PEMANASAN GLOBAL; MENANTI BUMI TENGGELAM
Posted by filzahazny on February 16, 2008
by: JR Pahlano DAUD
published: Harian Komentar, Sulutlink (27 Maret 2006),
Kandungan air bumi sangat berlimpah, volume seluruhnya mencapai ~1.4
milyar km3. Lebih dari 97 persen merupakan air laut, 2 persen berupa
gunung-gunung es di kedua kutub bumi dan sekitar 0,75 persen air tawar
yang mendukung kehidupan makhluk hidup di darat. Dari luas permukaan
bumi 510 juta km2, 70.8 persen (361.13 juta km2) planet kita ditutupi
oleh air sehingga tidak mengherankan warnanya biru dibanding
planet-planet lain dan sebenarnya beralasan penamaan ‘bumi’ (‘earth’
dengan bahasa Latin humus/terra berarti tanah/daratan) adalah suatu
kekeliruan. Lautan memang tidak tersebar merata di permukaan bumi,
menutupi 80 persen belahan selatan dan 61 persen di belahan utara di
mana terdapat sebagian besar daratan dunia. Paparan benua
(continental), hanya mencakup 7-8 persen seluruh luas lautan dengan
kemiringan landai sampai kedalaman 200 meter, kemudian menurun tajam
hingga 3-5 km (kedalaman rata-rata lautan 4 km). Dataran abisal ini
seragam kedalamannya menutupi daerah dasar lautan yang rata dan sangat
luas.
Jika diamati perbandingan ‘massa’ daratan dan lautan dengan
mengandaikan seluruh daratan diratakan maka yang tersisa hanyalah
massa air dengan kedalaman lebih dari 3 km. Kebanyakan pegunungan
tertinggi bumi berkisar antara 5 – 8 km seperti pegunungan Himalaya
dengan elevasi tertinggi di Everest (8.850 m). Sedangkan kedalaman
palung-palung laut berkisar 7 sampai 11 km dengan palung terdalam
Mariana di Pasifik 11.033 meter (panjang 1.554 mil, lebar 44 mil).
Sekalipun ditenggelamkan gunung Everest ke laut terdalam dunia ini
masih tersisa massa air diatasnya dengan kedalaman lebih dari 2 km
(2,183 m).
Di belahan dunia bagian utara, musim dingin saat ini turut merenggut
korban jiwa seperti di Jepang dan Rusia. Untuk menyisihkan salju yang
luar biasa tebal, Jepang mengoperasikan mesin keruk spesial. Di India
ratusan orang meninggal akibat kedinginan. Sementara di Australia
mencatat tahun 2005 sebagai tahun yang paling panas. Kepanikan juga
melanda warga Rusia gara-gara salju turun tapi bukan salju putih
seperti biasa, melainkan salju merah. Badai pasir yang terangkut dari
Mongolia menimbulkan fenomena ini (Ananova,14/3/2006). Selain turut
memperluas gurun di dunia, salju merah yang mengguyur Rusia hanya
beberapa pekan setelah salju kuning menyelimuti wilayah Pulau Sakhalin
di Rusia timur jauh akibat oleh polusi dari pabrik minyak dan gas.
Peningkatan Suhu. Badan dunia PBB lewat Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC, 1990) menyimpulkan bahwa sejak akhir 1980-an
pemanasan global terlihat nyata dan meningkat tajam 0.3 – 0.6 derajat
Celcius. Tahun 1987 dan 1988 tercatat sebagai dimulainya suhu global
rata-rata tertinggi, pemecah rekor di Siberia, Eropa Timur dan Amerika
Utara. Pada tahun yang sama juga diikuti terjadinya banjir besar di
Korea dan Bangladesh. Bangladesh, di awal 1991 mengalami banjir lagi
disertai angin puyuh yang menimbulkan banyak korban jiwa. Survey WWF
(2006) melaporkan bahwa lapisan es di pegunungan tertinggi dunia,
Himalaya, telah mencair dengan cepat dan berpotensi menimbulkan
kesulitan pasokan air. Himalaya memiliki cadangan air beku terbesar
dunia setelah wilayah kutub. Lelehan es-nya mengaliri sungai-sungai
besar Asia (Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan
Sungai Kuning). Namun peningkatan suhu menjadikan lapisan es menurun
cepat dengan laju 10-15 m/tahun, sehingga menimbulkan banjir. Setelah
cadangan es habis, kekeringan pasti melanda (lLiveScience.com).
