blognya farmasis muda

asam manis hidupku..

  • it’s me!

    asam manis hidupku..
    nyummy

Archive for September, 2008

KEKEBALAN

Posted by filzahazny on September 28, 2008

KEKEBALAN ALAM

A. Definisi

Kekebalan alam atau respon imun nonspesifik adalah suatu protect atau wujud dari reaksi perlawanan yang sudah dimiliki atau didapatkan sejak lahir untuk melawan organisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Respon imun nonspesifik dapat langsung bekerja begitu ada ancaman dari bahan asing yang masuk ke dalam tubuh walauppun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut.

B. Faktor-faktor

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respon imun spesifik adalah

1. Spesies

Di antara berbagai spesies ada perbedaan kerentanan yang jelas terhadap mikroorganisme.

2. Perbedaan individu dan pengaruh usia

Peranan herediter yang menentukan resistensi terhadap infeksi terlihat dari studi tuberculosis pada pasangan kembar. Bila satu dari kembar homozigot menderita tuberculosis, pasangan lainnya menunjukkan resiko lebih besar untuk juga menderita tuberculosis disbanding pasangan kembar yang heterozigot.

3. Suhu

Kelangsungan hidup banyak jenis mikroorganisme tergantung pada suhu. Kuman tuberculosis tidak akan menginfeksi hewan berdarah dingin.

4. Pengaruh hormone

Pada diabetes mellitus, penderita hipotiroidisme dan disfungsi adrenal ditentukan resistensi yang menurun terhadap infeksi.

5. Faktor nutrisi

Resistensi terhadap infeksi yang menurun oleh efek nutrisi yang buruk sudah tidak dipersiapkan lagi. Sebaliknya keadaan nutrisi yang buruk dapat menyulitkan poliferasi virus sehingga seseorang dengan nutrisi buruk dapat lebih tahan terhadap infeksi virus tertentu dibanding orang yang nutrisinya lebih baik.

6. Flora bakteri normal

Flora bakteri normal yang terdapat di kulit dapat membentuk berbagai bahan antimikrobial secara bakteriosin dan asam. Pada waktu yang sama flora normal berkompetisi dengan pathogen potensial untuk mendapat nutrisi esensial

C. Mekanisme

Pertahanan tubuh secara alami atau nonspesifik yang bereaksi tanpa memandang apakah agen pencetus pernah atau belum pernah dijumpai adalah :

1. Peradangan

Adalah suatu respon nonspesifik terhadap cedera jaringan, pada keadaan ini spesialis-spesialis fagositik-neutrofil dan makrofag berperan penting disertai bantuan dari sel-sel imun jenis lain.

Rangkaian kejadian pada respon peradangan terhadap masuknya bakteri melalui celah di kulit :

1. Pertahanan oleh makrofag residen

Ø Melakukan perubahan sebelum mekanisme lain dapat dimobilisasi

2. Vasodilatasi local

Ø Menginduksi pengeluaran histamine dari sel mast

Ø Meningkatkan aliran darah local untuk lebih banyak menyalurkan leukosit fagositik dan protein plasma

Ø Menimbulkan kemerahan dan rasa panas setempat

3. Peningkatan permeabilitas kapiler

Ø Diinduksi oleh histamine

Ø Memungkinkan protein plasma keluar ke jaringan yang meradang

4. Edema local

Ø Terjadi akibat peningkatan tekanan osmotic koloid di cairan interstisium

Ø Menimbulkan pembengkakkan dan nyeri setempat

5. Pembatasan (pengepungan) daerah yang meradang

Ø Ditimbulkan oleh pembentukan bekuan di cairan interstisium yang mengelilingi bakteri setelah factor pembekuan yang bocor diaktifkan oleh kontak dengan tromboplastin jaringan

6. Emigrasi leukosit, terutama monosit, yang matang menjadi makrofag jaringan dan neutrofil

Ø Dilakukan melalui proses marginalisasi, diapedesis, gerakan amuboid, dan kemotaksis

2. Proliferasi leukosit

Ø Disebabkan oleh pengeluaran leukosit (yang sudah dibentuk sebelumnya) dari sumsum tulang serta peningkatan pembentukan leukosit baru

3. Destruksi bakteri oleh leukosit

Ø Dilakukan oleh neutrofil dan makrofag di tempat kejadian

Ø Ditingkatkan oleh kerja opsonin

4. Sekresi mediator peradangan oleh fagosit

Ø Membunuh bakteri melalui cara-cara nonfagositik

Ø Merangsang pengeluaran histamine

Ø Menginduksi manifestasi sistemik seperti demam

Ø Mencetuskan system pembekuan dan anti pembekuan

Ø Mengaktifkan system kinin yang memperkuat banyak proses peradangan dan mengaktifkan reseptor nyeri local

Ø Menurunkan konsentrasi besi dalam plasma yang diperlukan untuk multiplikasi bakteri

Ø Merangsang pelepasan protein fase akut dari hati yang menggunakan berbagai respon imun

Ø Merangsang produksi neutrofil

Ø Meningkatkan proliferasi dan diferensiasi sel B dan sel T

5. Perbaikan jaringan

Ø Dilakukan dengan mengganti sel-sel yang hilang melalui pembelahan sel-sel spesifik organ yang sehat disekitarnya atau pembentukan jaringan parut oleh fibroblast jaringan ikat

1. Interferon

Adalah sekelompok protein yang secara nonspesifik mempertahankan tubuh terhadap infeksi virus, berikatan dengan sel pejamu lain yang belum terinfeksi dan mencetuskan pembentukan enzim-enzim inaktif yang mampu menghambat replikasi virus. Enzim-enzim inaktif ini diaktifkan hanya apabila terjadi invasi virus pada sel-sel tersebut.

