tentang islam

Melebihi Batas Kedalaman-Kewajaran


Siapa orang yang paling kita cintai di dunia? ini pertanyaan retorik sesungguhnya, saya tidak mengharapkan jawaban sekadar kata dari pertanyaan ini. Mungkin, telah terbiasa kita, manusia, hidup dalam dunia angkuh yang egois. Menjadi pencinta dirinya sendiri secara utuh. Memuja kebebasan diri mutlak. Bebas telanjang dari jalanan hingga keramaian. Bebas membuat film yang menghina umat agama menghancurkan harmony among civilization. Atau free membuat gambar-gambar kartun yang sengaja dibuat sebebas-bebasnya untuk untuk menunjukan kecintaan kepada kebatilan.

Siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Terkadang ini menjadi sebuah pernyataan penting yang berhubungan dengan kepribadian kita. Pernah mendengar ungkapan bahwa manusia akan selalu menjadi pengikut setia apa-apa yang dicintainya. Menjadi pencinta pacar, ya…, hidup kita tak akan jauh dari dunia ikut-mengikuti sang pacar tersebut. Menjadi pencinta gila bola, bukan berarti wajah kita akan berubah membola, tapi bisa saja bola selalu menjadi komoditas utama dalam dunia tawar-menawar di otak kita –“Bangunin jam setengah tiga ya,!” “Mau ngapain? Belajar ya untuk uts?” “Enggak kok cuma mau nonton bola.”

Seperti itulah cinta yang hinggap di dunia ini. Kekuatan tak berukur, tak terdefinisi, tapi efeknya sangat jelas menyentuh sisi-sisi dunia. Bicara soal cinta, maka petuah-petuah dari orang yang sedang jatuh cinta adalah mempertanyakan, meragukan, menumbuhkan sikap skeptis, tentang cinta dan kedalamannya. Bertanyalah “Sedalam apakah cintamu padaku?”

Nah, kembali pertanyaan saya ajukan, Seberapa dalam sesungguhnya cinta kita kepada sesuatu yang paling kita cintai di dunia ini? Entahlah bukan bermaksud menerka-nerka kedalaman cinta, tapi saya berani memastikan bahwa kedalaman cinta kita pastilah jauh lebih dangkal daripada kedalaman cinta Rasululah kepada umatnya. Rasululah kita, laki-laki mulia yang menanamkan cinta-dalam-tak bertepi kepada kita.

Kita bangun, pagi, hidup dalam Islam. Berjalan menuju masjid dan shalat dengan tenang tanpa senjata, tanpa perang tanpa harus bergantian, dan kita shalat dengan damainya. Lalu kita berjalan melanjutkan aktivitas bertemu dengan sesama mukmin dan menyapa salam “Assalamualaikum”. Bertemu dengan perempuan yang menutup auratnya, bertemu dengan laki-laki yang menawarkan bantuan tanpa pamrih. Bertemu dengan saudara kita dari agama lain dan tetap saling santun menyapa. Kita telah hidup di tengah masyarakat yang diam-diam atau terang-terangan telah mengaplikasikan nilai islam—harmonis, damai, dan mengukuhkan manusia menjadi manusia. Buah dari perjuangan maha panjang dan berat Rasulullah 14 abad yang lalu. Salah satu hasil dari cinta rasulullah  yang melebihi batas kedalaman-kewajaran cinta manusia.

Siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Zaid bin Datsinah ra. ketika ditangkap dan diancam akan dibunuh ketika sedang melaksanakan dakwah Islam, Zaid ditanya “Maukah posisimu digantikan dengan Muhamad, untuk kami siksa dan engkau berada di tengah keluargamu?” Zaid segera menjawab “Demi Allah aku sama sekali tidak ingin Muhamad mengantikan posisiku, meski ia hanya tertusuk duri dan aku duduk di tengah keluargaku.

Sungguh, telah datang kepadamu Rasulullah dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi  kamu,  penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (Q.S At Taubah:128)

Rasulullah, Rasulullah, Rasulullah pribadi agung yang mungkin juga hanya jiwa-jiwa agung saja yang mampu menerima dan membalas cintanya. Saat seluruh tubuhnya dilempari batu—dikampung Aqobah Thaif—bahkan gunung pun menjadi geram karena itu dan berkata “Wahai Muhamad aku hanya menunggu perintahmu jika kau bersedia untuk menghukum mereka aku akan melipatkan Akhsyabain—dua gunung di Makkahm, yaitu gunung Abi Qubaisy dan gunung yang menghadapnya—di atas mereka. Namun, Rasullulah buru-buru menangkisnya tidak ada sedikitpun keinginannya untuk membalas. Rasullulah hanya berkata dan katanya adalah doa Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui dan aku berharap mudah-mudahan Engkau mengeluarkan dari mereka (keturunan) yang menyembah Allah yang Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR Bukhari Muslim).
Laki-laki inilah yang telah menjadikan hari-harinya berkisar perjuangan untuk umatnya, yang sering menangis sebab umatnya, yang merindukan berkumpul dengan umatnya di surga, yang hingga akhir hidupnya hanya meneriakkan umati, umati, umati, yang nanti di masa perhitungan amal hanya beliaulah yang masih sibuk memikirkan umatnya dan memberikan syafaat kepada mereka.