Ratusan juta orang di China, India, dan Nepal bahkan yang tinggal jauh
dari Himalaya bergantung pada pasokan air dari pegunungan ini. Banyak
di antara mereka hidup pada daerah rawan banjir yang sebagian besar
lahan pertaniannya mengandalkan sungai-sungai tersebut. Beberapa
penelitian mengindikasikan temperatur bumi bisa meningkat lagi 2
derajat Celcius di atas masa sebelum industri, dalam waktu kurang dari
20 tahun saja. Tanda-tanda kenaikannya sudah terlihat dimana-mana.
Kini rata-rata suhu tahunan di Nepal telah meningkat 0.06 Celcius, dan
tiga sungai yang bersumber dari salju telah berkurang alirannya.
Sedangkan gletser Gangotri di India telah turun 23 m/tahun
(bbc.co.uk). Bukti lain juga terlihat bukan hanya di Himalaya,
Kilimanjaro (5.895 m) gunung tertinggi kebanggan Afrika yang oleh
suku-suku setempat disebut gunung putih/bercahaya (Kilima
Dscharo/Njaro) puncaknya yang bersalju kini mulai hilang. Foto udara
di tahun 1993 dan 2000 menunjukkan perbedaan mencolok pada bagian atas
gunung di Tanzania itu, lapisan saljunya tampak semakin sedikit
dibanding foto awal (theclimategroup.org). Sesungguhnya hal ini hanya
bukti lain dari efek kenaikan suhu bumi, banyak contoh yang kita
rasakan sendiri seperti makin menipisnya salju di Puncak Jaya-Papua
atau makin panasnya kota-kota di Indonesia.
Pertengahan tahun lalu, seorang penjelajah kutub dari Inggris
mengatakan bahwa suhu udara musim panas di Kutub Utara meningkat
dengan laju yang sangat cepat. Bagian-bagian yang seharusnya berupa es
kini menjadi air. Ben Saunders, membatalkan rencananya untuk meluncur
dengan ski dari Rusia melalui Kutub Utara ke Kanada karena
terheran-heran pada banyaknya es yang meleleh. Ini adalah kali ketiga
ia berada di Kutub Utara selang tiga tahun terakhir (Reuters, 2005).
Studi terbaru NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration)
menunjukan bahwa tahun 2005 memang merupakan tahun terpanas kedua
(setelah 1998). Peningkatan temperatur global rata-rata tahun lalu
sebesar 0.3 Celcius (0.54 Fahrenheit) sedikit lebih panas dibanding
tahun 2002-2003-2004 (diurutkan berdasarkan tahun terpanas satu abad
terakhir). Pencitraan satelit NASA (National Aeronautics and Space
Administration) dengan sensor AMSR-E Jepang (Advanced Microwave
Scanning Radiometer-EOS) menunjukkan pemanasan yang paling signifikan
terjadi di wilayah Artik-Kutub Utara, dimana tudung esnya telah
menyusut drastis selang 1978-2003 (foto). Sejak November 1978 (foto
atas), atmosfir Artik telah meningkat panasnya 7 kali lebih cepat
dibanding pemanasan rata-rata di belahan bumi bagian selatan
(LiveScience.com).
Prof.H.Pollack (Michigan Univ.) dan Dr.H.Beltrami (St.Francis Xavier
Univ.) lebih menegaskan efek pemanasan global dengan mengkaji bebatuan
inti yang dideteksi pada lapisan kerak bumi. Pemanasan bebatuan dasar
pembentuk benua continental rocks melengkapi komponen penting dalam
sistem tata iklim bumi yang telah lebih banyak diteliti, yaitu
permukaan lautan, lapisan atmosfir bumi, dan permukaan es
(cryosphere). Dari data 616 titik pengeboran yang tersebar di berbagai
pelosok benua Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Australia,
dan Eropa, memperlihatkan kenaikan panas yang dikandung selama 500
tahun terakhir. Lebih dari separuh pemanasan intens terjadi pada kurun
waktu sejak permulaan abad ke-20 dan hampir sepertiganya sejak tahun
1950-an (Geophysical Research Letters, 2002). Secara mendasar
pemanasan yang terdeteksi pada batuan ini sangat serupa dengan hasil
studi pola pemanasan atmosfir bumi, lautan, maupun lapisan muka es.