Mekanisme :

1. Virus masuk sel

2. Sel mengeluarkan interferon

3. Interferon berikatan dengan reseptor di sel yang belum terinfeksi

4. Sel yang belum terinfeksi menghasilkan enzim-enzim inaktif yang mampu memutuskan RNA messenger virus dan menghambat sintesa protein

5. Sel berikutnya dimasuki oleh virus

6. Virus masuk ke dalam sel yang sudah dipengaruhi oleh interferon

7. Enzim penghambat virus diaktifkan

8. Virus tidak mampu membelah diri di sel-sel yang baru dimasukinya

2. Sel natural killer

Sel natural killer yang terjadi secara alamiah adalah sel-sel mirip limfosit yang secara nonspesifik menghancurkan sel yang terinfeksi virus dan sel kanker dengan secara langsung melisiskan membrane sel-sel tersebut pada saat perama kali berjumpa.

Cara kerja sel ini dan sasaran utamanya serupa dengan sel T sitotoksik, tetapi sel T sitotoksik hanya dapat mematikan sel-sel terinfeksi virus atau sel kanker jenis tertentu yang pernah dijumpai oleh sel tersebut. Selain itu setelah terpajan, sel T sitotoksik memerlukan periode pematangan sebelum mampu melancarkan serangan yang mematikan. Sel natural killer membentuk pertahanan yang bersifat segera dan nonspesifik terhadap sel yang terinfeksi virus dan sel kanker sebelum sel T sitotoksik yang lebih spesifik dan banyak berfungsi.

3. Sistem Komplemen

Sistem komplemen merupakan mekanisme pertahanan yang diaktifkan secara non-spesifik sebagai respons terhadap invasi organisme.Sistem ini melengkapi (complement) kerja antibodi yaitu mekanisme primer yang diaktifkan oleh antibodi untuk mematikan sel-sel asing.

Sistem komplemen terdiri dari protein –protein plasma yang dihasilkan oleh hati dan beredar dalam darah dalam bentuk inaktif.Setelah komponen pertama,C1 diaktifkan, komponen tersebut akan mengaktifkan C2 dan demikian seterusnya, dalam suatu jenjang reaksi pengaktifkan.Lima komponen lainnya yang terakhir, C5 sampai C9 membentuk kompleks protein besar,membrane attack complex yang menyerang membran permukaan mikroorganisme didekatnya dengan membenamkan dirinya,sehingga terbentuk saluran besar di membran di permukaan mikroba tersebut.Teknik membolongi ini menyebabkan membran permukaan bocor,terjadi fluks osmotic air ke dalam sel korban,sehingga sel tersebut membengkak dan pecah.Lisis yang dinduksi oleh komplemen ini adalah cara utama pembunuhan tanpa fagositosis.Jenjang fagositosis dapat diaktifkan melalui 2 cara yaitu:

1. Jalur alternatif, menjalankannya ke rantai karbohidrat tertentu di permukaan organism,tetapi tidak terdapat pada sel manusia (respon imun non-spesifik).

2. Jalur klasik,memajankannya ke antibodi (respon imun spesifik).

Komplemen C5 sampai C9 bila diaktifkan akan membentuk membran attack complex yang melubangi sasaran.Komponen lainnya yang sudah diaktifkan memperkuat proses peradangan dengan:

1. Berfungsi sebagai kemotoksin

2. Bekerja sebagai opsolin

3. Memperkuat vasodilatasi local dan permeabilitas kapiler.

4. Merangsang pengeluaran histamin dari sel mast sekitarnya.

5. Mengaktifkan kinin

4. Fagositosis

Melibatkan pencaplokan dan degadrasi intrasel partikel asing. Dalam waktu kurang dari 0,01 detik makrofag memakan sebuah bakteri dengan cara fusi lisosom terhadap benda asing dan penguraian oleh enzim hidrolitik yang dihasilkan lisosom. Prosedur efektif yang membuat fagosit mengenali sasaran untuk dihancurkan

· Jaringan mati dan banyak bendaasing anyak memiliki karakteristik permukaan yang berbeda dengan sel tubuh normal

· Partikel asing secara sengaja ditandai untuk dfagositosis dengan melapisisnya dengan mediator-mediator kimiawi yang dihasilkan oleh system imun.

Zat kimia yang dihasilkan system imun yang menyebabakan bakteri lebih rentan adalah opsonin. Sekresi fagositik :

· Neutrofil mengeluarkan laktoferin, protein yang mengikat besi sehingga tidak tersedia besi untuk multiplikasi bakteri

· Sekresi fagosit merangsang pengeluaran histamine yang menginduksi vasodilatasi local dan meningkatkan permeabilitas vaskuler yang menyertai paradangan.

