blognya farmasis muda

asam manis hidupku..

  • it’s me!

    asam manis hidupku..
    thanx to Allah coz its so amazing

Archive for July, 2008

Skabies

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Skabies juga disebut penyakit budukan atau gatal agogo, merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var hominis dan tinjanya (skibala) pada kulit manusia.

Morfologi

Sarcoptes scabiei adalah tungau yang termasuk famili Sarcoptidae,

ordo Acari kelas Arachnida. Badannya transparan, berbentuk oval,

pungggungnya cembung, perutnya rata, dan tidak bermata. Ukurannya,yang

betina antara 300-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang

jantan lebih kecil, antara 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk

dewasa tungau ini memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang merupakan pasangan

kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang. Pasangan kaki yang

pertama berakhir sebagai tabung panjang masing-masing dengan sebuah

alat penghisap berbentuk bel dan dengan kuku. Kaki belakang berakhir

menjadi bulu keras yang panjang kecuali pasangan kaki ke-4 pada jantan yang mempunyai alat penghisap. Pada permukaan sebelah dorsal terdapat garis-garis yang berjalan transversal yang mempunyai duri, sisik, dan bulu keras. Bagian mulutnya terdiri atas selisera yang bergigi, pdipalpi berbentuk kerucut yang bersegmen tiga dan palp bibir yang menjadi satu dengan hipostoma.

Siklus hidup

Siklus hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga dewasa berlangsung selama satu bulan. Sarcoptes scabei memiliki empat fase kehidupan yaitu telur, larva nimfa dan dewasa.Berikut ini siklus hidup Sarcoptes scabiei :

1. Betina bertelur pada interval 2-3 hari setelah menembus kulit .

2.Telur berbentuk oval dengan panjang 0,1-0,15 mm

3.Masa inkubasi selama 3-8 hari. Setelah telur menetas, terbentuk larva yang kemudian bermigrasi ke stratum korneum untuk membuat lubang molting pouches. Stadium larva memiliki 3 pasang kaki.,

4. Stadium larva terjadi selama 2-3 hari. Setelah stadium larva berakhir, terbentuklah nimfa yang memiliki 4 pasang kaki..

5. Bentuk ini berubah menjadi nimfa yang lebih besar sebelum berubah menjadi dewasa. Larva dan nimfa banyak ditemukan di molting pouches atau di folikel rambut dan bentuknya seperti tungau dewasa tapi ukurannya lebih kecil. Perkawinan terjadi antara tungau jantan dengan tungau betina dewasa.

6. Tungau betina memperluas molting pouches untuk menyimpan telurnya. Tungau betina mempenetrasi kulit dan menghabiskan waktu sekitar 2 bulan di lubang pada permukaan.

Patogenitas

Daerah predileksi adalah sela-sela jari-jari tangan bagian fleksor pergelangan tangan , dan lenagn depan, siku, ketiak, punggung, daerah inguinal, dan alat kelamin. Lukanya tampak sebagai garis kecil yang agak kemerah-merahan pada kulit. Pembengkakan vesikuler kecil, mungkin timbul karena peletakkan tinja yang memberikan irirtas atau ekskresi yang dibentuk di bawah terowongan yang berwarna putih atau abu-abu tidak jauh dari tungaunya. Perasaan gatal yang ditimbulkan oleh panas dan keringat menyebabkan penderita menggaruk-garuk yang menyebabkan penyebaran infestasi, merangsang luka, dan menimbulkan infeksi bakteri yang sekunder. Akibatnya, lesi yang berbentuk papel, vesikel dan pustel yang multipel timbul kemudian terbentuk kerak kudis yang berwarna coklat keabuan yang berbau anyir.. Mula-mula manifestasi klinik mungkin ringan tetapi setelah beberapa minggu kulit mengalami sensitisasi yang mengakibatkan suatu erupsi yang gatal tersebar luas dan berupa eritem.

Diagnosis penyakit ni diantaranya yaitu ;

1.Pruritus nokturna, atau rasa gatal di malam hari, yang disebabkan aktivitas tungau yang lebih tinggi dalam suhu lembab.

2.Adanya terowongan-terowongan di bawah lapisan kulit (kanalikuli), yang berbentuk lurus atau berkelok-kelok. Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, maka akan timbul gambaran pustul (bisul kecil pen). Kanalikuli ini berada pada daerah lipatan kulit yang tipis, seperti sela-sela jari tangan, daerah sekitar kemaluan (pada anak-anak), siku bagian luar, kulit sekitar payudara, bokong dan perut bagian bawah.

3. Menemukan tungau pada pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis, merupakan diagnosa pasti penyakitini. Daerah itu biasanya menjadi kemerah-merahan. Kerokan yang baik bila dilakukan agak dalam akan membuat kulit sedikit mengeluarkan darah karena di sanalah bermukim betina-betina yang gravid dan banyak telur yang telah dikeluarkan tungau betina. Untuk melarutkan kerak kudis digunakan larutan KOH 10 persen.

Pengobatan

Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salep yang dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan yang

tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh obat anti-skabies, antara lain yaitu; tidak berbau, efketif terhadap semua stadium tungau (telur, larva, maupun tungau dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh serta murah harganya. Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain:

1.Salep 2-4, biasanya dalam bentuk salep atau krim. Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori pakaian, tidak efektif membunuh

stadium telur, dan penggunaannya harus lebih dari 3 hari berturut-turut.

2.Emulsi benzil-benzoas 20-25%, efektif terhadap semua stadium tungau, diberikan setiap malam selama 3 hari bertutut-turut. Kekurangannya, dapat menimbulkan iritasi kulit.