Ini menyimpulkan betapa seriusnya tingkat pemanasan global yang tengah
berlangsung. Suhu yang lebih panas dapat menyebabkan meningkatnya
gagal panen dan kekeringan. El-Nino dengan frekwensi yang lebih sering
disertai efek yang lebih dahsyat akan terjadi. Selain itu, gurun di
berbagai belahan dunia pun dilaporkan semakin meluas diikuti
berkurangnya hutan.
Naiknya Permukaan Laut. Tahun lalu, naiknya permukaan laut mendorong
penduduk Lateu di Pulau Tegua, Vanuatu (Pasifik) membongkar rumah
kayunya dan berpindah ke pulau terdekat yang 600 meter lebih tinggi.
Pulau karang seluas 30.72 km3 itu telah menyusut. Pohon-pohon kelapa
di pinggir pantai terendam, dan ini adalah dampak dari pemanasan
global yang jelas terlihat kerugiannya bagi sebuah komunitas. Erosi,
air pasang yang tinggi karena badai menjadi semakin besar dalam
tahun-tahun terakhir dan menyebabkan pulau Tegua tidak lagi
berpenghuni karena sering disapu banjir 4-5 kali dalam setahun. Dua
pulau lain tak berpenghuni di Kiribati yaitu Tebua Tarawa dan Abenuea,
sebelumnya juga telah tenggelam tahun 1999. Program Lingkungan PBB
(UNEP) menyatakan bahwa wilayah Lateu menjadi salah satu-kalau tidak
boleh dikatakan yang pertama-daerah secara formal pindah karena
pengaruh buruk pemanasan global. Penduduk Pasifik yang kebanyakan
tinggal di pulau karang adalah kelompok paling beresiko. Sekitar 2.000
penduduk kepulauan Cantaret di Papua New Guinea berencana pindah ke
pulau tedekat Bougainville. Maladewa (Maldives) tahun 1987 juga
mengalami banjir akibat ombak pasang. Selain disapu Tsunami, negara
kepulauan yang menggantungkan devisanya dari pariwisata bahari
terancam hilang dari peta bumi (RealClimate.org). Banjir-badai akibat
gelombang pasang yang terjadi baru-baru ini di kep.Maluku sampai
kep.Sangihe dengan ketinggian 50 cm juga merupakan pertanda pemanasan
global. Indonesia sebenarnya telah dan akan mengalami hal yang sama
namun hiruk-pikuk politik dan isu lain lebih mengemuka dan diminati
sehingga ancaman ini diabaikan.
Di Kutub Utara, penduduk asli di Shismaref-Alaska dan
Tuktoyaktuk-Kanada juga berencana untuk pindah. Penduduk Artik dan
pulau-pulau kecil di dunia kini menghadapai ancaman yang sama. Menurut
penelitian IPCC (1990), permukaan laut telah naik di akhir abad 20
lalu dengan peningkatan sebesar 10-20 cm. Peneliti lain juga menemukan
kenaikan permukaan air laut sebesar 19.5 cm antara 1870-2004 dan
kenaikannya semakin cepat secara eksponensial pada 50 tahun terakhir
ini. Jika kecenderungan tersebut berlanjut, permukaan laut secara
global akan mengalami kenaikan lebih dari 30 cm selama abad ke-21
(Geophysical Research Letters, 2005). Mengkhawatirkan karena
peningkatan permukaan laut sebesar 30-50 cm mempengaruhi habitat
daerah pantai. Peningkatan 1 meter saja akan membuat beberapa negara
pulau tak dapat dihuni, menggusur puluhan juta orang, mengancam daerah
perkotaan yang rendah, membanjiri lahan produktif dan mencemari
persediaan air tawar.