· Sekresi fagosit memecah kininogen menjadi kinin aktif yang meningkatkan proses peradangan

· Sekresi fagosit menginduksi timbulnya demam terutama melalui pelepasan pirogen endogen. Pirogen endogen menyebabkan pengeluaran prostaglandin, yang menaikkan thermostat di hipotalamus.

5. Membran Mukus

  1. Sistem pencernaan

Air liur yang dikeluarkan ke dalam mulut mengandung enzim yang melisiskan bakteri tertentu. Jika lolos masih di dalam usus ada jaringan limfoid terkait usus namun mekanisme ini tidak 100% efektif.

  1. Sistem genitourinaria

Di dalam system ini, mikroba yang masuk akan menemui lingkungan yang tidak ramah karena urin dan sekresi vagina yang asam, juga dihasilkan mucus lengket yang menangkap partikel kecil yang masuk.

  1. Sistem pernapasan

Dilengkapi tonsil dan adenoid membentuk proteksi imunologis terhadap pathogen yang terhirup di awal system pernapasan.

6. Kulit

Epidermis menghasilkan zat pertahanan imun seperti :

· Melanosit, menyerap berkas sinar UV yang berbahaya

· Keratinosit, mengeluarkan interleukin 1 yang mempengaruhi pematangan sel T yang cenderung terlokalisasi di kulit

Tebal kulit dan lapisan stratum korneum dapat menghambat masuknya kuman dan sekresi kelenjar keringat dan kelenjar sebaseum yang mengandung asam laktat dan asam lemak untuk menurunkan pH kulit sehingga bersifat bakteriostatik .KEKEBALAN DIDAPAT

(Acquired Immunity)

A. Definisi

Kekebalan didapat atau respon imun spesifik adalah pertahanan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.

Kekebalan didapat terbagi dua, yaitu :

  • Aktif

Kekebalan yang dihasilkan secara spontan dan merupakan pembentukan antibodi yang diakibatkan oleh pajanan ke suatu antigen (bahan asing yang masuk ke dalam jaringan tubuh dan dapat merangsang respon imun).Kekebalan aktif terbagi lagi menjadi dua, yaitu :

    • Alamiah, kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu penyakit.
    • Buatan, kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit.

Jenis-jenis vaksin :

o Dinonaktifkan (Inactivated), yaitu vaksin virus yang dimatikan oleh zat-zat kimia atau oleh pemanasan dan digunakan pada imunisasi. Contohnya vaksin penyakit flu, kolera, pes, dan hepatitis A.

o Attenuated, yaitu vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan di bawah kondisi yang tidak sesuai agar kehilangan virulensinya (dilemahkan) tetapi tetap mempunyai kemampuan menginduksi kekebalan pelindung. Contohnya vaksin demam kuning, vaksin rubeola, rubella, dan gondongan.

o Tixoids, yaitu eksotoksin yang dimodifikasi atau tidak diaktifkan sehingga kehilangan toksisitasnya, tetapi merangsang pembentukan antitoksin. Contohnya vaksin tetanus dan difteri.

o Subunit, yaitu vaksin yang dihasilkan dari subunit protein virus tertentu sehingga mempunyai resiko reaksi merugikan yang lebih rendah daripada vaksin virus utuh. Contohnya vaksin untuk melawan virus hepatitis B.

Beberapa vaksin baru yang juga digunakan dan dikembangkan antara lain :

o Conjugate, vaksin yang dibuat dengan menghubungkan lapisan luar polisakarida bakteri tertentu ke protein (contohnya toksin), sehingga system imun dapat mengenali polisakarida itu sebagai antigen.

o Recombinant Vector, vaksin yang dibuat dengan mengkombinasikan fisiologi dari satu mikroorganisme dengan DNA yang lain, sehingga bias diciptakan kekebalan terhadap penyakit yang mempunyai gejala infeksi yang kompleks.

o Vaksinasi DNA, vaksin yang dibuat dari DNA agen penularan yang bekerja dengan cara memasukkan DNA bakteri ke dalam sel tubuh manusia atau hewan. Kemudian beberapa sel system imun yang mengenali protein DNA bakteri tersebut merespon dan menyerang protein itu. Karena sel tersebut hidup untuk waktu yang lama, ketika ada pathogen yang biasanya menyatakan protein itu muncul maka akan langsung diserang oleh system imun. Saat ini vaksin DNA masih dalam percobaan, namun memperlihatkan hasil yang menjanjikan.

  • Pasif

Kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapat dari luar.

Kekebalan pasif terbagi dua, yaitu :

o Alamiah, antibody yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan orangtua kandung langsung ketika berada dalam kandungan (transplasenta).

o Buatan, kekebalan tubuh yang diperoleh kerana suntuikan serum untuk mencegah penyakit tertentu(serum hiperinum)

B. Perbedaan kekebalan alam dan kekebalan didapat

ALAM

DIDAPAT

Resistensi

Tidak berubah oleh infeksi

Membaik oleh infeksi berulang

Spesifitas

Efektif terhadap semua mikroorganisme

Spesifik untuk mikroorganisme yang merangsang

Sel yang penting

  • Fagosit
  • Sel NK
  • Sel K
  • Limfosit

Molekul yang penting

  • Lisozim
  • Komplemen
  • Protein fase akut
  • Interferon
  • Antibody
  • sitokin

Posted in imunologi virologi | Tagged: , , , , , | 2 Comments »

PEMERIKSAAN ATAS UNSUR LOGAM

Posted by filzahazny on September 28, 2008

Seperti telah disebutkan, unsur logam dapat diperiksa dengan uji pemijaran dimana dengan cara ini dapat dipisahkan antara:

* Logam yang hilang dalam pemijaran.