Kesederhanaan Rasulullah terlalu istimewa untuk dilupakan, Rasulullah orang yang selalu merendahkan diri, makan sepiring dengan orang-orang yang faqir, memuliakan tamu, menghargai anak yatim, menyuapi pengemis dan memberinya bukan hanya harta dunia tapi juga cinta yang tulus. Rasulullah memilih kemiskinan sebagai pakaian “Jadikan aku miskin matikanlah aku dalam kemiskinan dan masukkanlah aku dalam syurga bersama-sama orang miskin.” Begitu mulianya ia, menjadikan dirinya yang utuh mulia itu menjadi tarikan utama agar orang mencintainya. Bukan kekayaan yang membuat begitu banyak manusia mencintainya.

Dalam sebuah kitab diriwayatkan sebuah kisah bagaimana Allah bertanya kepada nabi-nabinya: “Musa, engkau siapa?” jawab nabi musa “Ana Kalamullah, “Ibrahim engkau siapa?” jawab nabi Ibrahim “Ana Khalilullah,” “Isa engkau siapa?” jawab nabi Isa “Ana Rohullah,” kemudian Allah bertanya kepada rasulullah, “Muhamad engkau siapa?” jawaban Rasulullah dengan rendahnya “Ana yatim,” dan Allah menjawab “Engkau kekasihku Muhamad, Habibullah.” Itulah sebutan Rasulullah: Habbibulah kekasih Allah. Secara makna berarti orang yang sangat mencinta dan dicinta Allah. Cintanya pada Allah juga terejahwantahkan dalam cinta-dalam-melebihi-batas-kewajaran kepada kita umatnya.

Sudah akan berakhir tulisan ini. Pertanyaan lagi saya ajukan, bukan pertanyaan berulang tentang siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Tapi pertanyaan lain, Siapakah orang cintanya paling dalam kepada kita di dunia ini?

Berpikirlah ulang saudaraku, jika hingga detik ini kita belum sempat membaca Shirah Nabawiyah. Catatan sejarah “kecil” dari perjuangan “besar” Rasululah. Padahal sejarah adalah tempat memulai perjalanan, bagaimana mungkin kita bisa tahu tujuan hidup kita, jika tempat berangkat saja kita tak tahu. Bertindaklah saudaraku jika juga selama ini kita hanya membeo memahami kehidupan Rasulullah secara parsial dan diam-diam ikut mempertanyakan kenapa ia mengajarkan perang, kenapa ia beristri banyak, kenapa ia –katanya—menyudutkan wanita? padahal kita tahu setiap ayat ada asbabunnuzulnya. Dan mungkin wajarlah jika kita menangis saudaraku, Jika hingga perulangan dekade hidup kita, kita masih belum paham juga siapa dan apa-apa tentang cinta yang akan mengantarkan kita ke syurga.

Margaretha Chrisna Sari1(hublu-salam ui)

About these ads

4 thoughts on “Melebihi Batas Kedalaman-Kewajaran

  1. Tulisan yang indah. Akan tetapi barangkali bertindak untuk atau demi masuk sorga masih bertindak dengan pamrih. Seseorang yang mencintai akan bertindak demi cinta itu sendiri, bukan karena ingin dapat pahala atau pingin masuk sorga. seseorang yang mencinta akan bertindak khidmat, diam-diam, begitu rupa sehingga tangan kanannya tidak tahu-menahu dengan kebajikan yang dilakukan tangan kirinya. Demikianlah tindakan yang beralas cinta: lepas seperti angin, jernih ibarat air, ringan bagai udara. Senantiasa segar, memperbarui diri terus-menerus, diam-diam, sedikit malu-malu karena khawatir yang dilakukannya tak diterima dia yang dicintainya, muda, tak tahu menahu. Berdebar antara khauf dan raja….

  2. Tulisan yang menentuh. Tetapi, tampaknya selama kita masih berbuat demi surga atau agar dapat pahala, masih saja ada pamrih di situ. Seseorang yang dilimpahi cinta hanya bertindak demi cinta itu sendiri. lepas dan senantiasa segar, penuh dalam dirinya sendiri. Seorang yang dilimpahi cinta akan berbuat diam-diam, begitu rupa sehingga tangan kanannya tidak tahu menahu ihwal kebajikan yang dilakukan tangan kirinya.Ringan dan harap-hrap cemas jangan-jangan yang dilakukannya tak disukai dia yang dicintainya. Senantiasa rendah hati, senantiasa berdebar antara khauf dan raja

  3. menurut saya,, tidaklah mengapa bila kita mengharap pahala dan surga karena memang itulah award darI Allah untuk kita. lantas mengapa Dia membuat surga dan neraka, kalau bukan spy hamba2 Nya taat kepada Nya?
    keikhlasan dan kerendahhatian merupakan jalan dan ujian bagi kita untuk memperoleh surga dan ridhoNya,,
    ya.. berdebar antara khuf dan raja, apakah amal kita di terima atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s