3.Gamexan 1%, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium tungau, mudah digunakan, serta jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil, maupun anak dibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemakaiannya cukup satu kali.

4.Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan, karena selain memiliki efek anti-skabies, juga bersifat anti gatal.

5. Permetrin HCl 5%, efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalu toksik. Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relatif mahal.

6. Kwell, suatu salep terdiri atas Lindane 1% (heksaklorosikloheksan). Setelah mandi dengan air panas dan sabun, salep dapat dipergunakan.

7. Preparat sulfur presipitatum 5-10 % efektif untuk stadium larva, nimfa dan dewasa, tetapi tidak efektif untuk membunuh telur. Karena itu, pengobatan minimal selama 3 hari agar larva yang menetas dari telurnya dapat mati oleh obat tersebut.

8. Gama Benzen heksaklorida merupakan obat pilihan karena efektif untuk semua stadium. Obat ini tidak digunakan terhadap anak dibawah 6 tahun karena bersifat neurotoksik

Pemberantasan

Selain mengggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah upaya peningkatan kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

1. Mencuci bersih -bahkan sebagian ahli menganjurkan

dengan cara direbus, handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.

2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.

3. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat

yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan.

Epidemiologi

Penyakit scabies dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan bahkan seluruh kampung.

Posted in Parasitologi | Tagged: , , , | 3 Comments »

Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Bulan Rajab

Posted by filzahazny on July 15, 2008

. “Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya
(Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.

Hadits ini “Maudhu`” (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.

2. “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”

Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dike-luarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapaun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.

3. “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.

4. “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebu-lan penuh dan seterusnya”.

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.

Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya :
“Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya :
“Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.

5. “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang hari-nya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”

Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

6. “Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.

Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

7. “Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dst.

Dikatakan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.

Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”

Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diri-wayatkan : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manu-sia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bu-lan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a-do`a dikabulkan, kesusa-han kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.

Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”

Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).

Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa disiang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”

Di dalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.

Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya.”

Di dalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.

Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”

Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.

Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya :
“Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada ashol sama sekali.

Dan demikian juga, “dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.

Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketho`atan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya.”

Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allah Ta`ala memerintahkanNabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).

Bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan Rajab antara lain :

Sholat Ar-Raghaaib.
Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan disetiap awal jum`at di bulan Rajab.

Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad ke empat Hijriyah. Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :

1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.”
2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya.
3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.
5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47.
6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.
7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.
8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.
9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.
10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.
11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.

Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka.

Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “sholat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

Sholat Ummu Daawud dipertengahan bulan Rajab.

Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.

Berkata Al Imam Al hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi-rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.”

Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam : “Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.

Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”.

Terjemahan dari Kitab : Al Fawaaid Al Majmu`ah di Al Ahadiits Al Maudhu`ah
Karya : Syaikul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)
Diterjemahkan oleh Abu Al Mundzir As Salafiy.

Posted in tentang islam | Tagged: , , | Leave a Comment »

Ibadah bulan rajab

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Keterangan yang muktamad tentang bulan Rajab adalah bahwa bulan itu termasuk bulan-bulan yang dihormati, atau dalam Al-Qur’an disebut sebagai Asyhurul Hurum, yaitu, Muharram Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.

Dalam bulan-bulan tersebut, Allah SWT melarang peperangan dan ini merupakan tradisi yang sudah ada jauh sebelum turunya syariat Islam. Allah Swt berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36)

Dari para ulama kalangan mazhab Asy-Syafi’i, Imam An-Nawawi berkomentar tentang puasa sunnah khusus di bulan Rajab, “Tidak ada keterangan yang tsabit tentang puasa sunnah Rajab, baik berbentuk larangan atau pun kesunnahan.

Namun pada dasarnya melakukan puasa hukumnya sunnah (di luar Ramadhan). Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan bahwa Rasulullah SAW menyunnahkan berpuasa di bulan-bulan haram, sedang bulan Rajab termasuk salah satunya.”

Adapun tentang keutamaan bulan Rajab, kebanyakan ulama mengatakan bahwa dasarnya sangat lemah, bahkan boleh dikatakan tidak ada keterangan yang kuat yang mendasarinya dari sabda Rasulullah SAW.

Sayangnya, entah bagaimana prosesnya, justru sebahagian kaum muslimin berpendapat bahwa bulan Rajab memiliki berbagai keutamaan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu agar mereka dapat meraih fadhilah atau keutamaan tersebut.

Di antara contoh-contoh amalan-amalan yang sering dipercaya umat Islam untuk dilakukan pada bulan Rajab adalah:

1. Mengadakan shalat khusus pada malam pertama bulan Rojab.

2. Mengadakan shalat khusus pada malam Jum’at minggu pertama bulan.

3. Shalat khusus pada malam Nisfu Rajab (pertengahan atau tanggal 15 Rajab).

4. Shalat khusus pada malam 27 Rajab (malam Isra’ dan Mi’raj).

5. Puasa khusus pada tanggal 1 Rajab.

6. Puasa khusus hari Kamis minggu pertama bulan Rajab.

7. Puasa khusus pada hari Nisfu Rajab.

8. Puasa khusus pada tanggal 27 Rajab.

9. Puasa pada awal, pertengahan dan akhir bulan Rajab.

10. Berpuasa khusus sekurang-kurang-nya sehari pada bulan Rajab.

11. Mengeluarkan zakat khusus pada bulan Rajab.

12. Umrah khusus di bulan Rajab.

13. Memperbanyakkan Istighfar khusus pada bulan Rajab.

Akan tetapi, semua pendapat tersebut tidak dapat dipegang, karena kalau kita jujur terhadap sumber-sumber asli agama ini, nyaris tidak satu pun amalan-amalan di atas yang berdasarkan kepada hadis-hadis yang shahih.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra. dijelaskan bahwa Rasulullah SAW apabila memasuki bulan Rajab beliau senantiasa berdo’a:

“Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Romadhan” (Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada kami barokah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan) (HR Ahmad dan Bazzar).