* Logam yang meninggalkan sisa pijar

II.2.1. Logam yang Hilang Dalam Pemijaran (As dan Hg)

* Uji Logam As (Arsen)

Logam As diperiksa dengan cara Gutzeit, yaitu zat + Zn + Asam sulfat encer, dipanasi dengan api kecil. Leher tabung diberi kapas yang dibasahi dengna Pb-Acetat, lalu mulut tabung ditutup dengan kertas saring yang dibasahi dengan AgNO3, yang diamati:

Ø Perubahan warna pada kertas saring menjadi warna kuning, lalu hitam.

Ø Terciumnya bau bawang.

* Uji Logam Hg (Raksa)

Jika setetes garam raksa diletakkan di atas tembaga putih akan terjadi bercak abu-abu yang jika digosok akan berkilatan seperti perak.

Sesuai dengan urutan tegangan logam, jika garam raksa (II) atau garam raksa (I) kontak dengan tembaga logam, akan terjadi raksa logam dan tembaga (I) atau tembaga (II). Raksa logam tembaga yang masih ada akan membentuk campuran (amalgam) yang jika digosok akan berkilatan.

Reaksi:

Hg2+ + Cu à Hg + Cu2+

Hg2+ + 2 Cu à Hg + 2 Cu+

Hg22+ + Cu à 2 Hg + 2 Cu+

Hg22+ + Cu à 2 Hg + Cu2+

II.2.2. Logam yang Meninggalkan Sisa Pijar

* Uji Logam Sn (Timah)

Uji dilakukan dengan menambahkan kalomel (Hg2Cl2) padat ke dalam zat yang telah terlebih dahulu dilarutkan dalam HCl 4 N. Uji ini akan positif terhadap Sn2+ yang akan membentuk endapan putih keabu-abuan bila dipanaskan, sedangkan uji terhadap Sn4+ akan negatif. Hal ini disebabkan karena Sn2+ dari larutan zat akan mereduksi kalomel menjadi logam Hg, menurut reaksi:

Sn2+ + Hg2Cl2 à 2 Hg + SnCl22+

endapan putih abu-abu

* Uji Logam Cr (Kromium)

Uji dilakukan dengan memijarkan zat dengan menggunakan crussibel tong atau cawan crusibel, di dalam tanur dengan suhu 800oC sampai pijar. Maka dengan adanya Na2CO3 atau dengan adanya unsur C sebagai katalis, maka akan teroksidasi menjadi kromium(III) oksida, Cr2O3, yang berupa masa berwarna hijau yang tak terleburkan. Uji ini dapat dilakukan pada semua senyawa-senyawa kromium. Percobaan lain untuk menguji adanya Cr seperti yang dilakukan pada analisa kation dan anion, tidak dapat dilakukakan pada percobaan ini karena uji-uji tersebut akan menimbulkan endapan berwarna kuning. Contoh reaksi tersebut adalah:

Ø Cr dioksidasi menjadi CrO42- ditambah BaCl2 menghasilkan BaCrO4 berupa endapan berwarna kuning.

Ø Cr dioksidasi seperti di atas, ditambahkan Pb-Acetat menghasilkan PbCrO4 yang juga berupa endapan berwarna kuning.

* Uji Logam Pb (Timbal)

Dilakukan dengan cara melarutkan zat dalam asam asetat lalu ditambah larutan kalium iodide (KI) maka akan terbentuk kristal berbentuk lempeng/keping-keping berwarna kuning yang dapat diperiksa di bawah mikroskop. Reaksi:

Pb2+ + 2 I- à PbI2

kristal lempeng

* Uji Magnesium (Mg)

Jika larutan garam magnesium yang dibuat dengan larutan asam nitrat encer direaksikan dengan larutan ammonium klorida dan larutan ammonium berlebih, larutan akan tetap jernih. Jika larutan amoniakal direaksikan dengan larutan dinatrium hydrogen fosfat akan terjadi endapan kristal putih.

Mula-mula magnesium klorida tidak akan mengendap karena amonium klorida bekerja sebagai dapar. Konsentrasi ion hidroksida berdasarkan kerja aksi massa akan didesak kembali, dengan bertambahnya konsentrasi ion ammonium. Larutan yang mengandung garam ammonium akan membentuk kompleks yang larut karena konsentrasi akan ion Mg2+ berkurang.

[Mg(H2O)6]2+ + NH4+ à [Mg(H2O)6(NH3)]2- + H2O + H+

Dengan penurunan konsentrasi ion hidroksida atau konsentrasi ion magnesiumnya, maka hasil kali kelarutan magnesium hidroksida tidak dilampaui. Dengan penambahan monohidrogen fosfat, akan mengendap garam ganda magnesium ammonium.

Mg2+ + NH4+ + OH- +HPO42- + 5 H2O à Mg(NH4)PO4.6H2O

putih

* Uji Lithium (Li)

Ø Zat yang dibasahi asam nitrat akan memberikan warna nyala merah karmin yang intensif (misalnya lithium karbonat). Garam lithium akan mewarnai merah karmin nyala Bunsen. Garis spektrum adalah 679,8 nm (merah) dan 610,3 nm (kuning jingga).

