta liposom yang terdiri dari garam empedu, fosfatidil kolin, dan kolesterol, dilapisi getah empedu. Karena bersifat larut air, misel memungkinkan produk pencernaan diangkut melewati lingkungan akeosa lumen usus menuju brush border sel mukosa tempat produk tersebut diserap ke dalam epitel usus. Garam empedu berlanjut mengalir ke dalam ileum., tempat sebagian besar darinya diserap ke dalam sirkulasi enterohepatik oleh suatu transport aktif.

Di damal dinding usus, senyawa 1-monoasilgliserol lebih lanjut di hidrolisis lagi hingga menghasilkan gliserol bebas dan asam lemak. Proses hidrolisis ini dilaksanakan oleh lipase yang berbeda dari lipase pankreas. Senyawa 2-monoasilgliserol akan diubah kembali menjadi triasilgliserol melalui lintasan monoasilgliserol. Penggunaan asam lemak untuk resintesis triasilgliserol pertama-tama membutuhkan konversi asam lemak menjadi asil-KoA oleh enzim asil-KoA sintetase. Triasilgliserol rantai pendek dan sedang dapat diserap dalam bentuk seperti ini dan kemudian dihidrolisis oleh enzim gliserol ester hidrolase.

Sistesis triasilgliserol kemungkinan besar terjadi di dalam mukosa usus melalui cara yang serupa denagn yang terjadi di dalam jaringan lain. Lisopospolipid yang diserap juga akan mengalami reasilasi dengan asil KoA untuk mrnghasilkan kembali fosfolipid dan ester kolesteril.

Glisrol bebas yang dilepas di dalam lumen usus tidak digunakan kembali, tetapi melintas langsung ke dalam vena porta. Meskipun demikian, gliserol yang dilepas di dalam sel usus dapat digunakan kembali untuk sintesis triasilgliserol setelah diaktifkan menjadi gliserol 3-fosfat oleh ATP. Dengan demikian, semua asam lemak rantai panjang yang diserap oleh sel mukosa dinding usus akan digunakan pada pembentukan kembali asilgliserol, khususnya triasilgliserol.

Triasilgliserol setelah disintesis di dalam mukosa usus, sedikitpun tidak diangkut di dalam darah vena porta. Sebaliknya sebagian besar lipid yang diserap, termasuk fosfolipid, ester kolesteril , kolesterol dan vitamin larut-lemak akan membangaun kilomikron yang membentuk suatu cairan seterti susu, kilus (chyle), yang dikumpulkan oleh pembuluh limfa regio abdomen dan dilewatkan ke dalam darah sistemik melalui duktus torasikus.

Sebagian besar asam lemak yang diserap dengan panjang lebih dari 10 atom karbon, terlepas dari bentuknya ketika diserap. Ditemukan sebagai asam lemak teresterifikasi di dalm cairan limf duktus torasikus. Asam lemak dengan rantai lebih pendek daripada 10-12 atom karbon diangkut dalam darah vena porta sebagai asam lemak tak teresterifikasi (asam lemak bebas). Salah satu penyebab mengapa hal ini terjadi karena enzim asil KoA sintetase bersifat spesifik untuk asam lemak dengan 12 atom karbon atau lebih. Sebagian asam lemak rantai pendek atau sedang yang terdapat dalam camp[uran triasilgliserol mungkin dapat diserap sebagai 2-monoasilgliserol dan memasuki duktus torasikus melalui lintasan monoasilgliserol.

Di antara sterol-sterol nabati (fitosterol), tidak satupun yang diserap dari dalam usus kecuali ergosterol aktif (provitamin D)

2.7.4. Kelainan pada absorbsi lipid

  1. Kiluria

Merupakan kelainan berupa diekskresikannya urine seperti susu akibat adanya hubungan abnormal antara traktus urinarius (saluran kemih) dengan sistem pengaliran limfa usus, suatu hubungan yang dinamakan fistula kilosa. Pemberian triasilgliserol yang mengandung asam lemak rantai sedang (kurang dari 12 rantai karbon) sebagai pengganti lemak diet akan menghilangkan gejala kiluria.

  1. Kilotoraks

Merupakan penumpukan cairan pleura yang keruh seperti susu yang disebabkan oleh hubungan abnormal rongga pleura dengan saluran limfa usus. Penggunaan triasilgliserol yang mengandung asam lemak rantai pendek akan menghasilkan cairan pleura yang jernih.

  1. Defisiensi kolipase

Merupakan kelainan berupa steatore atau feses yang berlemak pada pasien terjadi akibat defek pada kerja enzim lipase pankreas.

2.8 Mekanisme Penyerapan Protein

Pencernaan protein dimulai di organ lambung. Sebagian protein yang ada di lambung dicerna menjadi peptida oleh enzim pepsin. Sifat setiap jenis protein ditentukan oleh jenis asam amino dalam molekul protein dan oleh susunan asam-asam amino tersebut.

Pepsin paling aktif pada pH sekitar 2 dan tidak aktif sama sekali pada pH diatas 5. Kelenjar gastrik mensekresikan asam klorida dalam jumlah besar. Asam klorida ini disekresikan oleh sel parietal pada pH sekitar 0,8. Tetapi pada saat ia dicampur dengan isi lambung dan dengan sekresi dari sel kelenjar non parietal lambung, pH berkisar antara 2 atau 3, batas keasaman yang sangat menguntungkan bagi aktivitas pepsin. Pepsin biasanya hanya mengawali proses pencernaan, memecahkan protein menjadi protease, pepton dan polipeptida besar. Pemecahan protein ini merupakan suatu proses ”hidrolisis” yang terjadi pada ikatan peptida antara asam-asam amino.

Bila protein meninggalkan lambung, protein biasanya dalam bentuk proteosa, pepton, polipeptida besar, dan sekitar 15 % asam amino. Segera setelah masuk ke usus halus, hasil pemecahan parsial diserang oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan karboksipeptidase pankreas. Enzim-enzim ini mampu menghidrolisis semua hasil pemecahan parsial protein menjadi asam amino. Akan tetapi, sebagian besar hasilnya adalah dipeptida atau polipeptida kecil lainnya.

Protein

Mulut

gastric protease

Proteosa dan Pepton

Lambung

Pancreatic protease

Intestinal protease

Dipeptida

Usus Halus

Intestinal dipeptidase

Asam amino

Dinding usus

halus

Gambar 6. Mekanisme Penyerapan Protein

Sumber : Suhardjo dan Kusharto, 1992

Ikatan antara pasangan asam amino tertentu berbeda dalam ikatan energi dan sifat fisikanya dari ikatan antara pasangan lain. Oleh karena itu, dibutuhkan enzim spesifik untuk setiap jenis ikatan spesifik. Hal ini menyebabkan tidak ada satu enzim pun yang dapat mencernakan protein sepenuhnya menjadi unsur-unsur asam amino.

Asam amino keluar dari sel epitel melalui difusi ke dalam aliran darah. Asam amino mengikuti aliran yang sama dengan yang ditempuh monosakarida. Dalam waktu yang bersamaan, dipeptida dan tripeptida dibawa oleh sel epitel melalui transport aktif. Dipeptida dan tripeptida dihidrolisis menjadi asam amino di dalam sel dan melewati kapiler yang ada di dalam villi. Dari kapiler, asam amino diangkut ke dalam darah menuju ke hati melalui sistem peredaran darah porta.

Ternyata tidak semua protein dipecah sampai ke tingkat asam amino, sebagian tetap dalam bentuk ptoteosa, pepton, dan berbagai ukuran polipeptida. Terkadang ada protein atau peptida yang lolos dari kerja enzim pencernaan, sehingga ia diserap dalam bentuk bukan asam amino. Protein dan peptida yang lolos itu bisa aktif bekerja dan sering memberikan manfaat atau berfungsi secara khusus. Sehingga kedua senyawa itu dikenal sebagai protein dan peptida aktif atau fungsional. Bila makanan dikunyah dengan semestinya dan tidak dimakan dalam jumlah yang terlalu banyak pada saat yang sama, sekitar 98% semua protein akhirnya menjadi asam amino.

2.9 Pembusukan dan Peragian dalam Usus

Sebagian besar makanan yang ditelan diserap dari dalam usus halus. Residu makanan tersebut melintas menuju usus besar. Di usus besar terjadi absorpsi air dalam jumlah yang besar, dan isi usus yang sebelumnya setengah cair berangsur-angsur berubah menjadi bentuk yang lebih padat.

Selama periode ini, terjadi aktivitas bakteri yang cukup tinggi. Proses pembusukan di usus besar melibatkan bakteri pembusuk yang baik dan yang jahat. Bakteri jahat dalam jumlah besar akan memproduksi toxin (racun).

Melalui fermentasi dan putrefaksi, bakteri menghasilkan berbagai jenis gas, seperti karbon dioksida, metana, hidrogen, nitrogen, dan hidrogen sulfida, disamping asam-asam seperti asam asetat, asam laktat, serta asam butirat.

Sejumlah bakteri dalam usus besar dapat membentuk beberapa jenis vitamin, misal vitamin B dan K, yang kemudian diserap tubuh.

Penguraian fosfatidilkolin oleh bakteri dapat menghasilkan kolin dan senyawa amin toksik terkait seprti neurin.

CH3 CH3

H3C – N+ - CH2 - CH2OH H3C – N+ – CH = CH2

CH3 CH3

Kolin Neurin

Banyak asam amino mengalami dekarboksilasi (kehilangan gugus karboksilat) akibat kerja bakteri usus sehingga terbentuk amin primer toksik yang disebut ptomain.

R – CH – COOH dekarboksilase

R – CH2 – NH2

NH2

Asam amino sebuah ptomain

Asam amino tryptofan mengalami serangkaian reaksi membentuk indol dan metilindol (skatol), substansi yang terutama memberi bau yang khas pada feses.

Asam amino sistein, yang mengandung sulfur, akan terkena serangkaian proses transformasi sehingga terbentuk merkaptan, misalnya etil dan metil merkaptan, serta H2S.

CH3 – CH2 – SH CH3SH

Etil merkaptan Metil merkaptan

[2H]

CH3SH CH4 + H2S

Metil merkaptan metana dan hidrogen sulfida

Usus besar merupakan sumber NH3 (ammonia) yang dihasilkan oleh proses pembusukan dari zat – zat makanan yang mengandung N. NH3 diabsorbsi dalam sirkulasi portal, dalam keadaan normal NH3 diambil dari darah, kemudian diubah oleh hati menjadi urea sehingga tidak toksik. Pada penderita hati, konsentrasi NH3 dalam darah tinggi sampai mencapai kadar toksis sehinnga terjadi koma hepatikum.

Pemberian Neomisin oral dapat menurunkan jumlah NH3 yang diangkut dari usus ke dalam darah.

2.10 Detoksikasi

Setelah terjadi proses pencernaan dan proses absorbsi nutrisi dalam saluran pencernaan tubuh kita, ternyata bahan-bahan toksik pun terbentuk di dalam usus besar. Bahan-bahan toksik tersebut sebagian akan diserap untuk kemudian dibawa ke hati. Di dalam hati bahan-bahan toksik mengalami proses detoksikasi.

Detoksikasi adalah proses perubahan bahan-bahan yang toksik menjadi bahan-bahan yang tidak toksik dan mudah dikeluarkan dari tubuh.Misalkan dikeluarkan dalam bentuk urine. Pada beberapa keadaan hasil detoksikasi lebih beracun dari pada zat asalnya (sebelum mengalami proses detoksikasi.Istilah lainnya yaitu biotransformasi (perubahan secara biologis).