Sayangnya hadis ini menurut Ibnu Hajar tidak kuat. Sedangkan hadis-hadis yang lainnya yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan bulan Rajab, tak ada satu pun hadis yang dapat dijadikan hujjah. Misalnya hadits yang bunyinya:

Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban adalah bulanku (Rasulullah SAW ) dan Ramadhan adalah bulan ummatku

Hadits ini oleh para muhaddits disebutkan sebagai hadits palsu dan munkar. Dr. Yusuf Al-Qaradawi menyebutkan bahwa para muhadditsin telah mengatakan kemungkaran dan kepalsuan hadits ini dalam fatwa kontemporer beliau.

Dalam kitab Iqthidha Shiratil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada satu keterangan pun dari Nabi SAW berkaitan dengan keutamaan bulan Rajab, bahkan keumuman hadis yang berkaitan dengan hal tersebut merupakan hadis-hadis palsu.” (Iqthidha Shirathil Mustaqim, 2/624)

Ibnu Hajar Al-Asqalani secara khusus telah menulis masalah kedha’ifan dan kemaudhu’an hadits-hadits tentang amalan-amalan di bulan Rajab. Beliau menamakannya: Taudhihul Ajab bi maa Warada fi Fadhli Rajab.“ Di dalamnya beliau menulis, “Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab, tidak juga berkaitan dengan shaumnya, atau pun berkaitan dengan shalat malam yang dikhususkan pada bulan tersebut. Yang merupakan hadis shahih yang dapat dijadikan hujjah.”

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada satu keterangan pun yang dapat dijadikan hujjah yang menunjukkan tentang keutamaan bulan Rajab. Baik itu berkaitan tentang keutamaan shaum di bulan tersebut, shalat pada malam-malam tertentu atau ibadah-ibadah yang lainnya yang khusus di lakukan pada bulan Rajab.

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

Posted in tentang islam | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Sejak Sekarang Sebelum Ramadhan

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Romadhan

Ya Allah, Anugerahkanlah kepada kami barokah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan (HR. Ahmad dan Thabrani)

Bumi terus berputar dan mengantarkan kita kembali kepada “waktu-waktu” yang dulu pernah kita lalui. Waktu dimana mungkin kita belum bisa mengoptimalkan segala potensi sehingga ada sesal yang tertinggal. Sekarang saatnya menyadarkan diri bahwa bulan suci itu akan segera datang, penantian yang panjang akan bulan Ramadhan menuntut persiapan matang dari indivudi-individu yang akan melewatinya. Koreksi semua perjalanan Ramadhan tahun lalu, apa ada hutang puasa yang belum terbayar, atau ada catatan buruk yang membuat kita tidak maksimal dalam beribadah. Kesempatan mempersiapkan lebih awal semoga menjadikan kita lebih baik dalam melewati Ramadhan tahun ini.

Berdoa untuk bisa mencapai bulan Ramadhan adalah sebuah bukti bahwa bulan ini memang sangat spesial bagi kita semua. Meskipun hadis di atas dilemahkan oleh sebagian ulama ahli hadis, tetapi tidak ada salahnya merangkai doa-doa kita dengan sebuah doa yang penuh pengharapan. Sekadar mengingatkan diri akan hadirnya bulan suci maka lantunan doa yang terucap sudah pasti mengharapkan sebuah pertemuan dengan bulan tersebut. Bahkan Al Ma’ali bin Fadhl berkata, “Mereka (para sahabat) berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, dan enam bulan setelah itu mereka berdoa agar amalnya diterima disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “. Mengingatkan diri kita akan datangnya Ramadhan lebih awal berarti kita dengan sadar memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk meminta yang lebih banyak kepada Allah. Sejak dari sekarang bulan Ramadhan sebelum Rajab kita masih punya kesempatan untuk terus berdoa dan mempersiapkan Ramadhan.

Seseorang yang mencintai sesuatu pasti selalu ingin menceritakan kebaikan dan keutamaan-keutamaan kekasihnya. Begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam. Beliau sangat mengistimewakan bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam selalu mengingatkan sahabat akan keutamaan Ramadhan dengan segala amalan utama di dalamnya sejak Rajab hingga Sya’ban. Bahkan sampai pekan ter akhir Syaban beliau naik mimbar dan meyampaikan kabar gembira, seraya menyebut-nyebut faedah dan anugerah bulan yang dirindukan itu. Dengan mengingat keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diharapkan kita bisa lebih termotivasi untuk mempersiapkannya. Jika dirasa masih kurang maka buat jadwal khusus untuk menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang fiqh puasa agar pengetahuan dan pemahaman kita bertambah.

Persiapkan Fisik dan Jiwa dari Sekarang

Untuk melatih diri mempersiapkan kesiapan fisik pada bulan Ramadhan, kita bisa memanfaatkan berbagai sarana. Seperti shaum sunnah senin-kamis dan  shaum ayyamul bidh (puasa tiga hari setiap pertengahan bulan Hijriyah). Sehingga nanti ketika sudah memasuki bulan Ramadhan kita sudah terbiasa dan lebih siap untuk melakukan semua ibadah. Sarana lain yang bisa dimanfaatkan adalah sholat malam. Menghidupkan malam dengan sholat membuat kita lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Anas bin Malik ra. Berkata, “Ketika kaum Muslimin memasuki Syaban, mereka sibuk membaca Al Qur’an dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa”. Latihan  membaca Al Qur’an sebaiknya kita mulai dari sekarang, atau jangan-jangan kita belum terbiasa membaca Al Qur’an? Jika belum terlalu lancar maka mulailah dengan belajar tajwid terlebih dahulu. Latihan-latihan kecil membaca Al Qur’an dengan rutin setiap hari kita mulai dari sekarang. Sehingga nanti ketika Ramadhan telah datang kita akan terbiasa membaca Al Qur’an, atau bahkan bisa khatam.