Ø Zat yang dilarutkan dalam asam klorida dengan penambahan natrium hidroksida dan larutan dinatrium hydrogen fosfat dengan pemanasan akan memberikan endapan putih. Lithium diduga mempunyai sifat kimia seperti magnesium. Oleh karena itu lithium juga akan memberika senyawa fosfat yang sukar larut:

3 LiCl +NaHPO4 +NaOH à Li3PO4 + 3 NaCl + H2O

* Uji Kalium (K)

Ø Dengan reaksi nyala maka berwarna ungu (dengan kaca kobalt).

Ø Ditambah asam asetat dan Na3Co(NO2)6 akan menghasilkan endapan kunig.

Ø Setelah dipijarkan, sisa dilarutkan dalam air (1-2 tetes H2O) ditambah asam pikrat membentuk kristal endapan putih. Di bawah mikroskop terlihat seperti lidi (Na à jarum).

Ø Dengan reaksi tripel nitrat akan menghasilkan endapan berwarna biru kehitaman.

* Uji Barium (Ba)

Ø Ditambah asam sulfat menjadi BaSO4 yang tidak larut dimana-mana; dengan reaksi nyala akan berwarna hijau – biru.

Ø Zat dipijar dan ditambah CH3COOH encer dan meditren sehingga berwarna jingga, di bawah mikroskop berbentuk seperti jarum-jarum/ rambut.

* Uji Bismuth (Bi)

Ø Zat ditambah dengan asam asetat/ HCl membentuk amalgam.

Ø Pijarkan, amati warna: jika dari warna kuning/jingga menjadi putih, maka zat tersebut adalah Zn. Tetapi jika warna kuning/jingga tidak berubah maka zat tersebut adalah Bi.

Ø Larutan zat dalam suasana asam ditambah larutan iodium (hitam) makan berwarna merah dan membentuk senyawa BiClO.

Ø Dengan garam tioasetamid berupa endapan hitam, tidak larut dalam HCl.

* Uji Tembaga (Cu)

Sisa pijar dilarutkan dalam asam asetat menjadi berwarna biru muda. Jika ditetesi NH4OH setengah tetes maka akan berwarna biru tua.

* Uji Kadmium (Cd)

Jika ditambahkan H2S akan terbentuk endapan yang berwarna kuning.

* Uji Kalsium (Ca)

Ø Dengan reaksi nyala berwarna merah bata.

Ø Zat padat ditambahkan asam asetat dan meditren akan berwarna jingga.

Ø Zat terlarut ditambahkan asam oksalat (H2C2O4) menghasilkan Ca-oksalat. Bila dilihat di bawah mikroskop maka akan berupa kristal putih amplop.

* Uji Besi (Fe)

Ø Mudah teroksidasi menjadi Fe3+.

Ø Diberi Fe2+ à larutan zat + K4Fe(CN)4 akan menghasilkan endapan berwarna biru.

Ø Diberi Fe+3 à larutan zat + Ammonium Tiosianat (NH4CNS), maka akan menghasilkan Fe(CNS)3 yang berwarna merah tua.

* Uji Mangan (Mn)

Ø Larutan zat ditambah Na-fosfat (Na3PO4) akan menghasilkan endapan merah jambu.

Ø Zat pijar (sisa) ditambah asam asetat dan K-oksalat akan menghasilkan endapan roset (batang-batang).

Ø Sisa pijar ditambah asam asetat, KOH dan benzene asetat akan berwarna biru.

Ø Dengan NaOH + H2O2 akan menghasilkan endapan coklat.

* Uji Natrium (Na)

Ø Dengan reaksi nyala akan berwarna kuning.

Ø Larutan zat ditambahkan perekasi Zn Uranium Asetat, di bawah mikroskop akan terlihat kristal/diamond.

Ø Ditambah asam pikrat akan menghasilkan Na (jarum); dengan K2H2Sb2O2 akan menghasilkan endapan putih.

* Uji Nikel (Ni)

Pijarkan, larutan zat dalam suasan basa ditambahkan dimetilglioksin. Lalu letakkan kertas saring di atas botol NH3 pekat maka kertas saring akan berwarna merah.

* Uji Antimon (Sb3+ dan Sb5+)

Ø Sb3+ direaksikan dengan H2S akan menghasilkan endapan jingga merah.

Ø Sb5+ direaksikan dengan H2S akan berwarna merah jingga.

Ø Sb3+ dilarutkan dalam keadaan asam, dioksidasi dengan ditambahkan NaNO3 dan 1 tetes rodamina mengahsilkan warna biru.

* Uji Stronsium (Sr)

Ø Dengan reaksi nyala berwarna merah anggur.

Ø Larutan zat ditambah kalium kromat(K2CrO4) menghasilkan endapan kuning.

Ø Ditambah H2SO4 akan mengendap.

* Uji Seng (Zn)

Ø Dipijar, ketika panas berwarna kuning, ketika dingin berwarna putih, ditambahkan ammonium sulfida (NH4)2S menghasilkan endapan putih ZnS.