Lima tahun terakhir ini, lelehan es Antartika (kutub selatan)
dilaporkan bertanggung jawab terhadap sedikitnya 15 persen kenaikan
permukaan laut dunia atau sekitar 2 mm/tahun. Beberapa bagian utama
gunung-gunung es Antartika telah pecah pada dekade ini. Beting es
Larsen A, yang berukuran 1.600 km2 pecah tahun 1995. Beting es Wilkins
seluas 1.100 km2 runtuh tahun 1998, dan Larsen B yang luasnya 13.500
km2 terlepas tahun 2002. Pemanasan global telah mencairkan es di
Antartika lebih cepat dari perkiraan semula dalam kurun 50 tahun
terakhir. Dalam pengumuman hasil penelitian di Konferensi Perubahan
Iklim di Exeter baru-baru ini, para ilmuwan British Antarctic Survey
(BAS) mengatakan kenaikan permukaan laut akibat lelehan es selama ini
masih kurang diperhatikan. Prof.C.Rapley, direktur BAS mengatakan
bahwa Antartika seperti “raksasa yang dibangunkan”, di mana lelehan
es-nya memberi dampak besar pada kenaikan permukaan air laut dunia,
namun kebangkitannya tak dirasakan. Melelehnya semenanjung Antartika
bahkan telah menghilangkan lautan es yang dahulu berfungsi menahan
gerakan gletser. Akibatnya, gletser kini mengalir ke lautan enam kali
lebih cepat dibanding sebelumnya (bbc.co.uk).
Sejak akhir 1960-an, sebagian besar air Samudra Atlantik Utara menjadi
kurang asin akibat melelehnya gletser. Hujan dan aliran air meningkat,
menyebabkan lebih banyak air tawar mengalir ke laut. Dr.R.Curry dari
Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menemukan bahwa selama
dekade terakhir air tawar telah terkumpul di lapisan Laut Nordic
bagian atas hingga kedalaman 1.000 meter. Dr.C.Mauritzen (Norwegian
Meteorological Institute) memperhitungkan ada ekstra 19.000 km kubik
air mengalir ke laut antara tahun 1965-1995. Sebagai perbandingan,
sungai Mississippi mengalirkan sekitar 500 km3 air tawar/tahun.
Sedangkan Amazon, sungai terbesar dunia memasok sekitar 5.000 km3 ke
lautan tiap tahun (NewScience.com). Karena air dengan kadar garam
rendah kurang padat, maka penambahan air tawar ke laut mempengaruhi
alirannya-seperti sistem arus Atlantik yang mempertemukan air dingin
dari wilayah Artik dengan air hangat daerah tropis. Lapisan atas arus
ini terdiri dari aliran air hangat bergerak ke utara sepanjang
permukaan laut. Sampai di wilayah lintang tinggi, aliran air hangat
ini menjadi dingin dan tenggelam menuju lapisan bawah-melepaskan panas
ke atmosfer di wilayah utara. Bila banyaknya air tawar yang masuk ke
laut mengubah aliran ini baik musiman maupun jangka panjang maka akan
mempengaruhi banyak hal, mulai terbentuknya badai hingga banjir dan
udara panas (lihat ‘Hurricane Katrina’ di AS tahun lalu). Sejauh ini
memang belum ada perubahan signifikan yang diteliti berkaitan dengan
makin banyaknya air tawar yang masuk ke laut, namun diperkirakan
perubahan seperti itu akan terjadi bila pemanasan global terus
berlangsung.