Terakhir yang terpenting adalah kita berlatih untuk menyisikan harta kita untuk disalurkan pada bulan Ramadhan. Begitu banyak peluang untuk beramal di bulan Ramadhan yang bisa kita manfaatkan, antara lain memberi makan fakir miskin atau mengadakan buka puasa bersama kaum dhuafa dan sebagainya.

Sungguh, kita tidak akan menemukan kenikmatan dalam beribadah kecuali kita menyiapkan jiwa yang lapang untuk menerimanya dan mengetahui urgensi dari ibadah yang kita lakukan sehingga akan memunculkan kerinduan dan keinginan untuk melakukannya lagi. Sesungguhnya persiapan yang kita lakukan bukan hanya untuk Ramadhan saja karena kita memang harus selalu bersiap, membekali diri dengan amal shalih sebab kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Persiapan yang kita lakukan pada dasarnya harus terus dilakukan. Jangan sampai Ramadhan hanya sekedar lewat tanpa ada peningkatan ibadah.

Seperti seorang Atlit yang akan melakukan pertandingan besar maka dia akan berlatih keras untuk menjadi pemenang. Begitu juga kita dalam mempersiapkan Ramadhan, jika kita ingin jadi pemenang maka berlatih keras-lah. Berlatih puasa, berlatih membaca Al Qur’an, berlatih sholat malam, dan berlatih untuk terus berdoa. Terkadang kita hampir saja tidak memiliki kesiapan untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang selalu menantinya dengan penuh rindu. Mari kita mulai sejak sekarang….

“Allahumma Sallimnii ila Romadhona, Wa Salliim Romadhona, Wa Sallimhu Minnii Mutaqobbala

Ya Allah, Selamatkanlah aku ke bulan Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan bagiku dan terimalah ramadhan itu dariku (HR. Tahabrani dan Dailamil).

Mahasiswa Departemen Geografi Angkatan 2004

Ketua Bidang 1 Dekade 1 SALAM UI

Posted in tentang islam | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Memurnikan Akidah dalam Implementasi Kehidupan

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Kita tidak dapat mengklaim bahwa kita sudah memenuhi kalimat “tiada Ilah selain Allah” – artinya kita sudah berakidah benar, terhindar dari kemusyrikan dalam beribadah, dan semua pengadilan kita sudah menerapkan syariat Allah – bila kita masih saja terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, peradaban, moral, sosial dan pemikiran. Kemudian kita diam berpangku tangan dan tidak berusaha mengubah keadaan. Kalimat “tiada Tuhan selain Allah” menyuruh kita melepaskan semua belenggu itu. Berbagai arahan Allah dan Rasul-Nya dalam masalah ini cukup jelas dan harus ditaati umat Islam, baik secara individu maupun kelompok…” (Muhammad Quthb)

Seringkali ketika membicarakan kemurnian dan urgensi makna akidah, kita hanya akan menariknya pada satu kutub: penyucian jiwa dan porsinya lebih besar pada aspek ruhiyah dan ibadah mahdhah. Penulis pun awalnya diminta untuk mengisi tema ini dengan suasana “ngeruhiy banget.”

Tidak sepenuhnya salah memang, namun untuk memurnikan (ta’shil) berarti kita harus mengembalikan sesuatu pada asalnya, membuka kembali apa yang menutupinya, dan membersihkan dari segala sesuatu yang menodainya. Nah, bila akidah hanya dipahami semata-mata sebagai aspek penyucian jiwa pribadi yang tidak terimplementasi dalam aspek kehidupan lain, maka yang terjadi bukan pemurnian, melainkan degradasi dan penyempitan makna.

Bayangkan, bagaimana pandangan Anda terhadap seorang muslim yang sangat ketat perhatiannya terhadap shalat di awal waktu sementara di aspek lain tugas-tugas kerjanya diselesaikan melebihi batas waktu? Bagaimana pandangan Anda terhadap seorang muslim yang sangat ketat perhatiannya terhadap dzikir dan doa sementara malas dalam bekerja? Bagaimana pula dengan seorang muslim yang bertahun-tahun membaca kitab akhlak sementara hubungan sosialnya sangat kaku dan cenderung keras? Apakah itu makna kemurnian akidah?

Atau dalam level kolektif, bagaimana pandangan Anda terhadap negara kita yang menjadi salah satu penyumbang jamaah ibadah haji terbesar, sementara di satu sisi juga menjadi negara terkorup? Bagaimana pula pandangan Anda terhadap dunia Islam secara umum yang memiliki doktrin “al-islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya), namun masih tertinggal? Bahkan di beberapa belahan dunia diinjak-injak dan dipermainkan tanpa punya kekuatan untuk sekedar mengangat muka di hadapan negara lain. Apakah sekedar itu makna akidah?