Ø Setelah dipijar, sisa + HCl/CH3COOH + K2Hg(CNS)4 menghasilkan kristal berbentuk salib (Zn[Hg(SCN)4]).

* Uji Aluminium (Al)

Ø Basakan dengan amonium berlebih menghasilkan endapan putih.

Ø Ditambahkan NaOH akan larut kembali menghasilkan garam aluminat.

Ø Sisa pijaran ditambahkan HCl/CH3COOH dan NaCo nitrat kemudian dibakar maka akan menghasilkan abu berwarna hijau.


Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Penyelidikan Unsur-unsur

Posted by filzahazny on September 28, 2008

* Unsur N

Prinsip: CN- pada filtrat Lassaigne dengan FeSO4 dalam keadaan basa bereaksi menjadi Na-ferrosianida dan Na2SO4.

FeSO4 dalam kedaan alkali dengan O2 dan udara dipanaskan teroksidasi menjadi garam ferri. Setelah diasamkan dengan H2SO4 untuk melarutkan garam Fe3+ bereaksi dengan Na-ferrosianida membentuk ferri-ferrosianida yang mengendap dan berwarna biru berlin. Reaksinya sebagai berikut:

2NaCN + FeSO4 à Fe(CN)2 + Na2SO4

Fe(CN)2 + 4 NaCN à Na2Fe(CN)6

6 NaCN + FeSO4 à Na3Fe(CN)6 + Na2SO4

Pelaksanaan:

2 -3 ml filtrat Lassaigne dimasukkan dalam tabung yang telah berisi 100 – 200 mg kristal FeSO4 yang belum dilelehkan. Panaskan perlahan-lahan sambil dikocok kemudian tambahkan asam sulfat encer secukupnya sampai warna biru à besi larut dan reaksi jadi asam. Terbentuk endapan yang berwarna biru berlin yang memungkinkan adanya N.

Catatan:

- Jika terbentuk warna tidak segera atau meragukan biarkan beberapa menit, saring dengan kertas saring, cuci, periksa unsur kertas saring. Karena dalam senyawa organik unsur N relatif kecil, terkadang hanya terlihat warna hjau saja.

- Kalau ragu-ragu, percobaan diulangi dengan penambahan basa atau naftalina.

- Kalau ada S2+ (Na2S) dengan FeSO4 membentuk FeS yang mengendap dan berwarna hitam. Untuk menghilangkannya didihkan campuran. Setelah warna hilang, asamkan dengan asam sulfat atau diberi FeSO4 perlahan kemudian disaring.

- Kalau ada CNS+ (jika memakai logam Na terlalu sedikit) akan terbentuk warna merah dari Fe(CNS)3.

* Unsur S

Dengan Pb – asetat

2 ml filtrat Lassaigne diasamkan dengan asam asetat, tambahkan beberapa tetes larutan Pb-asetat à terbentuk endapan PbS berwarna hitam.

Dengan Na – Nitroprussida

2 ml filtrat Lassaigne ditambah 2 – 3 tetes pereksi Na-nitroprussida yang dibuat baru à terbentuk warna merah ungu.

* Halogenida

Prinsip: Halogenida + AgNO3 à Ag-halogenida

Karena CN- dan S2- juga memberi endapan dengan Ag+, makan harus dihilangkan dulu dengan pemanasan setelah diasamkan.

Pelaksanaan:

2 ml filtrat Lassaigne diasamkan dengan HNO3/H2SO4 sampai reaksi asam, Diuapkan di penangas air dengan cawan pengkap à HCN, H2S. Hilangkan lagi dengan HNO3, tambah larutan AgNO3 à terbentuk endapan Ag-halogenida.

Catatan:

1. Untuk membedakan lebih lanjut Cl-, Br-, I- dapat dipisahkan Ag-halogenida + (NH4)2CO3 à Ag(NH3)2Cl (aq) + AgI (s) + AgBr (s)

2. AgI (s) + AgBr (s) + Zn + H2SO4 à HI + HBr ; yang dengan penambahan:

a. FeCl3/oksidator lain + larutan kanji à biru jika iodium/yodida

b. FeCl3/oksidator lain dan CHCl3/CCl4 à warna ungu jika ada yodida.

Pada penambahan oksidator berlebih akan terbentuk brom dalam CHCl3/CCl4 yang berwarna coklat jika ada brom.

3. Untuk merubah senyawa halogen organik menjadi halogenida, dapat juga dengan :

a. Memijar zat dengan CaO (cara Faraday) halogen Lassaigne sebagai Ca-halogenida.

b. Cara-cara Castellana Middleton Hogl

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

PEMERIKSAAN ATAS UNSUR-UNSUR NON LOGAM

Posted by filzahazny on September 28, 2008

Prinsip analisa: mengubah ikatan kovalen menjadi ion-ion.

Senyawa organik mengandung unsur C (karbon). Oleh karena itu untuk mengetahui suatu zat merupakan senyawa organik atau bukan perlu ditunjukkan adanya unsur C tersebut. Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pengarangan/vercaling/pirolisa

Langkah:

Zat dipanaskan dalam cawan porselen dengan syarat api tidak langsung di bawah zat supaya perubahan lebih jelas. Amati gejala pengarangan, yaitu terjadi perubahan warna menjadi cokelat kemudian hitam. Pada pemanasan lebih lanjut, warna hitam akan menghilang. Untuk mempercepat penghilangan warna hitam, dapat ditambahkan HNO3 beberapa tetes. Sebelum terjadi pengarangan mungkin dapat dilihat nyala.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1) Tidak semua senyawa organik memberikan nyala.