Perubahan ekologis. Dampak dari pemanasan global juga memberikan
bermacam tekanan atas kehidupan berbagai kawasan ekosistem. Rusaknya
lingkungan oleh manusia turut berimbas pada manusia, namun satwa-lah
yang pertama kali merasakan dampaknya. Mulai dari yang berukuran besar
sampai organisme berukuran kecil. Dari perubahan perilaku sampai pada
perubahan genetik. Berbagai species terancam punah dengan tidak
stabilnya populasi akibat berubahnya iklim dan suhu. Proses biologi
hewan-hewan dan tumbuhan juga berubah, mis: proses hibernasi Marmut
terlihat lebih cepat dibanding 30 tahun lalu ataupun perubahan
tumbuhan akibat proses fotosintesis yang meningkat sehingga musim
berbunga lebih awal dan cepat rata-rata 0,8 hari/tahun. Perubahan
iklim-musim akan merangsang tanaman untuk memproduksi lebih banyak
serbuk sari, juga meningkatkan pertumbuhan jamur. Dr.L.Dyer, ecologist
dari Tulane Univ. menyimpulkan bahwa perubahan cuaca dapat menyebabkan
pertumbuhan populasi ulat besar-besaran hingga mengancam tanaman
pertanian. Jika dibiarkan, pada akhirnya dapat menimbulkan ancaman
kelaparan dunia (Proceedings of the National Academics of
Science/pnas.org). Satwa daratan yang dilindungi dan endemik sekalipun
seperti Gajah dan Harimau Sumatra, dll, kini memperlihatkan keanehan.
Selain memang habitatnya secara langsung menyusut akibat desakan
manusia, yang kurang disadari adalah dampak dari pemanasan global.
Januari lalu, seekor Paus hidung botol yang biasa hidup di Laut
Atlantik Utara sempat berenang melewati gedung parlemen Inggris di
sungai Themmes ‘pusat kota’ London (nature.com/news.bbc.uk). Saat ini,
berbagai perilaku hewan seperti mamalia laut paus dan lumba-lumba yang
mendamparkan diri tanpa sebab selalu dikaitkan dengan pemanasan
global.
Selain menciutnya beruang es, burung di laut Bering-Alaska juga
berkurang kecerdasannya dan menderita penurunan daya tahan hidup serta
kemampuan berkembang biak. Berdasarkan pengamatan Royal Society for
the Protection Birds (RSPB), sejak 1980-an, populasi burung kaki merah
Kittiwake menurun hampir setengahnya selama dua dekade terakhir.
Kemerosotan populasi ini dipicu oleh pola makan yang berubah, seiring
dengan rusaknya ekosistem. Ikan-ikan mengalami penurunan kadar lipid
dalam tubuhnya. Paling mencolok adalah berkurangnya jumlah ikan yang
mengandung lemak tinggi, seperti ikan Capelin. Padahal, ikan dengan
kadar lemak tinggi adalah makanan yang sehat bagi burung-burung untuk
mendukung kemampuan intelegensinya, termasuk Kittiwake. Setelah
dianalisa lebih jauh, pola makan ini terkait dengan perubahan iklim,
di mana meningkatnya suhu udara laut Bering pada periode yang sama
memicu penurunan populasi ikan (news.bbc.co.uk 2005). Studi ini
menyimpulkan, bukan manusia saja yang belakangan ini menderita
kekurangan gizi, satwa juga. Kian tinggi suhu permukaan laut, kiat
buruk pula kondisi ekosistem di dalamnya.
Terumbu karang penghalang terbesar dunia (Great Barrier Reef,
Australia) kembali dilaporkan terlihat putih memucat setelah kejadian
yang sama tahun 1998 dan 2002 lalu yang juga melanda sebagian besar
terumbu dunia sampai batas distribusinya di bagian utara (Jepang
selatan). Survey Februari 2006 lalu yang dilakukan Dr.R.Berkelmans
menggambarkan kematian coral besar-besaran (95-98 persen) disebabkan
kenaikan suhu air laut secara tiba-tiba di sekitar kep.Keppels yang
masuk wilayah Queensland. Penyebab utamanya dihubungkan dengan suhu
tahunan wilayah Australia mencapai yang tertinggi dalam catatan
sejarah sepanjang tahun lalu. Naiknya suhu air laut di atas normal
selama musim panas menyebabkan coral sekitar kepulauan tersebut
memucat (aims.gov.au). Kejadian yang sama juga terjadi di Karibia
musim panas 2005 lalu. Pemutihan besar-besaran di kep.Karibia sekitar
pulau Virgin yang masuk wilayah AS, memanjang dari Florida Keys ke
Tobago serta Barbados di selatan Panama dan Kosta Rika. Pemutihan
coral (bleaching) mungkin akan mendunia sebagai bagian dari naiknya
suhu air laut. Naiknya suhu menyebabkan alga (zooxanthellae) yang
hidup berasosiasi dengan coral berubah dan turut berdampak pada
pasokan nutrisi juga warna pada karang. Coral akan mati meninggalkan
bongkahan kalsium berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin
sesuai batasan hidupnya. Meningkatnya polusi, penangkapan ikan
berlebihan, reklamasi pantai, dan penyakit adalah faktor lain yang
mengancam keberadaannya. Ekosistem terumbu karang (coral reef)
merupakan tempat hidup yang penting bagi berbagai spesies ikan,
penghalang erosi, dan lokasi bagi wisata ekologi (ecotourism). Dengan
naiknya suhu dan permukaan air laut maka dasar lautan makin dalam,
sinar matahari semakin sulit menjangkau tempat hidup alga-coral hingga
dikhawatirkan terumbu karang akan punah di akhir abad ini jika
penyebabnya tidak segera ditekan.