Oleh karena itu Muhammad Quthb dalam pernyataannya di atas hendak membuka kembali tabir makna akidah yang telah disempitkan dalam bilik-bilik ruhani yang sebenarnya kosong dan gersang dalam implementasi (jafaaf ruuhi). Sebagaimana seorang Jamaluddin al-Afghani pernah menyindir kita saat melancong ke negara yang nonmuslimnya mayoritas, “Saya melihat Islam di sini walaupun tidak melihat banyak orang Islam. Sementara di negara mayoritas muslim, saya lihat banyak orang Islam tapi tidak melihat Islam.

Artinya, selama ini akidah kita miskin implementasi dan diterapkan secara parsial. Padahal, ia seharusnya bukan hanya mencakup masalah ruhiyah, tapi juga manhajiyah, fikriyah bahkan implementasi jasadiyah. Akidah kita, yang secara ringkas terangkum dalam dua kalimat syahadat, belum mampu menjadi asasul inqilab (dasar-dasar perubahan) yang signifikan dalam kehidupan dari level individu hingga umat. Padahal, inilah urgensi terbesar dari kekuatan akidah. Itu pula yang dahulu mengubah tatanan sosial masyarakat Islam secara revolusioner dan progresif tanpa melupakan masalah kekhusyukan ruhani.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 112)

Bukankah sirah Rasul sudah sering kita dengar? Shalatnya yang khusyuk dan panjang, tidak bertolak belakang dengan penunaian amanat dunianya. Ia adalah orang yang sangat menghargai waktu dan menepati janji. Bekerja ihsan, seakan-akan melihat Allah dan dalam pengawasan-Nya. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Memperhatikan ilmu dan pengembangan ekonomi umat. Doa dan dzikirnya tidak mengurangi kerja-kerja taktisnya. Kelembutan tidak mengurangi heroismenya di medan laga, puluhan perang telah dilalui dalam usianya yang di atas 40 tahun.

Dr. Yusuf Qardhawi menulis dalam buku al-Iman wal Hayat, “Pengaruh iman bagi pembaharuan jiwa sesungguhnya tidak diragukan lagi. Berbagai kejadian cukup menjadi saksi. Ahli-ahli sejarah kagum melihat perubahan besar yang dialami bangsa Arab sesudah mereka disinari cahaya iman. Dari suku-suku berpecah belah menjadi umat yang bersatu. Dari lemah menjadi kuat. Dari penggembala binatang ternak, menjadi bangsa-bangsa dan pembentuk kebudayaan baru. Perubahan yang luar biasa ini terjadi dalam masa singkat. Bukan berpuluh tahun dan bukan berpuluh abad, melainkan dalam masa yang tidak lebih dari 23 tahun. Perubahan ini adalah karena pengaruh iman, yang ditanamkan oleh Nabi Besar Muhammad Saw dalam jiwa sahabat dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpindah dari masa jahiliyah ke zaman Islam. Dari memuja berhala kepada menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Dari suku-suku bangsa yang terpencil menjadi umat yang menulis sejarah baru dengan tinta keemasan.”

Jadi seharusnya, iman itu berdampak bukan hanya ketenangan jiwa, tapi terasa dan terlihat dalam kehidupan sosial, bahkan yang sifatnya kerja-kerja duniawi. Di antaranya, Yusuf Qardhawi menulis bahwa akidah, iman, dan tauhid itu bisa memperbesar prestasi kerja, di antara indikatornya meningkatkan produksi, mengerjakan sesuatu dengan ihsan, menghargai waktu, produktifitas tinggi tanpa alasan terhambat ibadah, dan mampu memakmurkan bumi dengan kerja-kerja kita.

Muhammad Quthb juga menulis bahwa sebenarnya akidah, kalimat “la ilaha illaLlah,” mengandung tuntutan-tuntutan yang sebenarnya telah ditunjukkan dalam sirah. Tuntutan itu mulai dari yang mahdhah sampai ghairu mahdhah. Dari tuntutan keimanan, penyembahan, legislasi, moral, pemikiran, peradaban, bahkan sampai ekpresi seni.

Lalu mengapa kita sering terjebak pada penyempitan makna akidah? Muhammad Quthb memaparkan beberapa faktor utamanya dalam buku Laa Ilaha IllaLlah: sebagai Aqidah Syariah dan Sistem Kehidupan. Pertama, pandangan yang hanya menganggap bahwa iman terbatas hanya pada pembenaran hati yang dikukuhkan lisan, sementara amal sering diabaikan dalam cakupan iman. Kedua, perilaku sufisme yang fatalistik, menafikkan bahwa Islam merupakan agama amal dan perjuangan dalam kehidupan nyata, agama jihad dan pengorbanan untuk menegakkan sistem Rabbani dalam dunia nyata. Ketiga, invasi pemikiran yang dilakukan pihak eksternal yang khawatir bila Islam akan kembali bangkit jika akidah umatnya terimplementasi sempurna.

Oleh karenanya, Muhammad Quthb menegaskan bahwa kebangkitan Islam dituntut untuk menghidupkan kembali vitalitas dan efektifitas kalimat “tiada Tuhan selain Allah” seperti dulu, di samping juga membersihkan noda-noda yang mengotori kalimat syahadat ini selama berabad-abad lalu… Dulu kalimat ini berdampak nyata dalam kehidupan umat Islam dan menjadi pelita yang menerangi seluruh umat manusia, sehingga mereka keluar dari kegelapannya, bahkan orang-orang yang belum masuk ke dalam Islam banyak mengambil manfaat darinya… Kalimat syahadat ini terpelihara dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Saw. karena memang Allah yang bertanggung jawab memeliharanya. Tugas kita adalah membukakan pintu hati kita terhadap kalimat itu dan memenuhi segala tuntutannya. WaLlahu a’lam.

Zulfadhli N., Ketua Nuansa Persaudaraan Islami (Nurani) FKM UI

Posted in tentang islam | Tagged: , , | Leave a Comment »

Melebihi Batas Kedalaman-Kewajaran

Posted by filzahazny on July 15, 2008

Siapa orang yang paling kita cintai di dunia? ini pertanyaan retorik sesungguhnya, saya tidak mengharapkan jawaban sekadar kata dari pertanyaan ini. Mungkin, telah terbiasa kita, manusia, hidup dalam dunia angkuh yang egois. Menjadi pencinta dirinya sendiri secara utuh. Memuja kebebasan diri mutlak. Bebas telanjang dari jalanan hingga keramaian. Bebas membuat film yang menghina umat agama menghancurkan harmony among civilization. Atau free membuat gambar-gambar kartun yang sengaja dibuat sebebas-bebasnya untuk untuk menunjukan kecintaan kepada kebatilan.

Siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Terkadang ini menjadi sebuah pernyataan penting yang berhubungan dengan kepribadian kita. Pernah mendengar ungkapan bahwa manusia akan selalu menjadi pengikut setia apa-apa yang dicintainya. Menjadi pencinta pacar, ya…, hidup kita tak akan jauh dari dunia ikut-mengikuti sang pacar tersebut. Menjadi pencinta gila bola, bukan berarti wajah kita akan berubah membola, tapi bisa saja bola selalu menjadi komoditas utama dalam dunia tawar-menawar di otak kita –“Bangunin jam setengah tiga ya,!” “Mau ngapain? Belajar ya untuk uts?” “Enggak kok cuma mau nonton bola.”

Seperti itulah cinta yang hinggap di dunia ini. Kekuatan tak berukur, tak terdefinisi, tapi efeknya sangat jelas menyentuh sisi-sisi dunia. Bicara soal cinta, maka petuah-petuah dari orang yang sedang jatuh cinta adalah mempertanyakan, meragukan, menumbuhkan sikap skeptis, tentang cinta dan kedalamannya. Bertanyalah “Sedalam apakah cintamu padaku?”

Nah, kembali pertanyaan saya ajukan, Seberapa dalam sesungguhnya cinta kita kepada sesuatu yang paling kita cintai di dunia ini? Entahlah bukan bermaksud menerka-nerka kedalaman cinta, tapi saya berani memastikan bahwa kedalaman cinta kita pastilah jauh lebih dangkal daripada kedalaman cinta Rasululah kepada umatnya. Rasululah kita, laki-laki mulia yang menanamkan cinta-dalam-tak bertepi kepada kita.

Kita bangun, pagi, hidup dalam Islam. Berjalan menuju masjid dan shalat dengan tenang tanpa senjata, tanpa perang tanpa harus bergantian, dan kita shalat dengan damainya. Lalu kita berjalan melanjutkan aktivitas bertemu dengan sesama mukmin dan menyapa salam “Assalamualaikum”. Bertemu dengan perempuan yang menutup auratnya, bertemu dengan laki-laki yang menawarkan bantuan tanpa pamrih. Bertemu dengan saudara kita dari agama lain dan tetap saling santun menyapa. Kita telah hidup di tengah masyarakat yang diam-diam atau terang-terangan telah mengaplikasikan nilai islam—harmonis, damai, dan mengukuhkan manusia menjadi manusia. Buah dari perjuangan maha panjang dan berat Rasulullah 14 abad yang lalu. Salah satu hasil dari cinta rasulullah  yang melebihi batas kedalaman-kewajaran cinta manusia.

Siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Zaid bin Datsinah ra. ketika ditangkap dan diancam akan dibunuh ketika sedang melaksanakan dakwah Islam, Zaid ditanya “Maukah posisimu digantikan dengan Muhamad, untuk kami siksa dan engkau berada di tengah keluargamu?” Zaid segera menjawab “Demi Allah aku sama sekali tidak ingin Muhamad mengantikan posisiku, meski ia hanya tertusuk duri dan aku duduk di tengah keluargaku.

Sungguh, telah datang kepadamu Rasulullah dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi  kamu,  penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (Q.S At Taubah:128)

Rasulullah, Rasulullah, Rasulullah pribadi agung yang mungkin juga hanya jiwa-jiwa agung saja yang mampu menerima dan membalas cintanya. Saat seluruh tubuhnya dilempari batu—dikampung Aqobah Thaif—bahkan gunung pun menjadi geram karena itu dan berkata “Wahai Muhamad aku hanya menunggu perintahmu jika kau bersedia untuk menghukum mereka aku akan melipatkan Akhsyabain—dua gunung di Makkahm, yaitu gunung Abi Qubaisy dan gunung yang menghadapnya—di atas mereka. Namun, Rasullulah buru-buru menangkisnya tidak ada sedikitpun keinginannya untuk membalas. Rasullulah hanya berkata dan katanya adalah doa Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui dan aku berharap mudah-mudahan Engkau mengeluarkan dari mereka (keturunan) yang menyembah Allah yang Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR Bukhari Muslim).
Laki-laki inilah yang telah menjadikan hari-harinya berkisar perjuangan untuk umatnya, yang sering menangis sebab umatnya, yang merindukan berkumpul dengan umatnya di surga, yang hingga akhir hidupnya hanya meneriakkan umati, umati, umati, yang nanti di masa perhitungan amal hanya beliaulah yang masih sibuk memikirkan umatnya dan memberikan syafaat kepada mereka.