2) Ada senyawa anorganik yang maemberikan nyala pada pemanasan monofosfit dan hipofosfit.

3) Apabila hasil negatif, bukan berarti tidak ada senyawa organik. Ada beberapa senyawa organik yang tidak memberikan pengarangan. Senyawa tersebut antara lain:

a. senyawa yang pada pemanasan akan menyublim/menguap, misalnya: senyawa organik yang cair, kamfer, naftalin, fenol, naftol, fenacetin.

b. Senyawa yang terurai tanpa pengarangan, misalnya:

- Acetat : asam asetat/aseton

- Formiat, oksalat : CO dan CO2

- Cyanida : cyan + logam oksida/karbonat (kalau ada logam)

- Senyawa nitro/ nitrat : cyan

4) Pengamatan mungkin keliru dengan adanya warna hitam dari oksida logam. Misal: CuO, Fe2O3, dsb. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kepastian adanya unsur C, pada pemanasan lebih lanjut warna hitam harus hilang.

2. Percobaan Penfield

Prinsip: senyawa yang mengandung C apabila dipanaskan dengan PbCrO4 akan menjadi PbCO3 yang pada pemanasan lebih lanjut akan menjadi PbO + CO2. CO2 yang keluar dapat ditunjukan dengan adanya Ba(OH)2 yang akan menghasilkan endapan Ba(CO3)2 berwarna putih.

Pelaksanaan:

1) Untuk zat yang tidak mudah menguap

Dilakukan dalam tabung sempit Æ = 0,75 cm; panjang= 10 cm.

PbCrO4 dilumerkan dahulu kemudian dihaluskan. Dalam tabung dimasukkan 0,5 gram PbCrO4 dan 25 mg zat. Tabung diletakkan mendatar dan campuran zat dipanaskan dengan Ba(OH)2.

2) Untuk zat yan mudh menguap

Dilakukan dalam tabung sempit Æ =1,5 cm; panjang=10 cm. PbCrO4 dipijarkan dulu dalam tabung kemudian zat ditambahkan ke dalam pijaran tersebut dan segera tutup dengan gabus (longgar).

Pada pendinginan akan terlihat zat yang tidak terbakar akan menyublim pada dinding tabung. Dengan pemanasan setempat, diusahakan supaya ada bagian dinding yang bersih (untuk meletakkan air barit). Tabung diletakkan mendatar, teteskan air barit dan selanjutnya dilakukan cara 1.

3. Pemijaran dengan CuO

Pelaksanaan: CuO yang halus dipijarkan kemudian didinginkan dalam tabung CuO tersebut dicampur dengan zat yang akan diperiksa (harus kering) dan dipijar lagi. CO2 yang keluar akan dialirkan ke dalam larutn air barit, menyebabkann terjadinya kekeruhan.

II.1.1. Penentuan Unsur N, S, P, dan Halogenida

Untuk penentuan unsur-ubsur N, S, P, dan halogenida dikenal beberapa cara, antara lain:

1. Percobaan Beilstein

2. Percobaan Kjeldahl

3. Percobaan Faraday

4. Percobaan Lassaigne

5. Percobaan Castellana

6. Percobaan Wurzschmin

1. Percobaan Beilstein

Merupakan percobaan pendahuluan terhadap halogen.

Dasar: berdasarkan sifat beberapa senyawa yang dengan pemijaran dengan oksida tembaga membentuk senyawa tembaga yang menguap dan berwarna hijau.

Pelaksanaan:

* Pembuatan mutiara oksida

a) Kawat Cu yang bersih dicelupkan ke dalam HNO3, lalu pijar pada nyala oksidasi dari pembakar bunsen. Lakukan berkali-kali.

b) Kawat Cu dipijar, lalu dicelupkan ke dalam oksida termbaga, setelah dipijar:

i. Kawat Cu yang mengandung oksida tembaga dicelupkan pada gas lalu panaskan lagi. Kalau positif akan berwarna hijau.

ii. Untuk zat yang mudah menguap: zat digulung dalam kertas saring. Kalau cair dengn diresapkan pada kertas saring (misal: etil bromida). Masukkan ke dalam lubang udara sambil kawat CuO kita pegang pada nyala.

Kecuali halogenida, senyawa yang juga memberi warna hijau:

1. senyawa nitrogen. Misal: ureum, NH4CNS, (NH4)2SO4, NH4 formiat, beberapa turunan pioridin dan turunan chinolin. Diduga terbentuk cyan tembaga yang mudah menguap.

2. asam borat

* Persoalan NaCl (Beilstein negatif)

Hal ini dimungkinkan karena tertutup oleh nyala Na (kuning)

2. Percobaan Kjedahl

Prinsip: senyawa N, dengan H2SO4 diubah menjadi (NH4)2SO4 yang dengan basa membebaskan NH3 yang dapat ditunjukkan dengan pereaksi nessler. Senyawa P diubah menjadi PO43- yang dapat ditunjukan dengan amin molybdat dan HNO3, dimana terbentuk amin fostomolybdat yang berbentuk kristal spesifik bila diamati di bawah mikroskop.