Mekanisme detoksikasi dapat berupa oksidasi, konjugasi, reduksi atau hidrolisis. Mekanisme dapat juga berlangsung dengan kombinasi diantara keempat mekanisme detoksikasi di atas.

1. Proses Oksidasi

Merupakan reaksi pertama dan diikuti dengan rekasi konjugasi

Indikan dikeluarkan melalui urine.

[O]

b. CH2 CH2 OH CO2 â + H2O

Etil alkohol

2. Proses Konjugasi

Senyawa=senyawa yang dapat melakukan konjugasi

· Asam amino seperti: Glisin, Sistein, dan Glutamin

· Asam glukuronat

· Asam Asetat

· Zat AnOrganik

Konjugasi dengan Asam Sulfat

Umumnya senyawa Fenol, kresol, indol, dan skatol membentuk fenol sulfat (Etereal)

H2SO4

O SO2 H

Feno; Fenol Sulfat (Etereal)

(Kurang toksik, lebih asam dan mudah dikeluarkan melalui urine)

3. Proses Reduksi

Kurang umum dan kurang penting dibandingkan proses oksidasi.

Contoh:

[H]

OH OH

NO2 NO2 NO2 NH2

NO2 NO2

Asam pikrat Asam pikramat

4. Proses Hidrolisa

Contoh

Aspirin / Aseti Salisilat mengalami hidrolisis membentuk asam asetat + asam salisilat

Asam salisilat di ekskreasi dalam urine dalam bentuk konjugat dengan asam glukuronat.

Hati sebagai Pusat Detoksikasi

Fungsi detoksikasi hati (hepar) dilakukan secara reaksi oksidasi, reaksi reduksi, reaksi hidrolisa, dan reaksi sintesis/konyugasi/metalisasi. Proses ini dilkakukan terhadap berbagai macam bahan seperti zat racun, obat over dosis , juga racun. Contoh zat-zat toksik: steroid (dipakai sbg obat, namun kalau dopakai dalam dosis yang berlebihan akan menjadi racun), drugs, chemical substances.
Racun yang masuk ke tubuh akan mengalami proses detoksikasi (dinetralisasi) di dalam hati oleh fungsi hati (hepar). Senyawa racun ini akan diubah menjadi senyawa lain yang sifatnya tidak lagi beracun terhadap tubuh. Jika jumlah racun yang masuk ke tubuh relatif kecil/sedikit dan fungsi detoksikasi hati (hepar) baik, dalam tubuh kita tidak akan terjadi gejala keracunan. Namun apabila racun yang masuk jumlahnya besar, dan fungsi detoksikasi hati (hepar) akan mengalami kerusakan.
 

Mekanisme detoks

Ada 2 mekanisme yang digunakan liver untuk mengeluarkan racun. Bagian pertama pada detoks, disebut fase 1, adalah mengubah toksin menjadi bentuk yang larut lemak. Secara alamiah lemak akan segera mengikat toksin yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, toksin harus dilepaskan dulu dari jaringan lemak. Bagian kedua, disebut fase 2, mengubah toksin menjadi bentuk yang larut air agar toksin dapat dikeluarkan melalui saluran usus dan urine. Dengan mekanisme ini, tidak akan ada racun yang tersangkut atau tertinggal pada jaringan, termasuk jaringan otak dan saraf pusat. Toksin akan keluar perlahan melalui aliran darah. Pada saat inilah biasanya gejala-gejala yang terasa seperti penyakit, yakni gejala krisis penyembuhan (healing crises) itu muncul.

Pada setiap fase yang harus dilalui, pelaksanaan detoks ini sebaiknya dibantu dengan makanan dan herba tertentu untuk menguatkan sel-sel organ vital dan kelenjar yang berperan pada proses detoks.

About these ads

2 thoughts on “Sistem pencernaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s