Kesederhanaan Rasulullah terlalu istimewa untuk dilupakan, Rasulullah orang yang selalu merendahkan diri, makan sepiring dengan orang-orang yang faqir, memuliakan tamu, menghargai anak yatim, menyuapi pengemis dan memberinya bukan hanya harta dunia tapi juga cinta yang tulus. Rasulullah memilih kemiskinan sebagai pakaian “Jadikan aku miskin matikanlah aku dalam kemiskinan dan masukkanlah aku dalam syurga bersama-sama orang miskin.” Begitu mulianya ia, menjadikan dirinya yang utuh mulia itu menjadi tarikan utama agar orang mencintainya. Bukan kekayaan yang membuat begitu banyak manusia mencintainya.

Dalam sebuah kitab diriwayatkan sebuah kisah bagaimana Allah bertanya kepada nabi-nabinya: “Musa, engkau siapa?” jawab nabi musa “Ana Kalamullah, “Ibrahim engkau siapa?” jawab nabi Ibrahim “Ana Khalilullah,” “Isa engkau siapa?” jawab nabi Isa “Ana Rohullah,” kemudian Allah bertanya kepada rasulullah, “Muhamad engkau siapa?” jawaban Rasulullah dengan rendahnya “Ana yatim,” dan Allah menjawab “Engkau kekasihku Muhamad, Habibullah.” Itulah sebutan Rasulullah: Habbibulah kekasih Allah. Secara makna berarti orang yang sangat mencinta dan dicinta Allah. Cintanya pada Allah juga terejahwantahkan dalam cinta-dalam-melebihi-batas-kewajaran kepada kita umatnya.

Sudah akan berakhir tulisan ini. Pertanyaan lagi saya ajukan, bukan pertanyaan berulang tentang siapakah orang yang paling kita cintai di dunia ini? Tapi pertanyaan lain, Siapakah orang cintanya paling dalam kepada kita di dunia ini?

Berpikirlah ulang saudaraku, jika hingga detik ini kita belum sempat membaca Shirah Nabawiyah. Catatan sejarah “kecil” dari perjuangan “besar” Rasululah. Padahal sejarah adalah tempat memulai perjalanan, bagaimana mungkin kita bisa tahu tujuan hidup kita, jika tempat berangkat saja kita tak tahu. Bertindaklah saudaraku jika juga selama ini kita hanya membeo memahami kehidupan Rasulullah secara parsial dan diam-diam ikut mempertanyakan kenapa ia mengajarkan perang, kenapa ia beristri banyak, kenapa ia –katanya—menyudutkan wanita? padahal kita tahu setiap ayat ada asbabunnuzulnya. Dan mungkin wajarlah jika kita menangis saudaraku, Jika hingga perulangan dekade hidup kita, kita masih belum paham juga siapa dan apa-apa tentang cinta yang akan mengantarkan kita ke syurga.

Margaretha Chrisna Sari1(hublu-salam ui)

Posted in tentang islam | Tagged: , , | 4 Comments »

ORDE BARU ALA REKTOR(AT)

Posted by filzahazny on July 14, 2008


Banyak mahasiwa baru yang terlunta-lunta karena tidak segera bisa menempati asrama. Terutama mereka yang berasal dari luar Jawa – Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain –. Apalagi, mereka yang tidak memiliki sanak saudara, atau bahkan senior waktu SMA yang kuliah di UI.

Jika sebelum-sebelumnya, setelah mahasiswa baru mendaftar ulang, mereka langsung bisa mendapat jatah kamar di asrama. Namun, kali ini berbeda sama sekali. Semua kebijakan dan penjatahan siapa yang berhak tinggal di asrama diserahkan ke mahalum tiap-tiap fakultas. Sehingga, tentu saja, keputusan mereka mendapat hak atau tidak itu, baru keluar bersamaan dengan selesainya proses penilaian berkas-berkas pengajuan keringanan biaya kuliah. Yang itu sendiri, baru selesai sekitar satu minggu dari waktu pendaftaran ulang. Ini menyisakan pertanyaan, di mana mereka (yang di sebut di awal tulisan ini) akan tinggal?.

Sejenak mungkin kita bisa menerima alasan rektor(at) mengalihkan wewenang penentuan siapa-siapa saja yang berhak tinggal di asrama dari otorita asrama ke mahalum fakultas. Katanya, dari proses seleksi berkas pengajuan keringanan biaya kuliah, bisa diketahui secara pasti siapa yang paling berhak tinggal di asrama. Intinya, tujuan diadakannya sentralisasi ini, agar seleksi calon penghuni asrama bisa tepat guna. Katanya pula, disinyalir, selama ini, banyak penghuni asrama berasal dari Jabodetabek atau mahasiswa dari keluarga mampu. Sehingga, hal ini dinilai tidak tepat guna dan perlu dibenahi dengan pengalihan wewenang.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah efek kebijakan yang akan dilakukan ini sebanding dengan terlunta-luntanya mahasiswa baru yang tidak punya siapa-siapa di sini? Jawabannya tidak! Bayangkan, mereka yang tidak mampu harus menunggu selama lebih kurang satu minggu untuk mendapat keputusan bisa tinggal di asrama atau tidak. Padahal, seperti kita tahu, tidak ada kos-kosan atau kontrakan yang mau menyewakannya hanya dalam seminggu. Artinya, selama itu pula, harus di mana mereka tinggal? Belum lagi, ternyata terbukti sampai hari ini, tetap saja pengalihan wewenang ini tidak menghasilkan keputusan yang benar-benar tepat. Misalnya, ada mahasiswa baru yang dari sisi apapun dia berhak tinggal di asrama, tetapi dari pihak mahalum fakultas tidak dapat hak itu. Terbukti pengalihan wewenang ini tidak menyelesaikan masalah.

Padahal, jika berbicara masalah tepat guna atau tidak, sebenarnya di asrama akan terjadi proses seleksi alam dengan sendirinya. Artinya, jika mereka yang memaksa tinggal di sana adalah anak dari keluarga mampu, seiring berjalannya waktu, mereka tidak akan kerasan juga, dan akhirnya memilih keluar dan tinggal di tempat yang lebih cocok sesuai dengan kebiasaan di rumahnya. Jadi, tidak perlu dengan mengadakan sentralisasi kewenangan seperti itu. Toh, efeknya jauh lebih menyulitkan, tidak hanya bagi mahasiswa baru, tetapi juga untuk keluarga atau tamu yang akan menyewa kamar di asrama. Dan, toh, selama ini juga tidak ada masalah dengan koordinasi yang dilakukan oleh otorita asrama sendiri dalam hal penentuan dan pembagian calon penghuni kamar asrama. Kesulitan saat ini bermula karena semua bentuk perizinan dan persetujuan dilakukan di rektorat oleh direktur fasilitas umum.

Kita melihat adanya gejala sentralisasi di UI. Kasus asrama hanya satu contoh kasus, selebihnya masih banyak lagi. Apakah ini mengindikasikan UI tengah menerapkan metode Orde Baru di kampus ini? Mari kita awasi bersama-sama.

Posted in lain-lain | Tagged: , , , | Leave a Comment »

BUNTUT KEBIJAKAN SISTEM “BERKEADILAN”

Posted by filzahazny on July 14, 2008


Kebijakan sistem pembayaran Biaya Operasional Pendidikan (BOP) “berkeadilan” yang sarat pro-kontra di awal, terbukti masih berlanjut hingga saat ini. Polemik demi polemik mengiringi realisasi sistem “berkeadilan” ini. Musim pendaftaran ulang mahasiswa baru angkatan 2008 untuk jalur Ujian Masuk Bersama (UMB) dan PPKB sudah selesai. Kericuhan bermunculan di fakultas-fakultas. Kericuhan bermula karena ketidakpuasan mahasiswa baru dengan hasil pengajuan keringanan yang mereka inginkan, atau lebih tepatnya, yang orang tua mereka mampu bayarkan. Hal ini tentu saja menuntut kita untuk berpikir ulang, bagaimana realisasi sistem “berkeadilan” ini di lapangan?

Fakta-fakta kasus akan kami paparkan khusus dalam tulisan lain, bukan di sini. Kali ini, kami hanya ingin memetakan masalah-masalah yang muncul sebagai buntut kebijakan sistem pembayaran BOP di tahun ini.

Sebenarnya, kalau kita mau ungkit-ungkit lagi, apa yang membedakan sistem baru ini dengan sebelumnya? Secara fundamental tidak ada!. Apalagi hingga bisa sesuai dengan tujuan tertulis di Surat Keputusan; agar setiap orang bisa membayar sesuai dengan kemampuannya – orang kaya bayar mahal, orang miskin bayar murah –. Bukankah yang demikian sudah diterapkan sebelumnya. Bedanya adalah, jika sebelumnya mahasiswa miskin maksimal membayar BOP antara Rp1.250.000 – Rp1.500.000, sekarang, dengan sistem yang baru, angka itu bisa menjadi nilai minimum, atau bahkan lebih. Karena rentangnya menjadi Rp100.000 – Rp5.000.000 / Rp7.000.000. Yang menjadi korban adalah mahasiswa dari kalangan ekonomi menengah. Belum lagi kalau kita mengevaluasi matriks yang menjadi “formula” penentu berapa besar biaya yang harus dibayarkan. Banyak kelemahan dan point penting yang tidak ter-cover, seperti, mahasiswa yang orang tuanya sudah meninggal, baik satu bulan yang lalu, satu tahun yang lalu, sekalipun dia adalah seorang pegawai negeri, itu tidak akan ada bedanya. Begitu juga orang tua mereka yang pernah operasi karena sakit keras. Point itu tidak ada dalam matriks. Tentu yang demikian tidak akan memberikan hasil yang memuaskan, apalagi jika tanpa ada proses wawancara.

Banyak lagi sesungguhnya kelemahan yang ada. Walhasil, stigma yang menempel adalah bahwa UI sekarang MAHAL!. Stigma itu bukan tanpa bukti, dibeberapa fakultas yang sempat didapatkan datanya, jumlah mahasiswa baru yang tidak mendaftar ulang menunjukkan angka yang sangat fantastis! Di Fasilkom ada 32 mahasiswa baru yang tidak mendaftar ulang, FKM 100 mahasiswa, MIPA 200 mahasiswa, FISIP 113 mahasiswa. tentu, data dari fakultas lain tidak akan berbeda jauh. Suatu angka yang tidak kecil, bukan? Apakah ini ada hubungannya dengan sistem “berkeadilan” tersebut? Saya kira iya!.

Tidak bisa kita menerima cerita rektorat, bahwa mereka sudah berhasil menjemput mahasiswa dari pelosok sana, yang akhirnya dibebaskan semua biaya pendidikan, sebagai pembenaran atas kebijakan BOP yang baru ini. Tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah total yang tidak mendaftar ulang.

Lalu kita bertanya, bagaimana dengan BEM UI? Ke mana mereka dengan kasus seperti ini? Apakah mereka malu bersuara lantang ke rektorat, karena mereka dan beberapa lembaga formal lainnya yang merancang sistem “berkeadilan” ini? Kami tunggu aksi solidaritas kalian, teman-teman BEM UI! Jangan hanya bisa jadi penyambung lidah rektor (at)!

Posted in lain-lain | Tagged: , , | 1 Comment »