Dari hampir 1.500 species flora/fauna yang diamati Prof.T.Root, dkk
(Stanford Univ.) terdapat 1.200 sp. memperlihatkan perubahan tetap
akibat berubahnya suhu. Banyak spesies saat ini termasuk ikan-ikan
cenderung bermigrasi-bergerak ke arah utara bumi, ke tempat yang lebih
dingin. Vegetasi tumbuhan diperkirakan berpindah 100-150 km ke arah
kutub untuk beradaptasi dengan peningkatan suhu sebesar 1 derajat
Celcius (Nature, 2003). Hal yang sama terjadi pada hutan mangrove.
Mangrove yang peka selain terhadap perubahan salinitas air dan laju
sedimentasi pasti tak dapat menghindar jika air laut naik. Selama masa
perubahan iklim yang bertahap, seperti terjadi pada waktu lalu,
kawanan hewan perumput bergerak mengikuti vegetasi diiringi oleh
karnivora yang memangsa mereka. Perubahan iklim yang cepat tak
memberikan harapan bagi penyesuaian seperti ini. Tentunya organisme
yang tak dapat beradaptasi dengan perubahan akan terisolasi dan punah.
Pemanasan global dapat mereduksi keanekaragaman genetik dan ini
berarti walaupun keanekaragaman spesies tinggi, namun karena kurang
dalam jumlah maka lebih rentan dan terancam punah akibat penyakit
serta rendahnya keanekaragaman genetik. Berdasarkan berbagai jurnal
penelitian ilmiah terbaru, ternyata ada banyak sekali bukti yang mana
pemanasan global mempengaruhi kehidupan flora/fauna termasuk manusia
di dalamnya. Tidak akan pernah cukup diurai dalam tulisan ini, namun
dipastikan bumi saat ini berjalan tidak alamiah lagi.
Kesehatan Manusia. Dalam satu ekosistem, kehidupan antara satu habitat
dengan habitat lainnya saling terkait. Saat beberapa satwa menjadi
korban, esok atau lusa, satwa lain bahkan manusia sekalipun akan
mengalaminya. Hal ini signifikan berpengaruh terlihat dari kondisi
kesehatan manusia dewasa ini. Berubahnya iklim membuat orang-orang
lebih sering bersin. Sebuah studi menemukan, makin banyaknya gejala
alergi yang muncul dipengaruhi oleh perubahan lingkungan,
mis.peningkatan kadar karbondioksida serta suhu atmosfer. Sekitar 40
juta warga Amerika menderita demam tinggi karena alergi terhadap
jerami, sementara 16 juta orang dewasa terserang asma. Walaupun gen
sangat berpengaruh, penelitian terbaru menemukan bahwa suhu tinggi dan
kadar karbondioksida yang berlebihan memperburuk serangan alergi
musiman. Dr.C.Rogers (2004), dari Harvard Univ. menyimpulkan bahwa
terdapat peningkatan jumlah penderita alergi dan asma secara
signifikan dalam beberapa dekade terakhir dihubungkan dengan perubahan
iklim (chge.med.harvard.edu).
Meningkatnya angka heat stroke (serangan panas kuat) yang mematikan,
infeksi Salmonela dan hay fever (demam akibat alergi rumput kering) di
seluruh Eropa beberapa tahun terakhir ini erat terkait dengan
pemanasan global. Para scientist meyakini pengaruh perubahan iklim
terhadap kesehatan akan tampak lebih jelas kedepan. Di Inggris, angka
kematian tahunan akibat panas diprediksi meningkat menjadi 3.300
kematian pada tahun 2050 dari 800 kematian dekade terakhir. Gelombang
panas yang melanda Eropa musim panas lalu tak disadari telah
menewaskan 25.000 orang, jumlah yang sangat besar dibanding korban
terorisme. Penyakit tropis (seperti malaria dan demam berdarah) juga
mengalami peningkatan. Selain itu munculnya penyakit-penyakit
baru/jarang yang lebih mematikan seperti flu burung, diyakini sangat
terkait dengan pemanasan global. Negara-negara miskin merupakan pihak
yang paling parah merasakan akibat naiknya suhu rata-rata disebabkan
terperangkapnya emisi panas yang sebagian besar berasal dari polusi,
pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk bumi. Menurut kajian WHO
(2005)(reuters.com/antara.co.id), pengaruh manusia terhadap iklim
dapat melipatgandakan risiko kematian akibat gelombang panas tidak
hanya di Eropa namun terasa di seluruh penjuru bumi.
Masa Depan Bumi. PBB mengacu pada Dewan Kutub Utara dan berbagai
scientist dunia memperingatkan bahwa daerah kutub akan meleleh sebelum
abad ini berakhir. Panel ilmuwan memperkirakan bila tidak ada
intervensi serius, Kutub Utara-Artik “gundul” tanpa es pada setiap
musim panas, dimulai tahun 2100. Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC, 2001) memperkirakan permukaan air laut akan mengalami
kenaikan rata-rata hampir 1 meter antara 1990-2100. Kombinasi dari
berbagai sumber penyebab pemanasan global yang meningkat sebenarnya
menghasilkan pola eksponensial yang lebih menakutkan. Prakiraan dengan
menggunakan supercomputer AS-Jepang memperlihatkan perubahan iklim
dapat mencairkan lapisan es abadi sedalam 3,35 meter di bagian utara
bumi. Sekalipun sebelumnya terjadi pencairan es di kutub utara, tapi
dalam 40 tahun terakhir lapisan es yang cair bergerak lebih cepat dari
sebelumnya. Melelehnya gunung es di kedua kutub bumi adalah dampak
logis yang tidak bisa dicegah. Proses yang berlangsung lambat tapi
lajunya semakin cepat menenggelamkan bumi. Sir David King, penasehat
pemerintah Inggris bidang Sains dan beberapa peneliti lainnya
memprediksikan jika es di Greenland habis meleleh maka permukaan laut
akan naik 6 – 7 meter. Jika Antartika meleleh, naiknya menjadi 110
meter dan kota-kota di daerah pesisir apalagi di bawah permukaan laut
lebih dulu menghilang termasuk London dan New York (Nature,
LiveScience, Reuters, 2005). Di Indonesia, Jakarta dan 69 kota lainnya
termasuk Manado tentunya bakal hilang. Daratan perlahan berkurang dan
pertikaian bahkan peperangan antar negara pasti akan terjadi karena
memperebutkan lahan dan sumberdaya yang tersisa.
Memang ada perdebatan mengenai masa depan bumi, apakah planet kita
menjadi makin panas, dan seberapa besar manusia berperan dalam
pemanasan itu. Banyak berpendapat, menghangatnya suhu bumi disebabkan
oleh emisi gas rumah kaca oleh manusia, sementara ilmuwan lainnya
menunjuk pada apa yang mereka katakan putaran alami penghangatan dan
pendinginan. Ada yang mengatakan bahwa skenario bencana kedepan tak
akan terjadi 100 persen karena perkembangan teknologi (mesin mobil
hidrogen, low-flush toilet dll) serta meningkatnya kesadaran
lingkungan akan membantu alam menghadapi efek jelek polusi dari
kegiatan manusia. Perdebatan ini semakin dikeruhkan oleh kepentingan
bisnis dan strategi politik negara, baik negara dunia pertama maupun
dunia ketiga. Yang pasti kecenderungan telah terlihat, bumi menjadi
lebih panas, sementara dan terus berlangsung. Para ahli klimatologi
(LiveScience.com) membuktikan bahwa pemanasan global terjadi karena
Bumi menyerap lebih banyak energi Matahari daripada yang dilepas
kembali ke ruang angkasa. Suhu permukaan laut yang dimonitor dari
ribuan pelampung tersebar di berbagai lokasi dihitung selisih energi
matahari yang diterima oleh atmosfer dengan yang dilepaskan kembali ke
luar angkasa. Dikombinasikan dengan model iklim yang kompleks meliputi
aktivitas atmosfer, laut, angin, arus, gas, dan zat pencemar lainnya,
tampak bahwa atmosfer menyerap energi 0,85 watt/m2 (setara 7 triliun
bola lampu 60 watt) lebih dari energi yang dilepaskan kembali.
Penyerapan energi sudah terlampau besar hingga peningkatan suhu bumi
tak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan produksi gas rumah
kaca. Bukti ini semakin menguatkan pendapat bahwa aktivitas manusia
adalah penyebabnya.
Efek rumah kaca terbentuk terutama dari gas karbondioksida (CO2)
dihasilkan pembakaran bahan bakar fosil, pembangkit listrik, pabrik,
kendaraan bermotor, polusi, dll (belum lagi jika ditambah penipisan
Ozon) menyerap radiasi panas yang dipantulkan bumi dari yang
seharusnya dilepaskan ke ruang angkasa. Data terkini yang diambil NOAA
dari Pegunungan Rocky-AS menunjukkan bahwa kadar CO2 meningkat secara
signifikan. Konsentrasi polutan di atmosfer bahkan mencapai rekor
tertinggi sebesar 381 part per million (ppm). 100 ppm lebih tinggi
selama sejuta tahun, kemungkinan 30 juta tahun dari ketika rata-rata
masa pra-industrialisasi bumi dimulai. Tahun 2005 lalu, terjadi
kenaikan yang sangat besar mencapai 2,6 ppm. Angka ini sangat
mengkhawatirkan dan menjadi patokan baru bagi ilmuwan di seluruh
permukaan bumi. Rata-rata kenaikan dalam 30 tahun terakhir sangat
pesat dan yang menjadi kecemasan adalah kita tidak tahu pada angka
berapa titik balik kandungan polutan CO2 di atmosfer (Nature, BBC
News). Andaikan emisi karbondioksida menjadi makin tinggi, bencana
akan terjadi lebih cepat, namun apabila kita bisa menguranginya maka
proses tersebut akan menjadi lebih lambat.
Sejak ditandatanganinya Protokol Kyoto 1997 (satu-satunya kesepakatan
internasional untuk mengurangi gas rumah kaca), berbagai negara dunia
berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. 16 Februari 2005,
Protokol Kyoto yang diratifikasi 161 negara mulai berlaku menetapkan
negara-negara industri agar mengurangi emisi global sebesar 5.2 persen
di bawah tingkat emisi tahun 1990 dalam jangka waktu 2008-2012. Namun
kesepakatan itu menghadapi tantangan besar dan tidak diindahkan
Amerika Serikat, produsen karbondioksida terbesar dunia. Hanya AS dan
Australia menolak ikut demi membela kepentingan ekonominya. Disamping
itu negara berkembang seperti Cina dan India turut menghambat
pelaksanaan Protokol Kyoto. Indonesia-pun sepantasnya mengambil
langkah kontributif memangkas emisi dalam upaya memperlambat pemanasan
gobal. Namanya saja pemanasan global, sehingga upaya penanggulangannya
pun harus bersifat global, oleh seluruh warga bumi. Kejadian-kejadian
klimatik yang ekstrem akibat pemanasan global pasti menyebabkan biaya
sosial-ekonomi tinggi, terutama hancurnya sumber pangan manusia.
Merugikan dunia di segala sendi kehidupan. Dengan tanda-tanda alam
yang jelas, tiba saatnya semua bersatu melawan pemanasan global,
keterlambatan melakukan hal ini akan melahirkan petaka di masa depan.
www.swarakita.com
http://pahlano.multiply.com/reviews/item/20