Pelaksanaan:

Dalam tabung reksi dimasukkan 100 mg zat,, tambahkan 10 tetes asam sulfat lalu panaskan sampai larutan jenuh. Seetlah dingin, encerkan dengan satu ml H2O. tambahkan larutan NaOH encer sampai reaksi basa (alkalis). Dinginkan dan periksa dengan satu tetes pereaksi nessler.

Untuk P: setelah destruksi (pengenceran dengan air) tanbahkan HNO3 dan ammonium molybdat. Panaskan, lebih baik tanmbahkan NH4NO3 padat sedikit supaya lebih peka dan terjadi endapan kuning (lihat di mikroskop).

Catatan:

- percobaan ini sangat peka, karena itu sebaiknya dilakukan percobaan blanko tanpa zat untuk mengetahui apakah reagensia tidak mengandung NH3.

- beberapa zat (misal: senyawa diazo, turunan nitro) dengan percobaan ini sukar membebaskan NH3, hal ini dapat diatasi dengan penambahan sukrosa.

3. Percobaan Faraday ( N dan Halogen)

Prinsip: memijar zat dengan CaO dimana senyawa yang mengandung N: NH3, halogen: Ca halogenida.

Pelaksanaan:

100 mg zat dalam tabung reaksi dicampur dengan serbuk CaO. Mula-mula dipanaskan perlahan dengan api kecil, lama-lama suhu dinaikkan sampai pijar kemudian didinginkan. Asbes dipasang dekat ujung tabung dan di atasnya dipasang lakmus merah yang basah. Jika ada N, maka ada NH3 àlakmus jadi biru. Halogen akan terdapat sebagai Ca halogenida dalam tabung sisa pijar. Tarik dengan air dan periksa seperti biasa sebagai ion-ion.

Catatan:

- tidak semua senyawa organik yang mengandung N, memberikan NH3 dengan cara ini, misalnmya senyawa nitro diazo. Jadi bila hasil dengan cara ini negatif coba lagi debnagn cara Lassaigne yang lebih umum.

- untuk senyawa yang mudah menguap dipakai tabung lebar. CaO dipijar terlebih dahulu dalam tabung itu lalu ketika panas zat dimasukkan (50 mg atau = 1 tetes).

4. Percobaan Lassaigne

Prinsip: dengan memijar logam Na, maka senyawa organik yang mengandung C, H, O, N, S, P, dan halogen berubah menjadi:

Ø N :NaCN, CN

Ø S : Na2S, S

Ø P : Na3P, PH3

Ø Halogen : Na halogenida

Juga terbentuk NaOH.

Pelaksanaan:

Dalam tabung reaksi dimasukkan sepotong logam Na dan sedikit zat. Mula-mula dipanaskan perlahan pada api kecil, Na mulai meleleh dan tercampur baik dengan zat (tabung dimiringkan agar Na yang meleleh dapat bercampur baik dengan zat). Perlahan-lahan api dibesarkan sampai akhirnya dipijar sampai merah selama ± 10-15 menit.

Tabung didinginkan dan ditambahkan 1 ml air, aduk, didihkan sebentar dan akhirnya disaring dengan kertas saring. Filtrat harus jernih, bila tidak jernih berarti destruksi tidak sempurna dan harus diulang lagi.

Filtrat ini disebut filtrat Lassaigne dan dipakai umtuk penentuan selanjutnya.

Catatan:

- dengan pemijaran yang cukup lama kelebihan logam Na diubah menjadi Na2O sehingga tidak berbahaya kalau kena air.

- bila disamping C, N, ada S, kemungkinann terbentuk CNS yang akan menggangu penentuan N. untuk menghindarkannya, dipakai logam Na berlebih.

5. Percobaan Castellana (Untuk S dan P)

Percobaan ini memakai prosedur yang sama dengan percobaan Lassaigne, bedanya percobaan ini yang dipakai untuk mendestruksi bukan logam Na, tetapi campuran antara Mg dan Na2CO3 dengan perbandingan 1:2. Keuntungan cara ini adalah selain prosesnya lebih cepat, reaksi juga tidak seberbahaya cara Lassaigne karena tidak menggunakan logam Na yang meledak jika bercampur dengan air. Uji ini dapat dipakai untuk memeriksa unsur S dan N dengan cara yang sama seperti cara Lassaigne.

6. Percobaan Wurzschmitt (untuk P)

Dalam sebagian senyawa terapeutik dan farmasetik, fosfor merupakan turunan asam fosfat dan dapatr diidentifikasi sebagai fosfat setelah dihidrolisis. Jika tidak demikian halnya, senyawa fosfor organik didestruksi oksidatif dengan cara memanaskannya dengan asam nitrat atau dengan natrium peroksida dalam bom Wurzschmitt (cawan nikel yang tertutup dan disekrup). Disini juga akan terjadi senyawa fosfat yanga dapat diidentifikasi dengan penambahan ammonium molybdat.

Reaksi:

C, P pada senyawa organik + Na2O2 à Na3 PO4

C, P pada senyawa organik + HNO3 à H3PO4

Percobaan Wurzschmitt juga dapat digunakan baik untuk identifikasi maupun penentuan kadar unsur lain seperti belerang yang nantinya akan berubah menjadi sulfat

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »